Akankah Syaikh Rabi dan Syaikh-Syaikh Lain bernasib Seperti Syaikh Yahya?

Pada tulisan ini saya tidak sedang membahas tarjamah/biografi beliau, melainkan imaje beliau di kalangan firqah Lukmaniyah, dulu dan sekarang.

Sekitar tahun 2008 yang lalu, sebuah website bernama www.salafy.or.id yang merupakan corong firqah Lukmaniyah hingga kini memuat fatwa dari seorang Syaikh bernama Yahya bin Ali Al-Hajuri mengenai fenomena manhaj Yazid Jawwaz dkk di Indonesia ini.

Inti dari muatan fatwa tersebut adalah tahzir (kepada Yazid Jawwaz, dll). Dan sebelum mereka bertanya kepada Syaikh Yahya, mereka tampilkan terlebih dahulu bagaimana kedudukan Syaikh Yahya di tengah mereka:

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh saudara–saudara dari Indonesia kepada guru kami Abu Abdurrahman Yahya bin Ali al Hajury semoga Allah senantiasa menjaganya (beliau pengganti pengasuh ma’had Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah sepeninggal beliau, red), yang telah dikatakan kepadanya oleh Guru dan Ayah kami al Muhaddis al ‘Allamah (ahli hadits yang sangat berilmu) Imam dalam ilmu Jarh dan Ta’dil Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi al Wadi’iy semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadaNya dan memasukkannya ke surgaNya yang luas : “Sesungguhnya dia (syekh Yahya) adalah ahli hadits yang faqih (membidangi fiqh) , pemberi nasehat dan amanah, disukai oleh saudara-saudaranya karena apa yang mereka lihat padanya dari keyakinannya yang baik, kecintaannya terhadap sunnah dan kebenciannya terhadap hizbiyyah (kekelompokan) yang bisa merubah (seseorang menjadi jelek), dan dia membantu saudara-saudaranya muslimin dengan fatwa-fatwa yang bersandar pada dalil”.
Maka soal-soal ini dan jawaban syekh Yahya atasnya adalah tepat dengan apa yang telah dijanjikan oleh syekh Muqbil sebelum meninggalnya.
Kami memohon kepada Allah untuk membenarkan jawaban syekh Yahya atas pertanyaan-pertanyaan ini dan menjadikannya dalam timbangan kebaikannya sesungguhnya Dia yang mengurusi itu dan yang Maha Mampu atas yang demikian.
Dan sebelum masuk kepada soal, kami akan menyebutkan sejarah ringkas tentang dakwah Salafiyyah di Indonesia.

Dengan kedudukan yang mulia ini maka beliau menjadi salah satu sumber rujukan ilmiah firqah Lukmaniyah untuk bertanya mengenai perkara manhaj yang ada di Indonesia.

Namun semua itu berubah 180% ketika Syaikh Yahya terlibat sebuah “konflik” dengan Syaikh Al-Adeni (Akan kami bahas pada tulisan yang lain). Sejak permasalahan ini maka sikap mereka menjadi berubah kepada Syaikh Yahya.

Sayangnya arsip fatwa ini sekarang telah dihapus, nama syaikh besar Yahya pun telah mereka tendang keluar dari web site tersebut. Namun tanpa mereka sadari arsip tersebut masih dapat Anda lihat di blog ini.

Tikaman mereka kepada Syaikh Yahya bahkan Jauh lebih buruk dan lebih hina dari tikaman mereka kepada Yazid Jawwaz dkk. Obral vonispun mulai bermunculan dari mereka dengan harga yang sangat-sangat murah mulai dari haddadi hingga mubtadi.

Dan tentunya ini semua dikarenakan mereka lebih percaya/tertarik dengan hujjah Syaikh Al-Adeni yang lebih murah ketimbang hujjah Syaikh Yahya yang luar biasa mahal yang tak mampu mereka beli dengan kejujuran mereka. Padahal mereka tidak ada di TKP (Dammaj) waktu kasus itu terjadi.

Yang lucunya adalah tidak ada satupun dari mereka yang mau mengkroscek permasalahan ini kepada kedua Syaikh tadi, yaitu Syaikh Yahya dan Syaikh Al-Adeni sehingga bisa didapat kesimpulan yang objektif dari permasalahan ini (terutama dai yang bernama Lukman Ba’abduh karena ia adalah alumni Dammaj), bukan kesimpulan sepihak semata (membela Syaikh Al-Adeni secara buta).

Lain halnya dengan murid-murid Dammaj pada waktu itu, tidak ada keharusan bagi mereka melakukan itu karena Syaikh Al-Adeni masih bersama mereka di Dammaj. Jadi semua sepak terjang Syaikh Al-Adeni ini terpantau jelas sehingga tidak membutuhkan lagi klarifikasi ilmiah.

