1indcex copy

Jenggot Phobia Vis A Vis Islam Arab: Sebuah Auto Kritik

Bantahan atas orang yang mencela jenggot sepertinya sudah banyak dijumpai dari kalangan penuntut ilmu, dulu dan kini, namun sebenarnya, ada fakta yang suka luput dari pandangan kita, yaitu mengapa mereka (para mencela) suka mencela orang yang berjenggot?

K.H DR. Aqil Siraj yang baru saja ditahbiskan kembali menjadi ketum PBNU untuk kedua kalinya baru-baru ini mengeluarkan humor (hinaan) atas para pria yang berjenggot. Sesungguhnya ucapannya tersebut mengandung beberapa anomali (ta’arudh) yang tidak bisa dipandang remeh; adalah sang Kiai merupakan Doktor lulusan Ummul Qura Makkah dimana Masyaikhnya yang selama ini mengajarkan ilmu agama padanya rata-rata berjenggot, apalagi Mbah Hasyim yang nota bene pendiri N.U juga adalah berjenggot. Pertanyaannya: apakah ucapan sang Kiai yang ia “ludahi” kepada para dai Wahabi ini dimaksudkan untuk mereka juga atau bagaimana?

Pertanyaan seperti ini tentu membutuhkan logika tertentu untuk menjawabnya, tidak dengan asal jawab/kritik, karena sangat tidak mungkin sang Kiai berniat menghina mereka, karena itu sama saja ia belajar dari orang goblok yang notabene akan menjadikan ia juga goblok seperti mereka, apalagi ia terikat dengan ke.n-u.annya yang bisa saja menjadikan ia terusir dari NU kalau sampai bermaksud menghina si Mbah juga, lalu bagaimana cara mendudukkan anomali ini?

Tentu saja setiap pembicaraan harus dikontekskan, agar citra daripada pembicaraan menjadi jelas terlihat dan juga yang tak kalah penting dari itu, yaitu untuk menghindari pemerkosaan penafsiran yang kejam dan beringas. Bila kita melihat konteks pembicaraannya maka sangat jelas bahwa sasaran daripada ucapannya ditujukan pada para dai wahabi, jadi tidak di luar konteks tersebut, sebagaimana kritikan yang dilancarkan para ikhwan thalabatul ilmi atasnya yang suka keluar konteks seakan-akan sang Kiai menghina semua orang sampai-sampai orang-orang kafir dan Nabi Muhammad serta para sahabat dibawa-bawa padahal yang ia hina hanyalah para dai yang ia anggap wahabi yang suka jumud dalam berpikir.

Oleh karena itu, sebagaimana prinsip blog ini: “Siapapun bisa membantah tak terkecuali orang bodoh sekalipun bahkan anak kecil pun bisa membuat bantahan bagi siapa saja yang ingin ia bantah. Bisa membantah tidak menunjukkan seseorang itu berilmu karena tidak semua bantahan itu ada ilmunya, sebab ilmu hanya bisa dilihat dengan “kacamata ilmu”, bodoh bisa dilihat dengan “kacamata ilmu”, tapi ilmu tidak akan bisa dilihat oleh kebodohan, sebab kebodohan hanya melihat kebodohan sebagai satu-satunya ilmu. Dan tidak ada yang dapat menyadarkan orang bodoh tentang kebodohannya meski langit runtuh di depannya. maka haruslah disadari bahwa dalam membela kebenaran dan ahlinya membangun kritikan atas sesuatu yang dianggap keliru dari person tertentu saja sesungguhnya tidak cukup tanpa diiringi lanscape pemahaman yang jelas dan memadai, karena hal tersebut akan menjadikan si pengkritik hanya berimajinasi gila tentang sesuatu yang ia ciptakan dari kebodohannya sendiri, padahal kenyataannya tidaklah demikian adanya.

Oleh karena itu, kritikan haruslah memiliki taji, tanpa taji maka kritikan tersebut tidak akan mampu merusak, mengoyak dan merobohkan pertahan lawan meskipun senjata dalam kritikan kita adalah Al-Quran dan hadits, karena pedang setajam apapun bila yang menggunakannya tak terampil maka bisa jadi bukan musuhnya yang ia lukai justru dirinya sendiri.

