2. Mengkaji Sastra Melalui Medium Agama: Bagaimana Membaca Nalar Sastra Sayyid Quthb? Upaya Meletakan Sebuah Vonis yang Tercecer Pada Tempatnya Semula. (Bantahan Atas Syaikh Rabi dan Lukman Ba’abduh. Bag 3)

Membaca nash agama dengan menggunakan kacamata sastra mungkin itu sudah biasa, dan sudah banyak orang yang melakukannya, dulu dan sekarang, termasuk Ibn Arabi dalam Al-Futuhat Al-Makiyyah dan Sayyid Quthb sendiri dalam Magnum Opusnya, Fi Zhilalil Quran.

Dan hampir kebanyakan mereka semua divonis sesat dan kafir oleh para ulama Ahlussunnah disebabkan istilah-istilah rancu yang mereka keluarkan dari hasil ekstraksi mereka terhadap nash-nash tersebut. Kebanyakan mereka berasal dari kalangan Sastrawan, Sufi, Kebatinan dan Filsuf.

Adapun membaca/mengoreksi kembali karya sastra yang telah “bersentuhan” dengan nash agama tadi dengan kacamata agama itu sendiri, ini juga sudah banyak dilakukan oleh kebanyakan ulama Ahlussunnah dalam menjaga kemurnian Islam dari tercampurnya ia bersama paham-paham di luar dirinya. Seperti Ibnu Taimiyah yang membantah percikan-percikan pemikiran Ibn Arabi dalam kitabnya Majmu Rasa`il wal Masa`il salah satunya adalah: Risalah fi Radd Ala Ibni Arabi fi Da’wa Iman wa Firaun, dan dalam kitab-kitabnya yang lain meski secara tidak khusus, karena selain Ibnu Arabi ada juga tokoh lain yang ia bantah dan juga pada hari ini, Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dalam membantah pemikiran Sayyid Quthb secara khusus melalui kitabnya Adhwa` Islamiyyah Ala Aqidah Sayyid QuthbAl-‘Awashim mimma fii Kutubi Sayyid Quthb minal Qawashim dan yang terakhir Al-Haddul Fashil bainal Haq wal Bathil hiwar ma’a Bakr Abi Zaid.

Saya sendiri sebenarnya merasa agak berat hati menulis tentang ini, karena khawatir akan memancing anggapan dari kalangan awwam bahwa tulisan ini akan menabrak kelurusan keyakinan Ahlussunnah yang sudah ada, padahal apa yang saya tulis ini sama sekali tidak dalam konteks yang demikian. Oleh karena itulah mohon untuk tidak disalahpahami, apalagi dianggap memiliki tujuan ke arah sana…

melainkan ini semua semata-mata untuk menerangi apa yang gelap sehingga bisa kita lihat hakikat yang sebenarnya dari apa yang ingin kita ketahui. Atau kalau boleh mengutip bahasa Syaikh Albani dalam tulisan saya terdahulu:

ولذلك نحن لا نريد أن نتعصَّب لأشخاص، ولا على أشخاص؛ يعني: لا نريد أن نتعصب لزيد ولا على زيد، لا نريد أن نتعصب (لأخونا) الربيع لأن الحق معه، ولا نريد أن نتعصب على سيد قطب لأن البطل والخطأ معه.
نريد أن نكون بين ذلك، “سددوا وقاربوا

Oleh karena itu, kami tidak menginginkan membela person-person tertentu secara membabi buta, tidak pula membenci person-person tertentu dengan membabi buta pula, yakni kami tidak ingin membabi buta membela Zaid ataupun membencinya dengan membabi buta pula, kami tidak ingin membela saudara kami Rabi secara membabi buta meski kebenaran bersamanya dan kami juga kami juga tidak ingin menghantam Sayyid Quthb secara membabi buta meski kebatilan dan kesalahan ada padanya. Yang kami inginkan hanyalah pertengahan di antara keduanya, yaitu membenarkan dan saling mendekatkan.

Inti dari ucapan Syaikh Albani ini adalah: Menjadi salafy tidaklah harus dinilai dari ta’ashub gilanya pada ulama di zamannya sebagai konsistensi kesetiannya kepada ajaran Nabi hanya karena ulama tersebut dianggap sebagai satu-satunya pewaris Nabi. Contohnya Syaikh Albani di atas. Ia tidak gila-gilaan membela Syaikh Rabi meski ia benar dalam satu konteks dan juga tidak gila-gilaan membenci dan menghantam Sayyid Quthb hanya karena ia bersalah dalam satu konteks seperti yang dilakukan Syaikh Rabi dan para penjilat Syaikh Rabi.

Karena kalau sudah keluar dari konteks tadi maka akan menjadi lemahlah dakwah ini oleh serangan virus jahat yang bernama “ghuluw”, saat Syaikh Rabi terjatuh dalam kesalahan maka cinta buta kita tadi akan menghalangi kita untuk meluruskan Syaikh Rabi, mendiamkannya seolah tidak terjadi apa-apa bahkan akan terus membelanya mati-matian betapapun kelirunya beliau.

