00aabda519b3d8152815b47493bcc5bf_a

Jinsu Amal? Kala Juhala’ Menyelewengkan Ucapan Ulama

Seperti matahari yang bersinar di siang hari, perkara ini memang tak dapat diingkari, bahwa “fanatik gila” memang sudah menciderai dakwah salafiyah ini, melukainya bahkan menjatuhkan kehormatannya. Setiap hari, minggu, bulan, tahun selalu bermunculan “anak-anak alay” yang bandelnya minta ampun (baca: thullabul ilmi kagetan yang sok berilmu gitu deh) yang selalu menjadikan ulamanya sebagai kebenaran itu sendiri, padahal antara “ulama” dan “kebenaran” itu sungguh berbeda.

Ulama hanyalah sarana untuk menuju kepada kebenaran yang berasal dari Allah (Alhaqq mir Rabbik), dan bukan kebenaran itu sendiri, camkan itu baik-baik. Terdapat sebuah pepatah yang menerangkan hal ini:

“Bila Anda ingin tahu jalan menuju sebuah tempat yang ingin Anda tuju maka tanyalah orang yang pernah melewatinya kalau tidak ingin tersesat.”

Bahasa Al-Quran:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Tanyalah Ahluz Dzikri jika kamu memang tidak tahu” (QS. An-Nahl: 43)

Akibatnya, ketika ulamanya dikritik muncullah reaksi buas dan ganas dari mereka layaknya binatang buas yang menerkam kehormatan ulama. Kita sendiri tahu khan bagaimana yang namanya binatang buas itu kalau sudah memburu mangsanya… begitulah mereka ini… sangat susah untuk disadarkan, bahkan batu rasanya masih lebih lunak dibandingkan hati mereka ini bila ingin diluluhkan. Sering kita dengar dari masyarakat kita di sini: “Cinta Ditolak Dukun Bertindak”, sementara di sana: “Ulamanya Dihina Juhala’nya Bertindak”, adapun pemilik blog ini: “Ana Hanya Mau Meluruskan…”:mrgreen: Ngga ada urusan ama benci dan cinta, kebenaran tidak terkait dengan benci dan cintanya seseorang pada seseorang. Jangan karena kita cinta padanya lalu kita anggap padanyalah kebenaran dan jangan karena kita benci seseorang lalu kita anggap ia sudah tidak bersama kebenaran lagi.:mrgreen:

Salah satu “aksi gila” yang sering dilakukan oleh “anak-anak alay” yang bandelnya sudah tak tertolong lagi ini adalah dengan cara merekam; lebih jelasnya mengedit ucapan ulama yang bersebrangan dengan ulama kesayangan mereka, lalu disalahpahami maksudnya baik itu disengaja atau tidak karena murni kebodohannya kemudian dibenturkan kepada ulama yang lain yang lebih berilmu sehingga didapatilah jawaban dari ulama tersebut seperti yang mereka inginkan agar ulama yang bersebrangan dengan ulama kesayangan mereka ini jatuh sejatuhnya.

Ini menimpa hampir semua kalangan penuntut ilmu, murid ulama manapun mereka. Melihat fenomena seperti ini saya hanya bisa menangis sedih. Entah sampai kapan kekonyolan ini akan berakhir…😦

Di sini saya ingin membawakan contoh bagaimana para penggila Syaikh Falih Harbi membenturkan ucapan Syaikh Rabi kepada Syaikh Shalih Fauzan.

Perlu dicatat: Saya di sini menulis hal ini bukan karena saya sudah menjadi pembela Syaikh Rabi, tidak! Saya tidak ada urusan dengan hal itu, di sini saya memposting thread ini adalah untuk menjadi bukti bahwa saya tidak antipati terhadap kebenaran dari manapun ia datangnya, saya mengkritik Syaikh Rabi, ya dan saya pun tidak antipati untuk membela Syaikh Rabi bila ia difitnah. Inilah manhaj saya di sini bahwa kebenaran itu punya hak untuk ditolong bila ia dizalimi tidak peduli siapapun orangnya selama itu memang benar.

 Kita mulai saja. Kasus “Jinsu Amal.”[*]

Terjemahan:

Wahai Syaikh yang memiliki kelebihan dan keutamaan[1] (semoga Allah memberikan persetujuannya kepada Anda), si penanya bertanya: Ada seseorang[2] yang berkata bahwa meninggalkan “jinsu amal” secara keseluruhan itu tidaklah menjadikan ia kafir.[3] Dan ini adalah pendapat kedua dari para salaf. Tidak berhak untuk (keliru bila ada) yang mengingkari dan membidahkannya.”[4] Bagaimana mana Anda menjernihkan ucapan ini?

