image1

Ummu Abdillah Al-Wadi’iyyah: Ahlul Ilmi yang Tak Tergoda Fitnah

Terdapat artikel yang diposting forumsalafy dan dicopas tukpencarialhaq mengenai Ummu Abdillah Al-Wadi’iyyah.  Saat saya membacanya, betapa kagetnya saya… dulu pengganti Syaikh Muqbil, muridnya; Syaikh Yahya yang mereka hancurkan kehormatannya, sekarang putri beliau pun dibidik oleh mereka untuk dijatuhkan kehormatannya.

Entah manusia macam apa mereka ini, dimana hati nuraninya, kalau yang mengkritik Ummu Abdillah adalah orang luar yang tidak pernah bersentuhan dengan Syaikh Muqbil dan Dammaj saya anggap masih wajar, namun kali yang berani menjatuhkan kehormatan Ummu Abdillah adalah para mantan murid Syaikh Muqbil yang durhaka, betapa hinanya mereka ini.

Fitnah memang menyilau mata, ia seperti wanita cantik bagi lelaki penuh hasrat dan emas bagi wanita yang terbuai dunia bahkan narkoba bagi mereka yang penasaran dengan kenikmatan. Memang sangat sulit menahan diri dari godaannya, hanya ilmu yang bisa menyelamatkan kita semua.

Adalah orang yang bernama Yusuf Faris Umar yang kini sedang diorbitkan menjadi Syaikh karbitan oleh gerombolan Lukman Ba’abduh yang telah berani menjatuhkan kredibilitas Ummu Abdillah.

Yusuf Faris dulunya adalah… sama seperti (Syaikh Karbitan) yang lainnya… pernah belajar di Dammaj kemudian melalang buana hingga ke Saudi (Mekah), dan belajar kepada para Masyaikh di sana.

Setelah belajar ke banyak ulama dan merasa dirinya mufti jarh wa ta’dil ia dengan berani menjawab pertanyaan fitnah yang diajukan kepadanya.

Pertanyaan: Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Bolehkah mengambil ilmu dari Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah, putri dari asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’iy? Karena salah seorang akhwat mengatakan kepada saya bahwa tidak wajib mengambil ilmu darinya, dan dia mengatakan bahwa dia telah bertanya kepada ulama dalam masalah ini.

Tulisan ini kami rilis sebagai tanggapan atas manhaj bodoh yang terus diberhalakan oleh para ahlul fitan, yaitu menjatuhkan kredibilitas alim/ulama dengan bertanya kepada ulama lainnya atau lebih khususnya kepada Ashoghir tukang fitnah.

Dalam banyak tulisan di blog ini, kami sering mengkritik manhaj bodoh ini yang dipuja-puja oleh para tukang fitnah, tukang tahzir, dan sebagai tanggapan atas manhaj biadab ini kami lampirkan bagaimana manhaj Syaikh fauzan dalam meladeni penanya gelap yang suka mengadu domba ulama.

https://predatortukpencarialhaq.wordpress.com/2013/10/23/perbedaan-syaikh-shalih-fauzan-dan-syaikh-rabi-dalam-meladeni-penanya-gelap/

Bahkan Syaikh Ubaid yang kerap dijadikan rujukan oleh ahli fitnah sedunia ini telah menyatakan menjauh dari manhaj bodoh ini dibicarakan di ruang publik, sekalipun hal tersebut ditanyakan beliau tidak ingin disebut nama dan negeri ulama tersebut, cukup sebutkan pelanggaran syariatnya saja. Ini dilakukan demi menjaga kehormatan manusia.

السؤال
الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آلهِ وصحبهِ أجمعين.

