images (15)

Akan Kemana Dialog Ini menuju? Mencermati Diskusi Antara Ust Firanda dengan Ust Lukman dan Ust Dzulqarnain Dalam Arena Dakwah Salafiyah di Tanah Air.


Sebelum ust Firanda (Insya Allah untuk seterusnya orang-orang yang saya kritik akan saya panggil dengan gelaran ustadz/ust.) turun gunung, kami memang belum menjumpai ada dai yang semodel ust Firanda ini yang begitu aktif berkicau mengenai hal-hal yang saya kira para pendahulunya sudah lelah dan sangat lelah dengan hal itu, terlebih yang dijadikan sasaran kicauan adalah dai-dai besar dan berpengaruh semisal ust Lukman Ba’abduh.

Saya kira hal ini terjadi mungkin saja karena adanya perputaran era. Artinya yang tua kini tinggal duduk manis dan menonton dan kini yang muda lah yang harus memiliki giliran untuk tampil di depan publik. Namun apapun itu, saya berikan satu jempol buat ust yang satu ini.

Hampir kebanyakan dai, lebih memilih bersikap cuek dengan apa (perselisihan) yang terjadi di antara mereka. Artinya yang Pro Rodja, Halabiyyun, dan istilah yang semacam itu (anggap saja istilahnya begitu meski tidak mutlak) nampak seperti kafilah yang terus berlalu meski anjing menggonggong. Sementara Eks Lasykar Jihad, Lukmaniyyun, Al-Makassari, dan istilah yang semacam itu (anggap saja istilahnya begitu, meski tidak mutlak) akan menggonggongi setiap kafilah yang berlalu di depan mereka.

Mohon ibarat ini jangan diartikan yang macam-macam. Ini hanya pengibaratan saja, saya tidak mengatakan Eks lasykar Jihad sama dengan anjing.

Atau bagi yang terganggu dengan pengibaratan ini saya kutipkan saja sebuah ayat dalam Al-Quran untuk menggambarkan perselisihan yang terjadi antara dai yang beda orientasi manhaj ini.

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil’.” (QS. Al-Qashash: 55).

Kutipan ayat ini tidalah bermaksud meletakkan dai-dai yang Pro Rodja sebagai golongan yang alim sementara Eks lasykar Jihad sebagai golongan yang jahil, atau sebaliknya.

Kutipan ayat ini hanya ingin menunjukkan bahwa betapa tidak manfaatnya “al-laghw” itu. Itulah yang menjadikannya saya kira harus ditinggalkan. Terlebih oleh orang Islam, sebab merekalah yang dibicarakan oleh ayat tersebut.

Kelahiran ust Firanda dari rahim Universitas Islam Madinah saat ini bisa dibilang sebagai qurratu a’yun (penyedap mata) dan angin segar bagi mereka yang selama ini jenuh dengan situasi dakwah salafiyah yang penuh dengan tahzir mentahzir di belakang layar dakwah salafiyah.

Apa-apa yang tadinya hanya dibahas dibelakang layar kini menjadi tontonan terbuka di depan umum. Alhamdulillah dengan adanya hal ini meski di satu sisi membuat awam salafiyyin kebingungan? Dan resah gelisah (namun saya kira mereka lama-kelamaan akan belajar dari hal ini dan memahaminya perlahan-lahan) namun di sisi yang lain, semua orang yang mendapatkan info setengah-setengah akhirnya dapat menimbang mana yang baik dan yang buruk untuk mereka ambil dan buang dari perselisihan ini. Bi-idzinillah tentunya.

Yang menarik dikata di sini adalah: Perjuangan seorang ust Firanda dalam mendakwahkan saudara-saudaranya yang gemar mentahdzir radio Rodja agar menghentikan tahzirannya. Tentu saja dakwahnya ini memiliki tahapan-tahapan yang harus ia lalui. Namun yang utama dari semua itu adalah terletak pada sosok yang bernama “Syaikh Rabi”. Sebab Syaikh yang satu ini sungguh menjadi langganan yang sangat laris manis bagi mereka yang bermanhaj tahzir menahzir.

Apa yang dilakukan ust Firanda saya kira tentu memiliki plus minusnya tersendiri, begitupun yang dilakukan oleh ust Lukman dan Ust Dzulqarnain.

Artinya tidaklah ada di antara mereka yang benar seluruhnya ataupun salah seluruhnya. Masing-masing mereka memiliki bobot kebenaran dan kekeliruan masing-masing, terlebih bila kita mau pro aktif mencarinya. Insya Allah akan ketemu, karena siapa yang banyak bicara maka banyak salahnya. Oleh karena itulah janganlah heran bila orang alim sedikit bicaranya.

Terlepas dari itu, sejujurnya saya merasa dialog lewat tulisan ini sangat sangat tidak efektif bila hal ini memang  diniatkan secara serius agar memiliki tujuan dan arah yang jelas sehingga apa-apa yang telah dimulai memiliki kesudahan yang jelas nantinya. 

Jangankan dialog lewat tulisan, lewat lisan saja terkadang seseorang yang sudah berada di sudut kesalahannya masih saja bisa berkelit dan kabur melarikan diri dengan pemikirannya. Terlebih bila ia tak mampu dibimbing oleh ilmu dan diluruskan oleh hidayah.

