penyebab-usaha-gagal-jokosusilo-com

Seputar Syaikh Washiyullah Abbas dan Dzulqarnain… Berpikirlah Dewasa wahai Salafiyyun

Entah bagaimana harus memulainya, yang jelas firman Allah berikut ini sepertinya sangat layak untuk dicambukkan kepada mereka yang mengaku salafiyun di Indonesia.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum sampai mereka sendiri mau merubahnya” (Ar-Ra’d: 11)

Allah sudah menawarkan sebab persatuan dan kesatuan namun mereka (salafiyyun) malah mencampakkannya, sangat tragis bukan?!

Dan ihwal semua ini dimulai dari Syaikh Rabi yang selama ini dirujuk sebagai satu-satunya Kibar dalam dakwah salafiyyah di Indonesia sehingga bila ucapannya tidak digubris maka berpecah belah lah salafiyyun.

Masih ingatkah Anda kenapa kubu Lukman dan Dzul pecah beringas dan sulit disatukan kembali dengan kubu Rodja, salah satunya adalah karena Syaikh Ali Hasan Al-Halabi yang ditahzir oleh syaikh Rabi. Sekarang Kubu Lukman Dzul pun pecah karena Dzul ditahzir oleh Syaikh Rabi dan sekarang Dzul tidak terima maka ia mulai melakukan gerakan politisasi dakwah dengan menggaet Masyaikh Kibar Baru, yaitu Syaikh Washiyullah Abbas untuk menjadi rujukan baru, karena Syaikh Rabi telah mentahzirnya.

Apa yang dilakukan Dzul ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan apa yang dilakukan Lukman Ba’abduh dalam satu dekade belakangan, dulu Lukman Ba’abduh ditahzir habis-habisan oleh Syaikh Muqbil, tidak terima dengan hal ini maka ia pun melakukan politisasi dakwah dengan menggaet Syaikh Rabi sebagai rujukan agar ia bisa hidup dalam dakwah ini, kemudian kita semua telah melihat bagaimana jalannya dakwah ini ketika diampu oleh Lukman yang merujuk kepada Syaikh Rabi… sangat tragis sekali.

Artinya dengan ini saja kita sudah bisa menebak arah jalan dakwahnya Dzulqarnain, karena yang sebelumnya sudah ada, yaitu Lukman Ba’abduh. Siklus semacam ini mau tidak mau pasti akan terjadi juga.

Dan ini lah cobaan terbesar yang merusak dan menghancurkan para dai, yaitu ketika mereka sudah masuk ke dalam lingkaran yang bernama “besar kepala”, yaitu merasa yang paling bertanggung jawab atas dakwah ini, merasa yang nomor satu, merasa paling utama, padahal yang mereka pakai adalah baju-baju kehinaan. Betapa jahilnya dai-dai ini.

Dan kini terjadilah kelucuan yang sangat tidak lucu, apa itu? Bayangkan dalam daurah yang diselenggarakan secara kebetulan dan dalam tenggang waktu yang tidak jauh berbeda, dimana kubu Rodja mengundang Prof. Dr. Anis sekaligus Syaikh Ali Hasan Al-Halabi kemudian Kubu Dzul mengundang Syaikh Washiyullah Abbas sementara mereka masih saja menjadi bara dalam sekam.

Lalu dimanakah kelucuan yang tidak lucu itu?

Ini dia, kalau Dzul dkk orang yang jujur kita tanyakan kepada dia, beranikah ia bertanya kepada Syaikh Washiyullah Abbas: “Bagaimana Keadaan Syaikh Ali Hasan, bolehkan ia dijadikan rujukan?”

Akan menjadi tamparan yang sangat keras dan berdarah-darah bagi Dzulqarnain dan antek-anteknya kala ia mengetahui bahwa Syaikh Washiyullah Abbas adalah orang yang memuji Syaikh Ali Hasan Al-Halabi.

Lantas apa sebab sekarang yang menjadikan ia sulit ia berpadu dengan kubu Rodja dalam memajukan dakwah salafiyah di Indonesia ini dalam keadaan ia sudah tidak bisa bersandar lagi pada tahzir syaikh Rabi kepada Ali Hasan disaat ia sendiri juga ditahzir oleh Syaikh Rabi?