Begitupula dengan Sayyid Quthb benci buta kita tadi akan terus menghantamanya dengan hajar/boikot, dll tanpa mau mendakwahinya ke jalan yang benar. Dan tentu saja ini semua akan menciderai makna dakwah itu sendiri.

 يسِّروا ولا تعسِّروا، وبشِّروا ولا تنفِّروا

Mudahkanlah dan jangan dibuat berat sama sekali. Buatlah senang dan gembira dan jangan membuat orang lari. (Bukhari Muslim)

Tapi betapapun itu, ada satu alasan yang membuat saya mau mengawali tulisan ini, dan itu adalah Rasulullah…

Penting menjadi catatan di sini, bahwa ketika menulis ini saya bukan sama sekali ingin meruntuhkan tonggak perjuangan para ulama terdahulu dalam membela sunnah dan memberantas penyimpangan pemikiran ahlul bid’ah, karena… namanya manusia tidak mungkin ia akan benar terus menerus, ataupun tidak mungkin akan akan salah terus menerus… semua jelas memiliki momentnya masing-masing karena terikatnya ia dengan kemanusiannya sebagaimana sabda Nabi yang terkenal,

“Setiap anak Adam tak ada yang bisa lepas dari kesalahan, dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertobat.”

Dan saya sendiri sangat tidak meyakini tulisan atau bantahan saya ini benar 100% sehingga haram dikritik. Saya persilahkan secara terbuka bagi siapa saja yang ingin mengkritiknya dalam rangka nasihat dan pengamalannya atas hadits Nabi:

“Agama ini adalah nasihat”

maka kritiklah saya. Bila Anda kesulitan berbudi pekerti yang luhur dalam berkata-kata yang lembut dalam kritikan Anda maka kritiklah dengan gaya yang biasa Anda lakukan, tak mengapa kami telah terbiasa dengan ragam karakter manusia sejauh ini. Karena yang kami lihat dari Anda adalah kebenaran yang Anda bawa, bila benar maka itu adalah hak kami untuk menerimanya namun bila keliru maka tak mengapa anggap saja itu bagian dari pembelajaran bagi siapa saja yang ingin mengambil dan menjadikannya sebagai pelajaran.

Manusia adalah tempatnya salah dan akan menjadi sangat aneh bila ia menolak kesalahan. Lain halnya mungkin dengan blog tukpencarialhaq.com (Purwito), Lukman Ba’abduh dkk, ataupun Syaikh Rabi…

Kita kembali pada inti persoalan. Bila kita memperlakukan teks-teks sastra sayyid Quthb sebagai teks agama pada umumnya, atau menyeretnya keluar dari rumahnya sendiri atau habitatnya dan menempatkannya pada habitat yang bukan habitatnya yang sebenarnya maka tidak akan ada yang akan kita temukan darinya selain kesesatan dan penyimpangan semata sebagaimana yang dilakukan/dilihat oleh ulama-ulama terdahulu dan yang dilakukan/dilihat Syaikh Rabi hari ini dalam kitabnya di atas Adhwa` Islamiyyah Ala Aqidah Sayyid Quthb, Al-‘Awashim mimma fii Kutubi Sayyid Quthb minal Qawashim dan yang terakhir Al-Haddul Fashil bainal Haq wal Bathil hiwar ma’a Bakr Abi Zaid.

Pertanyaannya adalah: mengapa hal itu bisa terjadi?

Jawabnya, tentu saja karena adanya orientasi yang berbeda di antara keduanya; teks agama berorientasi kepada hal-hal yang lahir/nampak sementara sastra lebih banyak berorientasi kepada hal-hal yang bersifat batin/tidak kasat mata.

Contoh: “Air hujan turun dari langit” (orientasi agama) dengan “Langit sedang menangis haru.” (orientasi sastra)

Orang-orang tentu akan merasa heran dengan ungkapan: “Langit sedang menangis haru”, bagaimana bisa langit menangis sementara ia tidak memiliki mata? Orang yang tidak bersabar tentu saja akan menganggap ini sebagai penyimpangan keyakinan dan kesesatan.

Sebenarnya bukan dalam konteks ini saja saya kira, segala sesuatu yang tidak diletakkan pada tempatnya jelas akan salah dan keliru. Seperti Nashr Hamid Abu Zaid (sekarang telah meninggal dunia), seorang sastrawan Mesir yang dikafirkan oleh ulama Mesir kala ia memperlakukan/meletakkan Al-Quran sebagai “karya sastra” (bukan sebagai kitab suci) maka apa yang ia katakan dalam penelitiannya/bukunya yang berjudul Mafhum An-Nash?

Ia menyebut Al-Quran adalah hasil/produk budaya (intaj tsaqafi), dan tentu saja maknanya adalah Al-Quran adalah ciptaan/karangan manusia (Muhammad). Hal inilah yang memicu para ulama Mesir mengkafirkannya dan mengusirnya dari Mesir. Dst.

