images (10)

Siapakah Ali bin Husain Al-Huzaifi A.K.A Abu Ammar (Syaikh)

Salah satu trik licik yang sering digunakan oleh Lukmaniyyun dalam melindungi diri mereka dari jilatan api fitnah yang mereka nyalakan bila sewaktu-waktu menyerang mereka sendiri, adalah dengan mempromosikan “Syaikh jadi-jadian” (meminjam bahasa Lukman Ba’abduh sewaktu mengkritik utusan Syaikh Yahya ke Indonesia) untuk “berkhotbah” ketika fitnah sudah tak terbendung lagi supaya para awwam salafiyyun yang masih ada di bawah sana, tetap tenang hatinya dalam keadaan fitnah berkecamuk dimana-mana, seakan-akan dalam setiap fitnah yang dilakukan oleh Lukman Ba’abduh mereka itu benar terus dan tidak ada salahnya sedikitipun. Sehingga apapun fitnah yang mereka buat selalu saja benar, karena terdapat Syaikh yang menolong dan melindungi mereka, siapapun orangnya sehingga awam salafy terus dan terus saja terhipnotis dengan manhaj batil yang di usung oleh Lukmaniyyun ini.

Perhatikan, sebelum terjadi fitnah, “syaikh jadi-jadian” ini seakan tak pernah lahir ke dunia dan mengalami proses perkembangan bersama para salafiyyun Indonesia, namun setelah muncul fitnah tiba-tiba ia muncul begitu saja tanpa mengalami proses kelahiran. Aneh bin ajaib. Bagaimana bisa salafiyyun merujuk pada orang-orang kagetan seperti ini?

Dalam setiap fitnah yang dikobarkan oleh Lukman Ba’abduh Cs, sepanjang pengamatan kami ada beberapa Syaikh jadi-jadian yang sudah naik turun pentas teater yang mereka mainkan. Memang saat itu kami tidak terlalu berminat menanggapi syaikh jadi-jadian tersebut, namun kali ini baru ada hasrat untuk menanggapinya. Mudah-mudahan menjadi bekal bagi orang berakal.

Siapakah Ali bin Husain Al-Huzaifi? 

Laki-laki ini lahir pada 1389 H/1969 M atau sekitar 45 tahun yang lalu, di daerah Khor Maksar kota Aden. Kemudian berhijrah ke distrik Qolu’ah dan disanalah ia tumbuh dan mengenyam pendidikan dasar dalam bidang agama..

Pada 1990 M ia masuk Ma’had Darul Hadits Dammaj. Itu artinya ia datang setelah Syaikh Yahya berada di Darul Hadits sekitar 6-7 tahunan atau sekitar 7 tahun setelah Ma’had Darul Hadits Dammaj didirikan saat Syaikh Yahya datang pertama kali ke sana untuk menimba ilmu dari Syaikh Muqbil.

Dan ini yang tidak disangka-sangka rupanya Hani bin Buraik juga ada di Ma’had Darul Hadits ini,:mrgreen:, mengejutkan bukan?😛

Ya ini akan mengejutkan bagi para pendatang baru dalam dakwah salafiyah Yamaniyah ini. Sayangnya saat itu Hani bin Buraik tidak seterkenal sekarang ini kecuali hanya sekedar mendomplang nama besar Syaikh Rabi dan Ubaid Al-Jabiri.

Bandingkan dengan Lukman Ba’abduh yang “bisa dibilang” termasuk generasi awal orang Indonesia yang belajar ke Dammaj saat itu,  betapa ia masih bau kencur sekali saat ia menginjakkan kakinya ke Dammaj tahun 1994 kala itu. Bahkan boleh jadi saat banyak santri sudah keluar dari dari Dammaj Lukman Ba’abduh tidak mengenal mereka, sejak Darul Hadits dammaj didirikan oleh Syaikh Muqbil pada tahun 1978 M.

Baik, langsung saja ke inti persoalan, sebenarnya di Dammaj ada banyak orang seperti Ali bin Husain Al-Huzaifi ini, termasuk Hani bin Buraik, tinggal dicopot sana-sini sesuka kita lalu dilabeli gelar “Syaikh” bahkan ‘Al-Allamah” (bila perlu) kemudian dijadikan “boneka” untuk menghotbahi salafiyyun Indonesia agar tetap yakin dengan manhaj batil yang diusung oleh Lukman Ba’abduh ini, setelah urusan selesai ia bisa kita kembalikan lagi ke tempatnya semula. Mudah bukan?

Ali bin Husain Al-Huzaifi ini maupun Hani bin Buraik ini sebenarnya bukanlah orang yang memiliki kredibelitas tinggi di mata Syaikh Muqbil untuk diambil ilmunya. Mereka berdua hanyalah murid biasa sebagaimana murid-murid Syaikh Muqbil yang lainnya yang masih ada hingga hari ini tak terkecuali mereka yang kini masih bersama Syaikh Yahya dan ikut menjalankan wasiat Syaikh Muqbil untuk mengelola Dammaj.