Apakah dengan fatawa Lajnah Daimah yang telah lalu atau Syaikh Shalih Fauzan? Kalau memang itu alasannya lalu untuk apa ia mengundang Syaikh Washiyullah Abbas, kalau pandangan beliau terhadap Syaikh Ali Hasan Al-Halabi tidak dihormati?

Toh kenyataannya selama ini Lukman dan dzul dijuluki jamaah tahzir adalah karena mereka tidak bisa meneriman perbedaan pendapat para ulama dalam menyikapi rijal-rijal dakwah…

Jadi apalagi jawabannya kalau bukan untuk kepentingan politisasi dakwahnya! Sebab kalau ia orang jujur ia pasti akan merajut dan memperbaiki ini semua, karena jalan yang terang itu sudah di depan mata, tinggal keputusannya ada di hati ia saja, mau dilewati atau tidak?

“Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum sampai mereka sendiri mau merubahnya” (Ar-Ra’d: 11)

Semoga bisa mencerahkan.

16 thoughts on “Seputar Syaikh Washiyullah Abbas dan Dzulqarnain… Berpikirlah Dewasa wahai Salafiyyun”

  1. ana cuma bisa doa saja, semoga ke depannya dakwah ini semakin membaik tanpa ada lagi cela mencela yang mengakibatkan kita jadi malas belajar

  2. Artinya dengan ini saja kita sudah bisa menebak arah jalan dakwahnya Dzulqarnain, karena yang sebelumnya sudah ada, yaitu Lukman Ba’abduh. Siklus semacam ini mau tidak mau pasti akan terjadi juga.
    ______________
    ana setuju dengan pendapat antum, soalnya korbannya sudah ada yaitu ust jafar shalih.

  3. Lucu aja lihat kiprah dan trayek dakwah mereka… tapi juga kasihan melihat teman2 salafiy yang masih belum membuka matanya.

    Namun aku yakin Alloh punya cara yang unik dan terbaik untuk mentarbiyah hamba-hambaNya dan membongkar kebusukan orang-orang yang busuk hatinya.

  4. Semuanya memang lucu, bukan hanya kubu Luqman dan Dzul saja yg lucu, bahkan yang sangat lucu adalah kubu rodja,

    Lalu dimanakah kelucuan yang tidak lucu itu?

    Ini dia, kalau kubu rodja juga orang yang jujur kita tanyakan kepada dia, beranikah mereka mengajak para masyaikh yang mereka undang untuk menyempatkan diri silaturahim dan memperkecil jurang pemisah antara kubu rodja kubu luqman kubu Dzul dan bertanya (secara rinci), berdiskusi kepada setiap Syaikh-syaikh yang mereka undang ke Indonesia untuk menuntaskan permasalahan tentang Jama’ah Ihya ‘Ut Turots dan juga mengambil / menggunakan dana dari mereka … sehingga dengan jawaban para masyaikh di depan mereka semua, diharapkan dapat memperkecil jurang pemisah antara kubu-kubu yang ada atau bahkan dapat saling menjalin silaturahim antara sesama ahlus sunnah sehingga terjadi kemaslahatan yang besar bagi dakwah salafiyyah di Indonesia.

    ah…. sepertinya hanya mimpi… masing-masing dari kubu memang sepertinya takut kehilangan dan mau mempertahankan mad’u nya.. atau bahkan saling berebut lahan untuk memperbanyak pengikutnya. Allahumusta’anwallahu a’lam.

  5. @hollandini, setau ane ust. firanda pernah mengajak berdialog bersama. Tapi sampe sekarang belum ada tanggapan apapun dari ust. fulan / ust. fulan.

    Afwan ust. admin! nimbrung!

    1. ooaaalllaaaaaa pak-pak….. itulah akibat tidak memahami komentar ana, ya jadinya begini !!!….. yang ana maksudkan “mereka mengajak para masyaikh yang mereka undang untuk menyempatkan diri silaturahim dan memperkecil jurang pemisah antara kubu rodja kubu luqman kubu Dzul dan bertanya (secara rinci)” … bukan berdialog sesama mereka sendiri tanpa adanya masyaikh yg menengahinya … krn kalo cuma antar sesama mereka ya ga ketemulah… ini ada audio contohnya “basa basi busuk Firanda vs Luqman” : …. https://archive.org/download/Kesalahan-kesalahanLuqmanBaabduhCs/basa_basi_busuk_hizbi_private.mp3

      Tuh liat aja, ga ada kelanjutannya… dan memang pantas dikatakan BASA BASI BUSUK DIALOG SESAMA HIZBI… Allahumusta’an.

