1

Terjemahan Nubdzatun Nabiilah: Persembahan Dari Hajuriyyun Untuk Madkholiyyuun di Seluruh Indonesia

1

 

Ringkasan yang Berbobot

Dalam Membantah Pengantar Syaikh Rabi yang Tidak Bermutu

Susunan:

Abu Abdurrahman Yahya bin Ali Al-Hajuri

Penerjemah: Daripada susah, sebut saja Hajuriyyun!

copyright predatortukpencarialhaq.wordpress.com

silahkan download kitab aslinya di sini.

Sebelum saya menampilkan isi terjemahan kitab tersebut, bolehlah kiranya bila saya sedikit flash back dan berbicara kembali tentang Fitnah Yaman yang terjadi di Dammaj kala itu…

Diluar semua yang telah terjadi, hanya satu alasan kenapa mereka “Masyaikh Saudi dan Yaman” (tidak semua, yang sudah kita kenal-kenal saja) menghajr dan menjarh Yahya Al-Hajuri, yaitu karena ia menjarh Abdurrahman Al-Mar’i dengan Hizbi.

Baik, (teruntuk Madkholiyyun dan turunannya Luqmaniyyun serta mereka yang masih  merujuk kepada ulama Yaman, terutama Al-Imam dan Al-Mar’i Cs) anggap saja Syaikh Yahya keliru saat itu, tapi apa bisa bangkai yang ditutup-tutupi mampu terus disembunyikan sementara baunya terus menyengat keluar.

Ya, bisa saja kalian tutupi kehizbiyahan Abdurrahman dengan ta’dil-ta’dil buatan yang ada pada kalian, tapi coba lihat sekarang, di saat ulama Saudi (Syaikh Rabi dan Ubaid)  beserta loyalisnya di Yaman mengharamkan watsiqah dengan Rafidhoh lalu apa yang ia lakukan, ia malah berhizbiyah dengan Al-Imam yang mana sebelumnya Al-Imam telah berhizbiyah dengan Rafidhoh. Itu artinya mereka lebih memilih berhizbiyah dengan Rafidhoh daripada Ahlussunnah!

Coba lihat, ketika terjadi Fitnah Abdurrahman di Dammaj Al-Imam lah yang terdepan dalam membelanya, sekarang ketika Al-Imam terfitnah dengan Rafidhoh ia lah yang terdepan dalam membelanya, padahal kita semua sama-sama tahu bahwa Rafidhoh adalah musuh bersama kaum muslimin. Apa ini? Tidak kah ini menggelikan. Sungguh benar adanya hanya hizbi yang mau berteman dekat dengan hizbi. Meskipun mereka berpecah belah selamanya mereka akan tetap hizbi.

Sehina-hinanya Al-Hajuri di mata kalian apa iya ia mau dan rela menjadi hizbi dengan cara bersaudara dengan Rafidhoh saat mereka menyerbu Dammaj kala itu? tidak! Lalu kenapa kalian mau-maunya menjarh orang yang membenci hizbiyah? Bukankah ini alasan mendasar kalian putus barisan dengannya!

Ingat, dengan kalian membela hizbiyah itu artinya kalian adalah pemeluk hizbiyah, meskipun kini kalian pembenci pelakunya sekarang (Al-Mar’i) itu tidak otomatis menjadikan kalian terputus dari hizbiyah, sadari itu!!!

Baik, kita sudahi dulu pembicaraan tentang hal ini dan berlanjut di lain waktu, karena percuma mengharapkan orang buta bisa melihat meskipun kita memasukkan ucapan yang benar dalam pendengaran mereka.

***

Kembali ke terjemahan kitab Nubdzatun Nabilah. Kitab bantahan ini merupakan respon atas dua Kitab Bantahan yang ditulis Syaikh Rabi yaitu:

1. Al-Ishaabah fii Tashiih Ma Dha’a-afahu wa Ibraazi Ma Jahilahu Al-Hajuuri Min Mafaarid Ash-Shahaabah.

2. Al-Ishaabah fii Istidraak Ma Faata Al-Hajuri Minal Ahaadiits Fii Kitaabihi Al-Mafaarid Ash-Shohaabah

sebagai bantahan atas kitab Syaikh Yahya yang berjudul Ar-Riyaadh Al-Mustahtaabah Fii Shahiih wa Dha’iif Al-Mafaarid Ash-Shohaabah.

