Entah bagaimana harus memulainya, yang jelas firman Allah berikut ini sepertinya sangat layak untuk dicambukkan kepada mereka yang mengaku salafiyun di Indonesia.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum sampai mereka sendiri mau merubahnya” (Ar-Ra’d: 11)

baca lebih lengkap

Advertisements

16 thoughts on “Seputar Syaikh Washiyullah Abbas dan Dzulqarnain… Berpikirlah Dewasa wahai Salafiyyun

  1. ana cuma bisa doa saja, semoga ke depannya dakwah ini semakin membaik tanpa ada lagi cela mencela yang mengakibatkan kita jadi malas belajar

  2. Artinya dengan ini saja kita sudah bisa menebak arah jalan dakwahnya Dzulqarnain, karena yang sebelumnya sudah ada, yaitu Lukman Ba’abduh. Siklus semacam ini mau tidak mau pasti akan terjadi juga.
    ______________
    ana setuju dengan pendapat antum, soalnya korbannya sudah ada yaitu ust jafar shalih.

  3. Lucu aja lihat kiprah dan trayek dakwah mereka… tapi juga kasihan melihat teman2 salafiy yang masih belum membuka matanya.

    Namun aku yakin Alloh punya cara yang unik dan terbaik untuk mentarbiyah hamba-hambaNya dan membongkar kebusukan orang-orang yang busuk hatinya.

  4. Semuanya memang lucu, bukan hanya kubu Luqman dan Dzul saja yg lucu, bahkan yang sangat lucu adalah kubu rodja,

    Lalu dimanakah kelucuan yang tidak lucu itu?

    Ini dia, kalau kubu rodja juga orang yang jujur kita tanyakan kepada dia, beranikah mereka mengajak para masyaikh yang mereka undang untuk menyempatkan diri silaturahim dan memperkecil jurang pemisah antara kubu rodja kubu luqman kubu Dzul dan bertanya (secara rinci), berdiskusi kepada setiap Syaikh-syaikh yang mereka undang ke Indonesia untuk menuntaskan permasalahan tentang Jama’ah Ihya ‘Ut Turots dan juga mengambil / menggunakan dana dari mereka … sehingga dengan jawaban para masyaikh di depan mereka semua, diharapkan dapat memperkecil jurang pemisah antara kubu-kubu yang ada atau bahkan dapat saling menjalin silaturahim antara sesama ahlus sunnah sehingga terjadi kemaslahatan yang besar bagi dakwah salafiyyah di Indonesia.

    ah…. sepertinya hanya mimpi… masing-masing dari kubu memang sepertinya takut kehilangan dan mau mempertahankan mad’u nya.. atau bahkan saling berebut lahan untuk memperbanyak pengikutnya. Allahumusta’anwallahu a’lam.

  5. @hollandini, setau ane ust. firanda pernah mengajak berdialog bersama. Tapi sampe sekarang belum ada tanggapan apapun dari ust. fulan / ust. fulan.

    Afwan ust. admin! nimbrung!

    1. ooaaalllaaaaaa pak-pak….. itulah akibat tidak memahami komentar ana, ya jadinya begini !!!….. yang ana maksudkan “mereka mengajak para masyaikh yang mereka undang untuk menyempatkan diri silaturahim dan memperkecil jurang pemisah antara kubu rodja kubu luqman kubu Dzul dan bertanya (secara rinci)” … bukan berdialog sesama mereka sendiri tanpa adanya masyaikh yg menengahinya … krn kalo cuma antar sesama mereka ya ga ketemulah… ini ada audio contohnya “basa basi busuk Firanda vs Luqman” : …. https://archive.org/download/Kesalahan-kesalahanLuqmanBaabduhCs/basa_basi_busuk_hizbi_private.mp3

      Tuh liat aja, ga ada kelanjutannya… dan memang pantas dikatakan BASA BASI BUSUK DIALOG SESAMA HIZBI… Allahumusta’an.

  6. afwan ikhwah sekalian jgn bprasangka dulu kpd ust dzul.
    @holandini : jgn kan mau dialog,ust abdullah taslim sampai mendatanginya mrk2 di jawa,nusatenggara,Sulawesi,Kalimantan utk diajak diskusi, TP semua beralasan “sibuk”..

