“Masyarakat Jahiliyah” Versi Sayyid Quthb; Antara Syaikh Albani Vs Syaikh Rabi dan Firanda Vs Lukman Ba’abduh (Bag 1)

Pengantar

Tulisan ini diilhami dari dialog yang terjadi antara Syaikh Albani dan penanya mengenai kritikan Syaikh Rabi kepada Sayyid Quthb.

Pada dialog tersebut terdapat kritikan Syaikh Albani atas “penafsiran” Syaikh Rabi terhadap istilah yang diorbitkan oleh Sayyid Quthb, yaitu “Masyarakat Jahiliyah” yang oleh Syaikh Rabi dan para fansnya terutama Lukman Ba’abduh diartikan dengan “Masyarakat Kafir”

Dialog tersebut dapat Anda perdengarkan di web yang mendokumentasikan ceramah Syaikh Albani d3watuna, dan transkripnya dapat di lihat di website kulalsalafiyeen.

Permasalahan pada tulisan ini dilatar belakangi adanya penafsiran Syaikh Rabi mengenai “Masyarakat Jahiliyah” dalam Pengantar Kitabnya Adhwa` Islamiyyah Ala Aqidah Sayyid Quthb (Seperti Apa Aqidah Sayyid Quthb Setelah Disorot Oleh Cahaya Islam?), Syaikh Rabi berkata:

 

فهذا يبين إصرار سيد قطب على الطعن في أصحاب رسول الله ، وإصراره على الاشتراكية الغالية التي قررها في هذا الكتاب، وإصراره على رمي المجتمعات الإسلامية كلها بأنها مجتمعات جاهلية؛ أي: كافرة! ويشاركه في المسؤولية عن هذه الأمور المروِّجون لفكره ومذاهبه، بل يتحملون المسؤولية أكثر منه.

Maka ini semakin menjelaskan adanya tendensi Sayyid Quthb untuk mencemarkan nama baik segenap sahabat Nabi dan juga tendensinya atas “sosialisme yang agung” yang ia gelorakan di bukunya ini (Keadilan Sosial dalam Islam), serta adanya tudingan bahwa seluruh masyarakat Islam kebanyakan adalah masyarakat jahiliyah, yakni kafir!

Dan tentu saja dibarengi pertanggung jawaban atas semua urusan ini bagi mereka yang menyebarkan pemikiran dan mazhab Sayyid Quthb, bahkan mereka memiliki tanggung jawab yang lebih banyak/besar darinya.

Di sini Syaikh Albani menganggap bahwa Syaikh Rabi terlampau keras (syiddah), ketika memaknai masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat kafir. Dan masalah yang akan kita tanyakan hakikatnya pada tulisan ini adalah: Antara Syaikh Albani dan Syaikh Rabi Siapakah Yang Benar? Benarkah Masyarakt Jahiliyah adalah Masyarakat Kafir?

Bila dilihat dari bobot tulisan terhadap Sayyid Quthb tentu Syaikh Rabi lebih unggul sebab beliau telah menghabiskan sebagian waktu hidupnya untuk menelaah pemikiran Sayyid Quthb dalam karyanya Adhwa` Islamiyyah Ala Aqidah Sayyid Quthb.

Adapun Syaikh Albani, hanya dapat kita lihat dari dialog, ceramah dan komentar-komentarnya yang sesekali dalam kitabnya tertentu. Kami belum mendapatkan adanya kitab khusus yang beliau tulis untuk memperbicangkan kesalahan dan kekeliruan Sayyid Quthb.

Namun kebenaran sekali lagi tidak melihat bobot, tapi ada pada esensinya. Betapa banyak karya ulama yang dibantah oleh ahli bidah, apakah itu menunjukkan bahwa mereka salah hanya karena dibantah oleh banyak kalangan ahli bidah?

Sekali lagi saya pertegas, “bantahan” bukanlah satu-satunya tolak ukur sebuah kebenaran. Kebenaran adalah kebenaran dan bantahan adalah bantahan. Dan ini dua hal berbeda, harap dimengerti dengan baik. Sekarang kita kembali pada bahasan inti dari kritik Syaikh Albani di atas yang menyebut penafsiran Syaikh Rabi dengan keras.

“Keras (syiddah)” adalah kata sifat yang bias makna. Artinya tidak ada ukuran pasti untuk menilainya. Boleh jadi untuk si A adalah syiddah sebagaimana pengertian aslinya namun tidak bagi si B. Atau malah si C menganggapnya sebagai rifq (kelembutan) dan belumlah syiddah yang sebenarnya dan itu semua tentu saja harus dikembalikan pada konteks peristiwa yang terjadi bukan berdasarkan perasaan semata. Atau oleh Lukman Ba’abduh disebut dengan “kata yang bercabang makna”.