Kali ini dua ulama kita ini akan saling menguji pendapat mereka satu sama lain sekaligus mempertahankan pendapat mereka mengenai beberapa tesis yang sepertinya hingga kini masih terus hangat diperbincangkan dalam Ilmu Musthalahul Hadits, yaitu mengenai status label “Shahabat” pada orang yang hanya sekali meriwayatkan hadits dari Nabi dan hadits yang ia riwayatkan.

Dan pada kesempatan ini kami tidak akan sekaligus menampilkan terjemahan dari bantahan Syaikh Yahya ini secara penuh (full) melainkan hanya secara berkala saja agar menambah semangat para penuntut ilmu untuk terus mencari ilmu, jadi sering-sering saja mengunjungi blog ini untuk menunggu up-date-tannya.

Baik, tanpa berlama-lama lagi kami persilahkan bagi Anda untuk menikmatinya. Terjemahan dari hal 1-9 akhir. Sisanya akan menyusul terus.

***

Persembahan

bagi para penuntut ilmu yang berjuang keras mencari kebenaran

 

Page 00001

Ringkasan yang Berbobot

Dalam Membantah Pengantar Syaikh Rabi yang Tidak Bermutu

Susunan:

Abu Abdurrahman Yahya bin Ali Al-Hajuri

Page 00002

Page 00003

Dengan Nama Allah; Ar-Rahman Ar-Rahim

Pengantar

Segala puji hanya milik Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Adapun sesudahnya:

Saya telah membaca dengan teliti pengantar yang ditulis oleh Asy-Syaikh Rabi dimana ia berkata: “Ini adalah pengantar untuk mengoreksi kitabku (Yahya) yang berjudul : “Mafaarid Shahaabah” dan ini tentu saja ini bukan sebuah “kejutan”.

Justru yang menjadi “kejutan” adalah bahwa pengantar tersebut berisi hal-hal yang sangat jauh dari kebenaran. Maka dari itu saya merasa perlu menjelaskan beberapa hal yang memang pantas untuk ditanggapi dalam goresan tinta ini sebagai peringatan atas ucapan Syaikh Rabi dan juga bantahanku atasnya dan untuk yang selanjut-selanjutnya. Hanya Allah lah yang dapat memberi persetujuan.

Page 00004

Syaikh Rabi berkata :

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah dan para sahabatnya dan yang mengikuti petunjuknya. Adapun selanjutnya.

Sesungguhnya Allah telah berkehendak padaku membaca kitab Yahya Al-Hajuri dalam waktu yang tidak sampai beberapa bulan, yaitu : “Ar-Riyaadh Al-Mustathaabah fii Shahiih wa Dha’iif Mafaariid Shahaabah”. Apa yang ada di dalamnya membuat saya begitu terkejut dan merasa sakit sekali oleh pukulan yang dihantamkan kepada para shahabat yang mulia dan hadits-hadits mereka dalam kitab ini yang mana tak satupun dari kalangan ahli hadits yang melakukan hal semacam ini.

Saya katakan : ucapannya: yang mana tak satupun dari kalangan ahli hadits yang melakukan hal semacam ini.

Ini tidak benar, karena telah ada dua imam yang melakukannya terlebih dahulu, yakni (1) Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dan (2) Muslim bin Hajjaj dalam masing-masing kitab mereka berdua. Haji Khalifah menyebutkannya dalam kitabnya “Kasyfu Dzhunun”, ia berkata: “Kitab Al-Wahdaan disusun oleh dua Imam, yakni Muslim dan Bukhari yang di dalamnya hanya mengandung satu hadits saja dari para Shahabat.”

