images

Mana yang Lebih Sesat dan Menyesatkan Syaikh Ubaid Al-Jabiri Atau Yahya Al-Hajuri?

Baru-baru ini situs tukpencarialhaq.com merilis sesi tanya jawab dengan Syaikh Ubaid Al-Jabiri mengenai ketergelinciran Al-Imam terkait sikapnya yang “berteman mesra” dengan Rafidhah Hutsi namun di akhir tanya jawab tersebut muncul kritikan pedas terhadap Syaikh Yahya, yang berbunyi:

غيرَ إنَّ الحجوري الضآل المُضِل المخذول خَذَلَ المُجاهدين وذلكَ أنهُ أَمرَهُم -أعني أتباعهُ من الجُهّال- أن يصدّوا عن المركز خلوكم هكذا مع المركز، والمركز فيهِ رجل يقرأَ في كتاب الطهارة أظن من بلوغ المرام أو غيرهِ وليس حولهُ أحد أُنظروا !

هذا الظاهر أظنهُ بل أتيّقَن أنهُ مدسوسٌ آخَر على أهل السُنة وعلى دعوة الشيخ مُقبِل -رحمهُ الله- نعم.

Lalu diterjemahkan oleh situs ini:

Namun al-Hajuri yang sesat menyesatkan serta terhina, telah menyia-nyiakan para mujahidin. Yaitu dia memerintahkan mereka – yakni para pengikutnya yang bodoh – untuk meninggalkan markiz. Dia membiarkan kalian sedemikan rupa, bersama markiz.
Markiz tersebut (yakni Dammaj, pen) padanya ada seorang yang mengajar Kitab Thaharah, aku kira dari Bulughul Maram atau lainya. Tidak ada seorang pun di sekitarnya. Lihatlah. Ini yang tampak, aku menduga – bahkan aku yakin dia itu PENYUSUP LAINNYA LAGI terhadap dakwah Ahlus Sunnah dan terhadap dakwah asy-Syaikh Muqbil rahimahullah.

dari kritikan ini setidaknya kita bisa mengambil beberapa point yang bisa disimpulkan terkait tuduhannya terhadap Syaikh Yahya:

1. Al-Hajuri menjadi sesat dan menyesatkan karena menyuruh murid-muridnya meninggalkan Dammaj yang otomatis berkonsekusensi terhadap matinya Jihad. dan ini tidak ada ubahnya dengan perangai Al-Imam yang menolak berjihad melawan Rafidhoh.

2. Terdapat laki-laki yang bertahan di Dammaj dan kini masih mengajar Bulughul Maram.

3. Al-Hajuri adalah Penyusup terhadap dakwah Syaikh Muqbil di Dammaj, sama seperti Al-Imam yang ia tuduh karena keduanya sama-sama tidak berjihad melawab Rafidhoh.

Baik, sekarang Penulis akan mencoba menjernihkan persoalan ini, apakah benar Syaikh Yahya seperti yang dikatakan Syaikh Ubaid atau tidak?

Point 1: Menjawab tuduhan yang pertama ini, sebenarnya sangat mudah sekali. Justru kami menjadi sangat heran dan bertanya-tanya bagaimana bisa seorang Alim seperti Syaikh Ubaid bisa berkesimpulan demikian.

Dalam tulisan di bulan januari yang lalu kami sebenarnya sempat membahas hal ini. Silahkan di buka kembali di sini.

https://predatortukpencarialhaq.wordpress.com/2014/01/17/update-dammaj-1/

Itu dari sisi fakta dan realitasnya, lantas bagaimana dari sisi nash agama?

Dalam Nash agama dijelaskan bahwa lari dari jihad adalah sebuah penyimpangan yang dapat membawa kemurkaan Allah dan pelakunya diancam masuk neraka.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ  وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. dan amat buruklah tempat kembalinya (Al anfal : 15-16)

Hadits Nabi:

اجتنبوا السبع الموبقات، قالوا : يا رسول الله وما هن، قال : الشرك بالله، والسحر، وقتل النفس التي حرم الله إلا بالحق، وأكل الربا، وأكل مال اليتيم، والتولي يوم الزحف، وقذف المحصنات الغافلات المؤمنات

Jauhilah tujuh dosa yang membawa kehancuran , para sahabat bertanya : Apakah ketujuh perkara itu ya Rasulullah ?, beliau menjawab : yaitu syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan oleh agama, makan riba, makan harta anak yatim, membelot dari peperangan, menuduh zina terhadap wanita yang terjaga dirinya dari perbuatan dosa dan tidak memikirkan untuk melakukan dosa, dan beriman kepada Allah (Muttafaq Alaih)

Bagi pembaca yang lebih ingin mendalami hukum lari dari medan jihad dapat membuka bab Jihad dalam berbagai kitab Fiqih atau kitab yang khusus membahas tentang Jihad. Penulis di sini memang tidak ingin berpanjang lebar membahas hal ini karena kedua dalil di atas sudah sangat jelas sekali dalam menjelaskan permasalahan ini.