Mungkin untuk gambaran awal saya berikan kepada pembaca contoh sederhana mengenai betapa peliknya sastra (yang tersirat) dan agama (yang tersurat) ketika bertemu. Untuk itu saya bawakan kepada Anda sebuah hadits…

Hadits ini memang palsu, sering dipakai syiah dalam buku-bukunya sebagai media propaganda untuk menjatuhkan kredibilitas Umar bin Khattab dan meninggikan kedudukan Imam Ali.

Kenapa saya memilih hadits ini, terlebih ini adalah hadits palsu?

Karena hadits ini mengandung konten pembicaraan yang batin (tersirat) dan lahir (tersurat) dalam bahasa sehari-hari yang menurut saya lebih mengena dan mudah untuk menjelaskan bagaimana konsep perbedaan orientasi sastra dan agama ketika bertemu sebagai bahan pembelajaran bagi mereka yang suka menebar vonis jahat di tengah-tengah manusia.

Dan saya sudah berpikir keras sekali sebelum memposting hadits ini di sini, karena tiadanya konten yang menyimpang dari hadits ini (sebab memiliki penjelas/syahid) maka saya beranikan diri untuk mempostingnya sebagai bahan pembelajaran dalam melihat disorientasi antara sastra dan agama.

دخل حذيفة بن اليمان على عمر بن الخطاب فسأله: كيف أصبحت يا حذيفة؟ فأجاب حذيفة: أصبحت أحب الفتنة, وأكره الحق, وأصلي بغير وضوء, ولي في الأرض ما ليس لله في السماء, فغضب عمر غضباً شديداً, وولى وجهه عنه, واتفق أن دخل على بن أبى طالب, فرآه على تلك الحال, فسأله عن السبب, فذكر له ما قاله ابن اليمان, فقال علي: لقد صدقك فيما قال يا عمر, فقال عمر: وكيف ذلك؟ قال علي: إنه يحب الفتنة لقوله تعالى: {إنما أموالكم وأولادكم فتنة} فهو يحب أمواله وأولاده, ويكره الحق بمعنى الموت, لقوله تعالى: {واعبد ربك حتى يأتيك اليقين}, ويصلي بغير وضوء, يعني أنه يصلي على محمد صلى الله عليه وسلم, ومعنى أن له في الأرض ما ليس لله في السماء, يعنى أن له زوجة وأولاداً, والله تعالى هو الواحد الأحد, الفرد الصمد, الذي لم يلد ولم يولد, فقال عمر: أحسنت يا أبا الحسن..لقد أزلت ما في قلبي على حذيفة

Huzaifah masuk menemui Umar bin Khathab, lalu Umar bertanya kepadanya, Bagaimana kabarmu pagi ini wahai Huzaifah?

Huzaifah menjawab: Pagi ini aku mencintai fitnah, membenci kebenaran, shalat tanpa wudhu, bahkan aku memiliki sesuatu di bumi yang tidak Allah miliki di langit.

[Mendengar itu] Lalu murkalah Umar dengan kemurkaan yang sangat kemudian membuang muka dari Huzaifah. Lalu masuklah Ali dan melihatnya yang bermuram durja seperti itu kemudian ia bertanya kepada Umar mengenai apa yang terjadi sehingga membuatnya seperti itu. Lalu Umar menceritakan perkataan Huzaifah bin Yaman di atas.

Lalu berkatalah Ali: Apa yang ia katakan tadi itu benar wahai Umar.

Tanya Umar: Bagaimana bisa?

Jawab Ali: Sesungguhnya harta-hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah! (Al-Anfal: 28) dan dia tentu saja mecintai harta-hartanya dan anak-anaknya. Membenci kebenaran adalah membenci kematian, sebagaimana firman Allah: Sembahlah Allah hingga datang kepadamu kematian. (Al-Hijr: 99), sementara shalat tanpa wudhu artinya bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Adapun makna ucapannya bahwa ia memiliki sesuatu di bumi yang tidak dimiliki Allah di langit adalah: Ia memiliki istri dan anak-anak sementara Allah Zat yang Esa, Sendiri dan Shamad yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan (Al-Ikhalsh: 1-3)…

Lalu Umar berkata: Terima kasih atas penjelasan yang baik wahai Abul Hasan. Sesungguhnya apa yang kusangkakan kepada Huzaifah dari dalam hatiku ternyata keliru.

Bila Anda tidak terima dengan berita dari pembicaraan di atas hanya karena hadits palsu, maka anggap saja ada tiga orang yaitu A, B dan C. Intinya mohon untuk pembaca agar tidak terjebak pada nama-nama di atas, tapi fokuslah pada ucapan yang mereka keluarkan karena inilah inti bahasan kali ini.

