images (12)

Catatan Kecil Atas Perang Dingin Lukman Ba’abduh Vs Dzulqarnain.

Diakui atau tidak, suka atau tidak suka, sosok Dzulqarnain (dengan gelarnya, murid Syaikh Muqbil, Rabi, Fauzan, Ubaid, dll) memang berpengaruh terhadap dakwah salafiyah di Indonesia.

Muda, berilmu, dan memiliki fan base dan jangkauan dakwah yang luas. Dan itu dapat dilihat dari kuantitas daurah-daurah yang ia selenggarakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Bukti ini memang tak terbantahkan.

Ia memang memiliki kelebihan dibandingkan dai-dai yang lain baik dari kalangannya sendiri (sebut saja jamaah tahzir) maupun dari kalangan turatsi halabi radja’i (sebut saja begitu). Ini saya baru bicara kuantitas bukan kualitas! Mohon digarisbawahi.

Dalam tulisan ini saya memang tidak ada niat untuk menjatuhkan kredibilitas rajul ini mengingat jasanya atas dakwah salafiyah yang telah memberi manfaat bagi para salafiyyin maupun orang awam kebanyakan. Dan saya masih harus berpikir beribu-ribu kali untuk membuat kritikan dan bantahan atas “kualitas” dakwah salafiyahnya.

Lain halnya dengan Lukman cs, orang ini dan yang semisalnya memang akan kami bongkar satu persatu dan kejahatan pemikirannya atas dakwah salafiyah di negeri ini secara perlahan-lahan.

Tinggal Anda ikuti saja perkembangan blog ini dari waktu ke waktu. Insya Allah terus terupdate.

Di sini, pada tulisan yang singkat ini, saya hanya ingin membicarakan nasib dakwah salafiyah yang ada di tangan Dzulqarnain kini.

Dulu di usia-usia Laskar Jihad yang hampir senja dan tenggelam oleh deburan tahzir dari masyaikh kibar di Timur Tengah, di Indonesia ini orang yang paling berani mengeluarkan tahzir atas Lukman Ba’abduh dengan predikat penyusup ikhwani adalah Dzulqarnain, dengan membawa panji dakwah salafiyah Syaikh Rabi sehingga siapun yang satu jamaah dengan mereka semua tidak bisa menolaknya, karena saat itu Dzulqarnain memang masih aktif-aktifnya melakukan rihlah ilmiyah di hadapan para masyaikh, sementara Lukman cs sangat jauh dari masyaikh.

Setelah mendapat tahziran dari Syaikh Rabi seperti itu Lukman pun tidak diam diri; daripada ia membiarkan para salafiyyun meninggalkannya sebagaimana mereka meninggalkan Jakfar Umar Thalib lebih baik ia membangun kekuatan baru, yaitu dakwah salafiyah yang berpusat di Jember. Maka ia pun mulai bergerak cepat dengan merangkul para loyalisnya yang terdiri dari para murid setianya yang merupakan alumni laskar Jihad sembari mengumpulkan kekuatan untuk melakukan “serangan balasan” atas Dzulqarnain.

Di ma’had salafi jember inilah Lukman mulai membangun kembali fondasi dakwah salafiyah versinya yang tentu saja sudah sangat berbeda dengan dakwah salafiyah versi Jakfar Umar Thalib. Dalam waktu yang relatif lama Lukman pun berupaya menunjukkan muka salafiyah jadi-jadiannya di mata para masyaikh terutama Syaikh Rabi. “Operasi plastik” yang ia rencanakan pun akhirnya dilakukan.

Yang pertama adalah dengan membantah para haraki jihadis semisal Imam Samudra dengan mendomplang nama besar masyaikh, terutama Syaikh Rabi, lalu berlanjut dengan bantah berbantahannya ia dengan penulis haraki yang berinisial AZA.

