1. Kritik Terbuka Syaikh Albani Terhadap Syaikh Rabi. Benarkah Syaikh Rabi Murid Syaikh Albani? (Bag 2)

Tulisan bagian kedua kali ini akan mengetengahkan pembahasan mengenai uslub/manhaj (Metoda) dakwah antara Syaikh Albani dan Syaikh Rabi serta kritikan terbuka Syaikh Albani terhadap Syaikh Rabi.

Mengapa hal ini harus saya bahas? Karena dalam kenyataan yang kita lihat akhir-akhir ini terdapat firqah yang begitu getol menaikan pamor Syaikh Rabi di mata dunia dakwah salafiyah terutama yang ada di Indonesia ini dengan menggunakan nama besar Syaikh Albani.

Syaikh Rabi hanyalah alim dari sekian alim yang ada di negeri Saudi Arabia. Beliau bukanlah satu-satunya alim di negeri sana. Artinya salah besar kalau ada orang yang menjadikan beliau satu-satunya tempat rujukan untuk meminta fatwa entah dengan dalih apapun itu. Karena itu sama saja meniadakan keberadaan dan keilmuan ulama-ulama yang lain yang tergabung dalam Haiah Kibaril Ulama bahkan ulama-ulama lainnya hanya karena mereka tidak senang popularitas sebagaimana Syaikh Rabi.

Dengan demikian ketika terjadi perbedaan pendapat antara Syaikh Rabi dan ulama lain maka yang terus dipilih adalah pendapat Syaikh Rabi setelah jelas datangnya burhan dan dalil yang menunjukkan kekeliruannya misalnya, maka ini jelas sudah masuk dalam lingkarang ghuluw yang takan bisa dilihat dan disadari oleh pengidapnya. Dan itu akan Anda temukan dalam diskusi sengit antara Syaikh Albani dan fans berat Syaikh Rabi nanti dalam tulisan ini.

Oleh karena itu menjadi penting di sini kami bawakan kritikan terbuka Syaikh Albani terhadap Syaikh Rabi dalam memperlakukan ahlul bidah. semoga bisa menjadi nasihat dan pelajaran berharga bagi segenap penuntut ilmu dimanapun berada.

Kritikan ini datang dari sebuah diskusi antara Syaikh Albani dengan salah seorang fans Syaikh berat Rabi.yang kami kutip dari website kulalsalafiyeen. yang bersumber dari website:  d3watuna

Dalam diskusi yang berlangsung sengit tersebut terjadi hal-hal yang menarik untuk dikomentari, di antaranya adalah:

1. Ternyata firman Allah berikut ini:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Katakanlah/Bertanyalah: Apakah sama antara orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu. Sesungguhnya yang dapat mengambil pelajaran hanyalah mereka yang memiliki kedalaman pemahaman.” (Az-Zumar: 9)

هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

“Apakah sama antara yang buta dan yang melihat. Tidakkah kalian bisa merenunginya!” (Al-An’am: 60)

هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ

“Apakah sama antara yang buta dan yang melihat. Atau apakah sama antara gelap dan terang!”(Ar-Ra’d: 16)

dapat kita lihat dalam diskusi tersebut. Dimana yang alim dapat melihat sementara yang jahil tidak dapat melihat padahal ia menggunakan matanya untuk melihat. Lebih lucunya hingga akhir diskusi ini si penanya yang merupakan fans berat Syaikh Rabi masih tetap juga tidak dapat melihat kerasnya Syaikh Rabi setelah Syaikh Albani menjelaskan padanya letak kekerasan Syaikh Rabi dalam tulisannya. Padahal ia sudah mengakui di pertengahan diskusi bahwa apa yang disampaikan oleh Syaikh Rabi memang tidaklah lembut (keras). Beginilah ghuluw yang menimpa para penjilat Syaikh Rabi dimanapun mereka berada, tidak yang di Arab sana tidak pula yang  ada di negeri ini. Allahul Musta’an.

2. Terdapat perbedaan yang signifikan antara manhaj/uslub dakwah Syaikh Albani dan Syaikh Rabi. Dimana Syaikh Albani hanya ingin sibuk berdakwah kepada orang hidup sementara Syaikh Rabi, selain orang hidup ternyata masih juga mengurusi mereka yang telah tiada, salah satu korban dakwahnya adalah Sayyid Quthb yang telah meninggal. Artinya, kata Syaikh Albani, kalaupun mau dikritik maka kritiklah mereka yang masih hidup yang terus mengadopsi pemikiran Sayyid Quthb. Jangan Sayyid Quthb yang telah meninggal karena itu tidak ada faidahnya bagi Sayyid Quthb.

3. Menurut Syaikh Albani yang namanya kebenaran itu sangatlah keras dan berat. Dan sangat berat bila diterapkan langsung kepada orang-orang awam tanpa menggunakan sarana-sarana tertentu yang dapat membuat mereka senang kepada dakwah.Meskipun dakwah tersebut benar, seandainya diterapkan langsung pada masyarakat umum maka mereka pasti akan lari ketakutan. Oleh karena itu hikmah, nasihat yang baik menjadi sarana yang paling penting untuk bisa merangkul mereka ke dalam dakwah yang haq. Sementara Syaikh Rabi meniadakan hal ini, Syaikh Rabi merasa tidak penting kata-kata yang lembut kepada masyarakat umum ahlul bidah. Jika mereka lari maka itu sudah takdirnya tidak dapat hidayah, begitulah.

4. Syaikh Albani dalam dakwahnya senantiasa mengedepankan sikap kelembutan terutama dalam penyampaian kata-kata  terhadap para mubtadi sebejat apapun mereka. Contoh yang digunakan Syaikh Albani di sini adalah Firaun, yang mana ia adalah orang yang paling melampaui batas di dunia ini. Oleh Allah, Firaun yang bejat itu, Nabi Musa dan Harun disuruh berbicara dengan tutur kata yang halus dan lembut kepadanya maka bagaimana halnya dengan Sayyid Quthb yang notabene derajat dosanya sangatlah kecil dan tidak apa-apanya dengan Firaun yang mengaku sebagai Tuhan. Mengapa oleh Syaikh Rabi, ia diperlakukan lebih hina dari Firaun dengan kata-kata yang keras?

Sebelum lanjut ke point ke 5. ada satu hal yang ingin saya komentari. Firanda Andirja dalam kritikannya terhadap Syaikh Rabi menyatakan bahwa: Menurut Syaikh Rabî’, Ahlul Bid’ah harus dibenci secara totalitas (100 persen). Dasar yang ia gunakan adalah kalam Syaikh Rabi yang ia kutip di website: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=129300

 Ini jelas kesimpulan prematur karena Firanda tidak mendudukkan permasalahan ini dengan benar dan pada tempatnya, sebab di tempat yang lain Syaikh Rabi menyatakan bahwa ahlul bidah yang awam harus didakwahi, adapun yang dimusuhi adalah para petinggi-petingginya. Anda bisa baca di sini http://tukpencarialhaq.com/2013/10/31/kita-tidak-meng-hajr-manusia-seluruhnya/.

Jadi sekali lagi tidak 100% sebagaimana anggapan FIranda. Namun meski demikian kebencian Syaikh Rabi kepada para petinggi ahlul bidah dengan cara mengeluarkan kata-kata yang keras tetap tidak dibernarkan oleh Syaikh Albani. seperti yang dicontohkan di atas, terhadap Firaun saja harus bersikap santun dan ramah dalam mengkritiknya maka bagaimana dengan mereka yang dibawah Firaun tentu harus lebih dan lebih santun dan ramah lagi.

4. Menurut Syaikh Albani, Sayyid Quthb hanyalah orang awam biasa dilihat dari aspek keilmuan Islam. Jadi tidak layak seandainya Syaikh Rabi memperlakukannya seperti ulama yang menyimpang sehingga bisa dikritik dengan keras seperti mengkritik ulama ahlul bidah. Yang sangat disayangkan oleh Syaikh Albani adalah Syaikh Rabi malah melakukan hal ini kepada orang yang telah meninggal. Padahal ia sudah memiliki hisabnya sendiri di sisi Allah.

5. Dalam pandangan Syaikh Albani kata masyarakat jahiliyah diartikan sebagai masyarakat kafir adalah sangat keliru karena tidak memiliki landasan yang kuat.  Hujjah yang digunakan Syaikh Rabi hanyalah kalimat-kalimat umum untuk menggiring kepada kalimat khusus, yaitu kafir. Dan ini tidak benar, sebab kalau memang benar, apakah Syaikh Rabi sudah membelah dada Sayyid Quthb sehingga ia bisa melihat bahwa jahiliyah memang bermakna kafir.

6. Yang lebih mengagetkan di sini adalah, si fans Syaikh Rabi mengira hanya karena Syaikh Albani telah memberikan rekomendasi/tazkiyah tertulis kepada Syaikh Rabi maka Syaikh Rabi menjadi kebal terhadap kritik oleh siapun bahkan oleh Syaikh Albani sendiri. Oleh karena itulah ia mempertanyakan kembali kritikan Albani kepada Syaikh Rabi?

7. Dalam manhajnya Syaikh Albani tidak mengenal cinta buta terhadap person tertentu hanya karena kebenaran bersamanya dan tidak pula benci buta pada person tertentu hanya karena ia menyimpang sebagaiman uslub dan manhajnya Syaikh Rabi dan para penjilatnya, yang ada hanyalah membenarkan dan saling mendekatkan. Artinya kalau sudah benci buta sulit bagi kita untuk berdiskusi mengajaknya kepada kebenaran. Ataupun bila sudah cinta buta maka sulit bagi kita untuk mengkritiknya bila ia melakukan kesalahan. Inilah yang harus dipahami oleh para penjilat Syaikh Rabi terutama yang suka mengobral pujian Syaikh Albani kepada Syaikh Rabi.

8. Syaikh Albani menolak keras bahwa jahiliyah dalam pandangan Sayyid Quthb bermakna kafir. Bagi beliau jahiliyah yang dimaksudkan Sayyid Quthb adalah Jahiliyah yang lebih ganas dari jahiliyah yang pertama dulu di zaman Nabi. Albani lalu memberikan contoh argumentasinya.

9. Dalam pandangan Syaikh Albani, sebelum membantah dan mengeluarkan vonis-vonis yang berat hendaknya pemikiran ahlul bidah diteliti dalam-dalam jangan sampai keluar vonis-vonis yang tidak pada tempatnya. Karena kalau sudah demikian tentu tanggung jawab atas vonis tadi sangatlah besar seandainya ia keliru.

10. Syaikh Albani hanya mengakui hubungannya dengan SYaikh Rabi hanya sebatas ilmu namun tidak dalam manhaj/metoda dakwah.

11. Prinsip hajar/boikot yang berupa pemutusan hubungan antara sesama muslim kata Syaikh Albani haruslah memiliki kondisi ruang dan waktunya masing-masing, dan tidak bisa seseorang menghajar muslim yang lainnya sesuka hatinya. Dan cukuplah kisah tiga seorang sahabat yang tidak ikut perang tabuk dihajar/diboikot oleh kaum muslimin lainnya. Jangan ada lagi di zaman sekarang hajar-menghajar. Karena yang harus tegak di tengah kaum muslimin adalah pergaulan yang baik dan saling menasehati.

12. Syaikh Albani tidak terlalu senang dengan istilah hajar beliau lebih menggunakan istilah nasihat.

13. Syaikh Albani lebih suka memposisikan Syaikh Rabi sebagai kawan/saudara bukan sebagai murid, meskipun Syaikh Albani adalah gurunya yang pertama kali mengajarnya di Universitas Islam Madinah, karena Syaikh Rabi sangat tidak mengikuti manhaj dakwah Syaikh Albani yang mana beliau berada di atasnya yang penuh dengan kelembutan dalam tutur kata.

Dan langsung saja bagi Anda yang sudah tidak sabar untuk mengikuti diskusi beliau dengan fans berat Syaikh Rabi, kami persembahkan untuk Anda transkrip dialog tersebut dan terjemahannya yang diposting oleh Abul Asybal Junaidi Al-Atsari selaku moderator forum kulalsalafiyeen.

نحمد الله جل في علاه، وتقدس في سماه، أن خرج تراث الإمام الألباني ـ رحمه الله ـ الذي هو درر …
والشكر موصول للشيخ أبي ليلى ـ حفظه الله ـ الذي سجل هذه المجالس العلمية وتعب في التأليف بينها ونشرها …
تم إنزال شريط جديد بعنوان (البيعة وموالاة الخليفة والحاكمية عند السيد قطب) برقم (915)
حملوه من هنـــــــــــــــــــــــــــــــــــــا بارك الله فيكم، وفرغوه لنا .
وقد بدأ الكلام عن الشيخ ربيع المدخلي وعن منهجه المتشدد من الدقيقة التاسعة، حتى إنه قال: (كتبه كلها فيها شدة) !!!
وكلام الإمام الألباني ـ رحمه الله ـ عن شدة الشيخ المدخلي في مواجهة سيد قطب وأتباعه؛ فكيف لو رأى الإمام شدته على السلفيين؛ بل على أخص تلاميذ الإمام ؟!