قبل أن يبدأ أخونا وصاحبنا وتلميذنا الشيخ عبدالواحد قراءة الحديث المُخصّص للقاء هذا اليوم أُنَبِّه إلى شيئين:
الأول: لا نستقبل الأسئلة التي تجرُّ إلى الأمور السياسية، سواء في هذه البلاد أو في غيرها.
الأمر الثاني: تُستبعد أسئلة الجرح والتعديل، ما تقولون في فلان وفي فلان وفلان وكذا.
فموطن هذه الأسئلة الخاصة في الجرح والتعديل لها مكانٌ آخر، ولا مانع أن تُعرض عبارة فيها مخالفة شرعية دون ذكر القائل والبلد وعلى بركة الله يا شيخ عبد الواحِد.
القارئ: بسم الله والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آلهَ وصحبه ومن والاه، أما بعد:

Asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah Al-Jabiri -hafidzohullah-berkata :

Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam. Sholawat serta salam semoga tercurah keharibaan nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya seluruhnya.

Sebelum saudara, sahabat dan murid kami; Asy-Syaikh Abdul Wahid membaca hadits yang dibahas pada pertemuan hari ini, maka aku ingin kalian memperhatikan dua hal:

Pertama : kami tidak melayani pertanyaan-pertanyaan yang mengadung muatan-muatan politis baik di negara ini atau selainnya.

Kedua : pertanyaan-pertanyaan jarh dan ta’dil; apa yang kalian menanyakannya tentang si fulan, si fulan, si fulan dan demikian hendaknya dijauhi.

Terdapat ruang tersendiri untuk menampung pertanyaan-pertanyaan khusus jarh dan ta’dil tersebut. Namun tidak dilarang menyampaikan suatu bentuk pertanyaan yang di dalamnya terdapat penyelisihan terhadap syar’i tanpa menyebutkan (identitas) orang yang mengucapkannya dan negaranya.

http://miraath.net/questions.php?cat=45&id=83

Namun apa mau dikata yang bodoh tetaplah bodoh, yang terfitnah tetaplah terfitnah, karena hidayah hanyalah milik Allah, sekalipun Syaikh Ubaid telah menjauhkan dirinya dari manhaj bodoh ini dibahas di ruang publik namun itu tidak akan pernah merubah otak daripada ahlul fitnah ini, sekali fitnah maka fitnah terus sampai mati, tidak ada kata berhenti, orang lain mau bertaubat urusan mereka namun bagi ahli fitnah tidak ada kata taubat, fitnah manusia adalah harga mati sampai mati! Selesai yang satu cari lagi yang lain. Tak ada habis-habisnya. Dan kali ini Penulis akan menguliti fitnah yang digemboskan oleh Yusuf Faris bin Umar Al-Makki A.K.A Al-Libi.

Untuk diketahui bahwa sebelum mencela putri Syaikh Muqbil, Yusuf sebenarnya sudah lebih dulu mendapatkan tazkiyah dari Syaikh, luar biasa.

Screenshot_%D9%A2%D9%A0%D9%A1%D9%A5-%D9%A0%D9%A1-%D9%A2%D9%A8-%D9%A1%D9%A4-%D9%A4%D9%A0-%D9%A5%D9%A5~2

Namun Syaikh Muqbil bukan Syaikh ecek-ecek, di akhir tazkiyahnya beliau menutup dengan kata-kata yang sangat memenjara orang ini seumur hidupnya, yaitu

ولا نزكي على الله احد

“Kami tidak mentazkiyah seorang pun kepada/di hadapan Allah.”

Syaikh tahu betul bahwa manusia gampang berubah hari ini ditazkiyah besok bisa saja dia menyimpang. Hal itu bisa kita lihat pada diri Luqman Ba’abduh, awalnya diterima baik-baik belajar di Dammaj oleh Syaikh Muqbil hingga ia terusir dan tak dianggap murid oleh Syaikh Muqbil bahkan namanya tak ada dalam daftar murid-murid Syaikh Muqbil di Dammaj. Dan hanya orang-orang bodoh saja yang mudah percaya bahwa ia adalah murid Syaikh Muqbil.

Dan manusia hanya bisa menilai secara lahiriah saja, sisanya Syaikh serahkan kepada Allah. Dan ini adalah pelajaran yang beliau ambil dari hadis Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Disebutkan dalam Shahih Bukhari, bab: Ma Yukrahu Min At-Tadamuh, no: 6061.

حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ خَالِدٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ: أَنَّ رَجُلًا ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَثْنَى عَلَيْهِ رَجُلٌ خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” وَيْحَكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ – يَقُولُهُ مِرَارًا – إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا لاَ مَحَالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ يُرَى أَنَّهُ كَذَلِكَ، وَحَسِيبُهُ اللَّهُ، وَلاَ يُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا

Dari Abu Bakrah: ada orang yang sebut-sebut di depan Nabi lalu laki-laki yang lain memuji-muji kebaikannya maka Nabi mencibirnya: Celaka kamu, Kamu baru saja membinasakan sobatmu ((berulang kali beliau katakan itu)), jika kalian memang kamu mau memujinya maka cukup katakan: “aku kira dia begini dan begini”, jika memang dia terlihat demikian maka hanya Allah lah yang tahu betul keadaaannya dan Allah tidak mentazkiyah (menyucikan) siapapun!

Dan setelah mendapatkan susu (tazkiyah) dari Syaikh Mubil, Yusuf kini berusaha membalasnya dengan air tuba kepada putri beliau, yaitu Ummu Abdillah Al-Wadi’iyyah yaitu dengan menjawab pertanyaan yang sangat hina, yaitu: Bolehkah mengambil ilmu dari Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah, putri dari asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’iy? Karena salah seorang akhwat mengatakan kepada saya bahwa tidak wajib mengambil ilmu darinya, dan dia mengatakan bahwa dia telah bertanya kepada ulama dalam masalah ini.

Dan kami di sini akan memberikan bantahan kami atas Yusuf terhadap pemikirannya yang kami kira sudah keluar dari rel yang sebenarnya point per point,

Point pertama: Yusuf menghukumi Ummu Abdillah.

Yusuf berkata:

Amma ba’du;

Wajib atas Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah untuk menampakkan dan menjelaskan kepada kita tentang sikapnya yang jelas dan terang setelah munculnya berbagai fitnah yang menimpa dakwah Salafiyyah di Yaman:

Tanggapan: Wajib dari mana Syekh? Begitu mudah Anda mengatakan/merumuskan hukum Allah sementara para mujtahid/imam-imam besar Islam berjuang mati-matian demi menemukan hukum Allah.

Apa yang membuat Anda merasa berhak atas putri Syaikh sehingga menghukuminya demikian?

Ummu Abdillah dididik dengan ilmu oleh seorang alim yang bernama Muqbil bin Hadi. Dan beliau (Ummu Abdillah) bukan orang yang gampangan ikut-ikutan fitnah seperti Anda dan kroni-kroni Anda yang tidak memiliki bashiroh dalam agama ini.

Orang yang berilmu itu punya sikap dan pertanggung jawaban kepada Allah, adapun orang jahil maka ia terikat kepada jamaahnya; sikap dan tanggung jawabnya ada pada jamaahnya, bila jamaahnya sesat maka ia pun pasti akan ikutan sesat, karena kalau tidak begitu resikonya adalah ia pasti akan ditinggal jamaahnya. Inilah yang menimpa Lukman Ba’abduh, Umar As-Sewed dan kroni-kroninya, karena terlanjur melempar fitnah dan bermain fitnah maka sulit bagi mereka menghentikannya, karena para jemaatnya sudah kudung percaya dengan omong kosong mereka selama ini, maka mau tak mau fitnah ini diterusi saja tanpa ada ujung akhirnya.

Hal ini bisa kita lihat dari hadis yang menceritakan mengenai Heraclius (Hirqala) yang mengetes para jemaatnya dengan kedatangan Nabi Muhammad, karena tak mau kehilangan pengikut Heraclius akhirnya mengikuti para jemaatnya.

Dakwah Ummu Abdiilah bukan urusan dengan pengikut/jamaah tidak seperti kalian, berbeda sedikit saja dari mainstream langsung dikucilkan/hajr bahkan ditahzir. Dan orang berilmu tidak gentar dari hal-hal semacam ini, mari kita simak perkataan Syaikh Yahya ketika terjadi fitnah Abdurrahman Al-Adeni:

وأقسم لكم بالله للسامعين ومن يسمع لو اجتمع علماء الدنيا على أن عبد الرحمن ما هو حزبي ما قبلت هذا منهم أنا وسائر الناصحين من أهل السنة ) !!

