cropped-color_explosion-wallpaper-1024x768.jpg

SEKELUMIT PERBEDAAN DAN PERSAMAAN MAKNA JARH WA TA’DIL DALAM PANDANGAN ULAMA

Pada kesempatan kali ini saya akan mengomentari postingan http://tukpencarialhaq.com yang di copy paste dari forumsalafy.net yang berjudul: APAKAH PINTU JARH WA TA’DIL ITU SUDAH TERTUTUP KARENA HAL ITU KHUSUS UNTUK PERAWI HADITS SAJA?

Pada terjemahan yang dikutip dari situs sahab tersebut, di akhir pembicaraannya Syaikh Rabi menjelaskan bahwa pintu jarh wa ta’dil masih terbuka lebar hingga saat ini.

Untuk tidak menjadi mainan orang jahil (bodoh) yang hobi membakar fitnah hingga menjalar ke orang-orang awam yang tidak tahu apa-apa sehingga mereka menjadi fanatikus buta yang brutal dan agar lebih adil dalam menimbang permasalahan ini maka kami bawa anda ke link sahab.net yang lain yang jauh lebih komplit rangkumannya terhadap fatwa ulama dalam permasalahan ini, dimulai dari Syaikh bin Baz, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Shalih Al-Fauzan, Shalih Luhaidan, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, Ubaid Al-Jabiri, Muqbil bin Hadi, Muhammad bin Hadi, Muhammad bin Umar Bazmul, sementara Usamah Athaya kita kesampingkan dulu karena ia dijarh oleh Syaikh Ubaid.

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=130711

Di sini saya tidak menerjemahkan fatwa-fatwa tersebut hanya memberi point-pointnya saja untuk dipertemukan satu sama lain sehingga bisa disimpulkan kesamaan dan perbedaannya.

  1. Syaikh bin Baz ditanya tertang pintu jarh wa ta’dil yang dibatasi pemahamannya pada para perawi (bukan kritik mengkritik rijal di zaman ini), apakah masih terbuka?

jawab beliau, ya, karena hadits bisa diketahui cacat dan tidaknya melalui ilmu jarh wa ta’dil tersebut. Di sini beliau tidak mengomentari apa-apa tentang kritik mengkritik rijal di zaman ini yang dimaksudkan oleh si penanya tersebut.

  1. Syaikh Utsaimin ditanya apakah jarh wa ta’dil (kritik mengkritik rijal di zaman ini) sudah mati?

Jawab beliau, selama manusia hidup maka jarh wa ta’dil akan tetap ada terutama dalam hal yang menyangkut persaksian dan pemutusan perkara oleh hakim/jaksa. Hanya saja beliau khawatir bila jarh wa ta’dil ini malah disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu. Oleh karena itu, untuk membatasi ruang gerak para ahli fitnah yang mengacaukan barisan Ahlussunah tersebut beliau menganjurkan, kesalahan seseorang itu cukup dibongkar kesalahannya saja bukan dengan menjatuhkan kehormatannya.

Para pembaca mungkin bisa melihat sewaktu Syaikh Utsaimin menjarh syaikh Albani dengan sebutan “sok tau agama” karena Albani membidahkan azan dua kali, saat itu syaikh Utsaimin tidak menyebutkan nama syaikh Albani secara terang-terangan. Tapi maksud beliau sudah dapat ditangkap semua orang saat itu. Dan ketika beliau ditanya tentang Syaikh Albani, Syaikh Utsaimin langsung memujinya (menta’dilnya) tanpa menjarhnya dengan satu kata apapun.

Lihatlah akhlak Syaikh Utsaimin dengan jarh wa ta’dil versinya tersebut, bandingkan dengan versi jarh wa ta’dil yang diterapkan oleh beberapa kelompok ekstrimis akhir-akhir ini yang suka menyebut nama dan menjatuhkan kehormatan ulama di depan umum!

  1. Syaikh Shalih Fauzan ditanya apakah jarh wa ta’dil (kritik mengkritik rijal di zaman ini) masih ada atau tidak?

Jawab beliau, jarh wa ta’dil zaman dulu dan sekarang berbeda, kalau sekarang isinya hanyalah ghibah dan adu domba (ini juga yang mungkin dikhawatirkan syaikh utsaimin di atas-pent) antara para penuntut ilmu. Dan jarh wa ta’dil adalah ilmu kritik hadits dan sanad yang hanya dimiliki para imam hadits, sementara jarh wa ta’dil (kritik mengkritik rijal) zaman sekarang tidak ada.

Lalu bagaimana dengan para dai-dai sesat apakah didiamkan sementara jarh wa ta’dil tidak bisa dipakai lagi?

Jawab beliau, mereka ditahzir dan dibantah dengan cara yang baik bila perlu dilaporkan ke pihak yang berwajib.

