goback

Edisi Ngawur : Mencari Alhaq Tidak Sama dengan Mencari-cari Kesalahan

Tulisan ini dipersembahkan kepada segenap para pencari kebenaran di jalan salaf yang masih berpegang dengan panji salafiyah. Pada kesempatan kali ini kami akan sedikit menyingkap filsosofi (manhaj) yang digunakan bocah “tukpencarialhaq” ini dalam da’waan (dakwah) nya di dunia maya selama ini.

Sebenarnya meladeni ocehan bocah tentu saja sangat tidak bermanfaat, karena ia tetap tidak akan paham apa yang disampaikan. Oleh karenanya banyak para ustad lebih memilih diam, tak mempedulikannya sama sekali, sekalipun ia menggonggong layaknya anjing, karena memang ia tidak dianggap oleh para kafilah. Dan hampir tidak ada ustad yang mau menanggapi berbagai macam “ocehan gilanya”, karena itu sama saja menjadikan mereka setara dan sejajar dengan bocah ini.

Adapun apa yang kami lakukan di sini, hanya bagian dari upaya pengimbang atas informasi yang tidak akurat, mengingat masih banyaknya orang yang yang begitu mudahnya menelan mentah-mentah informasi sepihak yang disampaikan bocah ini, terutama dari golongan mereka sendiri.

Pertama, web tukpencarialhaq dibangun oleh para pecundang-pecundang dakwah, tidak berbuat apa-apa dalam dakwah di dunia nyata, namun ingin tersohor secara instan maka jadilah ia “pemakan bangkai ulama”.

Sebagaimana diketahui bahwa dalam dunia jurnalistik “anjing menggigit manusia bukanlah berita, tapi manusia menggigit anjing itu baru berita.” Atau dalam pepatah lama: kalau ente ingin terkenal maka kencingilah air zam-zam. Seperti ini lah gambaran si purwito ini, bayangkan, ia, dari bukan siapa-siapa tiba-tiba ia menjadi “artis dadakan” dalam dakwah dan jadilah ia bertambah besar kepala dan semakin liar mengikuti napsu sesatnya karena terus memburu daging ulama yang beracun. Dan tentu saya hanya manusia tak berakal budi yang mau makan racun.

Dan dalam kadarnya sebagai pecundang yang jahil, ia dengan berani mengkritik ustad bahkan ulama yang dengan manhaj jahili andalannya, yaitu puzzle beratakan, sebuah tehnik penulisan yang paling agung di mata para manusia bodoh.

Anda tahu puzzle, bagian-bagiannya yang berantakan itu ia susun ulang menurut hawa napsunya pribadi, bukan sesusai gambaran utuhnya sebagaimana ia seharusnya dan seadanya, kemudian ia simpulkan sendiri dan tafsirkan sendiri kemudian setelah itu barulah ia koar-koar di webnya.

Hasilnya, pembaca tahu sendiri bukan? Anak kecil juga bisa menulis seperti itu.

Kedua, konten-konten yang ia jadi jadikan sesajen bagi para leluhurnya semisal Lukman Ba’abduh, Umar Sewed, Usamah Mahri, dsb adalah konten-konten pemuas napsu syaithoniyah dari para leluhurnya yang tidak hanya sekedar dipuaskan di dunia nyata tapi juga di dunia maya. Disebut pemuas napsu syaithoniyah karena tidak semua langkah kaki Lukman Ba’abduh dibimbing para ulama, kebanyakan adalah murni dari diri mereka sendiri namun sengaja diberi cap stempel (palsu) “bimbingan ulama kibar” agar manusia percaya kepada mereka. dan memang seperti inilah kerjaan setan, menipu manusia.

Hal ini rela dilakukannya demi menaikan harga jualnya di mata para leluhurnya, sehingga ia tidak lagi hanya menjadi pecundang kelas teri tapi tapi naik jabatan menjadi agen resmi dari organisasi Lukman Ba’abduh, bukan tidak mungkin suatu saat ia diangkat menjadi “ustad”. Ini bisa kita lihat ketika dalam surat taubat Dzulqarnain ada namanya, dan Dzulqarnain bahkan sampai harus menjilat-jilat kakiknya untuk memohon ampunannya atas tahzirnya kepada Purwito selama ini. Meskipun pada akhirnya Dzulqarnain menarik kembali surat taubat tersebut karena merasa dipermainkan oleh Hani Braik dan Usamah Athoya.

