Sungguh kasihan melihat nasib Abdurrahman Al-Mar’i kini. Dulu karena ia lah salafiyyun Yaman dan di Indonesia berpecah belah, sebagian dari mereka ada yang memihaknya sebagian lain tetap berdiri bersama Syaikh Yahya.

Yang memihaknya menganggap apa yang ia lakukan terhadap Dammaj (mengeluarkan murid-murid Dammaj dari Darul Hadits menuju Markiz baru yang ia bangun di Fiyus) adalah sah-sah saja, justru tahzir Syaikh Yahya kepadanya itulah yang serampangan dan sesat. Bahkan ia (Abdurrahman Al-Mar’i) berhasil menggalang kekuatan dari para Masyaikh Yaman dan Saudi untuk ramai-ramai mentahzir balik Syaikh Yahya karena tahzirnya kepadanya.

Namun apa yang terjadi kini?

Roda waktu kembali berputar dengan adil! Dan menghukumi Abdurrahman dengan adil seadil-adilnya, apa yang dulu ia lakukan terhadap Syaikh Yahya dan Dammaj kini terulang kembali padanya… (kena batunya) masya Allah.

Lihatlah, kini salafiyyun yang bersamanya keluar meninggalkannya, meninggalkan markiznya dan membeli tanah yang baru di Fiyus untuk membangun markiz baru… persis seperti yang ia lakukan dulu terhadap Syaikh Yahya dan Dammaj!

Lalu apa sikap Abdurrahman atas hal ini? Apakah ia mendiamkannya?

Tidak! Ia malah mentahzir mereka dengan sangat keras!!!

Coba lihat, kejadian hari ini persis dengan kejadian di Dammaj dahulu. Lantas atas alasan apa Syaikh Yahya ditahzir balik ketika mentahzir Abdurrahman atas perbuatan hizbinya yang memecah belah salafiyyun kalau Abdurrahmanpun melakukan hal yang sama kepada para pembelot!

Berpikirlah kalian wahai orang-orang yang miskin yang bisanya hanya membebek sana sini. Bukankah karena alasan inilah kalian tetap membela Abdurrahman Al-Mar’i, lalu kenapa kalian malah melakukan hal yang serupa dengan Abdurrahman; yakni keluar dari markaznya dengan cara yang sama dengannya dan kenapa kalian salahkan Syaikh Yahya yang mentahzir Abdurrahman kalau Abdurrahman pun melakukan hal yang sama dengan Syaikh Yahya pada waktu itu dan kalian melakukan hal yang sama dengan Abdurraman pada saat ini!

Berpikirlah… karena hanya orang-orang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Mungkin tidaklah salah bila kiranya Syaikh Ubaid menjarhnya dengan Al-Mughaffal (dungu), karena Abdurrahman tidak pernah tahu dan paham bahwa yang ia lakukan adalah salah. Seandainya ia tahu yang ia lakukan itu keliru (seperti yang ia sangkakan saat Syaikh Yahya mentahzirnya) tentu ia tidak akan melakukan hal yang sama, yakni mentahzir salafiyyun yang keluar dari markiznya dan membangun markiz baru di Fiyus.

Advertisements