Kemudian yang kedua ialah yang menjadi orang pertama yang paling vokal di Indonesia yang antipati terhadap Dammaj yang dipimpin oleh Syaikh Yahya yang kerap berselisih dengan Syaikh Rabi. Maka ia pun mulai berani mentahzir Syaikh Yahya dan berkicau tentang beliau di daurah-daurahnya yang sangat “ecek-ecek tsb.” Lihat tulisan kami “di sini” dan “di sini”

Di waktu yang bersamaan, ia menjalankan misi bawah tanah melalui sebuah blog yang dijalankan oleh “tangan kiri/cebok” yang bernama Purwito untuk menjatuhkan kredibilitas Dzulqarnain dan kawan-kawannya semisal Jakfar Shalih, Hanan Bahanan yang juga kerap berselisih dengan Lukman Ba’abduh dibandingkan yang lainnya melalui sebuah blog gosip yang sangat terkenal “fencuri alhaq”

Momentum ini sangat-sangat dimanfaatkan Lukman Ba’abduh untuk memulihkan citra dirinya sebagai salafi yang telah dirobek dan dirusak oleh Dzulqarnain yang menggunakan kalam Syaikh Rabi untuk mengikhwanul musliminkan dirinya.

Dan setelah semua itu, sembari mencari moment yang tepat akhirnya pada tahun sebelum ini Lukman Ba’abduh mengutus seorang kurir yang bernama Askari bin Jamal kepada Syaikh Rabi untuk membersihkan namanya dan na’am rencananya pun berhasil, Syaikh Rabi akhirnya pun meralat/menarik ucapannya yang mengikhwanul musliminkan Lukman Ba’abduh.

Setelah namanya bersih di mata Syaikh Rabi, maka apa yang ditunggu-tunggupun telah tiba. Ia mulai mendekati Syaikh Rabi, berziarah kepadanya dan menjalin hubungan yang baik dengan Syaikh Rabi. Ketika ia merasa hubungannya dengan syaikh Rabi menjadi dekat maka makar yang ditunggu-tunggupun akhirnya ia mulai mengekspos “kenakalan-kenalakan” Dzulqarnain dalam dakwah salafiyah di tanah air di hadapan Syaikh Rabi baik melalui lisannya pribadi maupun melalui lisan para kurirnya yang kini berada di KSA.

Dan tentu saja semua itu dapat terealisasi dengan bantuan sang superhero gossip a.k.a wartwan paparazzi yang bernama Purwito yang kini mengelola blog fencurialhaq.com.

Maka mulailah roda zaman berputar, yang tadinya di bawah menjadi di atas dan yang di atas mau tidak mau harus tergilas ke bawah. Misi balas dendam tersebut pun akhirnya dilancarkan secara terbuka dalam sebuah daurah, Dzulqarnain pun kini berada dalam ancaman besar.  

Sekarang giliran Lukman Ba’abduhlah yang mengeluarkan tahzir atas Dzulqarnain dengan predikat “main-main, bunglon, dan memiliki kesamaan jalan seperti Al-Halabi” dengan membawa panji dakwah salafiyah Syaikh Rabi dan siapa yang berani/bisa membantah kalau Syaikh Rabi sudah berkata demikian, sebagaimana saat Syaikh Rabi mengeluarkan jarh atas Lukman dahulu sebagai penyusup Ikhwani, siapa yang berani membantahnya, dan siapaun yang berani membantah Syaikh Rabi siap-siap saja nasibnya seperti Syaikh Ali Halabi dan Syaikh Yahya Al-Hajuri, karena saat ini Lukman Ba’abduh dan perwakilannya di KSA memang masih aktif-aktifnya melakukan rihlah ilmiyah di hadapan para masyaikh, sementara Dzulqarnain sudah mulai terjauh dari masyaikh akibat dari propaganda Lukman Ba’abduh.

