penyebab-usaha-gagal-jokosusilo-com

Jilid II? Anti Klimaks!

Entah harus darimana memulainya, yang jelas ini memang benar-benar sesuatu yang lucu dan membuat pembaca menyengir. Dan kelucuan ini dimulai dari Al-Akh Al-Ustadz Dzulqarnain yang kini telah bergelar “Asy-Syaikh…”

Al-Ustadz Asy-Syaikh Dzulqarnain Al-Makassari (SDM) sepertinya masih belum terima dengan kejadian setahun yang lalu, kala ia melawan Lukman Ba’abduh Cs dan Firanda Cs sekaligus.

Dan kali ini ia kembali menabuh genderang perang dalam tulisannya yang berjudul: Nasihat dan Penjelasan Guna Mengobati Sumber Fitnah. Dan tentu saja dalam tulisannya ini ia kembali menggores penanya yang tajam atas Lukman Ba’abduh dan budak setianya Purwi to secara tersurat dan Firanda secara tersirat beserta para penuntut ilmu yang ikut terlibat di dalamnya.

Dan tentu saja kelucuan terbesar dari drama ini adalah: Dzulqanain membantah Lukman dan Firanda, Firanda membantah Lukman dan Dzulqarnain kemudian belanjut ke Lukman yang membantah Dzulqarnain dan Firanda. Entah apa yang direbutkan tiga orang ini?

Setelah membaca secara seksama tulisan SDM tersebut kami berpandangan bahwa secara umum tidak aja yang salah dalam tulisan tersebut bahkan harus diapresiasi dengan dua jempol sekaligus atas niatnya yang ingin menyudahi fitnah yang tak kunjung habis ini. Namun secara khusus tentu ada banyak catatan di dalamnya yang mudah-mudahan ia terdasar dari sikap kekanak-kanakannya dalam dakwah ini.

Sebagai orang yang mendapatkan kelebihan; kesempatan berguru pada Asy-Syaikh Muqbil, Rabi, Fauzan, dan Masyaikh lainnya dan dijadikan dai rujukan oleh penuntut ilmu di Indonesia karena kedekatannya dengan Masyaikh Saudi harusnya ia bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang dai, bukan malah menjadi “tong sampah” yang hanya diisi oleh sampah-sampah yang dilempar oleh tukpencarialhaq.com (sudah naik level dulu masih tukpencarialhaq.wordpress.com) dan sudah selayaknya ia merendahkan sayapnya, bukan malah membentangkannya tinggi-tinggi yang ujung-ujung malah memperlihatkan borok-borok yang tertutupi oleh sayapnya tersebut.

Ada beberapa sikap yang sebenarnya sudah kami bahas setahun yang lalu yang semakin menunjukkan bahwa tahzir Syaikh Rabi kepadanya memang benar karena dia suka bermain-main dan plin-plan.

Pertama; Ia tidak punya kemandirian dalam bersikap, selalu berubah-rubah oleh tekanan di sekelilingnya. Pertama ia membantah Lukman, kemudian rujuk kepada Lukman (bahkan sampai menjilat kaki budaknya) dalam tulisannya yang sudah didelet di webnya setahun kemarin kemudian kali ini secara ajaib ia membantah kembali Lukman dan budaknya tersebut.

Entah apa lagi sesudahnya, kami sendiri agak khawatir… seandainya Lukman membalas/merespon hal ini boleh jadi saja ia akan rujuk kembali kepada Lukman…

Coba kita lihat koleganya yang lain semisal Jafar Shalih, berkali-kali ia ditahzir oleh Lukman, As-Sewed dan konco-konconya ia tidak bergeming sedikitpun, ia terus berdakwah kepada tauhid, sementara Dzulqarnain melalui tulisannya kali ini seakan sedang terbangun dari tidur lelapnya (tersadar dan menyadari hal ini) sebagaimana yang ia kemukakan di awal dan akhir tulisannya. Entah kemana saja ia selama ini? Bahkan hal ini semakin menunjukkan bahwa Jafar Shalih dkk jauh lebih matang darinya dalam dakwah meski Jafar Shalih tidak terlalu sepopuler dirinya. Naas sekali bila bendera dakwah salafiyah dipegang oleh orang yang plin-plan seperti ini.

Kedua; Terlalu banyak omong kosong, mengumbar kata-kata yang berlebihan (lebai) bahkan hingga sekarang bantahannya atas Firanda yang kami masih tunggu-tunggu tidak terlihat setelah sebelumnya ia menjarh firanda dengan sebuah hadits: ketergesaan bagian dari setan. Sekarang sudah hampir setahun, lalu mana bantahannya? Tidak ada! Lucunya lagi ia malah melempar tanggung jawab untuk membatah Firanda kepada Lukman Ba’abduh. Tragis!

