Arti Assalamu Alaikum Warahmatullah Wa Barakatuh?

Sembari menunggu tulisan-tulisan kami yang lain (mohon maaf kalau admin memang agak lelet karena terlalu banyak kesibukan), maka pada kesempatan ini Penulis ingin mencoba membahas (baca: merefleksikan secara kritis) makna dari ucapan “salam” yang sering kita sampaikan sehari-hari.

Ucapan ini nampaknya sudah menjadi tradisi/budaya di negeri kita, artinya tak cuma kaum muslimin, beberapa masyarakat kafir dari kalangan Ahlul Kitabpun mengucapkan ucapan ini kepada umat (indvidu/kelompok) Islam sebagai bahasa perjumpaan antar mereka di negeri ini, tapi tentu tidak ditujukan kepada sesama mereka (inter kafir), meski ada juga yang mengucapkan dengan nada-nada atau redaksi yang agak mirip dalam bahasa Ibrani.

Pembaca yang budiman, kira-kira kalau boleh kami bertanya, apakah yang terlintas di benak Anda ketika ada seseorang yang mengucapkan “salam” kepada Anda?

Tentu jawabannya ada pada Anda, tapi paling tidak yang cepat terbesit di benak Anda adalah segera menjawabnya, karena sesungguhnya telah ada banyak hadis yang bercerita tentang keutamaan mengucapkan salam dan menjawabnya. Namun di sini Penulis tidak akan fokus kesana, karena ruang yang akan penulis isi kali adalah mengenai maknanya, yang mudah-mudahan ketika penulis menjelaskan tentang maknanya akan ada banyak kebahagiaan yang Anda rasakan ketika mendengarkan dari orang yang mengucapkan salam kepada Anda. Amin.

Pembaca, sebelum membahas salam penulis akan sedikit berilustrasi: bagaimana kiranya dan rasanya bila setiap hari Anda mendengar ada orang yang berkata kepada Anda : Semoga kamu cepat dapat jodoh (yang cantik, ganteng, soleh, solehah, dst), cepat punya rumah, punya mobil, punya anak, bisnis lancar dan sukses, gaji naik dan segala kenikmatan hidup lainnya; Bahagiakah Anda?

Tentu saja saja sebagai manusia normal yang senang dengan puji-pujian Anda akan senang dan bahagia mendengarnya, meskipun itu belum tentu menjadi nyata adanya. Tapi coba lihat ekspresi muka Anda, ketika mendengar hal itu setiap hari, dari siapa saja yang Anda temui, betapa bahagianya Anda dan betapa Anda tidak mampu menutupi kebahagian itu.

Sekarang bandingkan ketika Anda mendengar ucapan salam dari orang lain, apakah rasa bahagianya sama dengan ucapan di atas?

Hampir kebanyakan manusia yang kami jumpai, ekspresi muka mereka datar-datar saja ketika ada yang menyampaikan ucapan salam kepadanya, padahal menurut kami pribadi ucapan salam jauh lebih dahysat maknanya dibandingkan ucapan yang kami garis bawahi di atas, sekalipun ada yang tersenyum maka itu tidaklah menjadi dampak dari ucapan tadi.

Bertahun-tahun lamanya kami meneliti tentang dunia (dimensi) kata, dunia dimana tidak semua orang bisa masuk ke dalamnya. Karena seandainya ada yang bisa masuk (maksud kami nalarnya yang masuk bukan tubuhnya) maka ketika ada yang menyampaikan salam kepadanya tentulah air mukanya pasti berubah, layaknya bunga kering yang disirami hujan lebat; ia akan langsung mekar berseri. Ya… Ekspresi mukanya pasti akan sangat senang, riang, gembira sekali…

Namun apa iya ada orang yang seperti itu? Inilah masalahnya, banyak dari kita yang mendahulukan ucapan dan perbuatan sebelum ilmu. Akibatnya banyak sekali yang mengalami “kekeringan makna” dalam perjalanannya sebagai seorang muslim, lebih-lebih dalam hal akhlak. Dan mudah-mudahan apa yang kami urai kali ini dapat menjadi semacam oase atau paling tidak operasi katarak lah bagi yang tidak jelas dalam melihat.

Bab : Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Salam, secara harfiah bermakna damai. Ucapan salam menjadi simbol keislaman, karena ucapan ini hanya digunakan oleh umat Islam, tidak selainnya. Antara salam dan islam menginduk pada akar kata yang sama; salima.
Rahmat, secara harfiah bermakna kasih sayang. Rahmatullah bermakna kasih sayang Allah
Sementara Barakah, secara harfiah artinya kebaikan, karena ini jamak maka bermakna banyak. Barakatuhu bermakna kebaikan-kebaikan Allah.