    1. Ini komentarnya hampir sama maksudnya dengan @abu abdillah” … bapak-bapak harap fahami status tulisan admin dan komentar dari ana, dan kalo cuma orang-orang dari rodjaniyuun seperti abdullah taslim, firanda, dll, ya ga akan dianggap oleh mereka, kubu luqmaniyyun akan berdalih menggunakan perkataan para Imam seperti Imam Abu ‘Utsman Ismail Ash Shabuni rahimahullah yg mengatakan (Aqidah Salaf Ashabul Hadits halaman 114-115) –ketika menerangkan sikap dan pendirian Salafus Shalih terhadap bid’ah dan Ahlul Bid’ah– : “Salafus Shalih membenci Ahlul Bid’ah yang (mereka itu) mengada-adakan perkara baru dalam agama ini yang (justru) bukan berasal dari agama itu sendiri. Salafus Shalih tidak mencintai Ahlul Bid’ah, tidak mau bersahabat dengan mereka, tidak mendengar perkataan mereka, tidak duduk bermajelis dengan mereka, tidak berdebat dengan mereka dalam masalah agama, bahkan tidak mau berdialog dengan mereka. Salafus Shalih selalu menjaga telinga jangan sampai mendengar kebathilan Ahlul Bid’ah yang dapat menembus telinga dan membekas di dalam hati, dan akhirnya menyeret segala bentuk was-was dan pemikiran-pemikiran yang rusak.”

      tp coba kalo mengajak ulama sekelas syaikh washiyullah abbas sebagai penengah langsung diantara mereka, atau bahkan KALAU PERLU ajak tuh ke Indonesia Propesor DR. Robi’ Al Madkholi ke Indonesia, Ddiskusikan kepada setiap Syaikh-syaikh yang mereka undang ke Indonesia untuk menuntaskan permasalahan tentang Jama’ah Ihya ‘Ut Turots dan juga mengambil / menggunakan dana dari mereka … sehingga dengan jawaban para masyaikh di depan mereka semua, diharapkan dapat memperkecil jurang pemisah antara kubu-kubu yang ada atau bahkan dapat saling menjalin silaturahim antara sesama ahlus sunnah sehingga terjadi kemaslahatan yang besar bagi dakwah salafiyyah di Indonesia. wallahu a’lam.

      1. @hollandini
        harusnya sih begitu, ana kasih contoh sederhana, dulu waktu syaikh yahya debat jarak jauh dengan syaikh rabi, syaikh yahya ingin menuntaskan semua perselisihan dengan syaikh rabi (berdamai) dengan bertatap muka, tapi apa lacur, saat syaikh yahya datang ke kediaman syaikh rabi, syaikh rabi malah dibawa kabur sama para pembuat fitnah itu.
        Itu artinya mereka sendiri memang tidak ridho kalau kedua syaikh tersebut berdamai. bahkan saat fitnah lagi panas-panasnya mereka terus mengompori syaikh rabi untuk menghujat syaikh yahya. gila khan? padahal orang beriman itu adalah bersaudara, kalau mereka bertengkar damaikanlah, tapi orang2 jahil itu malah saling menjauhkan mereka satu sama lain. Kasian syaikh rabi…

        … sehingga dengan jawaban para masyaikh di depan mereka semua, diharapkan dapat memperkecil jurang pemisah antara kubu-kubu yang ada atau bahkan dapat saling menjalin silaturahim antara sesama ahlus sunnah sehingga terjadi kemaslahatan yang besar bagi dakwah salafiyyah di Indonesia. wallahu a’lam.

        kalo yang ini ana lihat percuma, karena sudah pernah terjadi kasusnya ada pada jafar shalih dkk, waktu mereka masih bersama lukman dkk, saat mereka bermajlis di hadapan syaikh rabi membahas tentang sebab-sebab perselisihan mereka dahulu, namun naasnya omongan syaikh malah diartikan berbeda oleh mereka masing-masing, yang ujungnya malah bikin tahzir-tahziran. Ini baru satu syaikh yang sama2 dijadikan rujukan oleh mereka, bagaimana kalau beda syaikhnya. tambah makin kacau balau. sudah ana bilang ayat yang di atas memang layak menjadi penjara bagi salafiyyun yang tumpul akalnya.