Tiba-tiba sebuah blog hina yang bernama http://www.tukpencarialhaq.com dan http://www.dammajhabibah.com muncul ke permukaan dan langsung menjadi media gosip ternama tanah air di dalam pemberitaan Syaikh Yahya ini. Dan setelah kami baca konten mengenai Syaikh Yahya dalam blog ini maka tidak ada yang dapat kami lihat darinya kecuali hanya sekedar gossip semata.

Dari kejadian ini, kita dapat melihat dengan jelas bagaimana manhaj firqah Lukmaniyah ini dalam memperlakukan para ulama. Terhadap Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, dll yang mereka jatuhkan vonis mubtadi mungkin itu tak jadi soal bagi kita karena kita Syaikh Ali bukanlah guru mereka di Dammaj.

Namun di sini terpampang jelas fenomena yang luar biasa indahnya yang mereka lukiskan di tengah-tengah kehidupan dakwah salafiyah ini. Bagaimana guru mereka sendiri yang mereka angkat tinggi-tinggi seperti pada pujian di atas lalu mereka jatuhkan kembali ke tanah.

Dan siapakah yang bisa melakukan hal ini dari kelompok umat ini di negeri ini kalau bukan dari firqah Lukmaniyah?! Kepada Allah lah kita meminta tolong.

Yang menjadi pertanyaan besar di sini adalah: Mereka percaya dengan Syaikh Yahya sebagai seorang Alim yang ditunjuk oleh Syaikh Muqbil untuk dijadikan tempat bertanya. Artinya bila diukur dari segi keilmuan maka Syaikh Yahya tidak diragukan lagi, bahkan saat itu kedudukan keilmuan Syaikh Al-Adeni pun tenggelam di mata mereka oleh keilmuan Syaikh Yahya. Namun ketika Syaikh Yahya berselisih dengan Syaikh Al-Adeni maka mereka malah memilih pendapat Syaikh Al-Adeni dan membuang jauh-jauh hujjah Syaikh Yahya.

Bukankah ini adalah sesuatu yang mengherankan kita semua? Yang alim meraka tinggalkan dan yang selama ini tidak terpantau oleh mereka mereka dekati. (Akan ada tulisan yang lain yang akan membahas hal ini)

Dari apa yang mereka lakukan ini dapat disimpulkan bahwa:

dalam pandangan mereka keilmuan seorang ulama bisa menjadi tinggi dan rendah bila itu sesuai dengan kadar kecocokan hawa napsu mereka. Kalau cocok maka ulama itu berilmu dan dijadikan tempat rujukan dan kalau tidak cocok maka ia tidak memiliki nilai apa-apa lagi.

Sebab kalau mereka berjalan di atas ilmu tentu tidak akan sebodoh ini manhaj mereka dalam berpikir.

Nah di sini menjadi menarik, tatkala Sosok Syaikh Rabi dijadikan oleh mereka sebagai permata yang berkilau yang selalu dilirik (dimintai fatwa) setiap waktu. Ada apa-apa Syaikh Rabi…

Saat ini dalam pandangan firqah Lukmaniyah ini tidak ada tokoh ulama yang sebesar bahkan lebih besar dari Syaikh Rabi, siapapun dia. Dan siapapun yang berselisih dengan Syaikh Rabi maka Syaikh Rabi pasti benar karena sudah dipuji oleh para masyaikh dan manhajnya sangat-sangat cocok dengan manhaj firqah Lukmaniyah.

Dengan melihat sepak terjang mereka selama ini terhadap guru mereka maka bukan tidak mungkin bila sewaktu-waktu Syaikh Rabi yang mereka jadikan tempat bertanya dapat bernasib sama seperti Syaikh Yahya…

Boleh saja ada yang menyangka ini adalah sesuatu yang mustahil. Tapi catatan sejarah tidak bisa dipalsukan, vonis gila-gilaan yang biasa mereka lempar kepada musuh-musuh mereka saja berani mereka terapkan kepada guru mereka bila mereka mendapati darinya adanya ketidakcocokan dengan manhaj dan firqah mereka.

Terlebih Syaikh Rabi sendiri dari zaman beliau mengajar di Universitas Islam Madinah sudah memiliki banyak musuh dalam dakwah hingga sekarang ini. Artinya potensi terjadinya konflik tentu akan semakin besar terjadi. Apalagi beberapa orang anggota Haiah Kibarul Ulama sudah ada yang berpolemik dengan Syaikh Rabi.

