images (14)

Wow… Syaikh Ali Hasan Al-Halabi Katanya Sengaja Diundang Ke Sini (Indonesia) Untuk Berdebat dengan Abu Bakar Ba’asyir

Deradikalisasi Terorisme, Dialog & Perang Pemikiran

Penanggulangan teror dirasa tidak cukup dilakukan dengan penangkapan.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memiliki strategi baru dalam menangkal terorisme. Mereka mencoba jalan dialog untuk deradikalisasi kelompok yang selama ini diduga terkait atau terlibat sejumlah aksi teror di tanah air.

Penanggulangan teror dirasa tidak cukup dilakukan dengan penangkapan dan penjara. Sebab, akar permasalahannya ada di pemikiran. Banyak pemikiran radikal berkembang diikuti sejumlah aksi radikal.
“Kita harus luruskan pemikiran radikal yang menjadi akar teror. Ini tidak bisa dilakukan dengan senjata. Ini hanya bisa dilakukan dengan dialog para ulama. Makanya, kita mendatangkan ulama dari Mesir dan Jordania,” kata Kepala Badan BNPT, Ansyaad Mbai, saat diskusi ‘Menangani radikal terorisme di Indonesia’, di Hotel Sahid, Jakarta, Sabtu malam, 7 Desember 2013.
BNPT mendatangkan tiga ulama dari Mesir dan Jordania. Di negaranya, mereka terkenal sebagai ulama mantan tokoh penting Jamaah Islamiyah (JI). Jamaah Islamiyah merupakan organisasi yang sering dikaitkan dengan aksi teroris di berbagai negara, termasuk di Indonesia.
Mereka yang didatangkan adalah Syekh Hisyam al-Najjar dan Syekh Najib Ibrahim. Keduanya mantan tokoh penting Jamaah Islamiah dari Mesir. Kemudian, Syekh Ali Hasan al-Khalaby, tokoh dari Jordania.
“Ketiganya sengaja didatangkan, karena fatwa mereka yang sering dijadikan jargon para teroris di Indonesia,” kata Ansyaad.
 
Dialog dengan ABB
BNPT meminta bantuan ketiga tokoh ini untuk datang dan berdialog dengan para tokoh JI di Indonesia. Minggu 8 Desember, ketiganya diberangkatkan ke LP Nusakambangan untuk menemui para terpidana terorisme yang tengah menjalani masa hukuman di sana. Di antaranya, Abu Bakar Ba’asyir (ABB).
Ansyaad menjelaskan, dialog itu akan berlangsung selama dua hari. Selanjutnya, mereka akan berdialog dengan terpidana kasus yang sama di Lapas Cipingan, Jakarta, selama satu hari. Setelah itu, BNPT akan memfasilitasi ketiga mantan JI Mesir dan Jordania itu untuk berdiskusi di sejumlah kampus di Indonesia.
“Kita berharap, para ulama ini bisa meluruskan dan memberi penjelasan pikiran radikal. Pikiran radikal ini yang menjadi pemicu terjadinya berbagai tindakan teroris seperti peledakan bom. Sedangkan tindakan hukum petugas, tidak meredakan semangat jihad yang salah di pikiran para teroris,” kata Ansyaad.
Data Kementerian Hukum dan HAM menunjukkan, napi teroris yang menjalani hukuman di Lapas Nusakambangan berjumlah 41 orang. Salah satunya Abu Bakar Ba’asyir yang menghuni LP Pasir Putih.
BNPT melakukan pendekatan untuk mengundang para tokoh ini sejak satu tahun lalu. Di antara yang pernah didatangkan untuk berdialog dengan para narapidana itu adalah Wakil Menteri Agama Nasarudin Umar.
“Saya pernah mencoba berdialog dan berdiskusi dengan mereka. Saya tidak didengar. Mungkin dianggap kafir, karena mewakili pemerintah atau dianggap terlalu muda dan kurang pemahaman,” kata Nasarudin, Sabtu 7 Desember.
Ia sangat berharap para ulama yang sering dijadikan referensi berbagai kelompok teroris di Indonesia dapat meluruskan. Pendekatan deradikalisasi ini, terutama menyasar pada pola pikir.
 
Perang Pemikiran
Syekh Hisyam al-Najjar menjelaskan, ada kesalahan dalam menangni para teroris. Yakni, selama ini pemerintah Indonesia terpaku pada penanganan dalam konteks perlawanan terbuka dengan mengejar dan menangkap terus menerus para teroris.
“Penangkapan para teroris tidak akan menghentikan penyerangan dan pengeboman. Penanganan para teroris adalah menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran mereka. Selama pikiran radikal belum berubah, upaya teror akan terus terjadi,” kata dia.
Hal senada disampaikan Ali Hasan al-Halaby. Dia lantas mempertanyakan peran para ulama Indonesia. “Kemana para ulama? Di mana para ulama? Memberi masukan untuk meluruskan pemikiran radikal adalah tugas ulama. Pikiran radikal tidak bisa dilawan hanya dengan penangkapan dan senjata. Ini perlu peran ulama yang memberikan pencerahan terus menerus,” katanya.
Menurut Ansyaad Mbai, terhitung sejak 2000, sudah 900 orang ditangkap terkait dugaan aksi teror. 600 di antaranya divonis bersalah dan dihukum penjara beberapa tahun, hingga yang terberat eksekusi mati. “Kenyataannya itu tidak efektif, teror terus terjadi hingga kini.”
Sementara itu, data kepolisian, sejak tahun 2000 hingga 30 April 2013, dipaparkan bahwa terjadi penangkapan sebanyak 845 orang. Dari jumlah itu, 83 orang di antaranya meninggal dunia, pelaku bom bunuh diri 11 orang, dan dieksekusi mati ada lima orang.
Kemudian, ada enam orang yang divonis seumur hidup dan 65 orang dikembalikan ke keluarganya. Sedangkan yang masih dalam proses penyidikan ada 10 orang, persidangan 47 orang, dan vonis pengadilan 618 orang.
Jaringan teror di Indonesia saat ini, menurut kepolisian, diduga terkait aktivitas Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. JAT dibentuk ABB pada 2008, setelah JI dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia usai vonis Abu Dujana pada Agustus 2008.
Proses radikalisasi dibangun oleh kelompok radikal, sebelum melaksanakan serangan terorisme.
Pemahaman-pemahaman radikal yang sering disalahgunakan antara lain: konsep dan maknajihadthogut, fa’iightiyalati’dad, dan masjid dhiror. Media radikalisasi biasanya menggunakan internet, media cetak, elektronik, dan media lingkungan sosial.
Rekrutmen berjalan seiring dengan proses radikalisasi, di mana para anggota yang direkrut biasanya dibaiat seorang amir (pemimpin) dalam kelompok tersebut. Keluarga pada umumnya tidak mengetahui aktivitas tersebut, karena dilakukan secara tersembunyi.
Sementara itu, program deradikalisasi yang dilakukan BNPT merupakan evolusi tahap lanjut dari upaya penangkalan aksi teror di Indonesia.
Kepolisian membagi evolusi strategi penganggulangan teror di Indonesia sejak 1945-2013 sebagai berikut :
– Periode 1945-1966 (Orde Lama), menggunakan pendekatan militer. Ketika itu, operasi militer digunakan untuk menangkal Darul Islam (Tentara Islam Indonesia), PRRI, Permesta, dan RMS.
– Periode 1966-1998 (Orde Baru), strategi yang menonjol adalah intelijen dengan dibentuknya badan ekstra yudisial, yaitu Bakortanas dan Kopkamtib.
– Di era reformasi (1998-2013), strategi penegakan hukum yang dipakai. (asp)

BNPT Datangkan Tokoh JI Mesir dan Jordania

Mereka dipertemukan dengan Abu Bakar Baasyir di Nusakambangan

Lawan deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), mendatangkan tiga ulama mantan petinggi Jamaah Islamiah Mesir dan Jordania. Pernyataan para tokoh ini seringkali dijadikan dasar bagi kelompok teror untuk melakukan berbagai aksi perlawanan hingga pengeboman.

“Makanya kami minta bantuan ketiga tokoh ini untuk datang dan berdialog dengan para tokoh JI di Indonesia,” ujarnya Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Ansyaad Mbay saat diskusi menangani radikal terorisme di Indonesia, Sabtu 7 Desember 2013
Para tokoh yang pandangannya sering kali dijadikan jargon pemikiran radikal untuk melakukan aksi teror adalah Syekh Hisyam al-Najjar dan Syekh Najib Ibrahim keduanya mantan petinggi Jamaah Islamiah dari Mesir. sedangkan Syekh Ali Hasan al-Khalaby adalah tokoh otoritas fatwa dari Jordania.
“BNPT telah melakukan pendekatan untuk mengundang para tokoh ini sejak satu tahun lalu. Bahkan kami mengutus langsung Wakil Menteri Agama untuk melakukan komunikasi langsung,” jelasnya.
Ansyad menjelaskan ketiga ulama ini mulai besok akan berangkat ke Nusakambangan untuk berdialog dengan para tokoh teroris. Dialog itu akan berlangsung selama dua hari. Selanjutnya ketiga tokoh ini akan menemui para tokoh teroris di Lapas Cipinang, Jakarta selama satu hari. Kemudian ditutup rangkaian diskusi di beberapa kampus diantaranya Universitas Indonesia.
“Kami berharap para ulama ini bisa meluruskan dan memberi penjelasan pikiran radikal. Pikiran radikal ini yang menjadi pemicu terjadinya berbagai tindakan teroris seperti peledakan bom. Tindakan hukum petugas tidak meredakan semangat jihad yang salah di pikiran para teroris,” ujarnya.
Dari data Kementrian hukum dan HAM napi teroris yang menjalani hukuman di Lapas Nusakambangan berjumlah 41 orang. Salah satunya Abu Bakar Baasyir, yang menghuni LP Pasir Putih. Baasyir tokoh pesantren Ngruki ini kerap dituduh sebagai tokoh di balik kelompok Jamaah Islamiyah Indonesia.