Lihat saja dialog yang terjadi antara Syaikh Albani dan fans berat Syaikh Rabi. Syaikh Albani melihat bahwa fans berat Syaikh Rabi ini membela pemikiran Syaikh Rabi dan tidak melihat satupun kesalahan Syaikh Rabi oleh karena itulah beliau menghukuminya sebagai pengekor Syaikh Rabi. Namun si fans ini terus saja berkelit, bahwa ia bukanlah pengekor Syaikh Rabi. Alhamdulillahnya Syaikh Albani adalah orang yang penyabar, beliau tak kenal lelah untuk membimbingnya hingga ia menemukan dirinya yang sebenarnya bahwa ia adalah pengekor Syaikh Rabi. Perhatikan dialog ini.

الشيخ: طيب، أنت الآن تتبنى رأي الدكتور، أو أسلوب الدكتور

[مقاطعة من السائل]: لا أنا ما أتبنى بس أريد..الشدة..
الشيخ: عفوًا أنت الآن كما يقولون عندنا في الشام: نصف الكلام ما عليه جواب!
فهل فهمتَ ماذا أعني بـ(أنت الآن)؟
فاصبر علي.
أنت الآن تتبنى أسلوب الدكتور الربيع. [مقاطعة]
اصبر علي..أعني: حينما تقول أنه لا شدة في أسلوبه؛ إذن أنت تتبنَّى هذا الأسلوب، كيف تقول: لا؟!
السائل: لأني أنا أنفي الشدة عنه! وأريد أن أرى الشدة أين هي؟!
الشيخ: سبحان الله! ما فيه فائدة من إعادة الكلام، إلا إذا لم يفهم بعضُنا بعضًا.
أنا فهمتُ الآن منك، لكن أنا أقول الآن: بناء على ما سمعتُ منكَ أنك تتبنَّى أسلوب الدكتور في ردِّه على سيد قطب وعلى الإخوان المسلمين وعلى كل المنحرِفين عن السنة، صحيح هذا الذي أقول؟
السائل: بلى..

Syaikh Albani: Baiklah kalau begitu, Anda sekarang ini mengekor pemikiran Pak Doktor Rabi atau metoda Pak Doktor?

Penanya: …… (Ada yang terputus dari ucapan si penanya) tidak . Saya tidak mengekori pemikirannya… saya hanya ingin bukti kekerasan beliau saja…

Syaikh Albani: Maaf, “Anda sekarang” sebagaimana yang orang-orang katakan: “Omongan/pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban!” Maka apakah Anda paham siapa yang saya maksud dengan “Anda sekarang”?. Mohon untuk tetap bersabar bersama saya. Anda sekarang mengekori metoda DR. Rabi…. (terputus) sekali lagi mohon untuk tetap bersabar bersama saya … maksud saya: ketika Anda katakan bahwasanya beliau tidak memiliki kekerasan atas metodanya, maka bukankah itu artinya anda ikut mengekori metodanya juga, bagaimana Anda bisa katakan: tidak!

Penanya: Karena saya menolak kekerasan yang dialamatkan padanya. Oleh karena itu saya ingin melihat kekerasannya, dan dimana letaknya?

Syaikh: Subhanallah! Tidak ada gunanya mengulang kembali ucapan, kecuali salah satu di antara kita ada yang belum paham. Sekarang saya sudah paham apa yang ingin Anda utarakan. Akan tetapi sekarang saya tanya kembali: Berdasarkan apa yang saya dengar dari Anda, seakan-akan Anda mengekori metoda DR Rabi dan bantahannya kepada Sayyid Quthb dan juga kepada ikhwanul muslimin dan kepada siapa saja yang menyimpang dari sunnah, apakah yang saya katakan ini benar?

Penanya: Benar!

Coba lihat tadinya ia tidak mengaku, akhirnya mengaku juga!

Apalagi bila menggunakan tulisan sebagai sarana dialog tersebut, celah untuk berkelit dan jalan keluar untuk melarikan diri dari kesalahan semakin banyak didapat dan dijumpai.

Dalam arena pemikiran ilmiah sebuah diskusi yang berdurasi dengan jatah waktu berbicara yang telah ditentukan dengan seorang moderator sebagai penengah memang menjadi sarana yang paling efektif dan ampuh untuk mengetahui siapa yang lurus dan menyimpang dalam hujjah-hujjahnya.

Usul ust Firanda untuk melakukan dialog terbuka dengan ust Lukman dan Dzulqarnain saya kira harus direspon secara positif bagi para penuntut ilmu yang benar-benar ingin mencari kebenaran. Karena kalau lewat tulisan semacam ini maka saya kira ini hanya membuat capek dan lelah (bagi yang merasa, yang tidak merasa silahkan dilanjutkan kembali) sebab ini adalah hutan liar yang dipenuhi kata-kata yang saya kira siapapun mampu untuk bersembunyi di balik kata-kata yang ia miliki agar auratnya bisa ia tutupi dengan baik.

Bahkan kalau mau lebih efektif lagi, mubahalah saya kira akan menjadi solusi paling efektif dari ini semua agar diketahui siapa yang benar-benar jujur dan dusta lisannya.

Namun di luar itu semua, tetap dialog masih lebih baik dari hantam-menghantam terlebih dengan cara-cara yang bersifat fisik, apalagi sampai membawa ke meja hijau. Masya Allah.

Menurut saya cara ini tidak benar, sebab kita adalah Ad-Da’i Ilallah (dai yang menyeru kepada Allah), bukan dai kepada manusia dan karena manusia. Perhatikanlah firman Allah berikut ini.

