Dalam membela Ahmad Bazmul dari Jarh Syaikh Ubaid, Al Ustadz Lukman Ba’abduh –sebagaimana dikutip dari tukpencarialhaq.com– berkata, (ketika ditanya)

Tetapi Para Hizbiyyun pengekor Al-Halabi, Al-Mutalawwinun, Al-La’abun, Al-Makirun (MLM) juga memanfaatkan kesempatan ini (untuk menebar syubhat):
“Ketika Syaikh Ubaid mentahdzir Muhammad Al-Imam kalian segera menyebarkannya. Sementara ketika tahdzir beliau terhadap Syaikh Ahmad Bazmul, kalian tidak berbicara dan kalian sembunyikan.”

Jawabannya :
BERBEDA dua hal ini.
asy-Syaikh ‘Ubaid mentahdzir Muhammad Al-Imam karena MANHAJ dan BID’AH yang ia lakukan.
Sementara asy-Syaikh ‘Ubaid berfatwa tentang asy-Syaikh Ahmad Bazmul BUKAN karena manhajnya.
Dan beliau (asy-Syaikh Ahmad) menerima hal dan menyadari (kesalahannya).

Sedangkan Muhammad Al-Imam mempertahankan diri dengan gaya dan ciri khasnya seakan ia tidak melakukan kesalahan. Ketika sebagian murid-muridnya menyatakan ia terpaksa dalam menandatangani (Al-Watsiqah). Ternyata pada khutbah Idul Fitri (1435 H) berkhutbah menyampaikan dengan tegas bahwa dirinya TIDAK TERPAKSA menandatanganinya. Mungkin murid-murid tadi kebingungan dengan pernyataan tersebut.

Perbedaan kedua :
tahdzir terhadap Muhammad Al-Imam (Mubtadi’ Ikhwani) DIDUKUNG oleh para Ulama Kibar lainnya, tidak ada yang mengingkarinya.
Sedangkan terkait dengan asy-Syaikh Ahmad Bazmul, para ulama menasehatkan para thalabul ‘ilmi untuk diam tidak membicarakannya, insya Allah sedang ditangani oleh Para Ulama.

Oleh karena itulah Asatidzah diam. Asatidzah menyebarkan sebuah tahdzir karena telah diizinkan oleh Para Ulama.
Dan tidak menyebarkan tahdzir juga atas dasar nasehat ulama.

sumber: http://tukpencarialhaq.com/2014/11/26/apa-sikap-kita-terkait-dengan-tahdzir-asy-syaikh-ubaid-terhadap-asy-syaikh-dr-ahmad-bazmul-2/

Di sini Penulis hanya menanggapi apa yang terkait dengan Ahmad Bazmul saja, sementara yang terkait Al-Imam tidak Penulis tanggapi, karena bukan itu point dari bantahan ini. Lukman Ba’abduh berkata:

Sementara asy-Syaikh ‘Ubaid berfatwa tentang asy-Syaikh Ahmad Bazmul BUKAN karena manhajnya.

sebelum Penulis membantah hal ini alangkah baiknya bila pembaca membuka kembali file lama kami yang membincangkan pemahaman Lukman Ba’abduh terhadap Manhaj di tautan berikut ini.

https://predatortukpencarialhaq.wordpress.com/2013/10/19/bantahan-syaikh-muqbil-bin-hadi-al-wadii-terhadap-lukman-baabduh-dalam-perkara-kategorisasi-akidah-dan-manhaj-benarkah-lukman-baabduh-murid-syaikh-muqbil/

dari apa yang disampaikan oleh Lukman Ba’abduh terhadap pertanyaan si Penanya telah nampak “kemajuan” yang ada padanya tentang pemahamannya terhadap manhaj.

Memang benar dalam Jarh Syaikh Ubaid tidak ditemukan indikasi tahzir terhadap manhajnya, namun lagi-lagi perlu diperhatikan dengan seksama dan perlu hati-hati dalam mencerna jawaban yang penuh tipu muslihat ini. Kenapa? Karena jawaban ini benar tapi salah, atau salah tapi benar! Apa maksudnya?