Hadits di atas bila dikritisi dan didudukan pada Akidah Islam sungguh tidak ada yang salah dan menyimpang. Meskipun hadis di atas palsu namun pemahaman yang terdapat di dalamnya mencocoki Al-Quran dan hadits. Bahkan ayat (Al-Hijr: 99) yang dijadikan langganan para sufi jadi-jadian untuk tidak/meninggalkan shalat karena “yakin/percaya” semata dibantah oleh hadits palsu di atas dengan menyebut yakin/kebenaran sebagai kematian sebagaimana yang disebutkan dalam banyak tafsir shahih mayoritas Ahlussunnah.

Intinya secara konten penjelasan Ali bin Abu Thalib di atas sangat jelas dan tidak mengandung kesesatan apapun meskipun hadits ini palsu.

Sekarang bila kita kembali pada konten pembahasan, yaitu ketika orientasi sastra dan orientasi agama saling bertemu maka apa yang terjadi?. Inilah kiranya yang tertuang kembali dalam jawaban Huzaifah yang mensastrakan kembali semua Firman Allah tadi dalam bahasanya yang tersirat sehingga maknanya menjadi ambigu bagi yang tidak mengerti (tersurat) akan hal itu. Dan ini pulalah yang membuat Umar murka dan membuang muka padanya. Tentu saja dalam koridor kita tidak meyakini ini sebagai hadis yang sesungguhnya.

Ini hanya sekedar contoh dari sekian banyak contoh, namun dalam kenyataannya terutama ketika melihat halaman sejarah Islam yang klasik dan yang modern hari ini, hampir tidak ada model komunikasi seperti ini sehingga bisa didapatkan kejernihan informasi dari maksud penuturnya, seperti adanya klarifikasi dari saksi-saksi ahli agar tidak terjadi vonis gila-gilaan.

Atau dalam sebuah persidangan di sebuah pengadilan sebelum Hakim menjatuhkan vonis pada terdakwa maka biasanya akan selalu dimintai informasi terlebih dahulu dari para saksi-saksi ahli sebagai bahan pertimbangan agar vonis yang ia jatuhkan tidak menyimpang dari kebenaran, sebab si Hakim sangat menyadari bahwa tidak semua hal bisa ia tahu. 

Entah bagaimana jadinya sebuah pengadilan bila si Hakim bebas memvonis manusia dengan seleranya sendiri? Karena menganggap dirinya sudah tahu banyak hal sehingga tidak perlu meminta pertimbangan para ahli.

Namun terlepas dari itu, kenyataan yang ada selama ini adalah “hantam habis” atau dalam bahasa masyarakat kita “maen hakim sendiri”. Tidak dari mereka yang sastrawan dan tidak pula dari mereka yang agamawan. Tidak ada yang mau seperti yang dikatakan Syaikh Albani di atas: 

وقاربوا

“saling mendekatkanlah!” 

Padahal itu adalah hadits yang diriwayatkan Bukhari dalam shahih-nya:

حَدَّثَنَا أَبُو اليَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو عُبَيْدٍ، مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الجَنَّةَ» قَالُوا: وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: ” لاَ، وَلاَ أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَلاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ المَوْتَ: إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَزْدَادَ خَيْرًا، وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعْتِبَ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu ‘Ubaid bekas budak Abdurrahman bin Auf bahwa Abu Hurairah berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalannya.” Para sahabat bertanya; “Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?” beliau bersabda: “Tidak juga dengan diriku, kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya padaku.

Oleh karena itu hendaknya kalian saling membenarkan/meluruskan dan saling mendekatkan dan janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian, jika dia orang baik semoga saja bisa menambah amal kebaikannya, dan jika dia orang yang buruk (akhlaknya) semoga bisa menjadikannya dia bertaubat.”

Tidakkah mereka saling membacanya?

Tidak adanya titik temu antara agama dan sastra inilah yang melahirkan pemahaman/penafsiran yang ambigu terutama bagi yang tidak mengenal hakikat keduanya sehingga vonis-vonis (saling tuding) pun bermunculan di antara keduanya. Dimana para sastrawan kerap memvonis agamawan sebagai orang bodoh yang tidak mengerti seni keindahan yang hanya bisa mengobral vonis negatif dengan kebodohannya tersebut begitupun dengan agamawan yang sering memvonis para sastrawan dengan label sesat, kafir, dll karena ungkapan-ungkapan (ta’birat) mereka yang keluar dari rel Islam (Al-Quran dan As-Sunnah). Meskipun terdapat kecenderungan oleh sebagian orang untuk menggabungkan keduanya, sehingga istilah-istilah musik Islami, dll bermunculan. Lagi-lagi ini semua hanyalah akal-akalan pihak tertentu saja.