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

“Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.” (As-Sajdah: 25)

Hukum manusia di dunia belumlah tentu benar seandainya kitapun berhasil memenangkan perkaranya. Ini yang saya kira harus dihindari. Sebab manusia dengan hukum yang ada di depan matanya ia bisa saja memain-mainkannya sehingga yang benar menjadi nampak salah dan yang salah menjadi nampak benar. Makanya jauh-jauh hari Nabi sudah mewanti-wantikan hal ini, dalam salah satu sabdanya:

«إِنَّمَا أَنَا بِشْرٌ، وَأَنْتُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ، وَلَعَلَّ أَحَدَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ، فَأَقْضِي نَحْوَ مَا أَسْمَعُ مِنْهُ، فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِشَيْءٍ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ، فَلَا يَأْخُذَنَّ مِنْهُ شَيْئًا، فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ

“sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa. Aku akan memutuskan perkara dari persengketaan ini berdasarkan apa yang aku dengar dari kalian. Dan bisa jadi salah seorang dari kalian lebih lihai dalam berargumen daripada yang lain. Maka barangsiapa yang aku tetapkan baginya sesuatu hal yang sebenarnya itu adalah hak dari orang lain. Maka pada hakekatnya ketika itu aku telah menetapkan baginya sepotong api neraka‘”. (HR. Abu Ya’la dalam Musnadnya dengan sanad yang shahih)

Oleh karena itulah dalam dialog yang terjadi antara ust Firanda dan Ust Lukman serta ust Dzulqarnain, pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya esensial hendaknya itulah yang menjadi prioritas untuk dijawab terlebih dahulu agar permasalahan ini tidak semakin melebar dan mengambang. Sebab bila terlalu sibuk dengan permasalahan-permasalahan yang sifatnya sekunder, maka yang primerpun menjadi terlupakan.

Dan jadilah yang dicari dari ini semua adalah nikmatnya berdebat, bisa memenangi perkara/hujjah dan berhasil menjatuhkan lawan debat, bukan lagi terfokus pada pencarian akan hakikat kebenaran yang sesungguhnya.

Saya ambil dua contoh saja. Pertama: Mengenai permasalahan yayasan ihyaut Turats, di sana Syaikh Shalih Fauzan membolehkan mengambil dananya bahkan menyanjung yayasan tersebut.

Ust Firanda membawakan fakta tersebut berupa fatwa dari Syaikh Fauzan lengkap dengan sumbernya. 

Namun apa yang dibantah ust Dzulqarnain? Tidak ada! Ia malah menganggap Ust Firanda berdusta atas nama ulama dalam hal ini adalah Syaikh Shalih Fauzan. Padahal bukti sudah terang benderang di depan mata.

Luar biasa bukan!

Nampaknya puisi yang ia pakai sebagai senjata malah mengenai dirinya sendiri. Allahul Musta’an.

الحق شمس والعيون نواظرِ    لكنها تخفى على العميان

“Kebenaran adalah matahari, dan mata-mata bisa melihatnya

Akan tetapi matahari itu tertutupi terhadap orang-orang buta.”

Inilah yang saya sebut berkelit dan melarikan diri dan mencari pembahasan lain agar kabur dari permasalahn serius ini. Harusnya hal-hal yang seperti inilah yang menjadi prioritas tanggapan ust Dzulqarnain. Sebab kalau tidak begitu berlakukan sabda Nabi berikut:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” كفى بالمرء كذباً أن يتحدّث بكل ما سمع “

 Dari Abu hurairah radiallahu ‘anhu,sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta ketika dia menyampaikan setiap apa yang dia dengarkan.” (HR.Muslim dan Abu Dawud)

Begitupula ketika terjadi pertentangan antara Syaikh Rabi dengan Ibnu Taimiyyah, maka tak ada tanggapan apapun dari ust Lukman Ba’abduh. Ia malah menganggap bila membicarakan hal ini akan menjadi “informasi gratis” bagi musuh dakwah salafiyah dalam menjatuhkan kehormatan ulama. Bahkan berlaku sebaliknya orang-orang yang ingin menjatuhkan dakwah Syaikh Yahya dari kalangan takfiri, sufi dan syiah malah menjadikan kalam Syaikh Rabi untuk menjatuhkan Syaikh Yahya.

Saya kira hal ini tidak benar. Sebab kalau begitu untuk apa adanya kitab-kitab jarh kalau begitu? Perlu dicatat oleh Anda semua bahwa kehadiran kitab-kitab tersebut adalah menunjukkan bahwa tidak ada ulama yang boleh tertutupi dari kesalahan-kesalahannya dan kebaikan-kebaikannya sehingga berlaku padanya kaidah jarh wa ta’dil. Lantas kalau permasalahan ini dikaburkan maka dengan apa kita bisa menilai ulama kita?

Kalau ust Lukman khawatir dengan hal tersebut maka saya kira ini hanyalah dampak psikologis dari rasa ghuluwnya yang tak ia sadari terhadap Syaikh Rabi, atau dalam bahasa ust. Firandanya adalah: Syaikh Rabi telah dimaksumkan oleh jamaah tahdzir sehingga tak nampak kesalahannya sedikitpun.

Luar biasa bukan?