Contoh sederhana yang bisa kita lihat adalah ketika syaikh Albani mengatakan bahwa kritik syaikh Rabi kepada Sayyid Quthb adalah/keras. Ucapan ini oleh Firanda dkk dimanfaatkan kepada artian syiddah yang sesungguhnya (negatif) sehingga Syaikh Rabi seakan-akan terseret pada predikat mutasyaddid, padahal sejauh ini belum ada ulama manapun yang menganggap beliau mutasyaddid seperti anggapan FIranda, termasuk Syaikh Albani sendiri. Mungkin oleh Firanda, sepak terjang Syaikh Rabi hanya FIranda sendiri yang mengetahuinya sementara ulama lainnya tidak ada yang mengetahuinya…

Lain halnya dengan Lukman Ba’abduh. “Syiddah” dalam kalam Syaikh Albani ini, dalam pandangannya bukanlah syiddah dalam artian yang sebenarnya (negatif). Sehingga hal inilah yang membuatnya tidak mempedulikan kritikan Albani dan terus melaju kencang dengan hujjah Syaikh Rabi tentang kekafiran masyarakat Jahiliyah yang digelorakan Sayyid Quthb.

Akhirnya, kepada para pembaca sekalian, tulisan ini sama sekali bukan bertujuan untuk membela Sayyid Quthb terlebih Firanda Andirja dalam berbantah-bantahannya dengan Lukman Ba’abduh akhir-akhir ini, namun bila nantinya ada yang menyangka demikian maka itu adalah hak pembaca pribadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan Penulis. Yang jelas di sini saya sudah tegaskan bahwa saya tidak dalam rangka membela keduanya.

Tulisan ini dibuat adalah dalam rangka menegakkan furqan/pemisah antara yang hak dan yang batil. Sehingga dapat diketahui mana yang benar dan mana yang salah dalam permasalahan yang terjadi antara Syaikh Albani dan Syaikh Rabi dalam memahami istilah “masyarakat Jahiliyah” yang digelorakan Sayyid Quthb terlebih antara Lukman Ba’abduh yang membela Syaikh Rabi dengan gelap mata dan Firanda Andirja yang memanfaatkan ucapan Syaikh Albani di atas untuk kepentingannya pribadi, sekaligus demi menegakkan sebuah hadits yang terkenal: “Tolonglah saudaramu baik yang zhalim maupun dizalimi.” Jadi, tulisan ini tidak bertujuan untuk menjatuhkan kredibilitas tokoh tertentu, bila ia dirasa zalim.

Di dalam tulisan ini sebagian besar merupakan bantahan kami atas Lukman Ba’abduh Cs yang menurut kami sudah sangat gelap mata dalam membela Syaikh Rabi, seakan kritik Syaikh Albani terhadap Syaikh Rabi tidak ada nilainya di mata Lukman Ba’abduh.

Dan juga teruntuk Syaikh Rabi sendiri, bilamana terdapat kemiripan kritikan antara serangan yang dilancarkan beliau kepada Sayyid Quthb dengan kritik yang dilancarkan Lukman Ba’abduh kepada Sayyid Quthb.

Tapi di luar itu semua, “poros utama” tulisan ini terletak pada kritikan kami terhadap pelebaran makna kata “Jahiliyah” kepada “kekafiran” (Lihat Ilustrasi gambar di atas). Langsung saja kita mulai.

Pembelaan buta Lukman Ba’abduh atas Syaikh Rabi akhir-akhir ini sangat mengherankan kita semua mengingat sikapnya yang selama ini kerap membawakan pujian Syaikh Albani kepada segenap penuntut ilmu dalam setiap road show dakwahnya ataupun tulisannya demi mengangkat pamor Syaikh Rabi di mata salafiyyun Indonesia, namun tatkala Syaikh Albani mengkritik Syaikh Rabi atas sikap syiddahnya dalam menerjemahkan “jahiliyah” milik Sayyid Quthb menjadi “kafir” maka ia benamkan kritik Syaikh Albani sedalam-dalamnya sehingga luput dari pantauan  awam salafi, namun tidak bagi kami dan ini jugalah yang akan menjadi pertanyaan yang sangat penting bagi kita semua di sini:

Lalu apa artinya pujian Syaikh Albani kepada Syaikh Rabi (sebagai Pemegang Bendera Jarh wa Ta’dil) yang dikibar-kibarkan selama ini?