Tanggapan saya:

“Adalah sebuah ‘kesesatan berpikir’ kala seseorang meyakini bahwa debat dapat mengeksekusi pemahaman seseorang yang dianggap batil sehingga tumbuhlah darinya “kepala baru” yang siap menerima dakwah yang haq.

Mendebat orang yang sudah memiliki keyakinan yang mengakar justru malah membuat akarnya semakin menghujam ke dalam sebagaimana yang ada pada si pendebat yang merasa benar dengan pemahamannya, ya… ujung-ujungnya benturan verbal semacam ini hanya akan selalu menjadi anti klimaks nantinya.

Bukannya tersadar justru malah bertambah yakin dengan keyakinannya. Coba simak kembali penuturan Nasarudin Umar (wakil menteri agama) di atas, sebab dalam pemikiran mereka, hanya “orang bodoh” yang berani mendebat keyakinan mereka yang sudah mereka yakini sebagai kebenaran satu-satunya, siapapun orangnya dan dari latar belakang apapun ia. Dan adakah ucapan orang bodoh akan didengarkan oleh telinga yang merasa alim?

Intinya, saya tidak merasa yakin kedatangan Masyaikh tersebut akan membuat para “mujahid alay” akan tersadar dari paham ekstrimnya sebab ini hanyalah dakwah satu pihak yang monoton. Bahkan boleh jadi akan semakin “memperparah” paham dan keyakinan mereka.

Tidak ada yang berubah dan dirubah, isinya tetap sama hanya kulit luarnya saja yang berbeda, “kekerasan fisik” diganti dengan “kekerasan verbal”. Siapakah yang akan tersadar dengan yang demikian itu?

Adakah Syaikh A`id Al-Qorni dkk tersadar dari paham ekstrimnya sementara ia hidup di tengah-tengah negeri KSA yang dihuni oleh banyak ulama besar?

Adakah Nabi berhasil menyadarkan Dzul Khuwaisirah dari paham ekstrimnya, padahal beliau adalah utusan Allah?

Sungguh menyadarkan manusia bukan demikian caranya…”

Wallahu a’lam

Dan apa yang kami khawatirkan ternyata terjadi juga…

———————————-

BNPT, Ali Hasan dan Najih Ibrahim, Penggembos Jihad atau Penggembos Tauhid?

BNPT akhirnya memenuhi janjinya yang dilantangkan oleh kedua agennya, Nasir Abbas dan Abdurrahman Ayyub. Mereka berhasil mengundang syaikh-syaikh bonafit dari timur tengah yang namanya sangat terkenal. Ali Hasan Al-Halabi, seorang grand syaikh pengajar pemahaman Salafi (Maz’um-red). Serta dua orang syaikh lain yang justru dikenal sebagian publik di Indonesia identik dengan gerakan Jihad. Di antara Hisyam Najjar dan Najih Ibrahim, jelas nama terakhir tak kecil sumbangsihnya terhadap ta’lim-ta’lim pengakderan aktivis.

Yang menjadi titik pertanyaan adalah, dalam sudut pandang apa mereka datang ke Indonesia? Untuk mematikan gerakan jihad atau yang mereka sebut dengan terorisme? Atau justru lebih prinsip dari hal itu? Sebab Nasir Abbas dan kembaran Abdurrahim Ayyub ini justru berdiskusi bukan dalam menggembosi masalah amaliyat jihad dengan Ustadz Abu Bakar Baasyir. Jelas sekali, motivasi duo agen BNPT ini adalah meredam ajaran kufur dengan thoghut yang disebarkan pimpinan Pondok Ngruki ini.

“Mereka datang untuk mendebat ustadz Abu Bakar Ba’asyir terkait negara ini darul Islam atau darul kufr.” Sebut Abu Harits, pembesuk rutin Ustadz Abu saat menerangkan kedatangan duo agen BNPT ini. “Nah di buku daftar pembesuk saya lihat sendiri ketiganya ngaku dari BNPT, urutannya yang paling atas tertulis Abdurrahman, Abdul Hakim dan M Nasir,” sebut Abu Harits. Ustadz Abu Bakar Baasyir bahkan berfatwa tentang kemurtadan Nasir Abbas karena sepak terjangnya di BNPT.  ”Oleh ustadz Abu, darah Nassir Abbas sudah dihalalkan,” sebut Ustadz Abdurrohim Baasyir, seperti dilansir muslimdaily.net.

Pernyataan yang lebih sharih tentang ta’yin terhadap agen BNPT ini adalah sebagai berikut:”Antum itu sudah kafir sebaiknya antum segera bertaubat, berhentilah membantu toghut dalam memerangi mujahidin. Taubat antum yang paling baik adalah pergi saja ke Afganistan atau ke Yaman sana untuk berjihad dan jangan pulang kembali, itu yang terbaik untuk antum.” tegas Ustadz Abu langsung di hadapan Nasir Abbas.

Tak Cuma Jihad, Ini Upaya Menggembosi Tauhid

Upaya yang dilakukan Ansyad Mbai and The Gank ini sangat nampak unsur penggembosan terhadap aqidah tauhid umat Islam. Ansyad Mbai dengan bantuan dai-dai Internasional ini menuntaskan janji untuk mendebat pendakwah akan status kekafiran thoghut dan penolong-penolongnya yang aktif bercokol di Indonesia. Berbeda dengan Densus 88 yang beraksi kejam namun mencukupkan diri untuk menghentikan laju amaliyat jihad, apa yang dilakukan BNPT justru jauh lebih dari itu. Walaupun aksi mereka halus dan non-kekerasan.

Strategi yang dilakukan oleh BNPT makin menjadi saja. Jika kemarin BNPT telah berupaya keras dengan ulama-ulama lokal dan bermanhaj non-jihadi, maka hari ini kelakuan mereka makin licin. Tak cuma mengundang Ali Hasan Al-Halabi yang memang tak punya latar belakang gerakan jihad, mereka bahkan tak segan mengeluarkan upaya untuk mendatangkan Najih Ibrahim, petinggi Jamaah Islamiyah Mesir yang kini telah menjadi Parpol.

Gerakan Jihad di Indonesia nampaknya telah menuai salah satu hasilnya. Kini nampak nyata, bahwa keinginan musuh-musuh Islam itu tak cuma menghentikan tindakan Jihad yang mereka anggap destruktif dan merusak kegiatan perekonomian. Kini tampak nyata bahwa mereka tak segan menggunakan jalan-jalan licik untuk memadamkan tauhid yang sebenarnya merupakan akar dari amaliyat jihad itu sendiri. Upaya paling radikal dari gerakan deradikalisasi ini nampaknya telah mencapai salah satu puncak kesesatannya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dzarwatus-sanam (puncak tertinggi) Islam adalah jihad, tidak akan dapat mencapainya kecuali orang yang paling utama di antara mereka.” (HR. Ath-Thabrani)

Maka nampaklah strategi busuk mereka. Bukan menggunakan cara-cara yang cenderung moderat, BNPT tak segan melunturkan pondasi tauhid, yakni mengkafirkan thoghut. Inilah bukti kekafiran yang tak terbantahkan lagi.

klik sumber

BNPT Datangkan Penggembos Jihad dari Timur Tengah untuk Misi Deradikalisasi dan Debat Ustadz Ba’asyir

Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) tak henti-hentinya melakukan upaya deradikalisasi yang menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta beberapa waktu lalu sebagai upaya deislamisasi sehingga membahayakan aqidah umat Islam.

Kali ini, BNPT telah mendatangkan dua ulama mantan petinggi Jamaah Islamiah (JI) dari Mesir dan seorang lagi dari Jordania dalam rangka misi deradikalisasi.

“Makanya kami minta bantuan ketiga tokoh ini untuk datang dan berdialog dengan para tokoh JI di Indonesia,” ujarnya Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Ansyaad Mbay saat diskusi menangani radikal terorisme di Indonesia, seperti dikutipviva.co.id, Sabtu 7 Desember 2013.

Kedua tokoh tersebut adalah Syaikh Hisyam al-Najjar dan Syekh Najih Ibrahim, keduanya mantan petinggi Jamaah Islamiah dari Mesir. Sedangkan Syaikh Ali Hasan al-Halabi adalah tokoh otoritas fatwa dari Jordania.