Bahkan kalau lebih jauh lagi, ust Lukman jelas bersikap mendua dengan standar gandanya. Ketika ia mendapati kritikan Syaikh Albani kepada Syaikh Rabi maka apa katanya,

Tentu kita semua sepakat bahwa,

– Penilaian asy-Syaikh al-Albani tersebut harus dinilai dan didudukkan secara ilmiah. Karena kita semua berkeyakinan sebagaimana asy-Syaikh Rabi’ tidak makshum – bisa benar bisa salah, boleh diterima dan boleh ditolak perkataannya – maka demikian pula ‘ulama lainnya, selama hal itu masih dalam koridor ilmiah bukan dengan ambisi menjatuhkan kredibilitasnya.

Namun ketika Ibnu Taimiyah dikritik oleh Syaikh Rabi, ust Lukman malah berkata:

Ketika dengan terpaksa, saya – atau para thalabatul ilmi  lainnya – menukilkan sebagian bantahan ‘ulama ahlus sunnah terhadap beberapa ijtihad kedua ‘ulama mulia tersebut, atau mungkin bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang dipandang salah, akan menjadi peluang emas bagi beragam ahlul bid’ah (khawarij, syi’ah, shufiyyah, dll) dan mendapatkan “informasi gratis” untuk menjatuhkan kredibilitas para ‘ulama tersebut demi menjauhkan umat islam dari tauhid dan sunnah serta ilmu-ilmu mereka.

Mengapa ia tidak berani mengatakan hal yang sama sebagaimana yang ia katakan saat membela Syaikh Rabi dari kritikan Syaikh Albani. Misalnya

Tentu kita semua sepakat bahwa,

– Penilaian asy-Syaikh Rabi tersebut harus dinilai dan didudukkan secara ilmiah. Karena kita semua berkeyakinan sebagaimana asy-Syaikh Albani tidak makshum – bisa benar bisa salah, boleh diterima dan boleh ditolak perkataannya – maka demikian pula ‘ulama lainnya, selama hal itu masih dalam koridor ilmiah bukan dengan ambisi menjatuhkan kredibilitasnya.

bukankah ini adalah sesuatu yang lucu? Sebab ust Lukman sangat tidak berani mendudukkan Syaikh Rabi secara ilmiah dan hanya berani mendudukkan Syaikh Albani secara ilmiah.

Rasa-rasanya dai kita yang satu ini hanya takut kepada Syaikh Rabi dan tidak ada rasa takutnya kepada Allah dalam hal menyampaikan kebenaran tanpa pandang bulu. Ia lebih takut manusia daripada takut kepada Allah.

Dan hal itu tercermin dari sikapnya yang hanya berani kepada orang mati (Syaikh Albani) dan kerdil dan penakut terhadap orang hidup (Syaikh Rabi).

Apakah ia takut, bila ia mengkritik Syaikh Rabi maka ia akan bernasib sama seperti Syaikh Yahya dan Syaikh Ali Hasan dan Syaikh-Syaikh yang lain?

Terlebih kalau mau ditimbang secara adil, harusnya Syaikh Rabilah yang lebih didudukkan secara ilmiah sebab Syaikh Rabi menentang Ibnu Taimiyah yang merupakan rujukan dari masa ke masa oleh segenap salafiyyun, sementara Syaikh Albani hanya menentang Syaikh Rabi yang hanya diikuti oleh segelintir manusia di masanya saja.

Semoga ucapan Syaikh Albani bahwa dakwah itu adalah untuk orang hidup (Syaikh Rabi) bukan untuk orang mati (Syaikh Albani) dapat menjadi suluh yang menerangi jalannya para penuntut ilmu dimanapun berada. Lihat kembali tulisan kami (bag 2)

الشيخ: والله -يا أستاذ-، أنا نرى أننا ننشغل بالأحياء دون الأموات خيرٌ لنا.
هذا أولًا.

Syaikh Albani: Demi Allah, Pak. Kita harus melihat bahwa kita memang harus disibukan dengan orang hidup bukan orang mati, bukankah itu lebih baik bagi kita?. Ini yang pertama.

فنحن حينما نقول أن ننشغل بالأحياء دون الأموات يكفينا

Adapun kami ketika mengatakan bahwa kita memang harus disibukan dengan orang hidup bukan orang mati maka itu sudah cukup bagi kami.

Dengan demikian kita dapat mengetahui bahwa dalam pandangan ust Lukman bahwa membantah kekeliruan orang yang telah mati lebih mulia daripada membantah orang yang masih hidup.

Ini saja dari saya semoga bisa diambil faidahnya. Amin.

Wallahu a’lam bish-Shawwab.

30 thoughts on “Akan Kemana Dialog Ini menuju? Mencermati Diskusi Antara Ust Firanda dengan Ust Lukman dan Ust Dzulqarnain Dalam Arena Dakwah Salafiyah di Tanah Air.”

  1. akhirnya ana tahu siapa para dai yang tidak jujur melalui web ini. syukron ya ustadz. lanjutkan terus, ana menanti

  2. Ustadz Lukman Ba’abduh-lah yang perlu didudukkan! (mengingat dahsyatnya perpecahan yang terjadi di Yaman negeri tempatnya menuntut ilmu dan di Indonesia negeri asalnya)

  3. Bismillah,
    Saat membaca sebuah artikel yang menyajikan pernyataan-pernyataan paradoks, sungguh membuat geli dan sedikit membuat dahi menyerengit. Pertanyaanya: “ apa sih maksud menulis pernyataan begitu?”

    Jika paradoks digunakan sebagai gaya tutur dalam penulisan, itu sudah biasa karena penulis mungkin akan lebih mudah menyampaikan maksud tulisannya dengan cara begitu. Contoh gaya tutur dengan majas paradoks, “Walapun hatinya panas namun kepalanya harus tetap dingin agar masalah ini bisa terselesaikan dengan benar dan tidak melebar kemana-mana”. Kalimat diatas sangat indah sebagai penggambaran dua hal yang berlawan tapi korelasinya benar.