Jawab: Orang ini pendusta, kepada orang yang mengucapkan ucapan ini ada padanya predikat dusta. Dia berdusta atas nama salaf. As-salaf tidak ada yang berkata: jika ada yang meninggalkan jinsu amal atau atau tidak melakukan amal satupun adalah orang beriman. Siapa yang meninggalkan amal di penghujung hidupnya tanpa ada uzur. Ia tidak shalat, puasa dan melakukan amal apapun lalu dia berkata: “Saya beriman loh!” maka dia BERDUSTA.

Dan adapun kepada mereka yang meninggalkan amal karena adanya uzur sesuatu dan tidak mampu melaksanakan amal sementara ia bersyahadat dengan benar dan ia meninggal atau terbunuh/tewas dalam keadaan/kondisi tertentu maka tidak ada keraguan di dalamnya bahwasanya ia adalah orang beriman, karena ia tidak mampu untuk beramal. Ia tidak meninggalkannya karena ia benci kepadanya. Adapun orang yang meninggalkannya, ia tidak shalat, tidak puasa, tidak berzakat, tidak pula menjauhi dari perkara-perkara yang diharamkan dan tidak pula perkara-perkara yang keji maka orang ini bukanlah orang beriman dan tidak ada yang mengatakan ia beriman kecuali murjiah.[5]

___________________________________

Penjelasan Admin:

[*] “Jinsu Amal” (baca: Pengkategorisasian Amalan, yakni mengkategorisaikan amalan manusia, apakah amalnya karena iman atau tidak?) adalah istilah yang belum ada kesepakatan ulama atas batasan maknanya, karena tidak jelas dari mana sumbernya (baik dari Al-Quran maupun Hadits), karena semua itu berpulang lagi pada pemahaman ulama-ulama tersebut atas hasil kajian mereka terhadap hadits-hadits tentang keimanan dan korelasinya dengan fenomena kaum muslimin yang terjadi di depan mereka.

Sejauh ini, saya mendapati bahwa “jinsu amal” ini adalah istilah yang dimunculkan oleh ulama dalam menghakimi keadaan/kondisi yang terjadi dan kebanyakan pembicaraannya berpusat pada permasalahan iman, apakah cukup dengan keyakinan saja, atau harus ada bukti amalnya melalui perbuatan sebagai wujud realisasinya. Salah satu contohnya: Orang yang tidak shalat, bagaimana hukumnya?

Di sini kita akan melihat ada dimana “jinsu amal” dalam kasus orang yang meninggalkan shalat ini. Menurut Ahlussunnah, bila ia mengaku beriman maka dia berdusta (Syaikh Fauzan telah membahasnya di thread ini). Menurut Murjiah, ia tetap beriman meski ia tidak shalat sampai ia mati. Jelas khan? Namun permasalahan “jinsu amal” ini tidak semudah ini, karena “jinsu amal” berkutat pada pertanyaan ini:

Apakah orang shalat tadi, tidak shalat karena ia berkurang imannya dengan sebab kemaksiatan yang lakukan atau karena ia berdusta, sebab iman menurut ahlussunah menuntut bukti perwujudannya dari anggota badan. Artinya kalau dia mengaku beriman maka tidak mungkin ia tidak shalat. Sedangkan menurut Murjiah, shalat tidak shalat tetap dianggap beriman.

Lebih rumit lagi, kalau memang ia tidak shalat karena berkurang imannya, maka bagaimana ia bisa dikatakan kafir sementara masih ada padanya iman? Oleh karena itu Syaikh Falih Harbi lebih memilih memurjiahkannya daripada mengkafirkannya, dan ini dibantah oleh Syaikh Rabi bahwa itu tidak bisa dilakukan, karena murjiah itu tidak meyakini iman itu bisa berkurang dan bisa bertambah.

Jadi, permasalahan “jinsu amal” itu hanya terbatas pada pertanyaan: apakah tidak shalatnya ia itu karena berkurang imannya disebabkan kemaksiatan yang ia lakukan atau karena ia berdusta, yakni mengaku beriman tapi tidak ada wujud realisasinya (murjiah). Inilah yang menjadi biang permasalahan yang sulit dicarikan jawabannya.