“Aku bersumpah untuk kalian, demi Allah untuk para pendengar dan siapapun yang mendengar bahwa kalau para ‘ulama dunia bersatu/bersepakat bahwa ‘Abdurrahman bukan hizbi maka aku tidak akan menerima (kesepakatan) itu dari mereka, aku dan segenap shalihin dari kalangan Ahlus Sunnah!!”

Mengapa beliau bisa seyakin dan senekad itu? Apakah ini sebuah sikap kesombongan?

Jawabnya adalah tentu saja tidak, karena beliau memiliki ilmunya. Sebab Abdurrahman ada bersama Syaikh Yahya sebelum ia membuat makarnya dan Syaikh Yahya tahu seluk beluknya.

Jadi sangat ganjil sekali bila ada manusia, yang tidak tahu persoalannya sekalipun ia adalah ulama KIbar tiba-tiba merasa lebih tahu dari Syaikh Yahya atas Abdurrahman Al-Mar’I kemudian menyudutkan Syaikh Yahya, menjatuhkan kredibiltasnya, membunuh karakternya. Apalagi fitnah ini kebanyak dimotori oleh pasukan nasi kotak dan nasi bungkus yang berjuang hidup demi kebutuhan perut bukan demi kebutuhan hati dan rohaninya.

Bagaimana bisa seorang saksi kunci yang ada di TKP dalam sebuah kasus dikalahkan oleh informasi yang datang dari saksi ahli yang tidak ada di TKP?!

Dimanakah akal para manusia buta ini, bukankah Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang tahu isi rumah hanyalah pemilik rumah, yang tahu isi Dammaj yang mana saat itu Abdurrahman Al-Mari masih menjadi isi Dammaj tentu saja adalah pemilik Dammaj yaitu Syaikh Yahya, bukan orang lain karena Syaikh Yahya adalah atasannya.

Oleh karenanya orang berilmu itu tidak pernah gentar terhadap tekanan apapun, karena ilmu bersamanya. Beda dengan orang-orang jahil ditahzir dikit langsung menciut seperti kerupuk yang kemasukan angin. Mengapa bisa begitu? Tentu saja karena tidak ada ilmu di dalam hati mereka.

Point kedua: Yusuf bicara fitnah dan meminta Ummu Abdillah terlibat dalam fitnah.

Pertama: Sikapnya terhadap Yahya al-Hajury si mubtadi’ yang sesat itu.

Kedua: Sikapnya terhadap masayikh penggembos di Yaman, yaitu para penandatangan surat penggembosan, penuh kedustaan dan fitnah, serta mengalah dalam kebenaran, yang dipimpin oleh dedengkot penggembosan yaitu Muhammad ar-Raimy.

Ketiga: Sikapnya terhadap Masayikh Salafiyun Kibar yang menghadang orang-orang sesat itu.  

Kelima: Sikapnya terhadap Masayikh Yaman yang menentang gerakan pelembekan dan penggembosan, seperti Asy-Syaikh Hani al-Buraik dan Asy-Syaikh Ali al-Hudzaify serta yang bersama mereka dari orang-orang yang kokoh di atas manhaj Salaf.

Tanggapan: Alhamdulillah sejauh ini beliau tidak mengotori lisan dan tangannya dari fitnah ini. Tangan dan lisannya selalu basah bersama ilmu dimanapun beliau berada. Bagi tukang fitnah seperti kalian, silahkan kotori terus lisan dan tangan kalian dengan zhon-zhon (kebanyakan prasangka) kalian itu. Apa pernah kalian mau mendengarkan firman Allah ini,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (12)

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.  Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12)

Padahal Allah telah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ (20)

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya) (QS. Al-Anfal: 20)

Point ketiga: Yusuf tidak paham ungkapan Ahlul Ilmi.