Kami menyanjung Allah yang Luhur dalam Ketinggian-Nya, yang Kudus dalam Keagungan-Nya yang telah mengeluarkan warisan Imam Albani rahimahullah (semoga Allah merahmatinya) yang mana beliau adalah permata yang sangat berharga…

Ucapan terima kasih senantiasa tersampaikan kepada Syaikh Abu Laila hafizhahullah (semoga Allah menjaganya) yang merekam forum ilmiah ini dan yang sudah bersusah payah dalam merangkumnya di tengah-tengah forum tersebut dan menyebarkannya…

lalu meng-upload kaset/rekaman terbaru dengan judul: “Baiat dan Loyalitas Kekhalifahan serta Tauhid Hakimiyah di Mata Sayyid Quthb”. Dengan no: 915.

Silahkan Anda mendownloadnya di sini. Semoga Allah memberkati Anda semua dan bila dirasa perlu transkriplah file tersebut bagi kita semua.

Perbincangan ini dimulai dengan membahas Syaikh Rabi Al-Madkhali dan metoda (manhaj) nya yang keras (mutasyaddid) dari menit ke 9 sampai ia (Syaikh Albani) berkata: Di dalamnya ia tulisakan semuanya dengan keras!!!

Dan ucapan Syaikh Albani rahimahullah mengenai kerasnya Syaikh Al-Madkhali dalam rivalitasnya ia dengan Sayyid Quthb dan para pengikutnya, maka bagaimanakah seandainya Imam Albani melihat kerasnya Syaikh Rabi kepada para salafiyyin, bahkan kepada murid Imam Albani sendiri?

***

السائل: كأنه سيد قطب في كتبه يكفِّر المجتمعات لأنهم لا يؤمنون بالحاكمية، ولا يفرِّق أيضًا بين الكفر الأصغر والأكبر، ولا يهمه البدع التي حول القبور ودعاء غير الله، وغيرها، فقط إنما يدندن حول الحاكمية.
الشيخ: إي نعم.
السائل: وبعضهم يلتمس له عذرًا، فما هو عذره؟
الشيخ: والله -يا أستاذ-، أنا نرى أننا ننشغل بالأحياء دون الأموات خيرٌ لنا.
هذا أولًا.
ثانيًا: أنا قلتُ (لأخونا) الدكتور ربيع: سيد قطب رجل ليس بعالِم، وهو من الكتَّاب المصريِّين الذين لم يُنشَّؤوا على العِلم والعلم الصحيح.
ولكنْ كان عنده -فيما يبدو- قلم سيَّال، وربما ينضاف إلى ذلك أنه كان عنده -ككثير من الشباب اليوم- عندهم عواطف إسلاميَّة جامحة؛ لكنَّهم -كما قيل-:
أوردها سعدٌ وسعد مشتمِل .. ما هكذا يا سعدُ تورَد الإبل!
فكُتبه -كما بيَّن الدكتور-جزاه الله خيرًا- مشحونة بالأخطاء العلمية -منها العقديَّة، ومنها الفقهية-.
فنحن حينما نقول أن ننشغل بالأحياء دون الأموات يكفينا؛ أعني ما ننصب العداء بيننا وبين شخص ما؛ وإنما بيننا وبين دعوته، هذا بعد ما مات -بصورة خاصة-، وانتقل إلى عفو الله -عزَّ وجلَّ-إن شاء الله- ورحمته.
هذا من جهة.

……… (Terpotong dari menit 1-8). Menit 9

Penanya: Di dalam kitab-kitabnya Sayyid Quthb seakan-akan mengkafirkan semua masyarakat karena mereka tidak mengimani tauhid Hakimiyah. Ia juga tidak membedakan antara kafir kecil (ashghar) dan kafir besar (akbar), bahkan bidah di sekitar kubur dan berdoa kepada Allah dll, ia rasa tidak penting baginya untuk dibahas. Dan ia hanya berkicau tentang Hakimiyah saja.

Syaikh Albani: Ya betul.

Penanya: Sebagian mereka mencarikan dispensasi/pembelaan baginya, lantas apa pembelaannya?

Syaikh Albani: Demi Allah, Pak. Kita harus melihat bahwa kita memang harus disibukan dengan orang hidup bukan orang mati, bukankah itu lebih baik bagi kita?. Ini yang pertama.

Yang kedua: Saya sendiri sudah katakan kepada (saudara kami) DR. Rabi: Sayyid Quthb itu bukan alim (ulama). Beliau hanyalah salah satu penulis Mesir yang tidak terdidik dengan ilmu (agama) dan ilmu yang benar. Akan tetapi ia memiliki -sebagaimana yang nampak- pena/tulisan yang tersebar, dan kalau boleh ditambahkan, ia juga memiliki –sebagaimana yang dimiliki kalangan anak muda zaman sekarang- yaitu gairah/emosi keislaman yang keras, akan tetapi mereka sebagaimana yang disebutkan pepatah:

Saad mendatangi ontanya hanya dengan mengenakan kain syamlah… bukan demikian wahai Sa’ad cara mendatangi onta

Cat pent: Syamlah/toga adalah pakaian tanpa celana. Pakaian yang biasa digunakan oleh para pemikir Atena zaman dulu. Dan karena terburu-buru memberi minum ontanya yang kehausan si Sa’ad bin Zaid sampai lupa memakai celana dalamnya sehingga auratnya kelihatan. Atau dalam bahasa anak muda salafy zaman sekarang: modal semangat tanpa ilmu.

Dan kitab-kitabnya-sebagaimana yang dijelaskan oleh DR, -semoga Allah membalasnya dengan kebaikan-mengandung kesalahan-kesalahan keilmuan seperti dalam permasalahan aqidah dan fiqih.

Adapun kami ketika mengatakan bahwa kita memang harus disibukan dengan orang hidup bukan orang mati maka itu sudah cukup bagi kami. Maksud saya, kami tidak mengobarkan rasa permusuhan antara kami dengan person tertentu. Yang ada hanyalah antara kami dan antara dakwahnya. Ini setelah kematiannya (Sayyid Qutbh) dalam bentuk yang khusus. Dan beliau telah berpulang kepada pengampunan Allah dan rahmat-Nya -jika Allah menghendakinya-. Ini satu sisi.

وقلتُ للدكتور -ولا أزال أنا على هذا، وأظن أن أكثر إخواننا من طلاب العلم ومشايخنا على هذا-؛ وهو: أن الحق -في طبيعة أمرِه- ثقيل على عامة الناس إلا من شاء الله -عزَّ وجلَّ-؛ {إنا سنُلقي عليكَ قولًا ثقيلًا}، فإذا ضُم إلى الدعوة وثِقلها على الناس -كما ذكرنا- القسوة والشدَّة؛ اجتمع قسوتان وشدَّتان، ويكون ذلك مدعاةً لتنفير الناس عن دعوة الحق، بينما المقصود من الدعوة استجلابهم إليها.
وما منا من أحدٍ من طلاب العلم إلا وهو يَذكُر آياتٍ في القرآن الكريم وأحاديث كثيرة من أحاديث الرسول -عليه الصلاة والسلام- التي تحضُّ على الرفق واللين، والآيات معروفة، ولسنا بحاجة إلى تذكيرها؛ من مثل الآية التي أمر الله -عزَّ وجلَّ- فيها موسى -عليه السَّلام- وأخاه هارون حينما قال: {اذهبا إلى فرعونَ إنَّه طغى . فقولا له قولًا لينًا لعله يتذكَّر أو يخشى}.
وما أعتقد أن أحدًا ممن يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله وحسابه عند الله يُعلن هذه الكلمة، ما منا من أحدٍ يتصوَّر أنه مهما كان منحرفًا في دعوته وبخاصة إذا لم يكن قد استعمل القسوة والشدة بين من يدعوهم إلى دعوته مهما كانت منحرفة عن الحق؛ لا يبلغ شأنُه ذرة مما كان عليه فرعون هذا الذي أُرسل إليه موسى وهارون.
ومع ذلك فإذا كان الله -عزَّ وجلَّ- أمر هذين الرسولَين الكريمَين أو النبيَّين المصطَفَين بأن يُلينا القول مع أطغى رجل على وجه الأرض حيث قال: [{فقال أنا ربكم الأعلى}]؛ ومع ذلك: قال: {فقولا له..} إلخ.
فأنا أعتقد أن سيد قطب ما يبلغ شأنه شأن فرعون إطلاقًا؛ فالرد عليه يُراد به أتباعه الآن لأنه هو ذهب بعُجره وبُجره -كما يقال-.
إذا كان المقصود إذن الأحياء؛ فأنا سأقول في الأحياء ما قلتُ في هذا الذي مات: بأن هؤلاء لا يبلغ شرهم شر فرعون الذي ادعى [الألوهية].

Aku telah katakan pada DR: Saya akan tetap seperti ini dan saya kira banyak dari saudara-saudara kita penutut ilmu dan para masyaikh juga seperti ini. Artinya adalah kebenaran dalam karakternya yang sebenarnya adalah berat bagi kebanyakan orang umum, kecuali bagi mereka yang Allah kehendaki: “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (Al-Muzammil: 5)

Maka jika digabungkan beban beratnya tadi dengan kekerasan (qaswah) demi kekerasan (syiddah) pada dakwah ini atas manusia pada umumnya sebagaimana yang kami sebutkan maka akan muncullah kekerasan yang serupa yang berganda (antara qaswah dan syiddah) dan itu akan menjadi sebab yang membuat manusia ketakutan dari dakwah yang haq ini di saat dakwah itu bertujuan untuk merangkul mereka kepadanya.

Setiap dari kami para penuntut ilmu akan selalu menyebutkan beberapa ayat dari Al-Quran yang mulia dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang banyak, yang mengajak kepada kebaikan dan kelembutan. Dan ayat-ayat tersebut mudah dikenali dan kami tidak berkeinginan untuk memperingatkannya! Dan contoh ayat ketika Allah memerintahkan Musa dan saudaranya Harun alaihimas salam: “Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Thaha: 43-44)

Dan saya tidak meyakini bahwasanya salah seorang seseorang yang bersyahadat tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya dan hisabnya di sisi Allah mau menyebarluaskan penggunaan kata-kata yang lemah lembut ini. Tidak seorang pun dari kami yang mengambarkan/menganggap bahwa ia meskipun menyimpang dalam dakwahnya lebih-lebih bila ia sendiri tidak menerapkan kekerasan demi kekerasan di antara orang-orang yang ia dakwahi kepada dakwahnya meskipun dakwahnya tersebut tetap menyimpang dari kebenaran, urusannya itu tidak akan mencapi setitikpun dari apa-apa yang Firaun berada di atasnya (pelampauan batas), inilah yang membuat Musa dan Harun diutus kepadanya. Bersamaan dengan itu pula Allah memerintahkan dua orang rasul yang mulia/nabi yang terpilih ini untuk menghaluskan/melembutkan perkataannya kepada laki-laki yang paling melampaui batas di muka bumi ini sebagaimana ucapannya: “Maka ia berkata: Akulah Tuhan kalian yang paling tinggi!” (An-Naziat: 24) dan bersamaan dengan itu pula Allah mengatakan: maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Thaha: 44) dst.

Dan saya pribadi meyakini bahwasanya Sayyid Quthb, urusannya itu tidak sampai seperti Firaun secara mutlaq. Adapun bantahan atasnya maka yang ditujukan haruslah kepada para pengikutnya pada masa sekarang ini karena ia sendiri telah pergi dengan ganjaran kebaikan dan keburukannya sebagaimana yang dikatakan.

Dengan demikian, jika yang dimaksud adalah orang-orang hidup. Maka saya hanya akan berkata kepada orang hidup bukan kepada orang mati (Sayyid Quthb) karena keburukan orang-orang ini tidak sampai mencapai keburukan Firaun yang mengaku sebagai Tuhan Yang Esa.