As-Suyuthi berkata dalam Tadribur Rawi II/362 ketika ia menyebutkan Kitab Al-Bukhari: “Kitab Al-Wahdaan merupakan kitab yang hanya mengandung satu hadits dari Shahabat, disebutkan pula oleh Al-Baghawi.”

Demikian juga yang disebutkan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Muqadimah Kitab Fathul Bari (492)

Demikian pula telah mendahuluiku Abu Hatim dalam Musnad Al-Wahdan, disebutkan pula oleh putranya (Ibnu Abu Hatim-pent) dalam Al-Maraasiil (118), Al-Jarh wa Ta’dil dan juga Al-‘Ilal dan lain sebagainya.

Lantas dimana salahnya menunjukkan/menyebutkan hadis yang memudahkan saya berargumen atas hadits tersebut dari mereka? lalu dimanakah (relevansi) “pukulan” dan “hantaman” yang diarahkan kepada mereka?

Page 00005
Sesungguhnya yang menjadi fokus kitab ini adalah orang-orang yang ada dalam kitab Imam yang enam (kutubussittah), Musnad Ahmad dari Al-Mafarid, dan para perawi hadits-hadits selain Al-Mafarid itu sangat banyak.

***

Syaikh Rabi berkata :

Sesungguhnya Al-Hajuri telah bersikap kejam terhadap puluhan orang sahabat, menghancurkan hak-hak mereka, dan meletakkan mereka di tempat yang tidak sepantasnya bagi mereka/menurunkan derajatnya, meluluh lantakan puluhan hadits mereka dan lagi-lagi meletakkannya di tempat yang tidak sepantasnya baginya maka dari itu saya melihat bahwa seutama-utamanya kewajiban dari sekian kewajiban adalah saya menegakkan kembali hak sunnah Rasulullah dan juga hak para sahabatnya, dan saya akan menshahihkan apa yang didhaifkannya (Hajuri).

Saya katakan : Bukanlah termasuk hukum atas sebuah hadits bahwasanya ia itu dhaif hanya karena saya menunjukkan cacatnya, dan hendaknya jangan pula diartikan bahwa ini adalah bentuk perendahan terhadap sunnah, dan bukan pula bentuk kekejaman terhadap para shahabat, dan pengahancuran atas mereka, dan ini (ucapan Syaikh Rabi-pent) adalah lafal-lafal (diksi-diksi pemilihan kata) yang sangat-sangat berlebihan/ekstrim. Kitab-kitab sunnah dari dulu hingga hari ini, sangat kaya dengan hukum-hukum atas hadits-hadits yang terkandung di dalamnya sesuai dengan kaidah ilmu hadits tentunya. Dan bukanlah termasuk keadilan bahwa realitas semacam ini dikatakan/ditafsirkan sebagai bentuk kekejaman atas para sahabat dan juga penghancuran atas mereka apalagi meletakkan mereka di tempat yang tidak sepantasnya bagi mereka. Aku berlindung kepada Allah dari sikap berlebihan yang ekstrim.

Adapun ucapannya : maka dari itu saya melihat bahwa seutama-utamanya kewajiban dari sekian kewajiban adalah …

Jika penshahihan itu didasari kaidah-kaidah dan dasar-dasar (ilmu) hadits maka apakah itu sesuatu yang salah dan menyimpang? Lain cerita jika saya memiliki kaidah-kaidah (versi sendiri-pent) dalam Ilmu Mustalahul Hadits untuk mendaifkan hadits yang seharusnya shahih, seperti atsar ibnu Umar dari jalan Hisyam

Page 00006

ibnul Ghar, atau menshahihkan padahal seharusnya itu dhaif karena tendensi-tendensi (tujuan) tertentu yang mana itu tidak mungkin luput dan tersembunyi bagi Allah, dan contoh seperti itu merupakan perbuatan yang tidak ada kebaikan di dalamnya, dan dapat membawa pelakunya kepada kegagalan.

