Sebelumnya saya sudah berjanji mengeluarkan satu tulisan tentang Syaikh Rabi, namun tiba-tiba saya dikagetkan oleh sebuah kabar tentang Syaikh Yahya dari blog tukpencarialhaq sebelah.

Mudah-mudah setelah postingan ini tulisan tentang Syaikh Rabi dapat segera keluar. Anggap saja ini adalah pemanasan terlebih dahulu.

Warta berita yang dikabarkan blog tersebut menarik untuk ditanggapi, sebab ini menyangkut pelurusan dari sebuah hakikat yang ada dalam ajaran Islam.

Terutama saat blog tersebut menyampaikan berita yang isinya mengesankan bahwa berkunjungnya Al-Ma’ribi kepada Al-Hajury adalah sebuah dosa dan penolakan Al-Madkholy kepada Al-Hajury adalah sebuah amalan shalih.

Allahu Akbar! secetek inikah hasil belajar anak buah Lukman Ba’abduh ini? Atau jangan-jangan bukan anaknya buahnya tapi Lukman Ba’abduh sendiri, karena anak buahnya hanyalah pesuruhnya saja.

Lepas dari itu hal penting yang ingin kita tanyakan di sini adalah benarkah selentingan gossip yang disampaikan oleh wartawan inpotement ini bahwa berkunjungnya Al-Ma’ribi kepada Al-Hajury adalah sebuah dosa sehingga harus dijauhi dan penolakan Al-Madkholy kepada Al-Hajury adalah sebuah amalan shalih sehingga harus dilaksanakan oleh kaum beriman?  

Dalam Islam harus kita ingat dan camkan dengan benar dalam sanubari kita yang terdalam bahwa sesungguhnya hanyalah orang beriman itulah yang bersaudara sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hujurat, ayat: 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Artinya predikat persaudaraan sama tidak berlaku bagi orang-orang kafir. Sedikitpun itu tidak ada.

Dengan iman, hubungan yang tidak sedarah menjadi satu ikatan persaudaraan, dengan iman ini pula hubungan yang sedarahpun bisa menjadi terputus bila salah satunya menjadi kafir atau murtad. Dan ini tidak terjadi pada orang-orang kafir. Lihat saja keluarga mereka yang yang menganut pluralisme.

Saya sendiri pernah bertemu salah seorang guru, ia bercerita bahwa ia beragama Hindu, ayahnya katholik, ibunya Islam, anaknya ada yang budha, hindu, Islam, protestan, bahkan yang atheispun ada, sementara kakenya Budha, neneknya Hindu.

Masya Allah mereka semua hidup rukun aman damai sentosa :mrgreen: , pluralisme mereka sungguh telah mengubur hidup-hidup syariat Islam. Allahul musta’an.

Apakah mereka tidak sadar bahwa kekafiran mereka di dunia ini akan memisahkan mereka di akhirat sana selama-lamanya dan keimanan mereka kepada Allah akan mengumpulkan mereka di akhirat sana selama-lamanya, lamanya, lamanya…

Kembali ke topik, setinggi apapun tensi permusuhan yang terjadi antara kaum beriman maka itu tidak dapat menghapus persaudaraan mereka, karena mereka diikat oleh tali temali keimanan mereka, dan hanya kekafiran dan kemurtadan saja yang dapat memotong tali persaudaraan ini, tidak selainnya. Dan hal itu dapat kita lihat dari sikap Islam kepada mereka, seperti “kafir” tidak berhak menerima waris, orang murtad/kafir halal darahnya.

Kenapa jadi halal? Karena hukum asal orang kafir adalah halal darahnya. Perhatikan sabda Nabi berikut ini.

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Aku diperintah untuk membunuh manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka melaksanakan hal tsb, maka terjagalah darah dan harta mereka kecuali dengan “hak Islam” dan hisab mereka ada pada Allah.  (Shahih Bukhari)

Dengan “hak Islam” di sini maksudnya, jika mereka enggan masuk Islam maka berlaku bagi mereka jizyah/upeti yang harus mereka bayar kepada pemerintahan muslim. Perang hanya berlaku bagi kafir yang ngotot (harbi).

Jadi “Halal dibunuh”, maksudnya di sini tidaklah dipahami sesuka hati kita, yakni ketika ia murtad langsung dibunuh begitu saja hanya karena ingin menegakkan sunnah Nabi :mrgreen:. Karena pada orang kafir itu ada “hak Islam” dan hak Islam membagi mereka menjadi tiga.