Bahkan Ali bin Husain Al-Huzaifi ini pun sering kali beristifadah (mengambil faidah keilmuan) dari santri-santri senior sebelumnya, seperti Abdullah dan Abdurrahman Al-Mar’i, dll semasa ia di Dammaj, terkhusus Al-Wushaibi yang ia jadikan sandaran. Dan sekarang ia dipersiapkan oleh Lukmaniyyun untuk melawan mereka yang telah mengajarinya di Dammaj.😛

Coba lihat betapa bodohnya orang ini, mau saja ia dibodoh-bodohi oleh Lukmaniyyun, guru-gurunya yang mengajari mereka secara langsung berani mereka lawan, apalagi Ali bin Husain Al-Huzaifi? yang tidak memiliki kredibilitas sama sekali!

Secara khusus, dari segi jarh dan ta’dil kami tidak memukan pujian dari Syaikh Muqbil kepadanya begitupun celaan padanya. Bandingkan dengan 7 ulama Yaman lainnya yang dipuji Syaikh Muqbil, terutama Syaikh Yahya Al-Hajuri yang telah dipuji dengan pujian khusus bahkan diamanahi untuk menduduki singgasana Syaikh Muqbil.

Dalam ilmu jarh wa ta’dil orang seperti ini (Ali bin Husain Al-Huzaifi) biasanya digelari dengan “majhul” bahkan secara spesifik ia digelari dengan “majhul hal” karena tidak memiliki kredibiltas di mata Syaikh Muqbil.

Dan sekarang, bagaimana bisa di tengah fitnah yang bergejolak seperti ini orang kagetan seperti Ali bin Husain Al-Huzaifi dijadikan sandaran dalam mengamputasi fitnah Yaman yang sudah mulai menjalar kemana-mana di saat ulama-ulama yang memiliki kredibilitas di mata Syaikh Muqbil berdiri kokoh?

Mudah-mudahan mereka semua tidak terkena hadits berikut ini.

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ ثَلاَثًا: إِحْدَاهُنَّ: أَنْ يَلْتَمِسَ الْعِلْمَ عِنْدَ اْلأَصَاغِرِ.

“Ada tiga hal yang termasuk tanda-tanda Kiamat, salah satunya: ilmu diambil dari orang-orang kecil (bodoh).’” (HR. Ibnul Mubarak dalam Kitab Az-Zuhd, no: 61)

dan hadits Muttafaqun Alaihi berikut ini,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hambaNya sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim-pun, orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain”.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan semoga menjadi pelajaran bagi orang-orang berakal. Wallahu a’lam.

8 thoughts on “Siapakah Ali bin Husain Al-Huzaifi A.K.A Abu Ammar (Syaikh)”

  1. orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh (Hani Bin Buraik). Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain

  2. @.Haai all, jelas-sekarang yaah.
    Yaah suka-suka buanget mulai terungkap dah.
    Siapa-siapa yang mulai menyebar fitnah
    Sakiit hatiku ketika syaikh iryani disebut sy jadi-jadian.

    Masa yang mengundang syaikh ,tdk tahu kadar keilmuan syaikh y diundang itu.sedang ust y mengundang itu jadi santri selama 15 th.di dammaj. tdk sprti yang menyebar fitnah,brp tahun?pak jamarto y paling th.

    Walau ilmuku cuma bisa hafalan juz amma doang .tapi
    GREGETAN dah baca tuduhan2 orang2 yang merasa pinter.

    BUKALAH. HATIMU. YANG PALING DALAM

    ############################################

  3. kasihan dengan web tukpencarialhaq.com sekarang ia sudah jatuh miskin karena kibar sudah semakin sulit ditemukan di sana, benar kata admin, dengan hadits di atas.
    “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hambaNya sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang ‘alim-pun, orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain”.
    #
    sekarang nama2 yg sering menghiasinya adalah para ashaghir seperti Ali bin Husain dan Habi Buraik.

  4. Syaikh jadi-jadian ??

    Lucu aja kalo gue dengar rekamannya di sini :

    http://oaseilmuulama.blog.com/2013/04/25/untukmu-tentang-asy-syaikh-abdullah-al-iryaniy-bingkisan-spesial-untuk-luqman-baabduh-dan-sahabat-sahabatku-yang-masih-ada-di-hatinya-semangat-mencari-al-haq/

    kayak dipaksakan banget statemennya… apalagi ceramahnya di masjid umum, dalam acara dauroh umum lagi, gile banget…… yang hadir ya ada yang awamnya juga. katanya sih sampai ada hadirin yang sempet tanya kok dauroh isinya ghibah….

    weleh weleh …. yang disalahkan dainya yang terlalu pinter atau mad’unya yang terlalu kuper ya ????

    BTW, tetangga sebelah kok gak ada yang mampir ya ??
    apa lagi pada sibuk dengan SYAIKH SYAIKH baru nya…
    yah mungkin perlu kenal dulu kali sama nama-nama baru yang muncul di situs kesayangan (tukpencarialhaq.com)

    TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

    kenali baek-baek lho, biar gak sakit ati nanti….

    @lewer dkk dll … kemana ya ??? Gue kangen nih…

Comments are closed.