“BNPT telah melakukan pendekatan untuk mengundang para tokoh ini sejak satu tahun lalu. Bahkan kami mengutus langsung Wakil Menteri Agama untuk melakukan komunikasi langsung,” jelasnya.

Ketiga orang tersebut mulai besok akan berangkat ke Nusakambangan untuk berdialog dengan para mujahid dan ulama yang kini ditahan. Diduga ketiga orang tersebut juga didatangkan untuk berdebat dengan ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Dialog itu akan berlangsung selama dua hari.

Selanjutnya ketiga tokoh ini akan menemui para mujahidin di Lapas Cipinang, Jakarta selama satu hari. Kemudian ditutup rangkaian diskusi di beberapa kampus diantaranya Universitas Indonesia.

“Kami berharap para ulama ini bisa meluruskan dan memberi penjelasan pikiran radikal. Pikiran radikal ini yang menjadi pemicu terjadinya berbagai tindakan teroris seperti peledakan bom. Tindakan hukum petugas tidak meredakan semangat jihad yang salah di pikiran para teroris,” tuding Ansyaad.

Untuk diketahui, BNPT sebelumnya telah mengutus 3 orang “kacung” terbaiknya, Abdurrahman Ayyub, Abdul Hakim dan Nasir Abbas untuk menantang debat ustadz Abu Bakar Ba’asyir dengan mendatangkan murid Syaikh Nashiruddin Al Albani dan meminta izin menulis buku bantahan Tadzkiroh.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir mengajukan berbagai persyaratan terkait debat tersebut. Diantaranya ia meminta ustadz Aman Abdurrahman juga diikutsertakan dalam debat, lalu harus ditempat terbuka dan diliput media. Namun sekian lama ketiganya tak memberikan respon. Abdurrahman Ayyub bahkan menghindar ketika ditanya wartawan.

Ketika ketiganya berkunjung lagi ternyata mereka tak menyinggung permintaan Ustadz Ba’asyir. Maka ustadz Ba’asyir pun menantang ketiganya untuk bermubahalah, namun lagi-lagi sama seperti sebelumnya mereka tak memberikan tanggapan apapun. Apakah ketiga orang yang didatangkan dari Timur Tengah itu akan melakukan debat terbuka sesuai syarat yang diajukan ustadz Ba’asyir? Kita lihat saja!

klik sumber

Kuliahnya Tak Laku, Ali Hasan Al-Halabi Misuh-misuh di Nusa Kambangan

Seperti dilaporkan Millah-Ibrahim News, pada Senin (9/12/2013) gembong deradikalisasi internasional, Ali Hasan Al-Halabi akhirnya mendatangi LP Nusa Kambangan untuk menggugurkan akidah tauhid yang disuarakan Ustadz Aman Abdurrahman dan napi mujahid lainnya. Namun bukannya gentle untuk berdiskusi, acara Ali Hasan malah berbentuk ceramah kuliah satu arah yang membosankan.

Hal ini akhirnya membuat para tahanan muwahid kecewa dan langsung meninggalkan ruang kuliah karena jalan diskusi yang jelas timpang dan tak seimbang. Marah karena para tahanan mujahid tak menggubrisnya, akhirnya Ali Hasan mengeluarkan jurus andalannya. Ia mengumpat atau dalam bahasa jawanya “misuh-misuh”. “Dasar orang-orang bodoh!” begitu umpatannya.

Sebelumnya Ustadz Abu Sulaiman telah mencoba melayani monolog beku Ali Hasan ini. Pria asal Sumedang ini langsung menginterupsi Halabi di awal monolognya. “Bahwa kami telah tahu tujuan anda datang kesini, dan bahwa Lajnah Daimah pun yang anda berintisab kepadanya telah mentahdzir kesesatan anda apalagi masyayikh kami ahlut tauhid wal jihad telah banyak membongkar kesesatan anda.” timpal Ustadz Aman.

Namun ia berkilah dengan alasan yang tidak substansial. “Bahwa lajnah daimah hanya menulis tahdziran 1 1/2 halaman saja, sementara saya telah membantahnya lagi dengan tulisan lebih dari 1000 halaman. Sudahkah anda membacanya?“ kilah Al-Halabi. Ali Hasan bahkan mengaku lebih pintar dari Lajnah Daimah dengan menyatakan bahwa ia lebih benar. “Saya tidak rujuk karena Saya benar” tukasnya.

klik sumber

Ali Hasan Al-Halabi, Antek Thoghut Sebarkan Paham Sesat Di NK

NUSAKAMBANGAN-Alhamdulillah, semakin terkuak siapa sebenarnya Ali Hasan Al-Halabi, ulama salafi maz’um yang diundang oleh BNPT untuk memuluskan proyek setan deradikalisasi. Di Nusakambangan, khususnya di Lapas Kembang Kuning, tukang sihir dan antek thoghut ini ternyata hanya bermonolog untuk menyebarkan paham sesat sekte Jahmiyah Madkholiyah. Astaghfirullah!

Dalam muqoddimahnya, Ali Hasan al Halabi menyampaikan bahwa banyak yang mengkafirkan orang lain secara umum dan juga mengkafirkan pemerintah. Padahal boleh jadi orang tersebut tahu Al-Qur’an dan Al- Hadits tetapi dia tidak memahaminya, lanjutnya kemudian. Yang pada intinya dia menggiring pemahaman orang pada hal yang akan dia sampaikan tentang tidak bolehnya mengkafirkan pemerintah yang berhukum dengan hukum buatan.

Pada pertemuan tersebut yang sejatinya diperuntukan dialog sebagaimana yang disampaikan oleh Hasan al Halabi sendiri, tapi pada kenyataannya adalah monolog dari dia untuk menyebarkan faham jahmiyahnya. Dalam acara tersebut, dihadiri oleh Ka. Lapas Kembang Kuning yaitu Gumelar, Ka. Seksi binadik, Sugiyanto, dan sejumlah tawanan kasus terorisme (baca : Jihad), diantaranya adalah Syaikh Abu Sulaiman Aman Abdurrahman, Rois Abu Syaukat, Arif Budiman, Ali Umar, Zaenal Muttaqin, Subur Sugiarto, Ahmad Hasan, Arifin, Priatmo dan Toni Togar.

​Ketika Hasan al Halabi memaparkan muqoddimahnya yang menjurus kepada peniadaan takfir terhadap penguasa yang berhukum dengan hukum buatan, Syaikh Abu Sulaiman seketika itu langsung menginterupsi, “Bahwa kami telah tahu tujuan anda datang ke sini, dan bahwa Lajnah Daimah pun yang anda berintisab kepadanya telah mentahdzir kesesatan anda apalagi masyayikh kami ahlut tauhid wal jihad telah banyak membongkar kesesatan anda.”

​Lalu al Halabi menjawab, “Bahwa lajnah daimah hanya menulis tahdziran 1 1/2 halaman saja, sementara saya telah membantahnya lagi dengan tulisan lebih dari 1000 halaman. Sudahkah anda membacanya?

Syaikh Abu Sulaiman menjawab, “Artinya anda belum rujuk dari pemahaman anda yang sesat tersebut?“.

Al Halabi mengiyakannya, “Saya tidak rujuk karena Saya benar”.

Dalam perdebatan tersebut, tiba-tiba Toni Togar menimpali, “Teruskan saja syaikh, jangan dihiraukan”.

​Sejatinya pertemuan tersebut yang dijanjikan oleh Abdurrahman Ayub adalah dialog antara ​​Al Halabi dengan Syaikh Abu Sulaiman, Ust. Abu Bakar Ba’asyir dan Rois Abu Syaukat, berubah menjadi kuliah yang diisi oleh al Halabi. Karena tidak mungkin ada titik temu pemikiran dan pemahaman, akhirnya Syaikh Abu Sulaiman, Rois Abu Syaukat, Arif Budiman dan Ali Umar, meninggalkan ruang pertemuan.

Ketika ke empat orang tersebut berdiri untuk keluar ruangan, al Halabi berteriak, “Dasar orang-orang bodoh!” ​​​Hal ini menunjukkan bahwa al Halabi bukanlah seorang ‘alim, karena dia tidak menjaga ucapan yang merupakan ciri orang yang berilmu.

Itulah Al Halabiy yang dikenal dikalangan aktivis Tauhid dan Jihad sebagai Syaikhul Mukhbirin yaitu guru para pelapor (intel) karena fatwanya yang masyhur yang mewajibkan melaporkan kegiatan para muwahhidin yang dia sebut sebagai takfiriyyin kepada thaghut.

Salah-lah BNPT saat menyanding orang yang sudah cacat di kalangan salafi maz’um sendiri apalagi di kalangan aktivis Tauhid dan Jihad, dia-lah bagian dari ‘umala (antek-antek thaghut) bukan ‘ulama.

klik sumber

Tanggapan saya: Lihatlah reaksi mereka, apakah mereka akan sadar? sama sekali tidak!, justru kedatangan Syaikh Ali malah menguatkan dan memperparah keyakinan mereka. Allahul Musta’an.