Keempat: Kejelasan dalam memaparkan ilmu, terkhusus dalam masalah manhaj, dan dia jangan menggunakan metode yang mengambang dan bersifat umum, seperti dengan mengatakan, “Hendaklah kalian menyibukkan diri dengan ilmu!” Ini adalah ucapan yang benar, namun sering dimaukan untuk membela kebathilan oleh banyak orang, sehingga harus dijelaskan apa maksudnya.

Tanggapan: hanya orang bodoh yang tidak paham ilmu ini (, “Hendaklah kalian menyibukkan diri dengan ilmu!”), ilmu ini hanya bisa dipahami oleh orang yang berilmu pula.

Ingat pembaca, pesan orang berilmu hanya bisa ditangkap oleh orang yang berilmu adapun manusia bodoh takkan menempel padannya sedikitpun.

Seseorang yang berilmu akan Allah bukakan bashiroh (penglihatan) sehingga ia bisa melihat mana yang haq dan mana yang batil. Adapun orang jahil maka ia menggantungkan penglihatannya pada orang lain yang ia anggap rujukan.

Perhatikan pembaca, bila mana sang rujukan tersebut salah maka ia pasti ikut-ikutan salah karena ia bodoh dan tak tahu apa-apa, namun bila mana ia berilmu sekalipun rujukannya itu salah pasti ia tidak mau ikut-ikutan.

Inilah pentingnya pesan ilmu tersebut, di saat seseorang punya ilmunya maka ia akan paham persoalannya, namun bila ia tidak punya ilmunya maka ia pasti akan ikut-ikutan.

Mari kita belajar dari salaf. Kita lihat Ali bin Abi Thalib saat terjadi perang Shiffin ketika ia berhadapan dengan Muawiyyah, ia ingin perkara fitnah pembunuhan Utsman hanya diselesaikan antara dirinya dengan Muawiyah saja (tatap muka), karena hanya mereka yang paham persoalannya. Karena ia sadar bahwa para prajuritnya dan prajurit Muawiyah hanyalah ikut-ikutan fitnah saja. Ali merasa berdosa harus mengorbankan nyawa prajutinya yang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang kematian Utsman bahkan ia sampai rela menanggalkan jubah khalifahnya demi menjaga nyawa orang-orang ini.

Inilah yang dijaga oleh Ummu Abdillah ketika ia masuk ke dalam fitnah ini maka tidak akan pernah habis-habisnya dan ini akan menguras habis waktunya dengan ilmu bahkan ilmunya selama ini bisa menjadi sia-sia.

Lihatlah nasib tukang fitnah Lukman Ba’abduh dan kroni-kroninya, ia mentahzir Jafar Umar Thalib, Yazid Jawaz, Hakim Abdat, dll dengan kalam Syaikh Yahya dihadapan para pengikutnya, lalu apa setelahnya?

Beberapa tahun kemudian ia dan kroni-kroninya malah mentahzir Syaikh Yahya dengan dengan kalam Al-Imam, Al-Wushobi dan Abdurrahman Al-Mar’I dan segenap kalam Masyaikh Yaman yang lain. Lalu apa setelahnya?

Al-Imam, Al-Wushobi dan Abdurrahman Al-Mar’I dan semua masyaikh Yaman murid Syaikh Muqbil ditahzir semua oleh mereka dengan kalam Syaikh Rabi, Ubaid melalui Hani Braik yang kini sudah menjadi politikus salafi pertama di Yaman.

Dan sekarang apa yang terjadi? dauroh yang diselenggarakan Lukman miskin dari Syaikh Kibar atau murid Syaikh Kibar bahkan sepi peminat, tidak ada tazkiyah dari Syaikh Rabi, Ubaid apalagi teleconfrence dari mereka, yang ada hanyalah Syaikh-Syaikh karbitan yang bisa dicomot dimana saja di Yaman dan Saudi, karena jumlah Syaikh-Syaikh karbitan ini ada banyak sekali seperti jamur di musim hujan tinggal dipilih sesuka hati dan diperintah untuk memberi fatwa ini dan itu untuk mengenyangkan perut mereka dan salah satunya kini adalah Yusuf Faris bin Umar Al-Makki ini.