Tapi lepas dari itu bukan itu inti tulisan ini, tulisan ini sekali lagi bertujuan untuk meletakan kata pada tempatnya atau dalam kisah hadis palsu di atas: Jangan sampai omongan Huzaifah di atas tidak di-clear-kan kembali oleh Ali bin Abu Thalib, sebab bilamana Ali tidak meng-clear-kannya bisa bisa…

Sepertinya pembaca sudah bisa menebak kemana arah larinya…

Saya sendiri begitu terpesona ketika seorang Doktor (Saksi Ahli masa kini) dari Universitas Anbar, Fallujah, Irak bernama Adil Syafi Aifan pada tahun 2010 yang lalu membuat disertasinya yang berjudul: Rudud Ibnu Arabi ‘alal Mutakallimin Min Khilali Kitabihi Al-Futuhat Al-Makiyyah. (Bantahan-bantahan Ibnu Arabi kepada para Ahli Kalam/Filsuf melalui kitabnya Al-Futuhat Al-Makiyyah)

Bisa Anda bayangkan, Muhyiddin Ibnu Arabi… gitu loh

yang merupakan dedengkot atau Imam Besar para Ahli Kalam/Filsuf Islam, penganut Wihdatul Wujud (Panteisme) terbesar di dunia Islam…

musuh besar Ibnu Taimiyah di zamannya, yang dibantah pemikirannya oleh Ibnu Taimiyah dalam Risalah fi Radd Ala Ibni Arabi fi Da’wa Iman wa Firaun

Malah membantah pemikiran ahlul kalam/filsuf itu sendiri yang mengatas namakan beliau dan pemikirannya….

Wow…

Terlepas dari Adil Syafi Aifan ini seorang salafi atau bukan tapi penelitiannya ini patut dijadikan bahan bacaan pembanding atas klaim-klaim para ahlul kalam yang gemar dan hobi mengutip pemikiran Ibnu Arabi dalam bukunya sehingga mengesankan Ibnu Arabi seperti yang mereka kira selama ini.

Sebab ini adalah disertasi yang tentu saja sudah didudukkan secara keilmuan baik dalam metoda dan konten yang dikaji dan bukan tulisan cakar ayam yang semakin merajalela di internet belakangan ini. Bahkan disertasi yang tidak disangka-sangka ini menjadi perbicangan tersendiri bagi para penuntut ilmu di sebuah forum hadits http://www.ahlalhdeeth.com

Setidaknya hadits berikut bisa menjadi pelipur lara bagi ini ketika berhadapan dengan dua hal yang kontradiktif, seperti Ibnu Arabi di atas, antara ia di mata Ahlul Kalam/Filsuf dan DR. Adil Syafi Aifan sebagai peneliti:

نَّمَا أَنَا بِشْرٌ، وَأَنْتُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ، وَلَعَلَّ أَحَدَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ، فَأَقْضِي نَحْوَ مَا أَسْمَعُ مِنْهُ، فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِشَيْءٍ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ، فَلَا يَأْخُذَنَّ مِنْهُ شَيْئًا، فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ

 

“sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa. Aku akan memutuskan perkara dari persengketaan ini berdasarkan apa yang aku dengar dari kalian. Dan bisa jadi salah seorang dari kalian lebih lihai dalam berargumen daripada yang lain. Maka barangsiapa yang aku tetapkan baginya sesuatu hal yang sebenarnya itu adalah hak dari orang lain. Maka pada hakekatnya ketika itu aku telah menetapkan baginya sepotong api neraka‘”. (HR. Abu Ya’la dalam Musnadnya dengan sanad yang shahih)

Bisa dibanyangkan ketika Ahlul Kalam menetapkan bahwa Ibnu Arabi dan pemikirannya itu adalah sesuai dan sejalan dengan apa yang disangkakan berdasarkan penafsiran mereka atas kitab-kitabnya namun ternyata Ibnu Arabi tidak seperti itu maka… betapa banyak dosa yang mereka pikul. Allahul Musta’an. Saya sendiri memiliki tulisan/sikap tersendiri mengenai Ibnu Arabi dan pemikirannya ini. Jadi mohon untuk tidak menafisrkan yang tidak-tidak hanya dengan beberapa penggal paragraf ini. 

Kita lanjutkan kembali pembahasan ini. Bicara lahir (nampak) dan batin (tersembunyi) dalam keyakinan setiap muslim sangatlah menarik bagi saya, sebab bila kita mau melihat sejarah Nabi, maka di sana akan kita temukan sekelompok kaum yang mengaku beriman (lahir) namun pada hakikatnya mereka tidak beriman (batin), dan dalam terminolgi Islam disebut “munafik.”

Salah satu contohnya adalah kisah dimana Usamah yang membunuh seseorang warga dari Juhainah ketika ia saat detik-detik terakhir sebelum pedang Usamah menancap di batang tubuhnya, ia mengatakan: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Tidak percaya dengan ucapannya maka Usamahpun menghabisinya, sebab dalam pandangan Usamah, ia hanya takut pedang saja (munafik). Lalu ia melaporkan kejadian ini kepada Nabi kemudian Nabi pun marah kepada Usamah seraya berkata: “Mengapa engkau tidak membelah dadanya sehingga engkau tahu ia mengucapkannya karena takut atau tidak?!” Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya.