    Tapi coba perhatikan contoh paradok dalam sebuah pernyataan:
    1. ”Hampir kebanyakan dai, lebih memilih bersikap cuek dengan apa (perselisihan) yang terjadi di antara mereka…..
    2. Atau bagi yang terganggu dengan pengibaratan ini saya kutipkan saja sebuah ayat dalam Al-Quran untuk menggambarkan perselisihan yang terjadi antara dai yang beda orientasi manhaj ini. “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil’.(QS. Al-Qashash: 55).”

    Kalimat tsb menampilkan dua gagasan, yang satu mengundang keheranan dan yg ke-dua memberikan kebenaran yang tidak bisa dibantah.

    Pertanyaan, kenapa gaya begini dipakai saat menyampaikan pernyataan? Bukankah hal ini hanya menjadi mubazir? Jika kenyataan kedua benar, kenapa harus ‘sinis’ menggiring pembaca berasumsi negativ dengan menampilkan penyataan pertama? Ataukah ini hanya strategi agar halaman terlihat lebih padat dan panjang? Hehehehe…

    Dan saya perhatikan, bukan di artikel ini saja gaya paradoks dalam pernyataan di pertontonkan.

    Wallohu a’lam

    1. Hebat, masih tetap di sini. saya kira sudah mencari pelabuhan lain untuk bertepi.
      Ini hanya masalah seni menulis saja. Tidak ada maksud lain selain itu.
      Bicara paradoks yang sesungguhnya, saya pikir, itu justru akan anda temukan dalam setiap tulisan yang berasal dari firqah Lukmaniyah. Satu contoh saja biar Anda paham.
      Blog http://www.tukpencarialhaq.com memposting sebuah tulisan dengan judul: Salahkah Membantah Orang-Orang Yang Menyimpang?!
      Mereka gunakan tulisan ini untuk membabat para dai yang tak sejalan dengan mereka yang mereka anggap menyimpang, namun mereka tidak terima bila ada para dai lain yang membabat mereka karena penyimpangan mereka dengan tulisan ini, padahal sama-sama membantah orang yang menyimpang, sebuah paradoks bukan?

      1. Ustadz,
        Pada comen yg lalu saya katakan: “Sekali lagi tadz, lanjutkan saja…… dan insya Alloh ana tidak meninggalkannya”.
        Ustadz malah menulis: “Hebat, masih tetap di sini. saya kira sudah mencari pelabuhan lain untuk bertepi”

        Saat saya menulis: “Jika paradoks digunakan sebagai gaya tutur dalam penulisan, itu sudah biasa karena penulis mungkin akan lebih mudah”. Ustadz malah menjawab dengan: “Ini hanya masalah seni menulis saja. Tidak ada maksud lain selain itu”.

        Yang lebih ironi lagi ketika ustadz menulis: “Bicara paradoks yang sesungguhnya, saya pikir, itu justru akan anda temukan dalam setiap tulisan yang berasal dari firqah Lukmaniyah”. Padahal tulisan yang berasal dari firqoh itu bukan lagi paradoks, melainkan pola berpikir ber-standard ganda yang tidak malu mereka mainkan.

        Ya ustadz,
        (Menukil nasihat syaikh albani), ‘cobalah bersabar bersama saya‘ dan tidak terburu-buru. Jika saya masih disini, ya…karena saya sudah janji tidak meninggalkan blog ini. Jika saya bilang ‘gaya tutur dalam penulisan adalah hal biasa’ maka pasti karena saya menyetujui itu bagian dari seni menulis. Tolong jangan ‘melupakan’ perkataan yg lalu dari lawan bicara antum.

        So, yang saya ingin saya sampaikan adalah, banyak kalimat dalam tulisan antum menjadi mubazir karena memakai ‘paradoks dalam pernyataan’. Sekali lagi ini beda ya tadz….. Jika paradoks dalam gaya tutur penulisan bisa memper-indah sebuah kalimat –dan ini seni menulis yg saya tidak menolaknya-. Sedangkan ‘paradok dalam pernyataan’ adalah sebuah “kemunafikan” seorang penulis. Disatu sisi ia memaklumi orang yang dia jadikan bahan tulisan tapi disisi lain dia mencibirinya.

        Saat antum menulis, ” Hampir kebanyakan dai, lebih memilih bersikap cuek dengan apa (perselisihan) yang terjadi di antara mereka…” . Maka yang terbayang oleh pembaca, bahwa Ust. Abdul Hakim, Ust. Yazid, Ust. Zaenal abidin, Ust. Abu Haidar. Ust. Abu Qotadah, Ust. Rofiq, dan lain-lain, hingga Ust. Badrussalam, mereka semua dai-dai yang ceuk dan tidak peduli dengan perselisihan yang terjadi. Sementara hanya Ust. Firanda, Ust. Abdullah taslim dan akh Abu Salma yang patut diacungi jempol karena melayani bantahan.

        Tapi beberapa detik kemudian, antum guyur panasnya pernyataan tsb dan menghujaninya dengan pernyataan kebalikannya sambil menukil surat al qoshosh:55.

        “Tuh kan tahu bahwa para asatizd tidak melayani lukmaniyun karena mereka tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil (dalam bermanhaj)? Lalu kenapa antum awali dengan pernyataan bahwa para asatidz CUEK?.”