Dan yang menjadi pertanyaan terakhir ini adalah bilamana dalam sebuah konflik Syaikh Rabi tidak sejalan dengan mereka lagi, apakah Syaikh Rabi akan menjadi Syaikh Yahya kedua?

Kita lihat saja…

8 thoughts on “Akankah Syaikh Rabi dan Syaikh-Syaikh Lain bernasib Seperti Syaikh Yahya?”

  1. mudah2an ngga terjadi stad, tapi kalo itu terjadi maka bisa apa kita?

    “Barangsiapa yang sudah Allah sesatkan maka tiada yang dapat memberinya petunjuk”

  2. ana setuju dengan penulis, melihat gampangnya mereka memvonis ulama maka sangat boleh jadi mereka melakukan hal tersebut pada ulama mereka sendiri bilamana si ulama sudah tidak cocok dengan mereka. Dan inilah yang dicontohkan khawarij kala Ali sudah tidak sejalan dengan mereka.

  3. Yang masih tanda tanya(mungkin tidak tahu), Tidak adakah usaha dari assatidz radiorofja untuk bertemu derngan syaikh Robi’ dan menjelaskan dsn meluruskan ketidakbenaran berita dan kesimpulan yang telah sampai kepada Beliau tentang dakwah radiorodja yang sebenar. Ana sangat betharap kepada penulis mau menyampaikan kepada para asatidz Rodja mengenai ide semacam ini

    1. untuk apa?
      Di Saudi Syaikh Rabi bukanlah satu-satunya ulama yang harus didengarkan pendapatnya. Ada banyak ulama di sana. Siapa Syaikh Rabi di tengah2 mereka? Tidak ada! Firqah Lukmaniyah lah yang membesar-besarkan namanya.
      Oleh karena itu jangan heran bila di Indonesia ini, oleh firqah Lukmaniyah Syaikh Rabi dijadikan nomor satu karena uslubnya sangat cocok dengan mereka. Dan tidak ada ulama yang lebih besar dari Syaikh Rabi…apa-apa Syaikh Rabi.

      Intinya begini. “Dakwah salafiyah” versi Syaikh rabi cs di era modern ini benar-benar hancur dalam memperlakukan seorang muslim yang telah terlibat dalam penyimpangan. Kalau sudah menyimpang sekali maka tidak ada tempat baginya untuk kembali ke posisinya semula. Artinya kalau ROdja sudah disesatkan ya sudah… jangan harap ada revisi lagi dari para pembesar dakwah salafiyah semacam ini, sekalipun mereka mendatangi Syaikh Rabi misalnya…
      Atau kalau mau ambil contoh yang lain adalah Jakfar Umar Thalib, sekalipun ia bertaubat maka posisinya takan bisa seperti dulu lagi.
      Lain halnya bila kita kembali ke zaman Nabi yang sesungguhnya, di sana kita akan temukan 3 orang yang tertinggal dari perang Tabuk, awalnya mereka ini dihajar/boikot habis-habisan oleh semua kaum muslimin, namun setelah nyata mereka bertaubat maka mereka kembali ke posisi mereka yang semula. Artinya kaum muslimin yang lain kembali menerima mereka seperti sedia kala. Tapi di dakwah salafiyah era modern semacam ini terutama dakwah yang ditunggangi oleh Syaikh Rabi, firqah LUkmaniyah, dll tidak ada yang seperti itu!
      wallahu a’lam bish-shawwab

  4. Bismillah…Syaikh yahya hafizhohullooh memegang wasiat syaikh muqbil dg kuat. Anjing2 rowafidh mnjadi saksi atas kokoh dan kuat nya beliau dan orang2 yg bserta beliau. Tidak mnyertai beliau kcuali pejantan2 yg mbela alhaq. Ky nya tidak brlebihan klo d ungkapkan demikian.

  5. Semoga Alloh Al Muqollibal quluub mengokohkan dan memberikan kesabaran kpd syaikhuna Yahya al Hajuri beserta murid dan masyaikh yang bersama beliau hafidzhohumulloh, dan memberi taufiq kepada syaikhuna Robi’ al madkholy, murid dan masyaikh yang bersama beliau wafaqqohumulloh. Dan memberi hidayah kepada atturotsiyyun hadahumulloh, agar kembali kepad manhaj salaf yang haq.

    Hadanalloha wa iyyakum.

  6.  

    الحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين والصلاة والسلام على رسول الله محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.. وبعد:

    Sesungguhnya dakwah kepada Allôh adalah amalan yang paling mulia dan para du’ât itu adalah orang yang paling baik perkataannya, sebagaimana firman Allôh Ta’âlâ :

    وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

    “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allôh, melakukan amal shalih dan mengatakan sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS Fushshilât : 3)

    Mereka (para du’ât) adalah pewaris Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam di dalam menimba ilmu dan menyebarkannya, karena itulah para ulama merupakan pewaris para nabi.