Jawaban Lukman Ba’abduh ini tidak salah, 99 % benar, hanya 1 % kesalahannya, yaitu ia meletakkan kalimat tidak pada tempatnya sehingga manusia menganggap demikianlah kenyataan dan kebenarannya, padahal tidak demikian.

Apa yang dilakukan Lukman Ba’abduh ini tidak lebih dari apa yang dilakukan para Ahli Kitab yang suka meletakkan kalimat tidak pada tempatnya.

Baik sekarang kita akan membantahnya, yaitu kalimat Lukman ini kita kembalikan pada tempatnya semula bahwa Syaikh Ubaid memang tidak membicarakan penyimpangan manhaj si fulan, lalu tersisa pertanyaan sekarang, atas perkara apa Syaikh Ubaid menjarh Ahmad Bazmul? Sebab tidak ada jarh tanpa sebab!

Inilah point permasalahannya! 

Pembaca yang budiman, sebagaimana kita ketahui bahwa dalam ilmu jarh wa ta’dil itu terdapat dua macam jarh, yaitu jarh yang berbentuk umum (mujmal) dan yang berbentuk khusus; terperinci (mufassar).

jarh umum adalah mencela perawi tanpa menyebutkan alasannya, yang kedua adalah mencela perawi dengan menyebutkan alasannya.

Jarh yang “dilemparkan” Syaikh Ubaid atas Ahmad Bazmul adalah jarh mujmal yang tentu terdapat pembicaraan tentangnya. Boleh diterima, boleh ditolak, sampai Syaikh Ubaid menjelaskan penyimpangan Ahmad Bazmul.

Di awal kami telah jelaskan bahwa tidak ada yang salah dengan ucapan Lukman Ba’abduh.

Tapi kenapa… tidak salah kok dikritik?

Inilah dia yang akan akan bongkar di sini, bahwa ketika Abdurrahman Al-Mar’i Al-Adeni dijarh oleh Syaikh Ubaid dengan Al-Mughaffal apakah jarh itu terkait masalah manhaj? Atau apakah Abdurrahman Al-Mar’i Al-Adeni bukan salafy (meminjam bahasa Hani bin Buraik) lalu kenapa Abdurrahman di hajr dan di sementara Ahmad Bazmul didiamkan?

Mari kita lihat perbedaan (bunglonisme) sikap Ahlussunnah versi tukpencarialhaq.com kemaren sore 

SIKAP AHLUSSUNNAH DALAM MENYIKAPI TAHDZIR ASY-SYAIKH ‘UBAID AL-JABIRI HAFIZHAHULLAH

TERHADAP ASY-SYAIKH ‘ABDURRAHMAN AL-ADANY HADAAHULLAH

Tanya Jawab bersama asy-Syaikh Hani’ bin Buraik al-’Adani hafizhahullaah.

(Penanya):

“Assalaamu’alaikum wahai Syaikh kami..

Semoga Allah memberikan kebaikan kepada Anda. Bagaimana menurut Anda tentang tahdzir asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah terhadap asy-Syaikh Abdurrahman al Adani? Jazaakumullah khair wa baarakallahu fiikum.”

(asy-Syaikh):

“Ucapan(ku) sebagaimana yang sudah diucapkan oleh Syaikh kami Ubaid -hafizhahullah-.”

(Penanya):

“Jazaakumullahu khair wahai Syaikh, bolehkah kami menyebarkan ucapan Anda?

Dan apa nasehat Anda bagi penuntut ilmu di Indonesia dalam menghadapi fitnah tersebut?.”

(asy-Syaikh):

“Sebarkan. Dan nasehatku, agar terus menerus bersama imam-imam Salafiyyin di dunia ini, dan agar meninggalkan orang-orang yang terfitnah, karena akan membuat keraguan prinsip (dalam agama).”