Untuk menjawab permasalahan seperti ini memang tidak mudah, terlalu berlebihan maka kita akan jatuh pada akidah takfir, terlalu lembek pun maka kita akan terjatuh pada akidah murjiah, diam di tengah-tengah pun belum tentu benar, karena kita tidak tahu isi hati manusia, apakah ia meninggalkan shalat karena kemasiatan atau karena mendustakan imannya.

Intinya, dalam thread ini, Syaikh Rabi lebih memilih mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat, karena adanya penolakan beliau atas “jinsu amal” sebagaimana yang dituduhkan oleh murid-murid Syaikh Falih Harbi, sementara Syaikh Falih lebih memilih me-murjiahkan-nya karena imannya berkurang karena Murjiah masih menganggap beriman orang yang tidak shalat.  Sementara menurut Syaikh Fauzan, jika ia memang meninggalkan shalat karena uzur syar’i (contoh kondisi orang yang sedang koma, pingsan, dll) maka ia dihukumi beriman, namun jika, tidak maka ia dihukumi kafir. Jadi, Syaikh Fauzan membuka ruang lingkup baru dalam kajian ini, yaitu ada atau tidak adanya uzur yang bersifat syar’i.

Jadi pilih mana, mengkafirkan orang yang tidak shalat secara brutal hanya karena tidak sesuai antara iman dan amalnya? memurjiahkannya? atau mengkafirkannya atau lebih merincinya lagi; tetap menganggapnya beriman dengan melihat adanya uzur syar’i atau tidak yang ada padanya?:mrgreen:

Namun melihat kenyataan yang terjadi, kadang kala kita mendapati hadis yang menyuruh kita taat pada pemimpin yang zalim karena mereka masih menegakkan shalat. Lihat, perhatikan ini baik-baik, di sinilah kita akan mulai mengclearkan semua ini: adakah Iman yang menjadikan kita zalim sementara disebut nama Allah saja bergetarlah hati orang beriman itu karena takut? Adakah shalat menjadikan kita zalim sementara Allah menyatakan bahwa shalat itu mencegah dari yang keji dan mungkar? Dan ketika hadis tadi menyuruh kita untuk menaati pemimpin yang zalim yang masih menegakkan shalat maka pertanyaan kita yang terkait jinsun amal di sini adalah: Apakah pemimpin kita ini beriman atau tidak? Sebab kalau mereka beriman maka tentu itu bisa dibuktikan dari amal jawarih/anggota badannya mereka, namun ketika amal jawarihnya mereka itu isinya kezaliman maka pertanyaan finalnya adalah: Apakah mereka ini berdusta dengan Iman mereka atau berkurang imannya karena kemaksiatan yang mereka kerjakan, kalau memang berkurang karena kemasiatan maka bagaimana mungkin mereka melaksanakan shalat sementara shalat itu mencegah dari kemaksiatan?

Yang merasa berilmu silahkan menanggapi, yang sok-sok-an juga boleh.:mrgreen:

[1] Syaikh Shalih Fauzan

[2] Syaikh Rabi. Si penanya menyandarkan pertanyaannya berdasarkan sanggahan Syaikh Rabi atas pendapat Syaikhnya, yaitu Falih Harbi mengenai kemurjiahan seseorang yang meninggalkan “jinsu amal”. Menurut Syaikh Rabi “jinsu amal” tidak terkait dengan Iman dan Amal. Syaikh Rabi berkata kepada Syaikh Falih:

 كان ينبغي أن تنصحهم بعدم الخوض في جنس العمل لأنه أمر لم يخض فيه السلف فيما أعلم، والأولى التزام ما قرره وآمن به السلف من أن الإيمان قول وعمل قول القلب واللسان وعمل القلب والجوارح .

Hendaknya Anda menasihati mereka itu untuk tidak mendedah dalam-dalam mengenai “jinsun amal” karena ia adalah perkara yang tidak terlalu didedah oleh para salaf, setahu saya. Dan yang lebih utama adalah tetap berkonsisten terhadap apa-apa yang ditegaskan dan diimani oleh para salaf bahwa Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, ucapan hati dan lisan dan amalan hati dan anggota badan.

وأنه يزيد وينقص يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية ثم الإيمان بأحاديث الشفاعة التي تدل على أنه يخرج من النار من قال لا إله إلا الله وفي قلبه مثقال ذرة من إيمان أو أدنى أدنى مثقال ذرة من إيمان .

