speaking

Serius Atau Tidak? Monolog Atau Dialog? Mencermati Diskusi Antara Firanda dengan Eks Alumni Dammaj

Saya pribadi dari awal hingga hari ini memang tidak terlalu berharap banyak dari dialog/diskusi/debat antara Ust Firanda dengan kawan-kawan yang pernah belajar di Dammaj, semisal Ust Lukman Ba’abduh, Ust Dzulqarnain, dll mengenai permasalahan yang menyangkut Radio Rodja, Syaikh Ali Hasan, Syaikh Rabi, dll. Karena jalan/uslub yang mereka tempuh untuk mengclearkan masalah/perkara ini adalah sesuatu yang menurut saya keliru, sebab mereka dari awal tidak memiliki sasaran/tujuan yang sama dari diskusi mereka ini. Dan hal tersebut bisa Anda saksikan sendiri betapa diskusi tersebut sangat tidak beraturan dan suka-suka sendiri. Yang sini maunya begini dan yang sana maunya begitu.

Alhasil, diskusi mereka ini menurut saya tidak lebih dari obrolan anak SD yang sedang saling menshare berbagai hal yang mereka ketahui untuk mengesankan bahwa yang paling banyak tahu itulah yang pintar (benar).Smiley

 Kontennya boleh saja terlihat dewasa, ilmiah, berbobot, karena mengutip dalil dan pendapat-pendapat para ulama dengan bahasa yang serius, namun dari segi uslub saya kira sangat polos dan jumud sekali dan belumlah terlihat adanya kemajuan berarti di dalamnya dan tidak ada hasil yang didapat darinya selain dari kelelahan dan kebosanan. Dan saya pikir lama-kelamaan mereka akan bosan sendiri dengan hal ini.

Diskusi Ilmiah yang sehat adalah diskusi yang menghargai lawan bicara yang bertanya tentang permasalahan keilmuan, menjawab pertanyaannya dengan baik, tidak menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, tidak meloncat ke sana kemari dan membelokan arah pembicaraan untuk bisa mengelak tuduhan yang benar dengan membuang-buang waktu agar tidak terlihat kesalahannya Smiley sehingga berakibat pada kemalasan dan kebosanan untuk berdiskusi kembali sehingga diskusi pun menjadi hambar/berhenti/mandek di tengah jalan dan salafiyyun yang awam pun yang tadinya bingung menjadi bertambah bingung berkali-kali lipat.

Adapun contoh nyatanya di blog ini dapat kita lihat pada seorang “penuntut ilmu” yang bernama (saudara) Doni Arif Wibowo yang merupakan admin dari blog Abuljauza.blogspot.com yang sangat tidak bertanggung jawab dalam berdiskusi dengan kami dan kabur Smiley dari diskusi setelah kami meminta klarifikasi yang jelas atas tuduhan rendahan dan sanggahannya kepada kami. Ini yang pertama dan yang kedua adalah.

Entah apa maksud mereka melakukan debat/diskusi terbuka via Internet, kalau mereka memang bisa melakukannya di dunia nyata? Ada baiknya kalau memang perkara-perkara semacam ini bisa didiskusikan di dunia nyata maka hendaknya di diskusikan di sana tanpa sepengetahuan orang awam yang labil dan gampang tersulut emosinya.

Setelah mendapatkan hasil akhir darinya maka bolehlah kiranya disampaikan di dunia maya agar seluru lapisan salafiyyun mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi. Smiley

Lantas kalau memang perkara-perkara ini di dunia nyata saja tidak bisa didiskusikan dengan baik maka bagaimana halnya lagi dengan di dunia maya yang serba rimba ini yang tanpa aturan main yang jelas ini?, dimana setiap orang bisa bebas berbicara dan merampas hak/waktu bicara orang lain?!, Mengesankan bahwa dirinya alim dan yang lain adalah jahil dengan berlindung pada dalil-dalil dan pendapat ulama Smiley, maka tentu saja itu lebih tidak mungkin dan bisa terjadi! Kalau mereka tetap nekad melakukannya maka itu tidak lebih dari usaha untuk “eksistensi diri” saja agar namanya semakin berkibar dan harum di mata para pengikutnya. Smiley

Adapun yang ketiga, setidaknya dalam pandangan saya hingga hari ini, penyebab utama gelombang pasang khilaf ini tak kunjung mereda adalah diakibatkan masing-masing pihak tidak mau merujuk pada “kalimatun sawa`” (prinsip/kata yang sama).

