Dulunya Jafar Umar Thalib seperti singa karena auman dakwahnya yang mampu menggetarkan dada para pemuda sehingga mereka tertarik mengikutinya ke dalam dakwah salafiyah yang ia bawa dari hasil menuntut ilmu, namun setelah fitnah yang terjadi padanya, ia pun tidak lebih seperti kucing, meongannya hanya dianggap angin lalu oleh mereka, namun justru inilah yang menjadi warna baru baginya saat ini, dimana dengan meongannya ini ia tetap bisa menarik hati sebagian manusia ke dalam dakwah Ahlussunnah secara umum, mudah-mudahan secara khusus juga.

Boleh saja penutut ilmu menjarh ustadz Jafar dengan beragam jarh, dari yang ringan sampai yang berat seperti kharij (khawarij), tapi… apakah mereka sadar bahwa yang namanya penuntut ilmu, selagi ia terus belajar tentu tidak bisa ia lepas dari yang namanya kesalahan dan penyimpangan. Para ulama saja sekelas An-Nawawi, Ibnu Hajar, Ibnu Taimiyah, dll banyak yang jatuh ke dalam beberapa penyimpangan namun tetap dijadikan rujukan dalam banyak hal maka apakah aneh bila Jafar menyimpang, apalagi ia sudah bukan rujukan?

Seorang penuntut ilmu salah itu biasa saja sebenarnya, hanya saja menjadi tidak biasa bagi ustadz Jafar Umar Thalib adalah karena ia suka mengkritik kesalahan banyak pihak, termasuk ulama sekalipun, sewaktu ia menjabat sebagai Al-Ustadz Al-Kibar Rujukan tanpa mau menerima kritikan/masukan dari pihak lainnya, seakan-akan kebenaran itu kokoh bersamanya sehingga murid-murid/pengikut-pengikutnya yakin kalau ia berada di jalur yang paling benar, maka ketika ia tersesat kecewalah semua orang yang bersamanya, jauh atau dekat.

Inilah yang menjadi luka yang mengiris hati yang sulit disembuhkan hingga saat ini, dimana saat mereka menyandarkan punggung dakwah salafiyah ini padanya,  ia sendiri malah jatuh dalam penyimpangan hingga berantakanlah dakwah ini saat itu.

Lalu apa setelahnya? Setelah tidak diterima banyak pihak salafiyyun, Jafar Umar Thalib lalu berkeliling ke sana kemari dalam berbagai barisan umat Islam yang bercorak ragam. Disana ia banyak berdiskusi dengan banyak orang yang tidak sepemikiran dengannya yang dulunya ia sesat-sesatkan. Kadang-kadang kami melihat ia sering sekali bunglon dengan fatwa-fatwanya, mungkin saja hal itu akibat dari pergaulannya tersebut, namun hal itu kami anggap wajar karena toh beliau masih sedang belajar lagi.Jadi wajar saja kalau masih suka berubah-berubah, apalagi beliau sudah tidak memiliki banyak pengikut seperti dulu, sehingga sekalipun ia sesat maka itu tidak membahayakan yang lainnya.

Namun akhir-akhir ini, kami melihat beliau agar mulai “keras dan kritis” dalam berpikir (mudah-mudahan hasil dari kesungguhannya belajar bukan hasil dari kesesatan), dimana ia berani menyuarakan kebenaran tanpa harus ketakutan dengan celaan para pencela dan tanpa takut kehilangan pengikut. Ada beberapa tulisannya yang kami lihat sangat kritis dalam menyuarakan kebenaran yang mana tentu saja itu sangat-sangat tidak biasa bagi ustadz salafy lainnya yang selalu benar dan sangat “jauh dari kesalahan”.

Mudah-mudahan apa yang dilakukannya menjadi satu wahana baru dalam dunia kritik mengkritik di dalam dakwah ini, sehingga bila mana beliau keliru ada yang mengkritiknya kembali sehingga dari sana kita dapat melihat siapakah yang kokoh dan akurat dalam hujjahnya, dan bukan sekedar cuap-cuap semata tanpa bisa menampilkan bantahan yang ilmiah dan terarah, karena hampir kebanyakan bantahan yang muncul adalah karena gagal paham. Wallahu a’lam.