imagevs

Ketuk Palu: Sudahi Perkara Al-Imam dengan Dalil!

Sesungguhnya keteguhan Al-Imam dengan watsiqah batilnya haruslah disikapi dengan cerdas, bukan dengan ketololan sebagaimana yang “diteladankan” sejak lama oleh si “penulis binal” http://www.tukpencarialhaq.com yang makin hari makin “blangsatan” saja dalam menyantap daging para dai dan ulama, terutama al-Imam.

Sangat miris sekali melihat mereka terus menyantap daging al-Imam seakan daging tersebut adalah “santapan neraka” yang tidak pernah habis bagi mereka untuk dimakan. Betapa hinanya keadaan mereka.

Al-Imam sebagaimana diketahui memang memiliki rekam jejak yang batil atas watsiqah yang dibuatnya bersama Rafidhoh. Namun terus membicarakan kebatilan watsiqah tersebut hanya akan membuang-buang waktu dari menuntut ilmu. Biarkanlah Al-Imam dengan perkaranya dan biarkanlah para penunut ilmu sibuk dengan mencari ilmu, karena Al-Imam hanyalah orang biasa, yang tidak menjadikan agama ini bergantung padanya. Karena agama ini akan terus berjalan tanpa dirinya.

Kembali ke topik pembicaraan, sesungguhnya perkara Al-Imam menjadi tak kunjung habis hingga hari ini tidak terlepas dari pendek dan sempitnya sudut pandang dalam melihat persoalan yang terjadi padanya, sehingga setiap dilihat dari satu sudut muncul lagi sudut pandang yang lain. Padahal kalau masalah ini dikembalikan kepada Al-Quran dan Hadits selesailah perkara ini. Allah berfirman,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا (148) إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا (149

Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (An-Nisa: 149)

Dalam banyak tafsir diterangkan bahwa ayat di atas turun karena adanya kejadian dimana seorang laki-laki berjanji akan menjamu tamunya, namun tamunya tersebut malah tidak dijamu olehnya hingga tamunya itu pun jengkel bukan kepalang. Merasa dikecewakan olehnya ia lalu luapkan perasaannya dengan bercerita ke orang-orang tentang kejelekan laki-laki tersebut. Perbuatan laki-laki ini lalu didukung oleh Al-Quran karena sebab ia dizalimi oleh harapan palsu yang diberikan laki-laki tadi.

Banyak ulama memahami ayat ini secara linear, dengan membatasi maknanya pada kasus di atas saja, padahal Al-Quran itu turun dalam bahasa Arab dan pendekatan untuk memahaminya tidak bisa cukup dengan asbabul wurudnya saja tanpa mengetahui kandungan makna di dalamnya dalam bahasa Arab.

Ibnul Manzhur dalam Lisanul Arab berkata dalam menerangkan kata su’u yang yang diucapkan oleh Al-Quran:

وأمّا السُّوءُ فكلّ ما ذكر بسيىء فهو السُّوء ويكنّى بالسُّوء عن البرص، قال [جلّ وعزّ] : تَخْرُجْ بَيْضاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ أي: برص.

Adapun as-suu’ (jelek) maka setiap yang dipredikatkan dengan kejelekan maka dia adalah as-suu’. Dan sesuatu yang berasal dari sakit kusta disebut dengan suu’. Allah berfirman: “dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacat”, yakni kusta” (Lisanul Arab: Kitab Ain, 7/329)

Artinya, bila kita mau merajut benang baru antara kejadian di atas dengan makna suu yang diterangkan oleh Ibnul Manzhur di atas maka ucapan “yang jelek secara terang-terangan” yang dibicarakan oleh Al-Quran di atas tidak hanya bermakna “menjelek-jelekkan pihak lain” yang merugikan kita tapi juga bermakna “ucapan jelek yang kita keluarkan karena adanya intimidasi atau keterpaksaan dari pihak yang menjadikan kita terzalimi olehnya.”

Kasus Al-Imam menjadi wadah yang tepat untuk menampung makna ini dimana dalam keadaan ia terindimidasi oleh rafidhoh mengharuskan ia mengeluarkan ucapan-ucapan yang jelek secara terang-terangan dalam watsiqahnya dengan sebab kezaliman yang ia terima secara politik. Sebab sebelum adanya kejadian pengepungan rafidhoh tersebut Al-Imam tidak pernah mengeluarkan penyataan jelek seperti itu. Dan ini menjadi bukti bahwa akidah Al-Imam yang dulu tidaklah sama dengan saat ia mengalami krisis seperti saat ini. Ini point yang pertama.

Adapun yang kedua, sebagaimana diketahui bahwa tidak sedikit ulama yang memberi uzur kepada Al-Imam atas kondisi keterpaksaannya berdasarkan hadits-hadits yang menceritakan hal tersebut namun mayoritas mereka mengingkari isi di dalamnya yang ia buat bersama rafidhoh. Sayangnya Al-Imam malah keukeh dengan keyakinannya bahwa yang ia buat atas inisiatifnya sendiri bukan atas dasar keterpaksaan. Dan ini malah memperparah keadaan Al-Imam di mata-mata para Masyaikh.