47 thoughts on “Wow… Syaikh Ali Hasan Al-Halabi Katanya Sengaja Diundang Ke Sini (Indonesia) Untuk Berdebat dengan Abu Bakar Ba’asyir”

  1. Dear Ustadz,
    Terlalu dini antum menyimpulkan bahwa program BNPT ini tidak akan berhasil.
    Programnya sendiri masih berjalan sampai dengan sabtu 14 sesember 2013,
    apakah secepat itu terlihat hasil gagalnya hanya karena beredarnya opini-opini penolakan
    dari para pembela terorisme?

    Alhamdulillah kemauan BNPT menggunakan methode dialog ana anggap sebagai respon mereka
    atas nasihat Ustadz Anas Burhanudin, MA yang menuliskan pendapatnya dimajalah Asunnnah tahun 2011
    bagaimana sebaiknya pemerintah RI perlu belajar dari keberhasilan Arab Saudi menangani Pelaku terror
    dan mentransfernya ke bumi pertiwi, agar fitnah terorisme yang telah merusak citra Islam segera hilang atau paling tidak bisa ditekan secara berarti. Kata Ustadz Anas: “Pemikiran harus dilawan dengan pemikiran, bukan dengan peluru”.
    http://almanhaj.or.id/content/3160/slash/0/berdialog-dengan-teroris-belajar-dari-pengalaman-arab-saudi-dalam-menumpas-terorisme/.

    Kok dari artikel ini, seolah-olah ustadz menafikan adanya tantangan dakwah.
    Coba ustadz bantu saya datangkan satu kisah dimana dakwah tidak ditentang diawal-awal pelaksanaannya?
    Jika semua orang sudah pesimis dengan berhasil tidaknya sebuah dakwah, maka buat apa para sahabat rasululloh, para masyayikh dan asatidz mendakwahkan manhaj salafiyah karena Rasululloh saja sudah memvonis manhaj ini hanya menjadi GUROBA di akhir jaman?

    1. Kalau begitu jangan lupa nanti kabarkan ke ana, bahwa setelah
      program tsb selesai Aman Abdurrahman, Abu Bakar Baasyir, dll akan bertaubat setelah didakwahi! hehe,

      kalo ngga berarti antum perlu merevisi kembali keyakinan antum ini, he he

      Ana lebih berharap Syaikh Ali dkk murni berdialog dengan mereka… tapi fakta dilapangan tidak ada dialog dalam artian tukar menukar hujjah sehingga diketahui siapa yang keliru siapapula yang tegak padanya al-haq, yang ada hanyalah monolog, Syaikh Ali bicara sendiri seperti orang khutbah jumat. Harusnya dibuat debat terbuka, dalam artian positif (diskusi) ya seperti seminar atau muhadharah, bukan debat dalam artian caci maki sebagaimana yang sering ditampilkan dai semacam ust Dzulqarnain, karena ngga ada relevansinya antara hujjah dan caci maki. Itu harapan ana, tapi ngga kesampaian rupannya.

      Ana sendiri sebenarnya sudah sampaikan di atas mengenai Syaikh A’id Al-Qarni, berulang kali ia didakwahi dalam penjara di zaman Syaikh bin Baz, apa setelah keluar penjara ia berubah? Ngga!, malah tambah semakin menjadi-jadi dan sekarang dakwahnya menjadi marak dan dijadikan rujukan oleh mereka.

      Intinya, ana bukan pesimis, Antum bayangkan saja kalau antum ini berada dalam sebuah kelas, tiba-tiba guru antum masuk dan mengajar selesai mengajar dia langsung keluar kelas, tidak ada dialog dan tanya jawab sekalipiun ada itu juga cuma ala kadarnya, kira-kira antum dapat pemahaman ga?

      Sekarang ini di beberapa sekolah maju di dunia guru tidak lagi dipandang sebagai pengajar tapi teman belajar, adanya inteaktif yang intens dalam bidang keilmuan membuat para peserta didik cepat mencerna setiap informasi yang disampaikan gurunya. Artinya setelah tamat dari sekolah mereka tidak cuma membawa lembaran ijazah tapi benar-benar membawa ilmu. Tidak seperti sekolah lain yang otoriter bin kolot bin sombong.

      Antum pasti tahu khan maksud ana?!

    2. Dusta Pembela Teroris Pada Dialog Nusakambangan
      Ramai diberitakan oleh media-media pendukung gerakan terorisme bahwa ketika Syaikh Ali Hasan berdialog dengan narapidana teroris, beliau berbicara sangat kasar dengan mengucapkan kata “ANDA BODOH” ditujukan kepada narapida. Kemudian dari kejadian tersebut lahirlah caci maki berikutnya yang tujuan intinya adalah agar pribadi Syaikh Al Hasan Al Halabi hancur.
      Padahal kejadian sesungguhnya adalah tidak demikian, justru narapida teroris yang memukul meja dengan emosi sambil pergi meninggalkan Syaikh Ali Hasan Al Halabi yang sedang memberikan nasehat, kemudian salah satu diantara mereka mengucapkan “ANDA BODOH”ditujukankepada Syaikh Ali. Demikian seperti dilaporkan oleh Abdullah Sammy, wartawan Republika yang turut hadir dalam dialog tersebut. Koran tersebut terbit pada Selasa (10/12) memuat jalannya dialog:
      Disana (Lapas Kembang Kuning Nusakambangan –red), salah satu ulama Syaikh Ali Hasan Al Halabi berpisah dari rombongan untuk menemui sekitar 13 orang teroris.
      “Saya ingin meyakinkan bahwa Islam adalah agama yang penuh damai,” ujar Al Halabi kepada para napi.
      Kedatangan Al Halabi untuk berdialog langsung mendapat penolakan dari pentolan napi terorisme di Lapas Kembang Kuning, Oman Abdurrahman alias Abu Oman (maksudnya adalah Aman Abdurrahman –red). Namun ada kelompok napi lainnya yang menerima ide yang disampaikan Al Halabi.
      Saat Al Halabi masih menggelar dialog, rombongan ulama lain berlabuh di Lapas Permisan. Adalah ulama asal Mesir, Syaikh Najih Ibrahim yang datang untuk berdialog dengan sekitar 11 napi terorisme di Lapas itu.
      Dialog yang dihadiri dalang terorisme di Poso, yakni Syaiful Anam alias Brekele dan kelompoknya itu berlangsung dengan tensi tinggi. Suasana tak jenak bermula ketika Syaikh Najih Ibrahim meminta para napi meninggalkan jalan kekerasan.
      Mendengar nasihat dari ulama, seorang napi teroris mendadak naik emosinya. Meja di ruang Lapas pun mereka geberak, sambil berujar “ANDA BODOH!” selepas memaki, sejumlah napi pun kompak meninggalkan ruang pertemuan. (Dinukil dari Harian Republika, terbit Selasa, 10 Desember 2013 halaman 2. Kata Syekh pada nukilan tersebut ditulis dengan Syaikh dan kata Al Khalaby ditulis Al Halabi, untuk menyesuaikan tulisan lainnya di gemaislam.com)
      Dari sini nampak jelas, siapa yang berbohong dan siapa yang memutar balikkan fakta. Yang memaki sambil memukul meja dan mengucapkan “ANDA BODOH” adalah salah satu narapidana teroris kepada Syaikh Najih Ibrahim, bukan Syaikh Ali Hasan Al Halabi yang mengatakannya.
      Tunggu saja dialog selanjutnya, apakah nanti akan ada lagi fakta yang diputar balikkan?, Alhamdulillah umat Islam telah cerdas memilih informasi sehingga jelas siapa yang jujur dan siapa yang berdusta. [Budi Marta Saudin]
      – See more at: http:// gemaislam.com/ rubrik/ aktualita/ 1718-usaha-pembe la-aksi-teroris me-untuk-membun uh-karakter-sya ikh-ali-hasan-a l-halabi#sthash .oil3mb9j.dpuf

      Ehh ustad pembela jihad palsu, dah ketaun klu ente, cuma penjilat syaik Abu Muhammad Al-Maqdisi tukang teror!

    1. Antum yakin ngga dengan pendapat Antum ini? kalau iya, maka jika tidak keberatan ana minta dalil. Kata Nabi, “yang mengklaim harus bawa bukti”. Sebab kalau Antum bicara khawarij dengan Ana akan panjang ceritanya di sini, maka ana minta dalil. Ditunggu.

      1. Ustadz,
        Bagaimana jika methode dialog diambil berdasarkan dalil firman alloh ta’ala dalam surat An-Nahl: 125:
        “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”

        Apakah tidak mencukupi?

      2. kata “bantahlah” dalam ayat tsb adalah “jaadil!” dalam bahasa Arabnya, artinya “saling tanggap/debat”. Ana kurang sreg bila diartikan “bantah” bila maknanya tertuju sebagai bentuk monolog, sebab makna aslinya lebih tertuju pada “dialog face to face” sesuai dengan kaidah tashrif/morfologinya yang menggunakan shighat mufa’alah.