Perbedaan adalah sunnatullah.. memang… kita harus mengakui hal itu dalam-dalam!, tidak ada manusia yang bisa mengelak darinya, namun itu tidak serta merta menjadi pembenar bahwa manusia tidak bisa disatukan. Smiley

Bentuk “kalimatun sawa`” yang menyatukan umat Islam khususnya segenap salafiyyun adalah Allah (Al-Quran), Muhammad (Sunah/Hadits) adapun lepas/di luar dari dua hal ini maka sudah dipastikan mereka akan berselisih, kalimat yang “sawa`” tadi sudah pasti akan retak dan terpecah kemana-mana.

Lihat saja kenyataannya, mereka berselisih karena Syaikh Rabi (Mekah), Syaikh Ali Hasan (Yordan), Syaikh Yahya (Yaman), dan Syaikh-Syaikh yang lain. Luar biasa bukan?

Mereka mendakwahkan kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah namun lagi-lagi itu cuma teori belaka, sebab dalam praktik di lapangan mereka mengajak pada ta’ashub kepada orang-orang tertentu yang mereka anggap paling mewakili kebenaran Smiley, padahal tidak ada lagi kebenaran setelah Al-Quran dan As-Sunnah.

Oleh karena itu, dalam tulisan super singkat ini, nasihat kami di sini adalah hendaknya kita semua berpegang teguh dengan dalil bukan dengan person-person yang membawakan dalil tersebut, sebab dalil sudah pasti benar namun personnya belumlah tentu benar dalam membawakannya.

Maka cukuplah dalil Al-Quran dan As-Sunnah mengenyangkan Anda dari fanatik buta terhadap person tertentu. Demikian dari saya semoga membekas di sanubari.

Wallahu a’lam.

Mohon maaf bila terdapat banyak kekurangan.

 

 

 

17 thoughts on “Serius Atau Tidak? Monolog Atau Dialog? Mencermati Diskusi Antara Firanda dengan Eks Alumni Dammaj”

  1. stadz, ana tidak menemukan artikel yg dimaksud di blog tersebut, bisa dikasih link/URL yang lengkap, syukron

  2. afwan tadz, kalo menurut penilaian ana.. ust firanda ‘terpaksa’ menulis bantahan, karena ‘serangan’ terhadap radio rodja dan beliau pribadi telah muncul dan tersebar luas tulisannya. sehingga sering dikutip oleh ahlul bid’ah ketika beliau ust firanda berdakwah kepada mereka. afwan. ana kurang setuju dengan sebagian penilaian antum. baarakallaahu fiik.

    1. Namanya juga dakwah, mana mungkin ucapan ana diterima semua oleh para pembaca?, lha wong ucapan Allah dan Rasulullah saja tidak diterima semua oleh umatnya, apalagi omongan ana ini. Ini yang pertama dan yang kedua adalah kata Nabi setiap yang dituduh itu punya hak untuk membela diri dengan bersumpah dan yang menuduh diharuskan membawa bukti atas tuduhannya namun yang ana lihat dua hal ini tidak ada dalam perdebatan mereka ini. Dan adapun yang ketiga adalah, perselisihan semacam ini sudah lama berlangsung, upaya Firanda untuk membersihkan radio Rodja dari debu tahzir atau upaya lawannya untuk mentahzir radio rodja ana kira hanya dakwah yang buang2 waktu saja, sebab ini sudah tidak bicara benar dan salah tapi bicara kedengkian dalam dakwah. Kalau bicara benar dan salah harusnya mereka menghargai nilai-nilai luhur kebenaran tapi itu sayangnya tidak ana lihat. Mereka ini dalam pandangan ana sudah tidak berdakwah ilallah tapi kepada loyalitas/al-wala pada kelompok mereka masing-masing dan bara/disloyalitas pada selain kelompok mereka. Sehingga ketika firanda membawa kebenaran maka itu takan diterima oleh kelompok lawannya begitupun sebaliknya. Itu dari ana. wallahu a’lam.

  3. Saya berusaha obyektif terhadap khilaf ini dan memang saya rasakan bantahan dari asatidz pentahdzir radio Rodja tidak ada yang nyambung, maksud pertanyaan ustadz Firanda (manhaj tahdzir Syaikh Rabi’ yang menafikan maslahat dan menyelisihi Ibnu Taimiyyah) belum terjawab sampai sekarang. Well..

  4. Haruuba
    hati2 ajah kalo objektif ntar ngga dianggap salafi logh seperti admin web ini, xixixi

  5. manstabz ustad, secara ilmu agama ana menemukan di kedua kubu tersebut. yang tidak habis pikir, Follower syaikh rabi menyerang bertubi-tubi, sedangkan Firanda membuat sambungan tulisan AAdRR 1-11. Luar biasa…….. setelah ana baca semuanya (tulisan kedua kubu), ana gk ngerti apa kesimpulan akhir. ternyata tulisan ustad ini menjadi hakim yang baik bagi hati saya setelah membaca tulisan kubu-kubu yang berselisih. terima kasih. jazakumullah khairan katsiran.

Comments are closed.