speaking

Tanggapan Atas Kritik Singkat: Syaikh Abdul Hadi Al-Umairi Terhadap Syaikh Yahya Al-Hajuri

Daurah Masyaikh yang digelar oleh para ustadz (asatidzah) yang “berseberangan jalan” dengan Lukman Ba’abduh yang menginjak pertengahan tahun ini memang menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para salafiyyun yang dilanda mendung di hati mereka, karena rasa bosan dan lelahnya mereka dengan (maaf) tahzir “obok-obok” yang kerap dimainkan oleh Lukman Ba’abduh cs terhadap para ustadz yang tidak sejalan dengan pemikirannya terutama terhadap hal-hal furu’ yang terbuka ruang untuk beda pendapat.

Seandainya Lukman tidak paham apa yang kami ucapkan maka kami persilahkan baginya untuk sering-sering membaca dan mendengarkan ‘rekaman audio’ dimana di sana terjadi perbedaan pandangan para Masyaikh Kibar, terutama Syaikh Muqbil dan Syaikh Rabi dalam hal-hal yang bersifat furu, Bahkan antara Syaikh Rabi dan Syaikh Fauzan sendiri, terjadi silang pendapat yang cukup berarti dalam hal penerimaan dana ihyaut turats, dimana Syaikh Fauzan membolehkannya sementara Syaikh Rabi melarangnya, maka adakah mereka berdua saling merajam ucapan (tahdzir) layaknya Lukman Ba’abduh ini terhadap saudaranya yang lain?

Hampir tidak ada! Sungguh firman Allah ini akan sangat-sangat mengenyangkan kita semua:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Katakanlah: Apakah sama antara orang-orang yang tahu dan orang-orang yang tidak tahu. sesungguhnya yang dapat menerima pelajaran hanyalah orang-orang yang memiliki pikiran. (Az-Zumar: 9)

Biarlah orang yang “la ya’lamun” terus sibuk bergelimpangan dengan “la ya’lamun”-nya hingga mereka mati di atas la ya’lamun-nya.

Perlu kiranya digaris bawahi di sini bahwa tahzir “obok-obok” versi Lukman Ba’abduh ini, biar bagaimanapun rupanya memiliki konsekuensi yang tidak dapat dianggap remeh terhadap salafiyyun di Indonesia terutama yang masih awwam; yang level ilmunya masih suka “membeo” “membebek” dan segala ragam jenisnya bahkan terhadap salafiyyun khawwash (asatidzah) sekalipun.

Lihat saja, betapa mudahnya barisan salafiyyun bercerai berai belakangan ini, bahkan sudah bukan menjadi rahasia lagi bila saat ini Dzulqarnain yang menjadi rival beratnya “membelot dari dirinya yang semula” bahkan ia dengan rela menjilat kembali semua ludahnya demi seorang Lukman Ba’abduh tak cuma itu budak Lukman yang bernama Abdul Ghafur a.k.a Purwito tak ia lewati untuk dijilat dan dicum-cium (maaf) “kakinya”; hanya saja tentu dengan menjaga imej-nya ia mengatas namakan “persatuan dan kesatuan”. Wallahu a’lam biniyatihi.

Namun di sini kita tidak akan berpanjang lebar membahas hal itu terlebih membicangkan perjalanan daurah tersebut dan materi-materi kajian di dalamnya, karena itu bukan fokus utama tulisan ini. Karena pada tulisan ini saya ingin menanggapi sebuah kritik tidak ilmiah dari Syaikh Abdul Hadi Al-Umairi terhadap Syaikh Yahya Al-Hajuri hafizhahumallah.

Perlu dicatat dalam benak pembaca yang budiman bahwa sesungguhnya saya bukanlah “ekor” atau “agen” dari Syaikh Yahya Al-Hajuri di Indonesia ini, hanya saja semenjak Syaikh Muqbil wafat dan meletakkan wasiatnya kepada Syaikh Yahya maka saat itu pulalah ia menjadi “masalah besar” (baca: bara dalam sekam) bagi salafiyyun Yaman saat itu. Dan semenjak itulah saya mulai memonitori terus perkembangan dakwah Yaman saat itu terutama yang berkaitan dengan Syaikh Yahya. Puncaknya adalah saat beliau “berselisih” dengan Syaikh Rabi karena dua orang yang bernama Abdullah Al-Mar’i dan Abdurrahman Al-Mar’i, tentu saja orang akan memandang siapa Yahya Al-Hajuri dibandingkan Syaikh Rabi? terlebih bagi salafiyyun awwam yang terlantar ilmunya betapa mereka akan cepat terpengaruh dengan teman duduknya.

“Yahyal Hajuri, hah… Mubtadi’ dhallun!” Begitulah kira-kira yang terlontar dari lisan mereka.

***

Baik kita lanjutkan apa yang menjadi inti tulisan ini…

Situs resmi (official site) yang dikelola para ustadz yang ‘bersebrangan arah’ dengan Lukman Ba’abduh meliris bantahan Syaikh Abdul Hadi Al-Umairi terhadap (maaf) ocehan ngawur Lukman Ba’abduh hingga 6 seri (setidaknya hingga saat ini). Hal itu dapat pembaca baca/lihat langsung di webnya yang beralamatkan di : http://www.daurahnasional.info/

Saya tidak ingin mengomentari bantahaan Beliau terhadap Lukman Ba’abduh, karena hal itu bisa Anda baca sendiri dan biarlah itu menjadi urusan mereka berdua.

Hanya saja yang menarik di sini adalah Syaikh Abdul Hadi menggunakan kaidah-kaidah yang beliau sendiri tidak bisa menerapkan kaidah tersebut pada lawan yang ia kritik, yaitu Syaikh Yahya Al-Hajuri.

Baik tanpa berpanjang lebar, kita langsung saja melihat komentarnya terhadap Syaikh Yahyal Hajuri:

Luqman, dia bukanlah rujukan kalian di Indonesia. Perkataan ini harus ia ketahui. Al Hajury dahulu ingin menjadi rujukan dimana? Di Yaman! Lalu apa hasil dari ambisinya tersebut?!

Ia runtuh!

Siapa saja yang berambisi mendapatkan ketenaran, Allah pasti akan jatuhkan dia! Siapa saja yang ingin muncul, menjadi rujukan satu-satunya di suatu tempat mengalahkan yang lain, maka tunggulah, cukuplah Allah yang membereskannya untuk kalian!

Saya katakan ini, orang yang mendapat kebahagiaan, adalah orang yang bisa menerima nasehat dari selainnya. Dan orang yang celaka, adalah orang yang hanya bisa mengambil pelajaran dari dirinya (setelah kehancurannya, pen).

Al Hajury dahulu pernah mengatakan, “Jika pendapat seluruh masyarakat dunia, sepakat mendukung pendapat Abdurrahman Al `Adny, sungguh saya tidak akan bergeming dari pendapat yang aku pegang!!”, atau perkataannya yang semakna dengan itu. Lihatlah bagaimana!? Apa akhir dari sikapnya tersebut?!

Kehancuran!

Dari sebelum …. hingga sesudahnya…. komentar ini; nyaris tidak ada lagi pembicaraannya yang berarti terhadap Syaikh Yahya Al-Hajuri.

Dan tanpa berpanjang lebar lagi, kita tanggapi langsung komentar Beliau di atas.

Sejujurnya dari hati nurani kami yang paling dalam, kami agak ragu bila Syaikh Yahya berkata langsung secara ‘frontal’ dan terbuka bahwa ia ingin dijadikan satu-satunya rujukan di Yaman.

Kalaulah itu benar tentu kita wajib menuntut bukti dari Syaikh Abdul Hadi sebagaimana ia menuntut bukti atas fitnah Lukman Ba’abduh terhadapnya mengenai Abul Hasan.

Kalaulah bukan ini yang Syaikh Abdul Hadi maksud, artinya yang dikehendaki Syaikh Yahya hanyalah “keinginan/niatan” yang sifatnya tersirat sepertinya yang dituduhkan Syaikh Abdul Hadi kepada Lukman Ba’abduh, artinya memang tidak ada pembicaraan/klaim pengakuan secara terbuka dan tidak ada indikasi ke arah sana selain prasangka semata bahwa ia harus menjadi satu-satunya rujukan maka untuk yang ini kami hanya bisa berkata:

“Ya Syaikh, (maaf) ingatlah ayat ini, karena Antum hanyalah manusia seperti kami.”

وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (13) أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ (14)

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui? (al-Mulk: 13-14)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qaaf: 16)

Karena….

إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Hanyalah Allahlah yang Maha mengetahui segala isi hati!” (Lukman: 23)

Sesungguhnya Anda tidak mengetahui isi hati manusia, maka bagaimana bisa Anda melangkah jauh dengan ucapan Anda. Ingatlah Umar bin Khathab dimana ia berkata di hadapan Nabi mengenai kemunafikan sahabat-sahabat Nabi (Ahlu Badr) lalu apa jawab Nabi?

Nabi kita menjawab: “Sesungguhnya Aku tidak diperintah untuk membelah dada manusia!” ((atau sebagaimana yang Nabi katakan))

Kalaulah bukan ini juga yang dimaksud, artinya boleh jadi beliau mengqiyaskan Lukman Ba’abduh dengan Syaikh Yahya atau sebaliknya maka izinkanlah kami bertanya kepada Beliau:

Sejak kapan Syaikh Yahya rajin men-jarh dai/syaikh, untuk tidak boleh didengarkan perkataannya atau didatangi majilisnya layaknya Lukman Ba’abduh ini.

seumur-umur kami mengikuti “Fitnah Yaman” yang pelik ini, tidak pernah kami dengar fatwa dari Syaikh Yahya yang melarang para thalibul ilmi (terutama salafiyyun alumni Dammaj) untuk datang ke majlis-nya Syaikh Rabi, Syaikh Ubaid, semua masyaikh Yaman yang berkonfrontatif dengan beliau bahkan terhadap Syaikh Abdurrahman dan Abdullah Al-Mar’i sekalipun yang datang ke Indonesia ini.

Dan nyaris tidak ada Syaikh Yahya melarang salafiyyun mendatangi daurah mereka.

Lantas dimana letak persamaan “ingin dijadikan satu-satunya rujukan antara Lukman Ba’abduh dengan Syaikh Yahya, kalau begitu?” Bukankah ini adalah sesuatu yang menggelikan?!

Kalau kiranya kami keliru atau tidak tahu mohon bagi siapapun yang tahu hendaknya memberi hujjah, bukti di sini atas kealpaan kami. Karena bagi ‘salafy sejati’, bukanlah aib baginya bila harus rujuk dari kesalahan karena itu sama sekali tidak menjatuhkan kehormatannya justru mengangkat semakin mengangkat kehormatannya. Lain cerita dengan salafy ecek-ecek, tentu kita semua tahu kelakuan hina mereka…

Justru di sini kami ingin menunjukkan bahwa Syaikh Rabi lah melalui Syaikh Muhammad bin Hadi yang ingin dijadikan satu-satunya rujukan di Mekah. Sementara kasus dimana Syaikh Yahya dikatakan “begini dan begitu” (seperti: Imam Jin dan Manusia, dsb), itu hanyalah dari kalangan penuntut ilmu yang masih awwam dan labil yang tentu saja ucapannya tidak bisa dianggap serius dalam level tertinggi keilmuan syar’i, terlebih dalam bab: ta’dil.

Sementara ini, seorang Doktor (Muhammad bin Hadi) yang tentu saja level pendidikan dan keilmuannya sudah teruji ((tidak seperti “thullab awwam” yang sok asal bicara)) bahkan kerap dijadikan rujukan oleh Lukman Ba’abduh, ia dengan lantang mencela dan menghina siapapun yang datang ke Mekah bila ia tidak mengunjungi Syaikh Rabi (seandainya ia tidak memiliki uzur), seakan-akan hanya Syaikh Rabi lah satu-satunya rujukan di Mekah!

Padahal kita sama-sama tahu bahwa Syaikh Rabi hanyalah satu dari sekian bahkan masih banyak yang lebih salafy dan lebih alim dari Syaikh Rabi.

Untuk pembuktiannya, mari kita dengarkan bersama perkataannya:

ٍSemoga ini menjadi bukti yang menyadarkan kita semua: siapakah yang sebenarnya ingin dijadikan satu-satunya rujukan, Syaikh Yahya kah atau Syaikh Rabi.

***

Baik, sekarang tibalah saatnya kami akan mencoba menyanggah ucapan dan komentara Beliau ini (Syaikh Abdul Hadi) satu persatu.

Pertama: Luqman, dia bukanlah rujukan kalian di Indonesia. Perkataan ini harus ia ketahui. Al Hajury dahulu ingin menjadi rujukan dimana? Di Yaman! Lalu apa hasil dari ambisinya tersebut?!

Ia runtuh!

Kami sudah cukupkan membahas mengenai permasalah “keinginan menjadi satu-satunya rujukan” sebagaimana yang kami terangkan di atas dan sekarang komentar Beliau yang ingin kami tanggapi adalah kata: “runtuh”

Apa yang dimaksud “runtuh” di sini?

Apakah kasus dimana:

1. Syaikh Yahya ditahzir berjamaah oleh Syaikh Rabi dan Masyaikh lainnya, baik dari dalam Yaman dan di luar Yaman ataukah sehingga dianggap meruntuhkan kredibilatasnya? Ataukah

2. Kasus perang Dammaj melawan Rafidhoh yang mengakibatkan Syaikh Yahya dan warga Dammaj direlokasi menuju kota Shan’a?

Kalau kasus pertama maka komentar kami:

“Fitnah Yaman”, sebagaimana kita semua tahu bahwa pada awalnya, pencetus utamanya adalah “permasalahan” antara Syaikh Yahya dan Abdurrahman Al-Mar’i beserta saudaranya, yaitu Abdullah Al-Mar’i.

Dari sini, karena tidak ada titik temu akhirnya berlanjut ke penghizbiyahanan Abdurrahman Al-Mar’i beserta saudaranya, yaitu Abdullah Al-Mar’i oleh Syaikh Yahya. Untuk yang ini akan kami bahas di bawah.

Sekarang untuk point yang kedua: Izinkanlah kami bertanya:

Mari kita melihat kondisi warga Palestina sekarang yang hampir setiap harinya disiksa dan dibantai oleh Zionis Yahudi sehingga mengharuskan sebagian mereka keluar dari Palestina untuk menyelamatkan nyawanya, apakah itu terjadi karena dosa dan kesalahan mereka, layaknya Al-Hajuri dan penduduk Dammaj sebagaimana yang disangkakan oleh banyak “salafiyyun?” akhir-akhir ini?

Justru maaf-maaf saja ((sedikitpun tanpa bermaksud menyetarakan atau bahkan menganggap sama)) apa yang terjadi pada Al-Hajuri ini memiliki kesamaan kondisi dengan apa yang terjadi dengan kaum muslimin di zaman awal Islam yang berada di Mekah saat itu.

Kita semua tentu sudah tahu bagaimana ceritanya (apa motif dan sebabnya) Nabi berhijrah dari Mekah ke Madinah.

Lantas kalau mengikuti logika orang-orang sakit terutama kaum Yahudi dan Nashrani:

“Apakah kita akan mengatakan bahwa kaum muslimin diusir dari Mekah karena dosa-dosa mereka yaitu membuat ajaran baru yang menyelishi agama Kristen dan Yahudi?”

Justru ketika Nabi dan kaum muslimin sampai di Madinah mereka disambut dengan luapan kegembiraaan dan begitu pula lah yang terjadi pada Syaikh Yahya dan para warga Dammaj mereka disambut dengan suka cita oleh penduduk Shan’a, bahkan hampir setiap distrik di sana memperebutkan Syaikh Yahya agar mereka tinggal di daerah mereka dan membangun Ma’had Darul Hadits yang baru di sana, persis seperti kejadian dimana Nabi diperebutkan oleh penduduk Madinah agar tinggal di kediaman mereka.

Lihat, lihat ini!

Anehnya, satupun “salafiyyun?” (yang kontras tentunya) tidak ada yang berusaha (tentu saja dengan nalar dan logika yang jernih, entah diparkir dimana pikiran sehatnya?) membandingkan kedua hal ini untuk diambil pelajaran yang berharga dalam hidupnya, justru mereka ((hampir semuanya)) malah menyebut apa yang terjadi pada Syaikh Yahya dan Dammaj adalah azab dari Allah, bahkan salah satu dari mereka ada yang menyebut: “runtuh”!!!!

Apakah ini sebuah kedengkian atas nikmat yang diberikan Allah? Wallahu a’lam.

Apa karena: seandainya itu terjadi pada orang yang tidak kita suka meski ia benar atau kita sangkakan keliru, kita katakan: itu adalah azab yang datang dari Allah baginya, namun jika itu terjadi pada orang yang kita senangi meski ia keliru atau kita sangkakan benar kita katakan: Itu adalah ujian dari Allah baginya. La ilaha illallah.

“Ya Allah ampunilah dosa-dosa para hambaMu yang terlantar ilmunya ini, sesungguhnya hati-hati mereka ada dalam genggamanMu.”

Ya akhi, kalaulah itu azab maka bagaimana ceritanya setelah mereka selesai dari itu mereka mendapatkan kenikmatan yang luar bisa hebat sebagaimana yang mereka rasakan di Shan’a?

Karena yang kami tahu; azab dari Allah memiliki kesudahan yang jelas, seperti kasus Firaun yang tenggelam di laut merah, dll. Tapi ini, entahlah: bagaimana bisa dikatakan azab kalau memiliki kesudahan yang baik. wallahu a’lam.

Atau bila perbandingan ini tidak diterima maka bagaimana dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan para muridnya yang diusir dan disiksa dari Uyainah apakah itu dikarenakan dosa-dosa mereka atau karena jarh dan tahzir mereka kepada para “ulama” yang membolehkan tawassul ke kubur yang membuat orang-orang menjadi benci kepada mereka? sehingga orang-orang saat itu terutama para kuburiyyun di masa ini berkata: Lihatlah nasib tragis yang dialami Muhammad bin Abdul Wahab, ia diusir dari kampungnya, karena apa coba? karena ia berani menentang ijma para ulama saat itu yang membolehkan ziarah kubur dan tawassul bahkan memusyrikkan sampai mengkafirkan mereka.

Sehingga dikesankan bahwa apa yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah sebuah penyimpangan/kesesatan dalam agama sebagaimana yang digambarkan saat ini oleh media-media sekuler terutama oleh kelompok kuburiyyun.

Lihat, lihatlah!

Ini pulalah yang kami ingin tanyakan sekali lagi: Apa karena: seandainya itu terjadi pada orang yang tidak kita suka meski ia benar atau kita sangkakan keliru kita katakan: itu adalah azab/hukuman yang datang dari Allah baginya, namun jika itu terjadi pada orang yang kita senangi meski ia keliru atau kita sangkakan benar kita katakan: Itu adalah ujian dari Allah baginya. La ilaha illallah.

Kami sendiri sudah membahas hal ini dalam tulisan kami yang telah lalu:

Update Dammaj 1 : Mengapa Syaikh Yahya Setuju Dipindah Secara Paksa Dari Dammaj?

Kedua: Siapa saja yang berambisi mendapatkan ketenaran, Allah pasti akan jatuhkan dia! Siapa saja yang ingin muncul, menjadi rujukan satu-satunya di suatu tempat mengalahkan yang lain, maka tunggulah, ckuplah Allah yang membereskannya untuk kalian!

Apakah itu berlaku juga kepada Syaikh Rabi atau Muhammad Al-Madkhol yang ingin dijadikan “satu-satunya rujukan”, dimana ia menghina/mencela semua orang yang bermukim atau berziaroh ke Mekah bila tidak mau mengujungi Syaikh Rabi seakan-akan ulama di sana hanya Syaikh Rabi seorang? Mari kita dengarkan kembali.

Mengingat ucapan Beliau (Syaikh Abdul Hadi) yang telah lalu:

Dahulu Al-A’masy hidup di satu negeri bersama sahabat Ibnu Abi Aufa, namun tidak satu pun hadits yang ia riwayatkan darinya.

Padahal mereka hidup di satu negeri. Bersama siapa? Bersama seorang sahabat. Bukankah demikian?! Tidak ada satu hadits pun yang diriwayatkannya.

Berarti, kalau dia (Al-A’masy) tidak menemui (Ibnu Abi Aufa) maka padanya ada catatan miring?! (persis seperti yang dikatakan Syaikh Muhammad bin Hadi- “siapa yang datang ke/tinggal di Mekah tapi tidak mengunjungi Syaikh Rabi maka dia maghmush” Pent,)

Saya katakan “Syaikh Rabi’ tidak akan setuju dengan ucapan demikian”

Apakah orang yang tidak hadir dan tidak belajar kepada Syaikh Rabi’, maka dia bukanlah seorangSalafy?!

Saya yakin Syaikh Rabi’ tidak akan mengucapkan hal demikian.

sumber:http://www.daurahnasional.info/?p=180

sayangnya Syaikh Muhammad bin Hadi bersikap berbeda dengan Anda, karena ia sangat…sangat setuju….dengan hal ini. Terlebih, sebagaimana yang kita tahu Syaikh Muhammad memiliki hubungan Mesra dengan Syaikh Rabi, artinya sangat boleh jadi Syaikh Rabi memilih pendapat Syaikh Muhammad bin Hadi. Karena ia lebih mengenal Muhammad bin Hadi daripada Abdul Hadi.

Dan ini adalah kenyataaan yang tidak bisa dipungkiri lagi, apakah kita tetap akan katakan kambing meski ia terbang dengan sayap?

Ketiga: Saya katakan ini, orang yang mendapat kebahagiaan, adalah orang yang bisa menerima nasehat dari selainnya. Dan orang yang celaka, adalah orang yang hanya bisa mengambil pelajaran dari dirinya (setelah kehancurannya, pen).

Maka lihatlah Syaikh Rabi, bagaimana gurunya Syaikh Albani yang dalam beberapa kesempatan sering memberikan nasihat kepadanya maka apakah beliau mendengarnya?

Begitupula Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad yang juga gurunya menasehatinya dalam kitab Rifqan Ahlissunnah maka apakah beliau mendengarnya?

Jawabnya, tidak sama sekali, karena Syaikh Rabi memiliki standarisasi kebenaran yang ia pegang teguh, begitupula yang dilakukan oleh Syaikh Yahya! Lantas apakah Syaikh Rabi adalah orang yang celaka?!

Apakah kalau Syaikh Rabi melakukannya tidak akan celaka sementara Syaikh Yahya akan celaka?

Izinkan kami bertanya sekali lagi: Apa karena: seandainya itu terjadi pada orang yang tidak kita suka, meski ia benar atau kita sangkakan keliru kita katakan: ia akan celaka, namun jika itu terjadi pada orang yang kita senangi meski ia keliru atau kita sangkakan benar kita katakan: ia akan beruntung. Ya Subhanallah!:

Keempat: Al Hajury dahulu pernah mengatakan, “Jika pendapat seluruh masyarakat dunia, sepakat mendukung pendapat Abdurrahman Al `Adny, sungguh saya tidak akan bergeming dari pendapat yang aku pegang!!”, atau perkataannya yang semakna dengan itu. Lihatlah bagaimana!? Apa akhir dari sikapnya tersebut?!

Kehancuran!

Baik, ini yang saya tunggu-tunggu dari tadi. Sebelum saya menanggapi, saya ingin menampilkan sebuah kutipan dari Syaikh Abdul Hadi dalam menjelaskan permasalahan yang terjadi antara dirinya dengan Lukman Ba’abduh seputar kehujjahan seorang perawi yang terpercaya, yaitu dimana hanya karena Syaikh Rabi tidak mengenal Syaikh Abdul Hadi kemudian secara otomatis menjadikannya Majhul yang berkonsekuensi ucapannya menjadi tertolak.

Apabila Syaikh Rabi’ tidak mengenalku, apakah hal tersebut berkonsekuensi bahwasanya ulama lain pun juga tidak mengenalku?!

(lihatlah) kisah antara Imam Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in. Imam Yahya bin Ma’in (pernah) berbicara miring tentang Imam Syafi’i (kisah ini tertulis di buku-buku biografi ulama), lalu Imam Ahmad berkata “Tidaklah ucapan Yahya (bin Ma’in) menurunkan kredibilitas Imam Syafi’i”. Apakah kalian memahami ucapan ini?

sumber: http://www.daurahnasional.info/?p=163

Pertama: “Berbicara miring” di sini adalah sebagaimana yang disebutkan oleh kitab biografi ulama adalah: tasyayyu (simpatisan syiah). Dalam pandangan Yahya bin Ma’in Imam Syafi’i adalah simpatisan syiah bahkan sebagian riwayat menyebutkan bahwa Ibnu Ma’in menggelari Imam Syafi’i dengan rafidhah meski hal ini telah ditepis oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Manaqib Asy-Syafi’i versi Al-Baihaqi.

Kedua: Apa yang disampaikan oleh Syaih Abdul Hadi bahwa Imam Ahmad berkata “Tidaklah ucapan Yahya (bin Ma’in) menurunkan kredibilitas Imam Syafi’i”. mungkin saja hanyalah karangan beliau ‘secara makna’, karena hal tersebut tidak kami temukan dalam banyak riwayat dari berbagai kitab.

Dan versi terkenal dari kisah ini adalah Saat Imam Syafi’i mengendarai seekor keledai kemudian ia melewati Ahmad dan Yahya maka Yahya berbicara tentang Imam Syafi’i kemudian Ahmad menyuruhnya diam dan berkata: “mengikuti keledai (maksudnya penunggangnya) ini lebih bermanfaat.” atau dengan banyak redaksi yang berbeda. Hal ini bisa dicek langsung dalam kitab Hilyah Al-Auliya, Abu Nu’aim, Bab: Qala Syaikh rahimahullah.

Ketiga: Baik, di sini saya tidak berpanjang lebar membahas hal ini, karena point terpenting di sini adalah: Syaikh Abdul Hadi mencela Syaikh Yahya karena ia bersendiri ((bersendiri dalam arti tidak ada ulama kibar yang mendukungnya, bukan dalam arti tidak ada satupun yang mendukung pendapatnya karena thullab dammaj dan masyaikh di sana mendukung pendapatnya yang ini)) dalam pendapatnya mengenai kehizbiyahan Syaikh Abdurrahman Al-Adeni.

Inilah yang mengherankan kami:

Yahya bin Ma’in jelas tidak mengenal Imam Syafi’i sedekat Imam Ahmad mengenalnya, tapi ia sudah mencelanya! Dan tentu saja celaannya ini adalah “lemah” di mata Imam Ahmad.

Lalu cerita ini dikutip untuk didudukkan pada kasus yang terjadi antara Syaikh Abdul Hadi dan Syaikh Rabi, yang mana Syaikh Rabi tidak mengenal dekat Syaikh Abdul Hadi, tapi Syaikh Rabi memiliki kawan/shahib yang mengenal baik Syaikh Abdul Hadi yang notabene mereka ini adalah guru-guru Syaikh Abdul Hadi.

Intinya, bila dua premis ini dikonklusikan makanya jadinya adalah:

  • Yahya bin Ma’in adalah Syaikh Rabi
  • Imam Ahmad adalah guru-guru Syaikh Abdul Hadi
  • sementara Imam Syafi’i adalah: ((masya Allah)) Syaikh Abdul Hadi Al-Umairi sendiri. Kita sendiri tentu tahu bukan bahwa yang paling tinggi kedudukan di tengah mereka adalah, Asy-Syafi’i, kemudian Ahmad kemudian Yahya bin Ma’in. Luar biasa…😛

Intinya Syaikh Abdul Hadi ingin mengatakan bahwa sekalipun ia nantinya dicela/dijarh oleh Syaikh Rabi maka guru-gurunya pasti akan berkata:

“Tidaklah ucapan Rabi bin Hadi Al-Madkholi menurunkan kredibilitas Abdul Hadi Al-Umairi.

Masya Allah, luar biasa bukan?:mrgreen:

Meskipun ini menarik untuk dibahas namun sebenarnya bukan ini yang menjadi sentral point sanggahan saya, karena yang ingin saya bidik di sini adalah:

Apakah salah kalau Syaikh Yahya secara seorang diri ((keluar dari ijmak ulama; katakanlah demikian)) menyebut Syaikh Abdurrahman Al-Adeni adalah hizbi sehingga hal inilah yang dalam kacamata Anda menjadi penyebab kehancurannya?

Maka kami jawab: tidak salah! Karena hal ini telah ada salafnya. Dan apa yang dilakukan para salaf ini tidaklah dibatalkan oleh para khalaf setelahnya. Apalagi dijadikan bahan cacian. Mari kita lihat kasus-kasus berikut ini.

1. Imam Malik, beliau menyebut Ibnu Ishaq sebagai Dajjalnya para Dajjal. Warta ini dibawakan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Al-‘Ilal wa Ma’rifatur Rijal:

سَأَلته عَن مُحَمَّد بن إِسْحَاق كَيفَ هُوَ فَقَالَ هُوَ حسن الحَدِيث وَلَكِن إِذا جمع عَن رجلَيْنِ قلت كَيفَ قَالَ يحدث عَن الزُّهْرِيّ وَرجل آخر فَيحمل حَدِيث هَذَا على هَذَا ثمَّ قَالَ قَالَ يَعْقُوب سَمِعت أبي يَقُول سَمِعت الْمَغَازِي مِنْهُ ثَلَاث مَرَّات ينقصها ويغيرها وَقَالَ قَالَ مَالك وَذكره فَقَالَ دجال من الدجاجلة وَقَالَ أَبُو عبد الله قدم مُحَمَّد بن إِسْحَاق إِلَى بَغْدَاد فَكَانَ لَا يُبَالِي عَن من يَحْكِي عَن الْكَلْبِيّ وَغَيره

Aku (Abu Bakar Al-Atsram) menanyakannya tentang Muhammad bin Ishaq, “Dia itu orangnya bagaimana?” Maka dijawab (oleh Imam Ahmad): “O Dia itu bagus haditsnya hanya saja kalau ia meriwayatkan (mengumpulkan riwayat) dari dua perawi…” Aku tanya lagi: “Maksudnya bagaimana?” Dijawab: “Ia meriwayatkan dari Az-Zuhri dan perawi yang lain lalu hadisnya tumpang tindih kemudian ia berkata: Yaqub berkata:…. “bla…bla…”

Aku mendengar ayahku berkata: Aku mendengar kitab (riwayat dalam) Al-Maghazi (milik Ibnu Ishaq) sebanyak tiga kali, ia mengurangi dan merubahnya kemudian berkata: Malik berkata: “Dia adalah Dajjalnya para Dajjal.

Lalu Abu Abdullah (Imam Malik) berkata: Saat Muhammad bin Ishaq mendatangi Baghdad orang-orang yang bercerita tentang anjing dan yang lainnya tak ada yang mempedulikannya.

Ibnu Abi Hatim mewartakan juga hal ini dalam kitabnya Al-Jarh wat Ta’dil:

حدثنا عبد الرحمن نا مسلم بن الحجاج النيسابوري حدثني إسحاق ابن راهويه نا يحيى بن آدم نا ابن إدريس قال كنت عند مالك بن أنس فقال له رجل يا أبا عبد الله  إني كنت بالري عند أبي عبيد الله يعني الوزير – وثم محمد بن إسحاق فقال ابن إسحاق اعرضوا علي علم مالك فإني أنا بيطاره فقال مالك: دجال من الدجاجلة يقول اعرضوا على علي

Menceritakan kepada kami, Abdurrahman, Menceritakan kepada kami Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi, berbicara padaku Ishaq bin Rahawaih, menceritakan padaku Adam menceritakan padaku bin Idris Asy-Syafi’i:

Aku sedang bersama Malik bin Anas, lalu seorang laki-laki datang bertanya: wahai Abu Abdullah saya ini dulunya di Rai, berdampingan dengan Abu Ubaidullah yakni Al-Wazir dan kemudian Muhammad bin Ishaq lalu ia berkata:

“Perlihatkan padaku ilmu si Malik itu karena sesungguhnya aku lah baithar-nya. “(baithar: penambal sepatu kuda-pent)

Maka Malik berkata: “Dia itu adalah Dajjalnya para Dajjal! Perlihatkan padaku ilmunya juga.”

Di sini Imam Malik secara seorang diri ((keluar dari kesepakatan kebanyakan ulama)) dengan berani menjarh Ibnu Ishaq dengan gelar: Dajjalnya para Dajjal.

Tidak ada satupun ulama yang menjarh Ibnu Ishaq sampai sejauh itu, kecuali Malik, tidak sebelumnya dan tidak pula sesudahnya dan perkara ini sangat ma’ruf di tengah para peneliti hadits. Padahal di sana terdapat Ali bin Al-Madini, Az-Zuhri, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, dll... mereka semuanya memuji Ibnu Ishaq dan nyaris tidak ada satupun ulama yang mencela Ibnu Ishaq dengan gelar-gelar yang berat seperti itu.

Pertanyaannya: ketika Imam Malik menyebut Ibnu Ishaq sebagai Dajjalnya para Dajjal, maka siapakah ulama salaf dan khalaf yang mencelanya, padahal saat itu Imam Malik tidak membawakan jarh mufassar yang bisa dipertanggung jawabkan terhadap itham/tudingan-nya kepada Ibnu Ishaq?

Nyaris tidak ada!!! Padahal apa yang lontarkan Imam Malik ini menyelisihi ijmak yang ada!

Sekarang ketika Syaikh Yahya menjarh Syaikh Abdurrahman dengan hizbi, (yang mana ini sangat-sangat tidaklah ada apa-apanya dibandingkan gelar: Dajjalnya para Dajjal versi Imam Malik) maka siapakah yang mencelanya dan mengatakannya mubtadi dhallun? dalam keadaan Syaikh Yahya memiliki bukti-bukti yang bisa dipertanggung jawabkan mengenai kehizbiyahan Syaikh Abdurrahman Al-Adeni?

Jawabnya: tentu semua “salafiyyun”!!! hehehe.:mrgreen: (Maksud kami adalah kelompok Anda dan Lukman Ba’abduh)

Salafiyyun maksud kami adalah salafiyyun dalam tanda kutip (“”), tidak semua salafiyyun.

Mereka menghina dan mencaci maki Syaikh Yahya hanya karena ia seorang diri menghizbikan Syaikh Abdurrahman Al-Adeni dan dianggap itulah yang menyebabkan kehancurannya, namun mereka ((entah karena tidak tahu karena ilmunya belum cukup matang atau pura-pura tidak tahu, sebagaiman yang saya katakan diatas: bergelimpangan dengan “la ya’lamun”-nya)) mematung bisu ketika membaca/mengetahui bahwa Imam Malik mendajjalkan Ibnu Ishaq seorang diri di saat kebanyakan ulama memujinya dengan pujian yang baik.

Apa karena…  Izinkan kami bertanya sekali lagi:

seandainya itu terjadi pada orang yang tidak kita suka, meski ia benar atau kita sangkakan keliru kita katakan: dia adalah mubtadi dhallun, namun jika itu terjadi pada orang yang kita senangi, meski ia salah atau kita sangkakan keliru kita katakan: O beliau khan ulama. Padahal perbuatan mereka sama saja. La ilaha illallah.

Padahal apa bedanya, kalau meminjam bahasa Syaikh Yahya ((Versi Syaikh Abdul Hadi)):

Imam Malik tentu berkata dengan konteks yang sama:

“Jika pendapat seluruh masyarakat dunia, sepakat mendukung tautsiq Ibnu Ishaq sungguh saya tidak akan bergeming dari pendapat yang aku pegang!!” bahwa ia Dajjalnya para Dajjal, atau perkataannya yang semakna dengan itu.

Karena toh hanya Imam Malik sendiri yang menyatakan Ibnu Ishaq Dajjalnya para Dajjal.

Lantas apakah Imam Malik hancur karenanya sebagaimana yang Beliau (Syaikh Abdul Hadi)  isyaratkan kepada Syaikh Yahya hanya karena ia menghizbikan Syaikh Abdurrahma seorag diri?

Maka kami jawab:

Kalau kami mengikuti logika Anda atau logika kebanyakan salafiyyun dan Masyaikhnya yang sedang “sakit parah” dewasa ini atau anggap saja bila di zaman Malik adalah logikanya pendukung Ibnu Ishaq maka tentu kita akan berkata: Ya Imam Malik hancur gara-gara itu.

Lihatlah kisah Imam Malik, dimana ia disiksa dan diarak keliling Madinah oleh penguasa saat itu (Abu Ja’far Al-Manshur) karena apa? Karena ia  menyelisihi pendapat kebanyakan ulama saat itu. Tidak hanya dalam permasalahan Ibnu Ishaq ia menyelisihi kebanyakan orang tapi dalam banyak permasalahan di berbagai bidang keilmuan.

Lantas apa yang Imam Malik dapatkan dari itu semua?

Ya tentu kita semua tahu jawabannya: Kehancuran!!!! Kehancuran!!!! Kehancuran!!!!

Sayangnya kami tidak mau mengikuti logika/jawaban rendahan semacam ini, karena Imam Malik di mata kami adalah pribadi yang mulia dan berilmu tinggi meski manusia di zamannya menghinakannya.

2. Ibnu Hazm, beliau menyebut At-Tirmidzi sebagai seorang Majhul. (Wow, fantastis!:mrgreen: ) Warta ini dibawakan oleh Adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal, no: 8035

محمد بن عيسى بن سورة [الحافظ العلم أبو عيسى] الترمذي، الجامع.
ثقة مجمع عليه.
ولا التفات إلى قول أبي محمد بن حزم فيه في
الفرائض من كتاب الايصال : إنه مجهول، فإنه ما عرفه ولا درى بوجود الجامع ولا العلل اللذين له.
مات في رجب سنة تسع وسبعين ومائتين بترمذ، وكان من أبناء السبعين.

Muhammad bin Isa bin Surah [Al-Hafizh Al-Alim Abu Isa] At-Tirmidzi perawi kitab Al-Jami’. Beliau adalah tsiqah yang disepakati.

dan tidak ada yang menghiraukan pendapat Abu Muhammad Ibnu Hazm tentangnya dalam bab Faraidh dari Kitabnya: Al-Ishal, yang mana ia berkata:

Dia seorang Majhul , bisa ia berkata demikian karena ia tidak mengenalnya dan mengetahui keberadaan kitab Al-Jami’ dan Al-Ilal yang notabene keduanya adalah miliknya.

At-Tirmidzi meninggal di bulan Rajab, tahun 279 di Tirmidz, pada umur 70 tahun

Dan juga dalam kitabnya Tarikhul Islam, selain itu ada juga Abul Hasan Ali bin Al-Qathan yang mengabarkan hal ini dalam kitabnya: Bayan Al-Waham wal Iiham bab: Abu Muhammad. Ibnu Katsir juga menyebutnya dalam Al-Bidayah wan-Nihayah bab: Khilafah Al-Mu’tadhad, begitupun Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Tahdzibut-Tahdzib bab: Muhammad Ma’al ‘Ain Fil A’ba.

Hingga saat ini sebatas yang kami tahu, tidak ada lagi ulama selain Ibnu Hazm yang dengan berani menyatakan At-Tirmidzi sebagai perawi Majhul, kecuali Beliau sendiri, tidak sebelumnya dan tidak pula sesudanya.

Lantas apa karena “error” (katakanlah begitu, karena kita belum tahu hakikat sesungguhnya) semacam ini Ibnu Hazm harus dijarh dan diboikot/hajar bahkan dikatakan: “hancur!”, kalau memang demikian adanya, lantas ahlu hadits mana yang menjarh Ibnu Hazm hanya karena ia menjarh At-Tirmidzi dengan Majhul?!!!

….Kecuali di zaman yang semakin edan orang-orangnya ini. Tahu sendiri khan siapa mereka?!:mrgreen:

Lantas bagaimana ceritanya Ibnu Hazm sampai tidak tahu perihal At-Tirmidzi? sehingga dikatakan (sebagaimana yang diutarakan Adz-Dzahabi dan ulama yang lain): “wajar Ibnu Hazm menyatakan At-Tirmidzi Majhul karena kitab-kitab At-Tirmidzi belum masuk Andalus saat itu dan baru masuk Andalus setelah Ibnu Hazm wafat”. atau hujjah-hujjah yang bersifat kemungkinan lainnya yang ujung-ujungnya menjurus ke waham.

Karena pada saat itu, telah hadir para kibar yang meriwayatkan kitab Al-Jami milik At-Tirmidzi diantara mereka adalah: Al-Hafizh Abu Umar bin Abdul Abdul Barr Al-Andalusi, beliau sendiri adalah teman belajar Ibnu Hazm. Beliau meriwayatkan Al-Jami Tirmidzi dari gurunya, Abu Zakariya Yahya bin Umar Al-Jayani.

Bayangkan, dari seantero dunia Islam, Barat dan Timurnya di zaman Ibnu Hazam hidup, tidak ada ulama yang mengatakan At-Tirmidzi Majhul kecuali Ibnu Hazm sendiri. Lantas apakah itu salah? Kalau meminjam bahasa Syaikh Yahya ((Versi Syaikh Abdul Hadi)), Ibnu Hazm pun ikut berkata :

“Jika pendapat seluruh masyarakat dunia, sepakat mendukung kema’rufan At-Tirmidzi sungguh saya tidak akan bergeming dari pendapat yang aku pegang!!” bahwa ia Majhul, atau perkataannya yang semakna dengan itu.

Karena toh hanya Ibnu Hazm sendiri yang menyatakan At-Tirmidzi Majhul.

Lantas apakah Ibnu Hazm hancur karenanya sebagaimana yang Beliau (Syaikh Abdul Hadi)  isyaratkan kepada Syaikh Yahya?

Maka kami jawab:

Kalau kami mengikuti logika Anda atau logika kebanyakan salafiyyun dan Masyaikhnya yang sedang “sakit parah” dewasa ini atau anggap saja bila di zaman Ibnu Hazm adalah logikanya para penentang Ibnu Hazm dari kalangan Malikiyah  (semisal Ibnul Arabi Al-Maliki, dll) yang memang secara frontal menjadi rival terberat mazhab Zhahiri yang dianut Ibnu Hazm atau lebih tepatnya para pendukung kitab Al-Jami Tirmidzi maka tentu kita akan berkata: Ya Ibnu Hazm hancur gara-gara itu.

Lihatlah kisah Ibnu Hazm, dimana ia diusir dengan hina oleh penguasa saat itu (Hisyam al-Mu’ayyad) dari kota Cordova ke desa Mont Lisham karena apa?

Karena ia  menyelisihi pendapat kebanyakan ulama Maliki saat itu. Tidak hanya dalam permasalahan tajhil At-Tirmidzi ia menyelisihi kebanyakan orang tapi dalam banyak permasalahan di berbagai bidang ilmu syar’i, salah satunya adalah kasus dimana Ibnu Hazm membatalkan qiyas .

Lantas apa yang Ibnu Hazm dapatkan dari itu semua?

Ya tentu kita semua tahu jawabannya: Kehancuran!!!! Kehancuran!!!! Kehancuran!!!!

Sayangnya kami tidak mau mengikuti logika/jawaban rendahan semacam ini, karena Ibnu Hazm di mata kami adalah pribadi yang mulia dan berilmu tinggi meski manusia di zamannya menghinakannya.

Kalau dua hal ini ((sebenarnya masih banyak yang lain, rasanya itu semua tak perlu saya ungkap di sini karena point yang kita mau sudah didapat)) dirasa/dianggap bukan dalil yang pantas untuk dijadikan hujjah yang kuat karena tidak ada di zaman Nabi maka mari kita flash back sebentar ke zaman Nabi kita lihat kasus dimana…

Huzaifaih secara seorang diri men-jarh Abu Musa Al-Asyari dengan tuduhan “munafik”, yang mana saat itu tidak ada satupun sahabat yang berani mengatakan Abu Musa seorang munafik kecuali Huzaifah.

Diwartakan oleh Abu Yusuf Ya`qub bin Sufyan Al-Fasawi dengan sanad yang shahih (karena semua rijalnya tsiqat) dalam kitabnya: Al-Ma’rifah wat-Tarikh bab: Ma Ja`a fil Kufah no: 245

حَدَّثَنِي ابن نمير حدثني أبي عن الأعمش عن شقيق قَال كنا مع حذيفة جلوسًا ، فدخل عبد الله وأبو موسى المسجد فقَال أحدهما منافق ثم قَال إن أشبه الناس هديًا ودلاً وسمتًا برسول الله صلى الله عليه وسلم عبد الله

Telah berbicara kepadaku Ibnu Numair; ia berkata: telah berbicaraka kepadaku Ayahku, dari Al A’masy, dari Syaqiq, ia berkata:

Ketika kami sedang duduk bersama Hudzaifah tiba-tiba Abdullah (bin Mas’ud) dan Abu Musa masuk ke dalam masjid, seketika itu juga Hudzaifah lalu berkata: “Salah seorang dari mereka berdua adalah munafik” kemudian Huzaifah melanjutkan: “Orang yang mirip dengan Rasulullah dalam hal petunjuk, ciri dan gestur tubuhnya adalah Abdullah (bin Mas’ud)”.

Coba perhatikan, satunya Huzaifah katakan: munafik dan satunya lagi Huzaifah katakan mirip Rasulullah, kalau Ibnu Mas’ud dikatakan mirip Nabi lantas siapa yang dikatakan munafik oleh Huzaifah, tentu saja seorang yang bersamanya. Lantas siapa yang bersama Ibnu Mas’ud? tentu dia adalah Abu Musa Al-Asy’ari.

Sekarang kita pancangkan sebuah pertanyaan, apakah salah bila Huzaifah secara seorang diri menyatakan Abu Musa Al-Asyari seorang munafik dalam keadaan ia memiliki hujjah untuk itu dimana dalam banyak hadis disebutkan bahwa Nabi telah memberi tahu Huzaifah siapa saja nama-nama orang munafik saat itu!

Untuk dicetak tebal dan digaris bawahi di sini ((agar tidak disalah pahami)), saya sebenarnya bukan dalam konteks memperbicangkan apakah Abu Musa seorang Munafik atau tidak, karena dalam keyakinan saya Abu Musa adalah seorang sahabat Nabi, sama seperti Huzaifah, dan saya tidak membeda-medakannya, hanya saja disini saya sedang memfokuskan pembicaraan tentang jarh yang sifatnya menyendiri yang pengetahuan itu hanya ada pada si penjarh dan tidak ada pada ulama yang lain, apakah itu salah? lantas kalaupun itu salah, maka bagaimana bisa dikatakan salah kalau jauh-jauh hari hal ini sudah dilakukan dimasa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan berlanjut ke masa setelahnya.

Dan di akhir tulisan ini, izinkan saya menyampaikan sebuah pesan kepada pembaca setia blog ini.

wahai salafiyyun bukalah mata Anda, sudah saatnya Anda dewasa dalam berpikir, jangan terus jadi anak TK yang diajari menyanyi oleh ibu guru Anda tanpa Anda tahu makna bait yang Anda nyanyikan.

Sekian. Wasallam.

43 thoughts on “Tanggapan Atas Kritik Singkat: Syaikh Abdul Hadi Al-Umairi Terhadap Syaikh Yahya Al-Hajuri”

  1. semoga tulisan antum bisa di ambil manfaatnya. ana juga nunggu artikel yg lain🙂

  2. jaza kallohu khoiran, atas pencerahannya!

    Ba rokallohu Fik,
    jikalah sudi antum menjadikan kami murid?

    pengen belajar bersama ustadz yang terlepas dari segala tendensi yang ada?
    (kecuali hanya mengharapkan ridla alloh ‘azza wa jalla..)

    sebelumnya maaf, ini adalah no.hp ana: 0878 40404***

    1. sudahlah, yang pasti-pasti aja, kalau antum ingin diakui keilmuan antum belajarlah kepada orang yang diakui.

      Ana ini majhul, antum belajar sama ana ngga bakalan diakui ilmu antum. hehehe.

      Ana harap antum tidak usah berlebihan dalam bersikap, kalau mau baca2 di blog ini silahkan baca saja, janganlah terlalu silau hingga menganggap ana ini adalah seorang guru yang membuka pendaftaran para murid.

      Pesan ana cuma 1: Kalau yang antum ikuti itu adalah Al-Quran dan Sunnah maka teruslah berjalan sesuai bimbingannya tanpa takut celaan orang mencela, karena bukan mereka yang akan memberi antum syafaat di hari kiamat.

      Kalau yang antum ikuti itu ulama maka ulama itu tidak selalu benar, nyaris tidak ada dalam dunia Islam dari dulu hingga hari ini ulama yang selalu benar perkataannya, apalagi sampai dikesankan ikut ulama = ikut Al-Quran dan As-Sunnah, ya subhanallah… apalagi cuma seorang ustad.

      Selama perkataan ulama itu benar maka hendaknya antum ikuti, namun jika ucapannya menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah maka cukup tinggalkan saja.

      Menyelisihi di sini bukan mereka ingin sengaja menyelisihinya layaknya pendeta ahlul kitab yang menyelisihi kitab mereka, tapi karena hasil ijtihad yang dibangun oleh mereka lemah, karena mereka tidak tahu semua hal. oleh karena itulah kaidah: “yang tahu menjadi hujjah bagi yang tidak tahu” menjadi sangat penting dan berarti sekali di zaman ini.

      Jika ada yang tidak suka dengan sikap antum ini maka biarlah, karena burung itu selalu berkumpul bersama temannya, yang hizbi akan berkumpul sesama hizbi, yang fokus belajar akan berkumpul bersama orang yang fokus belajar, yang rajin menjarh akan berkumpul bersama orang yang rajin menjarh, yang masa bodo akan berkumpul dengan yang masa bodo, dan ini, yang mengikuti ulama akan berkumpul dengan yang mengikuti ulama, dan yang mengikuti Al-Quran dan Sunnah akan berkumpul bersama orang yang mengikuti AL-Quran dan As-Sunnah.

      mudah2an antum termasuk yg mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah. Amin.

      1. na’am, saya mau belajar bukan untuk diakui keilmuan saya kelak …
        tapi, untuk mengangkat/menghilangkan kebodohan pada diri saya pribadi
        dan bisa bermanfaat bagi keluarga saya tentunya, insya alloh ..

        Apakah jika ustadznya maj’hul, maka muridnya juga akan maj’hul?

        Kenyataan yang ada, gurunya dikenal ..tapi muridnya maj’hul?
        wallohul musta-‘an ..

        Ba rokallohu fik-

  3. jazaakumullahu khoir.. terlepas dari siapa antum di dunia nyata sana, sekali lagi saya ucapkan jazaakumullahu khoir..

    *)ada yg tidak.mau berhubungan dg saya lg hanya karena saya tetap membaca blog antum. Ketika saya coba jelaskan akhirnya dia malah menyimpulkan bahwa saya admin predator. Sudahlah toh teman saya masih banyak, yg penting bukan saya yg mulai memutus hubungan.

      1. Ga ada yg salah. Yg salah kesimpulan dia yg konyol. Dia cemburu kali doalnya dia pernah bilang kalo pembaca di blognya banyak yg “NONGKRONG” disini.

        Kata nongkrong itu dari dia lho.. saya cuma mengutip.

        Nas alullohas salamah wal afiyah

  4. Dia bilang salah antum majhul.

    Sudahlah… saya tidak sesabar antum yg suka mengulang-ngulang penjelasan.

  5. maaf..kok ada videonya/bukankah termasuk gambarn bernyawa? (setau saya ngaji di salafy) tidak memakai video karena termasuk gambar bernyawa jadi dosa lho..syukran.

    1. waktu ngaji antum bawa KTP/SIM/STNK/kartu identitas lainnya yang ada fotonya dan uang yang ada gambarnya ga? atau itu semua antum tinggalkan karena termasuk gambar bernyawa dan berdosa?!:mrgreen:

  6. Sebenarnya g masalah ant sembunyikan nama ant,, lg pula banyak juga salafyin yg berprinsip spt ant,, bahkan dg tdk nama , bisa menjadi tameng dr purwito utk membantah blok ant,, sampai sekarang ana g pernah liat purwito membantah blok ini,,

  7. خطبة جمعة بعنوان: (( فضل صيام رمضان وما فيه من زيادة الإيمان )) 29 / شعبان / 1435هـ
    di
    شبكة العلوم السلفية – http://aloloom.net/

  8. Hanya 1 anehnya,,, kok masih menggunakan gambar bernyawa, apakah itu halal menurut antm?? Coba dijawab dg keterangan yg ilmiyah,, sbg pertanggung jawaban ant ttg perbuatan tsb,, bukan dg malah bertanya “kamu bawa ktp?”,, itu bukanlah jawaban yg ilmiyah, sukron,,,,,

    1. hukum ttng gambar bernyawa itu menurut ana masih terbuka ruang untuk berselisih di dalamnya, terlebih di zaman ini yang sangat bergatung pada teknologi visualisasi. Pembahasannya itu sangat panjang. Ana harus buat tulisan khusus agar bisa dipahami bukan dengan koment begini. tunggu saja waktunya, insya Allah akan ana bahas. yang jelas ana nanya begitu, karena ada sebagian salafiyyun mengharamkan gambar namun mereka sendiri menghalalkannya.

      Untuk antum pahami sebagai dasar pembolehannya adalah: Di Saudi itu terdapat kumpulan ulama kibar, apakah ada dari mereka yang mengharamkan uang kertas dengan alasan gambar padahal kita sama2 tahu bahwa di dalamnya terdapat gambar raja saudi. Hal ini sudah berlangsung sangat lama sekali semenjak dinasti Saud didirikan, lebih gila lagi, kalo antum masuk istana di Saudi maka di sana ada banyak sekali gambar raja-raja Saudi dan ulama salafy yang keluar masuk di sana diam saja, kalau lah memang mereka mengharamkannya kenapa hal ini tidak ada fatwanya dan kenapa hal ini terus dibiarkan berlangsung lama padahal terdapat opsi lain sebagai transaksi jual beli yang lepas dari gambar, yaitu dengan menggunakan dinar dan dirham seandainya ulama tersebut kekeuh berpendapat uang adalah masuk kategori darurat sebagaimana yang diyakini salafiyun kebanyakan, maka ana tanya dimana daruratnya kalo masih bisa dengan dinar dan dirham, karena dinar dan dirham itu ga pake gambar!!!!.

      menurut antum lucu ga kalo ada orang sana sini teriak gambar haram tapi setiap harinya tanpa sadar ia mengkonsumsi gambar.

      Ini sebagai alasan mendasar agar antum bisa paham hal ini.

  9. Oya,, apakah masalah musik juga demikian,,? Karena stasiun tv pemerintah saudi juga menggunakan musik sedangkan para ulama mendiamkan,,

    1. Ada bantahan “cetek” dari situs tukpencarialhaq.com

      Si Purwito mencoba membela tuannya, Lukman Ba’abduh dalam keadaan malam yang gelap, entah apa yang ia dapatkan? Kasihan, sudah gelap masih saja berani berjalan.

      Syaikh Abdul Hadi sudah men-jarh Lukman Ba’abduh secara jelas karena Ia memajhulkannya, lantas muncul pengakuan darinya bahwa bukan Lukman yang memajhulkannya tapi para masyaikh:

      Ini jelas sebuah lelucon yang sangat lucu. Kebodohan semacam ini sudah ada dari dulu sampai2 dibuatkan pepatahnya :

      “Jangan salahkan paku bila ia melubangi tembok tapi salahkan palu”

      muncul lagi yang gila: “jangan salahkan palu tapi salahkan orang yang memaku dengan palu”

      tambah gila lagi: “jangan salahkan orang yang memaku dengan palu tapi salahkan pembelinya”

      makin gila lagi: “jangan salahkan orang yang membelinya tapi salahkan penjualnya”

      makin stress: “jangan salahkan orang yang menjualnya tapi salahkan orang yang membuatnya”

      Lucu khan?

      Logika bodoh seperti ini malah dipakai untuk membela Lukman Ba’abduh. Bukankah jauh-jauh hari sudah dibuatkan kaidah oleh Al-Quran.

      “Apabila datang padamu orang fasiq maka cek dan kroscek dulu.”

      atau dalam bahasa jarh wa ta’dilnya: Apabila datang kepadamu orang yang majhul maka isti’lam (cari tahu) dulu, bukankah ini sering dilakukan para muhaqqiqqin dan juga para ahlul hadits.

      Mencari dan mencari tahu seseorang sebelum menjatuhkan vonis, tidak bertanya pada satu dua orang, tidak membuka satu dua kitab tapi puluhan orang bahkan puluhan kitab yang beredar.

      Apa kalian tahu kenapa Ibnu Hajar Al-Asqalani sampai disebut Amirul Muhadditsin?

      Karena ia memiliki banyak kitab yang berisi segudang informasi para perawi yang tidak dimiliki ulama lainnya. Karena muhaddits itu semakin banyak yang ia tahu maka ia semakin berhati-hati, semakin sedikit yang ia tahu maka ia gampang bertasahul baik dalam menjarh maupun menta’dil.

      Kita tentu sudah tahu kasus dimana Yahya bin Ma’in dengan gampangnya menjarh Asy-Syafi’i padahal disampingnya ada Ahmad bin Hanbal.

      Sekarang coba kita lihat Lukman Ba’abduh…

      Apakah mencari bayyinah/isti’lam itu sumurnya hanya ada pada Syaikh Rabi, Ubaid, Abdullah Al-Bukhari, berapa orang mereka ini?

      Ngga sampai dari 10 orang.

      Lantas Masyaikh Kibar di Mekah yang lebih berhak untuk menjarh dan menta’dil Abdul Hadi itu dikemanakan ?

      Inilah akibat dari menerapkan kaidah “bimbingan para ulama kibar” yang kedodoran.

      Kaidahnya sih bener, cuma dalam aplikasinya ulama kibar yang dimaksud adalah ulama yang sejalan dengan manhaj (padahal isinya hawa napsu) mereka, siapapun ulama meski ia Kibar bila tidak sejalan maka ia tidak layak dijadikan Marja/Sumber Rujukan.

      Gila khan?

      Ya salafiyyun pengekor Lukman, apa nasihat Imam Malik ini belum cukup.

      “Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.”

      Lantas apakah akan memudharatkan kalian kalau kalian tidak mengikuti Syaikh Rabi?

      1. jadi ingat dahulu, ketika ditanyakan tentang pengelola situs dammajhabibah.wordpress.com?
        pengelolanya juga maj’hul?
        kok bisa diambil atau dikutip artikelnya?

        apakah ini “efek” ketika maj’hul sudah terkenal?

        Nas alulloha as-salaamah wal ‘afiyah …

    1. Ya bisa. Buktinya banyak masyaikh kibar yang tidak satu paham dalam menghukumi ihya turats. ada yang boleh dan ada yang tidak dan tidak ada dari mereka yang saling mencela kecuali syaikh2 baru-baru yang sedang naik daun saja.😛 apalagi salafiyun yang baru belajar, baik yg ekstrim boleh, maupun ekstrim tidak boleh, padahal tahu pasti masalahnya juga ngga, sudah maen “fatwa” aja.:mrgreen:
      permasalahan ihya turats itu bagusnya dijadikan selingan saja, itu bukan bagian dari ushul yang ada dalam Islam yang wajib bagi seorang muslim salafy untuk memilikinya, kalau lah ada yang ngeyel (pokoke harus) dalam hal ini itu berarti ia sama saja membatalkan manhaj orang2 terdahulu sebelum kedtangan ihyaturats karena ia menyangka ihyautrats adalah permasalahan ushul dan tentu saja ini adalah kebodohan di atas kebodohan.
      Ana ngga yakin mereka yang sering koar-koar tentang ihya turats ((baik yang melarang dan yang membolehkan)) itu mengenal Allah dengan sesungguhnya…
      saran ana, kalau antum misalkan tiba2 ada hubungan dengan ihya turats maka barulah boleh kiranya bicara/membahas tentangnya. kalo ngga sebaiknya jangan buang waktu antum yang antum gunakan untuk menuntut ilmu dengan hal2 seperti ini.
      kalo ihyaturats ngga punya urusan dengan antum, antum juga ga punya urusan dengan ihyauturats lantas ngapain antum nyibukin diri antum dengan ihyauturats? Pentingnya apa? padahal di sana terdapat hal-hal penting lainnya (yang mana ia terkait dengan antum dan antum terkait dengan ia dalam kapasitas antum sebagai thalib) yang harus antum jalani terlebih dahulu sebagai thalibul ilm.
      Lain cerita kalo antum sudah punya urusan dengannya bolehlah dibahas di sini karena antum tidak bisa diam saja darinya…

  10. ustadz, bisa dipetakan ‘fraksi-fraksi salafy’ yg bertikai di indonesia? semakin lama semakin eneg aja padahal sdh sekian lama saya menarik diri dg tidak berafiliasi ke manapun, yg penting belajar aja, makanya ademm rasanya liat2 disini

  11. Faktor ap yg mendorong ant ut mengkritisi org2 yg mentahdzir syaikh yahya, n ant g mengkritisi syaikh yahya ktk mentahdzir syaikh ubaid ,abul hasan, ali hasan, abdurrahma adeni, luqman baabduh,dll,,?

    1. @muhammad : serius ga tau faktor2 pendorong admin mengkritisi apa yg anda tanyakan?
      Masa sih ga bisa nangkap kenapa…?

      Padahal jelas banget lho beda (maaf) tahdzir “obok-obok” sama jarh yg dibangun di atas bayyinaat.

      Yang dikritisi di sini kan tahdzir yg dibangun di atas pemahaman yg sakit, bahkan yg parahnya lagi dibangun di atas ketidaksukaan pada orang yg ditahdzir. Berhubung tahdzir Syaikh Yahya hafidzohullohu ta’alaa dibawakan berdasarkan bayyinaat… maka apa lagi yang harus dikritisi? (Bagi orang2 yg faham realita, apa yg disampaikan Syaikh Yahya ttg vonis beliau atas hizbiyyahnya ibna’i mar’i dkk itu sudah cukup.. sudah terlalu kenyang untuk diulang2, waktu terlalu berharga utk mengulang pembahasan yg sama. Ga mau deh ikut2an ketinggalan pesawat).

      Yang jelas Syaikh Yahya sebagaimana yg dikatakan oleh Al Ustadz Asnur -hafidzohulloh dalam salah satu posting di situs darul-ilm.com, “…bahwasannya Syaikhuna Yahya Hafizhohullaahu Ta’ala tidak pernah memulai pada suatu perkara kecuali pembelaan. Dan hal ini tidaklah tercela sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :
       “Allah tidak menyukai Ucapan buruk (*), (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS An-Nisa’ : 148)
      (*) Catatan : Yang dimaksud “ucapan buruk”, contohnya adalah mencela orang, memaki, menerangkan keburukan-keburukan orang lain, menyinggung perasaan seseorang, dan sebagainya.”

      Wallahu ta’alaa a’lam bishowab,

      Nas’alulloh an’yahdiyanaa ilal haq.

    2. pernah dengan premis yang dilontarkan salaf: “Kenalilah kebenaran maka anda akan tau siapa saja orang2nya”, tapi jika anda sudah meyakini orang2 tersebut benar maka anda tidak akan pernah kenal dengan kebenaran karena yang ada dalam batok kepala anda bahwa yang benar cuma orang2 tadi!”

      premis ini ana balik sekarang agar semua pembaca di sini sadar: “Jika anda tidak kenal kebatilan maka anda tidak akan tahu siapa saja orang-orangnya”, yah inilah kenyataan yang terjadi, bahwa banyak salafiyyun berjalan bersama orang-orang batil, karena mereka tidak punya ilmu ttng kebatilan sehingga yang mereka tahu ustad/syaikh mereka selalu benar dan tidak ada batilnya sama sekali meski ia manusia biasa!!!! Lihat, betapa terlantarnya mereka dari ilmu yang benar.

  12. Klw memang semua jarh syekh yahya itu tepat, apakah boleh kiya katakan “syekh ubaid, ali hasan, abul hasan, abdurrahman adeni, lukman cs, dll yg ditahdzir syekh yahya adl hizby” walaupun itu masalah ijtihadiyah?

    1. yang ente tau ttng jarh itu apa sih… pengen tau ana.:mrgreen:

      Apa ente ngga baca kasus: Yahya Bin Ma’in yang menjarh Syafi’i dengan sebutan tasyayyu/rafidhah lantas apa Ahmad setuju dengan hal itu, lalu apa Ahmad membalas dengan menjarh balik Yahya bin Ma’in karena ia menjarh gurunya Asy-Syafi’i… seperti yang sering dilakukan salafiyyun pada hari ini?😛

      tapi ngomong2 ente tahu ga siapa Yahya bin Main, orang ini adalah maestro dalam bidang jarh wa ta’dil!

      Kalau salaf saja ngga ada yang begitu kenapa salafiyyun begitu, ngomong2 mereka ini ngikut siapa? katanya… dikit-dikit Imam Ahmad… belum apa-apa Imam Ahmad, bahkan Imam Ahmad diletakkan di atas 3 Imam lainnya.😛

      Intinya sepanjang jarhnya itu benar kita dukung (kita tidak dukung orang tapi mendukung kebenaran yang ia bawakan, sebab klo sudah dukung orang… maka meski ia salah tetap kita dukung), kalo salah tinggalkan (kita ngga meninggalkan orang/person tapi kesalahannya, makanya orang itu dimuliakan karena ilmunya/kebenaran yang ia pegang bukan karena orangnya, karena kita semua sama-sama orang, tapi tidak semua kita berilmu makanya yang berilmu lebih mulia dari yang tidak berilmu). Sederhana khan. cuman salafiyyun hari ini ngga mau yang sederhana maunya yang ribet bin rempong bin gampang emosian mulu.😛

  13. Dalam permasalahan syaikh Yahya vs syaikh Rabi’ maka saya melihat syaikh Yahya di atas kebenaran, namun dlm permaslahan syaikh Yahya vs syaikh Ali, syaikh ABul Hasan cs maka saya melihat syaikh Ali di atas kebenaran so, saya -insya Alloh- terbebas dari taklid membuta kpd seorang syaikh, merek asemua masyaikh ahlussunnah yg wajib dihormati… bukan begitu ustadz admin?

      1. Merinci permasalahan itu sangat penting sekali.. #pointing

        jazaakumullahu Khoir admin

      2. iya, masa Yahya bin Main mau kita hantam rame2 hanya karna menjarh syafi’i dengan rafidhoh. Masa Malik mau kita hantam juga karena menjarh Ibnu Ishaq dengan Dajjalnya para Dajjal. Masa HUzaifah mau kita hantam habis kayak syiah ((yang menjarh kebanyakan sahabat)) hanya karena ia menjarh Abu Musa dengan munafik.

        tapi kenapa Syaikh Yahya dihantam rame-rame karena karena menjarh Abdurrahman Al-Mar’i dengan Hizbi?:mrgreen:

        Kalau ana ngikutin manhaj-nya salafiyun zaman sekarang udah habis kali Imam-imam salaf ana jarh juga.:mrgreen:

    1. @Ikmal: perkataan anda, “… namun dlm permaslahan syaikh Yahya vs syaikh Ali, syaikh ABul Hasan cs maka saya melihat syaikh Ali di atas kebenaran…”

      Serius tanya ya, bukan nge-tes. Bisa dijelaskan kenapa anda berkesimpulan demikian?

  14. bismillah. afwan ustadz admin, ana ingin tau. apakah menurut antm ketika Syaikh Yahya menjarh Syaikh Abdurrahman dengan hizbi sudah sesuai dengan kaidah? ana ingin tau penjelasan dan rinciannya. jazakallohukhoiron

Comments are closed.