Syaikh Fauzan dalam banyak ceramahnya sering kali mendapatkan pertanyaan tentang pemikiran dan sepak terjang Syaikh Rabi (tanpa menyebutkan nama syaikh Rabi), maka beliau hanya mentahzirnya dengan mengatakan, “tinggalkan ia”, “ini murjiah”, atau “jangan sibukkan dirimu dengannya”, “jangan sibukkan kami dengan mereka”, “sibukkan dirimu dari menuntut ilmu”. lalu dalam banyak kesempataan juga beliau sering kali ditanya tentang Syaikh Rabi maka beliau memuji Syaikh Rabi dengan pujian yang indah dan bagus tanpa sedikitpun mencelanya meskipun Beliau dan Syaikh Rabi memiliki perbedaan pandangan dalam banyak hal.

  1. Syaikh Shalih Luhaidan ditanya apakah jarh wa ta’dil (kritik mengkritik rijal di zaman ini) masih ada atau tidak?

Jawaban beliau sama persis dengan jawaban syaikh Fauzan, bahwa jarh wa ta’dil adalah urusan imam hadits dan telah selesai waktunya dan zaman sekarang hanyalah dilakukan dengan nasihat atau dengan tahziran. Hanya saja beliau tidak mengatakan untuk dilaporkan kepada pihak yang berwajib.

  1. Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad, apakah ilmu jarh wa ta’dil telah terputus di zaman ini?

Jawab beliau, pada prinsipnya jarh wa ta’dil itu hanya berkaitan dengan hadits dan para perawinya, tapi di zaman sekarang jarh wa ta’dil telah bergeser dalam hal persaksian seseorang, apakah ia bisa dipercaya dalam hal persaksiannya atau tidak atau bahkan terhadap para pelaku kesesatan. Jawaban beliau ini hampir mirip dengan syaikh utsaimin di atas. Hanya saja Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad memberikan catatan, bila jarh wa ta’dil ini diterapkan kepada sesama Ahlussunnah maka ini tidak benar dan tidak boleh.

  1. Syaikh Ubaid Aljabiri berkata tentang permasalahan ini, bila batasan jarh wa ta’dil itu menyangkut hadits dan para perawinya maka ilmu ini telah selesai. Namun jika menyangkut kutip mengutip ucapan/informasi maka ilmu ini akan senantiasa abadi hingga hari kiamat dan manusia senantiasa membutuhkannya. Contohnya: membantah para penyeleweng (informasi), memberikan rekomendasi para saksi yang adil di hadapan hakim/jaksa pemutus perkara, dll.

7.Syaikh Rabi ditanya, ada ulama yang bilang jarh wa ta’dil itu hanya milik para perawi hadits saja, namun bagaimana di zaman ini apakah jarh wa ta’dil sudah tidak ada lagi?

Jawab beliau, dengan banyaknya kesesatan yang ada maka jarh wa ta’dil akan senantiasa lestari sepanjang masa, karena untuk membela sunnah nabi dari berbagai macam kesesatan dan penyimpangan adalah dengan jarh wa ta’dil. Intinya bila pintu jarh wa ta’dil ditutup maka akal kaum muslimin akan tumpul dan tidak lagi dapat mengenali berbagai macam kesesatan yang ada.

  1. Syaikh Muqbil bin Hadi berkata tentang permasalahan ini, jika ilmu jarh wa ta’dil (kritik mengkritik rijal zaman ini) tidak ada maka semua kesesatan ulama yang menyimpang akan ditelan mentah-mentah oleh kaum muslimin, oleh karena itu ahlussunnah wajib menghidupkan ilmu ini.
  2. Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkholi, apakah ilmu jarh wa ta’dil sudah tidak berlaku lagi?

Jawab beliau, jawab beliau, tidak benar, karena hadits bisa diketahui cacat dan tidaknya melalui ilmu jarh wa ta’dil tersebut. Dan di zaman sekarang ini jarh wa ta’dil (kritik mengkritik rijal zaman ini) tetap berlaku sepanjang ilmu dan ulamanya masih ada.

  1. Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkholi, apakah ilmu jarh wa ta’dil hanya di zaman sahabat setelah itu tidak berlaku lagi?

Jawab beliau, bila jarh wa ta’dil menyangkut periwayatan hadits maka benar ilmu ini telah selesai, karena hadits sudah tidak diriwayatkan lagi, sementara di zaman sekarang masih tetap ada dan itu adalah nasihat bukan ghibah.

  1. Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul, apakah jarh wa ta’dil hanya berkaitan dengan riwayat hadits saja dan sekarang sudah tidak ada lagi?

Jawab beliau, pintu jarh wa ta’dil tetap terbuka hingga datangnya kiamat, karena jarh wa ta’dil itu mengandung unsur: persaksian dalam pemutusan perkara hukum, permusuhan dan pertentangan.

Dari 11 fatwa ulama kibar ini kebenaran apakah yang bisa kita tarik? berikut kami sarikan persamaan dan perbedaannya.

