images (10)

Syirik Versi Awwam

Di sini saya hanya ingin menshare/memberi faidah atas apa-apa yang kadang menurut kita orang itu salah kaprah memahaminya namun sebenarnya kalau diteliti lebih lanjut tidak juga, dan justru kitalah yang suka salah kaprah.:mrgreen:

Tulisan ini hanya mencoba memberi faidah bahwa tak selamanya awan gelap itu selalu bermakna akan turun hujan, dan awan putih itu bermakna cerah, justru hujan sering kali kita lihat ketika langit berwarna putih semua… bahkan awan hitam sering kali kita anggap penghalang kita keluar rumah hanya karena khawatir akan turun hujan padahal hujan yang ditunggupun tak kunjung turun.

Intinya, kadangkala kita mudah menuduh orang tidak paham padahal kita sendirilah yang tidak paham. Dan itu sering kali menimpa kita sebagai manusia.

Salah satu permasalahan yang ingin saya angkat di sini adalah istilah “syirik”. Bagi yang sering mengkaji dan mendalami kitab-kitab tauhid istilah “syirik” bukanlah istilah yang rumit, namun kadangkala menjadi rumit ketika ada orang yang kita anggap masih awam dalam masalah tauhid bisa mengucapkan kata itu (syirik) dengan entengnya seakan ia paham sebagaimana kita paham, padahal kata tersebut diletakan pada tempat yang kita anggap tidak sesuai.

Contoh: Saat si A sedang di-iri-kan atau di-dengki-kan oleh si B, C, D dst maka seringkali ia berkata: “kenapa, syirik ente?” 

Di sini ia tidak berkata, “iri, dengki, hasad” tapi menggantinya dengan “syirik!”

Bagi sebagaian orang yang sudah menganggap dirinya mengerti tauhid pasti akan berkata, “Orang ini (si A) jahil dan belum mengeri tauhid masa cuma iri doang disebut syirik, ada-ada saja!”

Awalnya saya juga begitu, namun ketika saya mendalami tauhid bertahun-tahun lamanya barulah saya mengerti dan menyadari bahwa ucapan Fulan (si A) itu benar adanya dan tidak salah.

Sering kali kita menganggap bahwa air yang jernih hanya bersumber dari lautan ataupun sungai-sungai padahal di tanah yang gersang yang tidak ada air ketika digali bisa mengeluarkan air… yang biasa kita sebut dengan mata air. 

Meski si tanah sendiri tidak tahu bahwa ia mengandung air, begitupun orang awam mereka sering kali melontarkan perkataan/ucapan yang antah berantah dan menggelitik untuk dicerna bahwa mereka sendiri tidak paham apa yang mereka ucapkan namun kadang kala ternyata di dalamnya terdapat permata.

Inilah yang kadang menjadikan saya bertanya-tanya apa yang menyebabkan Nabi suka diam bila dikasari oleh Arab Badui, ternyata dari perlakuan mereka terdapat pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik baik lewat ucapan maupun perbuatan.

Begitupun saya, sering saya menganggap bahwa ilmu hanya berasal dari orang yang dianggap ulama sementara orang awam hanyalah orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa.  Padahal dari mereka terdapat juga pelajaran yang bisa kita petik. Salah satunya adalah ucapan mereka tentang “syirik”

Saat mereka mendapatkan kebahagiaan kemudian ada yang iri, dengki dan hasad maka kepada mereka akan dengan cepat berkata “syirik!”

Mengapa harus kata “syirik” yang keluar dari lisan mereka?

Inilah jawabannya. Saat mereka, yakni si A tadi merasakan kebahagiaan maka yang ia lihat hanya dirinya sendiri yang satu bahwa tidak ada yang merasakan kebagiaan selain dirinya sendiri, namun ketika yang lain (B, C, D dst) lain mencoba ikut merasakan kebagiaan tersebut maka  tentu saja mereka mencoba menjadi syuraka/patner-nya yang sama-sama ikut merasakan kebagiaan tersebut, namun karena ia hanya ingin ia saja yang merasakan kebahagiaan, yakni hanya ia sendiri yang merasakannya tidak dibagi-bagi kepada yang lain maka ketika yang lain mencoba melebur merasakan kebahagiaan yang sama maka si A tadi akan menolak dan melawan dengan mengatakan “syirik”! bahwa perbuatan anda semua ini adalah syirik! karena ingin merusak ketunggalan saya dalam kebahagiaan yang saya rasakan sendiri.

Begitupun dengan Allah yang Ahad (Esa) ketika ke-esa-annya diganggu maka Dia akan dengan langsung menyebut “syirik!”

Itu saja dari saya. Wallahu a’lam. Wasalam.

2 thoughts on “Syirik Versi Awwam”

Comments are closed.