rainbow_tree_by_annmariebone-d5tdbe5

Siapakah yang “Mutalawwin” Sebenarnya?

“Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari” Pepatah ini rasanya sangat tepat bila diarahkan kepada Dzulqarnain dan Syaikh Rabi; murid dan guru atas tahzirnya kepada Dzulqarnain yang menuduhnya “mutalawwin” (berwarna-warni atau dalam bahasa inteleknya: inkonsistensi).

Betapa tidak, seorang murid bila benar-benar dianggap “mutalawwin” maka dari siapa ia belajar seperti itu kalau bukan dari gurunya?

Begitupula dengan bunglon dari siapakah ia belajar berwarna warni kalau bukan dari gurunya, yaitu benda di sekitarnya.

Lalu kalau gurunya menuduh muridnya “mutalawwin” apakah ia tidak menyadari bahwa dirinya sesungguhnya adalah “mutalawwin”.

Inilah yang akan kita coba bahas bersama dalam tulisan kali ini.

Sebagaimana diketahui di lapangan, bahwa ucapan Syaikh Rabi sudah pasti selalu benar, siapa yang berani membantahnya maka ia akan dihajar/boikot, lihatlah nasib Syaikh Yahya dan Dammaj sekarang.

Sekalaupun keliru maka berlakulah pada beliau (Syaikh Rabi) kemaksuman jarh sehingga semua orang yang bersama pasti akan menutup mata dan mulut atas kekeliruannya dan siapa yang membela diri atas tahzir Syaikh Rabi maka berlaku padanya gelar membangkang, bodoh, ingin berada di kedudukan ulama, dll., padahal niat orang tersebut hanya ingin membela diri saja atas tuduhan dusta.

Inilah hakikat yang terjadi di lapangan dan lain hal kalau ita bicara teori semua “salafi” termasyuk Lukmaniyyun pun insya Allah sepakat bahwa yang maksum hanyalah baginda Rasulullah.

Ketika Syaikh Rabi menyatakan Dzulqarnain “mutalawwin” (jarh mufassarnya bisa Anda jumpai dalam serangan terbuka Lukman Ba’abduh dalam Daurah Slipi) maka tentu saja ini malah membuka pintu borok Syaikh Rabi, sebab apa yang beliau ajarkan itu pulalah yang diterima dan diikuti oleh Dzulqarnain.

Itu seandaianya ucapan Syaikh Rabi yang mentahzir Dzulqarnain sebagai mutalawwin itu benar adanya, lain halnya kalau kita semua menolaknya. Dan berikut ini adalah salah satu kisah sikap mutalawwin Syaikh Rabi atas Dammaj dan Syaikh Yahya.

Pertama: ketika mereka yang antipati terhadap Syaikh Yahya terutama yang berasal dari pendukung Al-Mar’iyyain (yang terlibat konflik dengan Syaikh Yahya) bertanya kepada Syaikh Rabi perihal Syaikh Yahya maka Syaikh Rabi katakan: Haddadiyah! Berita inilah yang langsung diambil oleh para haters lalu disebarkan di dunia untuk dijadikan propaganda untuk menjatuhkan kredibilatas Syaikh Yahya di mata dunia.

Lalu ketika Khalid Ghirbani salah satu admin web Al-Aloom berziarah Syaikh Rabi untuk mengkroscek masalah ini, Syaikh Rabi malah mementalkan tuduhan tersebut, bahkan yang aneh bin ajaibnya Syaikh Rabi menyebut mereka yang menyebarkan berita bahwa Syaikh Rabi menuduh Syaikh Yahya Haddadi adalah PENDUSTA, padahal tuduhan Haddadiyah tersebut memiliki bukti yang sangat kuat, yaitu suara yang ditrasnkrip dari Syaikh Rabi sendiri. Bahkan tak ada satupun yang bisa menolak hal ini baik dari kalangan Lukmaniyyun sekalipun bahwa Syaikh Rabi mengatakan Syaikh Yahya Haddadi. Lihat saja dari web-web mereka yang berisikan tuduhan Hadadiyah kepada Syaikh Yahya dari Syaikh Rabi.

Kedua: Syaikh Rabi sangat antipati terhadap ghuluw murid-murid Syaikh Yahya seperti murid-muridnya yang miskin manhaj (terutama dari kalangan penyair) yang menggelari beliau dengan Imam Tsaqalain, An-Nashihul Amin, namun beliau malah bersikap ghuluw ketika membantah Syaikh Yahya. Katanya anti ghuluw tapi malah berbuat ghuluw. Inilah buktinya :

Syaikh Robi’ berkata: “Dia adalah orang yang paling berbahaya bagi dakwah salafiyyah, tidak ada seorangpun yang lebih berbahaya daripada Yahya.”