Baik di sini tinggal kita dudukan masalahnya, apakah kasus keluarnya Syaikh Yahya itu dapat dikategorikan kabur dari Medan Jihad sebagaimana yang dibicarakan oleh Al-Quran dan hadits Nabi di atas?

Dalam menjawab persoalan ini maka pertama-tama kita lihat dulu konteks ayat tersebut.

Disebutkan dalam Tafsir Ath-Thabari dan tafsir-tafsir lainnya, pada bahasan surat Al-Anfal bahwa ayat tersebut turun bagi para mujahidin yang bertempur di Badar. Dimana saat itu pasukan Abu Sufyan/Abu Jahal datang dari Mekah, Pasukan Rasulullah datang dari Madinah lalu kedua pasukan ini bertemu dan bertempur di Badar hingga peperangan pun dimenangkan oleh kaum muslimin dalam jumlah yang sedikit. Sebenarnya tidak sedikit tapi banyak sekali karena tentara Allah yang turun dari langit itu banyak sekali, yaitu 5000 malaikat tempur. Lihat surat Ali Imran: 123-126.

Mengenai fragmen ayat: Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang

Sepanjang penelitian kami, kami tidak menemukan adanya oknum kaum muslimin yang membelot seperti kasus Tabuk, kecuali sebatas cerita Ibnu Hisyam dalam sirahnya, bahwa hal ini dilatar belakangi oleh usul Al-Hubab bin Mundzir kepada Rasulullah yang sedang menantikan kedatangan pasukan musuh di dekat mata air Badar untuk segera merubah posisi ke sumur Badar agar pasokan air yang banyak dikuasai oleh kaum muslimin sehingga di saat Perang nantinya pasukan musuh cepat mengalami kelelahan karena tiadanya persediaan air.

Disebutkan di sana:

قَالَ ابْنُ إسْحَاقَ: فَحُدِّثْتُ عَنْ رِجَالٍ مِنْ بَنِي سَلِمَةَ، أَنَّهُمْ ذَكَرُوا: أَنَّ الْحُبَابَ بْنَ الْمُنْذِرِ بْنِ الْجَمُوحِ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ هَذَا الْمَنْزِلَ، أَمَنْزِلًا أَنْزَلَكَهُ اللَّهُ لَيْسَ لَنَا أَنْ نَتَقَدَّمَهُ، وَلَا نَتَأَخَّرَ عَنْهُ، أَمْ هُوَ الرَّأْيُ وَالْحَرْبُ وَالْمَكِيدَةُ؟
قَالَ: بَلْ هُوَ الرَّأْيُ وَالْحَرْبُ وَالْمَكِيدَةُ؟ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَإِنَّ هَذَا لَيْسَ بِمَنْزِلِ، فَانْهَضْ بِالنَّاسِ حَتَّى نَأْتِيَ أَدْنَى مَاءٍ مِنْ الْقَوْمِ، فَنَنْزِلَهُ، ثُمَّ نُغَوِّرُ مَا وَرَاءَهُ مِنْ الْقُلُبِ، ثُمَّ نَبْنِي عَلَيْهِ حَوْضًا فَنَمْلَؤُهُ مَاءً، ثُمَّ نُقَاتِلُ الْقَوْمَ، فَنَشْرَبُ وَلَا يَشْرَبُونَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ أَشَرْتَ بِالرَّأْيِ. فَنَهَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ مَعَهُ مِنْ النَّاسِ، فَسَارَ حَتَّى إذَا أَتَى أَدْنَى مَاءٍ مِنْ الْقَوْمِ نَزَلَ عَلَيْهِ، ثُمَّ أَمَرَ بِالْقُلُبِ فَغُوِّرَتْ، وَبَنَى حَوْضًا عَلَى الْقَلِيبِ الَّذِي نَزَلَ عَلَيْهِ، فَمُلِئَ مَاءً، ثُمَّ قَذَفُوا فِيهِ الْآنِيَةَ.

Ibnu Ishaq berkata: saya diberitahu sebuah berita yang berasal dari orang-orang Bani Salamah. Mereka bercerita:

Al-Hubab bin Mundzir bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapat anda tentang posisi ini? Apakah posisi ini diwahyukan oleh Allah sehingga kita tidak boleh maju atau mundur? Ataukah ini hanya pendapat, siasat dan taktik perang saja?” Beliau menjawab: “Ini hanya pendapat, siasat dan taktik perang saja.”

Al-Hubab bin Mundzir berkata: “Wahai Rasulullah, posisi ini kurang tepat, bawalah orang-orang ini ke sumur yang paling dekat dengan posisi musuh. kita kuasai sumur itu lalu yang lainnya kita rusak. Kita membuat telaga besar lalu kita penuhi air. Kemudian baru kita perangi mereka, kita bisa minum sementara mereka tidak bisa.” Rasulullah bersabda kepada al-Habab, “Engkau telah menyampaikan pendapat yang jitu.” Rasulullah dan orang-orang pun menyetujuinya dan melakukannya, beliau lalu memberi aba-aba kepada kaum Muslimin untuk segera pindah ke tempat yang telah diusulkan oleh Hubab. Di sana mereka membuat telaga besar yang dipenuhi air dan mereka pun bisa mengambil air dengan timba/wadah.