Ini; hanya untuk diketahui saja, bahwasanya kitab saya yang berjudul : Mafarid dicetak pada cetakan pertama, dan tidak dicetak lagi setelah itu hingga saat ini. Dan saya… milik Allah lah segala puji telah lewat pertolongan dan revisi atasnya, karena akan mengulang kembali mencetaknya pada cetakan ke 2, dan (pada cetakan 1-pent) telah hilang beberapa halaman dalam ringkasannya, dari yang shahih ke yang dhaif, seperti hadits Dzu Amr Al-Hamiri, yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya dan juga yang lainnya, atau penjelasan cacatnya atau riwayat penguatnya (syahid) sama sekali saya belum menelaahnya kembali, jadi… Insya Allah akan menyusul dengan izin Allah kelanjutan dari bantahan ini.

Page 00007

Syaikh Rabi berkata :

… saya akan berusaha keras untuk mengeluarkan siapa saja dari kalangan para sahabat yang dihantam dalam kitab ini, dan saya akan menjelaskan sebatas yang saya bisa tentang hadits-hadits mereka yang dijadikan objek kebodohan Al-Hajuri untuk menjerumuskan mereka dalam perangkapnya, baik itu di Shahih Al-Mafarid ataupun Dhaif-nya dengan mengharap ganjaran pahala dari Allah dan sebagai bentuk penegasan akan wajibnya memberikan nasihat.

Ucapannya : … saya akan berusaha keras untuk mengeluarkan siapa dari kalangan para sahabat yang dihantam dalam kitab ini

Aku katakan : Wahai Syaikh, kemana Anda akan mengeluarkan mereka, apakah dari kitabku ini yang Anda sebut “perangkap”, kepada apa yang engkau imajinasikan darinya kah, dan dari apa-apa yang nampak setelahnya kah, yaitu Kitab : Hadyul Qaashid Ila Ashhaabil Hadiits Al-Waahid (salah satu kitab yang sejenis dengan Mafarid karya Syaikh Yahya yang fokusnya lebih pada pengumpulan nama-nama para sahabat tersebut sementara Syaikh Yahya fokus pada derajat hadits, terbit tahun 2002-pent), karya Hasan Kasrawi, maka apakah engkau keluarkan mereka dan menolong mereka kepada kehebatan kitabmu atau bagaimana?!

Page 00008

Syaikh Rabi berkata :

Al-Hajuri berkata dalam Mukadimah kitabnya : Ar-Riyadh Al-Mustathaabah fii Shahiih wa Dha’iif Mafaariid Shahaabah :

“Segala puji bagi Allah; satu-satunya Zat yang Esa, Dialah Tuhan; As-Shamad, yang tidak Dilahirkan ataupun Melahirkan dan tiada pula yang serupa dengan-Nya, kami memujinya tanpa batas, dan terus berterima kasih kepadanya tanpa sedikitpun kami mampu menghitungnya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan tiada pula sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, adapun sesudahnya. Allah berfirman dalam Kitab-Nya :

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl: 53)

Maka aku memuji Allah dan berterima kasih kepada-Nya atas nikmat-nikmat agung yang telah diberikannya kepadaku, terutama nikmat Islam dan nikmatnya menuntut ilmu syariat dan terus-menerus berkomitmen di dalamnya, nikmat mencintai kitab Allah, sunnah Rasulullah dan nikmat mencintai ilmu-ilmunya dan para pemilik ilmu. Dan aku memohon kepada Allah agar diberikan konsistensi terhadap hal ini hingga maut menjemput.

Ini merupakan satu dari sekian ilmu-ilmu yang membantu pemahaman dan kajian-kajian yang berguna; yaitu mengenal para sahabat Rasulullah sekaligus menikmati biografi mereka dan mengambil faidah dari sifat mereka dan kebaikan kemulian akhlak mereka, dari apa yang lahir dari hati, yaitu ibadah karena Allah dengan sangat mencintai mereka dan membenci siapa saja yang membenci mereka tanpa ada kebaikan yang disebutkan kepada mereka.

Ulama cendekiawan kita telah berupaya gigih menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka dan mengumpulan hadits-hadits mereka, mengenal ucapan mereka dan mereka ini (para ulama cendekiawan) lebih kaya dalam mengenal pandangan mereka (para sahabat).

