Pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit membahas “sisi luar” perkara uzur bil jahl (dispensasi karena kebodohan) yang mana dengan sebab kebodohan ini si pelaku yang diduga melakukan pelanggaran syariat yang berat, seperti kekafiran/kemusyrikan diberi kelonggoran dari suatu hukum agama yang mengikatnya. Contoh: ada seorang muslim yang menyembah kubur/memberikan sesajen kepada leluhur atau melakukan tindak perbuatan kekafiran secara terang-terangan lalu bagaimanakah hukumnya, apakah dia musyrik/kafir atau tetap muslim tapi bodoh?

Perkara ambigu semacam ini sesungguhnya telah menciptakan jurang pemisah antara para ulama dan dai-dai dimanapun berada dari dulu hingga sekarang ini bahkan tak heran bila ada yang sampai berpecah belah karenanya. Di antara mereka ada yang menganggapnya; yakni si pelaku tadi adalah musyrik/kafir tulen (batal islamnnya) baik secara keyakinan ataupun tahqiq tahkimnya (penerapan hukumnya) dan adapula yang masih menganggap mereka muslim yang jahil.

Sesungguhnya para ulama ini; baik yang menjatuhkan vonis musyrik/kafir (baik dalam batas keyakinan semata maupun penerapanna) ataupun tidak, sama-sama berdalil dan berhujjah dengan nash-nash alias bukan sekedar berwacara kosong semata dalam mengurai permasalahan yang pelik ini.

Lalu pertanyaan cerdasnya di sini adalah; mengapa ketika berdalil mereka malah berselisih? Inilah point masalah yang akan sama-sama kita cari tahu. Dan bagaimanakah cara pandang yang benar dalam melihat hal ini?

Saya pribadi, dalam permasalahan semacam ini tidak ingin larut dengan berbagai macam kaidah dan pendapat para ulama salaf dan khalaf, karena saya kira hal semacam itu sudah banyak ditemui di berbagai laman web dan blog-blog atau dalam berbagai kitab dan ceramah mereka. Dan ending dari dua silang pendapat tersebut terus saja menguap dalam sebuah wacana tidak jelas, dan sampai saat ini saya tidak atau katakanlah belum menemukan ulama/ustadz salafy yang berani menjatuhkan vonis pasti (muayyan) terhadap mereka, selalu saja perkataan mereka hanya berpusat pada vonis-vonis yang berlaku umum (sebatas keyakinan), dan lagi-lagi hanya golongan yang dicap khawarij lah yang berani menyatakan secara muayyan (tegas dan mantap dalam penegakkan hukumnya) bahwa mereka adalah kafir dan musyrik dan berlaku padanya hukum sebagai musyrik dan kafir.

Dalam melihat permasalahan seperti ini adalah sebuah kekeliruan saya kira bila kita hanya membangun wacana monolog kosong semata dalam forum-forum atau majlis ilmu yang searah tanpa disertai usaha untuk berdialog dengan para pelaku tersebut agar diketahui hujjah yang menjadi dasar keyakinan mereka, karena ketiadaan komunikasi dua orang akan selalu memunculkan zhon/praduga, dan sebagian praduga itu dosa, oleh karena itulah sebagiannya perlu diclearkan dengan saling berdialog satu sama lain agar terhindar dari dosa.

Seorang terduga pun dalam sebuah majlis hukum tentu perlu dihadirkan dalam ruang persidangan untuk ditanya-tanyai dan dibuktikan pelanggarannya agar dapat diputuskan vonis yang tepat dan benar untuknya?

Bagaimanakah kiranya bila dalam sebuah ruang sidang seorang hakim menjatuhkan vonis atas seseorang yang tidak tahu rimbanya dan tidak pernah melalui proses hukum, tentu ini adalah sebuah kebodohan yang nyata, saya kira. Hanya saja ketika permasalahan semacam ini (kemusyrikan/kekafiran) telah menggurita alias terjadi dimana-mana di belahan bumi Islam dan tidak hanya satu dua orang yang berbuat tapi ratusan bahkan ribuan maka bagaimanakah menghukumi mereka? Tentu saja konyol bila hal semacam itu diadili di ruang sidang, namun hal semacam ini kerap hadir dalam majlis-majlis ilmu yang membahas tentang tauhid, disana kita temukan ada dai yang bergampang-gampangan dalam menjatuhkan vonis dan ada pula yang dai yang tidak tegas dalam menjatuhkan vonis.

Dalam mengurai permasalah semacam ini saya pribadi, lebih memilih mendakwahi objek yang disasar ketimbang menjatuhkan vonis kepadanya, seberapapun benarnya vonis tersebut, sebab karakter manhaj nabawiyah adalah berdakwah hingga Islam merata di tengah manusia; seberapapun tingginya resiko untuk gagal maka berdakwah tidak boleh berhenti sesaatpun. Penyakit cepat menyerah adalah penyakit kronis berbahaya yang menimpa dai-dai salafy sehingga mereka mudah bermain vonis terhadap objek dakwah mereka.

Padahal inti dari dakwah hanyalah sekedar menyampaikan dan sisanya diserahkan kepada Allah, bila kiranya mereka tetap tidak mendapat hidayah apakah Anda akan menyerah dari mendakwahinya?

Silahkan jawab!

Advertisements