        Intinya kalau mau jadi salafy, jadi saja salafy saja tanpa harus berhizbiyah dengan LUkman, Dzul, ROdja, atau apapun itu.

      2. بسم الله الرحمن الرحيم

        متى يكون الرجل سلفَيًّا؟

      3. 1. kita harus sepakati dulu definisi salafy itu apa? sepanjang tidak ada definisi yang disepakati bersama maka setiap kubu dakwah akan saling membanggakan golongannya masing2 (hizbiyah: menganggap dirinya paling salafy) dan menghina kaum yang lain dengan gelar2 yang buruk.
        2. salafy dalam pandangan kelompok luqman adalah orang2 yang merujuk ke masyaikh yang menjadi rujukan mereka (rabi, muhammad bin hadi, ubaid, abdullah bukhari) dan juga harus mau merujuk kepada lukman Cs. kalau hanya merujuk ke syaikh rabi tapi tidak merujuk ke luqman cs, maka ia bukan salafy dalam pandangan mereka. begitupula salafy dalam pandangan kubu dzul, rodja, yaman, madinah, dll.
        3. salafy yang dipahami ulama besar itu sangat kontras dengan yang dipahami dai-dai jahil yang ada di indonesia ini, salafy dalam pandangan ulama besar adalah mereka yang mengikuti quran, sunnah dan pemahamanan para sahabat, tabiin dan siapa yang mengikuti rasul dengan baik. sementara menurut2 dai-dai jahil itu, salafy itu harus merujuk ke dai-dai jahil tersebut. artinya kalau mau jadi salafy sendiri tidak bisa, kalau tidak merujuk/bersama dai-dai jahil itu.

        Kesimpulan: batasan seseorang disebut salafy adalah apabila ia dalam kesehariannya menjadikan salaf sebagai jalan hidupnya, tanpa harus menuntut pengakuan dari siapapun. dan tidak pernah takut dengan intimidasi ataupun celaan dari dai-dai jahil yang mengharuskan ia merujuk/bergabung bersama mereka, terlebih apabila ia tahu dai-dai tersebut banyak penyimpangannya.

        hanya saja akhir2 ini salafy lebih cenderung menjadi semacam “trademark”. artinya kalau mau jadi salafy harus gabung dulu dengan kubu2 tertentu yang telah lebih dulu membuka lapak2 dakwahnya di Indonesia ini agar ia mendapatkan pengakuan darinya. dan ini jelas kejahilan tingkat tinggi, karena syaikh rabi tidak minta dulu ke syaikh fauzan (yang punya kedudukan lebih tinggi) untuk jadi salafy, begitu pun dengan syaikh washiyullah, dll. Hanya dai2 jahil yang punya kelakuan hina seperti itu.

        Semoga apa yang disampaikan ini bisa berfaidah.

  7. قال ابن مسعود رضي الله عنه: “الجماعة ما

    وافق الحق؛ ولو كنت وحدك” (رواه اللالكائي

    في شرح أصول اعتقاد أهل السنة

    والجماعة:1/122- رقم160، وصحح سنده

    الشيخ الألباني كما في تعليقه على مشكاة

    المصابيح: 1/61، ورواه الترمذي في

    سننه:4/467).

  8. قال الفضيل ابن عياض رحمه الله: “عليك

    بطريق الهدى وإن قل السالكون، واجتنب

    طريق الردى وإن كثر الهالكون” (ذكره

    الشاطبي في الاعتصام: (1/83)، والنووي

    في المجموع: (8/275)، وفي الإيضاح

    (ص219)، والسيوطي في الأمر بالاتباع

    والنهي عن الابتداع:ص152).

  9. Ya mana mau diolog sama masyaikh akh holand para masaikh itu semua sdh situduh sesat ma mereka yg ulama hanya ulama kelompok mereka saja

Comments are now closed.