Sirah Ibnu Hisyam. Bab: Ghazwah Shafwan wa Hiya Ghazwa Badr Al-Ula, sub bab: Mansyurah Al-Hubab Ala Rasulillah.

Baik, setelah jelas bagi kita konteks kejadian ayat ini, tinggal sekarang kita arahkan kembali kasus Syaikh Yahya yang keluar Dammaj apakah bisa hal ini disebut sebagai kabur dari Jihad sebagaimana tuduhan Syaikh Ubaid?

Bila kita menengok peperangan di masa Nabi maka tidak pernah kita temukan peperangan yang terjadi langsung di Jantung kota Madinah, lokasi dimana Nabi dan mayoritas kaum muslimin bertempat tinggal. Hampir semua peperangan Nabi terjadi di Medan tempur dan satu-satunya peperangan yang “hampir mirip” dengan Kasus Dammaj adalah peperangan Khondaq atau Ahzab, yaitu dimana Musuh menyerbu Masuk ke Rahim Madinah melalui Arah Utara Madinah.

Perhatikan ilustrasi Penyerbuan Maut mereka di bawah ini.

Ket:

  1. Yang bergaris dan bertanda panah merah adalah posisi kedatangan pasukan Musuh dari Arah Utara.
  2. Yang bergaris merah terputus-putus (berbentuk kotak) adalah pasukan musuh yang terdiri dari Kafir Quraisy dan Yahudi Bani Nazhir (Ahzab)
  3. Yang bergaris Biru tebal adalah Khandaq/Parit yang dibangun berdasarkan ide dari Salman Al-Farisi.

Dan kasus ini pun berbeda dengan Dammaj,  perhatikan ilustrasi bagaimana Syiah Hutsi melakukan serbuan Maut mereka.

Inilah adalah Ma’had Darul Hadits sebelum kehancurannya. Indah bukan? Sekarang Kita akan mencoba memperbesar wilayah d sekitarnya.

*^*

1

Ini adalah Ma’had Darul Hadits yang diapit oleh Lembah Dammaj. Kita perbesar lagi, agar lebih jelas.

*^*

2

Yang bergaris merah adalah zona kekuasaan Syiah Hutsi. Dan ini sudah berlangsung cukup lama.

#

Baik di sini Penulis akan menjelaskan letak perbedaan dan kesulitan Kasus Dammaj dan Kasus  Khandaq.

Untuk Kasus Khandaq, Musuh itu datang dari Luar dan menyerbu dari arah pintu masuk sehingga bisa diakali dengan Khandaq (parit) agar mereka dapat dipukul mundur, sementara untuk Kasus Dammaj Musuh itu sudah ada dari dulu di Dammaj dan mengelilingi Dammaj. Hal ini biasa disebut dengan bahaya laten atau hampir mirip bom waktu.

Bisa dibayangkan betapa rumitnya untuk mengalahkan musuh yang berada dalam posisi menguntungkan seperti Syiah Hutsi.

Ilustrasi sederhana dari serbuan mereka ini mirip dengan ketika Anda yang berjalan di sebuah jalan yang dikelilingi pergunungan atau diapit dua gunung, lalu jalan masuk dan keluar ditutup kemudian Anda dilempari dengan batu-batu yang menggelinding dari atas sana, kira-kira bagaimana Anda bisa menyelamatkan diri?

Lalu apa karena dikepung seperti ini lantas Salafiyyun Dammaj menyerah?

Tidak! Salafiyyun Dammaj berperang tanpa pernah menyerah sedikitpun hingga titik darah penghabisan.

Lalu mengapa peperangan/JIhad dihentikan?

Inilah yang persoalan yang tidak dimengerti oleh Syaikh Ubaid Al-Jabiri yang karenanya ia mengata-ngatai Syaikh Yahya “Sesat dan Menyesatkan”

Pembca budiman, perlu Anda tahu bahwa telah menjadi berita mutawatir baik di media konvensional maupun media Islam bahwa Pemerintah Yaman lah yang meminta Syaikh Yahya dan warga Dammaj keluar dari Dammaj! Jadi sangat disesalkan memang ucapan sesat dan menyesatkan bisa keluar dari lisan Syaikh Ubaid dalam keadaan berita itu tersebar dimana-dimana. Apakah beliau tidak mendengar berita tersebut? Wallahu a’lam.

Lantas apa alasan pemerintah Yaman meminta Syaikh Yahya dan warga Dammaj keluar dari sana.

Disebabkan Syiah Hutsi begitu frustasi dengan dengan para Mujahidin Dammaj yang tidak mampu juga ditaklukan dalam rentang waktu 4 bulan dengan “posisi yang empuk” seperti itu maka mereka meminta bantuan Internasional, yaitu Amerika dan Eropa terutama Inggris dan Perancis untuk membom (meluluh lantakkan) Dammaj dengan pesawat tempur mereka melalui permainan politik kotor Iran.

Iran ini kotor ya ikhwan, mereka inilah dalang dari Syiah Hutsi di Yaman. Bagi Anda yang ingin tahu betapa kotornya mereka silahkan Anda baca tentang kasus Irangate.