Ketiga, musuh-musuh dakwah mereka sudah mereka tumbangkan (meskipun dalam imajinasi mereka sendiri, karena musuh-musuhnya tersebut masih berdakwah), sekarang web tersebut nyaris tidak lagi menampilkan tahzir-tahzir mubazir bin serampangan. Kekosongan ini membuat mereka stress berat dan mencari musuh baru, yaitu PKI. Inilah hasilnya bila berdakwah dengan metode ajak kadut ala badut, entah sejak kapan dakwah salaf berurusan dengan PKI? Harusnya jangan cuma PKI, karena ada banyak permasalahan yang dihadapi bangsa ini dan harusnya ia juga membahasnya dalam webnya. Tapi beginilah keadaan orang jahil tidak jelas nalarnya mau kemana? Sangat alay sekali!!! Ingin tetap mendapat perhatian dan belas kasih dari para netizen.

Keempat, dakwah admin blog ini tidak jelas rimbanya, jiwa alay-nya sangat tinggi sekali, kutip fatwa sana-sini, sepotong-sepotong demi menjatuhkan kredibilitas para alim, hasilnya justru makin menunjukkan kebodohannya. Ia pikir dengan berbuat begitu ia akan dipandang alim, justru semakin dipandang bodoh oleh manusia.

Kelima, dalam dakwahnya sering kali ia bicara mengenai NKRI, demi menunjukkan bahwa salafi versinya bukan anti pemerintah, bahkan pemuja pemerintah. Bocah bodoh ini sebenarnya tidak paham apa yang sedang ia bicarakan, NKRI adalah konsep kebhinekaan, walau berbeda-beda tapi tetap satu. Konsep ini juga ada dalam dasar ikhwanul muslimin yang diserangnya habis-habisan, yaitu: Kita tolong-menolong dalam perkara yang kita sepakati dan saling memaafkan (mutual respect) terhadap perkara yang kita berselisih padanya”.

Bagaimana bisa ia menjunjung NKRI, sementara salafi versinya anti dengan perbedaan, jangankan masalah ushul masalah furu saja membuat mereka naik darah dan mudah memutus hubungan/tali silaturahmi. Ck ck ck, dasar bocah kemaren sore.

Ia menjunjung tinggi NKRI namun menyerang berbagai macam paham seperti, syiah, im, pki, ahmadiah, dll.

Tapi tahukan ia bahwa syiah adalah bagian dari NKRI ini, bahkan sebelum ada NKRI, syiah sudah ada. Dan ikut andil dalam demokrasi. Sekalipun MUI telah mengeluarkan fatwa sesatnya syiah, ahmadiah, toh nyatanya pemerintah tidak membubarkan mereka, karena mereka adalah bagian dari NKRI ini. Bahkan banyak jemaat Ahmadiah yang turut serta dalam perjuangan kemerdekaan NKRI.

Hasan Albana dan Ikwanul musliminnya melalui Sjahrir dan H Agus Salim mendorong agar pemerintahan Mesir saat itu lebih dulu mengakui kemerdekaan NKRI sebelum negara-negara Arab. Dan syarat kemerdekaan itu adalah harus memiliki pengakuan dari negara lain, dan Mesir melalui IM adalah yang pertama di Timur Tengah.

Adapun PKI, apa ia tidak mendengar bahwa pemerintahan sekarang ingin meminta maaf kepada PKI, mengadakan simposium untuk meluruskan sejarah PKI, dsb. Sementara ia tahu bahwa harus patuh dan taat pada ulil amri, yaitu harusnya ia bukan menyerang PKI tapi justru harus membela PKI.

Inilah yang kami katakan bahwa bocah ini tidak paham dengan apa yang ia bicarakan. Ia terus berupaya hidup dalam imajinasinya sendiri. Entah apa yang diperjuangkannya? Tak ada, selain menjadi wartawan gosip muarahan yang senang mencari perhatian.

 

One thought on “Edisi Ngawur : Mencari Alhaq Tidak Sama dengan Mencari-cari Kesalahan”

Comments are closed.