  2. Al hakim mustadrak (II/152-154)
    Al baihaqi (VII/179)
    Ahmad (I/86-87)
    Ibnu katsir dlm bidayah wan nihayah
    (VII/280)

  3. Ya’qub al fasawi al ma’rifah wat tarikh (522-524)
    Ibnul jauzi dlm talbis iblis hal 116-119

      1. cari dong bossss,….ga ada ruginya koq nte kebat kebet kitab… ini ana tambahin:
        هذا الأثر أخرجه عبد الرزاق الصنعاني في (المصنف ، باب ذكر رفع السلام 10/157 رقم 18678) ومن طريقه – بنفس اللفظ تقريبًا -أخرجه أبو نعيم في (الحلية 1/318)، وأخرجه البيهقي في(السنن الكبرى 8/179)، وابن عبد البر القرطبي في (جامع بيان العلم وفضله 2 / 103 طبعة المنيرية)، ويعقوب بن سفيان البسوي في (المعرفة والتاريخ 1/522)، والحاكم في (المستدرك 2/150-152)، وأخرج بعضه الإمام أحمد في(المسند 1/342،5/67 رقم 3187، طبعة شاكر) كلهم أخرجوه من طريق عكرمة بن عمار ثنا أبو زميل الحنفي ثنا ابن عباس به، ولكل منهم لفظ مختلف وزيادات أثبتنا منها ما كان فيه زيادة معنى
        وهذا الأثر نسبه الهيثمي في (مجمع الزوائد) إلى الطبراني وأحمد في المسند، وقال: رجالهما رجال الصحيح، وأشار إليه الحافظ ابن كثير في (البداية والنهاية 7 / 282)، وابن الأثير في (الكامل) وابن العماد الحنبلي في (الشذرات)، وذكر غيرهم سياقات أخر لهذه القصة ولكنها عن غير ابن عباس من غير هذا الطريق، وإنما مقصودنا رواية ابن عباس فقط..
        وقال أحمد شاكر في تعليقه على (المسند 5 / 7 6 رقم 3187): إسناده صحيح. اهـ
        ana nukil disini : http://www.islamdoor.com/k/352.htm
        برك الله فيك

      2. Ente ini bisa bahasa Arab ngga sih?
        Itu Ibnu Abbas ngga melakukan monolog, beliau berdialog dengan mereka dengan pendekatan yang impresif, inspiratif, persuasif. Perhatikan teks ini:

        قال: قلت أما قولكم: حكّم الرجال في دين الله، فإن الله تعالى يقول: ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ))، إلى قوله: ((يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِّنكُمْ)). وقال في المرأة وزوجها: ((وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَماً مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَماً مِّنْ أَهْلِهَا)). أنشدكم الله أحكم الرجال في حقن دمائهم وأنفسهم، وإصلاح ذات بينهم أحق أم في أرنب ثمنها ربع درهم، وفي بضع امرأة. وأن تعلموا أن الله لو شاء لحكم ولم يصير ذلك إلى الرجال.
        قالوا: اللهم في حقن دمائهم، وإصلاح ذات بينهم.
        قال: أخرجت من هذه؟
        قالوا: اللهم نعم.
        قال: وأما قولكم قاتل ولم يسب ولم يغنم، أتسبون أمكم عائشة، أم تستحلون منها ما تستحلون من غيرها، فقد كفرتم، وإن زعمتم أنها ليست أم المؤمنين فقد كفرتم، وخرجتم من الإسلام، إن الله يقول: ((النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ))، فأنتم مترددون بين ضلالتين، فاختاروا أيهما شئتم، أخرجت من هذه؛ فنظر بعضهم إلى بعض.
        قالوا: اللهم نعم.
        قال: وأما قولكم محا نفسه من أمير المؤمنين، فأنا آتيكم بما ترضون، فإن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- دعا قريشًا يوم الحديبية أن يكتب بينه وبينهم كتابًا فكاتب سهيل بن عمرو وأبا سفيان. فقال: اكتب يا علي هذا ما قاضى عليه محمد رسول الله، فقالوا: والله لو كنا نعلم أنك رسول الله ما صددناك عن البيت، ولا قاتلناك، ولكن اكتب محمد بن عبد الله. فقال: والله إني لرسول الله حقًا وإن كذبتموني، اكتب يا على: محمد بن عبد الله ، فرسول الله -صلى الله عليه وسلم- كان أفضل من علي -رضي الله عنه- وما أخرجه من النبوة حين محا نفسه. أخرجت من هذه؛ قالوا: اللهم نعم. فرجع منهم ألفان، وبقي منهم أربعة آلاف فقتلوا على ضلالة.

        lihat dan baca dengan jelas, Ibnu Abbas memberi mereka kesempatan terlebih dahulu untuk mengeluarkan hujjah2 mereka baru setelah selesai dari itu beliau langsung memberikan tanggapan.

        Lah yang di LP itu Syaikh Ali murni monolog, ngga dialog, orang2 takfir itu ngga diberi kesempatan sama sekali untuk mengeluarkan hujjah2 mereka, semua waktu bicara dikuasai Syaikh Ali! Orang2 takfiri itu sangat menghendaki adanya debat/dialog terbuka, bukan monolog dari Syaikh Ali dkk!

        Dan lagi pula siapa yang berani melawan kenyataan ini?

        Apakah dakwah Syaikh Ali di LP menggunakan uslub seperti ini? Ente menjadikan riwayat ini sebagai tolak ukur kebenaran dakwah Syaikh Ali maka dengan ini ana meminta dari antum rincian kesamaan dakwah Ibnu Abbas kepada mereka yang membelot dengan dakwah Syaikh Ali kepada mereka yang ada di LP sana!

        Ayo belajar bertanggung jawab, jangan kabur kalau merasa benar!

  4. Assalamu’alaikum

    Sepertinya kok terlalu prematur ya menyamakan mereka (Ust. Amman cs) dengan Khawarij yang ada di jaman Amirul Mukminin ‘Aliy ~radliyallahu ‘anhu~, khawarij yang ada di jaman ‘Aliy jelas melakukan pemberontakan kepada penguasa NEGARA MUSLIM,

    sementara Negara Indonesia ….apakah bisa dikategorikan NEGARA MUSLIM? atau malah NEGARA CAMPURAN, bukan Daarul Islam ataupun Daarul Harbi?

    فكل دار غلب عليها أحكام المسلمين فدار الإسلام وإن غلب عليها أحكام الكفار فدار الكفر ولا دار لغيرهما وقال الشيخ تقي الدين ، وسئل عن ماردين هل هي دار حرب أو دار إسلام ؟ قال : هي مركبة فيها المعنيان ليست بمنزلة دار الإسلام التي يجري عليها أحكام الإسلام لكون جندها مسلمين ، ولا بمنزلة دار الحرب التي أهلها كفار ، بل هي قسم ثالث يعامل المسلم فيها بما يستحقه ويعامل الخارج عن شريعة الإسلام بما يستحقه

    [الآداب الشرعية ,ص: 190, فصل : في تحقيق دار الإسلام ودار الحرب]

    Beda bentuk negara, berbeda pula penghukuman amalan perorangan-nya.
    Just my opinion btwe …

    Wallohu ta’alaa a’lam

    1. khawarij, murjiah, mubtadi’, kafir, fasiq, munafiq, dll itu cuma status. Siapapun bisa dengan mudah melekatkannya pada yang lain sesuka hatinya. Antum bisa dengan mudah menuduh ana demikian begitupula sebaliknya ana sangat mudah menuduh antum demikian bila ana mau. Tapi permasalahannya apakah predikat tersebut benar atau tidakkah ketika ia dilekatkan pada objek yang kita mau?
      Perbedaan dalam istrinstik pemahaman akan menghasilkan output yang berbeda pula. Artinya apa yang dipahami salafiyun dengan apa yang dipahami takfiriyun (katakan saja begitu) itu berbeda meskipun objek yang dikaji itu sama, makanya hasilnya juga beda.
      Sebatas yang ana tahu, mereka yakni Aman Cs dicurigai sebagai “khawarij” bukan sebatas karena mereka memberontak kepada penguasa yang antum sangka bukan penguasa muslim, tapi lebih karena mereka suka mengkafirkan orang dengan gampangnya (dalam artian kalau realitas di depan mata mereka terjadi tidak sesuai dengan kehendak mereka maka kata KAFIR akan dengan mudah keluar dari lisan mereka). Ini yang ana pahami.

      1. Quote :
        “…bukan sebatas karena mereka memberontak kepada penguasa yang antum sangka bukan penguasa muslim

        Bismillah,

        Sepertinya antum salah paham, saya tidak pernah menganggap penguasa negara ini (presiden) bukan penguasa muslim, la wong sependek yang saya tahu (dan saya saksikan dengan mata kepala sendiri) mr. president itu masih menegakkan shalat😀

        Yang saya maksudkan disini adalah Penguasa NEGARA Muslim, jadi obyek yang di bahas adalah negaranya bukan individu pemegang kekuasaan, terlepas dari apa manhaj yang di pegang oleh sang penguasa.
        misalnya saja : seorang Jahmiyyah atau Mu’tazillah tulen memegang tampuk kekuasaan negara yang based on syariat (al-Qur’an dan as-Sunnah), toh tetap saja kita nyatakan kalau negara tersebut merupakan negara muslim (Daarul Islam), bukan sebaliknya, walaupun manhaj sang penguasa menyelisihi salaful ummah.

        saya harap antum paham.