Mengapa bisa begini? Tentu saja karena ulah mereka sendiri.

Point kelima: Yusuf tidak paham tamayyuz Syaikh Muqbil

Kemudian perlu untuk mengingatkan perkara besar, yaitu bahwasanya guru dan orang tua kami Asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’iy –rahimahullah- pernah ditanya ketika beliau sedang berada di rumah guru kami Asy-Syaikh Rabi’ –hafizhahullah- dan ketika itu saya duduk, “Apa sebab keberhasilan dakwah di Yaman?” Maka beliau menjawab, “Sebabnya adalah adanya tamayyuz (membedakan diri dan memisahkan diri dari orang-orang yang menyimpang).”

Tanggapan: Justru ucapan Anda ini yang harus dijelaskan maksudnya? Kalau yang dimaksud tamayyuz adalah membedakan diri dan memisahkan diri dari orang-orang yang menyimpang sebagaimana yang ditafsirkan si penerjemah ini, maka perlu Anda ketahui karena Anda memaksudkan tamayyuz kepada Ummu Abdillah bahwa Syaikh Muqbil telah bersikap tamayyuz kepada kebanyakan salafiyyun Saudi, beliau pernah mengkafirkan pemerintah Suadi dan Raja Fahd, sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh salafiyyun Saudi, lalu apa setelah itu beliau dijarh, ditahzir dan dihajr oleh salafiyyun Saudi?

Kebanyakan mereka diam, bersikap sebagaimana Ummu Abdillah ini atas semua fitnah ini yang Anda inginkan beliau tercebur di dalamnya, tidak ada yang berani mentahzir Syaikh Muqbil hingga Abdullah Al-Bukhari sudah tidak mampu lagi menahan lisannya dari mengatakan Syaikh Muqbil adalah khawarij… ((karena mengkafirkan Pemerintahan Saudi dan Raja Fahd)).

Apa tamayyuz seperti Syaikh Muqbil ini berani Anda praktikkan. Ketika hampir semua salafiyyun Saudi menta’dil Raja fahd sementara Syaikh Muqbil bertamayyuz dengan mengkafirkannya gara-gara kalung salib yang dipakainya.

Beranikah Anda mengambil langkah tamayyuz yang telah dicontohkan guru Anda, Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I, sekalipun manusia lainnya tak ada yang mengikutinya?

Lihatlah Yahya Al-Hajuri yang Anda cap sesat itu, ia berani bertamayyuz; menghizbikan Abdurrahman Al-Adeni sementara ulama kibar lainnya tidak melakukannya.

Like Teacher, Like Student. Jangan tanya mengapa Muqbil memilih Yahya sebagai penggantinya!

Point keenam: Yusuf meremehkan Ummu Abdillah. Pikirnya Ummu Abdillah besar karena nama besar Syaikh Muqbil.

Saya juga mengingatkan perkara yang sangat penting sekali, yaitu bahwasanya manhaj Salaf dan ilmu syar’i tidak mengenal ada pewarisan padanya. Jadi tidak benar dengan sekedar mengatakan bahwa si fulan adalah anak dari Syaikh Fulan, dan tidak benar pula menjadikan seseorang itu anaknya siapa sebagai parameter dan timbangan untuk menilai apakah anak tersebut akidah dan manhajnya benar. Jadi pemahaman semacam ini sangat jelas kesalahannya. Jadi untuk membuktikan kebenaran aqidah dan manhaj seseorang bukan dengan melihat bahwa dia adalah anaknya ulama si fulan, tetapi tazkiyah (pujian) itu hanyalah berdasarkan kekokohannya di atas aqidah dan manhaj Salaf hingga meninggl, wallahu a’lam.  

Tanggapan: Kami telah selesai dengan pembicaraan tazkiyah Syaikh Muqbil kepada Anda. Sekarang yang kami ingin katakan adalah apa yang Anda sampaikan itu benar, itu tidak salah, namun perlu Anda tahu bahwa putri Syaikh Muqbil bukan Cuma Ummu Abdillah namun mengapa Ummu Abdillah yang paling menonjol yang lainnya tidak?