لذلك ما ينبغي أن نجمعَ قسوتَين إحداهما لا بد منهما وهي دعوة الحق التي تفرِّق بين الحق والباطل، وتفرِّق بين المرء وأخيه، ولذلك كان من أسماء القرآن الكريم (الفرقان)، وكان من أسماء الرسول -عليه الصلاة والسلام- (الفارِق) لأنه -أولًا- فرَّق بين الحق والباطل، بين التوحيد والشرك؛ بل وفرَّق بين الرجل وابنه، بين الابن وأبيه.. وهكذا.
هكذا طبيعة دعوة الحق، فحسبُنا نحن -إذن- أن ندعو الناس إلى هذه الدعوة كما قال تعالى: {بالحكمة والموعظة الحسَنة}.
ومما يَحسُن ذِكره هنا -وهو من باب التذكير، وليس من باب التعليم لأن هذا وذاك مما ذكرناه لا يخفى على الإنسان، ولذلك فنحن إنما نتمثل بقول ربنا -عزَّ وجلَّ- في القرآن: {وذكِّر فإن الذكرى تنفع المؤمنين}.
حينما جاء ذلك اليهودي إلى النبي -صلى الله عليه وآله وسلم- وسلَّم سلام اليهود الكافر الحاقد: (السام عليك يا رسول الله)! فما كان منه -عليه الصلاة والسلام- إلا أن قال: “وعليك”، لكن السيدة عائشة التي كانت وراء الحجاب انتفضت وانشقت شقتَين، أخذتها حميَّة الإسلام على نبي الإسلام حيث قالت: “وعليك السام واللعنة والغضب -إخوة القرَدة والخنازير-“، فلما خرج اليهودي أنكر النبي -صلى الله عليه وآله وسلم- على عائشة، وقال لها: “يا عائشة! -وهنا الشاهد- ما كان الرفق في شيء إلا زانه، وما كان العنف في شيء إلا شانه”.
فبينتْ عذرَها، وهذا عذر كل من يتحمس في الدعوة ويستعمل (شيء) من الشدة، قالت: يا رسول الله! ألم تسمع ما قال؟ قال -عليه الصلاة والسلام-: “ألم تسمعي ما قلتُ؟ قال: السام، قلت: وعليك” انتهى الأمر، فبلاش هذه الشدة؛ لأن الشدة لا تأتي بخير.
ولذلك الواقع نحن مسرورون جدًّا بنشاط أخينا الدكتور العلمي؛ لكننا ننصحُه أن يستعمل الرفقَ مع هؤلاء الناس الذين انحرفوا عن دعوة الحق بدعوة رجل لا علمَ عنده.
ونحن قلنا للدكتور: السيد قطب ليس بعالِم، بل ربما لا يُحشر في طلبة العلم ككثير من الكُتاب -وبخاصة المصريين- يعني يكتبون ويظنُّون أنهم ممن يُحسنون صنعًا.
هذا رأيي.

Oleh karena itu, tidak layak kita mengumpulkan dua kekerasan yang saling terkait satu sama lain! Yaitu dakwah kepada kepada kebenaran yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan dan memisahkan antara saudara dengan saudaranya. Oleh karena itulah salah satu nama dari Al-Quran adalah: Al-Furqan, dan salah satu nama Nabi Muhammad adalah Al-Fariq/Pemisah, karena beliaulah yang pertama kali memisahkan yang benar dan yang batil, antara tauhid dan syirik, bahkan memisahkan seseorang dengan anaknya, antara anak dan ayah…dan seperti itulah karakteristik dakwah yang haq/benar. Dengan demikian, cukuplah kita mendakwahi manusia kepada dakwah ini sebagaimana firman Allah: “dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)

Dan yang menjadi penting untuk disebutkan di sini adalah bahwa hal ini masuk dalam bab mengenai peringatan dan bukan bab pengajaran (menggurui), karena ini dan itu dari apa yang telah kami sebutkan sudah diketahui oleh banyak orang. Oleh karena itu kami hanya mencontohkan firman Allah dalam Al-Quran: “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzariyat: 55)

 Ketika seorang Yahudi menghampiri nabi dan mengucapkan salamnya, yaitu salam ala Yahudi yang kafir dan dengki kepada beliau: “Semoga kamu teracuni.” Maka apa reaksi beliau? Beliau hanya berkata: “Semoga kembali padamu juga.” Akan tetapi sayyidah Aisyah yang berada di belakang balutan hijabnya merasa terguncang dan mengalami dilema, semangat Islam kepada Nabi membuatnya bangkit dan berkata: “Dan semoga racun, laknat serta kemarahan malah menimpamu sendiri –saudara kera dan babi-“.

Ketika Yahudi tersebut pergi, Nabi menegur Aisyah dan bersabda: “Wahai Aisyah mengapa…” -dan ini adalah bukti- bahwa kebaikan dalam sesuatu hal maka itu akan mengindahkannya, dan kekerasan pada satu hal maka itu akan menodainya lalu Aisyah mengeluarkan alasannya. Dan ini selalu menjadi alasan bagi setiap dai yang terlalu berapi-api dalam dakwah dengan menerapkan sesuatu yang keras. Lalu Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah apakah engkau tidak mendengar ucapannya tadi?” Jawab beliau: “Apa kamu tidak mendengar apa yang telah kukatakan. Ia berkata: ‘Racun’, dan aku membalas: ‘itu untukmu saja!’” Selesai sudah! Inilah muatan kekerasan karena kekerasan tidak mendatangkan kebaikan  sama sekali.

Oleh karena itu kami semua sangat senang sekali dengan geliat keilmuan/aktivitas ilmiah saudara kami Rabi, akan tetapi kami tetap menasehatinya untuk menggunakan kebaikan kepada orang-orang yang menyimpang dari dakwah yang benar dengan seruan kepada seorang laki-laki yang tidak memiliki ilmu sama sekali.

Kami sendiri telah berkata kepada DR Rabi: Sayyid Quthb itu bukan ulama. Bahkan boleh jadi malah tidak memenuhi kualifikasi sebagai para penuntut ilmu sebagaimana kebanyakan mereka para penulis-khususnya para penulis Mesir-yakni mereka menulis dan mengira bahwasanya mereka termasuk orang-orang yang hebat dalam berkarya. Ini pendapat saya.

السائل: الشيخ ربيع في الزيارة السابقة تكلمنا عن كتاب “أضواء إسلامية على عقيدة سيد قطب”، وقلتَ لي أن فيه شدة، فأنا طالبتُك بالدليل، ووعدتَني في مرة أخرى عند (أخونا أبو) كامل، أيضًا طالبتُك بالدليل قلت لي: لا يحضرني الآن.
فأريد أن أرى الشدة في كتبه حتى أنصحه.
الشيخ: طيب، وأنت ما قرأت كتبَه؟
السائل: قرأتُ كتبه لكن لم أجد الشدة.
الشيخ: سبحان الله!
السائل: نعم، أعطنا البرهان على شدته في كتابه “أضواء إسلامية على عقيدة..”.
الشيخ: أنا ما كنت أظن أنك بحاجة إلى مثل هذا الدليل!
السائل: أتثبت!
الشيخ: التثبُّت لمن لم يدرس، أما وأنتَ درستَ الكتاب من أوله إلى آ خره، ودرستَ كتبَه الأخرى ما وجدتَ شيئًا من الشدة؟
السائل: ما وجدت.
حينما كتبتم له تزكية وأنتم موافِقون عليه، ثم قسَّمتُم المعارضين له إلى قسمَين: قسم عالِم، وقسم.. ثم في الأخير قلتم هذا الثاني أيضًا يعني كلام قاسي جدًّا أكثر مما قاله…
الشيخ: الثاني إيش؟
السائل: الثاني الذي هو عن هوى أو عن كذا، فقلتم هذا يجب أن يقصم ويجب أن كذا وكذا وكذا؛ فوجدت هذا فيه شدة أكثر!

Penanya: Syaikh Rabi dalam kunjungannya sebelumnya berbicara kepada kami tentang kitab Adhwa Islamiyah Ala Aqidah Sayyid Quthb namun Anda malah mengatakan padaku bahwasanya di dalamnya terdapat kekerasan, maka saya meminta kepada Anda untuk menunjukkan bukti dan Anda juga sudah berjanji padaku pada kesempatan yang lain di saat bersama (saudara kami Abu) Kamil juga, dan juga saya telah meminta bukti, namun Anda katakan padaku: “Jangan hadirkan dulu padaku sekarang.” Maka aku ingin melihat kekerasan dalam kitab-kitabnya hingga aku bisa menasehatinya.

Syaikh: Baik, Anda sendiri apa yang telah Anda baca dari tulisannya?

Penanya: Semuanya sudah saya baca namun saya tidak menemukan kekerasan di dalamnya!

Syaikh Albani: Subhanallah!

Penanya: Ya memang demikian adanya oleh karena itu berikanlah kami penjelasan mengenai kerasnya beliau dalam kitabnya Adhwa Islamiyah Ala Aqidah Sayyid Quthb.

Syaikh Albani: Justru saya malah mengira Anda sudah tidak membutuhkan bukti lagi!

Penanya: Tetap. Saya tetap ingin verifikasi yang jelas!

Syaikh Albani: Verifikasi hanya untuk mereka yang tidak belajar. Sedangkan Anda, telah mempelajari kitab ini dari awal hingga akhirnya, dan Anda juga telah mempelajari kitab-kitabnya yang lain dan apakah Anda masih tetap tidak mendapatkan sesuatu yang keras sedikitpun?

Penanya: Sama sekali tidak! Ketika Anda menuliskan rekomendasi beliau dan menyetujuinya kemudian Anda malah melakukan dualisme yang saling bertolak belakang kepada beliau, yang satunya adalah Alim (orang berilmu) dan yang satunya lagi… kemudian di akhir ini Anda katakan: “ini yang kedua juga”, yakni ucapan yang keras sekali bahkan lebih banyak lagi dari apa yang ia katakan…

Syaikh Albani: Yang kedua yang mana?

Penanya: Yang kedua, yakni dari hawa napsunya atau dari  ini dan itu, dan Anda katakan: Ini wajib dipatahkan dan wajib di… di… di… dan aku temukan di dalamnya kekerasan yang banyak sekali!

الشيخ: شدة ممن؟
السائل: منك حينما كتبتَ له في الخطاب، كتبتَ للشيخ ربيع أنك تشكرُه على نشاطه العلمي وكذا وكذا، وتنصحه، وتقول: المخالِفون له قسمان: قسم كذا، وقسم كذا، والثاني هذا يجب أن يُقصم ويجب أن يُبعد، وتكلمت كلامًا قاسيًا في القسم الثاني الذي..
الشيخ: طيب، أنت الآن تتبنى رأي الدكتور، أو أسلوب الدكتور
[مقاطعة من السائل]: لا أنا ما أتبنى بس أريد..الشدة..
الشيخ: عفوًا أنت الآن كما يقولون عندنا في الشام: نصف الكلام ما عليه جواب!
فهل فهمتَ ماذا أعني بـ(أنت الآن)؟
فاصبر علي.
أنت الآن تتبنى أسلوب الدكتور الربيع. [مقاطعة]
اصبر علي..أعني: حينما تقول أنه لا شدة في أسلوبه؛ إذن أنت تتبنَّى هذا الأسلوب، كيف تقول: لا؟!
السائل: لأني أنا أنفي الشدة عنه! وأريد أن أرى الشدة أين هي؟!
الشيخ: سبحان الله! ما فيه فائدة من إعادة الكلام، إلا إذا لم يفهم بعضُنا بعضًا.
أنا فهمتُ الآن منك، لكن أنا أقول الآن: بناء على ما سمعتُ منكَ أنك تتبنَّى أسلوب الدكتور في ردِّه على سيد قطب وعلى الإخوان المسلمين وعلى كل المنحرِفين عن السنة، صحيح هذا الذي أقول؟
السائل: بلى..
الآن: هل يصح أن نقول عن إنسان إنه قال هذا عن هوى ونحن ما شققنا عن قلبه؟
هذا أولًا.
ألا يكفينا في أسلوب الدعوة أن نقول: إن هذا خطأ، أو هذا ضلال، وبلاش نتعمَّق إلى ما في القلوب، وأن نقول: إنه قال ذلك عن هوى، وبخاصة بعد أن انتقل إلى الرفيق الأعلى، إلى رحمة الله وفضله.
أسألك أنا الآن: هل هذا من أسلوب الدعوة اللينة التي مثلنا لها آنفًا ببعض الآيات والأحاديث؟

Syaikh Albani: Kekerasan, dari siapa itu?

Penanya: Dari Anda sendiri ketika Anda menuliskan pesan kepadanya. Anda tulis kepada Syaikh Rabi bahwasanya Anda berterima kasih padanya atas geliat keilmuannya dan seterusnya (dst)…. Dan Anda nasehati beliau dan Anda katakan: Orang yang menyelisihi beliau ada dua golongan… yang pertama seperti ini… dan yang kedua seperti ini… dan yang kedua ini wajib dipatahkan dan dijauhi, dan Anda sebutkan perkataan yang keras pada yang kedua tadi yang…

Syaikh Albani: Baiklah kalau begitu, Anda sekarang ini mengekor pemikiran Pak Doktor atau metoda Pak Doktor

Penanya: …… (Ada yang terputus dari ucapan si penanya) tidak juga. Saya tidak mengekori pemikirannya… saya hanya ingin bukti kekerasan beliau saja…

Syaikh Albani: Maaf, “Anda sekarang” sebagaimana yang orang-orang katakan: “Omongan/pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban!” Maka apakah Anda paham siapa yang saya maksud dengan “Anda sekarang”?. Mohon untuk tetap bersabar bersama saya. Anda sekarang mengekori metoda DR. Rabi…. (terputus) sekali lagi mohon untuk tetap bersabar bersama saya … maksud saya: ketika Anda katakan bahwasanya beliau tidak memiliki kekerasan atas metodanya, maka bukankah itu artinya anda ikut mengekori metodanya juga, bagaimana Anda bisa katakan: tidak!