Ada kafir musta’man, kafir dzimmi dan kafir harbi. Dua dilindungi dan satu diperangi, adapun orang yang murtad tadi belum tentu ia menjadi kafir harbi. Jadi urusan darah orang kafir saja kita harus hati-hati apalagi urusan darah orang beriman.

Kembali ke topik masalah, jadi inilah yang menjadikan alasan kenapa orang-orang kafir itu tidak bersaudara, karena tidak ada tali temali keimanan yang saling mengingat batin-batin mereka kepada Allah Azza wa Jalla.

Dan terkait dengan bidah, sepanjang bid’ahnya tidak sampai merusak tauhid dan menjatuhkannya kepada kekafiran dan kemurtadan, maka imannya tidak dapat dibatalkan dan persaudarannya tidak dapat diputuskan dengan alasan apapun, apalagi cuma predikat “mubtadi’” yang ujung-ujungnya tuduhan tersebut juga tidak terbukti. Allahul Musta’an.

Apakah Abu Bakar dapat dikatakan mubtadi’ karena membukukan Al-Quran yang mana ini dilarang keras di zaman Nabi mengingat Alkitab banyak diselewengkan karena dibukukan?

Apakah Umar dapat dikatakan mubtadi karena mendawamkan shalat tarawih berjamaah di Masjid padahal Nabi sangat takut hal itu diwajibkan oleh mereka sendiri dan terbukti hingga hari ini banyak umat Islam yang mewajibkan shalat tarawih berjamaah di masjid dan senang mencela orang yang shalat di rumah sendirian?

Apakah Utsman dapat dikatakan mubtadi, karena membuat azan jumat dua kali?

Apakah Ali dapat dikatakan mubtadi’ karena membakar manusia yang mengkultuskannya sebagai Tuhan?

Dan kita semua tahu bahwa apa yang dilakukan oleh keempat khalifah ini adalah tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad dan perbuatan itu bukan tidak bisa dilakukan di masa Nabi hanya saja Nabi memang tidak melakukannya, contoh: kasus Ali membakar manusia, awalnya Nabi pernah menyuruh membakar manusia namun akhirnya tidak jadi. Namun kemudian ini dilakukan oleh Ali.  

Apakah ini semua bidah?

Dan kita semua tahu bahwa apa yang dilakukan oleh keempat khalifah ini sama-sama tidak didukung oleh dalil qathi dari Al-Quran dan As-Sunnah selain hanya sekedar ijtihad mereka saja demi kebaikan kaum muslimin saat itu.

Sekalipun ada yang menganggap ini bidah maka bidahnya tidak dapat melenyapkan persaudaraan mereka dan keimanan mereka sehingga berlaku pada mereka bara` (disloyalitas) sebagaimana yang dipraktekkan sebagian ikhwan yang keluar dari batas rel Islam dengan mentahzir dan meng-hajr saudaranya tanpa alasan yang dibenarkan syariat lebih-lebih itu dilakukan kebanyakan di atas hawa napsu, hawa napsu, hawa napsu.

Setiap muslim kepada muslim yang lainnya yang telah terikat persaudaraan karena Allah punya hak dan kewajiban sebagaimana yang disebutkan dalam banyak hadits.

Saat Utsman dikepung, seberapa tidak sukanya dan banyaknya protes yang dilancarkan Ali kepada Utsman atas kebijakannya yang merugikan banyak kaum muslimin tapi ialah yang paling gigih dan berada di front terdepan untuk melindungi Utsman dari rencana pembunuhan yang dilakukan oleh sekelompok mafia politis saat itu yang ingin menghabisi nyawa Utsman.

Inilah sahabat Ali, contoh terdepan dalam berbuat dan bersikap. Tidak cuma itu saja, ingatlah bagaimana saat ia sudah bersiap-siap menghabisi  Amr bin Abd Wad; musuhnya dalam perang khandaq lalu kemudian ia diludahi oleh Amr bin Abd Wad karena kesal dengan kekalahannya, maka lihatlah sikap Ali, lihatlah bagaimana ia bisa menahan membunuh musuhnya tersebut disaat gairahnya untuk menghabisinya sudah sampai ke ubun-ubun hanya karena tidak ingin membunuh musuh dalam keadaan marah.

Dan Ali adalah sosok yang mampu merinci persoalan dan memiliki ilmu yang dalam untuk membedakan sesuatu, terkait Utsman, ia tahu apa itu cinta apa itu benci, dan ia tahu apa itu pesaudaraan. Dan terkait Amr bin Abd Wad, ia juga tahu apa itu kewajiban dan apa itu kezaliman.