Sebenarnya ada satu pelajaran berharga yang bisa kita petik dari ceramah sang Kiai ini, yaitu kebencian yang membabi buta akan “membutakan” nalar ilmiah sehingga ia tidak lagi bisa membedakan mana kebenaran dan mana kebatilan, semua akan dianggap sama diakibatkan kebutaannya tersebut. Dan tentu saja ini adalah aib (kiamat) dalam dunia ilmu, dimana orang bodoh diangkat menjadi pemimpin.

Hal ini sebenarnya tidak hanya kita jumpai pada orang ini saja, bahkan sering kita jumpai pada ikhwan kita sesama salafiyyun, terlebih mereka yang hobi melakukan rudud. Dimana kebencian butanya sering kali membutakan kritisismenya atas segala kebatilan sehingga bila mana mereka terjatuh juga pada kebatilan yang sama tiba-tiba mereka menjadi keledai dungu. Orang lain disalah-salahkan namun ketika mereka sendiri yang melakukan hal yang sama mereka terus saja membela diri seakan-akan yang mereka lakukan itu benar adanya, seperti bunyi sebuah pepatah ndeso: mana ada maling ngaku salah!

Saya disini tidak akan berpanjang lebar membahas jenggot, karena sebenarnya bukan itu inti daripada kritikan sang Kiai, jenggot hanyalah instrumen kecil saja yang sengaja ia masukan ke dalam kritikannya atas Islam Arab dengan tujuan untuk humor saja agar hadirin senang dengan caramahnya.

Fakta Islam Arab

Islam Nusantara sebagai sebuah term baru yang menjadi anti tesa dari Islam Arab seakan menjadi fenomena gunung es dari batu-batu radikalisme agama yang sering terjadi di dunia terutama di Indonesia, dikarenakan pencetusnya baik person maupun ide mengalir dari Arab atau Timur Tengah pada umumnya. Oleh karena itu dalam anggapan mereka Islam perlu dihadirkan dalam wajah yang ramah lingkungan dan Islam Nusantara diplot menjadi pilot project bagi (kelompok-kelompok) Islam lainnya yang ada di belahan dunia Timur dan Barat.

Apa yang dilakukan oleh orang-orang ini sebenarnya baik dan tujuannya juga baik, hanya saja caranya salah, yaitu menihilkan Islam Arab dan tentu saja penihilan ini sangat berbahaya bagi Akidah Islam. Hal ini pun sudah kita saksikan bersama sewaktu Al-Quran ditilawahkan dengan Langgam Jawa oleh mereka. Namun di luar itu semua, harus disadari bahwa Islam dan Arab sesungguhnya tidak bisa dipisahkan begitu saja sehingga ketika Arab dicoba untuk diceraikan darinya dan Islam menjadi single-isme maka Islam seakan bisa mencari sandingan baru yang bernama Nusantara maka logika ini tidak benar dan tidak bisa dipaksakan masuk dalam sistim ini, karena Arab memiliki nilai abadi dalam Islam yang tidak akan tergerus oleh apapun.

Pertama, adalah fakta yang tak bisa dipungkiri bahwa Nabi Muhammad selaku utusan Allah yang membawa risalah Islam ke muka bumi ini hingga ke Nusantara atau Indonesia adalah seorang Arab yang lahir dari Bapak-Ibu yang Arab.

Kedua, adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri juga bahwa Al-Quran dan Hadis yang dibawa oleh beliau sebagai pegangan umatnya adalah berbahasa Arab dan banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya Arab.

Ketiga, Islam sebagai ajaran (teori) dan amalan (praktik), dalam pelaksanannya memerlukan budaya Arab sebagai syarat legalitasnya. Contoh: Azan dan Shalat harus berbahasa Arab, tidak bisa memakai bahasa Nusantara/Indonesia, karena itu tidak akan sah. Begitupun dengan haji, harus ke Arab tidak bisa dilakukan di Nusantara/Indonesia.

Keempat, Bahasa Arab adalah jembatan penghubung antara manusia kepada sumber utamanya, yaitu Islam. Tanpa bahasa Arab maka standar pelaksanaan keislaman seseorang dipastikan tidak bisa berjalan. Bahkan untuk memanggil Tuhan saja harus dengan bahasa Arab, yaitu Allah apalagi ketika seseorang bersentuhan dengan Islam maka ia akan terus berhadapan dengan istilah-istilah berbahasa Arab yang terkait dengan dunia Fiqih. Contoh ketika ada yang wafat dan meninggalkan ahli waris maka istilah-istilah fara`id yang berbahasa Arab mau tidak mau harus ia ketahui agar pembagian hartanya menjadi adil, begitu pula dengan zakat, haji dan lain sebagainya.

Arabisasi, Masalah Buat Lo?

Nabi Muhammad datang untuk mengislamkan Arab yang telah dilimbahi oleh berhala, jazirahnya maupun manusianya, namun Islam sebagai sebuah risalah tidak akan dapat berbentuk tanpa adanya wadah, wadah itulah yang kini kita sebut dengan Arab. Jadi kalau tidak setuju ini sama saja kita menyalahkan Allah, kenapa Dia tidak menurunkan Islam di Nusantara tapi di Arab? Oleh karena itu arabisme Islam adalah sebuah keniscayaan yang tak dapat disangkal oleh apapun jua.

Sebagaimana diketahui bahwa kritikan yang datang dari K.H. Aqil pointnya adalah tentang arabisasi bukan islamisasi, islamisasi yes tapi arabisasi no, kira-kira begitulah kritikannya. Risalah Islam sesungguhnya datang tanpa bentuk dan baru berbentuk ketika ia turun di Arab. Dan bentuk Arabnya ini kini dikritik karena dipenuhi dengan unsur radikalisme barbarian yang sangat berbahaya bagi kelangsungan kehidupan beragama di di dunia lebih khususnya di nusantara. Oleh karena itu Islam nusantara mereka hadirkan untuk menjadi pilot project bagi islam-islam yang ada di dunia khususnya Arab.

Sebenarnya sebelum munculnya Islam Nusantara, dalam panggung sejarah ini sudah ada semodel ini yang lebih dulu lahir dengan membawa-bawa nama Islam; yang mencoba membangun Islam dengan caranya sendiri dengan menceraikan Arab dari Islam, yaitu Islam Persia atau yang kita sebut kini dengan RRI (Republik Islam Iran) dimana mereka memiliki citra Islam tersendiri yang sangat kontras dengan Islam Arab. “Islam” ini rupanya masih sangat kental dengan agama leluhur mereka, yaitu Zoraster (Majus). Kejadian Islam Nusantara ini sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan Islam Zoroaster atau yang kita sebut dengan Syiah. Dimana Islam Nusantara begitu sangat kental dengan Budaya leluhur Tanah Jawa sampai-sampai Tilawah Al-Quran pun di-jawa-kan.

Bahkan jauh sebelum agama Syiah ini lahir model cara beragama seperti ini sudah dicontohkan oleh para pemeluk agama Nashrani Roma dimana mereka menceraikan Aramik (Ibrani) dari sumber aslinya, yaitu Nashrani (Kristen) sampai-sampai Injilpun yang menjadi rujukan utama mereka tidak ada lagi yang berbahasa Ibrani, dan buntut dari tidak adanya sumber utama ini adalah mereka membuat banyak otonom-otonom dan fraksi-fraksi dalam kekristenan hingga ke Nusantara ini seperti didirikannya Kristen Jawa, Sunda, Batak, dll. yang kemudian berbuntut pada pelaksanaan tata cara ibadah yang dipenuhi bidah-bidah (dibuat sesuai versi masing-masing kelompok) yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Isa dan para Hawariyyun. Mereka saling membedakan diri satu sama lain dan tidak mau menyatu padu dan ini semua diakibatkan karena mereka menceraikan Ibrani dari dari Kekristenan. Dan bukan tidak mungkin Islam akan menjadi seperti kristen ini bila mana Arab diceraikan dari Islam.

Islam Nusantara: Salah Kaprah

Sebagaimana Istilah salafy yang tidak bisa dimonopoli oleh satu pihak, begitupun halnya dengan Islam, ia telah menjadi domain umum yang dimiliki oleh banyak firqah (kelompok) artinya satu kelompok tidak bisa merasa paling di atas Islam sendiri, karena akan mendapat kritikan keras dari kelompok lain yang mereka juga merasa di atas Islam yang benar sesuai dengan keyakinannya. Begitupun dengan istilah salafy, siapapun yang mengaku paling salafy maka akan mendapat kritikan keras dari kelompok lain yang mereka juga merasa di atas salafy yang benar sesuai dengan keyakinannya. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila nabi sampai berkata dalam haditsnya, bahwa umat Islam akan terpecah belah menjadi 72 golongan dan semuanya sama-sama mengaku Islam.