        Ini yang saya sebut ‘paradoks dalam pernyataan’. Atau ini antum kategorikan seni dalam menulis?

      2. Ustadz,
        Pada comen yg lalu saya katakan: “Sekali lagi tadz, lanjutkan saja…… dan insya Alloh ana tidak meninggalkannya”.
        Ustadz malah menulis: “Hebat, masih tetap di sini. saya kira sudah mencari pelabuhan lain untuk bertepi”

        Itu karena Antum tak menanggapi koment ana, ana pikir antum kabur.

        Saat saya menulis: “Jika paradoks digunakan sebagai gaya tutur dalam penulisan, itu sudah biasa karena penulis mungkin akan lebih mudah”. Ustadz malah menjawab dengan: “Ini hanya masalah seni menulis saja. Tidak ada maksud lain selain itu”.

        no comment. Ana ga paham maksud antum ini?

        Yang lebih ironi lagi ketika ustadz menulis: “Bicara paradoks yang sesungguhnya, saya pikir, itu justru akan anda temukan dalam setiap tulisan yang berasal dari firqah Lukmaniyah”. Padahal tulisan yang berasal dari firqoh itu bukan lagi paradoks, melainkan pola berpikir ber-standard ganda yang tidak malu mereka mainkan.

        setahu saya yang disebut paradoks itu, tidak hanya sebatas yang antum contohkan semata.

        “Walapun hatinya panas namun kepalanya harus tetap dingin agar masalah ini bisa terselesaikan dengan benar dan tidak melebar kemana-mana”

        bahkan saya malah tidak melihat adanya paradoks di sini, karena pada akhirnya masalah tsb dapat di atasi. Artinya panasnya kepala yang berlawanan dengan dinginnya hati menjadi tidak paradoks kala permasalahan itu dapat diatasi. Bahkan panasnya kepala menjadi sesuatu yang mubazir kalau permasalahan sendiri dapat di atasi dengan hati yang dingin. Seperti orang yang ingin membakar sampah namun ia sendiri tahu bahwa hujan deras akan turun. Lalu apa artinya ia membakar sampah kalau saat apinya menyala sudah padam duluan oleh air hujan.

        Dan setahu saya lagi yang namanya paradoks itu tidak ada penyelesaiannya, ia tetap mengambang dalam bentuknya tersendiri. coba antum google lagi tentang apa itu paradoks, terutama yang namanya “liar paradoks” (english term). Ana kasih contoh paradoks terbesar umat Islam, “semua umat Islam yang berdosa mau masuk syurga, namun sayangnya mereka tidak mau mati (titik)” Inilah paradoks! Tetap ngambang. Mau masuk syurga tapi tidak mau mati, padahal untuk masuk surga haruslah mati dulu. Adapun yang mati di antara mereka bukanlah karena kehendak mereka tapi karena ajal.

        Intinya kalau dikaitkan dengan pernyataan: Salahkah Membantah Orang-Orang Yang Menyimpang?! Maka kalau antum re-find ini dalam kajian paradoks maka saya menemukan penyataan ini berada dalam lingkaran “liar paradoks” atau paradoks pembohong. Dimana si pengucap mengatakan sebuah ucapan yang benar namun malah membantah/menyelisihi dirinya sendiri yang tidak benar dalam kebenarannya, atau dalam bahasa saya: bohong dalam kejujuran/jujur dalam kebohongan.
        Mereka jujur dalam kebohongannya, yaitu kala mereka mendapati bahwa mereka juga ternyata orang-orang yang menyimpang sebagaimana yang tergambar dalam tulisan tersebut.
        Mereka bohong dalam kejujurannya, yaitu kala mereka mendapati bahwa mereka tidak mau mengakui (berbohong) bahwa mereka bukanlah orang-orang yang menyimpang padahal bukti-bukti yang terdapat dalam tulisan tersebut semuanya mengarah pada penyimpangan mereka. (kejujuran)
        Atau kalau Antum tidak terima dengan contoh saya ini yang antum anggap sebagai standar ganda. Maka coba antum pelajari tentang “Epimenides paradox” yang mengatakan “All Cretans are liars” atau dalam bhs Indo: “Epimenides si orang Kreta mengatakan bahwa semua orang Kreta adalah pembohong”. Inilah yang saya jadikan rujukan saya tentang paradoks.

        Adapun standar ganda, mungkin contohnya seperti Amerika. Mereka menginginkan negara2 kaum muslimin agar menerapkan sistim demokrasi dalam negara mereka terutama dalam hal pemilu agar tokoh2 yang didukung amerika dapat menjadi pemimpin negara. Namun ketika ada negara kaum muslimin menerapkan pemilu dan ternyata hasilnya tokoh yang didukung oleh mereka kalah, dan yang menang adalah tokoh Islam, maka menjadi murkalah mereka terhadap demokrasi dan pemilu. Contoh besarnya bisa antum lihat pada kasus presiden mursi di Mesir.

        Memang sih rada2 mirip antara paradoks dan standar ganda bagi yang kesulitan membedakannya. Ini hanya pendapat saya. dan saya kira kan selalu terbuka pintunya untuk dimasuki kritikan dan bantahan. Silahkan ana terus membuka pintu bg tamu yang masuk.

        dan ucapan Antum:

        Sedangkan ‘paradok dalam pernyataan’ adalah sebuah “kemunafikan” seorang penulis. Disatu sisi ia memaklumi orang yang dia jadikan bahan tulisan tapi disisi lain dia mencibirinya.