عن أسامة قال بعثنا رسول الله  صلى الله عليه وسلم  في سرية فصبحنا الحرقات من جهينة فأدركت رجلا فقال لا إله إلا الله فطعنته فوقع في نفسي من ذلك فذكرته للنبي  صلى الله عليه وسلم  فقال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  أقال لا إله إلا الله وقتلته قال قلت يا رسول الله إنما قالها خوفا من السلاح قال أفلا شققت عن قلبه حتى تعلم أقالها أم لا فما زال يكررها علي حتى تمنيت أني أسلمت يومئذ

Dari Usamah bin Zaid ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami bersama pasukan kecil maka kamipun menyerang beberapa dusun dari qobilah Juhainah, maka akupun berhadapan dengan seseorang (tatkala dia telah kalah dan akan aku bunuh) dia mengucapkan la ilaha illallah, akupun tetap menikamnya. Namun setelah itu aku merasa tidak enak akan hal itu maka akupun menceritakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apakah ia mengucapkan la ilha illallah lantas engkau tetap membunuhnya??”. Aku berkata, “Ya Rasulullah, dia mengucapkannya hanya karena takut pedangku!”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mengapa engkau tidak membelah hatinya hingga engkau tahu bahwa dia mengucapkannya karena takut atau tidak!?”. Berkata Usamah, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengulang-ngulang perkataannya kepadaku itu hingga aku berangan-angan seandainya aku baru masuk Islam saat itu” HR Muslim 1/96

Ini pulalah yang dikritik oleh Syaikh Albani kepada para dai yang keras (terutama Syaikh Rabi dan para penjilatnya) dalam bermanhaj pada tulisan kami terdahulu. Mengapa dalam kritikan mereka terhadap orang yang menyimpang digunakan kata-kata yang bersifat beyond (keluar dari kasat mata) atau seperti: “mengikuti hawa napsu”, “kafir”, dll, yang intinya dalam setiap ta’bir atau ungkapannya seakan-akan dai ini tahu lubuk hati dari maksud orang yang ia kritik, terlebih orang yang dikritik tersebut telah meninggal dunia. Oleh karena itulah Syaikh Albani berkata:

الآن: هل يصح أن نقول عن إنسان إنه قال هذا عن هوى ونحن ما شققنا عن قلبه؟
هذا أولًا.
ألا يكفينا في أسلوب الدعوة أن نقول: إن هذا خطأ، أو هذا ضلال، وبلاش نتعمَّق إلى ما في القلوب، وأن نقول: إنه قال ذلك عن هوى، وبخاصة بعد أن انتقل إلى الرفيق الأعلى، إلى رحمة الله وفضله

Syaikh: Sekarang, apakah benar jika kita katakan tentang seseorang bahwasanya ia berkata dari hawa napsunya sementara kita tidak membedah dadanya? Ini yang pertama.

Apakah tidak cukup bagi kita hanya berkata: Ini salah atau ini sesat dan tanpa harus menyelam dalam-dalam ke dalam isi hati seperti yang kita katakan: “Sesungguhnya ia berkata dari hawa napsunya!” lebih-lebih setelah kepulangannya keharibaan Allah (Teman) yang Maha Tinggi, kepada kasih sayang dan keutamaan-Nya.

Hadis Usamah di atas menjelaskan bahwa gambaran batin manusia tidak dapat dihukumi dengan pandangan lahiriah manusia lainnya, betapun ia merasa sangat sangat sangat sangat benar benar benar benar akan hal itu.

Oleh karena itulah jangan heran bila nabi membiarkan orang-orang munafik yang telah bersyahadat gentayangan bebas kesana kemari. Meskipun sebagian sahabat ada yang ingin membunuh mereka, karena mengetahui kebohongan iman mereka. Karena Nabi tidak memang tidak tahu isi hati mereka yang sebenarnya, apakah akan beriman nantinya atau tidak?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إني لم أومر أن أنقب قلوب الناس ولا أشق بطونهم


“Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk memeriksa isi hati manusia dan membelah perut mereka” HR Al-Bukhari no 4351

Karena dalam kenyataannya dan di luar dugaan sama sekali, ada di antara mereka yang bertobat. Entah bagaimana kalau vonis hajar sudah keluar dari Nabi mengikuti keinginan para sahabat. Itu sama saja menutup pintu tobat kepada mereka, padahal Allah telah berfirman dalam hadits qudsinya:

قال اللَّه تعالى: يا ابن آدم، إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان فيك ولا أبالي، يا ابن آدم لو بلغت ذنوبك عَنَانَ السماء ثم استغفرتني غفرت لك ولا أبالي، يا ابن آدم لو أتيتني بقراب الأرض خطايا، ثم لقيتني لا تشرك بي شيئاً، لأتيتك بقرابها مغفرة

“Allah yang Mahatinggi berfirman, “Wahai anak Adam, selagi kamu minta dan berharap kepadaKu, maka Aku akan mengampuni bagimu segala yang telah berlalu dari dosamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, kemudian kamu meminta ampun kepadaKu, niscaya Aku ampuni kamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika kamu datang kepadaKu dengan kesalahan (dosa) sepenuh bumi, kemudian kamu mendatangiKu dengan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” Shohih Al-Jami’ (5/584).