Penanya: Karena saya menolak kekerasan yang dialamatkan padanya. Oleh karena itu saya ingin melihat kekerasannya, dan dimana letaknya?

Syaikh: Subhanallah! Tidak ada gunanya mengulang kembali ucapan, kecuali salah satu di antara kita ada yang belum paham. Sekarang saya sudah paham apa yang ingin Anda utarakan. Akan tetapi sekarang saya tanya kembali: Berdasarkan apa yang saya dengar dari Anda, seakan-akan Anda mengekori metoda DR Rabi dan bantahannya kepada Sayyid Quthb dan juga kepada ikhwanul muslimin dan kepada siapa saja yang menyimpang dari sunnah, apakah yang saya katakan ini benar?

Penanya: Benar!

Syaikh: Sekarang, apakah benar jika kita katakan tentang seseorang bahwasanya ia berkata dari hawa napsunya sementara kita tidak membedah dadanya? Ini yang pertama. Apakah tidak cukup bagi kita hanya berkata: Ini salah atau ini sesat dan tanpa harus menyelam dalam-dalam ke dalam isi hati seperti yang kita katakan: “Sesungguhnya ia berkata dari hawa napsunya!” lebih-lebih setelah kepulangannya keharibaan Allah (Teman) yang Maha Tinggi, kepada kasih sayang dan keutamaan-Nya. Saya tanya Anda sekarang: Apakah ini adalah metoda dakwah yang lembut yang sudah kita contohkan tadi dengan beberapa ayat dan hadits-hadits?

السائل: هو يقول عن هوى؟
الشيخ: أنت تقول هكذا!
السائل: أنا قلت أن الشيخ ربيع قال عن هوى؟ أنا أريد الشدة في كتاب الشيخ ربيع؟ والكتاب موجود عندك ووعدتني به.
الشيخ: أنت ماذا نسبتَ إلي في شيء قلت أن هذا الشيء يجب أن يؤخَّر، ما هو؟
السائل: هذا كلامك أنت..
الشيخ: فهمت أنا كلامي، نعم؛ كلامي أن ندع اتهام الناس بالهوى.
السائل: لا، أنت كنتَ تقول عمن يخالف الشيخ ربيع: منهم من يخالفه عن هوى، ومنهم من يخالفه كذا، وهذا يجب أن يُفعل به كذا وكذا..
الشيخ: يُفعل فيه ماذا؟
السائل: في هذا الشخص الذي يقول هذا الكلام.
الشيخ: نحن يجب ألا نتجادل على الهوى، يجب أن نحضِر النصوص، وين هذا الكلام؟
السائل: من كلام الشيخ ربيع.
الشيخ: قل لي وين حتى نطالعه يا أخي.
السائل: التزكية التي كتبها الشيخ للشيخ ربيع في ورقة.
الشيخ: (أعطينا) كتب..هذا الربيع!
السائل: فيه ورقة كانت خارجة عن الكتاب.
الشيخ: ثم ماذا وراء هذا -يا أستاذ-؟
السائل: يعني هو رجل إن شاء الله نحسبه على خير، فالناس يقولوا خلاص الشيخ ناصر يقول هذا أسلوبه غير صحيح وعنده شدة.
فنحن نريد نرى الشدة أين هي؟
الشيخ: في كل كتبه الشدة موجودة.
السائل: عندكم “أضواء إسلامية”؟
الشيخ -يقرأ من الكتاب-: الآن هنا يقول: “فهذا يبيِّن إصرار سيد قطب على الطعن في أصحاب رسول الله، وإصراره على الاشتراكية الغالية التي قررها في هذا الكتاب، وإصراره على رمي المجتمعات الإسلامية كلها بأنها مجتمعات جاهليَّة -أي: كافرة-“.
هذا مش شدة؟
السائل: وين الشدة! أين هي؟
الشيخ: “أي: كافرة”.
السائل: ما قال الجاهلية، ما قال..

Penanya: Dia berkata dari hawa napsunya, maksudnya?

Syaikh Albani: Anda sendiri yang mengatakan demikian!

Penanya: Yang saya tanyakan adalah apakah Syaikh Rabi berkata dari hawa napsunya? Saya ingin bukti kekerasan dari kitabnya Syaikh Rabi? Dan kitab tersebut ada padamu dan Anda telah berjanji padaku.

Syaikh Albani: Anda, lantas hubungannya dengan ucapan saya: bahwa yang ini harus diakhirkan, apa itu?

Penanya: Ini adalah ucapan Anda sendiri:

Syaikh Albani: benar, ini ucapan saya, yaitu marilah kita tinggalkan menuduh manusia dengan hawa napsu.

Penanya: Tidak, Anda barusan berkata mengenai siapa-siapa yang menyelisihi Syaikh Rabi:  Di antara mereka ada yang menyelisihinya dari hawa napsu dan di antara mereka siapa-siapa yang menyelisihinya ini dan itu dan ini harus direspon seperti ini dan ini

Syaikh Albani: Meresponnya, apa maksudnya?

Penanya: merespon laki-laki yang mengucapkan kata-kata ini.

Syaikh Albani: Yang wajib bagi kita bukan berdebat di atas hawa napsu, melainkan menghadirkan nash kitab/ teks buku, dari mana asal ucapan ini?

Penanya: Dari kata-kata Syaikh Rabi.

Syaikh Albani: Katakan padaku yang mana agar saya dapat menelaahnya kembali wahai saudaraku.

Penanya: Rekomendasi yang Anda tulis bagi Syaikh Rabi di atas kertas

Syaikh Albani: (Bawakan padaku) buku-buku… Inilah Rabi!

Penanya: Di dalamnya terdapat halaman yang berada di luar isi buku.

Syaikh Albani: Sebenarnya maksud Anda ini apa pak?

Penanya: Maksudku, beliau adalah seorang laki-laki yang insya Allah kami menganggapnya berada di atas kebaikan. Orang-orang berkata: Pertolongan Syaikh Nashiruddin menyatakan: Metoda orang ini (DR Rabi) tidak benar dan padanya ada kekerasan. Dan kami ingin melihat kekerasannya dimana?

Syaikh Albani: Dalam setiap kitabnya selalu ada kekerasan.

Penanya: Apa Anda memiliki kitab Adhwa Islamiyah

Syaikh Albani: (Membaca kitab tersebut): Nah sekarang di sini ia berkata: “Maka ini semakin menjelaskan adanya tendensi Sayyid Quthb untuk mencemarkan nama baik segenap sahabat Nabi dan juga tendensinya atas “sosialisme yang agung” yang ia gelorakan di bukunya ini (Keadilan Sosial dalam Islam), serta adanya tudingan bahwa seluruh masyarakat Islam kebanyakan adalah masyarakat jahiliyah, yakni kafir! Dan tentu saja dibarengi pertanggung jawaban atas semua urusan ini bagi mereka yang menyebarkan pemikiran dan mazhab Sayyid Quthb, bahkan mereka memiliki tanggung jawab yang lebih banyak/besar darinya.” Apakah ini termasuk kekerasan?

Penanya: Mana kerasanya?

Syaikh: Pada kata kafir.

Penanya: Ia (Sayyid Quthb) tidak (memaksudkan) mengatakan jahiliyah, sama sekali tidak…

الشيخ: يا أخي! لا تكرر الكلام الله يرضى عليك، خلينا في اللفظة التي نحن نتباحث فيها الآن.
أنت تعرف في الحديث الصحيح: “إن فيك جاهلية” هل هذا معناه أن هو كافر؟
السائل: لا.
الشيخ: طيب، فإذا السيد قطب وصف مجتمعه بأنه مجتمعه مجتمع جاهلي، من أين لنا أن نفسِّر وأن ننسب إليه أنه يكفِّر هذا المجتمع؟
السائل: حينما قال: هؤلاء المؤذنون الذين يقولون لا إله إلا الله…
الشيخ: نحن هنا الآن، لا تجيب لي من بره -يا أخي-، نحن نناقش العبارة التي بيننا، ولكل عبارة ملاحظتنا فيها ونقاشنا فيها.. إلخ.
أنا أقول الآن: المجتمع جاهلي؛ يقال: أي: كافر.
نحن نقول: (أي: كافر) هل هذا لين؟
السائل: بالنسبة للكلمة هذه ما هي صحيحة، بس بالنسبة لما سبق…
الشيخ: يا أخي! بارك الله فيك! يعني نحن نقول كل كلمة وكل عبارة هو متشدد فيها؟!
أنتَ نفيتَ آنفًا أن يكون في كتاباته شدَّة، وأنك ما رأيتَ فيها شيئًا من الشدة، هذا شيءٌ من الشدة، وحسبُك اعترافُك الآن، وهذا من فضلك.
ولذلك نحن لا نريد أن نتعصَّب لأشخاص، ولا على أشخاص؛ يعني: لا نريد أن نتعصب لزيد ولا على زيد، لا نريد أن نتعصب (لأخونا) الربيع لأن الحق معه، ولا نريد أن نتعصب على سيد قطب لأن البطل والخطأ معه.
نريد أن نكون بين ذلك، “سددوا وقاربوا”.
أنا لو كنتُ متفرغًا من أجل الربيع فقط بضيّع وقتي حتى أعطي إشارة أن هذه فيها شدة…
أنت بتحرك رأسك! لكن كأني أنا..حسب التعبير السوري!
اسمح لي الله يهديك! أنت ولا أخونا؛ أنتو بتظنوا أن الشيخ الألباني ما فيه عنده ما يشغله إلا أن يقرأ كتب (أصدقاؤه) وإخوانه في المنهج وكتب خصومه أيضًا ويقعد ويصفي!
لا؛ نحن يكفينا تصفية السنة، وما فينا كفاية والحمد لله رب العالمين.
ولذلك لا تتحمس أنت أيضًا مع صاحبنا القديم أنت تقول: ليش ما تبيّن!

Syaikh: Saudaraku! Tidak ada gunanya terus mengulangi pembicaraan yang sama, semoga Allah meridhaimu. Ayo kita konsentrasi pada kata (jahiliyah) yang sedang kita bahas bersama ini. Anda kenal hadits shahih berikut ini: “Sesungguhnya padamu ada jahiliyah”, apakah ini maknanya bahwasanya ia adalah kafir?

Penanya: Tidak!

Syaikh: Baiklah, ketika Sayyid Quthb mendeskripsikan masyarakatnya adalah masyarakat jahiliyah maka dari mana kita dapat menafsirkan atau menganggap ia mengkafirkan masyarakat ini?

Penanya: ketika ia berkata bahwa orang-orang yang mengumandangkan azan yang berkata la ilaha illallah

Syaikh: Ayolah kita sedang berada di sini (pada kata kafir) dan saya tidak ingin keluar dari konteks ini sedikitpun wahai saudaraku. Kita sedang membicarakan pemaknaan yang ada di antara kita, dan setiap pemaknaan harus ada tinjauan dan diskusi kita di dalamnya … dan seterusnya. Yang saya katakan sekarang: Masyarakat jahiliyah, yang ia (DR Rabi) sebut sebut sebagai kafir. Kami tanyakan: (yakni kafir) apakah ini lembut?

Penanya: Dihubungkan pada kata ini apanya yang benar, berdasarkan apa yang sudah berlalu…

Syaikh: Saudaraku! Barakallahu fik, yaitu kami katakan setiap kata dan pemaknaan yang mana dia bersikap keras (mutasyaddid) di dalamnya?

Anda baru saja mengelak bahwa di dalamnya kitabnya terdapat kekerasan. Dan Anda tidak melihat sedikitpun kekerasan di dalamnya… Inilah dia kekerasan tersebut semoga saja Anda mau mengakuinya sekarang. Silahkan untuk menerimanya.

Oleh karena itu, kami tidak menginginkan membela person-person tertentu secara membabi buta, tidak pula membenci person-person tertentu dengan membabi buta pula, yakni kami tidak ingin membabi buta membela Zaid ataupun membencinya dengan membabi buta pula, kami tidak ingin membela saudara kami Rabi secara membabi buta meski kebenaran bersamanya dan kami juga kami juga tidak ingin menghantam Sayyid Quthb secara membabi buta meski kebatilan dan kesalahan ada padanya. Yang kami inginkan hanyalah pertengahan di antara keduanya, yaitu membenarkan dan saling mendekatkan

Seandainya saya menghabiskan waktuku untuk Rabi saja sampai saya memberi tanda bahwa yang ini di dalamnya ada kekerasan… kenapa Anda menggeleng-gelengkan kepala seakan-akan saya ini berbicara dengan logat Syiria saja, biarkan aku melanjutkan, semoga Allah memberimu hidayah. Anda mungkin menyangka bahwa Syaikh Albani hanya sibuk membaca buku kolega dan saudara-saudaranya dalam perkara manhaj dan juga buku-buku lawannya, mendudukkan (persoalan) dan melakukan pemurnian! Tidak pemurnian sunnah sudah membuat kami cukup dan tidak ada pemurnian yang lain alhamdulillahirabbin Alamin. Oleh karena itu Anda jangan terlalu berapi-api juga bersama kawan lama kami itu, Anda katakan: Mengapa tidak jelas!