        Menurut saya statement antum ini justru menggambarkan tentang blog pencarialhaq yang mengumbar penyataan: Salahkah Membantah Orang-Orang Yang Menyimpang?!

        Lucu juga, satu sisi antum tidak akui ini sebagai paradoks tapi di sisi yang lain antum memakluminya dan mencibirnya seperti yang antum katakan.

        Padahal tulisan yang berasal dari firqoh itu bukan lagi paradoks, melainkan pola berpikir ber-standard ganda yang tidak malu mereka mainkan.

        Antum melarang bermain paradoks tetapi antum malah tidak sadar bahwa antum sedang bermain paradoks.

        Tapi beberapa detik kemudian, antum guyur panasnya pernyataan tsb dan menghujaninya dengan pernyataan kebalikannya sambil menukil surat al qoshosh:55.

        “Tuh kan tahu bahwa para asatizd tidak melayani lukmaniyun karena mereka tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil (dalam bermanhaj)? Lalu kenapa antum awali dengan pernyataan bahwa para asatidz CUEK?.”

        Ana ngga memparadoksnya, justru antum sendirilah yang memparadoksisasinya. Lihat saja, apakah orang yang tidak ingin bergaul dengan orang jahil itu cuek atau tidak? perhatikan kata2 dalam surat itu, “bagi kami amal kami dan bagi kalian amal kalian” Setelah itu sudah. Mereka sudah tidak lagi peduli dengan orang-orang jahil tersebut karena sudah difinishkan dengan penyataan tersebut.
        Sementara ust Firanda, tidak berlaku baginya penyataan ini. Ia terus mendebat orang jahil (katakanlah begitu, meskipun belum tentu demikian adanya), ia ingin “amal kami dan amal kalian itu disatukan”, padahal para pendahulunya yang sudah capek berdebat sudah berkata: “bagi kami amal kami dan bagi kalian amal kalian” (titik). Kalian urus diri kalian sendiri dan kami urus diri kami sendiri, semantara ust firanda tidak begituh. Ia ingin amal yang lain menjadi amalnya juga. Atau dalam bahasa tegasnya “ikutilah pendapat Firanda tentang radio Rodja jangan ikuti pendapat Syaikh Rabi!” Inilah yang saya kira membuat ust Firanda jadi seperti ini.

        Jadi, ala kulli hal pintu saya selalu terbuka bagi siapa saja. Wallahu a’lam

    1. Antum lebih-lebih lagi. Antum baru saja berkata:

      Siapa admin blog ini? Majhul, berkata tanpa ilmu.

      Lantas mana ilmunya? Kok ana ngga mendapatkan faidah apa2. Smiley
      Untuk Antum tahu, tidak sedikit para dai di luar sana, mereka ma’lum secara fisik hanya karena mengaku murid ulama fulan dan fulan namun majhul dalam ilmu, tapi di luar itu ada juga dai yang majhul secara fisik namun ma’lum secara ilmu.

      Intinya, kalau Antum menemukan secarik kertas di tengah jalan yang bertuliskan: “Katakanlah Allah itu Esa!” apakah informasi dalam kertas ini harus antum buang atau tidak, hanya karena antum tidak tahu siapa yang menulisnya?

      Apa yang ana sampaikan di tulisan ini insya Allah adalah hal-hal yang ma’ruf dan ma’lum serta diketahui banyak orang, bukan sesuatu yang tersembunyi yang dengannya ana menipu banyak manusia. Mohon disadari, sayang akal antum kalau tidak dipakai untuk berpikir yang benar. Smiley

      Lain halnya lagi kalau Antum menemukan secarik kertas di tengah jalan yang bertuliskan: “Katakanlah Allah itu Banyak dan memiliki sekutu!” tentu tanpa antum perlu cari tahu siapa penulisnya antum sudah pasti akan membuang tulisan tersebut!, ya ngga?

      1. Maaf…… anda mengatakan diatas untuk menyarankan agar terjadi mubahalah dimana agar mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah…… coba bawakan dalil yang mengatakan bahwa mubahalah ditujukan kepada sesama muslim, agar mengetahui mana yang benar dan mana yang salah…… sekalian anda bawakan fatwa ulama dari zaman ke zaman apakah ada yang menawarkan mubahalah sebagai solusi atas perselisihan antar muslim, khususnya ahlussunnah

        Lalu apakah anda ulama karena banyak sekali saya temukan bahwa tulisan anda berkata bahwa “saya pikir……” begini dan begitu… jika bukan maka bawakan perkataan ulama yang mendukung pemikiran anda

        Terima kasih

  4. @Abdullah bin Adam
    Sudahlah jangan membohongi diri sendiri gitulah, blog dammajhabibah adalah blog yang para penulisnya majhul

  5. Subhanalloh… Penyejuk ditenggah dahaga. Jika admin berkenan tlg referensikan kpd saya(via e mail) majelis ilmu sekitar jabodetabek yang bisa saya hadiri

    1. Hendaklah seorang thalib itu mengetahui kadar dirinya terlebih dahulu lalu mengkondisikan dirinya dengan ilmu di sekelilingnya agar ia bisa memilih mana yang penting dan pertama kali untuk ia pelajari.
      Dan hendaklah ia belajar dulu tentang tauhid, karena itu adalah asas utama agama ini dan jangan menyibukkan diri dengan perkara semacam ini kecuali sebagai selingan belaka.
      Karena kalau ia menghabiskan kosentrasinya untuk hal-hal furu’iyah semacam ini maka hal-hal yang bersifat ushuliyah akan batal darinya, dan ia akan mulai malas mendalami tauhid, dll.