Intinya benci Amerika hanyalah slogan saja, padahal merekalah yang terdepan dalam persekutuannya dengan Amerika.

Bisa dibayangkan bagaimana pedihnya Dammaj, sudah ia diserang dari gunung-gunung yang mengelilinginya kini ia malah harus dihancur leburkan lagi  melalui bom-bom yang dijatuhkan oleh Amerika dan Eropa dari atas langit sana dalam keadaan Amunisi senjata mereka yang sudah menipis karena terus digunakan selama empat bulan tanpa disuplai kembali, begitupula dengan bahan pangan dan obat-obatan lainnya, maka kira-kira dengan apakah Dammaj dapat melawan agresi Syiah Hutsi, Amerika dan Eropa? Silahkan gunakan nalar Anda.

Afghanistan, Irak, Libia, itu semua adalah negara besar dan apa yang terjadi dengan mereka kala mereka melawan agresi militer Amerika dan Sekutunya?

Mereka hancur berkeping-keping, lantas bagaimana dengan Dammaj yang hanya satu kampung itu? apalagi dengan senjata ala kadarnya.

Dengan apa coba mereka harus melawan kekuatan besar seperti itu?

Apakah dakwah/ajakan Syaikh Ubaid untuk berjihad melawan Hutsi yang dibeking Iran, Amerika dan Eropa mampu membuat keajaiban bagi warga Dammaj sehingga mereka mampu mengalahkan Tirani Dunia seperti itu?

Dimanakah akal sehat Anda wahai pembaca?

Apakah Anda akan menjawab: Insya Allah bisa dengan doa Syaikh Ubaid dan Syaikh Rabi.😛 . Kalau perlu doa dari Al-Allamah AL-Faqih Lukman Ba’abduh.:mrgreen:

Ingat, Jihad itu harus dengan kekuatan,

 وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi” (Al-Anfal: 60)

bukan dengan “omong kosong” seperti ajakan Syaikh Ubaid ini, karena itu berdampak pada “mati konyol”, . Tanpa kekuatan jihad tidak bisa digelorakan, hal itu bisa kita lihat dari kasus Hijrahnya Nabi dan pengikutnya dari Mekah disebabkan mereka terus ditindas oleh kafir Quraisy, dan tidak ada perintah berjihad bagi mereka saat itu kecuali berhijrah semata. Dan setelah mereka mendapat kekuatan di Madinah barulah mereka berjihad.

Kembali ke inti pembicaraan, berdasarkan pertimbangan antara “mati konyol” atau “dipaksa keluar hidup-hidup” dari Dammaj maka Presiden Yaman meminta Syaikh Yahya dan warga Dammaj agar mau direlokasi sesegera mungkin ke Hudaidah agar serangan Amerika dan Eropa dapat dicegah sedini mungkin.

Dan Syaikh Yahya pun menyetujui usulan tersebut. Alasannya sudah kami sebutkan dalam postingan di bulan Januari waktu itu. Kami sebutkan kembali di sini.

لماذا وافق الشيخ يحي الحجوري على التهجير القسري من دماج ؟
الخميس 16 يناير 2014 الساعة 15:12

كتب القيادي في حزب الرشاد عبد الوهاب الحميقاني في صفحته بالفيسبوك عن أسباب موافقة الشيخ الحجوري الخروج من دماج.

نص ما كتب

لما أصبح بين خياري القتل الجماعي أوالتهجير القسري بعد حصار وتقتيل لهم دام أكثر من ثلاثة أشهر ونفاد ما لديهم من ضروريات الحياة والتضحية بأكثر من 800 شهيد وجريح داخل دماج وحدها في ظل صمت رهيب من الدولة ومؤسساتها والقوى السياسية والمجتمعية

بل إن الدولة أبلغته عجزها عن حماية أهل دماج وإيقاف تقدم مليشيات الحوثي

عندها الشيخ يحيى الحجوري وفقه الله لمرضاته رأى أن الحفاظ على أنفس وحياة الناس هو الواجب المتحتم

وقد بين لنا عندما زرناه بأنه لو قدمت له اللجنة الرئاسية التراب لوقع عليه لأجل انقاذ أهل دماج بعدما أصبحوا أمام خياري الموت أو التهجير

Pimpinan Umum dari Partai Al-Rasyad yang bernama Abdul Wahab Al-Hamiqani menulis dalam laman facebooknya tentang sebab mengapa Syaikh Yahya Al-Hajuri setuju direlokasi dari Dammaj.

Inilah petikan tulisannya.

Ketika saya dihadapkan pada pilihan antara di-genosida (dibunuh secara massal) atau dikeluarkan secara paksa usai pengepungan dan pembunuhan yang terjadi pada mereka selama lebih dari 3 bulan dalam keadaan kehabisan bekal hidup serta terbunuhnya lebih dari 800 jiwa beserta korban luka-luka di dalam lembah Dammaj secara tersendiri dalam keadaan yang sunyi senyap dan menyeramkan dari negara ini (Yaman) beserta yayasan/lembaganya dan elemen politik dan sosialnya yang kuat.