    Diantara akhlaq Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam adalah mencintai kaum muslimin, bersikap lemah lembut kepada mereka, mengajari mereka dan berbuat baik kepada mereka.

    Dan sungguh begitu menyakitkan apa yang kami dengar tentang sebagian du’ât yang mengafiliasikan diri kepada ahlus sunnah wal jamâ’ah, namun bersikap keras dan kejam terhadap saudara mereka sesama du’ât, menyibukkan dengan mencela kehormatan mereka dan mengumpulkan aib-aib mereka lalu menyebarkannya ke khayalak umum. (Ironinya) mereka menganggap perbuatan ini sebagai salah satu ibadah yang mereka bertaqorrub kepada Allôh dengannya.

    Padahal di dalam perbuatan mereka ini, merupakan perselisihan tercela yang memecah belah kaum muslimin baik di masjid-masjid dan pertemuan mereka, dan melalaikan mereka dari dakwah dan melakukan perbaikan (ihslâh). Sungguh Allôh Ta’âlâ telah melarang perbuatan ini di dalam firman-Nya :

    إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

    “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka lalu mereka bergolong-golongan, maka tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu atas mereka.” (QS al-An’âm : 159)

    Dan firman-Nya Ta’âlâ :

    وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

    “Dan berpegangteguhlah kalian semua kepada tali Allôh dan janganlah kalian berpecah belah. Dan ingatlah nikmat Allôh atas kalian dahulu pada saat kalian saling bermusuhan maka Allôh mempersatukan hati-hati kalian lalu menjadilah kalian atas nikmat-Nya orang-orang yang bersaudara. Padahal kamu berada di tepi ujung neraka lalu Allôh menyelamatkan dirimu darinya. Demikianlah Allôh menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapatkan petunjuk.” (QS Âli ‘Imrân : 103)

    Tatkala Rasulullâh Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam mengutus Mu’âdz dan Abû Mûsâ ke Yaman, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam berpesan kepada keduanya :

    يسرا ولا تعسرا، وبشرا ولا تنفرا، وتطاوعا ولا تختلفا

    “Permudahlah janganlah kalian berdua mempersulit! Berikan kabar gembira jangan membuat mereka lari. Berbuat santun dan janganlah kalian berdua saling berselisih.” [HR Bukhârî dan Muslim]

    Kami telah mengetahui bahwa sebagian kaum muslimin saat ini di dunia barat, ketika mereka melihat perselisihan seperti ini, maka akan memunculkan keragu-raguan dan kembimbangan pada diri mereka tentang kebenaran agama Islam yang (seharusnya) menghimpun dan mempersatukan kaum muslimin. Perselisihan ini adalah fitnah yang memecah belah kaum muslimin, yang akan memalingkan manusia dari agama Islam, dan melalaikan para penuntut ilmu dari berdakwah dan menyampaikan warisan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam (yaitu ilmu, pent.).

    Karena itulah, al-Lajnah ad-Dâ`imah (Komite Tetap Fatwa) mengajak kepada seluruh du’ât dan para imam masjid untuk menyatukan kalimat kaum muslimin, membersihkan hati-hati mereka, dan mempersatukan shaf mereka. Lajnah juga memperingatkan mereka dari turut ambul bagian di dalam memecah belah kaum muslimin, menyebar benih permusuhan diantara mereka, dan menyibukkan diri mereka satu dengan lainnya dengan kezhaliman dan permusuhan. Sesungguhnya barang siapa yang mengajak kepada kemaksiatan maka ia akan menanggungnya dan menanggung orang yang berbuat demikian sampai hari kiamat kelak.

    Al-Lajnah ad-Dâ`imah lil Buhûts al-‘Ilmîyah wal Iftâ` (Komite Tetap Bidang Riset Ilmiah dan Fatwa)

    Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullâh bin Muhammad Âlu Syaikh

    Anggota :

    – Shâlih bin Fauzân al-Fauzân

    – Ahmad bin ‘Alî Siyar al-Mubârikî

    – ‘Abdullâh bin Muhammad bin Khunain

    – ‘Abdullâh bin Muhammad al-Muthlaq

    – Muhammad bin Hasan Âlu Syaikh

    – ‘Abdul Karîm bin ‘Abdullâh al-Khudair

    [Sumber : http://www.alifta.net/Fatawa/NewFatawaContent.aspx?languagename=ar&ID=57&GroupNumber=5%5D

Comments are closed.