Artinya sah-sah saja bila sebuah kelompok menamakan dirinya dengan Islam apa saja, baik itu Nusantara, Islam Liberal atau apa saja, karena tak bisa kita pungkiri bahwa Islam telah menjadi domain publik dan bukan milik salah satu pihak saja dan Nabi pun sudah menegaskan bahwa umatnya akan berpecah belah. Tapi perlu digaris bawahi bahwa sebuah term (istilah) seperti Islam bila hanya istilah maka sah-sah saja dan tidaklah mengapa, namun bila istilah tersebut memiliki konsekuensi tententu apalagi yang negatif maka setiap istilah (terlebih Islam) haruslah yang baik, bukan yang bercitra buruk. Diceritakan dalam sebuah hadits yang cukup terkenal bahwa ada seorang sahabat yang bernama Hazn (bermakna: si Susah/Sedih) lalu oleh Nabi diperintah agar namanya dirubah menjadi Sahl (bermakna orang yang bahagia) namun ia menolak karena itu adalah nama pemberian orang tuanya, awalnya dipikir nama hanyalah nama, namun ternyata pada akhirnya hidup sang sahabat Nabi tersebut diliputi oleh kesedihan. Selain itu ada juga Kisah dimana ada seorang shahabiyah (wanita) yang bernama Barrah (Bermakna: Lebih Suci/Baik) lalu Nabi merubahnya menjadi Zainab, alasan Beliau adalah: Karena hanya Allah lah yang paling mengetahui siapa di antara kalian yang Barrah (Lebih Suci/Baik) atau yang fajiroh (yang tidak baik/buruk), jadi tidak boleh menamakan diri/menganggap diri lebih baik/suci dari manusia lainnya. Dan juga contoh serupa lainnya.

Kasus seperti ini memberi kita sebuah pelajaran bahwa nama atau istilah haruslah memiliki konsekuensi yang baik, bila itu tidak baik maka harus segera dirubah. Begitupun halnya dengan Islam Nusantara yang mencoba merubah tatanan-tatanan dalam Islam, seperti menghapus Arabisme dalam Islam dan menggantinya dengan Nusantara, seperti yang mereka pamerkan dalam tilawah Al-Quran dengan langgam Jawa maka nama ini harus segera dirubah, dan tidak ada salahnya bila mereka menamakan diri mereka dengan nama yang baik, seperti Islam Rahmatan Lil Alamin, namun perlu dicatat juga bahwa terdapat banyak juga nama-namanya yang baik namun isinya malah sebaliknya, namanya Abdullah tapi ibadahnya malah ke kubur, gelarnya sih salafy tapi praktiknya jauh langit dari pada bumi, yang ia ikuti bukan salaf tapi ustadnya yang jahil. Dan segudang contoh lainnya. Dan bila sudah begini keadaannya maka kembali kita ke awal permasalahan, yaitu kritikan sang Kiai kepada orang berjenggot yang sangat kental dengan logika kelas rendah, yaitu Common Sense (hasil persepsi orang kebanyakan) yang sangat kosong dari nilai ilmiah dan kebenaran, seperti:

  • Premis A: Semua (rata-rata) teroris itu berjenggot
  • Premis B: si Budi itu berjenggot

Konklusi (kesimpulan): Si Budi adalah Teroris. Atau

  • Premis A: Islam Radikal semuanya dari Arab
  • Premis B: si Budi lulusan dari Arab

Konklusi: si Budi adalah Islam Radikal. Atau boleh digabung.

  • Premis A: Semua (rata-rata) teroris itu berjenggot
  • Premis B: Islam Radikal semuanya dari Arab
  • Premis C: si Budi itu berjenggot dan lulusan dari Arab

Konklusi: Si Budi adalah Teroris Islam Radikal.