Kemunafikan sendiri merupakan objek sastra yang paling menggairahkan untuk dikaji dan itu pulalah yang dilakukan Sayyid Quthb dalam Proyek Besarnya mengenai re-islamisasi manusia modern dalam karyanya-karyanya di abad modern saat ini, salah satunya adalah Ma’alim fi Thariq.

Seperti yang kami ungkapkan di atas, bahwa sebagai sastrawan tentu sudah barang tentu dalam pemikirannya ia akan mengeluarkan istilah-istilah tertentu sebagai wujud kreasinya terhadap sastra, dan kali ini salah satu istilah yang Sayyid Quthb munculkan yang ia tuangkan dalam beberap kitabnya adalah “masyarakat jahiliyah.”

Istilah ini setelah ditelaah “dalam-dalam” oleh Syaikh Rabi dan fans beratnya, yaitu Lukman Ba’abduh dalam beberapa kitabnya maka kesimpulan yang mereka tarik dari kata “masyarakat jahiliyah” yang disebutkan oleh Sayyid Quthb adalah “masyarakat kafir”.

Kalau kita mau melihat dengan mata yang jujur dalam berbagai kitab Sayyid Qutuhb istilah “kafir” ini sendiri baik dalam bahasa dan istilah yang digunakan Sayyid Quthb tidak satupun ia arahkan secara tegas kepada Umat Islam sebagaimana Syaikh Rabi dan Lukman Ba’abduh yang begitu sangat tegas memaknai masyarakt Jahiliyah sebagai masyarakat kafir sehingga diterima dan ditelah mentah-mentah sebagai kebenaran oleh para penuntut ilmu. Maka tidaklah mengherankan Syaikh Albani mempertanyakan vonis nyeleneh ini,

الشيخ: طيب، فإذا السيد قطب وصف مجتمعه بأنه مجتمعه مجتمع جاهلي، من أين لنا أن نفسِّر وأن ننسب إليه أنه يكفِّر هذا المجتمع؟

Syaikh: Baiklah, ketika Sayyid Quthb mendeskripsikan masyarakatnya adalah masyarakat jahiliyah (sebagaimana penafsiran DR Rabi) maka dari mana kita dapat menafsirkan atau menganggap ia mengkafirkan masyarakat ini?

Ucapan Syaikh Albani ini lalu disikapi secara “ilmiah?” oleh Lukman Ba’abduh (bantahan episode 5) seakan ia mengira Syaikh Albani tidak tahu apa-apa tentang Sayyid Quthb dan tidak pernah membaca kitab-kitab Sayyid Quthb dan yang tahu hanyalah Syaikh Rabi dan dirinya. Padahal ucapan Syaikh Albani yang terang benderang di atas: maka dari mana kita dapat menafsirkan atau menganggap ia mengkafirkan masyarakat ini?

Itu jelas menunjukkan bahwa Syaikh Albani membaca dan meneliti pemikiran Sayyid Quthb dalam berbagai kitabnya (akan kami tunjukkan nanti) sebab kalau tidak begitu maka bagaimana bisa Syaikh Albani mempertanyakan vonis nyeleneh ini? Terlebih yang ia kritik di sini adalah seorang Doktor Universitas Islam Madinah yang bernama Rabi bin Hadi Al-Madkhali, bukan manusia kacangan yang suka menyumbar kata-kata tanpa ilmu. 

Wallahu a’lam

Bersambung pada (bag 4) Insya Allah.

Teko kosong tentu takan bisa mengeluarkan air yang jernih seberapa besarpun terlihatnya ia di hadapan manusia…

Takkan merubah kenyataanya, meskipun banyak manusia (bodoh) yang meyakini bahwa di dalamnya terdapat air yang berlimpah karena kebesaran bentuknya…

meski yang menyelisihinya hanya seorang yang dipandang hina dan dungu…

 

9 thoughts on “2. Mengkaji Sastra Melalui Medium Agama: Bagaimana Membaca Nalar Sastra Sayyid Quthb? Upaya Meletakan Sebuah Vonis yang Tercecer Pada Tempatnya Semula. (Bantahan Atas Syaikh Rabi dan Lukman Ba’abduh. Bag 3)”

  1. Luar biasa, bantahan yang benar-benar membuat ana tidak bisa menunggu lagi kelanjutannya. Allahu Akbar teruskan stadz.