Bahkan negara ini telah gagal melindungi penduduk dammaj serta menghentikan agresi militan Syiah Hutsi…

…..

Lalu Syaikh Yahya –semoga mendapatkan keridhaan dari Allah– melihat/memandang bahwasanya menjaga nyawa dan kehidupan manusia adalah kewajiban yang harus didahulukan.

Dan beliau menjelaskan kepada kami sewaktu kami mengunjugi beliau bahwa seandainya saja Komisi Presiden, yakni At-Turob mendatangi beliau maka beliau akan benar-benar ingin menjaga nyawa dan kehidupan manusia demi menolong warga Dammaj setelah muncul dua pilihan yang harus beliau pilih,  mati konyol atau diusir paksa.

sumber: http://www.newsyemen.net/news4371.html

Jadi kembali ke persoalan utama, sangat disayangkan memang melihat sikap Syaikh Ubaid Al-Jabiri, tidak tahu hakikat yang terjadi tapi sudah malah seenak lisannya mengatakan Syaikh Yahya Sesat dan Menyesatkan. Padahal dalam Al-Quran telah diterangkan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (Al Isra: 36)

Bicara “sesat dan menyesatkan” ini menjadi menarik bila kita kembalikan kepada Al-Quran dan As-Sunnah, apakah benar mematuhi Ulil Amri dalam hal ini adalah pemerintahan/presiden Yaman adalah perbuatan sesat dan menyesatkan?

Sejauh ini kami tidak pernah menemukan dalil baik dari Al-Quran maupun Al-Hadits yang menyatakan bahwa taat pada pemimpin adalah perbuatan sesat dan menyesatkan, justru sebaliknya itu adalah perbuatan terpuji,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ »

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bagi setiap muslim, wajib taat dan mendengar kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai maupun hal yang tidak disukai (dibenci) kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat.” Muttafaqun ‘alaih.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ أَطَاعَنِى فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ يَعْصِنِى فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعِ الأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِى وَمَنْ يَعْصِ الأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِى

Barangsiapa mentaatiku, maka ia berarti mentaati Allah. Barangsiapa yang  tidak mentaatiku berarti ia tidak mentaati Allah. Barangsiapa yang taat pada pemimpin berarti ia mentaatiku. Barangsiapa yang tidak mentaatiku berarti ia tidak mentaatiku.” (HR. Bukhari).

Apakah menjaga nyawa manusia dari mati konyol adalah kemaksiatan? Apakah warga Dammaj harus taat kepada fatwa Syaikh Ubaid dari pada pemerintahan mereka sendiri yang mengajak kepada kebaikan?

dan kami kira Syaikh Ubaid pun tidak mungkin meyakini bahwa taat pada pemimpin adalah sebuah kesesatan.

Lantas kenapa beliau menyesatkan Syaikh Yahya? Tentu ini karena Syaikh Yahya menghentikan Jihad melawan Syiah Hutsi yang mana hal tersebut memang diperintahkan oleh Pemerintahan Yaman mengingat tidak seimbangnya kekuatan tempur yang dimiliki Dammaj untuk melawan tiga musuh sekaligus, yaitu Syiah hutsi, Amerika dan Eropa.

Artinya kalau Syaikh Yahya tetap nekad melawan mereka sebagaimana yang dimaukan Syaikh Ubaid itu artinya Syaikh Yahya dan warga Dammaj ingin mati konyol seperti yang kami utarakan.

Lain cerita kalau Syaikh Ubaid seumpamanya membujuk Raja Abdullah (itu juga kalau beliau punya pengaruh) agar mengerahkan Militer Saudi untuk memberangus Syiah Hutsi dan menyogok Amerika dan Eropa agar jangan mendengarkan katanya Iran.

Baik permasalahan ini semakin terang, apakah ketika pemerintahan meminta agar Jihad dihentikan dalam keadaan kekuatan kaum muslimin melemah harus dituruti sebagaimana langkah Syaikh Yahya atau tidak (yakni terus bertempur) sebagaimana keyakinan Syaikh Ubaid.

Untuk memecahkan masalah ini mari kita simak Firman Allah berikut ini.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa: 59)

Katakanlah kita sudah taat pada pemimpin kita, yakni Syaikh Yahya dan warga Dammaj sudah sepakat dengan presiden untuk direlokasi keluar Dammaj, namun tertinggal satu masalah lagi, yaitu Syaikh Ubaid, Syaikh Ubaid tidak setuju dengan hal ini.

Maka untuk menyelesaikannya berlakulah firman Allah berikut ini:

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Pertanyaannya: Bagaimana kita mengembalikan hal ini kepada Allah dan Rasulnya?

Untuk mengembalikan kepada Allah dan Rasulnya kami sendiri di awal sudah mencoba memberi pengantar mengenai kasus Jihad yang offline.

Pada surat Al-Anfal terdahulu sudah dijelaskan bahwa kabur dari Jihad diancam mendapat murka Allah dan masuk neraka Jahannam. dan di hadits Nabi hal ini dimasukkan ke dalam 7 dosa yang membinasakan.