      Saran ana, hadirilah kajian salafi yang bersifat keilmuan di manapun itu, selagi itu ilmu maka jangan disia-siakan. Toh yang antum cari adalah ilmu, ya ngga? bila terjadi kritik/jarh di sana maka diamkan saja dan ambilah ilmunya saja. Insya Allah bermanfaat.

      Buih (furuiyyah) memang mengindahkan laut (ushul)
      Semua mata yang melihatnya pasti kan terpana
      seakan laut tak pernah ada dalam batas pandangan
      sesekali kedipkanlah mata agar tahu bahwa buih
      tak selamanya selalu muncul di laut yang tenang.

      was

  6. “Darimana dana/uang kamu dapatkan dan kemana dibelanjakan” (alHadits).
    Dan peribahasa:Anjing itu akan nurut sama yg kasih makan!
    Maka hati2 mengambil dana karena ada pengaruhnya secara tersirat (rasa manusiawi/hewani) dan kelangsungan mendapat huda/petunjuk Alloh Ta’ala.
    Maka kalau tahdzir radio/tv rodja karena dana dari yayasan atturots (padahal yys atturots sudah ditahdzir ulama), tetapi sekarang rodja berani bersumpah (Wallohi), jujur (tidak munafiq) sudah tidak lagi ambil dana dari yys atturots, maka TAHDZIR kepada rodja cs menjadi GUGUR TIDAK BERLAKU.
    Hargai taubat seorang Muslimin (rodja cs)!
    Tapi mungkin Adakah tahdzir untuk masalah yang lain? Adakah ikhwan fillah yang tahu? Tolong beritahu secara jujur ikhlas Lillah dan jelas/gamblang dan jauhkan rasa hasad/iri/dengki rasa fanatik hidzbi (asobiyah) biar tidak berlarut2 perpecahan ini.
    Kita semua harus bersikap luas (jangan sempit) dan lembut berkasihsayang, berusaha berlapang dada (sesuai nasihat para Masyaikh) untuk masalah fitnah pergeseran manhaj sesama ahlussunnah ini karena bukan masalah pokok (atTauhid).
    Wallohu a’lam

  7. Subhanalloh ustadz, sy gembira menemukan blog ini, skrg org awam spt sy disuguhi tontonan para da’i saling hajr.. alhamdulillah bs ktm dg blog antum yg objektif.. sy sgt senang jika bisa dikirim via email u update tulisan antum, jazakallohu khoir

  8. Alhamdulillah semakin trbuka lagi wawasan ana, baru malam ini ana buka blog antum, ana sering ikut kajian dari ustad yang “seblok” dengan ust.Luqman dkk, tapi InsyaAllah ana masuk ke dalam golongan yang ber-tabayyun dulu, walopun ana sering ngaji ke “sana” tapi ana tetap mengambil sikap “diam” dalam rangka kehati-hatian dan miskinnya informasi yang valid, ana pun juga bberapa kali ikut kajian ditempat yang lain tapi buka nberarti ana “bunglon” semata-mata mencari ilmu, teruskan usaha antum untuk berdakwah dan istiqomah selaras dengan sasaran web antum

  9. Terkadang sy pun heran dengan orang yang bingung, begitu pun sy bingung dengan orang yang heran.. Jadi apakah sy harus bingung dan heran, sementara heran dan bingung ada di sy.. Semoga aja blog ini menjawab keheranan dan kebingungan sy, agar sy bisa menilai siapa yang bingung dan siapa yang heran… Wallohua’lam.

  10. Semoga Allah menolongku dengan bashirah
    darimanapun dan melalui siapapun, untuk menemukan kebenaran.
    Allahul musta’an.

  11. Admin, tolong hentikan dan tutup (non aktifkan) fasilitas comment & reply pada blog ini.

    Fasilitas comment dan reply hanya memberikan ruang untuk “berdebat” yang menghasilkan “kekerasan qalbu”….

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ،
    “Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat”. (HR. Muslim 55/95)

    Yang dimaksud dengan nasehat adalah menghendaki kebaikan. Jadi bukan tujuannya menunjukan kehebatan berdalil dan menang dalam berdebat.

  12. Baru-baru ini diinformasikan oleh Syaikh Abdul Hadi kalau Syaikh Robi’ mengatakan ust Dzulqarnain dan kawan-kawannya adalah orang-orang yang terlibat WIHDATUL ADYAAN (penyatuan agama-agama). Syaikh Robi’ mendapat masukan seperti ini dari luqmaniyyun sehingga muncullah tahdzir tersebut. Coba lihat sini lebih lengkapnya : http://pelita-sunnah.blogspot.com/2015/01/ulama-pun-dikibuli-oleh-luqmaniyun.html . Munculnya tuduhan “widyatul adyan” ini persis seperti tuduhan kepada Ja’far Umar Thalib dulu dimana dia dituduh memiliki kemampuan sihir bayan ( https://downloaddakwahsalafy.wordpress.com/2012/03/11/klarifikasi-01-pertemuan-dengan-ustadz-jafar-di-semarang/ ) , banyak yang mengatakan bahwa jangan-jangan ini juga merupakan balasan makar dari Allah dimana dulu mereka membuat makar dan tuduhan palsu terhadap Ja’far Umar Thalib … allahulmusta’an..

Comments are closed.