Dan bahwasanya iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan taat dan berkurang dengan kemaksiatan. Kemudian barulah beriman dengan hadis-hadis mengenai syafaat yang menunjukkan bahwasanya orang yang berkata: la ilaha illallah itu keluar dari neraka karena di dalam hatinya ada setitik iman atau hampir mirip dengan biji atom dari imannya.

وعند كل هذه الأصناف أن العمل ليس من الإيمان وأن الإيمان لا يزيد ولا ينقص.

فإذا كان هناك أحد يقول في تارك جنس العمل إنه ناقص الإيمان أو مرتكب الكبيرة ناقص الإيمان فإنه لا يصح أن يقال عنه أنه قد وافق المرجئة لأن المرجئة لا يقولون لا بزيادة الإيمان ولا بنقصانه، بل مرتكب الكبائر عندهم كامل الإيمان بل إيمان أفسق الناس مثل إيمان جبريل ومحمد r وهذا أمر واضح عند طلاب العلم فلا أدري كيف غفلتم عنه .

Dan semua kelompok ini meyakini bahwa amal tidak termasuk Iman dan iman itu tidak bertambah serta tidak pula berkurang.

Jika ada yang menyatakan bahwa orang yang meninggalkan “jinsu amal” adalah berkurang imannya, atau pelaku dosa besar itu berkurang imannya maka tidak benar bila kita menyatakan bahwa orang ini sejalan/mencocoki murjiah, karena murjiah tidak pernah menyatakan bahwa iman itu bertambah dan berkurang, bahkan para pelaku dosa besar itu memiliki iman yang sempurna bahkan imannya orang yang paling fasik itu seperti Iman kepada Jibril dan Muhammad dan ini adalah perkara yang jelas di sisi penuntut ilmu dan saya tidak tahu bagaimana Anda bisa lalai dari ini. 

 Sumber bisa diklik di sini

[3] Orang ini yang bertanya ini jahil, jika yang ia maksudkan adalah Syaikh Rabi. Tidak ada Syaikh Rabi meyakini hal demikian, bahkan beliau menolak mentah-mentah hal ini dalam ucapannya.

أما هؤلاء فقد مكروا وتحايلوا لترويجها وإلباسها لباس المنهج السلفي فوجدوا فكرة تكفير تارك جنس العمل وتكفير تارك الصلاة أعظم وسيلة لترويج فكرتهم وأعظم مصيدة للشباب السلفي

 sumber bisa dilihat di sini.

[4] Ini bahasanya pribadi, bukan dari Syaikh Rabi.

[5] Jawaban Syaikh Shalih Fauzan ini sangat sangat tidak koheren dengan apa yang dimaukan oleh para fanatik Syaikh Falih yang berusaha mencari-cari kesalahan Syaikh Rabi agar terjadi keklopan bantahan Syaikh Fauzan atas ucapan Syaikh Rabi sehingga bantahan Syaikh Fauzan benar-benar menghantam ucapan Syaikh Rabi. Sayangnya mereka harus kecewa berat, karena Syaikh Fauzan tidak mengarahkan pembicaraannya pada apa-apa yang dibicarakan oleh Syaikh Rabi secara detil, karena Syaikh Fauzan diberi pertanyaan yang umum oleh mereka, seandainya mereka memberi rincian ulasan Syaikh Rabi niscaya Syaikh Fauzan akan mendukung pernyataan Syaikh Rabi. Karena yang ditangkap oleh Syaikh Fauzan dari pertanyaan si penanya adalah mengenai orang yang menolak beramal tapi mengatakan ia beriman! Syaikh Fauzan berkata:

Ia tidak shalat, puasa dan melakukan amal apapun lalu dia berkata: “Saya beriman loh!” maka dia BERDUSTA.

Intinya apa yang disampaikan Syaikh Fauzan adalah selaras dengan apa yang disampaikan oleh Syaikh Rabi.

وعند كل هذه الأصناف أن العمل ليس من الإيمان وأن الإيمان لا يزيد ولا ينقص.

فإذا كان هناك أحد يقول في تارك جنس العمل إنه ناقص الإيمان أو مرتكب الكبيرة ناقص الإيمان فإنه لا يصح أن يقال عنه أنه قد وافق المرجئة لأن المرجئة لا يقولون لا بزيادة الإيمان ولا بنقصانه، بل مرتكب الكبائر عندهم كامل الإيمان بل إيمان أفسق الناس مثل إيمان جبريل ومحمد r وهذا أمر واضح عند طلاب العلم فلا أدري كيف غفلتم عنه .