Lalu kami jelaskan juga benang merah kasus Dammaj dan kasus Khandaq dimana keduanya sama-sama dikelilingi lembah, perbedaannya hanyalah musuh di Khondaq menyerang dari arah depan sementara musuh di Dammaj menyerah dari berbagai sisi lembah yang mengelilingi Dammaj. Hasilnya: Perang Khandaq dimenangkan kaum muslimin, perang Dammaj dimenangkan oleh Syiah Hutsi.

Sekarang bagaimana?

Kenyataannya yang terjadi sekarang adalah Syaikh Yahya dan warga Dammaj yang sudah direlokasi dan sudah tidak lagi berjihad melawan Hutsi, jadi apakah ia dapat dianggap lari dari Jihad sebagaimana yang diancam dalam surat Al-Anfal dan Hadits Nabi di atas?

Baik, mari kita coba selesaikan dengan jernih…

Pertama: Ayat Al-Quran itu banyak, hadis juga banyak ragamnya, satu-satunya cara tepat untuk menyelesaikan suatu permasalahan adalah dengan mencari koherensi antara persoalan dengan dalil-dalil tersebut, jangan sampai kita menggunakan dalil-dalil yang tidak tepat untuk mencocokkan napsu kita yang sudah memiliki jawaban terlebih dahulu atas persoalan tersebut.

Kedua: Kasus Dammaj setelah kami teliti dalam-dalam ternyata tidak tepat diberlakukan padanya Ayat dan hadits di atas, karena itu terjadi dalam kondisi perang, sementara keluarnya Syaikh Yahya dan warga dammaj adalah di saat terjadinya rekonsiliasi antara Pemerintah Yaman (yang menjamin keamanan dan keselamatan Syaikh Yahya dan warga Dammaj yang mengikutinya) dengan Syiah Hutsi, Amerika dan Eropa terkait keadaan Dammaj ke depannya.

Ketiga: Kabur dari Perang (berhenti berjihad) yang dimaksud dalam ayat Al-Anfal dan Hadis di atas, yaitu kabur dari Perang yang terjadi di medan tempur yang terbuka, karena kasuistik ayat tersebut turun pada fase perang Badar bukan perang Khandaq yang mana kaum Muslimin yang tinggal di Madinah diserbu dari luar. Atau gambaran kekiniannya ada pada Dammaj dimana perkampungan mereka diserbu oleh pihak musuh dari berbagai sisi. Jadi sangat tidak tepat kalau keluar dari Dammaj dan tidak berjihad lagi dianggap kabur atau berhenti berjihad.

Keempat: terdapat Ayat-ayat yang benar-benar menggambarkan kondisi warga Dammaj saat mereka direlokasi keluar Dammaj.

 إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Baqarah: 218)

 فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

“Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (Ali Imran: 195)

Catatan: Syaikh Yahya dan warga Dammaj sudah berperang mempertahankan kemulian mereka, banyak juga yang tewas terbunuh kemudian mereka diusir paksa oleh pemerintahan Yaman dari Dammaj. Lalu apakah Syaikh Ubaid sudah berperang?😛

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ 41

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui” (An-Nahl: 41)

Catatan: Lihatlah nikmat yang didapat oleh Syaikh Yahya dan warga Dammaj ketika mereka sampai di Hudaidah dan Shan’an. Allah benar-benar memberikan mereka tempat yang bagus di dunia ini.

Sebenarnya persoalan ini tidak sepanjang pemaparan ini. karena pada fragmen ayat: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Syaikh Yahya dan warga Dammaj sudah taat pada pemerintah, dan tidak ada silang sengketa di antara mereka dalam keputusan ini.

Urusan dengan Syaikh Ubaid itu sebenarnya tidak ada dan tidak pernah ada, karena Syaikh Ubaid orang luar, tidak berlaku baginya ayat ini, karena ayat ini hanya berlaku pada pemerintah (Penguasa Yaman) dan yang diperintah (warga Dammaj), sementara Syaikh Ubaid adalah orang luar, alias warga Saudi.

Jadi Syaikh Ubaid tidak punya urusan sama sekali dalam hal ini, semua ucapan Syaikh Ubaid adalah kosong belaka.

Mudah-mudahan Allah terus mengokohkan Syaikh Yahya meskipun manusia di dunia membencinya. Baik, sekarang kita lanjut ke point ke 2.

***

Point 2: Terdapat laki-laki yang bertahan di Dammaj dan kini masih mengajar Bulughul Maram.

Yang kami tahu Syaikh orang ini bukan bagian dari Darul Hadits Dammaj dalam kepemimpinan Syaikh Yahya. Jadi wajar saja kalau ia tidak ikut. Kenapa pula ia dihubungkan dengan Syaikh Yahya dan kenapa pula Syaikh Yahya dijadikan kambing hitam atas keberadaannya di Dammaj.

Justru orang seperti ini harus ditanyakan kesetiaannya terhadap Pemerintah, pemerintah meminta warga Dammaj agar direlokasi kenapa mereka malah tidak mentaatinya, bukankah dalam hadits di atas Nabi telah menerangkan,

Barangsiapa mentaatiku, maka ia berarti mentaati Allah. Barangsiapa yang  tidak mentaatiku berarti ia tidak mentaati Allah. Barangsiapa yang taat pada pemimpin berarti ia mentaatiku. Barangsiapa yang tidak mentaatiku berarti ia tidak mentaatiku.” (HR. Bukhari).