(Penanya): “Jazaakumullahu khair wa baarakallahu fiikum”

sumber: http://tukpencarialhaq.com/2014/11/23/sikap-ahlussunnah-dalam-menyikapi-tahdzir-asy-syaikh-ubaid-al-jabiri-hafizhahullah-terhadap-asy-syaikh-abdurrahman-al-adany-hadaahullah/

dan sekarang mari kita lihat lagi sikap Ahlusunnah versi tukpencarialhaq.com hari ini dalam kasus yang sama sama, yaitu sama-sama dijarh dengan dengan jarh yang mujmal dan sama-sama tidak terkait permasalahan manhaj kepada orang yang berbeda, yaitu Ahmad Bazmul!

APA SIKAP KITA TERKAIT DENGAN TAHDZIR ASY-SYAIKH ‘UBAID TERHADAP ASY-SYAIKH DR. AHMAD BAZMUL

Soal: Apa yang kita lakukan dengan kitab-kitab asy-Syaikh Ahmad Bazmul setelah adanya pernyataan dari  asy-Syaikh ‘Ubaid?

Asy-Syaikh Hani menjawab:

Aku sebutkan kepada kalian, wahai para saudaraku, bahwa asy-Syaikh ‘Ubaid berkedudukan sebagai ayah bagi kita semua dan juga bagi asy-Syaikh Ahmad Bazmul.

Asy-Syaikh Ahmad Bazmul memiliki ucapan yang bagus pada akhir pelajarannya tentang asy-Syaikh ‘Ubaid, bahwa beliau adalah ayahnya, dan Asy-Syaikh Ahmad juga mengeluarkan beberapa pernyataan yang layak disyukuri atasnya.

Insya Allah, asy-Syaikh Ahmad akan mengambil nasehat asy-Syaikh ‘Ubaid.

Asy-Syaikh ‘Ubaid tidaklah mengatakan bahwa asy-Syaikh Ahmad Bazmul bukanlah seorang salafy. Yang beliau inginkan hanyalah agar asy-Syaikh Ahmad menjauhi beberapa perkara.

Insya Allah, perkiraan kuat, asy-Syaikh Ahmad akan mendengarkan ucapan asy-Syaikh Ubaid tersebut.

Beliau (asy-Syaikh ‘Ubaid) adalah ayah kita dan ayahnya salafiyyin. Semoga Allah senantiasa menjaga beliau dan semoga Allah memberi kenikmatan kepada kita dengan keberadaan beliau, dengan memanjangkan umur beliau dan umur masyayikh kibar yang lain.”

Dari Muhadharah “DURUS WA ‘IBAR”
22 Muharram 1436 H – 14 November 2014 M

sumber:

http://tukpencarialhaq.com/2014/11/25/apa-sikap-kita-terkait-dengan-tahdzir-asy-syaikh-ubaid-terhadap-asy-syaikh-dr-ahmad-bazmul/

Coba lihat perbedaan tajam di antara keduanya, satunya “dimanja” satunya “dikasari.” Menggelikan bukan?

Selanjutnya Lukman Ba’abduh berkata:

Sedangkan terkait dengan asy-Syaikh Ahmad Bazmul, para ulama menasehatkan para thalabul ‘ilmi untuk diam tidak membicarakannya, insya Allah sedang ditangani oleh Para Ulama.

Oleh karena itulah Asatidzah diam. Asatidzah menyebarkan sebuah tahdzir karena telah diizinkan oleh Para Ulama.
Dan tidak menyebarkan tahdzir juga atas dasar nasehat ulama.

Maka tanggapan singkat kami, kenapa hal itu tidak berlaku atas Abdurramhan bin Mar’i Al-Adeni? Padahal sama-sama kita ketahui hanya Syaikh Ubaid di antara Kibar (versi Ahlussunnah oplosan) yang menjarhnya?

Jadi silahkan gunakan nalar Anda pembaca, mudah-mudahan Anda dapat mencerna dengan baik kritikan kami atas Al Ustadz Lukman Ba’abduh.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan. Wallahu a’lam.

Advertisements