Dan semua kelompok ini meyakini bahwa amal tidak termasuk Iman dan iman itu tidak bertambah serta tidak pula berkurang.

Jika ada yang menyatakan bahwa orang yang meninggalkan “jinsu amal” adalah berkurang imannya, atau pelaku dosa besar itu berkurang imannya maka tidak benar bila kita menyatakan bahwa orang ini sejalan/mencocoki murjiah, karena murjiah tidak pernah menyatakan bahwa iman itu bertambah dan berkurang, bahkan para pelaku dosa besar itu memiliki iman yang sempurna bahkan imannya orang yang paling fasik itu seperti Iman kepada Jibril dan Muhammad dan ini adalah perkara yang jelas di sisi penuntut ilmu dan saya tidak tahu bagaimana Anda bisa lalai dari ini. 

Sumber bisa diklik di sini

9 thoughts on “Jinsu Amal? Kala Juhala’ Menyelewengkan Ucapan Ulama”

  1. Masya Allah Admin, ilmu Antum dalam mengkaji hal ini daleem sekali, sungguh merugilah orang yang suka membodoh dan mendungukan Antum. Memang benar kata pepatah: “Tidak akan mengetahui orang yang memiliki keutamaan kecuali orang yang memiliki keutamaan pula.”

    Alhamdulillah ana dapat faidah yang luar biasa indahnya dari tulisan antum ini.

  2. Ana mohon antum agar tidak usah lagi meladeni orang2 bodoh dan dungu itu. Mereka itu cuma cari perhatian, ilmu ngga ada, yang ada cuma mbacot doang. Masa orang-orang seperti ini mau Antum layani dan tanggapi. Insyaflah wahai admin, bukanlah Allah sudah melarang kita untuk berpaling dari orang bdoh dan dungu, lagipula dari diskusi saja sudah ketahuan kadar akal mereka ini serta kebodohan dan kedunguannya. Bicaranya selangit tapi ilmunya nonsens. Bisa membantah tapi tidak bisa berhujjah, keahliannya adalah mendungu-dungukan orang lain saja. Mereka ini sadar ngga yah kalo mereka ini dungu? Ini ajah dari ana. Wassalam.

    1. terima kasih atas masukannya. Tapi sebatas pengetahuan ana terutama ketika bicara manhaj nubuwah, bukan macam manhaj ecek2 ala firqah lukmaniyah.
      Berpaling dari orang jahil itu sifatnya temporal (sesuai dengan kondisi yang terjadi) tidak permanen.
      Kalau permanen maka siapa lagikah yang akan membimbing mereka kalau kita meninggalkan mereka karena kebencian kita atas kebodohan mereka? setahu ana, para nabi diangkat derajatnya karena mampu bersabar menghadapi orang-orang semacam ini? Dan ini yang ingin ana coba jejaki.:mrgreen:

  3. stadz bisa dijelaskan kata BERDUSTA quote dari paparan diatas :

    Ia tidak shalat, puasa dan melakukan amal apapun lalu dia berkata: “Saya beriman loh!” maka dia BERDUSTA.

    Pastinya bukan dusta sebagaimana difahami awwam dusta = bohong = berkata tidak sesuai yang sebenarnya

    1. maksudnya, ente katakan ente adalah akhwat padahal kelamin ente adalah laki-laki:mrgreen:

      Orang kalau sudah beriman maka tidak mungkin dua hal yang kontradiski bisa ada padanya, kebaikan dan keburukan, kejujuran dan kedustaan, makanya jangan heran Nabi selalu katakan: Tidak berzina seseorang dalam keadaan beriman, artinya kalau dia beriman tidak mungkin dia akan berzina. Pendusta kalau ia sampai katakan ia beriman sementara ia sering berbuat zina!

  4. dulu Falih Harb di barisan Al-Madkhali, tiba2 Syaikh Robi’ Bara’ dari Al Harb gara2 Syaikh Bakr Abu Zaid membantah keras Syaik Falih.. Kemudian Falih Al-Harbi berbalik menyerang Rabi dan membongkar semua perkataan kotor Syaikh Rabi Al-Madkhali…. capek dech..!!!

  5. Om admin……teko yg gak ada aernya gak usah ladenin…….lempar bata aja gann……@_@

  6. Bismillah. Assalamualaikum akhi admin…
    Kapan tulisan yg berikutnya dipublish?
    Lama ga muncul… Can’t wait
    Alloh yubaarik fiik…

Comments are closed.