        Yang jadi pokok permasalahan dari komentar saya sebelumnya adalah, apakah Indonesia termasuk kategori Negara Muslim, atau malah masuk Negara Campuran seperti yang telah di isyaratkan oleh Syaikhul Islam diatas, saya membuka pembicaraan seperti itu karena saya pribadi membutuhkan view dari yang lain (terutama antum) karena pendapat saya tidaklah saya pegang sampai kiamat, bisa jadi hari ini atau besok saya mengubah pendapat ke arah yang lebih rajih.

        eniwei… kalo memang benar ust. amman cs seperti yang antum gambarkan, mengkafirkan orang dengan gampangnya (dalam artian kalau realitas di depan mata mereka terjadi tidak sesuai dengan kehendak mereka maka kata KAFIR akan dengan mudah keluar dari lisan mereka), maka ust. amman cs terjatuh dalam kekeliruan.

        NB : lalu bagaimana dengan sekelompok manusia yang mem-bid’ahkan orang dengan gampangnya (dalam artian kalau realitas di depan mata mereka terjadi tidak sesuai dengan kemauan/pendapat mereka atau masyaikh mereka maka tuduhan AHLUL BID’AH akan dengan mudah keluar dari lisan mereka),
        apakah mereka bisa di kategorikan (neo) khawarij? Wallohu ta’alaa a’lam.

        BaraakaAllahu-fiik

      2. Quote :
        “…bukan sebatas karena mereka memberontak kepada penguasa yang antum sangka bukan penguasa muslim“

        Bismillah,

        Sepertinya antum salah paham, saya tidak pernah menganggap penguasa negara ini (presiden) bukan penguasa muslim, la wong sependek yang saya tahu (dan saya saksikan dengan mata kepala sendiri) mr. president itu masih menegakkan shalat😀

        Yang saya maksudkan disini adalah Penguasa NEGARA Muslim, jadi obyek yang di bahas adalah negaranya bukan individu pemegang kekuasaan, terlepas dari apa manhaj yang di pegang oleh sang penguasa.
        misalnya saja : seorang Jahmiyyah atau Mu’tazillah tulen memegang tampuk kekuasaan negara yang based on syariat (al-Qur’an dan as-Sunnah), toh tetap saja kita nyatakan kalau negara tersebut merupakan negara muslim (Daarul Islam), bukan sebaliknya, walaupun manhaj sang penguasa menyelisihi salaful ummah.

        saya harap antum paham.

        Yang jadi pokok permasalahan dari komentar saya sebelumnya adalah, apakah Indonesia termasuk kategori Negara Muslim, atau malah masuk Negara Campuran seperti yang telah di isyaratkan oleh Syaikhul Islam diatas, saya membuka pembicaraan seperti itu karena saya pribadi membutuhkan view dari yang lain (terutama antum) karena pendapat saya tidaklah saya pegang sampai kiamat, bisa jadi hari ini atau besok saya mengubah pendapat ke arah yang lebih rajih.

        apakah saya salah paham ketika melihat dua logika terbalik bertemu dalam satu kepala, saat logika pertama berkata:

        Sepertinya kok terlalu prematur ya menyamakan mereka (Ust. Amman cs) dengan Khawarij yang ada di jaman Amirul Mukminin ‘Aliy ~radliyallahu ‘anhu~, khawarij yang ada di jaman ‘Aliy jelas melakukan pemberontakan kepada penguasa NEGARA MUSLIM,

        sementara Negara Indonesia ….apakah bisa dikategorikan NEGARA MUSLIM? atau malah NEGARA CAMPURAN, bukan Daarul Islam ataupun Daarul Harbi?

        perhatikan cetak tebal di atas! dan bandingkan dengan logika anda yang kedua ini:

        Yang saya maksudkan disini adalah Penguasa NEGARA Muslim, jadi obyek yang di bahas adalah negaranya bukan individu pemegang kekuasaan, terlepas dari apa manhaj yang di pegang oleh sang penguasa.

        Begini ya, ada baiknya orang yang mengucapkan kata/kalimat itu paham penggunaan kata yang ia gunakan dengan baik dan benar sehingga ia tidak terjerumus dalam penyelewengan makna, artinya ketika dikritik ia selalu berkilah, o bukan itu maksud saya maksud saya adalah ini dan itu. Kalau begitu terus jadinya maka setiap pembicaraannya hanya dia sendiri yang mengerti. Lalu apa artinya ia berbicara kepada yang lain?

        Pertanyaan saya yang pertama, adakah dalam sejarah Islam negara Islam/muslim diperintah oleh penguasa non muslim? artinya kalau tidak ada maka kita sepakat bahwa yang namanya negara Islam pasti dipimpin oleh penguasa muslim. Dan adakah fakta sejarah terdahulu negara non muslim dipimpin oleh penguasa muslim? artinya kalau tidak ada maka kita sepakat bahwa yang namanya negara non Islam/muslim dipimpin oleh penguasa muslim itu tidak ada.

        artinya ketika antum mengatakan “penguasa negara muslim” maka itu tidak bisa diartikan bahwa negara yang ia pimpin bukan negara muslim karena kita sepakat bahwa yang namanya negara muslim pasti dipimpin oleh penguasa muslim.
        kembali ke indonesia, dari cara antum berbicara nampak dalam pandangan ana bahwa antum tidak meyakini bahwa indonesia ini adalah negara muslim, artinya kalau kita kaitkan dengan opini yang pertama tadi, jelas logika antum itu sangat “konyol bin ganjil” karena hanya berpijak di atas awang-awang. Sebab ketika muncul pertanyaan: Indonesia bukan negara muslim maka apakah pemerintahannya adalah muslim? Antum jawab ya karena SBY masih melakukan shalat. Itu artinya Indoesia adalah bukan negara muslim tapi dipimpin oleh muslim.

        Ya akhi, ini jelas2 kontradiktif dengan logika yang pertama bahwa TIDAK ADA NEGARA NON MUSLIM YANG DIPIMPIN OLEH PENGUASA MUSLIM! kecuali antum bisa menyanggah dan membawa bukti adanya negara non muslim yang dipimpin oleh penguasa muslim.

        Sekarang kita lanjut pada “titik didih” kritikan antum yang awal-awal bahwa

        Sepertinya kok terlalu prematur ya menyamakan mereka (Ust. Amman cs) dengan Khawarij yang ada di jaman Amirul Mukminin ‘Aliy ~radliyallahu ‘anhu~, khawarij yang ada di jaman ‘Aliy jelas melakukan pemberontakan kepada penguasa NEGARA MUSLIM,

        sementara Negara Indonesia ….apakah bisa dikategorikan NEGARA MUSLIM? atau malah NEGARA CAMPURAN, bukan Daarul Islam ataupun Daarul Harbi?

        Itu artinya Amas cs bukan khawarij karena mereka tidak memberontak kepada negara muslim!

        KOMENTAR ANA: Jadi, kalau memberontak kepada penguasa muslim bukan khawarij? lalu adakah negara non muslim dalam fakta sejarah umat Islam dipimpin oleh penguasa muslim?! Ayo jawab! Kalau anda ngga bisa jawab maka itu artinya Indonesia adalah negara muslim! Akui saja itu!
        Dengan begitu berlakulah fakta bahwa Aman cs memberontak kepada penguasa muslim + negara muslim!

        eniwei… kalo memang benar ust. amman cs seperti yang antum gambarkan, mengkafirkan orang dengan gampangnya (dalam artian kalau realitas di depan mata mereka terjadi tidak sesuai dengan kehendak mereka maka kata KAFIR akan dengan mudah keluar dari lisan mereka), maka ust. amman cs terjatuh dalam kekeliruan.

        NB : lalu bagaimana dengan sekelompok manusia yang mem-bid’ahkan orang dengan gampangnya (dalam artian kalau realitas di depan mata mereka terjadi tidak sesuai dengan kemauan/pendapat mereka atau masyaikh mereka maka tuduhan AHLUL BID’AH akan dengan mudah keluar dari lisan mereka),
        apakah mereka bisa di kategorikan (neo) khawarij? Wallohu ta’alaa a’lam.

        BaraakaAllahu-fiik

        Khan udah ana jawab, khawarij, murjiah, mubtadi’, kafir, fasiq, munafiq, dll itu cuma status. Siapapun bisa dengan mudah melekatkannya pada yang lain sesuka hatinya. Antum bisa dengan mudah menuduh ana demikian begitupula sebaliknya ana sangat mudah menuduh antum demikian bila ana mau. Tapi permasalahannya apakah predikat tersebut benar atau tidakkah ketika ia dilekatkan pada objek yang kita mau?

        mau lihat bukti tentang Aman takfiri silahkan dengarkan ceramah2nya! Itu sudah cukup.

        *kadar tabdi dengan takfir itu beda, konsekuensinya juga beda, antara mengeluarkan orang dari Islam (takfir) dengan mengeluarkan orang dari sunnah (tabdi) jelas beda.