السائل: أنا أنقل له، إذا كنت وجدت شيء أنا أنقل له وأبيِّن له…
الشيخ: أنتَ تطلب مني أن أفلي له كتابه، ولا؟
السائل: نعم، أنت تقول: فيه شدة، طيب من أين هذه الشدة؟ من هذه الكلمة مثلًا؟ أنا أقول بناء على ما قرأه من قبل أنه مجتمعات جاهلية ولم تحكم بالإسلام؛ فسرها بما مضى، بشيء ماضٍ..
الشيخ: هذا منه شيء كثير بارك الله فيك.
أنت اقرأ الكتاب بروية بإمعان، لا مع زيد، ولا مع عمرو؛ وإنما مع الحق حيثما كان -أسلوبًا وغاية-.
فإذا أنت قرأتها؛ ستجد أشياء كثيرة وكثيرة جدًّا، نحن معه علمًا -باختصار-، لسنا معه أسلوبًا.
والمجتمع الآن..
أنا في الأمس القريب كان عندي هنا ناس، جرى حديث حول أسلوب الدعوة، ومما دار الحديث حوله: الهجر الشرعي، ومقاطعة المسلم للكافر بل وللمسلم المبتدِع.
فأنا قلت -وهذا ما أدينُ اللهَ به، وأنصح الناسَ به-: أن مبدأ الهجر في الإسلام مبدأ رائع ووسيلة تربوية عظيمة جدًّا؛ ولكن: يجب أن توضَع في مكانها وفي زمانها.
ويكفي في ذلك -دِلالةً- قصة الثلاثة الذين خلِّفوا.
لكن أنا لا أرى اليوم المسلم أن يقاطع أخاه المسلم الذي يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله لأنه انحرف -إما فِكرًا وإما عملًا-؛ بل عليه أن يُصاحبَه وأن يناصحه.

Penanya: Saya akan sampaikan padanya, jika memang Anda menemukan sesuatu maka saya akan sampaikan padanya dan menjelaskannya.

Syaikh: Sebenarnya Anda ini meminta saya untuk menilai bukunya atau tidak?

Penanya: Tentu saja, Anda katakan: Di dalamnya terdapat kekerasan, baiklah, dari mana kekerasan ini? Dari kata ini misalnya, saya akan katakan berdasarkan apa yang dibaca beliau sebelumnya bahwasanya itu adalah masyarakat jahiliyah yang tidak menegakkan hukum Islam, dan itu sudah beliau jelaskan sebelumnya dengan sesuatu yang telah berlalu…

Syaikh: Masih banyak lagi barakallahu fik. Anda bacalah bukunya dengan teliti, hati-hati dan perlahan-lahan, tidak usah ditemani oleh si Zaid ataupun si Amr, tapi haruslah bersamamu itu kebenaran dalam setiap metoda dan sasarannya. Jika Anda membacanya maka Anda akan menemukan sesuatu yang banyak sekali. Kami senantiasa bersamanya dalam ilmu, dalam artian sama sekali tidak bersama metodanya. Dan masyarakat tersebut sekarang….

Baru-baru kemarin saya bersama orang-orang dan terjadilah perbincangan di antara kami mengenai metode dakwah, dan diantara yang dibicarakan pada saat itu adalah: Hajar Syar’I (boikot yang berlandaskan hukum syariat), pemutusan hubungan oleh pihak muslim kepada pihak kafir bahkan hingga pemutusan hubungan dengan seorang muslim yang melakukan bidah (mubtadi’). Maka saya katakan: Dan inilah yang diberi sanksi oleh Allah dan saya nasihatkan mereka: Bahwasanya prinsip hajr (boikot) dalam Islam adalah prinsip yang agung dan menjadi sarana pendidikan yang luhur sekali, akan tetapi harus diletakan pada tempatnya dan waktunya masing-masing. Dan cukuplah sebagai contohnya adalah kisah tiga orang sahabat yang tertinggal dari perang tabuk. Akan tetapi saya tidak mau melihat pada masa ini seorang muslim yang memutuskan hubungan dengan muslim lainnya yang telah bersyahadat hanya karena dia menyimpang baik pemikirannya maupun perbuatannya akan tetapi hendaknya ia bergaul dengannya dan menasehatinya.

إذا خشيَ أن يُصاب هو بشيء مما في صاحبِه من لوثة فكرية أو خُلُقيَّة؛ يبتعد عنه.
أما من كان ذا حُجة وذا عصمة في نفسِه وخلق قويم .. إلخ؛ فهذا لا ينبغي -في هذا العصر- أن يعلن مبدأ المهاجَرة والمقاطَعة.
وذكرتُ أنا بهذه المناسبة أمس القريب -ومرارًا وتكرارًا-ولعل هذا مسجل في بعض الأشرطة-: الحكاية التي تُحكى عندنا في سورية أن رجلًا كان مبتلًى بترك الصلاة ثم تاب وأناب إلى الله -عزَّ وجلَّ- فيما ظهر منه، وعزم أن أول صلاة يذهب إلى المسجد ويصليها، فلما ذهب إلى المسجد وإذا المسجد مغلق، فقال: أنت مسكّر وأنا مبطّل!
تعرف هالنكتة السورية؟!
طيب؛ اليوم مثلنا ومثل المنحرِفين عن الدعوة مثل هذا الرجل تمامًا!
بمعنى: نحن الآن في زمن الغربة التي تحدَّث عنها الرسول -عليه السَّلام- في أكثر من حديث واحد، ومنها: أنه وصف الغرباء أنهم “ناس قليلون صالِحون بين ناس كثيرين، من يعصيهم أكثر ممن يطيعهم”.
فالآن إذا نحن بدأنا نرفع راية الهجر والمقاطَعة؛ ما راح يبقى حولنا حتى أولئك الناس الذين قد نظن أن فيهم (استعداد) لجلبهم إلى الخير، هذا كذا وهذا كذا..

Namun jika ia takut tercemar/terjangkiti oleh kebodohan pemikirannya atau moralnya hendaklah ia menjauhinya. Adapun bagi yang memiliki hujjah/argumentasi dan bisa menjaga diri dan memiliki keluhuran budi pekerti dst… maka tidak pantas bila di zaman sekarang menyebarkan prinsip penghajaran dan pemutusan hubungan. Pada kesempatan yang kemarin ini saya telah sebutkan berkali-kali dan berulang-ulang dan mudah-mudahan ini direkam dalam beberapa kaset: Sebuah cerita kami dapatkan sewaktu di Syiria sana. Ada seorang laki-laki yang mendapatkan cobaan dengan meninggalkan shalat kemudian ia bertaubat dan mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla sebagaimana yang nampak darinya. Dan ia bertekad untuk shalat kembali dan pergi ke masjid dan shalat di sana. Namun ketika ia sampai di sana pintu masjidnya sudah tertutup maka ia berkata: Anda tutup maka saya batal (bertaubat). Anda tahu “pepesan kosong syria?!” Yah seperti inilah ia.

Baiklah, yang ada di zaman sekarang adalah orang-orang seperti kita dan orang-orang yang menyimpang dari dakwah serta seperti laki-laki tadi secara keseluruhan! Dalam artian: Kita sekarang di zaman keterasingan (ghurbah) sebagaimana yang sering dibicarakan oleh Rasulullah dalam satu ungkapan, diantaranya adalah: bahwasanya beliau mendeskripsikan orang-orang yang asing itu (ghuraba) sebagai manusia saleh yang berjumlah sedikit di tengah-tengah manusia yang banyak, orang yang menyelisihi mereka lebih banyak dari orang yang mendukung mereka.
Maka sekarang, jika kita terapkan kaidah hajar (boikot) dan pemutusan hubungan; maka apa yang akan terjadi di tengah-tengah kita, sampai-sampai orang-orang tadi yang kita anggap bisa diajak kembali kepada kebaikan… kalau begini akan begini dan kalau begitu akan begitu.

لا؛ الآن نحن أشبه ما نكون في العهد الأول؛ يعني نحن الآن غرباء ويكفي وصف الرسول -عليه السَّلام-، نحن مضطهدون سواء من الحُكام أو من المجتمع العام الذي سماه سيد قطب بالمجتمع الجاهلي لأنه يغلب عليهم أفعال الجاهلية الأولى.
الآن تبرج النساء سبقوا نساء الجاهلية .. إلخ، فضلاً عن انحرافات عقدية وفكرية وعمليَّة وانتشار الربا والزنا والفاحشة مما لم يكن في زمن الجاهلية الأولى.
الشاهد: فإذا ما نحن استعملنا الشدة ومن ذلك الهجر المشروع؛ معنى ذلك أننا ابتعدنا عن الدعوة، وكما يُعبِّرون اليوم: تقوقعنا على أنفسنا.
فأنا أريد والله مخلصًا لصديقنا -ولا أقول لتلميذنا قديمًا- أن يظل مستمرًا في علمه وجهاده؛ ولكن أن يُلين قولَه مع خصومه، وبس.
من الدقيقة: (9 إلى 34)

Tidak, sekarang kita seperti berada di zaman-zaman awal; maksudnya adalah kita adalah orang-orang yang asing  sebagaimana gambaran Nabi, kita adalah orang-orang yang tertindas baik kita dalam pengelompokan penguasa atau masyarakat umum yang disebut oleh Sayyid Quthb dengan masyarakat Jahiliyah karena kebanyakan mereka melakukan perbuatan-perbuatan jahiliyah yang pertama (sebelum kedatangan Islam). Sekarang para wanita berdandan melebihi perempuan jahiliyah dst… hingga terjadinya penyimpangan akidah pemikiran dan perbuatan dan tersebarnya praktek riba dan zina dan segala macam perbuatan keji yang belum pernah ada di zaman jahiliyah pertama.

Bukti: Jika kita tidak menerapkan kekerasan terutama hajar (boikot) yang disyariatkan, dalam artian kita malah menyingkir dari dakwah sebagaimana omongan orang zaman sekarang: minder (mengisolir diri) maka saya ingin -demi Allah-  terus mendorong teman kami (Rabi) -dan saya tidak menyebutkan murid kami yang dulu- untuk tetap melanjutkan amal dan jihadnya selama ini hanya saja hendaknya ia melembutkan ucapannya kepada musuh-musuhnya. Itu saja.

Dari menit (9 sampai 34)

Bersambung pada bagian 3 dengan judul: Mengkaji Sastra Melalui Medium Agama: Bagaimana Membaca Nalar Sastra Sayyid Quthb? Upaya Meletakan Sebuah Vonis yang Tercecer Pada Tempatnya Semula. (Bantahan Atas Syaikh Rabi dan Lukman Ba’abduh)

33 thoughts on “1. Kritik Terbuka Syaikh Albani Terhadap Syaikh Rabi. Benarkah Syaikh Rabi Murid Syaikh Albani? (Bag 2)”

  1. Asssalamualaikum, saya baru mengenal manhaj ini, makanya saya suka mengumpulkan tulisan tulisan di situs situs para salaf. Namun yang menjadi masalah dan mengganjal dalam hati, ketika membaca perseteruan antar orang-orang salaf yang tidak habis habisnya. Saya lihat mereka habiskan waktu untuk berdebat dengan rujukan masing-masing. Maka tolonglah bagi kami yang masih awam dan baru mengenal manhaj ini, agar perseteruan ini segera berakhir, kami jadi bingung dan bimbang memilih pendapat yang mana. Hanya untuk memenangkan pendapat saja begitu lama, apalagi kalo berdebat dengan ahlul bidah. Entah berapa tahun perdebatan ini sudah dimulai, dan entah kapan berakhirnya.

    1. sudah saya ralat. Insya Allah, peseteruan ini tidak akan pernah berakhir. Perhatikan Sabda Nabi berikut ini:

      Rasulullah bersabda aku meminta kepada Tuhanku tiga hal, Ia memberiku dua hal dan menolak satu hal. Aku meminta kepada Tuhanku agar tidak membinasakan umatku dengan kelaparan, Ia mengabulkannya, aku meminta kepada-Nya agar tidak membinasakan umatku dengan banjir besar, maka Dia mengabulkannya. Aku meminta kepada-Nya agar tidak dijadikan petaka umatku karena perselisihan sesama mereka, Dia menolaknya.(HR Muslim 2890).

      Lalu pertanyaannya adalah apakah ini baik bagi kita?
      akan saya jawab dalam tulisan-tulisan saya nantinya di blog ini. Nantikan saja.