  1. Semua ulama di atas sepakat para perkara jarh wa ta’dil menyangkut periwayatan hadits sudah selesai, karena hadits sudah dibukukan.
  2. Semua ulama di atas sepakat bahwa kebatilah, kesesatan, kebidahan, penyimpangan harus dibantah. Namun mereka berbeda pandang dalam rinciannya: Syaikh Utsaimin memilih untuk menyebutkan kesalahan tanpa harus menjatuhkan kehormatan manusia, syaikh fauzan, luhaidan memilih untuk menasehati atau mentahzirnya, syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad melarangnya (jarh) untuk diterapkan kepada sesama Ahlussunnah, sisanya yang memegang teguh prinsip jarh wa ta’dil maka mereka menerapkannya kepada lawan dan kawannya, baik (yang masih dianggap ahlusunnah) maupun tidak.
  3. Jarh wa ta’dil menyangkut urusan informasi dan kesaksian di hadapan hukum maka ini tetap eksis hingga hari kiamat, menurut kebanyakan ulama di atas. Hanya saja dua orang syaikh Fauzan dan Luhaidan menolak bila istilah jarh wa ta’dil yang sudah baku itu dinamai kembali dalam konteks ini, karena nantinya akan jadi mainan ahli fitnah.
  4. Jarh wa ta’dil bila menyangkut urusan menjatuhkan kehormatan orang lain (yang masih dianggap Ahlusunnah) maka Syaikh Utsaimin, Abdul Muhsin Al-Abbad, Shalih Fauzan, Luhaidan tidak sepakat, sementara sisanya memberlakukannya.

Kiranya 4 point inilah yang dapat kami sarikan kepada para pembaca mudah-mudahan dapat diambil faidanya. Terakhir yang ingin kami tekankan adalah bahwa ulama meskipun mereka berjalan searah namun tetap saja sebagaimana manusia biasa, mereka pasti akan berbeda-beda dalam hal penafsirannya, mari kita tengok contoh hadits Bukhari berikut ini,

 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ قَالَ حَدَّثَنَا جُوَيْرِيَةُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنَا لَمَّا رَجَعَ مِنْ الْأَحْزَابِ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ فَأَدْرَكَ بَعْضَهُمْ الْعَصْرُ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا نُصَلِّي حَتَّى نَأْتِيَهَا وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ نُصَلِّي لَمْ يُرَدْ مِنَّا ذَلِكَ فَذُكِرَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

Telah menceritakan kepada kami [‘Abdullah bin Muhammad bin Asma’] berkata, telah menceritakan kepada kami [Juwairiyah] dari [Nafi’] dari [Ibnu ‘Umar] berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kami ketika beliau kembali dari perang Ahzab: “Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Lalu tibalah waktu shalat ketika mereka masih di jalan, sebagian dari mereka berkata, ‘Kami tidak akan shalat kecuali telah sampai tujuan’, dan sebagian lain berkata, ‘Bahkan kami akan melaksanakan shalat, sebab beliau tidaklah bermaksud demikian’. Maka kejadian tersebut diceritakan kepada Nabi  dan beliau tidak mencela seorang pun dari mereka.” (Bukhari, no: 894)

Perhatikan wahai pembaca sekalian, dua orang/kubu sahabat ini sama-sama memegang teguh dalil dari Al-quran dan Assunnah namun mereka berbeda pendapat dan bertentangan satu sama lain, namun apa yang terjadi pada akhir perbedaan pandangan mereka tersebut, apakah mereka saling membidahkan, menyesatkan satu sama lain?

Jawabannya adalah tidak! Kenapa, kenapa Rasululullah tidak menyalahkan mereka atau kenapa mereka tidak menyalahkan diri mereka satu sama lain?

Karena mereka tahu bahwa mereka memiliki keterbatasan dalam memahami Al-Quran dan Assunnah sehingga mereka merasa tidak berhak merasa paling benar sendiri apalagi sampai menyalahkan yang lainnya, dan Rasulullah pun tahu bahwa mereka punya kadarnya masing-masing dalam pemahaman mereka terhadap dalil, sebab yang benar hanyalah Allah dan Rasulnya. Oleh karena itu sangat manis sekali ketika Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad di atas menolak keras-keras bila jarh diterapkan kepada sesama Ahlussunnah yang sama-sama berpegang teguh pada sunnah.

Tinggal permasalahannya adalah apakah jarh yang dijatuhkan oleh Masyaikh yang mendukung penerapan jarh wa ta’dil di zaman sekarang seperti Syaikh Rabi Cs kepada Masyaikh lainnya (yang berbeda pandangan dengannya) murni karena pembelaan atas Sunnah (yang mana boleh berbeda pandang atasnya seperti kasus hadits di atas) atau karena kepuasan hawa napsu, yakni menginginkan manusia sepaham dengannya saja? sehingga meskipun orang lain memegang sunnah namun berbeda dengannya dalam penafsirannya maka ia tetap harus dijarh atas nama “SUNNAH” atau atas nama “JARH wa TA’DIL?

Silahkan pembaca menjawabnya sendiri.

 اللهم-أرنا-الحق-حقا