Sebenarnya point pertama yang kami paparkan diatas cukup untuk menjadi jawaban lugas atas kegelisahan para Masyaikh terhadap isi dari perjanjian yang diucapkan oleh Al-Imam, bahwa Allah tidak menyukai ucapan yang jelek secara terang-terangan kecuali bagi orang yang dizalimi. Dan kondisi dizalimi oleh Rafidhah menjadi legitimasi bagi Al-Imam untuk mengucapkan kata-kata yang jelek yang ia buat dalam perjanjiannya tersebut.

Adapun point kedua yang merupakan sandaran kami dalam menjawab persoalan Al-Imam adalah hadits Nabi yang berbunyi:

لَيْسَ الكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ، فَيَنْمِي خَيْرًا، أَوْ يَقُولُ خَيْرًا»

Seseorang tidak disebut pendusta apabila ia mendamaikan manusia (yang bertikai) dengan cara ia beraspirasi yang baik atau berkata yang baik.” (Muttafaq Alaihi, no: 2692 dan : 2605)

Yang dimaksud “beraspirasi yang baik” adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh As-Sinddy:

قال السندي: قوله: “فينمي”، كيرمي، أي: فيرفع من أحد الطرفين إلى الطرف الآخر خيراً، بأن يقول: إن فلاناً يثني عليك، ونحوه مما يرجى به الاصلاح بينهما، وإن لم يطابق الواقع.

Yakni menyatakan bahwa kedua belah pihak tersebut sama-sama dalam kebaikan: “Si Fulan (yang bertikai denganmu itu) sebenarnya memujimu” atau yang semisalnya yang mana diharapkan dari ucapan-ucapan itu adalah perdamaian di antara keduanya, meskipun kenyataannya tidaklah demikian. (Lihat ta’liq Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam Musnad Ahmad bin Hanbal, no: 27273)

Dan hal ini dapat kita lihat dari isi perjanjian tersebut dimana ia menyatakan rafidhoh dan salafi sama-sama kaum muslimin, karena Tuhan, nabi dan kitabnya sama.

Adapun bicara baik buruk dalam sebuah ucapan/pemikiran maka itu nisbi adanya, Allah berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu” (Al-Baqarah: 216)

Apakah dalam mencegah pertumpahan darah antara Ahlussunnah dan Rafidhoh Al-Imam “berkata yang baik sebagaimana yang digambarkan hadits di atas?”

Jawabnya adalah, Tidak (yakni buruk) menurut Ahlussunnah tapi baik menurut rafidhoh namun hal ini berhasil meredam pembantaian yang ingin dilakukan rafidhoh atas Ahlussunnah yang berjumlah sedikit.

Pilih mana, baik menurut Ahlusunnah dengan mengatakan rafidhoh begini dan begitu sesuai dengan keadaannya yang sesungguhnya tapi ahlusunnah dalam keadaan tidak memiliki persenjataan lengkap untuk melawan malah dibantai habis-habisan oleh mereka atau baik menurut rafidhoh tapi ahlusunnah tidak jadi dibantai?! Silahkan gunakan akal dan hati nurani Anda untuk menjawabnya?

Coba pikirkan baik-baik, bagaimana seandainya saat ini posisi Al-Imam di Ma’rib digantikan oleh Syaikh Rabi, Ubaid Cs, pilih mana: ulama Anda ini dan segenap Ahlusunnah yang bersamanya disembelih ramai-ramai oleh rafidhoh hanya karena ia mempertahankan argumennya bahwa rafidhoh tetaplah rofihoh; musuh Islam dan Ahlusunnah, atau membiarkan mereka hidup dengan melakukan/mengamalkan sabda Nabi di atas, yaitu berdusta demi kebaikan yang diwujudkan dalam bentuk perjanjian bersama?

Atau paling tidak, anggap saja Syaikhon: ust Lukman, Sewed menggantikan posisinya di Ma’rib, pilih mana ia dan para pengikutnya disembelih ramai-ramai oleh rafidhoh atau tetap hidup dengan mengamalkan hadits tadi?

Masih untung rafidhoh di Yaman bisa diajak negosiasi, lihat rofidhoh yang ada di Suriah; bagaimana kelakuan mereka dalam membantai Syaikh Ramadhan Al-Buthi?

Pertanyaan selanjutnya: Apakah dalam mencegah pertumpahan darah antara Ahlussunnah dan Rafidhoh Al-Imam “beraspirasi yang baik sebagaimana yang digambarkan hadits di atas?”

Ya, yaitu dengan membuat perjanjian antara ia dengan rafidhoh sehingga mereka tidak jadi membantai Ahlussunnah yang berjumlah sedikit.

Jadi, dengan faktanya ini saja kita bisa menyimpulkan bahwa Al-Imam sengaja berdusta dan tidak mau mengakui kedustaan di hadapan Ahlussunnah dalam watsiqah/perjanjiannya demi menjaga dari tumpahnya darah-darah kaum muslim yang tidak berdosa. Wallahu a’lam.

N/B: Tulisan ini tidak dibuat untuk membela Al-Imam tapi dibuat untuk mengajak pembaca agar berpikir cerdas dalam membaca persoalan agar tidak serta merta menjadi salafiyyun jahiliyyun ecek-ecek yang semakin blangsatan; dibawa ke sana kemari oleh manusia-manusia oon yang mengendarai keledai oon juga menuju lembah kenistaan yang tak ada habis-habisnya.

One thought on “Ketuk Palu: Sudahi Perkara Al-Imam dengan Dalil!”

Comments are closed.