Ini adalah logikanya, namun faktanya tidaklah demikian adanya atau dalam bahasa gampangnya jangan menilai keseluruhan buku dari covernya hanya karena pernah ada satu dua buku yang covernya jelek isinya pun sama jeleknya. Tidak semua Islam dari Arab itu radikal dan terkait dengan terorisme, justru Arab Saudi (KSA) menjadi negara yang sering diteror oleh para teroris, bahkan Arab saudi menjadi mitra Amerika dalam memberantas terorisme, meskipun tak dipungkiri memang bahwa citra (logika rendahan) ini sudah berhasil menjadikan banyak orang Islam yang berintelektual tidak berani memelihara jenggot karena khawatir citra teroris plus berjanggut melekat dalam Imej mereka, terutama sang Kiai sendiri yang terus mencukur janggut sehingga nampak seperti pemuda amrad. Kalau mukanya sih tetap tua.😛

Nah logika kelas rendahan inilah yang sedang dimainkan oleh sang Kiai kepada para audiensnya. Kami sadar bahwa sang Kiai yang sudah Doktor ini tidak mungkin memiliki logika kelas rendah seperti ini, ia hanya sedang menyesuaikan dirinya dengan audiensnya, dengan menurunkan level pemikirannya ke bawah agar seirama dan sama dengan persepsi orang kebanyakan.

“Permainan komunikasi” yang seperti ini yang kadang saya lihat malah dijadikan bahan kritikan oleh kawan-kawan thalabatul ilmi, seakan sang Kiai ini adalah orang pinter yang tiba-tiba berubah menjadi keledai dungu saja, padahal yang ia lakukan tidak seperti yang dilihat oleh orang kebanyakan. Sepertinya pepatah Arab itu benar adanya: “Bahwa tidak ada yang mengetahui kelebihan (ilmu) kecuali orang yang juga memiliki kelebihan (ilmu) tersebut.”

Apa yang dilakukan sang Kiai ini tidak salah dan sesuai prosedural dakwah versi Nabi bahwa berbicaralah kepada orang-orang sesuai kemampuan akal mereka dalam menangkap, hanya saja secara materi apa yang ia sampaikan ini jelas tidak benar dan batil, karena dalam ceramahnya ia dengan sengaja menyebarkan dan menebarkan kebencian kepada manusia dan juga hinaan terhadap kelompok wahabi yang belum tentu sesuai dengan apa yang ia sangkakan. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. (Al-Hujurat: 11)

Betapa selama ini Sang Kiai menimba ilmu di negeri Arab yang wahabi, belajar kepada Syaikh-Syaikh wahabi yang berjenggot tebal dan lebat pula, namun tak disangka demi meraih ridho manusia sang Kiai rela mengumpat “sang ibu yang selama ini menyusuinya” hingga ia berhasil menjadi seorang intelektual dan memimpin organisasi terbesar di negeri ini.

Si Ibu itu mungkin saja telah tiada dimatanya, dan mudah sekali dilupakan olehnya, namun fakta tak bisa disangkal bahwa ia adalah anak dari wahabi. Dan juga sebagai produk dari wahabi ia juga membuktikan secara “tersirat” kepada manusia bahwa ia sebagai produk dari wahabi bukanlah teroris.

Di akhir tulisan ini kami hanya sekedar mengingatkan bahwa dakwah ini bukanlah sesuatu yang gampang dan mudah. Banyak orang yang hanya bersungguh-sungguh saja di awal saja, namun ketika sampai di tengah hingga akhir jalannya ia malah terbuai oleh berbagai macam godaan-godaan yang datang silih berganti dalam berbagai macam rupa dan bentuk sehingga menjadikan ia tenggelam dalam hawa napsunya, mudah melakukan pelanggaran demi pelanggaran hanya untuk menyenangkan hati manusia, padahal yang kita harapkan dari dakwah ini adalah ridho Allah. Bilamana ridho Allah didapat maka ridho manusia menyertainya, namun bila kita mengejar ridho manusia maka Allah akan meninggalkan kita dalam kubangan hawa napsu. Oleh karena itu berpikirlah kembali sebelum mengambil jabatan apapun, baik jabatan informal sebagai ustadz ataupun jabatan formal lainnya.

Demikian apa yang dapat kami suguhkan mudah-mudahan dapat memberi manfaat bagi para pembaca. Amin.