Apa mau di kata, inilah kenyataan yang terjadi. Siapa yang mentahzir suatu saat ia pun akan ditahzir. Dan lihatlah nasib Dzulqarnain ini. Rencananya mengeluarkan tulisan yang berjudul: “Dosa Firanda terhadap Ilmu dan Ulama” terhadap Firanda Andrija malah keduluan oleh tahzir Lukman Ba’abduh dengan judul yang sama. Naas memang.

Di satu sisi untuk menjadi catatan penting di sini bahwa kami juga memiliki sedikit catatan atas paradoks/isykal Dzulqarnain atas tahzirannya kepada ikhwan yang berseberangan dengannnya yaitu ia melarang bermuamalah baik secara langsung (menerima dana) maupun tidak dengan Ihyaut Turats namun gurunya yang ia elu-elukan Syaikh Shalih Fauzan malah membolehkan. Di sinilah paradoksnya, ia berani berteriak hizbi kepada yang lain namun tidak kepada gurunya.

Selain itu, paradoks yang kedua ialah, ia melarang dakwah melalui televisi dan menuduh yang tidak-tidak kepada ikhwan yang berdakwah melalui televisi sementara Syaikh Shalih Fauzan di negerinya sana malah berdakwah melalui televisi.

Dan berbagai macam paradoks yang lainnya, yang belum bisa kami sebutkan mengingat jasanya atas dakwah salafiyah.

Sebagai penutup: izinkan kami berpesan kepada pembaca sekalian bahwa siapa yang mentahzir maka suatu saat nanti ia pun akan ditahzir. Ini bukanlah ajakan kepada hukum karma, tapi sebuah hukum yang saya sebut sebagai “sistim rotasi”, bahwa siapapun yang mengitari lapangan yang sama meski ia tahu di sana ada “kerikil yang tajam” dan ia ingin menjauhinya maka suatu saat, di saat ia capek, lupa, dll ia pun akan berjalan juga di atas kerikil tersebut. Lain halnya kalau ia keluar dari lapangan tersebut, tentu ia takan menemui “kerikil tersebut”.   

Lihatlah nasib Jakfar Umar Thalib, bandingkan saat ia dahulu kala menjadi pimpinan ahlu tahzir wal jama’ah di tanah air dan sekarang saat ia terlepas dari pelukan dakwah salafiyah.

Cukuplah ia menjadi pelajaran bagi segenap salafiyyun, semoga saja Dzulqarnain tidak menjadi seperti dirinya.

 

 

103 thoughts on “Catatan Kecil Atas Perang Dingin Lukman Ba’abduh Vs Dzulqarnain.”

  1. burung itu berkumpul sesuai jenisnya…
    Orng yg suka mencaci akan berkumpul dng pencaci
    orng yg suka menuduh akan berkumpul dng penuduh.
    N orng yg mencari nasehat/alhaq akan berkumpul dng pencari alhaq.
    Insyallah

  2. Baru-baru ini diinformasikan oleh Syaikh Abdul Hadi kalau Syaikh Robi’ mengatakan ust Dzulqarnain dan kawan-kawannya adalah orang-orang yang terlibat WIHDATUL ADYAAN (penyatuan agama-agama). Syaikh Robi’ mendapat masukan seperti ini dari luqmaniyyun sehingga muncullah tahdzir tersebut. Coba lihat sini lebih lengkapnya : http://pelita-sunnah.blogspot.com/2015/01/ulama-pun-dikibuli-oleh-luqmaniyun.html . Munculnya tuduhan “widyatul adyan” ini persis seperti tuduhan kepada Ja’far Umar Thalib dulu dimana dia dituduh memiliki kemampuan sihir bayan ( https://downloaddakwahsalafy.wordpress.com/2012/03/11/klarifikasi-01-pertemuan-dengan-ustadz-jafar-di-semarang/ ) , banyak yang mengatakan bahwa jangan-jangan ini juga merupakan balasan makar dari Allah dimana dulu mereka membuat makar dan tuduhan palsu terhadap Ja’far Umar Thalib … allahulmusta’an.

Comments are closed.