Lucunya lagi, di point 9, ia berkata: Mereka berjalan di atas cara-cara Haddadiyyah dan Hajawirah (pengikut Syaikh Yahya Al-Hajury) dalam muamalah mereka bersama Dzulqarnain dan kawan-kawannya. Tatkala guru kami, Al-‘Allâmah Muhammad bin Abdil Wahhâb Al-Abdaly Al-Wushâby rahimahullâh, wafat, salah seorang di antara mereka berkomentar, “Ana harap ikhwah menahan diri jangan menukil apapun tentang kematian Al-Wushabiy terkait pujian dan sanjungan. Dia belum rujuk dari beberapa kesalahan. Yang terakhir dari dia hanya ucapan syukur. Tunggu mauqif ulama kibar. Barakallahu fikum”. (Diucapkan oleh Muhammad Syarbini dalam sebuah edarannya)

Ini jelas tidak benar, Muhammad Sarbini yang berulah kenapa Hajawirah (dan kelompok lain) yang jadi tumbal. Dzulqarnain selalu saja mencari kambing hitam atas perbuatannya sendiri yang membuat kawan-kawannya menjarhnya.

Ketiga: Suka menghina pihak lain dan membanggakan dirinya sendiri, ia adalah sikap bodoh. Sesungguhnya seorang berilmu hanyalah mengeluarkan ilmu, bukan mengeluarkan hinaan dan makian; apakah ia tidak melihat pohon zaitun yang hanya berbuah zaitun, seperti itulah hakikat antara ilmu dan ulama. Kalau memang berilmu keluarkanlah bantahan yang sarat ilmu sebagai bacaan yang bermanfaat bagi para penunut ilmu bukan malah tulisan hinaan dan caci maki yang diselip-selipi ilmu di dalamnya lalu disangka “tulisan ilmiah”, karena siapapun tahu mana tulisan ilmiah dan bukan. Paling tidak contohlah Lajnah Da`imah kala membantah Al-Halabi, tak satupun dari bantahan mereka yang ada hinaan dan caci maki terhadap Al-Halabi. Lalu apa yang dilakukan Dzulqarnain terhadap lawannya? Sangat jauh langit dengan bumi.

Keempat: Kalau memang Dzulqarnain konsisten dengan manhaj barunya, sebagaimana yang ia sampaikan di awal tulisannya dan untuk berhakim kepada Lajnah Da`imah dalam menengahi berbagai macam perselisihan hendaknya ia membawa pula perselisihannya dengan Halabiyyun seperti Firanda kepada Lajnah Daimah karena sudah bukan rahasia lagi bila pihak Halabiyyun juga menginkan perbaikan dari dakwah yang carut marut ini terutama menyangkut rodja yang dakwahnya sudah mengudara di penjuru tanah air dan luar negeri. Itu kalau ia mau konsiten, namun bila ia bersikap la’ab, mutalawwin, makir lagi maka itu jelas sesuatu yang sama-sama kita ketahui bersama.

Kelima: Suka melindungi diri dengan tameng jarh wa ta’dil dengan cara yang tidak benar, yaitu dengan cara meminta ta’dil dari para masyaikh Saudi yang tidak terlalu mendalam mengenal sepak terjangnya selama di Indonesia sehingga dengannya diharapkan jarh Syaikh Rabi yang didasarkan persaksian Lukman Ba’abduh Cs gugur oleh banyaknya ta’dil masyaikh. Padahal siapapun tahu bahwa jarh mufassar muqaddam ala ta’dil mubham, dan yang mengetahui menjadi hujjah bagi yang tidak mengetahuinya. Seakan-akan Dzulqarnain selalu selamat dari kesalahan dan hal itu terbukti dari setiap tulisan curhatnya yang mana di dalamnya ia tidak pernah mengakui adanya kesalahannya padahal dulunya ia juga bersama Jakfar dan Lukman Cs.

Setidaknya inilah lima point yang mudah-mudahan dapat memperbaiki dirinya dan menjadikannya berkomitmen penuh atas dakwah ini.

 Hanya dari seorang Majhul …

5 thoughts on “Jilid II? Anti Klimaks!”

  1. Tulisan yang obyektif. Semoga ustadz Dzulqarnain konsisten dengan niatnya menyudahi perselisihan di antara dai ahlussunnah baik yang digelari MLM, Luqmaniyun, Halabiyun maupun Hajawirah.
    Kalimat penutupnya mantabz, akhi.
    Baarakallaahu fiik

  2. hanya blog ini yang berani menampilkan komen2 yang tidak sependapat dengan penulis blog berbeda dengan yang lain yang hanya komen yang sesuai dengan nafsu penulis yang di posting,@admin ditunggu tulisan2 yang bermanfaat,barakallahufiik

  3. ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ ustadz mamtaap

Comments are closed.