Tentu jawabnya adalah karena ilmu yang dimilikinya bukan karena faktor orang tuanya, ada banyak ulama yang seperti ini. Lihatlah juga Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, mengapa hanya ia yang menonjol, kenapa anak Ahmad bin Hanbal yang lainnya semisal, Hasan, Husein, Muhammad, Said, Shalih tidak ada yang jadi ulama semisal bapaknya? Apakah Abdullah dihormati karena Ahmad bin Hanbal? Picik sekali bila berpikir seperti itu terhadap orang yang berilmu.

Bandingkah diri Anda wahai Yusuf, apa yang sudah Anda lakukan atas dakwah ini, Ummu Abdillah memiliki segudang karya ilmiah dari masa remajanya hingga kini baik dari tulisannya maupun hasil tahqiq-annya atas kitab para ulama. Lalu apa yang Anda miliki wahai orang miskin?

Jangan salahkan (iri hati terhadap) orang kaya karena Anda miskin, sebab mereka kaya karena usaha dan kerja kerasnya bukan karena banyak omongannya.

Adapun mengenai tazkiyah maka berapa banyak orang yang ditazkiyah kini menyimpang, lihatlah Abdurrahman Al-Adeni, Al-Imam dan Masyaikh Yaman lainnya yang pernah kalian puja, mereka dulunya ditazkiyah oleh Syaikh Rabi namun apa kini?

Kalian menjatuhkan mereka sejatuh-jatuhnya, apakah Anda masih mengandalkan tazkiyah, tidak kah Anda ingat pesan syaikh Muqbil dalam surat tazkiyah atas Anda: Kami tidak mentazkiyah seorang pun kepada/di hadapan Allah.

Point ketujuh: Yusuf tidak sejalan dengan Yahya bin Main penggagas Ilmu Jarh wa Ta’dil. Yusuf punya Jarh wa Ta’dil bikinannya sendiri.

Saya tulis hal ini dan saya tidak ingin bicara panjang lebar dalam masalah ini, hanya saja karena banyaknya pertanyaan tentang Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah dan juga karena hal-hal yang beritanya sampai kepada saya tentangnya, sehingga saya tulis lima perkara ini agar jelas sikapnya. Dan tidak diragukan lagi bahwa perkaranya ini berkaitan dengan agama, karena kejelasan itu termasuk sifat Salafiyun yang paling menonjol dan termasuk ciri khusus dakwah mereka.

Tanggapan:

Allah berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az-Zumar: 9)

Apakah Anda tahu, tentu Anda tahu, karena Anda sering bermain jarh, bahwa Yahya bin Ma’in telah memvonis Syafi’i sebagai rafidhoh, namun apakah Ahmad bin Hanbal sebagai koleganya menerima jarhnya tersebut?

Jawabannya adalah tidak! Lalu mengapa salaf seperti Yahya bin Main ini tidak menghajr dan mentahzir Ahmad bin Hanbal yang tidak mau menjarh Syafi’I dengan rafidhoh? Sebagaimana yang dilakukan oleh Anda dan para tukang tahzir semisal Lukman Ba’abduh beserta kroni-kroninya yang memaksa manusia untuk mengikuti tahzir dan jarh mereka terhadap Rijal! Persis seperti yang Anda lakukan atas Ummu Abdillah ini!

Yahya bin Main yang disebut-sebut sebagai pendiri ilmu jarh wa ta’dil oleh banyak ahli jarh wa ta’dil ini tidak melakukan perbuatan yang menghinakan ilmu atas Ahmad bin Hanbal dengan menhajarnya atau meminta kejelasan sikap Ahmad atas Syafi’I lalu mengapa kalian malah melakukan hal yang menyimpang dari jalan Yahya bin Ma’in.

Kalian senantiasa berteriak jarh wa ta’dil, jarh wa ta’dil, jarh wa ta’dil namun jarh wa ta’dil siapa yang kalian bawakan ini jika pendirinya saja tidak berjalan di atas jalan tersebut?