  2. Alhamdulillah di tenah kegersangan dakwah salaf telah hadir blog yang dapat menenangkan hati sebagian salafy newbie

  3. Bismillah. Yaa al akh… apakah para salafusholih berdakwah dengan sastra? Bagaimana hukumnya para artist sekarang yg telah banyak menempuh jalan dakwah sperti roma irama dgn lagu2nya dan artis2 pendakwah lainnya. Afwan,ana seorang ummahat dgn 6 anak dan seorang suami yg mengikatkan diri dgn manhaj tertentu. Awalnya beliau melarang ana ngaji salaf dgn larangan ya keras. Ancaman cerai, membuang majalah assunnah ke tempat sampah, membanting radio ktk ana mendengarkn rodza..berlalu sudah 10 thn. Alhamdulillah sudah agak berubah namun tetap tdk mau menuntut ilmu dgn alasan hatinya telah terikat dgn temen2nya karena doa robhithoh

    1. Kalau sastra yang Ibu maksud lagu-lagu, joget-joget, dsb maka tentu saja hal semacam itu tidak ada! Itu hanyalah seni budaya masyarakat.
      Mengapa Ibu bisa menanyakan hal yang tidak pernah saya utarakan? Seakan-akan saya mengadakan hal tersebut membenarkannya?.

      Bu, sejauh ini kata sastra masih debatibel dan belum ada makna yang memuaskan atas kata ini. Orang Arab menyebutnya sebagai Adab (pendidikan), orang Inggris menyebutnya sebagai literature (bacaan, tulisan), dll.

      Intinya adalah perasaan yang halus yang digambarkan dalam berbagai rupa dan bentuk, bahasa salah satunya!

      Sayyid Quthb adalah seniman bahasa. Lihat saja ketinggian bahasa-bahasanya dalam tulisannya. Cara ia menggambarkan realitas, cara ia menyorot realitas dari sudut yang tak biasa, dll. Ia bukan ahli agama bu, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Syaikh Albani dalam bantahan bag 2. Oleh karena itu menjadi sesuatu yang zalim seandainya ta’bir Sayyid Quthb dibelokkan arahnya oleh orang-orang yang hiqd padanya. Lainnya halnya kalau memang Sayyid Quthb memaksudkan demikian sebagaimana anggapan orang yang hiqd tersebut.

      Namun perlu ibu ingat. Konteks bantahan saya di sini adalah: Pahami ucapan orang lain dengan benar, jangan memahaminya sesuai dengan anggapan kita kalau memang dia tidak memaksudkan demikian. Tidak semua orang Arab yang berbicara bahasa Arab paham setiap pembicaraan orang Arab lainnya bila ia tidak mengklarifikasinya dengan benar. Terlebih ucapan sastrawan yang tidak di-clear-kan maknanya terlebih dahulu.
      Ibu suka ngga bila ucapan Ibu dibelokan arahnya oleh orang lain tanpa ada kesesuaian dengan maksud Ibu pribadi? Lalu omongan Ibu dipakai oleh orang tersebut untuk menjerat Ibu.
      Ini sebenarnya inti yang saya bahas, adapun yang lainnya hanyalah penggambaran dan contoh belaka, bukan itu intinya.

      Mengenai masalah ibu dengan suami ibu maka saya hanya bisa mendoakan semoga suami Ibu mendapat hidayah dan tentu saja dibarengi usaha ibu untuk mengajaknya mengenal dakwah salaf dengan cara yang santun dan disertai ucapan dan tutur kata yang lemah lembut dan jangan pernah menyerah dengan hal tsb. Itu saja.

  4. Bismillah.jazakalloh khoiron untk perhatiannya. Tapi afwan ana tdk sempat membaca semua tulisan al akh…,. Alhamdulillah alakh… menjelaskan kalau beliau syaikh sayid qutb bukanlah ahli ilmu. 15 tahun yg lalu ana &suami mengganggap beliau demikian,& demikian pula sebagian besar wallohu a’lam mungkin semua temen2 harokah ana menganggap demikian pula. Buku2 terjemahan yg dinisbatkn kpd beliau telah membimbing ana untk memahami agama dgn agak menyerempet kpd paham khowarij. Wallohua’lam apakah daya pikir ana yg salah atau penerjemah kurang pas dlm menerjemah. Mudah2an sedikit orang yg memahami buku terjemah tersebut dgn pemahaman menyimpang dari maksudnya sehingga Alloh Azza wa Jala memudahkn penghisaban beliau terkhusus penghisaban diri ana sendiri. Ya al akh… sekarang suami ana senang sekali menuntut ilmu kpd mario teguh, seorang motivator terkenal di indonesia. Beliau mengeluarkn kata-kata mutiara yg menurut suami selaras dgn sunnah

  5. …dan hal tsb menghalangi beliau untk langsung mereguk ilmu dari kitab2 hadits. Kadang ana menasehati dgn ucapan semacam:” wahai si ganteng yg merindukan bidadari surga apakah tdk sebaiknya dikau mengambil ilmu lansung dari sumbernya..” yakfi..mudah-mudahan bisa diambil ibroh, dan apakah persatuan itu hanya akan hadir di saat munculnya mujaddid di setiap penghujung abad? Mudah2an kelak anak keturunan kita akan menjadi penolong agama AllohAzza

Comments are closed.