Jadi, makna ucapan salam bila disederhanakan kira-kira bermakna: “Semoga kedamaian (assalamu) dan kasih sayang Allah (warahmatullah) serta kebaikan-Nya [terlimpah] (wa barakatuh) atasmu (alaikum).”

Baik, sampai di sini apa yang Anda rasakan ketika ada yang menyampaikan ucapan ini kepada Anda?

Tentu saya kira ekspresi Anda masih biasa-biasa saja, hampir tidak ada yang spesial yang dapat membuat air muka dan hati Anda berubah. Namun bagaimana kiranya bila Anda adalah seorang penuntut ilmu yang gigih lalu tiba-tiba ada seseorang yang Anda kagumi atau senangi katakanlah Syaikh fulan, lalu oleh ustad fulan Anda dikabari bahwa Syaikh Fulan menitip salam kepada Anda, membicararakan kebaikan Anda; apakah Anda senang?, lalu ketika bertemu ustad-ustad yang lainnya mereka mengatakan hal yang sama; apakah Anda tidak bahagia?

Tentu saja Anda akan bahagia, namun mengapa ketika mendengar ucapan salam ekspresi muka Anda biasa-biasa saja.

Atau bagi yang hendak menikah, bagaimana kiranya bila si fulanah yang Anda lamar kemudian setiap Anda bertemu orang-orang mereka mengucapkan doa kepada Anda : semoga fulanah menerima lamaran Anda, bagaimana reaksi Anda?

Tentu Anda akan senang dan bahagia, meskipun si fulanah belum tentu menerima lamaran Anda. Dan segudang kasus atau kejadian lainnya di sekitar kita.

Namun mengapa ketika ada yang mengucapkan salam reaksi kita biasa-biasa saja?

Sesungguhnya dalam ucapan salam ada Allah sebagai pihak ketiga (p3), antara di penutur (p1) dan penjawab (p2). Ketika nama Allah (p3) disebutkan lalu ditujukan padanya (p2), sementara reaksi p2 biasa-biasa saja maka boleh jadi disana kita melihat hubungan yang terjalin antara p2 dan Allah sangat jauh. Bandingkan ketika Anda menyampaikan sebuah penghormatan dari individu yang dimuliakan, dikagumi, dicintai oleh P2 dan sangat dekat dengannya maka Anda akan melihat reaksi yang berbeda darinya. Seperti contoh syaikh fulan di atas.

Kami sadar, tulisan kami ini memang agak berat untuk diterima, namun demikianlah kenyataan yang ada. Seseorang yang benar imannya ketika nama Allah disebutkan kepadanya, maka ia akan seperti ayat ini…

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ

“Orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila nama Allah disebutkan maka gemetarlah hati-hati mereka.”

Dan ini menunjukkan kedekatan hubungan yang terjalin antara mereka (orang-orang beriman) dengan Tuhannya. Namun apa iya, orang-orang yang mendengar nama Allah ketika diucapkan salam (atau dalam even/kejadian apapun) kepada mereka reaksi mereka seperti yang digambarkan ayat di atas?

Bayangkan saja, nama Allah saja disebutkan hati mereka langsung cepat berubah, lalu bagaimana kiranya bila dikatakan padanya bahwa Allah menjaminkan kepadanya kedamaian, menurunkan kasih sayang-Nya dan mencurahkan kebaikan yang banyak kepadanya atas dasar/alasan keislamannya selama ia hidup di dunia, masih mungkinkah ia tidak akan senang dan bahagia mendengarnya? ketika ia sadar bahwa : Dunia adalah penjara bagi orang-orang yang beriman!” (HR. Muslim)

Jawabnya tentu tidak mungkin, orang yang normal tentu akan berubah air mukanya bila ia mampu memahami hal ini, namun… mengapa mayoritas kaum muslimin bersikap biasa-biasa saja ketika mendengar ucapan salam kepada mereka? Seakan ucapan ini tidak mengandung apa-apa selain sebatas basa-basi ketika berjumpa atau akan saling tatap muka saja. Apa yang salah?!

1+1=2 namun kenapa ketika 1+…=2 hasilnya bukan 1 malah yang lain. Silahkan pikir sendiri. :mrgreen: