images (9)

Apakah Lukman Ba’abduh dkk Mulai Bangkrut?

Sebagai salah satu pengusaha besar dakwah salafiyah di bidang “tahzir”, kekayaan Lukman Ba’abduh dalam mencela dan mencela saudaranya sesama salafiyyun yang tidak menerima “strategi marketing”nya atas dakwah salafiyah di negeri ini nampaknya sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Bahkan seorang dai asal makassar, Dzulqarain yang bisa dibilang dianggap sebagai pesaing seriusnya di medan dakwah ini hampir saja ia ia buat gulung tikar dengan tahzir Syaikh Rabi yang menyebutnya la’ab, dst.

Namun bukan Dzulqarnain yang terkenal “latah” ini mau tinggal diam kalau diperlakukan seperti ini. Setelah melakukan counter attack atas serangan Lukman Ba’abduh tersebut melalui webnya Dzulqarnain pun mengacam akan memperkarakan masalah ini kepada Syaikh Rabi. Dan ketika Dzulqarain akan melakukan klarifikasi ilmiah kepada Syaikh Rabi, Lukman Ba’abduh dkk bangkit berbondong-bondong untuk menghalang-halanginya. Seakan-akan “Syaikh Rabi versi Lukman” inilah yang benar dan ia tidak akan membiarkan ada “Syaikh Rabi di luar versinya”, termasuk “Syaikh versi Dzulqarnain” di Indonesia ini. Sebenarnya trik licik ini pernah mereka lakukan ketika Jakfar Umar Thalib mereka buat gulung tikar dari usahanya melariskan kembali dakwah salafiyah yang mereka buat bangkrut dari perusahaan lama mereka yang bernama Lasykar Jihad.

Ya, itu benar-benar terjadi saat Jakfar Umar Thalib mencoba mengklarifikasi permasalahannya kepada Syaikh Rabi namun mereka halang-halangi hingga Syaikh Rabi menerima hasutan mereka dan merekapun tertawa riang karena misi mereka berhasil hingga Jakfar pun bernasib seperti sekarang ini. Ditinggalkan oleh para pengikutnya dahulu.

Namun atas kasus Dzulqarnain ini sepertinya mereka harus “gigit jari”, karena Syaikh Rabi telah memaafkan kesalahan Dzulqarain dan meminta segenap salafiyyun di Indonesia menerima kembali Dzulqarnain di tengah-tengah mereka melalui surat yang diwartakan oleh Syaikh Hani bin Buraik. Tragisnya, ketika surat ini keluar tak satupun dari rekan Lukman atau Lukman sendiri yang menampakkan batang hidungya dalam menyambut Dzulqarain.

Sepertinya kaidah yang mereka elu-elukan “kembali kepada ulama kibar” untuk membuat usaha pesaing mereka bangkrut perlu kita tinjau ulang. Ya… bagaimana tidak, ketika ulama kibar sudah memutuskan agar Lukman Ba’abduh dkk untuk menerima kembali Dzulqarnain tak satupun dari mereka yang mematuhinya… sungguh tak satupun dari mereka yang mematuhinya… tak ada dari mereka satupun yang bahagia atas keputusan ini dan menyambut gembira keputusa ini.

Ini menunjukkan bahwa kaidah “kembali kepada ulama kibar” hanyalah retorika palsu yang dipenuhi kedustaan demi kedustaan semata. Cukuplah bagi kita perkataan Imam Ali ketika mendebat khawarij yang bermain retorika agar menjadikan Al-Quran sebagai hakim:

Perkataan yang benar namun yang diinginkan darinya adalah kebatilan

Al-Quran itu tidak bisa bicara yang membuatnya berbicara adalah kalian sendiri!

Artinya kembali berhakim kepada Al-Quran hanyalah omong kosong belaka agar Imam Ali tunduk pada hawa napsu mereka yang menjadikan Al-Quran sebagai sarana penyaluran hawa napsu mereka atas kasus shiffin. Dan begitulah dengan kasus Lukman dkk bahwa “kembali kepada ulama kibar” hanyalah retorika palsu yang dipenuhi kedustaan demi kedustaan belaka.

Lebih tragis lagi, nampaknya Lukman Ba’abduh harus mulai cari siasat baru kalau tidak ingin dagangannya bangkrut total sebab Syaikh Hani kini mulai “agak dekat” lagi dengan Dzulqarnain. Entah bagaimana nanti kisah selanjutnya, apakah hasil pertarungan yang berakhir seri ini (1-1), yaitu Syaikh Rabi mentahzir Lukman dari hasutan Dzulqarnain dan Syaikh kini, Rabi mentahzir Dzulqarnain dari hasutan Lukman akan dimenangkan oleh Dzulqarnain lagi di ronde berikutya (2-1) mengingat Syaikh Hani yang mulai dekat lagi dengan Dzulqarnain sehingga ulah-ulah nakal Lukman Ba’abduh dkk atas dakwah salafiyah lebih mudah dilaporkan kepada Syaikh Rabi melalui perantara Syaikh Hani atau tidak!, karena adanya strategi baru dari Lukman Ba’abduh untuk menghadapinya. Jawabnya, wallahu a’lam kita lihat saja nanti.     

Dan di luar itu semua ada satu hal yang sepertinya akan membuat Lukman Ba’abduh bennar-bennar tidak bisa tidur nyeyak dari counter attack jilid 2 Dzulqarain. Apa itu?

Ini dia kami kutipkan dari press release salah satu laman web murid Dzulqarain:

(Alhamdulillah, InsyaAllah..3 Úlama Ahlussunnah Salafiyyin: Asy-Syaikh Hani bin Ali bin Buraik, Asy-Syaikh Abdullah bin Umar Al-Marí, dan Asy-Syaikh Usamah Ath-Thoya hafizhahumullah akan segera hadir ke Indonesia dengan undangan Guru Kita Al-Ustadz Dzulqarnain hafizhahullah..Teruslah Bersabar & Optimis di atas Sunnah ! Baarakallahufiykum.)

224 thoughts on “Apakah Lukman Ba’abduh dkk Mulai Bangkrut?”

  1. setau ana kalam trakhir syaikh soleh fauzan adl beleh ketika siaran langsung bukan direkam krn qiyas dg cermin , itu aj marjuh mnurut syakh yahya
    .
    klw bnrpun,, ad gunanya .

    sedangkan gbr yg ant pajang g ad gunanya

    1. Faktanya rekaman Syaikh itu banyak bertebaran dimana2 terutama di youtube. Dan Syaikh tentu bukan orang bdoh bila sampai tidak tahu hal ini terlabih syaikh adalah orang yang update.:mrgreen:

      cermin itu ga ada potensi untuk jadi gambar, kalo video/kamera itu jelas ada! ente “pause” video tsb udah jadi gambar mahluk bernyawa. Analogi dengan cermin adalah analogi/qiyas yang berbeda. dan menurut ana itu keliru sekali loh:mrgreen:

      Loh jadi hukumnya sekarang berubah karena ada manfaat begitu?:mrgreen:

      1. Bismillah….

        “Faktanya rekaman Syaikh itu banyak bertebaran dimana2 terutama di youtube” …

        Kalo ana berfikir, bukankan sudah ada kalam syaikh yang mengharamkan video, kecuali “live” bukannya orang-orang yang sengaja merekam dan menyebarkan Video Syaikh itu yang berkhianat terhadap syaikh ssendiri, krane tidak mungkin syaikh mengklarifikasi satu persatu atau setiap saat akan mengingkari semua rekaman video tentang dirinya … tentunya orang yang merekamnya itulah yang mungkin termasuk orang yang khianat atas diri syaikh fauzan -hafizahullah- sendiri. wallahu a’lam

        #MEMURNIKAN ITTIBA’ DAN MEMBERSIHKAN NAMA BAIK ULAMA AHLUSSUNNAH

        Study Kasus:Munculnya Syaikh Sholeh Al-Fauzan di Televisi yang Menimbulkan Polemik dan Kontradiksi

        Ditulis oleh: Abu Zakaria Irham bin Ahmad Al Jawy -Semoga Alloh mengampuni dosa-dosanya- Darul Hadits Dammaj, Jumat, 20 Robiul Awwal 1434H

        بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

        الحمدلله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى أله وأصحابه ومن واله، أشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أما بعد:

        Di antara prinsip utama aqidah Ahlussunnah wal jamaah adalah peletakan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai dasar utama pengambilan hukum serta mengedepankan keduanya dalam setiap perkara. Alloh telah berfirman:

        اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ

        “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Robb-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya, amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (QS. Al-A’rof: 3)

        Hal ini dikarenakan tidaklah tersisa satu perkara pun baik di masa dahulu maupun sekarang bahkan yang akan datang, kecuali Alloh dan Rosul-Nya telah menentukan hukumnya, baik secara nash maupun istimbath. Alloh adalah Dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu, tahu semua perkara yang akan muncul dan tidak, serta tahu dampak yang akan ditimbulkannya jika perkara tersebut muncul. Adapun perselisihan yang terjadi dalam menentukan suatu hukum kembali pada kekurangan manusia dalam memahami syariat Alloh dan penjelasan-penjelasan yang disampaikan Rosul-Nya.

        Dengan ini jelaslah bahwa penempatan seseorang sebagai sesuatu yang diikuti dalam setiap perbuatan dan perkataannya tanpa mengetahui dalilnya merupakan penyelisihan terhadap manhaj ahlus sunnah.

        Prinsip di atas secara sekilas memang mudah, tapi pada kenyataannya merupakan perkara yang berat untuk diterapkan –kecuali bagi orang-orang yang mendapat taufiq dari Alloh-. Oleh karena itu, banyak kita lihat orang-orang terjerembab ke dalam kesesatan disebabkan jauhnya mereka dari pengamalan prinsip utama tersebut. Sehingga mereka mengedepankan perkataan dan perbuatan para pemimpin mereka atas perkataan Alloh dan Rosul-Nya.

        Ironisnya, penyakit ini juga menjangkiti sebagian saudara kita yang menisbahkan dirinya sebagai salafy, walaupun tarafnya tidak sekronis yang menimpa para hizbiyyun. Namun merupakan kaidah yang diakui oleh syariat dan akal yang sehat bahwa sesuatu yang menimbulkan dampak negatif harus dipupus dengan segera sehingga tidak menjalar dan mencelakakan diri dan orang-orang sekitarnya.

        Diantara kasus yang menunjukkan ketidak kokohan sebagian orang dalam memahami dan memegang prinsip di atas adalah mudahnya mereka goyah dari pijakan yang diyakininya ketika melihat ada ulama melakukan hal yang menyelisihi keyakinannya. Sebagai contoh adalah munculnya Syaikh Sholeh Al-Fauzan –hafidzohulloh- di layar Televisi pada tahun-tahun terakhir ini.

        Hal ini tidak bisa dipungkiri memang menimbulkan polemik dan kontradiksi yang butuh untuk diperjelas dan didudukkan dengan benar. Terlebih lagi ketika banyak manusia berbicara dalam kasus ini tanpa didasari ilmu. Sebagian menjadikan kemunculan beliau itu sebagai dalil bahwa gambar makhluk bernyawa boleh, sebagian lainnya: televisi itu boleh. Sebagian lainnya bersikap kebalikannya: mereka mencela dan menempatkan Syaikh pada kedudukan yang tidak sepantasnya. Sebagiannya lagi bertanya-tanya; bagaimanakah hakekat perkara yang sebenarnya?

        Oleh karena itu pada pembahasan kali ini –Insya Alloh- akan kami kupas permasalahan ini sehingga tidak menimbulkan tanda tanya lagi. Harapan kami, penjelasan yang akan datang juga bisa memberikan wacana dan pelajaran dalam menghadapi kasus-kasus lain yang semisal dengannya. Nasalullohat Taufiq was Sadad.

        Bimbingan Syareat dalam Menyikapi Perbuatan Ulama.

        Ikhwany –waffaqokumulloh- merupakan hal yang disepakati bahwa ulama adalah manusia biasa yang terkadang lupa dan tidak mendapat jaminan bahwa semua perbuatannya itu benar. Oleh karena itu, tidaklah dibenarkan seseorang mengambil kesimpulan dan menarik suatu hukum dari perbuatan yang mereka lakukan dengan serta-merta tanpa meminta penjelasan. Terlebih lagi jika perbuatan yang dilakukannya itu terdapat pertentangan dengan perkara yang dikenal darinya.

        Imam Asy-Syatiby –Rohimahulloh- berkata: “(Para ulama) mengatakan: “Janganlah kamu melihat perbuatan seorang ‘alim, tapi tanyalah dia maka dia akan membenarkan (dugaanmu atau menyalahkannya).” [Al-I’tishom: 2/605]

        Beliau juga mengatakan: “(Para ulama) mengatakan: ilmu yang paling lemah adalah (yang didapat dari) penglihatan, yaitu seseorang melihat orang lain melakukan sesuatu kemudian dia melakukan yang semisalnya, padahal mungkin saja orang (yang dilihat tersebut) melakukannya karena lupa.” [Al-I’tishom: 3/109]

        Inilah kaidah dalam menyikapi perbuatan ulama. Sebab perbuatan itu memiliki kemungkinan yang banyak; terkadang tidak disengaja, terkadang karena lupa, terkadang karena terpaksa, terkadang karena menghindari kemadhorotan yang lebih besar….dan kemungkinan-kemungkinan lainnya. [lihat penjelasan Syaikh Sholeh Alu Syaikh dalam Syarh Aqidah Thohawiyyah]

        Demikian pula pada kasus kita ini, kita tidak boleh langsung mengambil kesimpulan dan menetapkan suatu hukum hanya dengan sekedar melihat munculnya Syaikh Al-Fauzan di layar TV. Namun kita harus mencari penjelasan; apa yang menjadi dasar beliau sehingga melakukan perbuatan tersebut??[1]

        Penjelasan tentang Pendapat Syaikh Al-Fauzan dalam Permasalahan Shuroh dan Televisi.

        Pertama: Fatwa beliau tentang haramnya shuroh (gambar makhluk bernyawa) baik digambar dengan tangan maupun dengan kamera

        Syaikh Sholeh Fauzan –hafidzohulloh- ketika menjelaskan hadits:

        كلُّ مصوِّرٍ في النّار، يُجعل له بكلّ صورة صوّرها نفسٌ يعذّب بها في جهنّم

        “Setiap orang yang menggambar (makhluk bernyawa akan masuk) neraka. Gambar-gambar yang telah mereka buat itu akan dijadikan bernyawa sehingga menyiksa mereka di Jahannam”.

        Beliau berkata: “(Sabda beliau ini) juga umum mencakup seluruh gambar makhluk yang bernyawa, baik itu dihasilkan dengan digambar atau dipahat atau dengan memencet alat. Perbedaannya hanyalah bahwa pengguna alat lebih cepat kerjanya daripada orang yang menggambar (dengan tangan), adapun hasilnya sama, masing-masing mereka menginginkan untuk menghasilkan ‘shuroh’.

        Orang yang mengukir atau membikin patung tujuannya terciptanya ‘shuroh’. Orang yang melukis tujuannya juga ‘shuroh’. Orang yang memotret dengan kamera tujuannya juga ‘shuroh’. Lalu, kenapa kita membedakan-bedakan mereka??! Padahal Rosul Shollallohu ‘alahi wa sallam telah bersabda:

        كلُّ مصوِّرٍ في النّار

        “Semua orang yang menggambar makhluk bernyawa di neraka”?!.

        (Mereka) tidaklah punya dalil kecuali falsafat yang mereka buat-buat dan teori-teori yang mereka ada-adakan. Mereka ingin membatasi cakupan makna sabda Rosululloh Shollallohu ‘alahi wa sallam (di atas) dengan kepala mereka….(Padahal) merupakan suatu perkara yang dimaklumi bahwa perkataan Alloh dan Rosul-Nya tidaklah boleh dibatasi cakupan maknanya kecuali dengan dalil dari perkataan Alloh dan Rosul-nya juga. Bukan dengan ijtihad atau teori-teori buatan manusia. (“I’anatul Mustafid”: 2/ 369)

        Perkataan di atas sangat jelas bahwa Syaikh Fauzan berpendapat bahwa shuroh itu haram secara mutlak. Tidak dibedakan apakah shuroh dihasilkan dengan tangan atau dengan kamera. Tidak pula dibedakan apakah shuroh itu dua dimensi atau tiga dimensi. Inilah yang benar dalam perkara shuroh yang tidak ada pilihan selainnya. [lihat kembali penjelasan secara terperinci dalam tulisan kami: “Televisi dalam Timbangan Syar’i”]

        Kedua: Pendapat beliau tentang Televisi dan video

        Dalam permasalahan ini, Syaikh Fauzan mempunyai beberapa fatwa yang berbeda, sehingga kita harus mencermati dengan benar fatwa-fatwa tersebut dan menempatkan sesuai porsinya.

        Pada awalnya beliau berpendapat bahwa shuroh yang ada di layar televisi hukumnya haram secara mutlak. Hal ini nampak nyata dari fatwa-fatwa serta perbuatan beliau. Oleh karena itu beliau dengan tegas menolak untuk keluar ke studio-studio TV. Beliau berkata: “Aku tidak akan keluar ke studio-studio TV dan belum pernah keluar serta tidak akan keluar insya Alloh.”

        Demikian pula ketika beliau diberitahu bahwa shuroh beliau muncul di TV atau majalah, dan ditanya apakah hal tersebut merupakan bukti bahwa beliau berpendapat bolehnya menggambar makhluk hidup?? Beliau menjawab:

        “Tidak, hal ini bukan dalil! Saya tidak memerintahkan mereka, tidak pula meminta mereka. Merekalah yang datang. Dulu mereka mengambil gambar Syaikh Bin Baz padahal beliau mengharamkannya dan meminta dengan keras agar orang yang melakukan tersebut mencabut gambar beliau (yang telah disebar itu) dari masyarakat. Semua ini dosanya kembali kepada mereka. Adapun kami, kami tidaklah ridho dengan perbuatan tersebut dan kami tidak memerintahkan mereka untuk melakukannya. Mereka tidak pula meminta pertimbangan kami dalam perkara ini.”

        Masih banyak lagi fatwa-fatwa beliau yang senada, bagi yang menginginkan lebih lengkap silakan kunjungi situs resmi beliau:http://www.alfawzan.ws/node/10233. Juga: 10243, 10209.

        Kemudian ijtihad beliau dalam permasalahan ini berubah. Hal ini terlihat dengan munculnya beliau pertama kali di studio TV resmi Saudi pada tahun-tahun terakhir ini. Kemunculan beliau inilah yang menimbulkan kontradiksi di antara salafiyyin. Adapun para hizbiyyun mereka dengan girang menyambutnya dan menyatakan bahwa Syaikh Al-Fauzan membolehkan gambar. Namun apakah demikian kenyataannya??

        Akhirnya pada pelajaran kitab “Ad-Durrun Nadhid” [Selasa, 18-1-1433H] beliau menjelaskan alasan kenapa beliau muncul di TV sekaligus membantah orang-orang yang menyatakan bahwa beliau telah membolehkan shuroh.

        Inti dari penjelasan beliau bahwa hukum gambar yang ada di TV itu tidak termasuk dalam shuroh yang dilarang jika terjadi siaran secara langsung dan hasil shoting dari siaran tersebut tidak disimpan, baik dalam kaset video atau yang semisalnya. Sebab, jika terjadi siaran secara langsung maka hal ini ibarat pemindahan bayangan yang terjadi pada cermin.[2] Bayangan akan hilang dengan selesainya siaran. Oleh karena itu beliau mensyaratkan agar siaran tersebut tidak disimpan dan mengingkari dengan keras proses perekaman video. Beliau mencontohkan dengan siaran langsung sholat di masjidil haram dan masjid Nabawy, juga siaran langsung manasik haji di Arofah. Semua ini, jika memenuhi persyaratan di atas bukanlah termasuk perkara yang terlarang. Namun, apabila gambar hasil shoting tersebut disimpan baik dalam kaset video atau yang semisalnya maka jelas bahwa hal ini termasuk dalam proses manggambar makhluk hidup bernyawa yang diharamkan. [lihat: Majalah Ma’rifat As-Sunan wal Atsar]

        Jadi, Syaikh Al-Fauzan tetap dalam fatwanya tentang haramnya shuroh, baik itu berupa lukisan tangan atau kamera, baik itu diam atau bergerak. Adapun yang dibolehkan menurut ijtihad beliau adalah proses siaran langsung yang pada hakekatnya hanya sekedar pemindahan gambar hidup belaka.

        Mengkritisi pendapat Syaikh Al-Fauzan tentang Pembolehan ‘siaran langsung.’

        Sebagai seorang sunny salafy, tentunya tidaklah boleh bagi kita untuk menerima pendapat seseorang yang tidak ma’shum sampai kita menimbangnya dengan timbangan syar’i. Rosululloh –Shollallohu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda:

        لَيْسَ أَحَدٌ إِلَّا يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيَدَعُ غَيْرَ النَّبِيِّ –صلى الله عليه وسلم-

        “Tidaklah ada seorangpun kecuali perkataannya (bisa) diambil dan ditinggalkan, kecuali Nabi –Shollallohu ‘alaihi wa sallam.” [HR Thobrony: 11/ 339 dengan sanad hasan dari Ibnu Abbas]

        Imam Malik –Rohimahulloh- berkata: “Tidaklah setiap seseorang mengatakan suatu perkataan –meskipun orang tersebut punya keutamaan- lantas perkataannya itu diikuti, Alloh telah berfirman:

        الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه

        “(Yaitu) orang-orang yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang paling baiknya.” [Jami’ Bayanil ‘Ilm: 2/995]

        Syaikhul Islam –Rohimahulloh- berkata: “Tidak boleh seorang pun berhujjah dalam perkara-perkara yang diperselisihkan dengan perkataan seseorang. Akan tetapi hujjah itu adalah Nash (baik Quran maupun Sunnah) dan ijma.’ [Majmu’ Fatawa: 26/ 202]

        Oleh karena itu, marilah kita lihat kebenaran alasan yang disebutkan Syaikh Fauzan sehingga dengannya beliau menyatakan bahwa siaran langsung tidak termasuk dalam proses penggambaran makhluk bernyawa yang diharamkan.

        Ketahuilah –waffaqokumulloh- bahwa alasan tersebut tidaklah bisa diterima disebabkan hal-hal berikut ini:

        Pertama: Adanya perbedaan yang nyata antara proses pemancaran siaran langsung dengan cermin biasa, sehingga karenanya tidaklah bisa kita menyamakan hukum antara keduanya. Diantara perbedaan yang ada:

        a) Pada cermin (demikian pula benda-benda mengkilat lainnya), tidaklah ada usaha manusia sama sekali untuk memunculkan bayangan, karena memang itu adalah sifat yang Alloh berikan pada benda-benda tersebut. Berbeda dengan kamera shoting dan alat sejenisnya yang membutuhkan usaha dan pikiran manusia.

        b) ‘Shuroh’ yang dihasilkan kamera shoting tidaklah mungkin terwujud kecuali jika terkumpul padanya empat unsur: makhluk yang di-shoting, orang yang men-shoting, alat untuk shooting, dan proses pen-shoting-an. Berbeda dengan bayangan cermin yang cukup dengan mencari cermin atau benda lainnya yang mengkilat kemudian berdiri di depannya.

        c) Pada ‘siaran langsung’, tidaklah akan mungkin terjadi dan tersebar ke seluruh penjuru dunia kecuali setelah mengalami beberapa proses yang berupa pengubahan obyek yang ditangkap oleh kamera shoting menjadi ‘sinyal-sinyal elektrik’ yang sinyal-sinyal ini kemudian masuk ke alat pemancar dan disebar ke penjuru dunia. Tidaklah mungkin sinyal-sinyal tersebut bisa dilihat kecuali dengan alat lain yang berfungsi untuk mengembalikannya sebagaimana awal kali ‘penangkapan’. Jadi proses ini pada hakekatnya tidaklah beda dengan proses pengambilan foto dengan kamera yang diharamkan, hanya saja hasil yang diinginkan pada ‘proses siaran langsung’ muncul dengan sangat cepat. Adapun proses pantulan cermin, tidaklah didapati padanya perubahan apapun.

        d) Dari penjelasan di atas dipahami pula bahwa tidak boleh tidak, mesti ada jeda waktu dari proses pengambilan obyek sampai bisa disaksikan penonton, walaupun jeda ini sangat kecil.[3] Sebagaimana pula dipahami bahwa pada proses itu mesti ada penyimpanan ‘sinyal’ yang hendak dipancarkan walaupun penyimpanan ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

        e) Hampir seluruh orang yang melihat hasil siaran langsung itu menyebutnya sebagai gambar. Belum pernah seorangpun kami dengar mengatakan bahwa siaran yang ditonton itu adalah ‘bayangan’.

        Kedua: Dilihat dari praktek yang ada, bahwa kebiasaan stasiun TV itu tidak konsisten dengan persyaratan yang ditetapkan orang yang menyatakan bolehnya ‘siaran langsung.’ Mereka biasanya menyimpan hasil shoting tersebut dan tidak menghapusnya. Jadi, permasalahan ini akhirnya kembali juga ke permasalahan hukum video yang telah jelas keharamannya.

        Ketiga: Pembolehan ‘siaran langsung’ akan membuka pintu untuk bermudah-mudahan dalam masalah shuroh. Terlebih lagi kebanyakan manusia tidak mengetahui batasan-batasan yang ditetapkan pihak yang membolehkan ‘siaran langsung’ sehingga dengannya seseorang bisa terjerumus dalam perkara-perkara yang telah jelas haramnya. Merupakan kaidah yang telah disepakati bahwa syariat ini berusaha untuk menutup seluruh pintu-pintu yang mengantarkan pada perkara yang terlarang, sebagaimana telah disepakati pula bahwa mencegah suatu kerusakan yang besar lebih didahulukan daripada mengambil faedah yang masih di angan-angan.

        Dengan ini semua, jelaslah bagi kita bahwa apa yang disebut dengan ‘siaran langsung’ itu hukumnya tidaklah berbeda dengan siaran tunda maupun kaset video. Barangsiapa mau membedakannya maka dituntut untuk mendatangkan bukti serta dalil. Oleh karena itulah Syaikh Muqbil Al-Wadi’y –rohimahulloh- menyatakan haramnya seorang da’I muncul di TV secara mutlak. Demikian pula Syaikhuna Yahya Al-Hajury –hafidzohulloh. Wallohu a’lam

        Sebagai penutup, kami ingatkan bahwa perkara yang sedang kita bicarakan ini adalah perkara yang diperselisihkan oleh ulama, yang masing-masing mereka berijtihad dengan ilmu yang Alloh bukakan pada mereka. Barangsiapa yang benar dalam ijtihadnya Alloh berikan dua pahala padanya, dan apabila keliru maka Alloh berikan satu pahala baginya atas usahanya yang sungguh-sungguh untuk mencapai kebenaran. Yang dituntut dari seorang sunny adalah mengikuti dalil yang dijadikan pijakan masing-masing mujtahid, bukan mengikuti perasaan dan ta’ashshub golongan. Kita menghormati Syaikh Sholeh Fauzan sebagai seorang ulama yang memperjuangkan sunnah dan manhaj salaf, akan tetapi dalam permasalahan ini kita tidak sepakat dengan beliau.

        Kita memohon kepada Alloh agar menjaga beliau dan seluruh ulama Ahlissunnah dimanapun mereka berada, sebagaimana kita memohon kepadaNya agar memberikan keistiqomahan kepada kita semua sampai datang ajal yang telah Alloh tetapkan.

        سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

        Sumber: http://ahlussunnah.web.id/

        [1] Hal inilah yang menyebabkan kami menunda beberapa lama untuk berbicara tentang permasalahan ini, agar bisa mendapatkan sumber-sumber yang meyakinkan dari fatwa-fatwa Syaikh Fauzan sehingga jelas perkaranya bagi kami. Wallohul Muwaffiq

        [2] Orang yang berpendapat dengan pendapat ini menamakan proses siaran langsung itu dengan “Mir-ah Muthowwaroh” (cermin modern) dan menamakan siaran tunda dengan “alat lukis modern.”

        [3] Diantara bukti adanya jeda waktu ini: sampainya suara yang terkadang lebih cepat daripada gambar, terlihatnya roda mobil yang berjalan berputar ke arah belakang.

  2. afwan ustadz…. ana mw tanya , antm tw g ini kalam siapa;
    “aku sampaikan prkataan nabi tapi kamu jawab , brkata abu bakar demikian… brkata umar demikian…” dan
    “aku heran trhadap orang yg tw ilmu sanad ,tp lebih memilih pendapat atstsauri”
    ana sering dgr di dauroh2 tp lupa kalam siapa..????

  3. Afwan admin,,, jk tdk keberatan untk menjawab… ana mau tanya lagi…
    Kalau gambar yg di perintahkan untuk men`thomas`nya gambar yg bagaimana ya…?

    1. pembahasannya panjang akhi. sebelum menghukumi sesuatu kita harus tahu perkara itu serinci-rincinya agar tidak salah dihukumi, jangan baru tahu dikit sudah langsung menghukumi begini dan begini.:mrgreen:

  4. Afwan ana mau cerita kisah nyata ana tentang gambar…
    Dulu waktu ana belum menikah dan masih belajar ana belum punya KTP, dan ana pun sangat sering tidak mempunyai uang… sehingga Alhamdulillah Allah mudahkan ketika ada gambar,,ana pun dengan mudah menthomasnya… tapi waktu pun berjalan,, ana pun membuat KTP karena mau menikah… stlh menikah pun ana memegang cukup banyak uang di tangan ana… jujur…ana pun tidak sanggup menthomas semua gambar-gambar itu… yang ana sanggup hanya menghilangkan gambar di shampo, plastik alfamart ana bolongin, gambar dipopok dan bedong untuk anak pertama pun ana coret2 kepalanya dan yg lainnya… adapun uang dan KTP ana tidak bisa mencoretnya, walaupun hati ana sangat ingin menghilangkan gambarnya… dan ana pun mengambil diagnosa bahwa iman ana yg masih lemah…

  5. Bismillah… ana ingin menjadi penengah antara akhi admin dan akhi Imam… dan ana berharap ana tidak di tabrak karena berada di tengah2 Antuma…
    Akhi Imam tidak akan di tanya tentang amalan akhi Admin, demikian juga sebaliknya… diskusi antuma sepertinya belum kelihatan ujung jalannya,, karena memang beda jalan…

  6. Mereka berinisiatif mengganti nama “Dammaj Al-Habibah” menjadi “Miratsul Anbiya Indonesia”…
    apakah sekarang penulis “miratsul anbiya indonesia” bertambah cerdas atau berkurang kecerdasannya…?

  7. Afwan kiranya ana keliru! Ada beberapa poin yang membuat ana masih memakai alas dilapangan saat sholat Id dan, diantaranya adalah:
    _ karena ana masih manganggap bahwa sholat dgn memakai alas bukanlah sesuatu yang dilarang dan bukanlah termasuk pembatal2 sholat.
    _ Dan telah manjadi kebiasaan kaum muslimin di negara kita dalam memakai alas disaat sholat, kalau menurut ana hal ini tidak lepas dari kondisi tanah yang ada dinegara kita yang sangat gampang membuat pakaian kotor apabila terkena tanah sehingga harus dicuci dulu supaya kotoran yang nampak hilang dan beda halnya yang ada di timur tengah, pakaian apabila terkena tanah maka hanya dengan mengebasx maka pakaian akan kembali nampak bersih. Dan sampai saat ini belum pernah ada ulama yang melarang atau
    Mengharomkan sholat dengan memakai alas.

    1. _ karena ana masih manganggap bahwa sholat dgn memakai alas bukanlah sesuatu yang dilarang dan bukanlah termasuk pembatal2 sholat.

      Ana ga tahu kalo itu, mudah2an itulah yang benar. Tapi yang ana tahu kata Nabi: barangsiapa yang beramal yang itu tidak ada contoh dari kami maka tertolak.:mrgreen:.
      Mudah2 apa yang ente sampaikan itu ada contohnya dari Nabi. Amin.

      _ Dan telah manjadi kebiasaan kaum muslimin di negara kita dalam memakai alas disaat sholat, kalau menurut ana hal ini tidak lepas dari kondisi tanah yang ada dinegara kita yang sangat gampang membuat pakaian kotor apabila terkena tanah sehingga harus dicuci dulu supaya kotoran yang nampak hilang dan beda halnya yang ada di timur tengah, pakaian apabila terkena tanah maka hanya dengan mengebasx maka pakaian akan kembali nampak bersih. Dan sampai saat ini belum pernah ada ulama yang melarang atau
      Mengharomkan sholat dengan memakai alas.

      Ana ga tahu kalo itu, yang jelas dalam banyak riwayat terdapat redaksi semacam ini: “Nabi biasa menyentuhkan dahi dan hidungnya di atas tanah dalam sujud.”

      Jangankan yang kotor oleh debu ya akhi tanah yang becek saja masih nabi pentengin buat sujud. Ini ana hadiahkan sebuah hadis dari shahih bukhari sebagai bukti:

      حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ، فَقَالَ: جَاءَتْ سَحَابَةٌ، فَمَطَرَتْ حَتَّى سَالَ السَّقْفُ، وَكَانَ مِنْ جَرِيدِ النَّخْلِ، فَأُقِيمَتِ الصَّلاَةُ، «فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْجُدُ فِي المَاءِ وَالطِّينِ، حَتَّى رَأَيْتُ أَثَرَ الطِّينِ فِي جَبْهَتِهِ

      Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Abu Salamah berkata, “Aku bertanya kepada Abu Sa’id Al Khudri (tentang Lailatul Qadar).” Ia lalu menjawab, “Pada suatu hari ada banyak awan (mendung) lalu turun hujan lebat hingga atap Masjid menjadi bocor oleh air hujan. Waktu itu atap masih terbuat dari daun pohon kurma. Ketika shalat dilaksanakan, aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sujud di atas air dan lumpur hingga tampak sisa tanah becek pada dahi beliau.”

      bagaimana, antum masih punya dalil lagi buat mengelak?:mrgreen:

      Ayo kita masih belum selesai di sini, ini hanya jambatan saja yang mengantarkan kita kepada hukum gambar yang antum persoalkan itu.

      Inti pertanyaan ana di sini adalah: kenapa sunnah ini (sebenarnya ga cuma ini ada banyak sekali, itu kalo mau fear/jujur) banyak dilanggar oleh kaum muslimin di zaman sekarang ini dan orang merasa aman2 saja dari meninggalkan sunnah ini?

      lalu kenapa ketika ada yang mencukur jenggot dan memanjangkan kain hingga menutupi mata kaki/isbal dianggap melanggar sunnah?:mrgreen: namun ketika mereka shalat di atas alas yang bukan dari tanah langsung malah tidak dianggap melanggar sunnah?:mrgreen:

      Apakah sunnah itu diambil dan dibuang bila sesuai dan tidak sesuai dengan selera hawa napsu saja? mohon jawaban antum.

      1. Naam ana akan menjawab semampu ana dan ana berharap faidah ilmu lwat Ustadz terus mengalir dan terus menambah pengetahuan ana tentang Din ini. Kalau menurut ana hal ini dikarenakan karena kurangnya pengetahuan dalam memahami terhadap sunnah yang satu ini( sholat beralaskan tanah), bahkan yang nampak adalahtidak pernhnya atau dipersoalkan masaalah ini sebagaimana dipersoaalkanya hukum isbal dengan mencukur jenggot. Bahkan yang ada terlihat pada setiap pondok Salafi adalah berlomba-lombanya mereka dalam memperindah masjid. Dan mungkin bisa dikategorikan bahwa sunnah yang satu ini adalah sunnah yang sangat2 asing dikalangan kaum muslimin, dan pada sebagian orang melihat hal ini adalah sesuatu yang jorok, brrlebihan dan lain sebagainya dari kata2 sinis lainnya. Dalam hal ini(sholat beralas tanah) ana tidak ada pertentangan sedikitpun, karena ustadz punya hujjah dan ana takut menentang hujjah yang haq. Akan tetapi untuk masaalah gambar, sungguh sampai sekarang ana belum mendapati hujjah yang membuat hati ini tentram.

      2. bahkan yang nampak adalahtidak pernhnya atau dipersoalkan masaalah ini sebagaimana dipersoaalkanya hukum isbal dengan mencukur jenggot.

        harusnya antum bertanya, “kenapa?”

        bukan cuma itu saja, kalau jenggot, Nabi katakan kita harus pelihara agar berbeda dengan yahudi dan nasrani maka bagaimana halnya dengan hadis ini:

        حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْفَزَارِيُّ، عَنْ هِلَالِ بْنِ مَيْمُونٍ الرَّمْلِيِّ، عَنْ يَعْلَى بْنِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خَالِفُوا الْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ، وَلَا خِفَافِهِمْ»

        Rasulullah SAW bersabda,”Berbedalah kalian dengan orang-orang yahudi. Mereka shalat tidak memakai sendal dan sepatu”. (HR. Abu Daud) dishahihkan oleh albani dalam misykaatul mashaabih no 765.

        kenapa kita berani mentahzir bahkan menghajar orang yang mencukur jenggot namun tidak berani mentahzir dan menghajar orang yang tidak shalat pake sandal dan ini mayoritas terjadi pada kaum muslimin? padahal2 orientasi sama, yaitu sama2 menyelisihi yahudi dan nasrani!

        Inti dari permasalahan ini adalah: Ngga fair/jujur kalo kita menjatuhkan kehormatan manusia lainnya dengan mentahzirnya bahkan menghajarnya, karena kita anggap dia ga mengikuti sunnah sementara kita sendiri justru tidak mengikuti sunnah karena shalat tidak pake sendal.

        inilah perkara2 yang menurut ana sudah masuk dalam lingkaran hawa napsu!!! dan ana sangat menjauhinya. Allahul musta’an.

        Jadi kalo dikaitkan dengan pembolehan masalah gambar, kalo hujjahnya adalah karena “darurat” lalu mengapa perkara yang lain yang juga dianggap darurat tidak dimaafkan? Ngga fear khan rasanya! catat bahwa yang ana maksud “darurat” adalah ya seperti tadi shalat pake sandal, sujud harus ditanah, yang mana ini semua berat dilakukan oleh kaum muslimin di zaman ini karena itu menuntut mereka harus merubah total adat istiadat yang sudah berlaku, yaitu shalat di atas ubin/alas/permadani, shalat tanpa sandal, yang mana itu sungguh sangat sulit dan berat sekali untuk dirubah dan jiwa2 mereka akan tersiksa karenanya.

        Oleh karena itulah ana menanyakan ke antum, antum ini shalat di atas tanah ato ga? ana pun ga yakin setelah terang hujjah yang ana bawa ini, antum mau shalat di atas tanah!:mrgreen: jadi kalo antum mengharamkan gambar karena hujjahnya begini dan begini maka bagaimana halnya dengan pelanggaran kaum muslimin kebanyakan atas sunnah, kenapa hal tsb didiamkan. ngga fair rasanya kalo kita berbuat seperti itu, kita jauhi manusia karena mereka melekat dengan gambar namun kita sendiri memiliki banyak juga pelanggaran yang sama seperti shalat di atas karpet/tidak pake sendal, dan masih banyak lagi kalau mau dibahas.:mrgreen:

        Kembali ke masalah gambar, setidaknya untuk saat ini (yang mana pendapat ana masih bisa berubah karena kajian ini masih terus ana dalami) gambar adalah sesuatu yang sudah menjadi adat istiadat kaum muslimin sehari-hari di zaman ini yang mana mereka semua sulit berlepas darinya, jadi kalolah diharamkan (diperintnahkan kepada mereka untuk meninggalkannya) sungguh ini sangat memberatkan/menyulitkan hidup mereka seperti KTP, uang, dll.

        Kalo alasannya, “o ana ngga menggambar/mencetak itu khan kerjaan pemerintah yang bikin kTP, uang, dll” maka pertanyaan ana, “sudah tahu gambar itu haram maka bolehkah kita taat hal yang diharamkan? ayo jawab!”:mrgreen:

        padahal dalam Al-Quran sudah dijelaskan: taat pada ibu bapak wajib tapi kalo disuruh syirik katakan tidak! lalu kenapa antum atau ikhwah yang mengharamkan gambar tetap mengkonsumsi gambar entah itu ktp, uang, dll padahal itu adalah haram? bukankah itu melanggar ketentuan ayat tsb.

        Inilah kira2 yang mendasari ana “berani” memajang gambar bunglon. dan bila apa yang ana sampaikan ini layak untuk dikritik silahkan dikritik, karena apa yang ana sampaikan ini bukanlah kebenaran hanya pendapat ana pribadi, sebab kebenarana datang dari Allah. wallahu a’lam.

        jadi intinya gambar bunglon tsb menurut ana tidak jauh berbeda dengan gambar manusia dalam uang, foto ktp, dll.

        suka ato tidak suka itulah pendapat ana untuk saat ini, dan ana ngga mau bermuka dua, satu sisi membolehkan gambar (semisal ktp dgn dalil darurat, padahal tidak dari dari alquran dan hadis yg memperkenankannya) satu sisi mengharamkan gambar (gamar apapun selain ktp yang dianggap tidak darurat).

        Yang jelas kalo mau aman dan terhindar dari itu semua, dan hati antum tentram dengannya, hiduplah bersama istri dan anak2 antum di sebuah tempat yang sunyi sepi dari manusia kebanyakan.
        Bangunlah “kehidupan baru” di sana yang mana disana tidak mungkin ada pelanggaran apapun terhadap syariat karena antum tidak terikat lagi dengan kehidupan manusia kebanyakan yang melanggar sunnah Nabi Muhammad.

      1. Napsu atau nafsu…? Kata ibu ana : ” kayanya yang nulis predatortukpencarialhaq orang sunda…” hehe…
        Bagaimanapun judulnya ana tunggu hadiah untuk yang menyembah hawa napsu/nafsu…

  8. ustad tolong dibuat satu tulisan untuk seluruh salafiyin kalo syiah sudah merajalela di indonesia jangan saling tahdzir terus ada syiah yg jelas lebih berbahaya dari sekedar sururi n semacamnya,coba wahai saudaraku semua pikirkan semua bahaya mana syiah dgn sururi n semacamnya?

  9. itupun kalo tuduhan sururi itu benar kalo tidak bukankah akan berat pertanggung jawanannya nanti di hadapan alloh,blm lagi kalo sebab kita sibuk bertengkar sendiri syiah menikam kita n menyesatkan banyak umat wallohul musta’an

  10. Melihat fenomena “Ustadz Kibar feat Ulama Kibar” saya jadi ingat teman saya Mrs. Lim yg ga mau manut dalam urusan agama kecuali sama pasturnya.
    Nas alullohal afiyyah was salamah.

  11. Bismillaah… kalau ana sendiri lebih tenang jika tidak memajang gambar,,,
    karena kalau ana memajang gambar, ana khawatir jika sepeninggal ana nanti dan berlalu masa yg panjang….setan membisikkan kpd yg ditinggalkan untuk menyembah gambar tsb…

      1. lha kata ente khan,

        karena ana khawatir jk ana memajang gambar… kmdn sepeninggal ana, dan berlalu masa yang panjang… setan membisikkan kpd orang2 di belakang ana untuk menyembah gambar tsb….

  12. بســــم الله الرحمن الرحيم
    Kalau ana lebih tenang untuk tidak memajang gambar… karena ana khawatir jk ana memajang gambar… kmdn sepeninggal ana, dan berlalu masa yang panjang… setan membisikkan kpd orang2 di belakang ana untuk menyembah gambar tsb….

  13. “Dan tidaklah seseorang membuat dosa, melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Robbmulah kalian akan kembali. Dan akan diberitakan kepada kalian apa yang kalian dulu perselisihkan.“

  14. Ada yg aneh kalo ana perhatikan.. si admin ini kalo menyebut sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu menyerupai SYI’AH, yakni dg istilah Imam Ali. knp tdk bilang sj Khalifah Ali atau Amirul Mu’minin Ali atau Sahabat Ali? agar ente gak tasyabbuh bisy syiah.. kemuadian admin masih bermudah2an dlm gambat yaitu stiap komennya ada gambar smile.. seperti kepala orang tersenyum.. Admin jg bersembunyi dibalik layar tak ketahuan jati dirinya. Semoga saja admin kita ini bukan SYIAH YANG BERTAQIYYAH. amin

    1. o gitu ya?:mrgreen:
      apakah Ali kalo dipanggil dengan imam otomatis syiah. tolong dibedakan antara imam versi ahlussunnah dengan syiah. syiah menjurus pada akidah imamiyah, sementara ahlussunnah menjurus pada “sosok panutan”. Imam Syafi’i, imam Ahmad, imam Ali, dll. Mereka semua adalah panutan kaum Muslimin.:mrgreen:
      memangnya hukum smiley itu bagaimana, tolong terangkan ke ana, ya ‘Alim?:mrgreen:
      Tidak penting siapa ana, karena ana dakwah ilallah, perkara ada yang batil/keliru dari tulisan ana tinggalkan saja.:mrgreen:

  15. يقول الشيخ يحيى-حفظه الله-:( عليكم بالسكينة والهدوء ، ولاأحد يمس الشيخ ربيع بسوء)  ما أحلم هذا الشيخ وأكرمه ! زاده الله رفعة في الدنيا والاخرة  آمين (منقول عن الأخ الفاضل علم الدين السوداني)

    Di sebar di Majmuah Akhbar Dammaj Salafiyyah dan majmu’ah min qolbi dammaj, bahwasanya Syaikh Yahya hafidzahullah berkata: “Hendaknya kalian tenang dan sakinah, tidak seorangpun (yang boleh) menyentuh (harga diri) Syaikh Rabi’ dengan kejelekan.”

  16. بسم الله الرحمن الرحيم
    أما بعد:
    فقد جمع لقاء طيب اليوم(الاثنين 17من ربيع الثاني 1435هـ) في الساعة التاسعة صباحا
    بين الشيخين الفاضلين
    العلامة صالح الفوزان والعلامة يحيى بن علي الحجوري
    حفظهما الله تعالى
    في محل إقامتهما في مدينة رسول الله صلى الله عليه وسلم حيث وإنهما في فندق واحد
    وأفاد من كان معهما أنه كان لقاء طيبًا دار الحديث فيه على أمور طيبة والحديث على أوضاع الدعوة السلفية
    وكان لقاء وديا جميلا نافعا
    Sumber: Aloloom.Net

  17. Senin, 17 Rabi’ul Akhir 1435 (17-02-2014 14:38 WIB)
    Dari Abu Hamzah Muhammad as-Siwari: Pada hari Senin 17 Rabi’ul Akhir 1435H jam 9 pagi terjadi pertemuan yang indah antara dua Syaikh yang mulia, al-Allamah Shalih al-Fauzan dan al-Allamah Yahya bin Ali al-Hajuri -حفظهما الله تعالى-, di Madinah Rasulullah -صلى الله عليه وسلم-, di hotel yang sama di mana mereka berdua menginap. Diringkas dari aloloom.net

  18. Rasulullah SAW bersabda,”Berbedalah kalian dengan orang-orang yahudi. Mereka shalat tidak memakai sendal dan sepatu”. (HR. Abu Daud) dishahihkan oleh albani dalam misykaatul mashaabih no 765.

    kenapa kita berani mentahzir bahkan menghajar orang yang mencukur jenggot namun tidak berani mentahzir dan menghajar orang yang tidak shalat pake sandal dan ini mayoritas terjadi pada kaum muslimin? padahal2 orientasi sama, yaitu sama2 menyelisihi yahudi dan nasrani! Hmmm pelajaran yg bgs bwt kita semua…

    1. بســـــم اللــه الرحمن الرحيم
      تنبيه
      قياس حكم حلق اللحية بحكم الصلاة في النعال قياس مع الفارق
      ألا ترى أن النبي صلى اللـه عليه و سلم قد صلى حافيا و منتعلا كما ذكر ذلك صحابي جليل عبد اللـه بن عمرو رضي اللـه عنهما و لم يأت عن النبي صلى اللـه عليه و سلم يوما من الدهر أنه حلق لحيته
      ?
      فالصلاة في النعال سنة و أما حلق اللحية فهو محرم

      1. sebatas yang saya tahu (sebelum bicara qiyas maal fariq):
        memang terdapat juga hadis yang membicarakan nabi shalat tidak pake sandal.
        Namun yang terkuat dari hadis2 tersebut tentu adalah riwayat bukhari muslim. Dan dalam riwayat bukhari diterangkan bahwa Nabi shalat memakai sandal dan itu adalah persaksian dari sahabat Anas.
        عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَزِيدَ الأزْدِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قال: سَألْتُ أنَسَ بْنَ مَالِكٍ: أكَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ؟ قال: نَعَمْ. متفق عليه.

        jadi saya pribadi lebih memilih fakta bahwa Nabi dalam ucapannya menyuruh shalat memakai sandal dan dalam perbuatannya yang juga shalat memakai sendal sebagaimana persaksian sahabat Anas dan meninggalkan seluruh hadis yang menyatakan bahwa nabi shalat tidak pake sendal karena ini semua menyelisihi hadis anas dan hadis sbelumnya yang menyatakan bahwa shalat tidak pake sandal sama dengan tradisi orang yahudi. dan saya tidak beranggapan bahwa nabi adalah tipe orang yang berkhianat (melanggar ucapannya sendiri sebagaimana beliau tidak mencukur jenggot karena memang beliau melarangnya).
        Ketika Anda bicara qiyas maal fariq menjadi lucu bagi saya ketika anda kemukakan argumentasi, nabi shalat kadang pake sandal kadang tidak sebagaimana bunyi hadis ini:
        وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبيهِ عَنْ جَدِّهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ يُصَلِّي حَافِياً وَمُنْتَعِلاً. أخرجه أبو داود وابن ماجه.
        namun nabi tidak mencukur jeggotnya. seakan anda ingin menyatakan bahwa hujjah saya sebelumnya keliru karena membandingkan antara shalat make sendal dan mencukur jenggot adalah adalah sesuatu yang berbeda karena nabi tidak cukur jenggot dan diwaktu yang bersamaan nabi juga shalat tidak pake sendal.

        Baiklah, kalo memang begitu keadaannya maka pertanyaan saya ke Anda adalah (jangan kabur ya):

        ketika Abdullah bin Amr menyatakan Nabi kadang shalat pake sandal kadang tidak, apakah Nabi ketika shalat tidak pake sendal tidak menyelisihi ucapannya sendiri bahwa shalat tidak pake sendal sama dengan yahudi? karena di waktu yang bersamaan nabi tetap konsisten untuk tidak cukur jenggot karena memang untuk menyelisihi yahudi dan nasrani!

        bahkan celotehan antum ini membuka pertanyaan baru: Anggap saja Nabi shalat pake sendal, bisa saja itu artinya beliau sudah tidak menyelisihi yahudi (dengan asumsi Nabi tidak menghianati ucapannya sendiri yang menyuruh shalat pake sandal untuk berbeda dengan yahudi), artinya yahudi saat itu melaksakanakan shalat mereka dengan memakai sandal maka… ketika zaman sekarang ini Yahudi terutama para rabi mereka berjenggot dan bersurban layaknya para masyaikh apakah itu artinya kita bisa mencukur jenggot kita untuk berbeda dengan mereka, karena Nabi sendiri sudah shalat tidak pake sendal karena yahudi di masa itu shalat pake sendal?:mrgreen:

        ditunggu ya, jangan kabur please.:mrgreen:
        terserah ente mau pake lisanul dhad, english, indo akan tetap ana tanggapin.

        cukup si hindun saja yang beo di blog ini, hanya bisa bicara sendiri namun tak bisa diajak komunikasi.

  19. Bismillah. Mohon faidahnya akhy admin.
    Sebatas yg ana ketahui selama ini adalah sebuah kaidah bahwa kalimat perintah menunjukkan sebagai kewajiban “al amr yufiidul wujub” kecuali ada nash yg memalingkan dari hukum akan kewajiban itu sendiri.
    Nah, dalam masalah jenggot dan sholat dg sandal, keduanya telah datang perintahnya dari Rosulullah sbgmana tlh di sebutkan di atas.
    Permasalahanya adalah hadist2 larangan mencukur jenggot telah tsabit dan telah di amalkan oleh generasi awal dari ummat ini hingga sekarang dan tidak ada satupun nash yg memalingkan dari kewajibanya. Adapun sholat dg memakai sandal, maka telah dtg riwayat sbgmana di sebutkan sebelumnya bahwa rosulullah pernah sholat dg tidak memakai sandal, dan itulah nash yg memalingkan dari kewajiban menjadi mustahab, dan itu pula yg di fahami oleh generasi awal dari ummat ini dan di amalkan hingga saat ini dan juga tidak pernah kita dengar sekalipun dari ulama’ mutaqoddimim maupun mutaakhirin membid’ahkan maupun mengharomkan org yg sholat dg tidak memakai sendal.

    1. sebelum saya lanjut menanggapi antum, kalo memang begitu cara hujjahnya:

      Permasalahanya adalah hadist2 larangan mencukur jenggot telah tsabit dan telah di amalkan oleh generasi awal dari ummat ini hingga sekarang dan tidak ada satupun nash yg memalingkan dari kewajibanya. Adapun sholat dg memakai sandal, maka telah dtg riwayat sbgmana di sebutkan sebelumnya bahwa rosulullah pernah sholat dg tidak memakai sandal, dan itulah nash yg memalingkan dari kewajiban menjadi mustahab, dan itu pula yg di fahami oleh generasi awal dari ummat ini dan di amalkan hingga saat ini dan juga tidak pernah kita dengar sekalipun dari ulama’ mutaqoddimim maupun mutaakhirin membid’ahkan maupun mengharomkan org yg sholat dg tidak memakai sendal. dan juga tidak pernah kita dengar sekalipun dari ulama’ mutaqoddimim maupun mutaakhirin membid’ahkan maupun mengharomkan org yg sholat dg tidak memakai sendal.

      saya cuma ingin tanya saja, shalat dengan bersedekap saat i’tidal sebagaimana yang dipahami syaikh bin bazz dan syaikh2 yang lain dari dalil, maka siapakah pendahulu syaikh bin bazz yang melakukan itu, dari kalangan tabiin, dst hingga zaman syaikh bin bazz, kenapa tiba2 syaikh bin bazz berkeyakinan bahwa nabi itu bersedekap saat i’tidal padahal tidak ada dari umat Islam belahan dunia manapun sejak dahulu hingga hari ini yang mengamalkan sedekap di saat i’tidal. karena rata2 mereka berdiri lurus. dan itu didukung dengan dalil2 yang jelas dan tsabat bahwa nabi berdiri lurus saat i’tidal dan tidak ada yang membicarakan secara vulgar/rinci bahwa nabi bersedekap.

      Ini dulu sebagai pembuka untuk menanggapi cara hujjah antum yang seperti itu.:mrgreen:

      khusus hindun (cetak tebal): sekaligus juga ini pelajaran buat ente, karena ente meminta pendahulu, maka siapakah pendahulu syaikh bin bazz, apakah karena tidak ada pendahulunya maka syaikh bin bazz bisa kita katakan bermain filsafat terhadap dalil? seperti tuduhan gila ente itu:mrgreen:

      sekaligus ana mau tanya sama antum (Abul fadhoyih), apakah sunnah Rasulullah itu diamalkan oleh semua sahabat Nabi? sehingga bisa disimpulkan kalo ada sahabat, tabiin dst hingga zaman kita ini yang tidak mengamalkannya dianggap sebagai bentuk hal yang tidak melanggar syariat, seperti shalat dengan sandal ini?

      Apakah ente pernah dengar bahwa termasuk sunnah nabi adalah mempercepat buka puasa hingga matahari masih terlihat jelas pun nabi suruh untuk berbuka dan ini sama sekali tidak diamalkan oleh umat Islam hari ini, padahal kita tahu sunnah nabi ini sendiri banyak dilanggar sahabat sampai2 nabi mengatakan: “mereka bermaksiat” karena tidak mau berbuka dan menunggu datangnya gelap (maghrib) di saat nabi sudah berbuka. Lalu bagaimana halnya dengan sebagian besar umat Islam hari ini yang sama sekali tidak mengamalkan sunnah ini?

      please jangan kabur ya.

      1. Afwan sebelumnya akhy admin, Ana di sini posisinya sebagai penanya dan org yg minta faidah dari antum maupun ikhwan yg lainya. Bukan sebagai pendebat yg ana tidak mempunyai ilmu atasnya.
        Dan sebelumnya sudah ana katakan di atas bahwa ana hanya menyampaikan sebatas yg ana ketahui, itu saja. Adapun jika ada yg menyanggah pengetahuan ana dan memperbaiki lebih2 memberi faidah dlm masalah ini, maka tafadhol dan ana akan rujuk dan menerima kebenaran dari siapapun datangnya.

      2. ya itu dari ana, yang ana tahu ada banyak sunnah nabi yang ditinggalkan umat Islam salah satunya shalat pake sandal, apalagi shalat pake sandal ini datang dari bukhari dan muslim. sementara shalat tidak pake sandal datang bukan dari bukhari muslim.
        ato kalo pengen lebih, kita tunggu saja jawaban akh fathurraman atas dialognya dengan ana ini, nanti antum akan melihat gambaran permasalahan secara jeli dan detil.

        permaslahan ini sengaja ana angkat adalah untuk memperbaiki sikap para ikhwan yang tidak tahu apa2 tapi gayanya sudah seperti para ulama jarh wa ta’dil. berani menghajar orang yang mencukur jenggot namun tidak menghajar orang yang shalat tidak pake sandal. lucu khan jadinya?

        ana jadi ingat ucapan Syaikh Albani (kurang lebih maknanya): “hari/zaman ini hendaknya tahzir mentahzir/hajr menghajr manusia itu ditiadakan dan yang ada hanyalah nasihat menasihati.”

        menerima nasihat saja umat Islam hari ini sudah berat hati apalagi menerima tahzir lebih2 dihajar/diboikot siapa yang tahan dengan godaannya?:mrgreen:

  20. Ditunggu artikel ente yang ilmiah tentang :
    1. menasehati pemerintah secara terang2an
    2. pengkaitan maksiyat dan keimanan yang tercampur
    3. bagaimana metode ente dalam istidlal suatu dalil…
    itu aja dah cukup. saya g perlu nanggepin “beo2” ente. yang terpenting jangan lari dalam masalah tersebut.
    Jika ente tidak sanggup, katakan tidak sanggup.
    Jangan membeo lagi dengan ucapan :
    a. kalo kayak gini ana bisa “nyengir”
    b. balik bertanya
    c. mengalihkan isu
    d. semua jawaban benar
    Dah jangan muter2 lagi

    1. ndun, ente ini siapa syeehh? tuan bukan, boss bukan, ustad apalagi kok berani perintah2in orang?
      Sekrang coba ente ngomong begitu ke si abul jauza ato siapa lah, kira2 omongan gila ente itu bakal ditanggapin ngga, trus kalo ngga ditanggepin ente akan ngomong: ngga sanggup gituh?
      Otak lu kemana sih? Dibuang apa di tong sampah.

    2. Hindun
      ente ini bisa diajak bicara ga? jawab dulu yang ini.:mrgreen:
      cuma ingin memastikan ente ini manusia normal atau bukan.😛

      jujur ya, kalo blog yang lain ente mungkin udah disikat dan dikurung di penjara alkismet. tapi ana ga gituh ana punya kasih sayang yang lebih besar kepada mad’u ana ketimbang amarah ana karena tingkah polah mereka. dan itulah yang Allah ajarkan dan yang menjadi jalan para nabi dalam berdakwah.
      jadi ente mau berulah segila apapun ga bakalan ngaruh ke ana loh ana tetap sayang sama ente, sebagai mad’u (objek dakwah) loh, bukan yang lain.:mrgreen:

      sekarang ana baru tahu arti kata2 “muter2” ente: ternyata kalo ana ga ngikutin hawa napsu gila ente, ana dikatakan “muter2.”

      salut, jarang ana lihat ada orang bisa berimprovisasi bahasa di zaman sekarang, kecuali terkahir, yang kemarin2 muncul di media online yang bernama Vicky Prasetio yang terkenal dengan bahasanya Vickinisasi. Mungkin ente ingin mengikuti jejaknya ya?:mrgreen:

  21. @pred
    1. Ana liat Hindun ini berani bebas bicara karena ent memang membebaskan blog ini dimasuki setiap pikiran apapun,
    2. Ana liat Hindun ini berani bebas bicara; dusta, kotor, hina dina, dll adalah karena ia tidak punya beban pertanggung jawaban sosial karena hindun hanyalah nama akun @, jadi sebejat apapun ucapannya itu ngga mengikatnya di dunia nyata, tapi si Hindun ini goblok juga dia pikir ga ada malaikat yang mencatat kebodohan dan kegilaannya apa? orang ini seperti yang ia katakan sendiri: benar2 mengalami DP. bahasa orang tua kita dulu: “maling teriak maling.”
    3. Luar biasa melihat kesabaran antum @admin.
    4. TO HINDUN: SENANG ANA BISA MELIHAT BATU BERWUJUD MANUSIA SEPERTI ENTE DI BLOG INI. HHIHIHIHI

  22. بســـم اللــه الرحمن الرحيم
    سلام عليكم
    إذا نظرنا إلى كلام علماء الأصول في الكلام على الترتيب بين الأدلة لوجدنا أن عند وقوع التعارض بين الأدلة و أمكن الجمع قدمنا الجمع على الترجيح لأن بذلك قد عملنا بجميع النصوص بخلاف إذا قدمنا الترجيح فمعناه أنا قد ألغينا بعض النصوص
    و كذلك في مسألتنا هذه إذا سلكنا الترجيح لألغينا حديثا صحيحا الذي رواه الترمذي و أبو داود عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما و حديثا صحيحا الذي رواه الإمام أحمد عن أبي هريرة رضي الله عنه
    بخلاف إذا ما جمعنا بين الحديث الذي في الصحيحين بين ما ذكرنا لقد عملنا بجميع هذه الأدلة
    بأن نقول مثلا
    القائل صلوا في نعالكم ولا تشبهوا باليهود – في بعض الروايات خالفوا اليهود – هو الذي قد صلى حافيا و منتعلا فهو أعلم الناس بمراد قوله
    ففعله صلى الله عليه و سلم هذا يدل على جواز الصلاة حافيا
    و بالانتعال في الصلاة أحيانا و بعدمه أخرى قد خرج من التشبه باليهود

    و هذا ليس موجودا في مسألة اللحية
    لم يكن ثم دليل معارض للأمر بإعفاء اللحية فيبقى الأمر على الوجوب

    1. waalaikum salam

      ذا نظرنا إلى كلام علماء الأصول في الكلام على الترتيب بين الأدلة لوجدنا أن عند وقوع التعارض بين الأدلة و أمكن الجمع قدمنا الجمع على الترجيح لأن بذلك قد عملنا بجميع النصوص بخلاف إذا قدمنا الترجيح فمعناه أنا قد ألغينا بعض النصوص
      و كذلك في مسألتنا هذه إذا سلكنا الترجيح لألغينا حديثا صحيحا الذي رواه الترمذي و أبو داود عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما و حديثا صحيحا الذي رواه الإمام أحمد عن أبي هريرة رضي الله عنه
      بخلاف إذا ما جمعنا بين الحديث الذي في الصحيحين بين ما ذكرنا لقد عملنا بجميع هذه الأدلة
      بأن نقول مثلا
      القائل صلوا في نعالكم ولا تشبهوا باليهود – في بعض الروايات خالفوا اليهود

      Anggap saja dulu bahwa hujjah ente ini benar, tapi ada baiknya klaim ente ini dibawakan buktinya dulu sebelum memukul rata2 hadis2 tersebut dengan predikat shahih, sebab setahu ana hadis abu dawud ini yg kita bicaraka ini:
      حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ نَجْدَةَ ، حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ ، وَشُعَيْبُ بْنُ إِسْحَاقَ ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْوَلِيدِ ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَلَا يُؤْذِ بِهِمَا أَحَدًا ، لِيَجْعَلْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ ، أَوْ لِيُصَلِّ فِيهِمَا ” .
      bermsalah perawinya, yaitu baqiyyah yang terkenal suka tadlis. Jadi tolong sebutkann dengan jelas hujjah ente itu di sini dan mari kita jadikan diskusi ini secara rinci agar ditemui titik terangnya. Ingat sabda nabi: “yang mengklaim harus bawa bukti!”

      ————-
      هو الذي قد صلى حافيا و منتعلا فهو أعلم الناس بمراد قوله
      ففعله صلى الله عليه و سلم هذا يدل على جواز الصلاة حافيا
      و بالانتعال في الصلاة أحيانا و بعدمه أخرى قد خرج من التشبه باليهود

      و هذا ليس موجودا في مسألة اللحية
      لم يكن ثم دليل معارض للأمر بإعفاء اللحية فيبقى الأمر على الوجوب

      Apa yang ente sampaikan ini dukan dalil, tapi sebuah pendapat, jadi jangan merasa bahwa apa yang ente sampaikan ini adalah benar, karena yang bisa berpendapat bukan cuma ente.
      Sekalipun ente meyakini pendapat ente ini benar, tapi tetap saja pendapat ente ini ganjil bin aneh: Bagaimana bisa di waktu yang bersamaan —-karena ente meyakini bahwa dalil2 ini harus dijam’u dari pada ditarjih, sebab selain hadis Anas tadi ente anggap shahih dan ana sudah minta bukti hadis yang ente yakini shahih tsb dan tolong bawakan di sini— Nabi meyuruh shalat dengan memakai sandal utuk menyelisihi Yahudi dan Nasrani tapi di waktu yang bersamaan juga Nabi shalat tidak memakai sandal? Ini jelas paradoks.
      Kalo argumentasi ente bahwa Nabi adalah orang yang paling paham ucapannya sendiri, untuk menjawab paradoks ini (menutupi kenyataan bahwa Nabi melanggar ucapannya sendiri) maka tentu saja ini adalah jawaban yang lucu. Sebab bisa saja orang awam memahami bahwa Nabi saja melanggar ucapannya sendiri, maka apalagi kita? Sebagai dalih untuk menjustifikasi perbuatan/ucapan nifak, (dalam bahasa hadis: idza haddats kadzab: jika bicara suka berdusta dan saya tidak menganggap nabi seorang yang ada padanya nifak)
      Oleh karena itu menurut saya pedapat ente ini berisikan paradoks yang tidak bisa diterima.
      Menurut saya, untuk keluar dari parados semacam ini, hadis2 ini berlaku padanya nasikh dan mansukh, perintah awal adalah shalat tidak memakai sandal dan perintah kedua adalah shalat memakai sandal.
      Dan tidak berlaku hukum yang saling bertentangan di waktu yang bersamaan sebagaimana yang ente yakini hanya dengan mengatakan: Nabi adalah orang yang paling tahu ucapannya sendiri untuk menutupi kenyataan bahwa Nabi melanggar ucapannya sendiri.
      Berikut rinciannya hujjah saya adalah:
      1. Abdullah bin Amr pernah melihat nabi shalat memakai sandal dan tidak itu dilukiskan dengan kata kerja lampau (raitu) bukan kata kerja sekarang (ara) yang bisa diartikan ia melihat Nabi secara bersamaan, yaitu kadang shalat memakai sandal kadang juga tidak.
      2. Abdullah bin Amr menyebutkan: Saya melihat Nabi shalat dengan bertelanjang kaki dan memakai sandal.
      ingat, Kata dan (huruf wau) ini menunjukkan tartib (tsumma) bukan bermakna ma’a (al-jam’u) (secara bersamaan). Jadi maksudnya Nabi dulu pernah saya lihat shalat bertelanjang kaki kemudian saya lihat lagi shalat memakai sandal. Inilah makna yang paling kuat menurut Ana dan ini dibuktikan oleh sebuah fakta yang dijelaskan sahabat Anas… jadi hadis2 tsb sebenarnya bukan saling bertentangan.:mrgreen:
      Ini hanya pendapat saya, dan saya tidak katakan ini benar, kalo anda masih bisa menyanggah silahkan saja.:mrgreen:

      ini dulu sebagai pembuka, masih banyak yg ana ingin sampaikan, tapi karena ana belum tahu tahu alur berpikir antum jadi ana tes dulu dengan yang ini. nanti kita lihat perkembangan diskusi ini.

  23. Dari ucapan: “menerima nasihat saja umat Islam hari ini sudah berat hati apalagi menerima tahzir lebih2 dihajar/diboikot siapa yang tahan dengan godaannya?”
    1. Umat islam yang mana yang dimaksud…?
    2. Godaan dalam kalimat diatas bisa lebih diperinci…?

    1. 1. kalo mau contoh terperinci: satu saja ya: lihat saja si Hindun.
      2. ketika si Hindun ini ditahzir apa ente ga bisa liat reaksinya, bukannya malah sadar tapi malah semakin gila dan ga punya malu karena ditahzir orang2 di sini.

      1. @all: be patient guys, keep calm. Please listen to her as one listens to the rain, NOT attentive, NOT distracted..
        sambil minum kopi + pisang goreng biar lebih menikmati anecdotnya dia..

        Pencitraannya luar biasa sekali y…
        Kalo BENER.

        Allohumma inniy audzubiKa min ‘ilmi LAA YANFA’

    1. ana sedikit cerita saja ndun ya, kalo ente mau naik jenjang akademik yang lebih tinggi katakanlah s3, atau katakanlah ente mau nanya pada seorang professor biasanya mereka ngga langsung nanggapin pertanyaan si penanya. justru mereka balik nanya dulu, kamu sudah baca buku apa saja? hal ini perlu dilakukan oleh si prof agar dia tahu ilmu si penannya ini sudah smapai mana agar ketika menjawab pertanyaan si penanya si profesor ini benar2 menyesuaikan dengan level pemahaman si penanya.
      INi tidak terjadi kalo ente tanya ke guru, ustadz, master, doktor, mereka akan langsung menjawab pertanyaan, karena level ilmu mereka ini belumlah sampai terperinci layaknya seorang professor.

      lha ente khan mau melihat kualitas ilmu ana, no problem buat ana, hanya saja ana perlu pastikan ente ini orang yang bisa diajak bicara ato tidak, sebab bagaimana ana bisa menyamapaikan ilmu ana kalo yang diajak bicara adalah seorang idiot yang idiotnya tidak bisa disembuhkan.:mrgreen:

  24. من روائع السلف ‎

    ‎ .‎قال وهب بن منبه

    المؤمنُ يخالِطُ ليعلم

    و يسكت ليسلَم

    و يتكلم ليُفهِم

    و يخلو لينعم

    {الحلية 4/68}

  25. Alhamdulillah, gue saat ini masih bimbingan sudah hampir 4 tahun dengan profesor2 (mereka sudah jadi profesor lebih dari 20 tahunan), di universitas terkenal. dan mereka bukan profesor “ecek2” … atau baru aja jadi profesor bahkan atau yang ngaku2 “profesor” kayak ente….
    Mereka g muter2…jika bisa, mereka bilang bisa, jika tidak , mereka juga bilang tidak bisa.

    1. Afwan. Klo bisa, anti sebutkan saja anti dari universitas mana! Karna di dunia ini banyak universitas2 terkenal dan di doseni oleh profesor2 terkenal juga.
      Hal ini ana tekankan supaya ana tidak salah faham. Jangan jangan anti dari universitas Harvard yg di bimbing oleh profesor2 kafir.

      1. teko kosong takan mengeluarkan air, mohon dimaklumi hal itu. Kalo ada teko disiram hujan hingga terlihat basah diluar jangan langsung dianggap di dalamnya ada air.:mrgreen:
        alam pun pandai merekayasa sesuai laiknya manusia juga yang pandai berdusta.

  26. .. من ابتغى صديقاً بلا عيب عاش وحيداً .. ومن ابتغى زوجةً بلا نقص عاش أعزباً .. ومن ابتغى أخا بدون مشاكل عاش باحثاً .. ومن ابتغى قريباً كاملاً عاش قاطعاً لرحمه .. فلنتحمل وخزات الآخرين حتى نعيد التوازن إلى حياتنا .. إذا أردت أن تعيش سعيدا .. فلا تفسر كل شيء.. ولاتدقق بكل شيء .. ولاتحلل كل شيء … فإن الذين حللوا الألماس وجدوه ( فحماً ) …!!‏

  27. Saya di sini tidak dalam kapasitas ( ato tertarik/interest) untuk mendebat ente karena tipikal ‘kedunguan’ ente ,,,… Atau mengomentari khilafiyah ( gue sudah puas mendalami masalah khilafiyah ini sejak tahun 1997, langsung) ataupun mengomentari ulasan singkat “gila” ( semakin singkat tulisan ente, semakin tidak menunjukkan ke”gila” an ente.) ente tentang syaikh robi’ (kira2 sudah 14 tahun yang lalu, gue sudah menelaah tulisan2 dan manhaj Syaikh Robi’ melalui diskusi2 yang panjang).

    hanya saja, …di sini gue minta pertanggungjawaban ilmiah ente (yang kebetulan gue kesasar di blog ini…) terhadap apa yang ente tuliskan.
    Mbak “bro”, …, Jika bisa bilang bisa,….., jika tidak bisa, bilang saja tidak bisa ….”orang mukmin perkaranya mudah”.
    Saya memohon kepada Allah pertolongan dan hidayatuttaufiq untuk bertaubat kepada Nya atas “kemubadziran” waktu dan tenaga dalam mengomentari blogger “DP” ini….
    Nasalullah wal ‘aafiyah.
    AL faqir Ilallah
    Abu Amr al hindunisy (bukan indunissy)

    1. @All/al-jami’
      Percaya ga sama pembual yang satu ini? (si Hindun)
      Seumur2 blog ini, baru kali ini ketemu dengan pembual yang paling jago berdusta dan ga ada capek2ya berdusta.:mrgreen:
      sepertinya ente ini ana lihat mengidap mythomania akut.:mrgreen:
      __________
      Sekedar catatan: Kalo yang ente maksud Hindunisy itu adalah India, maka maaf2 saja ini tidak tercatat di kamus bahasa Arab manapun, ngga yang lama ngga pula yang kontemporer. Penyebutan bangsa India versi ente saja ga diakui gimana entenya, siapa yang mau percaya omogan ente.:mrgreen:

      sorri ya ndun, ana tanggapin ente selama ini bukan karena ada percaya omongan ente (yang penuh dusta itu) apalagi keilmuan ete yang luar biasa cetek itu, tapi karena ana merasa kasihan sj sama ente. jadi jangan kepedean ya ndun.:mrgreen:

      kalo mau bicara yang aneh2 dan dusta2 silahkan lanjutkan show-nya di sini.:mrgreen:

  28. @admin ptpah. Allah ta’ala berfirman :

    وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

    Dalam sebuah hadits yg diriwayatkan al imam muslim

    يقول صلى الله عليه وسلم: ((الدين النصيحة، قلنا: لمن يا رسول الله؟ قال: لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم)).

    Afwan, sebaiknya gambar manusia bertopeng dan gmbr bunglon dihapus. Jika antum belum tahu hukum gambar, tafadhdhol baca malzamah berikut..

    http://ashhabulhadits.wordpress.com/2012/02/04/hukum-tv-dan-permasalahan-permasalahan-seputarnya/

    1. coba ditanyakan ke admin blog tsb, apakah ia seorang yang meggunakan uang (yg ada gambar) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, KTP (yg ada foto dirinya) sebagai identitas dirinya, kalau ia jujur dengan akidahnya pasti ia akan meninggalkan segala macam gambar. Karena sabda Nabi bersifat umum.

  29. @admin ptpah.

    Bukankah sasaran blog antum ini adalah kebenaran, bukan kultus individu / golongan. Sekarang antum pertimbangkan sendiri, mana yang lebih mendekati kebenaran tentang masalah gambar makhluk ini.

    Hadanalloha wa iyyak

      1. Maksudnya, mana yang lebih benar dan sesuai dalil : 1. memajang gambar makhluk bernyawa, atau 2. tidak memajangnya..

  30. بســم الله الرحن الرحيم
    أماحديث أبي هريرة رضي الله عنه الذي أشرت لك سابقا فسأذكره لك بسنده وإذا أردت البحث عن درجته فتفضل..
    قال الإمام أحمد رحمه اللـه :
    حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِي الْأَوْبَرِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
    كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي قَائِمًا وَقَاعِدًا وَحَافِيًا وَمُنْتَعِلًا
    حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ وَزَادَ فِيهِ وَيَنْفَتِلُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ

    رحال السند :
    سفيان هو ابن عيينة, و أبو الأوبر: هو زياد الحارثي (وثقه ابن معين كما في تعجيل المنفعة)
    درجة الحديث :
    رجال سنده ثقات, والحديث صححه شيخنا مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله في كتابه الجامع الصحيح مما ليس في الصحيحين. و قال رحمه الله تعالى في بعض دروسه عن هذه المسألة: “لو لا حديث صلاة رسول الله صلى الله عليه و سلم حافيا و منتعلا لقلت بوجوب الصلاة في النعال”

    وأما الحديث الثاني الذي أشكل عليك حكمه فأحيلك إلى كلام محدث العصر الشيخ الألباني رحمه الله تعالى في كتابه الثمر المستطاب (ومن أحيل بحقه على ملىء فليحتل) :
    ( والصلاة فيهما تخيير لقوله صلى الله عليه وسلم : ( إذا صلى أحدكم فليلبس نعليه أو ليجعلهما بين رجليه ولا يؤذ بهما غيره )

    هو من حديث أبي هريرة رضي الله عنه أخرجه أبو داود والحاكم والبيهقي من طريق الأوزاعي : ثنا محمد بن الوليد عن سعيد بن أبي سعيد المقبري عن أبيه عنه
    وهذا سند صحيح على شرط الشيخين
    ثم أخرجه الحاكم من طريق عياض بن عبد الله القرشي عن سعيد عن أبي هريرة فلم يقل : ( عن أبيه ) وقال :
    ( صحيح على شرط مسلم ) ووافقه الذهبي وهو كما قالا وقال العراقي :
    ( رواه أبو داود بسند صحيح وضعفه المنذري وليس بجيد )
    قلت : ولعل تضعيف المنذري له إنما هو لأجل هذا الاختلاف على سعيد وهو اختلاف لا يضر إن شاء الله تعالى كما بينته في ( صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم )
    ( لكن يستحب الصلاة فيهما أحيانا مخالفة لليهود ومن تنطع مثلهم لقوله صلى الله عليه وسلم : ( خالفوا اليهود فإنهم لا يصلون في نعالهم ولا خفافهم )
    الحديث صحيح الإسناد أخرجه أبو داود والحاكم وعنه البيهقي عن قتبية بن سعيد : ثنا مروان بن معاوية الفزاري
    [ 351 ]
    عن هلال بن ميمون الرملي عن يعلى بن شداد بن أوس عن أبيه مرفوعا به . وقال الحاكم :
    ( صحيح الإسناد ) . ووافقه الذهبي
    قلت : ورجاله كلهم ثقات وأخرجه ابن حبان في ( صحيحه ) أيضا ولا مطعن في إسناده كما قال الشوكاني ونقل المناوي في ( شرح الجامع ) عن الزين العراقي أنه قال :
    ( إسناده حسن )
    وله شاهد من حديث أنس ذكرته في ( صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم )
    والحديث دليل لما ذكرنا من استحباب الصلاة في النعلين وإنما منعنا من الجزم بالوجوب حديث أبي هريرة الذي قبله وكذلك بعض الأحاديث المشار إليها قريبا مثل حديث عبد الله بن عمرو قال :
    رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي حافيا ومنتعلا
    أخرجه أبو داود وعنه البيهقي وابن ماجه والطحاوي وأحمد عن عمرو بن سعيب عن أبيه عن جده
    وهذا سند حسن أو صحيح على الخلاف المشهور فيه ومثله حديث أبي هريرة وعائشة فصلاته صلى الله عليه وسلم حافيا أحيانا دليل على عدم الوجوب

    قال الشوكاني :
    ( ويجمع بين أحاديث الباب بجعل حديث أبي هريرة وما بعده صارفا للأوامر المذكورة المعللة بالمخالفة لأهل الكتاب من الوجوب إلى الندب لأن التخيير والتفويض إلى المشيئة بعد تلك الأوامر لا ينافي الاستحباب كما في حديث : ( بين كل أذانين صلاة لمن شاء ) وهذا أعدل المذاهب وأقواها عندي ) .انتهى المراد من كلام الشيخ الألبني رحم الله.
    و أما محاولتك للدفاع عن رأيك في هذه المسألة فنسأل الله تعالى أن يوفقك للعمل بهذه الواجبة (عندك) و يهديني و إياك إلى صراط مستقيم و يوفقنا جميعا للتمسك بالكتاب و السنة على فهم السلف الصالح
    إن شاء الله هذه آخر كتابتي في هذه المسألة وقد أدليت ما عندي
    و لست بمبتغي المتشابه من أمور الدين
    و لا صاحب الخصومة فيه
    سبحانك اللهم بحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت وأستغفرك و أتوب إليك

    1. جزاكم الله خيرا
      (بارك الله فيك وفي علمك )

    2. بيان واضح جدا
      جزاكم الله خيرا وبارك الله في علمك

    3. @Fathurraman

      Diskusi/hiwar ini jangan Anda artikan sebuah ring tinju yang cari menang untuk dapat keuntungan atau untuk dapat predikat jagoan dalam hadis, fiqih, dll.

      Di blog ini, saya akan rujuk kalau saya terbukti keliru dan itu tidak berat buat saya. Saat Anda mengoreksi, Najasi dengan Heraclius saya pun langsung memperbaikinya.  
      Hanya saja di sini, terkait debat kita mengenai apakah Rasulullah memakai sandal atau tidak dalam shalatnya arguemntasi ente itu awalnya ana lihat lemah makanya saya berani mendebatnya.

      Ini permasalahan awal antara kita. Sekarang kita lanjut dengan permasalahan selanjutnya.

      Anda sudah bawakan hadis-hadis yang Anda yakini shahih, saya terima kasih untuk itu. Karena Anda mau fair/jujur dalam diskusi. Mudah-mudahan semua komentator di sini punya jiwa seperti Anda.

      بســم الله الرحن الرحيم
      أماحديث أبي هريرة رضي الله عنه الذي أشرت لك سابقا فسأذكره لك بسنده وإذا أردت البحث عن درجته فتفضل..
      قال الإمام أحمد رحمه اللـه :
      حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِي الْأَوْبَرِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
      كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي قَائِمًا وَقَاعِدًا وَحَافِيًا وَمُنْتَعِلًا
      حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ وَزَادَ فِيهِ وَيَنْفَتِلُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ

      رحال السند :
      سفيان هو ابن عيينة, و أبو الأوبر: هو زياد الحارثي (وثقه ابن معين كما في تعجيل المنفعة)
      درجة الحديث :
      رجال سنده ثقات, والحديث صححه شيخنا مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله في كتابه الجامع الصحيح مما ليس في الصحيحين. و قال رحمه الله تعالى في بعض دروسه عن هذه المسألة: “لو لا حديث صلاة رسول الله صلى الله عليه و سلم حافيا و منتعلا لقلت بوجوب الصلاة في النعال”

      Pertama tolong diingat kaidah ini dulu:

      • yang tahu menjadi hujjah bagi yang tidak tahu.
      • Jarh rinci didahulukan atas ta’dil yang umum.

      Insya Allah ini ada pada ana. Hadis yang antum kemukakan ini adalah lemah, sekalipun syaikhuna Muqbil menshahihkannya, namun karena Imam Ahmad mendaifkan salah satu perawinya sendiri maka Hadis ini tidak dapat dikatakan shahih.

      Hadis diatas diriwayatkan oleh Sufyan dari Abdul Malik bin Umair. Abdul Malik bin Marwan memilik daftar jarh wa ta’dil dalam catatan ulama, namun sejauh ini perbandingan antara ta’dil dan jarh yang ada padanya, maka jarh berlaku padanya karena jarhnya besifat mufassar dan dikeluarkan oleh ahlinya. Apa kata Imam Ahmad selaku perawi hadis ini, tentang perawinya sendiri:

      وقال علي بن الحسن الهسنجاني : سمعت أحمد بن حنبل يقول : عبد الملك بن عمير مضطرب الحديث جدا مع قلة روايته ، ما أرى له خمسمائة حديث ، وقد غلط في كثير منها . وذكر إسحاق الكوسج عن أحمد ، أنه ضعفه جدا . وروى صالح بن أحمد بن حنبل ، عن أبيه ، قال : سماك بن حرب أصلح حديثا من عبد الملك بن عمير ، وذلك أن عبد الملك يختلف عليه الحفاظ .

      Ini bisa dicek di kitab Siyar min A’lam An-Nubala, bab: Thabaqat IV dari Tabiin. Abdul Malik bin Umair

      Kalau ente punya hujjah yang bisa mementahkan jarh mufassar Imam Ahmad ini silahkan disampaikan di sini.:mrgreen:

      وأما الحديث الثاني الذي أشكل عليك حكمه فأحيلك إلى كلام محدث العصر الشيخ الألباني رحمه الله تعالى في كتابه الثمر المستطاب (ومن أحيل بحقه على ملىء فليحتل) :
      ( والصلاة فيهما تخيير لقوله صلى الله عليه وسلم : ( إذا صلى أحدكم فليلبس نعليه أو ليجعلهما بين رجليه ولا يؤذ بهما غيره )

      هو من حديث أبي هريرة رضي الله عنه أخرجه أبو داود والحاكم والبيهقي من طريق الأوزاعي : ثنا محمد بن الوليد عن سعيد بن أبي سعيد المقبري عن أبيه عنه
      وهذا سند صحيح على شرط الشيخين
      ثم أخرجه الحاكم من طريق عياض بن عبد الله القرشي عن سعيد عن أبي هريرة فلم يقل : ( عن أبيه ) وقال :
      ( صحيح على شرط مسلم ) ووافقه الذهبي وهو كما قالا وقال العراقي :

      Sayangnya ente di sini ga menyebutkan hadis secara lenkap (sanad dan matan), ana lengkapi dulu. Lain kali hujjah itu yang jelas, bayyin jangan ana lagi yang nyari2.:mrgreen:

      Kita ini sedang mencari kebenaran jadi tolong jangan bermain tadlis di sini untuk mengaburkan cacatnya sebuah kasus agar terlihat baik di mata orang awam.

      Berikut saya kutipkan secara lengkap hadis riwayatnya yang ente kaburkan:

      Al-Hakim (Mustadrak Ala Shahihain):

      حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ السُّوسِيُّ ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ مِهْرَانَ ، ثنا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ نَجْدَةَ الْحَوْطِيُّ ، ثنا شُعَيْبُ بْنُ إِسْحَاقَ ، وَبَقِيَّةُ ، قَالا : ثنا الأَوْزَاعِيُّ ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْوَلِيدِ ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَخْلَعْ نَعْلَيْهِ بَيْنَ رِجْلَيْهِ ، أَوْ لِيُصَلِّ فِيهِمَا ” .

      Hadis yang ente yakini shahih ini maaf2 saja tertolak karena Perawi Al-Hakim Yusuf bin Ya’qub As-Susi (يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ السُّوسِيُّ) adalah perawi majhul.

      Tidak terdata oleh ulama hadis. Alias ini adalah hadis lemah, kalau ente punya hujjah untuk menaikkannya menjadi hasan silahkan saja. Ulama mana yang memperbincangkannya dengan ucapan yang baik.

      Kalau alasan ente menshahihkannya hanya sebatas klaim umum yang beredar di lapangan selama ini: “Ala syart Syaikhain” maka ini jelas2 keliru, karena di Bukhari tidak ada perawi yang namanya, Yusuf bin Ya’qub As-Susi. Yang ada adalah: Yusuf bin Ya’qub Ash-Shaffar dan keduanya adalah orang yang berbeda. Kalau ente punya hujjah menggap dua orang ini satu orang silahkan tampilkan di sini.

       Al-Baihaqi (Al-Adab lil Baihaqi):

       وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ بِشْرَانَ،  أََنْبَأنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمِصْرِيُّ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ شُعَيْبٍ الْكَيْسَانِيُّ، حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ بَكْرٍ، حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْوَلِيدِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فَلَا يُؤْذِي بِهِمَا أَحَدًا، وَلْيَجْعَلْهُمَا مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَوْ لِيُصَلِّ فِيهِمَا» .

       Hadis ini memang shahihul isnad tapi matannya akan ana perbicangkan  nanti

      ( رواه أبو داود بسند صحيح وضعفه المنذري وليس بجيد )
      قلت : ولعل تضعيف المنذري له إنما هو لأجل هذا الاختلاف على سعيد وهو اختلاف لا يضر إن شاء الله تعالى كما بينته في ( صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم )
      ( لكن يستحب الصلاة فيهما أحيانا مخالفة لليهود ومن تنطع مثلهم لقوله صلى الله عليه وسلم : ( خالفوا اليهود فإنهم لا يصلون في نعالهم ولا خفافهم )
      الحديث صحيح الإسناد أخرجه أبو داود والحاكم وعنه البيهقي عن قتبية بن سعيد : ثنا مروان بن معاوية الفزاري
      [ 351 ]
      عن هلال بن ميمون الرملي عن يعلى بن شداد بن أوس عن أبيه مرفوعا به . وقال الحاكم :
      ( صحيح الإسناد ) . ووافقه الذهبي
      قلت : ورجاله كلهم ثقات وأخرجه ابن حبان في ( صحيحه ) أيضا ولا مطعن في إسناده كما قال الشوكاني ونقل المناوي في ( شرح الجامع ) عن الزين العراقي أنه قال :
      ( إسناده حسن )
      وله شاهد من حديث أنس ذكرته في ( صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم )

      والحديث دليل لما ذكرنا من استحباب الصلاة في النعلين وإنما منعنا من الجزم بالوجوب حديث أبي هريرة الذي قبله وكذلك بعض الأحاديث المشار إليها قريبا مثل حديث عبد الله بن عمرو قال :
      رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي حافيا ومنتعلا
      أخرجه أبو داود وعنه البيهقي وابن ماجه والطحاوي وأحمد عن عمرو بن سعيب عن أبيه عن جده
      وهذا سند حسن أو صحيح على الخلاف المشهور فيه ومثله حديث أبي هريرة وعائشة فصلاته صلى الله عليه وسلم حافيا أحيانا دليل على عدم الوجوب

      قال الشوكاني :
      ( ويجمع بين أحاديث الباب بجعل حديث أبي هريرة وما بعده صارفا للأوامر المذكورة المعللة بالمخالفة لأهل الكتاب من الوجوب إلى الندب لأن التخيير والتفويض إلى المشيئة بعد تلك الأوامر لا ينافي الاستحباب كما في حديث : ( بين كل أذانين صلاة لمن شاء ) وهذا أعدل المذاهب وأقواها عندي ) .انتهى المراد من كلام الشيخ الألبني رحم الله.