Diantara yang Allah mudahkan bagiku terhadap hal ini adalah mengumpulkan sarana sebatas apa yang saya bisa untuk bisa mengenal para sahabat, tidak hanya satu…

Page 00009

Kecuali satu hadis tunggal dalam kutubssittah (kitab 6) dan musnad Ahmad, dan itu karena dua tujuan:

Pertama: mengenal para sahabat sekaligus mencantumkan tarjih/validasi lisensi atas predikatnya sebagai sahabat baik dari yang diperselisihkan ataupun tidak dengan cara merujuk kepada tiga kitab induk yang menghususkan diri dalam hal tersebut, yaitu : (1) Istii’ab karya Ibnu Abdil Barr, Asadul Ghabah karya Ibnul Atsir, Al-Ishobah karya Ibnu Hajar, dan hampir sedikit atau tidak ada satupun dari mereka melewatkan pembahasan tentang predikat para sahabat.

(1) Syaikh Rabi berkata :

Ada yang perlu dilihat kembali dalam ucapannya ini tentang 3 kitab ini; Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya “Al-Ishobah” (1/2-3) : Setelah menyebutkan beberapa orang yang menyusun biografi Shahabat, ia berkata: Maka saya menyusun sebuah kitab yang besar dalam hal ini; saya mengkhususkan hanya pada Shahabat saja, bukan yang lain dan bersamaan dengan itu saya belum dapat memastikan terhadap kesepuluh orang diduga Shahabat berdasarkan pertimbangan Abu Zur’ah Ar-Razi: Nabi telah meninggal dunia, sementara orang yang melihat dan mendengar darinya melebihi 100 ribu manusia dari kalangan pria dan wanita, semua mereka telah meriwayatkan darinya baik secara pendengaran langsung maupun periwayatan tak langsung.

bersambung…

8 thoughts on “Terjemahan Nubdzatun Nabiilah: Persembahan Dari Hajuriyyun Untuk Madkholiyyuun di Seluruh Indonesia”

  1. tak sabar ku menunggu kelanjutannya. semoga Allah menjaga admin kita. Amin..

  2. Mau tanya ustadz…, makna syahadat itu yang benar apa? apakah “tidak ada Tuhan selain Allah” ataukah “tidak ada Tuhan YANG PANTAS DISEMBAH selain Allah” ??? … , atau memang antum salah terjemah saja, barokallahufiik.

    1. ana tidak salah terjemah, itu terjemah benar adanya.
      tidak ada tuhan selain Allah (la ilaha illallah) adalah konsep tauhid. dan inilah yang dipakai dalam Al-Quran dan Hadits. adapun “tidak ada Tuhan YANG PANTAS DISEMBAH selain Allah” maka ini adalah penafsiran ulama atas makna syahadat tsb. telah berlaku terlebih dahulu makna ini pada banyak ayat dalam Al-Quran salah satunya:
      قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
      Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. (Ali Imran: 64)
      Rasulullah tidak mengajak mereka bersyahadat tapi hanya menyatukan kalimat. dan kalimat ini ada pada makna yang sedang antum bicarakan. semoga bisa dimengerti.

  3. afwan, nama kunyah penyusunnya yg benar abu abdurrohman atau abu abdirrohman…?

    1. menurut nahwu: abu abdirrahman. namun ana tulis abu abdurrahman hanya untuk menyesuaikan dengan penulisan indonesia saja. karena perubahan2 semacam itu terkadang membingungkan sebagian orang. orang jarang menyebut abdirrahman, karena yang ma’ruf abdurrahman.

  4. ana harap para ikhwan yg awan seperti ana jangn ada terbesit dalam hati kita merendahkan para ulama dalam membaca tulisan ini krn bgaimana pun syaikh yahya,syaikh robi’ adalah ulama tidak maksum yg maksum hanya rasulullah tanpa mengurangi kemuliyaan mereka ulama salafiyah yg kita cinta bersama

Comments are closed.