  5. @admin,
    daripada beropini mending antum do’akan usaha sebagian da’i dan ulama kita utk berusaha menyadarkan pemahaman takfir mereka,masalah mereka mau sadar/tidak itu urusan Allah ta’ala,
    Allah ta’ala yg membolak-balikan hati manusia,tugas manusia hanya mengingatkan,
    seakan2 antum tau dengan pasti bahwa mereka tidak akan sadar,apakah antum yg menguasai hati mereka ataukah Allah ta’ala? Apakah antum tau perkara yang gaib?
    Dari awal antum sudah pesimis, antum pasti tau berputus asa dari rahmat Allah ‘azza wajalla adalah dosa besar,tidak ada dalam diri seorang muslim kata pesimis.
    Atau memang antum tidak menganggap ke3 syaikh ini ulama..?apalagi ulama salaf.

  6. Andai suatu negeri dianggap Darul Murakkabah, apakah dibenarkan melakukan irhab seperti model “syaikh” Abu Sulaiman Aman Abdurrahman cs?

    Komentar Anda, “Kalau begitu jangan lupa nanti kabarkan ke ana, bahwa setelah
    program tsb selesai Aman Abdurrahman, Abu Bakar Baasyir, dll akan bertaubat setelah didakwahi! hehe,”
    Siapa yang menjamin program sepekan akan berhasil atau sebaliknya tidak berhasil?
    Berapa tingkat keberhasilan atau kegagalannya?
    Andakah ikut berperan disana?

    Adakah Anda punya opini/solusi yang mujarab “cespleng” (syukur-syukur bekerja secara instan) untuk menghentikan irhab mereka? (mengingat mereka juga tidak menganggap negeri haramain sebagai negeri tauhid, orang yang semodel mereka juga mengebom di negeri haramain)

    1. intinya, kalau program tsb sudah selesai, gagal atau tidaknya tolong kabarkan ke sini siapa tahu ana salah! Kalau gagal berarti ana tidak keliru, kalau berhasil berarti ana keliru. Tapi kalau tetap gagal dan mereka tetap jadi seperti itu beranikah anda mengatakan: “ya saya keliru!”?

      1. “intinya, kalau program tsb sudah selesai, gagal atau tidaknya tolong kabarkan ke sini siapa tahu ana salah! Kalau gagal berarti ana tidak keliru, kalau berhasil berarti ana keliru. Tapi kalau tetap gagal dan mereka tetap jadi seperti itu beranikah anda mengatakan: “ya saya keliru!”?..”
        coment : Nabi Nuh berdakwah ratusan tahun. putranya sendiri malah ga ikut nabi nuh. Apakah nabi nuh dianggap gagal ? Bukankah ada Rosul / Nabi yang datang kehadapan Allah tanpa pengikutpun.. Gagalkah Rosul/Nabi itu karena ga ada pengikut ?
        Berilah support kepada mereka yang mencoba berdialog. Katakan saja :
        1. “ente- ente jangan monolog, dialog dong seperti ibnu abbas.
        2. “dialognya jangan jangan cuma ribuan mata.. cari kesempatan dong dengan empat mata”
        3. “dialog jangan cuma sehari..dua hari.. sering- seringlah.. “

  7. Klo gagal ya di coba terus mas ! .. sekali gagal mungkin yang kedua ndak gagal, ketiga, keempat begitu seterusnya… mungkin saja anak cucunya nanti yang berhasil di dakwahi.iya kan?

    Btw untuk sekarang menurutku buat saya pribadi blog anda ini sudah bukan lagi recomended untuk saya nyari ilmu. sukron thx, skip sampai disini .. wassalam

    1. saya tidak merasa rugi sedikitpun anda meninggalkan blog, sama sekali loh… karena saya memang bukan pedagang:mrgreen: seperti para “ust salafy” lainnya yang melanggar manhaj dakwah para Nabi dengan mengambil keuntungan dari mad’u (sasaran dakwahnya).
      Antum harus paham dengan benar, tulisan ini kalau anda salah paham anda akan menarik kesimpulan yang ngaco dan keliru.
      Saya dalam tulisan ini tidak sepakat bila dakwah kepada takfiriyyun dilaksanakan dengan jalan monolog, masalahnya mereka ini bukan orang bodoh yang kosong dari hujjah! Pengalaman saya kepada para takfiriyyun, dalam percobaan-percobaan sebelumnya tidak mendapati hasil sedikitpun dengan jalan monolog ini. Monolog hanya tepat dilakukan dengan orang yang memiliki keyakinan yang sama, misalnya saat Syaikh Ali memberikan monolog/muhadharah kepada para penggemarnya di Istiqlal maka ini tidak jadi masalah karena mereka yakin dengan keilmuan Syaikh Ali. Tapi permasalahan urgen di sini adalah efektifkah monolog bila dilangsungkan kepada mereka yang berbeda pendapat dengan kita?
      Saya tanya Anda, kalau anda berdiskusi dengan orang yang beda pendapat dengan Anda dengan catatan di sisi anda ada hujjah begitupun dengan orang tsb, lalu dia terus saja berbicara dan tidak memberikan anda kesempatan berbicara, atau memberikan anda sedikit darinya maka kira2 anda akan terpengaruhkah dengan ucapannya?
      lain halnya kalau anda memang kosong dari hujjah maka anda akan dengan gampang dicuci otaknya. Ingatlah, “seorang anak itu baru bisa akan lahir bila ada dialog antara sperma dan ovum.” Artinya untuk mendapati sebuah perubahan perlu benturan pemikiran, ngga bisa monolog. Dan ini berlaku atas semua hal.

      Jadi tegas ana katakan ana tidak menolak dakwah Syaikh Ali kepada takfiryun secara mutlak, yang ana tidak terima adalah uslubnya yang monolog! Itu saja. Kalau dilaksanakan dengan jalan dialog impresif, inspiratif, persuasif insya Allah baru ana setuju karena memang cara seperti itulah yang efektif dalam merubah keyakinan manusia. Ini biang masalah yang ana paparkan di sini, jadi jangan salah dipahami. Mungkin untuk lebih jelasnya anda berkaca saja pada dakwah Nabi kepada seorang Yahudi yang sering meludahinya hingga ia masuk Islam.

      1. Assalaamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh
        Bismillah, Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah

        antum berkata : “saya tidak merasa rugi sedikitpun anda meninggalkan blog, sama sekali loh… karena saya memang bukan pedagang seperti para “ust salafy” lainnya.. ”

        siapa saja yg antum maksud?? yang mengklaim harus mendatangkan bukti!!
        lalu apa juga bukti kalo antum bukan “pedagang”?? menyebutkan nama saja tidak berani!!

        memang soal menyebutkan nama itu hak individu seseorang, tapi orang yang tidak mau menyebutkan nama atau pakai nama samaran biasanya alasannya karena takut atau agar gampang mengelak lari dari apa yang di ucapkan dan di lakukan jika ketahuan siapa dia sebenarnya, Allohu a’lam #kalo antum nggak merasa jangan marah:mrgreen:

        dan saya pribadi pun tidak butuh nama antum!! di luar sana masih banyak ustadz yang hanya mengajarkan ilmu dan membantu memahaminya, memberikan contoh yang baik dalam amalan, juga memberikan contoh yang baik dalam menghadapi syubhat, fitnah, caci maki, tuduhan atau klaim sepihak, perbedaan ijtihad dsb-nya tanpa harus curhat di dunia maya baik dengan nama asli atau samaran atau tanpa nama. #sekali lagi kalo antum tidak merasa jangan marah:mrgreen:

        zaman sekarang banyak orang yang baru tau ilmu sedikit tapi gayanya sudah seperti orang yang tau segalanya, namun juga banyak orang yang tau banyak ilmu tapi merasa tidak tau apa-apa. padahal ilmu itu bagaikan lautan yang luasa dan dalam tidak akan mampu di kuasai semuanya walau hidup 1000 tahun. Allohu a’lam

        maafkanlah ana yang faqir ini bila lancang berbicara seperti ini kepada antum wahai ustadz salafy yang bukan pedagang😀. semoga Alloh tabroka wata’ala memberkahi antum dan ilmu antum serta merahmati antum.

        ini pertama dan juga terakhir ana komentar, Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
        Subhanakallahumma wabihamdika asyhadualla ilahailla anta astagfiruka wa’atubu ilaik”

  8. kedustaan pembela jamaah takfir pada dialog nusakambangan,ternyata bukan syaikh alihasan yang berkata ‘BODOH’kepada jamaah takfir,tetapi kalam tsb adalah perkataan sebagian napi yg tdk punya dalil untuk membantah syaik najih akhirnya menggebrak meja dan mengatakan bodoh kepada syaikh,
    adalah Abdullah sammy wartawan republika(yg jelas2 media syiah) yg memutar balikan fakta,
    jelas sekali admin disini tidak tabayun dalam mengambil berita, hanya mengambil yg sesuai hawa nafsunya untuk mencela ulama, dan membantu setan.
    JANGAN ASAL COMOT MIND.
    THINK BEFORE SPEAK.