Tahu dari mana beliau bahwa tidak ada yang lebih berbahaya dari Syaikh Yahya atas dakwah salafiyah? Bukankah ini bentuk keghuluwan. Bahkan Syaikh Yahya berkata:

La ilaha illalloh, wahai ikhwan sekalian, bukankah di sana ada Yahudi, ada Nashoro, ada Rofidhoh, ada bencana yang lain, semuanya melancarkan peperangannya terhadap dakwah salafiyyah. Saya paling berbahaya dibanding mereka semua??!! Bukankah sudah saya katakan bahwa ini adalah ghuluw, wahai ikhwan, ya, demi Alloh itu adalah ghuluw yang membuat kulit merinding??

Sekarang Syaikh mengingkari ghuluw, dengan dalih bahwa beliau membenci ghuluw dan ingin untuk menyatukan kalimat. Apakah seperti ini wahai syaikh merupakan penyatuan kalimat dan upaya untuk itu? Apakah yang seperti ini wahai Syaikh adalah pengingkaran terhadap ghuluw?

Syaikh Robi’ berkata: “Buah dari perbuatannya dan perbuatan murid-muridnya. Demi Alloh, belum pernah disaksikan keghuluwan semacam ini dari ahlul bida’ sepengetahuan kita, pada murid-muridnya.”

 Jawab Syaikh Yahya: “Wahai ikhwan, bertaqwalah kepada Alloh, bagaimana bisa demikian?? Jadi Rofidhoh menurut perkataan ini tidak mempunyai sikap ghuluw seperti yang ada pada kita, sedangkan mereka mengucapkan: “Waahsenaah lesy matjiinaah (Wahai Husain kenapa Anda tidak datang kepada kami).” Dan menusuk-nusuk badan mereka dengan pisau.

Kelompok Sufiyah yang yang merangkak (ke arah imam mereka) demikian dan merayap sampai ke lututnya kemudian menciumnya, setelah itu kembali dengan berjalan mundur, apakah mereka tidak memiliki ghuluw seperti ghuluw kami?

Saya katakan kepada kalian: perkataan ini keluar dari beliau dalamkeadaan beliau marah dan emosi. Sampai-sampai ada yang mengabarkan kepadaku dari orang yang hadir waktu itu, bahwa beliau berbicara sambil gemetar. Dan suatu perkataan apabila diucapkan dalam keadaan marah terkadang muncul padanya penambahan dan pengurangan. Dan yang beliau ungkapkan ini merupakan sebagian dari tambahan dalam perkataan beliau, dan ini tidak mungkin untuk diingkari oleh seorangpun.

 Sumber bisa dilihat “di sini”

Sebenarnya kalau mau dibuka terus lembaran inkonsistensi ini maka akan ada banyak sekali, cukuplah dua contoh di atas mewakili point yang ingin dicapai, yaitu bahwa Syaikh Rabi memang “mutalawwin”. Semoga bisa diambil faidah.

Wallahu a’lam.

 

40 thoughts on “Siapakah yang “Mutalawwin” Sebenarnya?”

  1. oh jadi antum termasuk pembantah syaikh fulan.. akhirnya terjawab juga pertanyaan ana. :p
    2 pertanyaan lg yg belum di jawab tp sepertinya antum keberatan untuk menjawabnya:mrgreen:

      1. Bismillah. Setuju.. mau menjadi orang muslim yang benar dan baik tidak harus dikenal oleh orang lain.. siapa tahu ada orang yang datang di kajian ahlu sunah. Dianya datang menyimak, mencatat, pulang kerumah di pinggir sawah..( tidak nggubris cela mencela ), kerjanya jual siomay atawa petani, mencoba mengamalkan dienul islam, istiqomah..hanya dua atau tiga anak yang dia ajari belajar Qur’an di gubuknya, bergabung dengan masyarakat ketika sholat jamaah…kerja bakti.. banyak diamnya. Dia tidak dikenal kecuali oleh penduduk di lingkungannya.

  2. Ana lebih setuju dan senang antum tetap unknown ustadz…karena dengan demikian kita lebih bebas, lebih leluasa tanpa malu, sungkan, perkewuh dll dan tidak takut-takut dalam menulis dan berbagi ilmu. Dan yang jelas lebih berimbang (adil) dalam menyampaikan kebenaran, fakta dan bantahan. Yang komentar disinipun gag ada yang mengakui jati dirinya (malah siapa tahu ada ustadz-ustadz luqmaniyyun hahahahaha) jadi mengapa juga antum perlu diketahui

  3. Memangnya kenapa kalo mutalawwin? anggap aja itu human error, tidak ada manusia di dunia yang sempurna bebas dari salah

  4. Afwan ustadz, ana kangen lagi sama antum..
    buat tulisan yg baru donk ustadz dengan tema yg lagi hot “lebih baik mendengarkan musik daripada mendengarkan radioxxxxx”

    1. maksud ana bahas soal itu, ana yakin antum lebih berilmu daripada ustadz fulan yg mengatakan hal itu.