Kalian sesungguhnya hanyalah mengarang-ngarang cerita mengenai jarh wa ta’dil. Persis seperti kisah berikut ini.

Konon dikisahkan, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulloh dan Imam Yahya bin Ma’in rahimahulloh sholat di masjid Rushofah. Tiba-tiba ada seorang tukang cerita yang berdiri selepas sholat, lalu ia berkata : “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, keduanya berkata : “Telah menceritakan kepada kami Abdurrozzaq dari Ma’mar dari Qotadah dari Anas bin Malik berkata : “Rosululloh shollallohu alahi wasallam bersabda : “Barang siapa yang mengatakan Laa Ilaaha Illalloh, maka Alloh akan menciptakan dari satu kalimat itu seekor burung yang paruhnya terbuat dari emas sedangkan bulunya dari batu permata,” kemudian dia terus bercerita sampai sekitar dua puluh lembar.

Maka Ahmad bin Hanbal rahimahulloh melihat Yahya bin Ma’in rahimahulloh, begitu pula Yahya bin Ma’in rahimahulloh melihat Ahmad bin Hanbal rahimahulloh, lalu berkata : “Engkau menceritakan kepadanya hadits itu?”

Ahmad bin Hanbal berkata : “Demi Alloh, saya belum pernah mendengarnya kecuali saat ini.”

Maka tatkala orang itu selesai bercerita serta mengambil upah dari pendengarnya dan di saat dia masih menunggu lainnya, ia dipanggil oleh Yahya bin Ma’in rahimahulloh. Ia pun bergegas datang karena menyangka akan diberi uang.

Ternyata Yahya bin Ma’in berkata kepadanya : “Saya Yahya bin Ma’in dan ini Ahmad bin Hanbal, kami tidak pernah mendengar hadits semacam yang engkau sebutkan tadi dari Rosululloh.”

Maka dia menjawab : “Saya sering mendengar bahwa Yahya bin Ma’in dan Ahmad bin Hanbal itu orang dungu, dan saya baru bisa memastikannya sekarang ini, seakan-akan tidak ada Yahya bin Ma’in dan Ahmad bin Hanbal kecuali kalian berdua. Saya telah menulis tujuh belas orang yang semuanya mengaku sebagai Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in.”

Maka Imam Ahmad pun meletakkan kedua tangannya pada wajahnya dan berkata : “Biarkan dia pergi.”

Sumber:   

Demikian yang dapat kami sampaikan semoga bisa diambil manfaatnya oleh para pembaca.

Terakhir kami ingin menyimpulkan tulisan di atas sehingga pesan ini dapat lebih mudah dimengerti.

  1. Ilmu hanya dapat dipahami oleh orang yang berilmu, pesan ahlul ilmi hanya dapat dipahami oleh ahlul ilmi, orang bodoh tidak akan pernah paham uangkapan para ahlul ilmi.
  2. Kritik orang bodoh (tukang tahzir, jarh, hajr) hanya berpengaruh terhadap orang bodoh juga, ahlul ilmi takan terpengaruh sedikitpun. Bila pembaca terpengaruh dengan ucapan Yusuf Faris di atas maka pembaca bisa jadi termasuk ahlul fitan.
  3. Ahlul ilmi memiliki bashiroh, sementara orang bodoh tidak, oleh karenanya mereka bertaklid buta, disebut buta karena mereka tidak punya penglihatan atau bashiroh sendiri.
  4. Sikap ahlul ilmi dan orang bodoh tidak akan sama, ahlul ilmi menjadikan ilmu sebagai nafas hidupnya, sementara orang bodoh tidak akan pernah tenang hidupnya kalau tidak menebarkan fitnah dalam sehari, karena makanan mereka adalah fitnah.
  5. Fitnah itu seperti narkoba, kalau sudah dicoba sekali ketagihan selama hidupnya. Ahlul Ilmi tahu bahaya ini makanya mereka tidak pernah mau mencobanya, sekali dicoba ketagihan seumur hidup. Betapa banyak ulama yang sia-sia hidupnya demi fitnah.