    1. sebelumnya saya berterima kasih atas sanggahan ini. Tapi ada beberapa hal yang harus anda ingat sebelum membantah.
      1. klaim antum itu tolong bawakan buktinya, kalau tidak antum bisa terjatuh dalam kedustaan. Kalau ada dusta dari mereka jangan pulalah dilawan dengan kedustaan.
      2. ana mengutip berita tsb bukan dalam artian untuk dipercaya seluruh konten isinya, dalam tulisan ana di atas, fokus bahasan adalah: dialog/hiwar bukan monolog, dan berita tersebut memang menyatakan Syaikh Ali hanya monolog dan tidak memberi kesempatan lawan bicara untuk mendapati posisinya berbicara sebagaimana Syaikh Ali. Ini titik point sanggahan ana atas dakwah yang berlangsung si LP. jadi tidak se[perti dugaan antum bahwa ana menelan mentah2 berita tsb.
      3. ucapan antum: JANGAN ASAL COMOT MIND.
      THINK BEFORE SPEAK.

      Mari kita amalkan bersama2. Jangan terlalu merasa lebih, kita sama2 manusia yang suka berbuat salah.:mrgreen:

  9. perkataan ana bisa antum buka ‘gemaislam.com'(jamaah takfir tdk punya dalil untuk membantah syaik ali.
    kalo ana salah ana akan rujuk, kebenaran lebih layak diikuti..
    Ana hanya tdk suka antum menjelek2an syaik ali karena fatwa lajnah, padahal syaikh utsaimin berkata, lajnah telah keliru, tidak ada yg diuntungkan dari dari fatwa lajnah selain kaum takfiriyun,
    dll.
    Dan jawaban antum bahwa ana berdusta kalo tdk memberi referensi atas perkataan ana? Ana tdk berdusta hanya belum mencantumkan link atas perkataan ana,
    bukankah antum juga membawakan perkataan asal comot entah itu perkataan siapa, kemudian antum nisbatkan kepada syaikh ali,
    dan kalo itu salah bukankah sama saja dengan berdusta, baarokAllahu fiika,,

  10. adminya ustad, ga bisa ngehargain usaha orang kali, pemalas nyari dalil, ngliatin komen terus males nyari fakta, nunggu komentator ngasih bukti dulu, mau monolog mau golog, allah khan menerima usaha ya min bukan hasil, nyalonin aja min ato usul ama bnpt apakek buat duolog apa dolog, sapa tau cespleng, nggak cuma nyibir, orang sombong itu merendahkan manusia, betul gak min, kalo gini aja suruh nyari bukti dan dalil, aduuuh maaf min yang ustad ente,

  11. Anda menulis tentang blog anda :

    “Tiada motivasi bagi kami membangun blog ini kecuali untuk mengusir hantu manhaj yang berkeliaran di dunia maya ini. Dan sungguh hantu yang satu ini (www.tukpencarialhaq.com) begitu meresahkan warga yang ingin mendalami Islam.

    Melihat kenyataan ini kami pun tak sampai hati membiarkan ini terus terjadi. Oleh karena itu kami lalu membangun blog ini agar dapat memproteksi mereka dari gangguan hantu nakal ini. Sampai pemikiran “hantu” nakal ini dapat diusir dari dunia maya ini.”

    Namun faktanya ???? Maaf, klo saya boleh berpendapat, Anda ngelantur kesana kemari. Udah bulan keberapa ini dari semenjak Anda rilis ni blog ? So, fokuslah !. Buktikan aja blog ini memang sesuai namanya, klo memang gak sesuai lebih baik ganti aja nama blognya. Malah bahas ust Firanda, Ust Dzul dstnya dan yg “terbaru” malah bahas Syaikh Ali pulak.. Hendaknya kita berusaha untuk jangan jadi orang yang bisanya ngomong tok, tapi gak ada pembuktiannya.. Semoga anda dan saya dan kita semua kaum muslimin berusaha dan diberi taufiq oleh Allah untuk bisa mengamalkan apa yang kita katakan. Wallahu a’laam..

  12. ibnu abbas dialog dengan khowarij…..sementara masyayikh ini dialog dg muslimin yg hanya dituduh khowarij…….beda dong mas ahwalnya……..sekarang tugas a’wan masyayikh ini adalah tatsabbut, benarkah mereka yg tertuduh khowarij ini adalah khowarij tulen?????soalnya hanya kelompok maz’um saja yang menggembar gemborkan khowarij, dengan sikap over protektif seperti itu, justru merekalah yang terjebak dg skp khowarij……mereka gak akan mau dikhowarijkan, sbgmana maz’um pun gak mau d murji’ahkan…..sekalipun yang dimurji’ahkan faktanya lebih dikuatkan oleh fatwa2 resmi…..solusinya adalah berfikir jernih,jika ada usulan dialog, perhatikan siapa yang mengusulkan, jgn sampai tdk sadar bahwa usulan itu merupakan tipu muslihat islamophobia untuk mengadu domba sesama muslim……و العياذ بالله

  13. Min..harusnya fokus..pantengin blog tukpencari bangkainya, tiap ada artikel baru admin buat bantahannya..fokus itu aja, ngga usah kemana2..jdnya bisa buat penyeimbang!! Ok ??

  14. terima kasih ustadz admin, meskipun saya awam dalam manhaj, tapi isnyaa Allah saya paham maksud anda.
    mungkin ketika orang melihat kertas putih tanpa noda, mereka jelas konsen melihatnya, dan ketika ada noda di kertas putih tadi, yang jadi pusat perhatian hanya noda tadi, orang akan melupakan kertas putihnya….

    ketika kita sudah tanpa sadar terjerumus dalam taqlid terhadap person atau faham tertentu, yang diperhatikan adalah keadaan person atau faham tertentu, tanpa melihat inti dari kebenarannya atau maksudnya…..

    bagaimana selain opini, ustadz juga nambahin ‘ilmu…., contoh pembahasan tauhid atau lainnya….

    baarokallahu fiikum

  15. Kalau mendengar ucapan syaikh Ali hafizahullahu, menunjukkan bahwa beliau telah melakukan dialog, bukan monolog sebagaimana sangkaan anda. Apakah anda ikut hadir di sana? Ataukah anda menuduh syaikh berdusta?

  16. Di tv rodja ada klarifikasi dari syaikh Ali mengenai apa yg terjadi di nusa kambangan
    Hanya saja baru pembukaan,takfiry sdh interupsi.sehingga terkesan yg terjadi adalah monolog.padahal yg di di inginkan syaikh Ali adalah Dialog.

  17. ana pribadi menilai tanggapan admin bermula dari tidak tsiqohnya kepada syaikh Ali Hasan hafidzahulloh ( mungkin karena termasuk syaikh rodja )afwan jika salah …..bukan perkara dialog ataupun monolog ( apalagi admin ikut terpengaruh dgn sumber yang diambil , semuanya dari fansnya aman cs semoga Allah memberikan hidayah kepadanya dan kepadaku ) …….entah sampai kapan manhaj ini terpecah terus ( semoga suatu saat nanti akan ada yang meminimalisirkan perselisihan ini dan tidak ada lagi kubu syaikh yahya ,kubu syaikh rabi dan kubu syaikh rodja hafidzahumulloh )….selepas meninggalnya masyaikh kibar ;syaikh bin baz, syaikh ibnu utsaimin, syaikh albani dan syaikh muqbil rohamuhumulloh …..barokallohu fiikum

    1. Antum keliru menangkap arah pembicaraan saya. Saya itu sangat berharap Aman Cs diperlakukan sebagai pembicara juga bukan cuma pendengar, itu baru dialog. Kalau ceramah tapi diisi sesi tanya jawab bagi saya itu tetap monolog.

      Dalam diskusi ilmiah, hendaknya dua orang yang berdiskusi itu sama2 berbicara dan menyampaikan hujjahnya, agar saling paham satu sama lain, sehingga bila Anda lubang bisa sama2 disempurnakan. namun itu tidak terjadi, yang terjadi hanyalah ceramah plus tanya jawab dari Syaikh Ali.

      Coba antum pelajari kisah Ibnu Abbas kepada kelompok yang membelot, apa yang dilakukan Ibnu Abbas kepada mereka, apakah IBnu Abbas menceramahi mereka semua? Tidak! Justru Ibnu Abbas meminta mereka semua berbicara, menyampaikan semua keluhan mereka semua baru setelah itu ditanggapi, bukan malah menghotbahi mereka.

      Adapun Syaikh Ali datang di LP tsb untuk menghotbahi mereka semua. Ini yang ana ga setuju. Point ini tolong ditangakp dengan jelas!

  18. Sudah ada Salaf yg harusnya diikuti! Yaitu dialog Ibnu Abbas dengan khowarij, kenapa tidak di contoh? Lupa kali.

  19. Pembahasan di blog antum menarik juga.. Sy setuju dengan masalah tata caranya, tapi yg pasti pemerintah gak akan setuju klo dialog\debat harus dilihat masyarakat umum.. Khawatir mereka yg awam membenarkan setiap hujjah ABB.. Mengerikan bukan apabila itu terjadi.. Tapi sy pribadi mengharapkan dialog itu terbuka untuk umum, kali aja ABB bertaubat dan disaksikan oleh semua rakyat indonesia khususnya, atau kebalikannya, ustadz2 yg ingin mendebatnya malah menerima hujjah ABB.. Pusing iko… (Rasanya mau memanggal org syiah rafidhoh nih..🙂

Comments are closed.