  2. Barakallahu fihi
    ustad menyadarkan ana apa pun sebenar jangan sampai ada penyakit dihati kita kebencian kepada para ulama yang selama ini kita kenal kemurnian akidah & mahaj mereka mengikuti assalaf ashshalih walaupun mereka bukan maksum. Seperti syekh rabi’,syekh ali hasan,syekh yahya dll kita mencintai mereka dalam haq dan meninggalkan kekeliruan mereka tanpa mengurangi kemuliaa mereka
    wallahu a’lam

    1. Betul, menjadi salafy tidaklah harus dinilai dari ta’ashub gilanya pada ulama. Contohnya Syaikh Albani di atas. Ia tidak gila-gilaan membela Syaikh Rabi meski ia benar dalam satu konteks dan juga tidak gila-gilaan menghantam Sayyid Quthb hanya karena ia bersalah dalam satu konteks seperti yang dilakukan para penjilat Syaikh Rabi.
      Karena kalau sudah keluar dari konteks tadi maka akan menjadi lemahlah dakwah ini, saat Syaikh Rabi terjatuh dalam kesalahan maka cinta buta kita tadi akan menghalangi kita untuk meluruskan Syaikh Rabi dan akan terus membelanya mati-matian. Begitupula dengan Sayyid Quthb benci buta kita tadi akan terus menghantamanya dengan hajar/boikot, dll tanpa mau mendakwahinya ke jalan yang benar.

      intinya, manhaj salaf Albani dalam dakwah menurut kami lebih kuat daripada manhaj Syaikh Rabi. Kalau diibarakan dalam hadits:
      SYaikh Albani: Basy-syiru… wa laa (buatlah orang senang dengan dakwah…. namun jangan)
      Syaikh Rabi: Tunaffiru… (buatlah orang lari dari dakwah)
      wallahu a’alam.

  3. Terus terang, sebelumnya saya suka membaca semua situs bermanhaj salaf, terutama untuk saya pribadi dalam memperbaiki ibadah yang ternyata banyak salah dan tidak sesuai dengan sunnah. Seperti shalat, bid’ah, budaya disekitar, maulidan, yasinan, ziarah kubur, serta hal lain yg sangat bermanfaat bagi saya pribadi. Selanjutnya saya juga terpaksa memutuskan langganan email terhadap situs situs yang agak kurang santun serta materi materi yang bukan kapasitas ku untuk membaca. Saya tak mengenal para ulama saudi. Saya hanya menganggap mereka semua adalah ulama yang konsen terhadap manhaj salaf. Anggaplah para ulama dan guru guru mereka seperti orang tua kita, yang tak layak untuk dibikin rapor berisi nilai baik dan jelek yang dibaca oleh kami orang awam. Terus terang saya ikut terseret untuk ikut-ikutan membenci atau membela salah satu ulama gara gara membaca situs mereka. Cara berfikir kami jelas tidak sama dengan anda anda yang terbiasa berfikir ilmiah, sehingga bisa menelaah dengan logika dan penalaran yang sudah teruji terhadap permasalahan agama, bisa menimbang baik dan buruk serta mengenyampingkan emosi dan hawa nafsu. Bukankah dalam “pendidikan orang dewasa” kita mesti menghidari untuk mempermalukan orang di depan orang banyak? Kecuali yang berseteru itu kumpulan orang yang belum dewasa, yang terbiasa berteriak dan mengadu kepada ortunya masing masing ketika ada masalah. Pengalaman saya guru sd, para siswa yang berkelahi, kalau dinasehati di depan teman temannya pun tidak pernah dendam dan selesai hari itu juga. Yang bikin panjang kalo mengadu ke ortu….ini yg bikin pusing.

    1. Saya terima keluhan Anda sebagai bahan masukan. Ini satu sisi.
      Sisi yang lain yang tak boleh terlupakan adalah bahwa umat punya hak untuk mendapatkan informasi yang benar dari segala arus informasi yang beredar dan berkembang.
      Untuk Anda tahu bahwa tidak ada dakwah yang berjalan mulus di muka bumi ini dari zaman Adam hingga zaman Nabi bahkan zaman sekarang. Semua punya tantangannya masing-masing.
      Oleh karena itu cara aman agar terhindar dari kegalauan seperti yang Anda alami ini adalah dengan belajar.

      Dengan belajar maka Anda akan semakin tahu,
      semakin Anda tahu maka Anda akan semakin tenang,

      karena tidak ada yang Anda tahu selain bahwa Anda hanyalah orang yang tidak tahu (bodoh).
      Sebab semakin Anda tahu (pintar) akan semakin dipusingkan oleh pengetahuan yang Anda tahu.

      Intinya kalau mau mencari permata, maka tidak akan Anda temukan di permukaan laut, Anda masuk ke dasarnya yang paling dalam juga tidak akan Anda temukan, yang ada Anda malah menemukan rahasia-rahasia lain di bawah laut yang malah membuat Anda bertambah pusing. Padahal yang Anda cari dari tadi hanyalah permata.

      Itu saja dari saya. Wallahu a’lam.

    1. Dalam belajar Anda harus memiliki jiwa penyabar. Kalau tidak Anda tidak akan mendapatkan faidah apa-apa dari ilmu yang sedang Anda pelajari. Silahkan lihat kembali kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam Al-Quran. Dan lihatlah dampak yang terjadi bila tidak bisa bersabar atas ilmu yang ingin dicari. Tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga orang lain. Hampir saja Nabi Musa tereliminasi dari pelajarannya hanya karena tidak bersabar.

      Semoga Anda tetap bersemangat mencari ilmu.

  4. Trims ustadz, kegalauan ini terjadi karena ada niatan untuk memasukkan anak saya ke pesantren bermanhaj salafy, dia masih kelas 6 SD, sangat berharap pula bisa belajar ke madinah sana. Walaupun belum tentu diterima atau tidak paling tidak saya selaku ortu ingin mengarahkan anak untuk belajar agama yang jelas. Takutnya masuk ke kelompok yang tidak jelas. Mudahan keinginan itu tercapai. Keinginan ini muncul ketika saya berkesempatan bertemu ustadz firanda dkk di musim haji tahun lalu. Saya terkesan atas tausiah beliau di masjid nabawi. Dulu saya sangat benci wahabi, saya pendukung berat osama bin laden, fpi.
    Makanya saya terkejut dengan tulisan tulisan sesama salafy yang menyudutkan beliau. Hampir saja keyakinan saya mulai berkurang atas manhaj ini.

    1. Nasihat saya semoga bisa menjadi faidah berharga yang bisa antum pegang erat-erat di tengah proses belajar seperti ini adalah Nasihat Ali bin Abu Thalib:

      الحق لايعرف بالرجال..
      وإنما يعرف الرجال بالحق..

      Kebenaran itu tidak dikenal dari orang-orangnya. Orang-orang itulah yang dikenal melalui kebenaran.

      artinya kalau antum belajar maka antum akan tahu siapa yang benar, kalau antum taklid maka antum akan buta dan tidak bisa melihat siapa orang yang membawa kebenaran.

      intinya jangan sibuk dengan person tertentu, sibuklah dengan dengan ucapan dan dakwah mereka terlebih dahulu. Bila terdapat kesalahan tinggalkan, bila terdapat kebenaran tidak ada salahnya bila diterima.
      Sebab kalau antum sudah sibuk dengan orang-orangnya maka yang antum hanya tahu adalah bahwa kebenaran itu hanya datang dari mulut mereka saja. dan segala macam kebenaran yang datang dari selain mereka akan antum tolak. Dan tentu saja ini sangat tidak benar dan menyimpang dari jalan sunnah.

      Kalau Antum mau menyekolahkan Anak Antum, insya Allah bila masih SD maka di sekolah salafi manapun tidak jadi masalah, karena ngga ada pelajaran tahzir semacam ini dalam kurikulum SD salaf. Bila antum lihat sekolah salafinya terdapat kejanggalan2 maka tarik kembali anak antum, dan masukkan sekolah salafi yang benar-benar berorientasi pada pendidikan dan karakter Islam,insya Allah banyak.

      Semoga anak Antum bisa jadi dai yang sukses.

  5. Setelah membaca artikel di atas, yang nampak pada saya, manhaj syaikh Albani diwarisi oleh syaikh Ali Hasan yang sekarang sedang menjadi bulan-bulanan untuk dijatuhkan kredibilitasnya di internet, di kajian, di majalah, di obrolan ikhwan-ikhwan.
    Jangan-jangan justru syaikh Ali yang lebih condong pada kebenaran pada masa ini! Begitukah mas admin?

    1. Sebenarnya saya sendiri memiliki sebuah tulisan dengan judul: “Membongkar Syaikh Ali Hasan “Era Lama” dan “Era Reformasi” Versi Lukman Ba’abduh”. Tinggal tunggu saja tanggal maennya. Insya Allah.

  6. “Ini jelas kesimpulan prematur karena Firanda tidak mendudukkan permasalahan ini dengan benar dan pada tempatnya, sebab di tempat yang lain Syaikh Rabi menyatakan bahwa ahlul bidah yang awam harus didakwahi, adapun yang dimusuhi adalah para petinggi-petingginya. Anda bisa baca di sini http://tukpencarialhaq.com/2013/10/31/kita-tidak-meng-hajr-manusia-seluruhnya/.”

    Sebenarnya bukanlah kesimpulan yang terlalu prematur…
    di link ini http://tukpencarialhaq.com/2013/10/31/kita-tidak-meng-hajr-manusia-seluruhnya/ yang adalah pembagian petinggi/pembesar yang dimusuhi dan masyarakat orang awam yang didakwahi,, alasannya karena ahlul bid’ah itu banyak jadi tidak ada pernyataan ahlul bid’ah yang awwam.. Sebagaimana diketahui awwam biasanya tidak disifati dengan ahlul bid’ah karena ada udzur (biasanya)

    adapun yang menjadi poin kritikan kepada Syaikh Rabi adalah beliau menyamaratakan/tidak merinci Ahlul Bid’ah yang harus dibenci total (100%) apakah ahlul bid’ah yang mukaffirah atau yang non mukaffirah yang masih ada kecintaan kita karena dia muslim

    1. Antum tolong baca sekali lagi tulisan di blog tsb. Ana tidak tahu apakah ana yang buta? atau antum yang terlalu kencang membaca…

      وعوامهم المساكين المخدوعون هؤلاء ندعوهم إلى الله بالحكمة والموعظة الحسنة، وهذا الكلام يؤيده كلام كثير من أئمة السنة ومعاملتهم؛ أنهم يدعون العوام إلى الله -تبارك وتعالى- ولا يهجرونهم كما يهجرون أئمة السوء وأئمة الشر وأئمة الضلال.

      Sedangkan orang-orang awamnya (dari ahli bidah) yang masih miskin ilmunya lagi tertipu, maka kita dakwahi mereka ini dengan hikmah dan nasehat yang baik. Ucapan ini dikuatkan pula oleh ucapan dan cara bermuamalah para ulama sunnah. Mereka mendakwahi orang-orang awam ini kepada Allaah Tabaaroka wa Ta’ala. Para ulama tdk meng-hajr orang-orang awam ini sebagaimana mereka meng-hajr ulama yang jahat, jelek dan sesat.

      افهموا هذا!؛ حتى لا يفهم بعضكم أن كل من وقع في بدعة بت هجره لا كلام معه ولا دعوة ولا شيء!لا، الدعوة قائمة حتى للكفار ولليهود والنصارى. والدعوة قائمة لأهل البدع أيضا لكن لا يتميع الإنسان فيذهب يداخلهم ويأنس إليهم حتى يضيع؛

      Fahamilah ini! Bahkan, jangan sampai sebagian kalian memahami bahwa setiap orang yang terjatuh ke dalam bid”ah maka ditetapkan pula hajr kepadanya, tidak ada perbincangan dengannya, tidak ada dakwah, dan tidak ada pula nasehat apapun! Tidak demikian! Dakwah tetap harus ditegakkan, meskipun kpd orang-orang kafir, Yahudi dan Nashoro. Dakwah juga harus ditegakkan kepada ahlul bid’ah, tapi seseorang tidak boleh lembek sehingga dia pergi keluar-masuk kepada mereka, kemudian menjadi ramah dengan mereka, hingga akhirnya dia ditelantarkan.

      Terlihat jelas sekali pemisahan yang dilakukan oleh SYaikh Rabi, yang awam harus didekati dan yang khawwash (petingginya) harus dijauhi.

      Saya tidak melihat adanya kebencian Syaikh Rabi kepada ahlul bidah yang awam! Kalau Anda bisa melihatnya tolong terangi saya. Mungkin saja mata saya agak bermasalah.