      Baik di sini saya ngga ingin perbanjang lebar dan keluar topik seperti ini. Yang jelas diskusi ini perlu kita persempit.

      Anggap saja hadis yang menyatakan Rasulullah itu tidak memakai sandal yang diriwayatkan di luar bukhari semisal, Al-Baihaqi di atas dalam Al-Adabnya dan beberapa hadis yang tidak kita kumpulkan di sini sebagai bahan kajian sebagai hadis shahih, tapi yang jelas semuanya bermuara pada Abu Hurairah dan yang ana tahu, hadis ini kebanyakan dihukumi marfu oleh para ulama, karena shighah sanad antara Abu Hurairah dan Nabi adalah mu’an’an (dari Nabi) bukan dengan shighah sami’tu maupun ra’itu.

      Lebih2 itu tidak diriwayatkan oleh Syaikhain yang mana kedudukan no 2 di bawah Al-Quran.  Yang mana ana berhujjah dengan hadis Anas yang notabene Bukhari Muslim.

      Lain cerita dengan shighah sanad Abdullah bin Amr yang jelas2 mengatakan: Ra’itu (Saya melihat langsung Nabi). Dan sejauh ini yang ana tahu, Cuma Abdullah bin Amr sahabat yang melihat Nabi bertelanjang kaki dan memakai sandal dalam shalatnya.

      Tinggal pertanyaannya adalah apakah Rasulullah itu sepanjang hidupnya kadang memakai sandal kadang telanjang kaki (sebagaimana keyakinan ente dari hadis Abu Hurairah yang ente yakini shahih tsb)? Ataukah pernah telanjang kaki trus shalat memakai sandal sepanjang hidupnya?

      Pusat permasalahan kita ini ada di sini, dan pendapat ana hingga detik ini adalah hadis2 yang menyatakan Nabi shalat bertelanjang kaki itu dinasakh/dihapus oleh hadis2 yang menyatakan Nabi shalat memakai sandal!

      Apa alasannya?

      Karena kalau kita tidak memilih pendapat ini, itu sama saja kita menuduh Nabi menyerupai Yahudi dalam Ibadah mereka.

      Dan silahkan saja bagi siapapun yang meyakini Nabi tetap shalat telanjang kaki dan telanjang kakinya beliau tidak bertentangan dengan sabda beliau sendiri yang menyatakan: shalatlah dengan memakai sandal agar tidak menyerupai Yahudi karena yahudi shalat bertelanjang kaki.

      Berikut rinciannya hujjah saya adalah:
      1. Abdullah bin Amr pernah melihat nabi shalat memakai sandal dan tidak itu dilukiskan dengan kata kerja lampau (raitu) bukan kata kerja sekarang (ara) yang bisa diartikan ia melihat Nabi secara bersamaan, yaitu kadang shalat memakai sandal kadang juga tidak.
      2. Abdullah bin Amr menyebutkan: Saya melihat Nabi shalat dengan bertelanjang kaki dan memakai sandal.
      ingat, Kata dan (huruf wau) ini menunjukkan tartib (tsumma) bukan bermakna ma’a (al-jam’u) (secara bersamaan). Jadi maksudnya Nabi dulu pernah saya lihat shalat bertelanjang kaki kemudian saya lihat lagi shalat memakai sandal. Inilah makna yang paling kuat menurut Ana dan ini dibuktikan oleh sebuah fakta yang dijelaskan sahabat Anas… jadi hadis2 tsb sebenarnya bukan saling bertentangan.:mrgreen:
      Ini hanya pendapat saya, dan saya tidak katakan ini benar, kalo anda masih bisa menyanggah silahkan saja.:mrgreen:

      Semoga ini cukup jelas bagi orang yang berakal.:mrgreen:

      و أما محاولتك للدفاع عن رأيك في هذه المسألة فنسأل الله تعالى أن يوفقك للعمل بهذه الواجبة (عندك) و يهديني و إياك إلى صراط مستقيم و يوفقنا جميعا للتمسك بالكتاب و السنة على فهم السلف الصالح
      إن شاء الله هذه آخر كتابتي في هذه المسألة وقد أدليت ما عندي
      و لست بمبتغي المتشابه من أمور الدين
      و لا صاحب الخصومة فيه
      سبحانك اللهم بحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت وأستغفرك و أتوب إليك

      Lho kenapa begitu jadinya, apakah agama ini hanya untuk person tertentu? Kalau memang benar dan benarnya itu jelas bagi semua orang apakah hanya ana yang harus mengamalkannya sementara ente dan yang lainnya tidak.

      Lain cerita, kalo yang tahu hanya orang2 tertentu dan kebanyakan manusia yang lain tidak tahu, tapi bahasan ini telah terbuka di ruang publik dan setiap orang berhak tahu kebenarannya. Jadi cara “ngeles” (kabur) seperti itu kayaknya keliru deh.:mrgreen:

      1. بسم الله الرحمن الرحيم
        Bantahan kokoh adalah bantahan yang ilmiyah, dengan tetap memperhatikan ahlaq yang mulia ,memperhatikan kaidah untuk menghentikan orang yang salah dari kesalahannya. Ini semua adalah hal yang baik untuk orang yang bersangkutan dan bagi muslimin, na’am, dan dengan memperhatikan segi nasehat dan bersungguh-sungguh didalam menjaga perasaan hati. Berapa banyak manfaat yang didapatkan bagi muslimin dan bagi agama mereka disebabkan saling menasehati dan disebabkan bantahan terhadap kesalahan-kesalahan yang timbul.Karena kadangkala suatu kesalahan apabila tidak dibantah akan tersebar dikalangan manusia, baik disisi orang yang tidak tahu yang tidak bisa membedakan kebenaran ,atau disisi orang-orang yang hasad yang menunggu-nunggu kesalahan yang timbul dari musuhnya ,atau disisi orang-orang yang tidak mengetahui keadaannya kecuali Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
        Diambil dari http://aloloom.net/vb/showthread.php?t=18210

  31. Untuk saudara imam..sudah antm mengalah saja,insya alloh antm telah mnunaikan kwajiban antm untk mnasihati sesuai dgn ilmu yg antm miliki..mdh2an alloh memberikan pahala atas usaha antm.

  32. بســـم الله الرحمن الرحيم

    الحمد لله قد انتهينا من الكلام على حكم الصلاة في النعال و قد قدمنا أن القول بسنية ذلك أقوى دليلا و أقرب بقواعد الأصول و كلام العلماء المحققين من القول بوجوبه و الحكم بنسخ جواز الصلاة بدونه. و لا ألزم أحدا بقولي و لكن اللازم لمن دخل في المناقشة و المذاكرة العلمية أن يحافظ على أدب المناقشة و المذاكرة. سأنقل لكم ههنا كلاما جميلا للإمام النووي رحمه الله في شرح مقدمة صحيح مسلم :
    فان بالمذاكرة يثبت المحفوظ ويتحرر ويتأكد ويتقرر ويزداد بحسب كثرة المذاكرة, ومذاكرة حاذق في الفن ساعة أنفع من المطالعة والحفظ ساعات بل أياما وليكن في مذاكراته متحريا الانصاف قاصدا الاستفادة أو الإفادة غير مترفع على صاحبه بقلبه ولا بكلامه ولا بغير ذلك من حاله مخاطبا له بالعبارة الجميلة اللينة فبهذا ينمو علمه وتزكو محفوظاته. والله أعلم

    و كلامنا الآن على أحد روات حديث أبي هريرة رضي الله عنه في شرعية الصلاة في النعال الذي أخرجه الإمام أحمد رحمه الله في مسنده الذي سبق ذكره والحكم عليه و هو عبد الملك بن عمير الكوفي.

    و الأمر كما ذكره صاحبنا وفقه الله لكل خير – و عسى أن نعرفه يوما من الدهر من هو – من أن عبد الملك بن عمير من الروات الذين اجتمع فيهم الجرح و التعديل. و ذكر صاحبنا في هذا الموضع قاعدتين مشهورتين عند طلبة العلم. الأول: الذي يعلم حجة على من لا يعلم و الثاني: الجرح المفسر مقدم على التعديل.

    ليعلم الجميع أن العلماء لم يزالوا مختلفين في صحة بعض الأحاديث و ضعفها و في توثيق الرجل و تجريحه و من ذلك ما حصل في عبد الملك بن عمير الكوفي. و العلماء المحققون العارفون بضوابط الجرح و التعديل قد تكلموا في هذه المسألة.
    و من أحسن من تكلم فيه هو الحافط ابن حجر رحمه الله تعالى في كتابه النفيس هدي الساري مقدمة فتح الباري
    (ذكر الحافظ عبد الملك بن عميرفي ذلك الموضع لأنه من رجال صحيحي البخاري و مسلم المتكلم فيهم),
    فقال رحمه الله: عبد الملك بن عمير الكوفي مشهور من كبار المحدثين لقي جماعة من الصحابة وعمر وثقه العجلي وبن معين والنسائي وبن نمير وقال بن مهدي كان الثوري يعجب من حفظ عبد الملك وقال أبو حاتم ليس بحافظ تغير حفظه قبل موته وإنما عني بن مهدي عبد الملك بن أبي سليمان وقال أحمد بن حنبل مضطرب الحديث تختلف عليه الحفاظ وقال بن البرقي عن بن معين ثقة إلا أنه أخطأ في حديث أو حديثين.
    قلت: احتج به الجماعة وأخرج له الشيخان من رواية القدماء عنه في الاحتجاج ومن رواية بعض المتأخرين عنه في المتابعات وإنما عيب عليه أنه تغير حفظه لكبر سنه لأنه عاش مائة وثلاث سنين ولم يذكره بن عدي في الكامل ولا بن حبان.انتهى
    و قال رحمه الله خلاصة حاله في تقريب التهذيب: ثقة فقيه تغير حفظه وربما دلس من الثالثة مات سنة ست وثلاثين وله مائة وثلاث سنين. / ع. انتهى
    و أما بنسبة تغيره فقد قال العلائي رحمه الله في كتابهاالمختلطين:
    30 – عبد الملك بن عُمير الكوفي:أحد التابعين احتج به الشيخان وغيرهما.
    قال أبو حاتم: تغير حفظه.
    وقال ابن معين: مخلط .
    وذكر بعض الحفاظ: إن اختلاطه احتمل لأنه لم يأت فيه بحديث منكر فهو من القسم الأول.انتهى

    و قال رحمه الله عن القسم الأول في أول كتابه:
    أما الرواة الذين حصل لهم الاختلاط في آخر عمرهم فهم على ثلاثة أقسام:
    أحدها: من لم يوجب ذلك له ضعفا أصلا ولم يحط من مرتبته إما لقصر مدة الاختلاط وقلته كسفيان بن عيينة وإسحاق بن إبراهيم بن راهويه وهما من أئمة الإسلام المتفق عليهم وإما لأنه لم يرو شيئا حال اختلاطه فسلم حديثه من الوهم كجرير بن حازم وعفان بن مسلم ونحوهما. انتهى

    فلا غضاضة إذن على من صحح حديث أبي هريرة رضي الله عنه في صلاة رسول الله صلى الله عليه و سلم حافيا و منتعلا.

    1. الحمد لله قد انتهينا من الكلام على حكم الصلاة في النعال و قد قدمنا أن القول بسنية ذلك أقوى دليلا و أقرب بقواعد الأصول و كلام العلماء المحققين من القول بوجوبه و الحكم بنسخ جواز الصلاة بدونه. و لا ألزم أحدا بقولي و لكن اللازم لمن دخل في المناقشة و المذاكرة العلمية أن يحافظ على أدب المناقشة و المذاكرة. سأنقل لكم ههنا كلاما جميلا للإمام النووي رحمه الله في شرح مقدمة صحيح مسلم :
      فان بالمذاكرة يثبت المحفوظ ويتحرر ويتأكد ويتقرر ويزداد بحسب كثرة المذاكرة, ومذاكرة حاذق في الفن ساعة أنفع من المطالعة والحفظ ساعات بل أياما وليكن في مذاكراته متحريا الانصاف قاصدا الاستفادة أو الإفادة غير مترفع على صاحبه بقلبه ولا بكلامه ولا بغير ذلك من حاله مخاطبا له بالعبارة الجميلة اللينة فبهذا ينمو علمه وتزكو محفوظاته. والله أعلم
      و كلامنا الآن على أحد روات حديث أبي هريرة رضي الله عنه في شرعية الصلاة في النعال الذي أخرجه الإمام أحمد رحمه الله في مسنده الذي سبق ذكره والحكم عليه و هو عبد الملك بن عمير الكوفي.

      Finally, sepertinya kita memang berbeda di sini. Yang jelas pendapat para jumhur ulama sudah ana kaji dalam-dalam dalam berbagai kitab fiqih mereka mengenai bolehnya shalat memakai sandal sebagaimana yang ente yakini sebelum ana berani mengutarakan pendapat ana ini, namun hanya saja setelah ana teliti lebih dalam pendapat mereka kebanyakan “ngambang”. Sama sekali tidak menyelesaikan permasalahan penyerupaan dengan Yahudi yang tidak bertelanjang kaki dalam shalat mereka.
      Dan bagi orang yang tahu itu “ngambang” tentu tidak layak baginya mengambil pendapat tersebut sepanjang ia sendiri memiliki dalil yang kuat untuk membuktikan argumetasi/burhannya.
      Dan bagi yang tidak tahu tentu tidak layak juga baginya mengambil sebuah pendapat lain yang ia tidak ada ilmu atasnya kecuali apa2 yang telah berlalu baginya dan ia telah meyakininya seperti ente gituh yang meyakini shalat memakai sandal:mrgreen:.
      Bagi ana tidak mungkin bisa ada dua kebenaran yang berbeda (bertentangan) dalam satu waktu.
      Oleh karena itu jalan keluarnya hanyalah dengan menasakh hadis shalat memakai sandal karena kebenaran bagi ana cuma satu.
      Karena kalau tidak begitu, ana khawatir dengan diri ana sendiri bila ana menuduh ((secara tidak langsung)) Nabi melanggar ucapannya sendiri, satu waktu ia melarang shalat bertelanjang kaki agar tidak menyerupai Yahudi namun di satu waktu yang bersamaan Nabi sendiri shalat bertelanjang kaki (menurut penuturan Abu Hurairah).
      Dan pendapat ana ini tidak ana paksakan sebagai kebenaran sehingga siapapun harus mengikutinya, sepanjang bisa dimentahkan maka ana akan siapa terbuka untuk berdiskusi.