Ia tahu bahwa apa yang Utman lakukan itu salah namun ia juga tahu bahwa menolong saudara sesama muslim baik ia bersikap zalim atau terzalimi adalah wajib.

Adakah diantara dai salafiyyun hari ini yang berada di medan tahzir dan hajr yang bisa meniru orang ini, mampu merinci persoalan dan tidak mencampur adukkannya dengan hawa napsunya pribadi?

Ia juga tahu bahwa musuh dalam perang itu harus dibunuh dan dibunuh dengan cara yang baik dan tidak menyakitinya layaknya orang kafir yang gemar memutilasi lawannya kaum beriman, namun ia juga tahu bahwa bila ia membunuh karena amarah (saat ia diludahi) tentu ia akan membunuh musuhnya secara brutal dan melanggar kaidah yang sudah ditetapkan Islam, oleh karena itulah ia lebih memilih meninggalkan musuhnya dalam keadaan telah dipecundangi.  

Adakah diantara dai salafiyyun hari ini yang berada di medan tahzir dan hajr yang bisa meniru orang ini, mampu merinci persoalan dan tidak mencampur adukkannya dengan hawa napsunya pribadi?

Darimana ia tahu hal ini? Tentu saja dari Rasulullah, ingatkah Anda dengan kisah seorang Yahudi yang meludahi Nabi setiap kali Nabi melewatinya, apakah Nabi membalasnya, lalu siapakah yang menjenguknya ketika ia sakit? Apakah Yahudi, keluarganya yang Yahudi… tidak ada! Selain orang yang ia ludahi tadi.

Ini hanyalah contoh kecil dari kehidupan para sahabat Nabi, namun siapakah yang mau meneladaninya?

Contoh kecil saja tak sanggup diikuti bagaimana dengan contoh perikehidupan sahabat-sahabat yang lain? lebih-lebih perikehidupan Nabi Muhammad sendiri?

Merinci persolan adalah penting bagi setiap muslim yang tersadar bahwa antara benci (karena urusan sesama manusia) dan dakwah (urusan dengan Allah) adalah berbeda.

Silahkan Anda benci tapi jangan jadikan dakwah sebagai korban amukan kebencian Anda.

Bahkan beberapa gembong yang dipredikatkan dengan “khawarij”, ketika didatangi oleh Ibnu Abbas yang notabene sudah dikafirkan oleh mereka karena ia termasuk barisan Ali yang tidak berhukum kepada hukum Allah sebagaimana vonis yang sudah mereka jatuhkan masih mereka terima kedatangan Ibnu Abbas dengan tangan terbuka dan berdialog dengan Ibnu Abbas…

Lalu bagaimana halnya dengan Syaikh Rabi yang menolak kedatangan Syaikh Yahya. Padahal sama-sama kita tahu, setiap datang tuduhan dari Syaikh, Syaikh Yahya langsung mengklarifikasi dan menjelaskannya ketidak benaran tuduhan tersebut.

Lalu apa alasan Syaikh Rabi tetap menghajar/memboikot Syaikh Yahya?

Apakah tidak diterima ucapan siapapun selain dari Syaikh Rabi sendiri, meskipun orang tersebut telah menepis dirinya dari kedustaan? (lanjutannya akan dibahas setelah tulisan ini: “Apakah Syaikh Rabi adalah Rabb selain Allah?”)

Lepas dari itu untuk sama-sama kita ketahui bahwa mengunjungi saudara sesama muslim termasuk amalan yang mulya di sisi Allah, apa yang dilakukan Syaikh Yahya kepada Syaikh Rabi adalah kemuliaan dan Allah akan memuliakannya.

Sungguh merugilah syaikh Rabi hanya karena kebenciannya kepada Syaikh Yahya ia korbankan kemuliaan ini.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits:

حَدَّثَنَا، وَكِيعٌ، عَنْ، حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ، ثَابِتٍ، عَنْ، أَبِي رَافِعٍ، عَنْ، أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ قَرْيَةٍ يَزُورُ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى , قَالَ: فَأَرْسَلَ اللَّهُ لَهُ مَلَكًا فَجَلَسَ عَلَى طَرِيقِهِ فَقَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ فَقَالَ: أُرِيدُ أَخًا لِي أَزُورُهُ فِي اللَّهِ فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ , فَقَالَ: هَلْ لَهُ عَلَيْكَ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قَالَ: لَا وَلَكِنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللَّهِ , قَالَ: إِنِّي رَسُولُ رَبِّكَ إِلَيْكَ , إِنَّهُ قَدْ أَحَبَّكَ فِيمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ

Berbicara kepada kami Waqi’, dari Hammad bin Salamah dari Tsabit, dari Abu Rafi’ dan Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Beliau bercerita:

Seorang laki-laki dari suatu kampung/desa keluar untuk mengunjungi saudaranya di kampung/desa yang lain. Lanjut Nabi: Maka Allah mengutus seorang malaikat yang duduk menghalagi jalannya, si malaikat bertanya: “Mau kemana?”, jawabnya: “Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini”. Apakah engkau memiliki hubungan saudara dengannya? Jawabnya: Tidak! Namun aku mencintainya karena Allah, maka malaikat tersebut menjawab: Sesungguhnya aku ini diutus oleh Allah kepadamu, sesungguhnya Allah sangat mencintaimu disebabkan kecintaanmu pada saudaramu itu.

(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam A-Mushannaf, bab: Ma dzukira fi siati rahmatillah, diriwayatkan juga oleh Ahmad dalam Musnadnya dengan sanad yang shahih, bab: Musnad Abi Hurairah )

Diriwayatkan dalam sebuah atsar sahabat:

وَحَدَّثَنِي مَسْلَمَةُ بْنُ عُلَيٍّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ الْحَارِثِ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، يَرْفَعُهُ قَالَ: «مَا مِنْ عَبْدٍ يَزُورُ أَخَاهُ فِي اللَّهِ إِلَّا أَكْرَمَ رَبَّهُ

Berbicara kepadaku Maslam bin Ali, dari Yahya bin Al-Harits, dari Al-Qosim bin Abdurrahman dari Abu Umamah, ia berkata:

Setiap dari hamba yang mengunjungi saudaranya karena Allah maka Allah akan memuliakannya.

(Al-Jami Ibnu Wahab. Bab: Al-Ikha fillah)

Antara Syaikh Yahya dan Syaikh Al-Ma`ribi memang pernah terlibat perselisihan masa lalu namun perselisihan ini tidak sanggup menghancurleburkan persaudaraan mereka karena Allah, apalagi yang kami tahu Syaikh Al-Ma`riby bertemu untuk menyampaikan ucapan ta’ziyah atas putra Syaikh Yahya yang telah meninggal dunia akibat serangan Syiah Hutsy atas Dammaj, maka bagaimana halnya dengan seorang Syaikh Panutan, yang rela mengorbankan aturan Allah dalam kitab suci Al-Quran demi egonya pribadi.

Lebih-lebih, sebagaimana yang pernah kita dengar, ketika A`idh Al-Qorni (barisan di luar dakwah salafiyah) mengunjungi Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi maka apa sikap beliau, apakah beliau bersikap seperti Syaikh Rabi yang kabur ke Masjid lain karena Syaikh Yahya datang shalat di masjidnya, tidak! Syaikh Ahmad An-Najmi tetap menerima kedatangan A`idh Al-Qorni dengan tangan terbuka, namun beliau juga tidak melupakan kewajibannya untuk menasehati kekeliruan A`idh Al-Qorni. Inilah ciri orang yang bisa merinci persoalan dalam agama. Namun sepertinya sikap beliau ini adalah keliru karena bersebrangan dengan Syaikh Rabi. :mrgreen:

Pertanyaan final: Apakah pendapat Syaikh Rabi mengenai Syaikh Yahya lebih tinggi dari firman Allah yang menyatakan bahwa orang-orang beriman itu bersaudara yang berlaku pada mereka kunjung-mengunjungi antar sesama, silahkan bagi para Lukmaniyyun dan Rabi’iyyun untuk menjawabnya?

Ingat, jawaban yang cerdas. Yang kami maksud cerdas, adalah karena kalian menyatakan diri salafiyyun maka sebutkan pendahulu (salaf) Syaikh Rabi yang bersikap sama dengan syaikh Rabi dari kalangan sahabat dan tabi’in (minimalnya), sebab yang kami tahu Rasulullah tidak berperangai seperti syaikh Rabi ini dalam memperlakukan saudaranya sesama muslim. :mrgreen:

Kalau kalian tidak bisa membuktikan kebenaran sikap kalian, terutama sikap Syaikh Rabi maka kalian hanyalah “salafiyyun murahan”, mengaku paling mengikuti salaf dan paling salafy sejagat, namun sayangnya semuanya hanyalah “pepesan kosong”. :mrgreen:

Mudah-mudahan kamilah yang keliru dan Syaikh Rabi benar dengan sikapnya, karena agama Islam hanya Syaikh Rabi saja yang tahu dan kami hanyalah secuil dari manusia yang “sok tahu”. :mrgreen:

 

Advertisements