  7. itu permasalahan hajr… kepada siapa diterapkan… apakah perlu maslahah atau tidak.. termasuk sikap dakwah kepada orang kafir… (meskipun kita benci/bara’ 100% kepada orang kafir, tetap di dakwahi)

    yang menjadi permasalahan adalah masalah wala’ wal bara’… cinta dan benci kepada ahlul bid’ah… apakah ahlul bid’ah dibenci total dan tak ada cinta sedikitpun meskipun dia masih muslim.. inilah yang syaikh Rabi tidak setuju.. termasuk ketidak setujuan syaikh rabi kepada ibn Taimiyah

    dan ini sudah dipahami oleh Firanda dalam http://www.firanda.com/index.php/artikel/manhaj/572-ada-apa-dengan-radio-rodja-rodja-tv-bag-11-tanggapan-untuk-al-ustadz-bag-3-syaikh-robi-mutasyaddid di bagian akhir artikel tersebut

    terkadang tak ada hubungannya antara hajr dengan benci.. hajr juga terkadang tidak identik terhadap ahlul bid’ah…terkadang kita mencintai seseorang tapi terpaksa memboikotnya..

    adapun “Sedangkan orang-orang awamnya (dari ahli bidah) ” yang dalam kurung anda buat2 sendiri terjemahannya

    1. itu permasalahan hajr… kepada siapa diterapkan…apakah perlu maslahah atau tidak.. termasuk sikap dakwah kepada orang kafir… (meskipun kita benci/bara’ 100% kepada orang kafir, tetap di dakwahi) yang menjadi permasalahan adalah masalah wala’ wal bara’… cinta dan benci kepada ahlul bid’ah… apakah ahlul bid’ah dibenci total dan tak ada cinta sedikitpun meskipun dia masih muslim.. inilah yang syaikh Rabi tidak setuju.. termasuk ketidak setujuan syaikh rabi kepada ibn Taimiyah dan ini sudah dipahami oleh Firanda dalam http://www.firanda.com/index.php/artikel/manhaj/572-ada-apa-dengan-radio-rodja-rodja-tv-bag-11-tanggapan-untuk-al-ustadz-bag-3-syaikh-robi-mutasyaddid di bagian akhir artikel tersebut terkadang tak ada hubungannya antara hajr dengan benci.. hajr juga terkadang tidak identik terhadap ahlul bid’ah…terkadang kita mencintai seseorang tapi terpaksa memboikotnya.. adapun “Sedangkan orang-orang awamnya (dari ahli bidah) ” yang dalam kurung anda buat2 sendiri terjemahannya

      Jawab:

      Meminjam bahasa Syaikh Albani:

      سبحان الله! ما فيه فائدة من إعادة الكلام، إلا إذا لم يفهم بعضُنا بعضًا

      Subhanallah! Tidak ada gunanya mengulang kembali ucapan, kecuali salah satu di antara kita ada yang belum paham.

      Begini ya akhi, Firanda itu (saya tidak tahu apakah ia dengan sengaja atau tidak) memujmalkan kalimat “ahlul bidah” yang datang dari Syaikh Rabi yang ia kutip dari situs sahab untuk menghukumi bahwa Syaikh Rabi menghajar Ahlul Bidah secara menyeluruh tanpa memandang maslahat… tanpa terlebih dahulu Firanda memandang secara menyeluruh penggunaan kalimat “ahlul Bidah” oleh Syaikh Rabi dalam kitab-kitab, ceramah-ceramahnya yang lain.

      Padahal di tempat lain Syaikh Rabi telah menjelaskan bahwa Ahlul bidah itu ia bagi menjadi dua, 1. masyarakat awam, baginya dakwah, dan 2. petinggi-petingginya, baginya hajar.

      Lalu bagaimana bisa firanda menganggap Syaikh Rabi menghajar semua ahlul bidah? Firanda jelas keliru besar, bila ia menganggap Syaikh Rabi menyuruh menghajar semua ahlul bidah baik yang awamnya sekalipun. Padahal di sana kepada masyarakat awam ahlul bidah, Syaikh Rabi mengedepankan maslahat.

      عوامهم المساكين المخدوعون هؤلاء ندعوهم إلى الله بالحكمة والموعظة الحسنة، وهذا الكلام يؤيده كلام كثير من أئمة السنة ومعاملتهم؛ أنهم يدعون العوام إلى الله -تبارك وتعالى- ولا يهجرونهم كما يهجرون أئمة السوء وأئمة الشر وأئمة الضلال.

      Sedangkan orang-orang awamnya yang masih miskin ilmunya lagi tertipu, maka kita dakwahi mereka ini dengan hikmah dan nasehat yang baik. Ucapan ini dikuatkan pula oleh ucapan dan cara bermuamalah para ulama sunnah. Mereka mendakwahi orang-orang awam ini kepada Allaah  Tabaaroka wa Ta’ala. Para ulama tdk meng-hajr orang-orang awam ini sebagaimana mereka meng-hajr ulama yang jahat, jelek dan sesat.

      افهموا هذا!؛ حتى لا يفهم بعضكم أن كل من وقع في بدعة بت هجره لا كلام معه ولا دعوة ولا شيء!لا، الدعوة قائمة حتى للكفار ولليهود والنصارى. والدعوة قائمة لأهل البدع أيضا لكن لا يتميع الإنسان فيذهب يداخلهم ويأنس إليهم حتى يضيع؛

      Fahamilah ini! Bahkan, jangan sampai sebagian kalian memahami bahwa setiap orang yang terjatuh ke dalam bid”ah maka ditetapkan pula hajr kepadanya, tidak ada perbincangan dengannya, tidak ada dakwah, dan tidak ada pula nasehat apapun! Tidak demikian! Dakwah tetap harus ditegakkan, meskipun kpd orang-orang kafir, Yahudi dan Nashoro. Dakwah juga harus ditegakkan kepada ahlul bid’ah, tapi seseorang tidak boleh lembek sehingga dia pergi keluar-masuk kepada mereka, kemudian menjadi ramah dengan mereka, hingga akhirnya dia ditelantarkan.

      Apa yang dilakukan Firanda ini, sebagaimana yang dinyatakan Syaikh Shalih Fauzan. Lihat tulisan kami yang berjudul: Perbedaan Syaikh Shalih Fauzan dan Syaikh Rabi dalam Meladeni “Penanya Gelap”

      Mereka memberikan kami sepotong ucapannya lalu menyalah-nyalahkannya dan menyesatkannya.

      Adapun omong kosong (tanpa ilmu/bukti) atau tikaman yang ditujukan kepada manusia tanpa ada verifikasi dan kepastian yang jelas maka Allah berfirman:

      “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat: 6)

      Maka wajib bagi manusia untuk senantiasa melakukan verifikasi dalam segala permasalahan ini. Na’am.

      Intinya Syaikh Rabi tidak sebagaimana persangkaan Firanda.

      ucapan Antum:

      yang menjadi permasalahan adalah masalah wala’ wal bara’… cinta dan benci kepada ahlul bid’ah… apakah ahlul bid’ah dibenci total dan tak ada cinta sedikitpun meskipun dia masih muslim.. inilah yang syaikh Rabi tidak setuju..

      Masa sih? coba Antum baca baik-baik hal ini. Masih kutipan dari FIranda bag 4. Perhatikan yang dicetak tebal!

      الشاب الناشئ عليه ان لا يخالط اهل البدع وان يحافظ على عقيدته والعالم الناصح له ان يدعو هؤلاء وان ينصحهم وان يبين لهم الحق ويقيم عليهم الحجة ليرجعوا الى دين الله الحق ، واما الجاهل الذي قد يتعرض للضياع فيقذفون بالشبهة عليه فيتغير قلبه ويزيغ ثم يرتمى في احضانهم وقد عرفنا هذا من كثير وكثير ممن كانوا مساكين بادئين بالسير في الطريق السلف فاعترضهم هؤلاء بشباكهم فاجتاحوهم واجتالوهم عن منهج السلف الصالح والعاقل من اعتبر بغيره فلناخذ عبرة من هؤلاء

      Pemuda yang tumbuh di lingkungannya, hendaknya ia tidak bercampur dengan ahlul bid’ah dan menjaga aqidahnya. Adapun orang alim yang ahli memberikan nasehat, maka boleh baginya untuk mendakwahi ahlul bid’ah dan menasehati mereka, menjelaskan kebenaran bagi mereka, dan menegakan hujjah agar mereka kembali kepada agama Allah.

      Adapun orang jahil yang mudah terombang-ambing pada kesesatan, maka mereka (ahlul bid’ah) akan mudah melemparkan syubhat kepadanya lalu berubahlah hatinya kemudian menyimpang, setelah itu terlempar dalam pelukan ahli bid’ah. Sungguh kami telah mengetahui ini dari begitu banyak orang-orang yang patut dikasihani, orang-orang yang baru mulai menempuh manhaj salaf lalu merekapun dihadang oleh para ahlul bid’ah dengan jaring-jaring mereka hingga akhirnya menyimpangkan mereka dari manhaj salaf. Orang yang berakal mengambil pelajaran dari orang lain, hendaknya kita mengambil pelajaran dari mereka.”

      Sejauh ini meskipun Syaikh Rabi menyebutkan Syaikh Ali Hasan mubtadi tapi beliau selaku yang alim di bidang ini masih memberikan nasihat kepadanya dalam bentuk bantahan-bantahan ilmiah.

      Harusnya kalau beliau menjauhi ahlul bidah maka beliau akan tinggalkan Syaikh Ali Hasan sebagaimana para salaf yang meninggalkan ahlul bidah dan tidak berbicara kepada mereka, tidak peduli dengan bantahan2nya kepada Syaikh Rabi, tapi nyatanya Syaikh Rabi masih meladeninya dengan memberikan nasihat secara tertulis.

      Ucapan Antum:

      adapun “Sedangkan orang-orang awamnya (dari ahli bidah) ” yang dalam kurung anda buat2 sendiri terjemahannya

      Bantahan Antum ini saya kira malah menunjukkan kekurangan pemahaman Antum terhadap bahasa Arab. Coba baca lagi.

      قال فضيلة الشيخ العلامة ربيع بن هادي عمير المدخلي حفظه الله:

      (إن أهل البدع الآن كثير يملئون الأرض والعياذ بالله! فنحن لا نهجر الجميع إنما هم محل دعوتنا؛ ندعوهم إلى الله بالحكمة والموعظة الحسنة،

      Sesungguhnya ahlul bid’ah sekarang ini jumlahnya banyak, mereka memenuhi bumi, wal ‘iyyadzu billaah! Maka kita tidak meng-hajr seluruhnya karena tiada lain merekalah sasaran dakwah kita. Kita dakwahi mereka kepada Allaah dengan hikmah dan nasehat-nasehat yang baik.

      وأما الرءوس المدبرة والدعاة إلى الباطل في صحفهم ومجلاتهم وكتبهم وأشرطهم و محاضراتهم وندواتهم ومواقعهم، هؤلاء يحاربون ويحذر منهم ولا يجالسون ولا يقرأ لهم ولا يستفاد منهم.

      Dan adapun pimpinan-pimpinan yang memusuhi dakwah dan orang-orang yang menyeru kepada kebatilan baik di dalam buletin, majalah, buku, kaset, muhadhoroh, pertemuan dan website-website mereka, maka mereka inilah yang diperangi, ditahdzir ummat dri mereka, tidak bermajlis dengan mereka, tidak membaca tulisan mereka dan tidak pula mengambil faidah dari mereka.

      وعوامهم المساكين المخدوعون هؤلاء ندعوهم إلى الله بالحكمة والموعظة الحسنة، وهذا الكلام يؤيده كلام كثير من أئمة السنة ومعاملتهم؛ أنهم يدعون العوام إلى الله -تبارك وتعالى- ولا يهجرونهم كما يهجرون أئمة السوء وأئمة الشر وأئمة الضلال.

      Sedangkan orang-orang awamnya yang masih miskin ilmunya lagi tertipu, maka kita dakwahi mereka ini dengan hikmah dan nasehat yang baik. Ucapan ini dikuatkan pula oleh ucapan dan cara bermuamalah para ulama sunnah. Mereka mendakwahi orang-orang awam ini kepada Allaah  Tabaaroka wa Ta’ala. Para ulama tdk meng-hajr orang-orang awam ini sebagaimana mereka meng-hajr ulama yang jahat, jelek dan sesat.

      kepada siapakah dhamir “hum” (nya) tersebut kalau bukan kepada ahlul bidah?

      Kesimpulan: Ana pasti kalah oleh Antum kalau diajak balapan ala kutu loncat dalam menelaah sebuah tulisan.🙂

      1. masayarakat secara umum yang banyak berbuat bid’ah… (kalau kita baca keseluruhan fatwa syakh Rabi’)

        apakah pelaku bid’ah otomatis ahlul bid’ah

      2. Terakhir ya,

        Sekali lagi, meminjam bahasa Syaikh Albani:

        سبحان الله! ما فيه فائدة من إعادة الكلام، إلا إذا لم يفهم بعضُنا بعضًا

        Subhanallah! Tidak ada gunanya mengulang kembali ucapan, kecuali salah satu di antara kita ada yang belum paham.

        Coba istirahat sejenak dalam sebuah penyataan yang ana kutip di atas, dan pahamilah dengan baik-baik. Syaikh Rabi berkata:

        افهموا هذا!؛ حتى لا يفهم بعضكم أن كل من وقع في بدعة بت هجره لا كلام معه ولا دعوة ولا شيء!لا، الدعوة قائمة حتى للكفار ولليهود والنصارى. والدعوة قائمة لأهل البدع أيضا لكن لا يتميع الإنسان فيذهب يداخلهم ويأنس إليهم حتى يضيع؛

        Fahamilah ini! Bahkan, jangan sampai sebagian kalian memahami bahwa setiap orang yang terjatuh ke dalam bid”ah maka ditetapkan pula hajr kepadanya, tidak ada perbincangan dengannya, tidak ada dakwah, dan tidak ada pula nasehat apapun! Tidak demikian! Dakwah tetap harus ditegakkan, meskipun kpd orang-orang kafir, Yahudi dan Nashoro. Dakwah juga harus ditegakkan kepada ahlul bid’ah, tapi seseorang tidak boleh lembek sehingga dia pergi keluar-masuk kepada mereka, kemudian menjadi ramah dengan mereka, hingga akhirnya dia ditelantarkan.

