Pada kesempatan ini saya akan menurunkan sebuah tulisan sederhana namun sarat makna, yaitu sebuah pemandangan yang cukup menggelikan dalam pentas teater yang dimainkan oleh kubu Lukmaniyyun, apa itu? Ini dia.

Situs pencarialhal.com sebelumnya memuat sebuah copasan terjemahan dari situs Asy-Syaikh Rabi’ lalu diberi judul yang sangat serius: Perbedaan Antara Ahlussunnah dengan Haddadiyah.

Dari judulnya saja sudah menunjukkan betapa tegas dan tegarnya mereka sebagai Ahlussunah di hadapan Haddadiyyun.

Dalam tulisannya tersebut Anda bisa baca seluruh terjemahannya, namun ada beberapa statemen menarik dari Asy-Syaikh Rabi yang akan kami kutip kali ini, ini dia:

Selanjutnya, ya ikhwah. Tidaklah setiap orang yang terjatuh pada suatu kebidahan itu langsung disebut sebagai mubtadi’. Baarokallaahufiikum.

Tidaklah setiap orang yang terjatuh pada suatu kebid’ahan itu langsung kita sebut sebagai mubtadi’, ini adalah madzhab-nya kelompok Haddady saja.

Manhaj ahlussunnah wal jamaah adalah tidak setiap orang yang terjatuh dalam suatu kebid’ahan maka disebut sebagai mubtadi’.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Tidaklah setiap orang yang terjatuh dalam suatu kebid’ahan otomatis menjadi mubtadi’, karena banyak ulama kholaf maupun salaf yang terjatuh dalam suatu kebid’ahan dengan tanpa sadar, bisa karena hadita dhaif yang mereka gunakan untuk berhujjah, bisa karena mereka memahami nash al Quran dan as Sunnah dengan pemahaman yang keliru, dan bisa juga karena qiyas yang lemah, atau hal-hal lain yg seperti ini”.

Adapun Haddadiyah, tidak seperti itu, siapa saja yang terjatuh pada bid’ah maka ia adalah mubtadi’, padahal mereka sendiri juga terjatuh pada bid’ah yang banyak, di antaranya adalah celaan mereka terhadap Ahlus Sunnah.

sumber: http://tukpencarialhaq.com/2014/09/03/perbedaan-antara-ahlussunnah-dengan-haddadiyah/

Jadi, menurut Syaikh Rabi, kalau ada orang yang terjatuh dalam bid’ah kemudian langsung disebut mubtadi maka orang yang memvonisnya tersebut layak di-vonis haddady.

Lantas siapakah orang yang memiliki perangai haddady sebagaimana yang digambarkan oleh Asy-Syaikh?

Untuk mencari tahu identitasnya tentu saja sulit karena Syaikh tidak menyebut nama tapi setidaknya petunjuk yang diberikan Syaikh tentang amalannya sudah mencukupi kita untuk mencari tahu siapa saja orang tersebut.

Mari kita coba tengok orangnya berdasarkan kesesuaian amalannya dengan ucapan Syaikh di atas.

Asy-Syaikh ‘Allamah ‘Ubaid al-Jabiri hafizhahullah berkata tentang asy-Syaikh Muhammad al-Imam :

Mubtadi’ Dhall (ahlil bid’ah, sesat), tidak ada kemuliaan (padanya) – nukilkan ucapan ini dariku – sampai dia bertaubat dari dokumen perjanjian tersebut.”

beliau juga mengatakan,  “Sebarkan ini, walaupun ke bintang.”

beliau juga mengatakan tentang asy-Syaikh Muhammad al-Imam, “Orang ini adalah ikhwani(berpemikiran Ikhwanul Muslimin, pen)”

sumber: http://miratsul-anbiya.net/2014/08/13/penilaian-asy-syaikh-ubaid-terhadap-al-imam/

Coba Anda Pembaca sekali lagi baca kembali ucapan Syaikh Rabi di atas tentang Haddady lalu Anda sandingkan kembali dengan rajul di atas, betapa cepatnya ia menjatuhkan vonis mubtadi, dhall kepada Syaikh Muhammad Al-Imam!

Luar biasa bukan?! 😛

Hmmm, bagaimana?

Sudah jelaskan di mata Anda siapakah Haddady tersebut. Atau tetap masih belum jelas juga?!