Dimana taatnya kepada Nabi kalau kepada Pemerintah yang mengajaknya kepada kebaikan saja ia tidak taat?😛

***

Point 3: Al-Hajuri adalah Penyusup terhadap dakwah Syaikh Muqbil di Dammaj, sama seperti Al-Imam yang ia tuduh karena keduanya sama-sama tidak berjihad melawab Rafidhoh.

Ya Syaikh, itu artinya Anda secara tidak langsung telah menuduh Syaikh Muqbil orang bodoh yang tidak bisa membedakan mana penyusup atau bukan karena telah memilih pengganti yang dhall mudhillun, dan sudah banyak ucapan Anda yang kosong dari kenyataan (baca; gossip) dan kalau perkara tidak berjihadnya Syaikh Yahya maka itu sudah dijelaskan di point 1.

Dan di sini kami tidak ingin memberikan bantahan yang banyak atas hal remeh seperti ini, alias tuduhan tanpa bukti, sebab Nabi selalu mengatakan di salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi:

البينة على المدعي

“Hendaknya si penuduh harus mendatangkan bukti atas tuduhannya”

dan di hadis yang lain yang diriwayatkan Imam Muslim, disebutkan:

 كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

 “Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta, kalau dia menceritakan semua yang dia dengar.”

Mudah-mudahan tulisan ini bisa mengena di hati para pembaca sekalian. wallahu a’lam.

28 thoughts on “Mana yang Lebih Sesat dan Menyesatkan Syaikh Ubaid Al-Jabiri Atau Yahya Al-Hajuri?”

  1. @admin bagaimana kabar syaikh yahya al hajury hafidzahulloh sekarang?beliau mengajar di mana?

  2. yang dikatakan jadi pengajar sekarang di dammaj .. namax adil dammaji .. di perang terakhir dia nongkrong drumahx aja d alu ra’dan … nggak ikut jaga .. padahal para thullab setiap hari bertahan di kawasa
    ln itu biar ga bisa masuk … silahkan tastabbut berita ini sama ikhwah dammaj yg ikut perang terakhir

  3. *padahal para
    thullab setiap hari bertahan di
    kawasan itu biar hutsi ga bisa masuk

  4. Dan salah satu hikmah hijrahnya warga dammaj adalh agar Allah mnunjukkan ni’mat berupa terbongkarnya makar org2 yg berselisih dgan Syekh Yahya dan kita lhat skrg bgmn kdudukan syekh2 dulunya mreka puja dan puji…baru digertak sedikit sdh mngatakan hutsiyyin jga adalh kaum muslimin….sungguh indah Allah dalam menolong hambaNya…dan sunggu telah mnjdi ptunjuk yg sangat terang sekali bgi yg mau berfikir jernih….

  5. info terbaru katanya syaikh yahya sejak haji belum pulang,karena kondisi shon’a yang tidak aman karena syi’ah . dan keluarga Beliau secara berangsur di ungsikan ke mekkah. Beliau tinggal di sekitar masjidil Haram dan banyak yang istifadah kepada Beliau di masjidil haram.

  6. Dan salah satu bentuk pertolongan Allah kepada Seykh adalah dengan ditakdirkannya beliau tinggal ditempat yg termulia di Dunia…

  7. Lewer…kamu dmn skrg…bukankh dulunya anda yg sering brtny-tanya akan bukti penghizbian syekh Yahya terhdp Abdurrahman al aden….
    Apkh anda malu tuk mengakui kejelian syekh Yahya dalam melihat kesesatan seseorng….

  8. @ lewer wa mitsluhu

    http://sunniysalafiy.blogspot.com/2014/08/taanniy-ataukah-taashub.html

    kalau anda bisa adil dan mengambil hikmah dari yang tersamarkan (dari pihak anda) dari tahdzir asy syaikh yahya kepada ibnai mar’i (slow slow aja mengikuti alur ceritanya) insyaalloh untuk yang terjadi sekarang nggak akan terlalu ruwet dan rumit menilainya… kuncinya di sana. coba telusuri ulang dengan JURDIL (jujur dan adil). TA’ANNIY lho, bukan TA’ASHUB….

    berjalannya waktu pasti menyingkap semuanya…. jangan khawatir. SUNNATURROHMAN mas bro….

    banyak2 ambil pelajaran dari pengalaman mas bro… jangan malu untuk rujuk kalau yang dulu keliru. no probs. no body’s perfect.

    wallahulmusta’an , walillahilhamdu wal minnah….