        Terbukti antum memang kutu loncat! Silahkan jadi kutu buku tapi jangan kutu loncat. Allahu yahdik!

  8. Begini ya akhi, Firanda itu (saya tidak tahu apakah ia dengan sengaja atau tidak) memujmalkan kalimat “ahlul bidah” yang datang dari Syaikh Rabi yang ia kutip dari situs sahab untuk menghukumi bahwa Syaikh Rabi menghajar Ahlul Bidah secara menyeluruh tanpa memandang maslahat… tanpa terlebih dahulu Firanda memandang secara menyeluruh penggunaan kalimat “ahlul Bidah” oleh Syaikh Rabi dalam kitab-kitab, ceramah-ceramahnya yang lain.

    Firanda paham penerapan hajr dan nasehat syakh rabi dan itu relatif belum dipermasalahkan oleh firanda.. (meskipun bagi saya pribadi masih ada catatan)

    yang dipermaslahkan adalah tidak ada kecintaan sedikitpun kepada ahlul bid’ah sedikitpun meskipun dia muslim.. bukan penerapan hajr/boikot dan nasehat/dakwah

    dari mana pula pembagian ahlul bid’ah ada 2; ahlul bid’ah yang awwam dan ahlul bid’ah yang petinggi/pembesar..?

    lihat di http://muslim.or.id/manhaj/ahlul-bidah-ataukah-bukan.html dan http://sunnahkami.blogspot.com/2012/02/apakah-setiap-pelaku-bidah-itu-mubtadi.html

    1. kayaknya semakin ana jawab semakin ngeyel nih antum dengan ketidakpastian2.
      Ana lihat antum tidak paham apa yang antum bicarakan, maaf.
      Nanti kalau ada waktu senggang baru ana tanggapi lagi.
      was

  9. saya ulangi lagi
    bukan masalah hajr, nasehat, dakwah
    tapi masalah cinta dan benci

    antum tidak menjawab semua pertanyaan ana dan tidak nyambung
    (hanya kutu buku dan kutu loncat yang keluar)

  10. Pertanyaan saya tolong dijawab:
    1. Apakah hajr hanya kepada orang yang kita benci/tidak dicintai saja ?
    2. Apakah hajr hanya kepada ahlul bid’ah saja ?
    3. apakah orang yang berbuat bid’ah otomatis ahlul bid’ah
    4. darimana datangnya (secara tegas) ada pembagian ahlul bid’ah ada 2: ahlul bid’ah pembesar/petinggi dan ahlul bid’ah awwam

    1. 1. hajar tidak ada hubungannya dengan cinta atau benci, hajar terkait dengan kesalahan/pelanggaran syariat. sementara cinta atau benci terkait dengan wala wal baro internal muslim dan eksternalnya, misal orang kafir, dll.
      2. tidak mesti. Rasulullah dan kaum muslimin menghajar tiga orang dari kalangan sahabat yang tidak ikut perang tabuk, namun mereka bukan ahlul bidah.
      3. berikan contoh, pertanyaan anda umum.
      4. dari syaikh Rabi sendiri ketika membahas bagaimana meletakan hajar di antara ahlul bidah.

      Apa sudah jelas.

  11. Annas:

    Apakah hajr hanya kepada ahlul bid’ah saja ?
    kemudian>>>
    saya ulangi lagi
    bukan masalah hajr, nasehat, dakwah

    hasil: kontradiktip! hehehe

  12. 1. sepakat..itulah yang saya maksud kritikan kepada syaikh Rabi bukan kepada masalah penerapan hajr
    (diterapkan kalau ada maslahat) tapi lebih kepada “tidak ada kecintaan kepada mubtadi’ (dalam pengertian ahlul bid’ah) sedikitpun, murni kebencian”… padahal ahlul bid’ah ada yang tidak sampai kekafiran..dan setiap muslim masih ada kecintaan kita kepadanya meskipun mereka berbuat bid’ah.. baik yang melakukan bid’ah itu ahlul bid’ah ataupun bukan

    2. sepakat.. benarkan… terkadang tak ada hubungannya antara kecintaan dan kebencian kita seseorang dengan penerapan hajr… lalu mengapa anda mengkaitkan2 pernyatan firanda bahwa ia menyatakan “Menurut Syaikh Rabî’, Ahlul Bid’ah harus dibenci secara totalitas (100 persen)” dengan fatwa penerapan hajr syaikh Rabi.. kemudian mengatakan “Ini jelas kesimpulan prematur karena Firanda tidak mendudukkan permasalahan ini dengan benar dan pada tempatnya” itu dua hal/masalah yang berbeda..

    (meskipun dalam sikap/penerapan hajr dalam menghajr tentunya menampakkan/menzhahirkan sikap benci (terutama perbuatannya), karena sedang dalam posisi hajr, dan hal ini tidaklah serta merta melazimkan membenci dalam hati secara total dan tidak ada rasa sayang/cinta sama sekali.. tapi itu jelas dua hal sikap yang berbeda)

    3. itu adalah pertanyaan umum dan tentunya saya menghendaki jawaban yang umum.. “apakah setiap orang yang melakukan perbuatan bid’ah dihukumi sebagai ahlul bid’ah”?

    4. mungkin anda benar.. bahwa hum itu dhamirnya kembali kepada Ahlul bid’ah.. hanya saja saya masih berhusnuzhan dengan syaikh rabi yang mungkin saja hum itu diidafahkan kepada الجميع atau setiap/semua orang (yang melakukan perbuatan bid’ah).. (mudah2an husnuzhan saya itu berlebihan sebab adalah aneh kalau orang awam disifatkan dengan ahlul bid’ah.. dan saya tidak tau kalau syaikh rabi berpendapat demikian dalam fatwa2 yang laiinya)..

    1. Pertama saya dalam menjawab hal ini bukan dalam posisi membela Syaikh Rabi, tapi lebih kepada mendudukkan sebuah masalah pada tempatnya.

      1. Begini ya, memang… kalau mau jujur, ngga adil rasanya kalau hanya menyalahkan dan mengkritik Syaikh Rabi atas kebenciannya kepada Ahlul bidah tanpa pandang bulu. Ada banyak juga ulama salaf yang melakukan apa yang dilakukan Syaikh Rabi ini.
      Jadi kalau Firanda mau bersikap adil dan muwazanah, harusnya para salaf diikut sertakan juga dalam kritikannya kepada Syaikh Rabi, jangan Syaikh Rabi seorang. Menurut ana apa yang dilakukan FIranda ini lebih kepada penjatuhan karakter Syaikh Rabi. Bukan kritikan yang membangun.

      Sebenarnya permasalahan yang diangkat oleh Firanda ini adalah masalah lama, firanda hanya memperbaharuinya semata.
      Kira-kira pada 2003 yang lalu, permasalahan ini pernah diangkat dan dibahas oleh Syaikh Khalid bin Dhahfi Zhufairi murid Syaikh Rabi di forum sahab. Di sana ia menyebutkan beberapa ulama salaf yang memiliki pemahaman semisal Syaikh Rabi. Silahkan dibaca di sini

      http://www.sahab.net/forums/?showtopic=31240

      2. Ya karena kalau antum baca, link sahab yang ana kasih di atas, maka di sana terdapat konsekuensi dari benci kepada ahlul bidah dari kalam para salaf, ada banyak sekali salah satunya adalah hajar. Dan begitulah para salaf memahami kebencian kepada ahlul bidah.
      Jadi tidak hanya sekedar benci semata tanpa konsekuensi apa-apa!

      Nah menjadi menarik di sini adalah: satu sisi Syaikh Rabi menyatakan bahwa ia mengikuti para salaf dalam membenci ahlul bidah dan menyelisihi Ibnu Taimiyah.
      Namun di satu sisi yang lainnya, ia malah setengah menafikan adanya konsekuensi kebencian kepada ahlul bidah sebagaimana yang dinyatakan para salaf tersebut.
      Ucapan para salaf tentang konsekuensi kebencian kepada ahlul bidah itu begitu mujmal, namun di masa sekarang oleh Syaikh Rabi beliau mentafshilkannya menjadi:
      1. ada yang awam, maka tidak berlaku bagi mereka konsekuensi dari kebencian sebagaimana yang dijelaskan para salaf tadi. Justru sebaliknya mereka harus didekati, didakwahi, dll. Meskipun Syaikh Rabi tidak menyatakan cinta atas mereka. Karena dalam pandangan Syaikh Rabi membagi cinta dan benci dalam satu hati adalah perkara yang sulit dilampaui dan Syaikh Rabi tidak bisa.

      2. ada juga yang petinggi-petingginya, maka inilah yang berlaku bagi mereka konsekuensi kebencian sebagaimana yang diutarakan para salaf tadi.

      Titik pointnya di sini adalah: Firanda dan Anda sama sekali ngga bisa membaca hal ini (ini yang dari tadi terus kita debatkan), ia dan Anda gagal total mencerna ucapan Syaikh Rabi yang satu ini.

      ia dan Anda malah mengeneralisir itu semua. Hanya karena ia dan Anda melihat Syaikh Rabi menjadikan ucapan para salaf dalam membenci ahlul bidah, maka ia atau Anda pahami bahwa Syaikh Rabi sama dengan mereka dalam membenci keseluruhan ahlul bidah, tanpa mengecek kepada keseluruhan ucapan beliau di tempat-tempat yang lain, untuk bisa memastikan maksudnya?!

      Padahal yang diambil Syaikh Rabi dari para salaf ini hanya penerapannya kepada para petinggi ahlul bidah, tidak bagi para awamnya. Artinya saat Syaikh Rabi bicara kebencian kepada ahlul bidah maka itu mengarah kepada para petingginya sebagaimana yang dijelaskan Syaikh Rabi dalam ucapannya di atas.

      Mohon untuk dibedakan, insya Allah akal antum bisa mencerna hal ini.

      3. Antum tahu ngga perbedaan antara mubtadi dengan ahlul bidah? pertanyaan antum ini ana lihat menunjukkan bahwa antum tidak tahu perbedaannya, makanya nanyanya begitu.

      4. Kalau memang hum kembali kepada al-jami’ sebagaimana persangkaan antum maka ana katakan itu sesuatu yang batil, karena dibatalkan oleh ucapan SYaikh Rabi yang ini,

      افهموا هذا!؛ حتى لا يفهم بعضكم أن كل من وقع في بدعة بت هجره لا كلام معه ولا دعوة ولا شيء!لا، الدعوة قائمة حتى للكفار ولليهود والنصارى. والدعوة قائمة لأهل البدع أيضا لكن لا يتميع الإنسان فيذهب يداخلهم ويأنس إليهم حتى يضيع؛

      Fahamilah ini! Bahkan, jangan sampai sebagian kalian memahami bahwa setiap orang yang terjatuh ke dalam bid”ah maka ditetapkan pula hajr kepadanya, tidak ada perbincangan dengannya, tidak ada dakwah, dan tidak ada pula nasehat apapun! Tidak demikian! Dakwah tetap harus ditegakkan, meskipun kpd orang-orang kafir, Yahudi dan Nashoro. Dakwah juga harus ditegakkan kepada ahlul bid’ah, tapi seseorang tidak boleh lembek sehingga dia pergi keluar-masuk kepada mereka, kemudian menjadi ramah dengan mereka, hingga akhirnya dia ditelantarkan.

      Di sini beliau menjelaskan kalau ahlul bidah harus didakwahi dst. sangat singkron dengan ucapannya yang pertama:

      (إن أهل البدع الآن كثير يملئون الأرض والعياذ بالله! فنحن لا نهجر الجميع إنما هم محل دعوتنا؛ ندعوهم إلى الله بالحكمة والموعظة الحسنة،

      Sesungguhnya ahlul bid’ah sekarang ini jumlahnya banyak, mereka memenuhi bumi, wal ‘iyyadzu billaah! Maka kita tidak meng-hajr seluruhnya karena tiada lain merekalah sasaran dakwah kita. Kita dakwahi mereka kepada Allaah dengan hikmah dan nasehat-nasehat yang baik.

      catatan: perkataan Syaikh Rabi: Maka kita tidak meng-hajr seluruhnya menunjukkan bahwa ahlul bidah terbagi menjadi dua, ada yang dihajar ada pula yang tidak dihajar. siapa-siapa mereka sudah sama2 kita ketahui.

      So, kalau masih ada yang tetap tidak jelas juga maka ana rasa syair Mutanabi ini cocok menemani hari-hari antum:

      وكم من عائبٍ قولاً صحيحاً وآفتهُ من الفهم السقيمِ
      “Betapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar
      Tetapi kerusakan (yang sebenarnya) ada pada pemahaman yang sakit.”

      wallahu a’lam bishshawwab.

Comments are closed.