      و الأمر كما ذكره صاحبنا وفقه الله لكل خير – و عسى أن نعرفه يوما من الدهر من هو – من أن عبد الملك بن عمير من الروات الذين اجتمع فيهم الجرح و التعديل. و ذكر صاحبنا في هذا الموضع قاعدتين مشهورتين عند طلبة العلم. الأول: الذي يعلم حجة على من لا يعلم و الثاني: الجرح المفسر مقدم على التعديل.
      ليعلم الجميع أن العلماء لم يزالوا مختلفين في صحة بعض الأحاديث و ضعفها و في توثيق الرجل و تجريحه و من ذلك ما حصل في عبد الملك بن عمير الكوفي. و العلماء المحققون العارفون بضوابط الجرح و التعديل قد تكلموا في هذه المسألة.
      و من أحسن من تكلم فيه هو الحافط ابن حجر رحمه الله تعالى في كتابه النفيس هدي الساري مقدمة فتح الباري
      (ذكر الحافظ عبد الملك بن عميرفي ذلك الموضع لأنه من رجال صحيحي البخاري و مسلم المتكلم فيهم),
      فقال رحمه الله: عبد الملك بن عمير الكوفي مشهور من كبار المحدثين لقي جماعة من الصحابة وعمر وثقه العجلي وبن معين والنسائي وبن نمير وقال بن مهدي كان الثوري يعجب من حفظ عبد الملك وقال أبو حاتم ليس بحافظ تغير حفظه قبل موته وإنما عني بن مهدي عبد الملك بن أبي سليمان وقال أحمد بن حنبل مضطرب الحديث تختلف عليه الحفاظ وقال بن البرقي عن بن معين ثقة إلا أنه أخطأ في حديث أو حديثين.
      قلت: احتج به الجماعة وأخرج له الشيخان من رواية القدماء عنه في الاحتجاج ومن رواية بعض المتأخرين عنه في المتابعات وإنما عيب عليه أنه تغير حفظه لكبر سنه لأنه عاش مائة وثلاث سنين ولم يذكره بن عدي في الكامل ولا بن حبان.انتهى
      و قال رحمه الله خلاصة حاله في تقريب التهذيب: ثقة فقيه تغير حفظه وربما دلس من الثالثة مات سنة ست وثلاثين وله مائة وثلاث سنين. / ع. انتهى
      و أما بنسبة تغيره فقد قال العلائي رحمه الله في كتابهاالمختلطين:
      30 – عبد الملك بن عُمير الكوفي:أحد التابعين احتج به الشيخان وغيرهما.
      قال أبو حاتم: تغير حفظه.
      وقال ابن معين: مخلط .
      وذكر بعض الحفاظ: إن اختلاطه احتمل لأنه لم يأت فيه بحديث منكر فهو من القسم الأول.انتهى
      و قال رحمه الله عن القسم الأول في أول كتابه:
      أما الرواة الذين حصل لهم الاختلاط في آخر عمرهم فهم على ثلاثة أقسام:
      أحدها: من لم يوجب ذلك له ضعفا أصلا ولم يحط من مرتبته إما لقصر مدة الاختلاط وقلته كسفيان بن عيينة وإسحاق بن إبراهيم بن راهويه وهما من أئمة الإسلام المتفق عليهم وإما لأنه لم يرو شيئا حال اختلاطه فسلم حديثه من الوهم كجرير بن حازم وعفان بن مسلم ونحوهما. انتهى
      فلا غضاضة إذن على من صحح حديث أبي هريرة رضي الله عنه في صلاة رسول الله صلى الله عليه و سلم حافيا و منتعلا.

      Ana tidak sependapat dengan ente dalam hal ini. Berikut aib-aibnya.
      Pertama: Kalau hujjah ente untuk menaikan status hadis Abu Hurairah ini menjadi shahih dengan dalih: Abdul Malik bin Umair adalah perawi Bukhari Muslim tentu tidak tepat.
      Argumentasi ini memang benar bahwa Abdul Malik bin Umair adalah perawi Bukhari Muslim, namun tidak tepat dalam merinci persoalan pelik semacam ini. Kenapa?
      Asal ente tahu bahwa tidak semua riwayat Abdul Malik bin Umair dari guru-guru bukhari atau Muslim ditelan mentah-mentah oleh keduanya. Dari sekian hadis Abdul Malik bin Umair dan dari sekian penyeleksian ketat yang dilakukan keduanya, hanya beberapa hadis tertentu saja yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dan jumlahnya tidak banyak.
      Dan penting ente ingat bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdul Malik bin Umair tidak tercatat dalam Shahih Bukhari maupun Shahih Muslim.
      Lalu dimana relevansinya hujjah yang menyatakan “Abdul Malik bin Umair adalah perawi Bukhari Muslim” dalam kaitan dengan masalah shalatnya Nabi dengan bertelanjang kaki dan memakai sandal dengan Bukhari Muslim sendiri, yang mana mereka tidak satupun meriwayatkan hadis ini dari “Abdul Malik bin Umair”?
      Ayo jelaskan, apa hubungannya coba hujjah semacam itu bila faktanya hadis Abdul Malik bin Umair tidak ada dalam shahih bukhari dan Muslim.
      Bukankah itu artinya hadis yang tidak ditempatkan oleh Bukhari Muslim di dalam shahih keduanya dianggap dhaif?:mrgreen:
      Kedua: Kalau alasan ente mementahkan jarh mufassar Imam Ahmad dengan penjelasan Ibnu Hajar maka tentu ini lebih keliru lagi. Sebab sebagaimana yang kita ketahui bersama yang tahu isi rumah hanyalah pemilik rumah sendiri. Ibnu Hajar hanyalah “orang luar” bukan “pemilik rumah”, beliau tidak meriwayatkan dari Abdul Malik bin Umair. Bingung ana, kenapa Ibnu Hajar dijadikan wasith oleh ente di sini?:mrgreen:
      Imam adalah adalah pemilik rumah dari hadis Abu Hurairah ini dan ialah yang paling banyak bicara tentang jarh mufassar atas Abdul Malik bin Umair dibandingkan yang lainnya yang menyebutkan ta’dil atasnya. Lagipula kebanyakan ta’dil mereka selalu dibarengi dengan jarh atas Abdul Malik bin Umair ini.
      Artinya bisa saja ucapan Ibnu Hajar ini.
      وذكر بعض الحفاظ: إن اختلاطه احتمل لأنه لم يأت فيه بحديث منكر فهو من القسم الأول.انتهى
      و قال رحمه الله عن القسم الأول في أول كتابه:
      أما الرواة الذين حصل لهم الاختلاط في آخر عمرهم فهم على ثلاثة أقسام:
      أحدها: من لم يوجب ذلك له ضعفا أصلا ولم يحط من مرتبته إما لقصر مدة الاختلاط وقلته كسفيان بن عيينة وإسحاق بن إبراهيم بن راهويه وهما من أئمة الإسلام المتفق عليهم وإما لأنه لم يرو شيئا حال اختلاطه فسلم حديثه من الوهم كجرير بن حازم وعفان بن مسلم ونحوهما. انتهى
      Hanya berlaku pada hadis bukhari Muslim yang ia riwayatkan darinya, sebab Abdul Malik bin Umair diriwayatkan oleh kedua Syaikh ini dan tentu saja tidak mungkin bagi orang selevel mereka mengambil riwayat dari Abdul Malik yang sudah terkena ikhtilath.
      Sementara Imam Ahmad tidak menjarhnya dengan iktilath sebagaimana yang disebutkan oleh jamaah tapi dengan “mudhtharibul hadits jiddan”, sebagaimana yang ana sebutkan dari As-Siyar Adz-Dzahabi sebelumnya.
      Dan Hujjah Imam Ahmad ini sama dengan ana bahwa hadis Abdul Malik bin Umair dari Abu Hurairah ini “mudhtharib jiddan” dengan hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah melarang shalat dengan memakai sandal karena itu menyerupai Ibadah orang Yahudi.
      Semoga jelas bagi orang yang berakal.:mrgreen:

  33. تصحيح
    (ذكر الحافظ عبد الملك بن عميرفي ذلك الموضع لأنه من رجال صحيحي البخاري و مسلم المتكلم فيهم),
    الصحيح:
    (ذكر الحافظ رحمه الله عبد الملك بن عميرفي ذلك الموضع لأنه من رجال صحيح البخاري المتكلم فيهم),

  34. Yg ngebuat nih blog…….ane mau ksh jempol buat ente……..purwito to long ditelanjangin juga donk……..purwito si Tukang herbal entu tuh

  35. @akhi mantan _purwito abdul ghofur al malanji to?alamate endi tak pengen weruh koyo opo orangnya ..mumpung tetangga kota

      1. @admin kuwi lho akhi mantan jamaah katanya tau admin situs tukpencari….pak purwito abdulghofur al malanji

    1. @abu muhammad pelitasunnah gak ada bedanya yang di kritik (ustadz LB jemberdan kroni)dengan yang mengkritik(pelitasunnah) podo wae alias sama saja

    1. Afwan akhi kalau begitu ahlussunahslipi linknya Ustad Dzulqornain ya ?

  36. Tapi nampaknya Luqman belum bangkrut ya akhi fillah karena sudah dipanggil dengan gelar “Syeikh” ada disini Mari kita lihat pernyataan Al-Ustadz Dzul Akmal:

    “Telah dinukil kpd sebagian ikhwah dari syaikh kami orang tua kami Assyaikh Robee’ bahwa Al akh Assyaikh Luqman ba’abduh mengkhabarkan kpd beliau bahwa saya menerima harta (uang) dari Ihya’ut turots, dan sungguh saya telah menukil khabar ini kpd sebagian ikhwah, dan telah tersebar khabar ini, dan sungguh telah jelas bagi saya bahwa khabar ini bathil dan bahwa yg menukil dari syaikh Robee’ telah keliru dan mengada-ada, maka saya meminta ampun kpd Allah dan saya bertaubat kpdNya dari tersebarnya khabar yg bathil ini dan saya memberi uzur (maaf) kpd saudara saya Assyaikh Luqman…. Semoga Allah memberi taufiq”. (Selesai penukilan)

  37. Ya allah…bongkarlah aib si PEMBUAT situs ini, jgnlah Engkau berkahi ilmu yg ada didalamnya.amiin

  38. Apakah luqman akan bangkrut…?
    To be continued…

    Terakhir dari nasehat brharga dr Syekh Abdul Hadi Al Umairy hafizohulloh kpd Luqman ba Abduh, cs…
    …….
    (Seorg hadirin brkata):
    “Wahai Syaikh, jika anda membicarakan Luqman disini, bukan dihadapan para masyayikh, maka akan jadi masalah?
    Apa maksud dari pertanyaan ini? Siapa yang menanyakan ini? Jelaskan, tidak masalah..
    (Hadirin memperjelas):
    “Jika anda hanya berbicara dihadapan kami, namun tidak berbicara dihadapan masyayikh di Arab Saudi, maka hal tersebut akan menyisakan masalah bagi kami sepeninggal anda ke negeri anda nantinya. Dan akan tersebar isu bahwa ini adalah bentuk makar Ustadz Dzulqarnain dan mereka yang bersamanya?”
    Ikhwah, kalian lihat disini saya berbicara tentang Luqman, hanya yang berkaitan dengan masalahku. Benar atau tidak? Perkataanku direkam. Hanya terkait hal-hal yang berkaitan denganku.
    Adapun apa yang berkaitan dengan kalian dan dakwah disini, maka saya wasiatkan untuk rujuk pada `ulama. Saya juga mengatakan tentang pembicaraan dia atas kalian di internet, jangan perdulikan hal tersebut! Tinggalkan dia! Biarkan dia mengatakan apa yang ia inginkan.
    Adapun perkataanku saat ini, dalam rangka meyakinkan kalian bahwa orang ini tergesa-gesa. Saya masih mengatakan hal ini, dan menyarankan dia untuk berhati-hati.
    Jika ia mau rujuk dari apa yang ia katakan tentangku, maka saya akan katakan padanya jazaakallaahu khayran. Demi Allah, ini semua bukan dalam rangka menampakkan keutamaanku. Saya bersaksi pada Allah bahwa bukan itu yang saya inginkan. Hanya agar ia mau berhati-hati.
    Seseorang yang mengatakan padaku perkataan semacam ini (majhul, pen), saya katakan padanya, anda tidak berhak untuk mengatakan hal tersebut.
    Cukup ajarkan manusia, tanamkan pada mereka dasar-dasar ilmu, sibukkanlah diri anda dengan ilmu. Adapun menjarh dan menta`dil, itu bukanlah keahlian maupun urusan anda.
    Walau seandainya Syaikh Rabi` merekomendasikannya, namun Syaikh tidaklah menjadikannya rujukan bagi kalian di Indonesia. Benar atau tidak? Harus dibedakan antara dua hal ini.
    Saya tidaklah mengenalnya dan seluk beluknya, saya hanya berucap tentangnya berkaitan apa yang telah ia ucapkan tentangku, benar atau tidak? Kemudian nampak bagiku dari cara yang ia tempuh untuk membantahku, bahwa dia adalah seorang mutasarri`.
    Orang ini (Luqman) tidaklah berjalan diatas kaedah para `ulama. Sama saja, ia suka ataupun tidak suka, inilah kebenaran yang saya berani pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Dia terima atau tidak, inilah ucapanku, diatas hujjah dan bukti-bukti, bukan didasari hawa nafsu.
    Darimana engkau dapatkan kaedah dan perkataan seperti ini?!
    Adapun pembicaraan di hadapan masyayikh, maka kalian akan melihatnya insyaAllah. Dan hasil dari semua ini akan tampak.

    1. Duh…afwan… maksud ana yg intinya aja, yg ini : “Adapun pembicaraan di hadapan masyayikh, maka kalian akan melihatnya insyaAllah. Dan hasil dari semua ini akan tampak.”
      Afwan yg di copas kebanyakan…. just info…

  39. Ini situs infotaintment yah? Isinya cuma gosip, yang jadi objek gosipnya para ustadz. Mantepnya buang-et.
    Pengelola situs ini pasti perempuan bukan laki2, doyan gosip n mau tau aja urusan orang. Yang ngerasa laki2 lebih baik jauhi situs ini, n gak usah dikomentari. Gak baik ngegosip dengan perempuan.
    Daripada ngegosipin para ustadz mendingan belajar aja, jangan siasiakan waktu anda bergosip dengan perempuan. Saya yakin yg ikut komen di sini (termasuk saya) orang2 yg masih bodoh yg harus banyak belajar mengenai ahlak, fiqih, dll.
    Sifat perempuan waras klo omongannya gak ada yg nanggepin bakal berhenti sendiri. Jadi biar aja mbak2 yg ngelola situs ini cuap2 sendiri, klo gak ada yg nanggepin n mrk masih waras mesti berhenti sendiri.

    1. Lukman Ba’abduh itu sudah lupa daratan karena banyaknya pengikut yang membebekinya, kalo ngga disadarkan ia makin tenggelam dan sulit diselamatkan.

Comments are closed.