  6. afwan ikhwah sekalian jgn bprasangka dulu kpd ust dzul.
    @holandini : jgn kan mau dialog,ust abdullah taslim sampai mendatanginya mrk2 di jawa,nusatenggara,Sulawesi,Kalimantan utk diajak diskusi, TP semua beralasan “sibuk”..

    1. Ini komentarnya hampir sama maksudnya dengan @abu abdillah” … bapak-bapak harap fahami status tulisan admin dan komentar dari ana, dan kalo cuma orang-orang dari rodjaniyuun seperti abdullah taslim, firanda, dll, ya ga akan dianggap oleh mereka, kubu luqmaniyyun akan berdalih menggunakan perkataan para Imam seperti Imam Abu ‘Utsman Ismail Ash Shabuni rahimahullah yg mengatakan (Aqidah Salaf Ashabul Hadits halaman 114-115) –ketika menerangkan sikap dan pendirian Salafus Shalih terhadap bid’ah dan Ahlul Bid’ah– : “Salafus Shalih membenci Ahlul Bid’ah yang (mereka itu) mengada-adakan perkara baru dalam agama ini yang (justru) bukan berasal dari agama itu sendiri. Salafus Shalih tidak mencintai Ahlul Bid’ah, tidak mau bersahabat dengan mereka, tidak mendengar perkataan mereka, tidak duduk bermajelis dengan mereka, tidak berdebat dengan mereka dalam masalah agama, bahkan tidak mau berdialog dengan mereka. Salafus Shalih selalu menjaga telinga jangan sampai mendengar kebathilan Ahlul Bid’ah yang dapat menembus telinga dan membekas di dalam hati, dan akhirnya menyeret segala bentuk was-was dan pemikiran-pemikiran yang rusak.”

      tp coba kalo mengajak ulama sekelas syaikh washiyullah abbas sebagai penengah langsung diantara mereka, atau bahkan KALAU PERLU ajak tuh ke Indonesia Propesor DR. Robi’ Al Madkholi ke Indonesia, Ddiskusikan kepada setiap Syaikh-syaikh yang mereka undang ke Indonesia untuk menuntaskan permasalahan tentang Jama’ah Ihya ‘Ut Turots dan juga mengambil / menggunakan dana dari mereka … sehingga dengan jawaban para masyaikh di depan mereka semua, diharapkan dapat memperkecil jurang pemisah antara kubu-kubu yang ada atau bahkan dapat saling menjalin silaturahim antara sesama ahlus sunnah sehingga terjadi kemaslahatan yang besar bagi dakwah salafiyyah di Indonesia. wallahu a’lam.

      1. @hollandini
        harusnya sih begitu, ana kasih contoh sederhana, dulu waktu syaikh yahya debat jarak jauh dengan syaikh rabi, syaikh yahya ingin menuntaskan semua perselisihan dengan syaikh rabi (berdamai) dengan bertatap muka, tapi apa lacur, saat syaikh yahya datang ke kediaman syaikh rabi, syaikh rabi malah dibawa kabur sama para pembuat fitnah itu.
        Itu artinya mereka sendiri memang tidak ridho kalau kedua syaikh tersebut berdamai. bahkan saat fitnah lagi panas-panasnya mereka terus mengompori syaikh rabi untuk menghujat syaikh yahya. gila khan? padahal orang beriman itu adalah bersaudara, kalau mereka bertengkar damaikanlah, tapi orang2 jahil itu malah saling menjauhkan mereka satu sama lain. Kasian syaikh rabi…

        … sehingga dengan jawaban para masyaikh di depan mereka semua, diharapkan dapat memperkecil jurang pemisah antara kubu-kubu yang ada atau bahkan dapat saling menjalin silaturahim antara sesama ahlus sunnah sehingga terjadi kemaslahatan yang besar bagi dakwah salafiyyah di Indonesia. wallahu a’lam.

        kalo yang ini ana lihat percuma, karena sudah pernah terjadi kasusnya ada pada jafar shalih dkk, waktu mereka masih bersama lukman dkk, saat mereka bermajlis di hadapan syaikh rabi membahas tentang sebab-sebab perselisihan mereka dahulu, namun naasnya omongan syaikh malah diartikan berbeda oleh mereka masing-masing, yang ujungnya malah bikin tahzir-tahziran. Ini baru satu syaikh yang sama2 dijadikan rujukan oleh mereka, bagaimana kalau beda syaikhnya. tambah makin kacau balau. sudah ana bilang ayat yang di atas memang layak menjadi penjara bagi salafiyyun yang tumpul akalnya.