  9. “Siapapun bisa membantah tak terkecuali orang bodoh sekalipun bahkan anak kecil pun bisa membuat bantahan bagi siapa saja yang ingin ia bantah. Bisa membantah tidak menunjukkan seseorang itu berilmu karena tidak semua bantahan itu ada ilmunya

    1. untuk semua/ @n-nas
      orang seperti @lewer ini tidak perlu ditanggapi lagi, karena kualitasnya sudah diketahui bersama. Bagi yang cuma ingin buang2 waktu bersama lewer silahkan saja, tapi ana tidak lagi… karena orang ini sudah jelas hakikatnya.
      kalo ana memang untuk awal2 selalu menghormati setiap tamu ana, bagaimanapun ia, wajar lah namanya juga tamu, tapi waktu bertamu juga khan ada batasannya…😛

  10. >>>lewer
    Akhi, kutipan antum itu kayaknya pas buanget deh buat antum, soalnya koment2 antum itu isinya cuman bantahan kosong tanpa ilmu, mirip tong kosong nyaring bunyinya! Kalo ngga gitu paling copas sana-sini, itu khan yang antum andelin, dasar ngga tau diri.
    Sumpah baru kali ini ana nemuin “alien dungu” kayak antum ini di dunia maya kayak gini, bahkan ana yakin di batok kepala antum itu tidak ada akal, paling isinya cuma otak doang, bedanya apa coba ama hewan! hihihihi.
    Afwan ya kalo ana berkata apa adanya. “Katakanlah yang benar walaupun pahit!” daripada ana berkata manis tapi dusta?

    >>>Admin
    Sesekali ngga apa2 lah kalo ana ngasih akhi Lewer kopi pait. daripada ana kasih kopi sisa, hehehe.

    1. @abu sunny

      >>>Admin
      Sesekali ngga apa2 lah kalo ana ngasih akhi Lewer kopi pait. daripada ana kasih kopi sisa, hehehe.

      ngga apa-apa lah kalo sesekali, soalnya kalo terus menerus si @lewer ini malah menjadi-jadi.:mrgreen:
      cukuplah serigala itu menjadi buas oleh alam jangan lagi dibikin buas oleh ulah kalian yang mengganggunya.😛

  11. bahasa awalnya menjernihkan padahal klo diperhatikan malah mengotori, yahya al hajuri dah diketahui dari kitab2nya dan muhadorohnya yg banyak penyimpangan itu bukti ilmiah bukan taasub.braninya ngatain syaikh ubaid sesat antum siapa dai juga bukan

    1. udah banyak manusia sejenis ente di blog ini, yang terakhir adalah @lewer. Silahkan Pelajari saja gelagatnya di sini! Yah… hanya orang dungu yang sedang menyamar jadi orang pinter.

      kalau mau bantah, bantah saja, kalau cuma koment begitu anak kecil juga bisa.😛

    2. >>>> pencarialhaq
      coba kitab dan muhadhoroh mana yang menunjukkan penyimpangan Syaikh yahya Al Hajuri?
      paling yang antum dapat adalah potongan kaset dan kesimpulan yang serampangan, yang antum dapat dari orang orang yang maftuunun.

  12. yah itulah orang dungu yang brani dan lancang,mulutnya kotor ga pantas disebut ustadz,siapa kamu dibandingkan syaikh ubaid? ….kasian mulutnya kotor busuk!

    1. trus ana harus ngapain?😛
      kalo ente punya akal cerdas, trus siapa si purwito/pencarialhaq.con itu di hadapan masyaikh yang ia kata-katai itu dalam blognya? itu kalo ente punya akal! Kalo mau bikin gaduh silahkan aja, banyak2 belajar dari @lewer, biar ngga bernasib sama!😛

  13. yang pasti diam lebih baik bagi ente,supaya bau mulut dan bisanya predator ga nyebar kemana.mana, doa ente terkabul jadi predator

    1. sepertinya ente ini ane lihat emang sama aja ama para pendahulu2 ente di sini,:mrgreen:

      ya… tidak lebih dari sekedar belajar bercuap-cuap.
      selamat belajar bercuap-cuap di sini ya, silahkan bercuap2 sepuasnya.:mrgreen:

  14. yang pasti diam lebih baik bagi ente,supaya bau mulut dan bisanya predator ga nyebar kemana.mana, doa ente terkabul jadi predator,….kasihan

    1. sepertinya ente ini ane lihat emang sama aja ama para pendahulu2 ente di sini,:mrgreen:

      ya… tidak lebih dari sekedar belajar bercuap-cuap.
      selamat belajar bercuap-cuap di sini ya, silahkan bercuap2 sepuasnya.:mrgreen:

  15. Assalamualaikum…
    kajian ilmiah yag sangat berfaedah.
    Ana tunggu kajian berikutnya. Alluhamdullilah Syeikh Yahya Hafidzuhullah dlm keadaan baik dan Beliau Asy Al Alamah tinggal di Saudi. Smg Allah azaa wa jalla melindunginnya. Jazaakumullahu khoiron.Barokallohufiik

  16. Alhamdulillah dakwah sunnah ini mengikuti para salaf alqur’an wa sunnah ala fahmi salaf
    Bukan pemahaman kelompok jadi siapa saja bisa diterima dan ditolak pendapatnya kecuali rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
    Jadi yg merasa keliru rujuklah bukan aib deh imam safi’i aja biasa menerima pendapat lawan debatnya
    وَبَارَكَ اللّهُ فِيْكُمْ

Comments are closed.