Apakah akal Anda kira-kira masih menyimpan sebuah pepatah kuno ini:

Gajah di pelupuk mata tak terlihat sementara semut di seberang lautan terlihat.

Mudah-mudahan pembaca semua masih diberi akal sehat oleh Allah subhanahu wa ta’ala agar dimudahkan untuk mengambil pelajaran. Amin.

Na’am, setelah jelas bagi kita bahwa orang tersebut memang layak diganjar dengan ucapan Asy-Syaikh Rabi, maka sekarang tinggal kita lihat bagaimana sikap yang benar dari Syaikh Rabi kepada orang tersebut. Apakah Asy-Syaikh Rabi akan menjatuhkan vonis haddady terhadap orang tersebut? Sebagai konsistensi atas ucapannya dan keilmuannya yang tak perlu diragukan lagi.

Mari kita lihat.

Nukilan Mauqif Al-Alamah Rabi’ Al-Madkhali terkait tabdi’ Al-Alamah Ubaid Al-Jabiri

Terhadap Muhammad Al-Imam

Abu Ziyad Khalid Baqis menukil, “Sebagian ikhwah dari Yaman bertanya ke Syaikhuna Rabi’ tentang tabdi’ Syaikhuna Ubaid terhadap Syaikh al-Imam. Maka Syaikh menjawab mereka,

‘Pertama, wajib bagi al-Imam untuk bertaubat kepada Allah dari perjanjian ini.

Saya heran terhadap orang yang mengingkari tabdi’ Syaikh Ubaid terhadap Muhammad al-Imam dan tidak mengingkari pengkafiran sebagian sekte Hadadiyah dan para sektarian lainnya terhadap saya dan Syaikh Ubaid yang dibangun atas perjanjian al-Imam!!’

Kita meminta kepada Allah untuk memperbaiki keadaan yang ada.”

sumber: http://tukpencarialhaq.com/2014/08/13/lagi-lagi-fatwa-palsu-asy-syaikh-rabi-melarang-menyebarkan-vonis-asy-syaikh-ubaid-al-jabiri/

Masya Allah, ya subhanallah… ternyata Asy-Syaikh Rabi 100% mendukung vonis tabdi’ orang tersebut kepada Syaikh Muhammad Al-Imam. Lalu beliau menyalahkan pihak ketiga sebagai kambing hitam a.k.a haddadiyah atas semua persoalan yang menimpa mereka sendiri.

Astaghfirullah… tak henti-hentinya kami beristighfar atas persoalan pemandangan ini…

Na’am, dari uraian singkat dan bukti-bukti yang disodorkan di atas, lantas apa hikmah yang dapat kita petik sebagai thalabul ilmi?

  1. Vonis haddadiyah 100% haram dijatuhkan kepada Asy-Syaikh Rabi dan para koalisinya termasuk As-Syaikh Ubaid dan Syaikh-Syaikh yang lain atau siapapun yang mengikuti mereka berdua baik dari kalangan Lukmaniyyun maupun yang sejenisnya, karena dari Syaikh Rabi lah istilah haddadiyah ini datangnya. Ibarat bisa ular, tidak mungkin bisa yang ia keluarkan dipakai untuk mencelakan dirinya sendiri meskipun bisa itu selalu bersamanya.
  2. Karena Syaikh Rabi pencetus istilah haddadiyah maka apapun kesalahan/bid’ah Syaikh Rabi maupun kesalahan/bid’ah mereka yang berjalan bersamanya bila mereka melakukan amalan haddadiyah maka mereka tetap tidak bisa dikatakan haddadiyah. Sebab mereka adalah Ahlussunah (versi mereka sendiri) dan akan tetap menjadi Ahlussunnah (versi mereka sendiri tentunya) setiap saat dan setiap waktu, karena gelar haddadiyah hanyalah bagi orang-orang yang tidak berjalan bersama Asy-Syaikh Rabi Cs.
  3. Hanya orang-orang di luar Asy-Syaikh Rabi dan barisan yang bersamanya lah yang layak divonis haddadiyah. 
  4. Ternyata mutalawwin, la’ab dan makir sepertinya bukan sesuatu yang datang dari diri Dzulqanain sendiri tapi juga berasal dari gurunya sendiri. Hal ini pun berlaku seperti bisa ular tadi, di luar dirinya bisa itu menjadi racun tapi di dalam dirinya sendiri bisa itu tidak berlaku.

 Semoga bisa memberi faidah bagi thalabatul ilmi lainnya. 🙂