Memahami fitnah Al-Imam yang tekait Syiah Hutsi agak pelik memang, karena terdapat dua kubu dalam menta’dil dan menjarhnya, yang menta’dilnya adalah 7 ulama Yaman dan para pendukungnya sementara yang menjarhnya adalah Syaikh Ubaid, Syaikh Rabi dan para pendukungnya.

Menyatakan satu keyakinan dengan Syiah Hutsi yang terbukti Rafidhoh tentu saya kira adalah sebuah kekeliruan yang sangat fatal, bahkan seorang awam salafy pun tahu akan hal tersebut. Kalaulah memang demikian adanya, bagaimana bisa Syiah Hutsi melakukan pembantaian besar-benaran terhadap salafiyyun Dammaj kalau memang mereka satu keyakinan dengan Syiah Hutsi.

Namun, anehnya terjadi anomali/ta’arud di sini, 7 ulama Yaman malah membela Al-Imam dan “mendiamkan” perjanjiannya dengan Rafidhoh, seakan-akan mereka ingin mengatakan bahwa Al-Imam terpaksa melakukan hal tersebut, karena toh hingga hari ini tidak ada dari 7 ulama Yaman tersebut yang menyatakan hal yang sama dengan Al-Imam terhadap perjanjiannya dengan Syiah Hutsi.

Sebenarnya, apa yang dilakukan ulama Yaman ini tidaklah mengherankan kami, sebab dulu mereka pernah melakukannya terhadap Abdurrahman dan Abdullah Al-Mar’i. Mereka membela buta fitnah hizbiyah dua orang ini persis seperti mereka membela buta Al-Imam hari ini. Saya kira ini pulalah alasannya kenapa Syaikh Muqbil tidak memilih satu dari mereka semua dan malah memilih Syaikh Yahya sebagai penggantinya, karena Syaikh Muqbil menginginkan dakwah salafiyah dipimpin oleh pribadi yang kuat dan tegas terhadap Hizbiyah dan Ahlul Bidah dan tidak gentar terhadap ucapan siapapun dan tak pernah takut meski Kibar Ulama menjadi lawannya, karena tidak ada yang lebih besar daripada Kebenaran itu sendiri.

Yaman saat ini tidaklah sama dengan Yaman sekitar 5-10 tahun yang lalu, krisis kekuasaan di Timur Tengah mulai dari Iraq, Libya, Syiria, Mesir, dll ibarat rumput berapi yang menjalar kemana-mana, hampir setiap kelompok bersenjata di setiap negara konflik berlomba-lomba meraih kekuasaan, tak terkecuali kudeta yang dilakukan Syiah Hutsi terhadap pemerintahan Yaman saat ini.

Seadainya konflik Syiah Hutsi murni konflik politik dan kekuasaan maka benarlah Al-Imam yang mengatakan bahwa perang yang ada saat ini tidak lebih dari tipu daya, yakni memanfaatkan anasir agama demi kepentingan politik dan kekuasaan dan Al-Imam tidak ingin banyak yang mati konyol karena kepentingan politik yang dibungkus agama. Namun seadainya konflik Syiah Hutsi adalah konflik agama maka apa yang diucapkan dan dilakukan oleh Al-Imam terhadap Syiah Hutsi tentu tidak dapat dibenarkan, karena Dammaj adalah bukti nyata dari permusuhan Syiah Hutsi terhadap Salafiyyun.

Kira-kira dua sudut pandang ini manakah yang mendekati kebenaran? Silahkan pembaca berkomentar…