        Intinya kalau mau jadi salafy, jadi saja salafy saja tanpa harus berhizbiyah dengan LUkman, Dzul, ROdja, atau apapun itu.

      2. بسم الله الرحمن الرحيم

        متى يكون الرجل سلفَيًّا؟

      3. 1. kita harus sepakati dulu definisi salafy itu apa? sepanjang tidak ada definisi yang disepakati bersama maka setiap kubu dakwah akan saling membanggakan golongannya masing2 (hizbiyah: menganggap dirinya paling salafy) dan menghina kaum yang lain dengan gelar2 yang buruk.
        2. salafy dalam pandangan kelompok luqman adalah orang2 yang merujuk ke masyaikh yang menjadi rujukan mereka (rabi, muhammad bin hadi, ubaid, abdullah bukhari) dan juga harus mau merujuk kepada lukman Cs. kalau hanya merujuk ke syaikh rabi tapi tidak merujuk ke luqman cs, maka ia bukan salafy dalam pandangan mereka. begitupula salafy dalam pandangan kubu dzul, rodja, yaman, madinah, dll.
        3. salafy yang dipahami ulama besar itu sangat kontras dengan yang dipahami dai-dai jahil yang ada di indonesia ini, salafy dalam pandangan ulama besar adalah mereka yang mengikuti quran, sunnah dan pemahamanan para sahabat, tabiin dan siapa yang mengikuti rasul dengan baik. sementara menurut2 dai-dai jahil itu, salafy itu harus merujuk ke dai-dai jahil tersebut. artinya kalau mau jadi salafy sendiri tidak bisa, kalau tidak merujuk/bersama dai-dai jahil itu.

        Kesimpulan: batasan seseorang disebut salafy adalah apabila ia dalam kesehariannya menjadikan salaf sebagai jalan hidupnya, tanpa harus menuntut pengakuan dari siapapun. dan tidak pernah takut dengan intimidasi ataupun celaan dari dai-dai jahil yang mengharuskan ia merujuk/bergabung bersama mereka, terlebih apabila ia tahu dai-dai tersebut banyak penyimpangannya.

        hanya saja akhir2 ini salafy lebih cenderung menjadi semacam “trademark”. artinya kalau mau jadi salafy harus gabung dulu dengan kubu2 tertentu yang telah lebih dulu membuka lapak2 dakwahnya di Indonesia ini agar ia mendapatkan pengakuan darinya. dan ini jelas kejahilan tingkat tinggi, karena syaikh rabi tidak minta dulu ke syaikh fauzan (yang punya kedudukan lebih tinggi) untuk jadi salafy, begitu pun dengan syaikh washiyullah, dll. Hanya dai2 jahil yang punya kelakuan hina seperti itu.

        Semoga apa yang disampaikan ini bisa berfaidah.

  7. قال ابن مسعود رضي الله عنه: “الجماعة ما

    وافق الحق؛ ولو كنت وحدك” (رواه اللالكائي

    في شرح أصول اعتقاد أهل السنة

    والجماعة:1/122- رقم160، وصحح سنده

    الشيخ الألباني كما في تعليقه على مشكاة

    المصابيح: 1/61، ورواه الترمذي في

    سننه:4/467).

  8. قال الفضيل ابن عياض رحمه الله: “عليك

    بطريق الهدى وإن قل السالكون، واجتنب

    طريق الردى وإن كثر الهالكون” (ذكره

    الشاطبي في الاعتصام: (1/83)، والنووي

    في المجموع: (8/275)، وفي الإيضاح

    (ص219)، والسيوطي في الأمر بالاتباع

    والنهي عن الابتداع:ص152).

  9. Ya mana mau diolog sama masyaikh akh holand para masaikh itu semua sdh situduh sesat ma mereka yg ulama hanya ulama kelompok mereka saja

Comments are closed.