  5. ya ikhwani fillah, cukuplah bagi kalian menghisab diri-diri kalian sendiri.betapa banyak orang yang menyesal karena ucapanya sendiri

    1. Afwan jiddan ana pamit dari sini ya :
      Kehulu sungai gunakan rakit
      Dari bambu diikat kuat
      Bila ucapanku buatmu sakit
      Maaf darimu sangat kuharap

  6. Bismillah. Iya mereka ahlusunnah bersaudara pada sesama muslim. Belajar aja pd siapa pun jika dia salafy tapi gak ikutan gemar tahdzir ghibah. Alhamdulillah, Ilmu, damai, kelembutan, manhaj yg benar, belajar Pada Ustadz Abdullah Taslim, Ustadz Badrusalam, Ustadz Dzulqarnain, Ustadz Yazid Jawas Hafizhohullooh dkk. Alhamdulillah mereka belajar dari ulama-ulama besar ahlusunnah waljama’ah manhaj yg haq.

  7. Afwan nongol lagi Ustad admin info yg dapat katanya Syekh Rabi sdh lebih 8 th mentahzir Assyaikh Yahya Alhajuri hafizhohullooh apa iya ya ?

  8. Bismillah….Kebenaran bukan milik fulan ato ‘allan…kebenaran datang nya dari Alloh ta’ala…knapa blakangan ini syekh robi’ d lebihkan dari masyekh yg lain?…d sana ada syekh al abbad…bliau lebih senior…namun knapa sgala pertikaian hanya d paksa-jawabkan kpd syekh robi’….

    1. Iqbal zawir ana setuju dengan ente sewaktu ane umroh bulan romadhan kemaren ada ustad ana nanya ke orang arab yg tinggal di mekah waktu itu dimana tempat tinggalnya Syekh Robi ? orang itu jawab ndak tau yang mereka kenal di saudi itu Syekh Al abbad wallahua’lam

  9. Ana baca disitus luqmaniyun isinya ” Kami ucapkan syukur terima kasih kepada Fadhilah asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, karena beliau TIDAK MAU MENERIMA seorang yang makhdzul (yang terkalahkan/tidak mendapat pertolongan) al-Mutaqallib (tersungkur) YAHYA AL-HAJURI, yang telah berupaya untuk mengunjungi beliau (asy-Syaikh Rabi’) pada malam Selasa 11 Rabi’uts Tsani 1435 H selepas shalat ‘Isya’.” Jadi ana bertanya2 dlm hati apakah ini termasuk manhaj salaf dan bukankah ini termasuk orang yang sombong /merendahkan manusia?Kalau ustad – ustad yang bisa memberiana jawaban ana ucakan jazakaumullah khairon . Ana orang yang baru mengenal manhaj salaf

  10. aumannya terdengar sampai ratusan bahkan ribuan kilometer tetapi setelah didatangi kandangnya malah lari ngumpet, tidak bertanggung-jawab

  11. Ana copas hadist ”
    Allah -تَبَارَكَ وَتَعَالَى- berfirman, “Kecintaan-Ku akan didapat oleh orang-orang yang saling mencintai dan saling (menemani) duduk karena Aku, saling berkunjung karena Aku, serta saling memberi karena Aku.” (HR Imam Malik: Kitab al-Muwatha’)
    وسبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت نستغفرك ونتوب إليك. Ana minta tolong kepada Ustad2 atau pakar dalam DinnulIslam mhon diuraikan ttg hadist ini biar orang banyak paham ttg hadist tsb barakallahufikum

  12. Berbahaya juga tulisan ini, “Guru kencing berdiri murid kencing berlari”, sebagai slogan pemanasannya. Kemudian di paparkan secara global, analisa dengan permainan sedikit kata, membuat pembaca berpikir, paparan yang bagus dan berfaidah padahal penuh kilah menggiring pembaca.

    Betapa tidak, seorang murid bila benar-benar dianggap “mutalawwin” maka dari siapa ia belajar seperti itu kalau bukan dari gurunya?

    “Washil bin Atha’, pelopor paham mu’tazilah adalah salah satu murid dari murid-murid Hasan Al-Bashri”

    bermain kata,
    menghindar dari perkara,
    walau memang tidak berdusta,
    tapi ini berbahaya.

    Saya ingin bertanya, apakah penulis (peng analisa) hadir dalam peristiwa diatas? Sehingga mengurutkan peristiwa benar sesuai pada tempatnya?

    Atau hanya menganalisa tulisan maya saja, tidak hadir, tidak pula ada yang mengabarkan kepadanya dari orang yang ikut hadir pada peristiwa di atas.

    “BUKANKAH MEREKA SEMUA MASIH PUNYA BANYAK KEBAIKAN?”, (mudah-mudahan tidak inkonsistensi )

    1. @jangan jadi fattan di kasih ke ustadz blok jember ahsan komen antum bagus tu…biar jangan jadi fattan

Comments are closed.