Kalau kritikan Syaikh Albani saja dianggap tidak bernilai, maka tentu pujian Albani kepada Syaikh Rabi tentu lebih tidak bernilai lagi!

Bukankah ini sama saja seperti orang yang melempar bumerang, saat ia melemparinya ke arah targetnya ia sudah merasa senang dan gembira duluan namun tanpa ia sadari ternyata bumerang tersebut tidak mengenai targetnya maka menjadilah bumerang tersebut berbalik arah hingga menimpanya sendiri dan ia pun terluka karenanya dan jadilah ia bahan tertawaan banyak orang.

Dan tentu saja ini adalah musibah bila ia tidak mampu menyadarinya. Padahal ia sendiri sudah terang-terangan mengakui bahwa Syaikh Rabi bukanlah manusia maksum, sebagaimana perkataannya.

Karena kita semua berkeyakinan sebagaimana asy-Syaikh Rabi’ tidak makshum – bisa benar bisa salah, boleh diterima dan boleh ditolak perkataannya – maka demikian pula ‘ulama lainnya, selama hal itu masih dalam koridor ilmiah bukan dengan ambisi menjatuhkan kredibilitasnya. Semoga saudara Firanda sepakat dengan kesimpulan ini.

namun lagi-lagi ini hanya sebatas di bibir saja. Siapapun yang berselisih dengan Syaikh Rabi maka Lukman adalah orang yang terdepan dalam membela beliau, dan itulah hakikat kenyataan yang kita lihat dengan mata telanjang saat ini. Dan memang seperti inilah penampakan yang bisa kita lihat dari sikap ghuluw yang tersembunyi dari para pengidapnya seperti Lukman Ba’abduh ini. Yang mana ia tetap memilih pendapat Syaikh Rabi dan meninggalkan pendapat Syaikh Albani yang notabene gurunya Syaikh Rabi dan lebih senior dari Syaikh Rabi, hanya karena ia merasa pendapat Syaikh Rabi mengenai Sayyid Quthb menguntungkan kredibilitas dirinya sehingga dengan pembelaannya ini terhadap Syaikh Rabi namanya menjadi berkibar setinggi-tingginya dalam bendera dakwah salafiah dengan alasannya:

Tentu kita semua sepakat bahwa – Penilaian asy-Syaikh al-Albani tersebut harus dinilai dan didudukkan secara ilmiah….

Bahkan untuk menguatkan paham pribadinya ini, Lukman Baabduh membawa rangkaian pemikiran Sayyid Quthb yang tersebar di berbagai karyanya. Lalu “memahaminya” sendiri kemudian menghukuminya sendiri, bahkan untuk membantunya ia malah meminta tolong kepada syarah Yusuf Qaradhwi agar maksud dan tujuannya tercapai. Saya sendiri memiliki catatan tersendiri untuk Yusuf Qaradhawi ini, dan akan pembaca dapatkan di akhir tulisan ini.

Bersambung….

 

10 thoughts on ““Masyarakat Jahiliyah” Versi Sayyid Quthb; Antara Syaikh Albani Vs Syaikh Rabi dan Firanda Vs Lukman Ba’abduh (Bag 1)”

  1. Ucapan ini oleh Firanda dkk dimanfaatkan kepada artian syiddah yang sesungguhnya (negatif) sehingga Syaikh Rabi seakan-akan terseret pada predikat mutasyaddid, (ini kesimpulan penulis diatas).
    bandingkan dengan yang dimaksud mutasyaddid oleh ust. Firanda :

    Pertama : Wajib membenci ahlul bid’ah secara total (100 persen). Dan ini adalah kesalahan yang juga berkaitan dengan permasalahan aqida, dan ini adalah aqidahnya kaum khowarij

    Kedua : Menghajr ahlul bid’ah tidak perlu menimbang kemaslahatan, karena demikianlah praktek para salaf. Dan pernyataan Syaikh Robi’ ini adalah merupakan kedustaan terhadap salaf (silahkan baca kembali artikel “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 4)? – Manhaj Syaikh Rabî’ dalam Timbangan Manhaj Para Ulama Kibâr”)

    Sehingga dua manhaj menyimpang ini mengakibatkan saya menyatakan bahwa Syaikh Robii’ mutasyaddid .

    bukan maksud membela ust.Firanda, nampak pada saya ada tendensius. Akan lebih baik jika lebih banyak mengupas penyimpangan yang diltulis oleh hantu pencari al haq

    1. Kesimpulan saya?

      Lalu apa maksud Firanda mengutip kisah tersebut kalau bukan untuk memutasyaddidkan syaikh Rabi?
      Coba buka lagi bag 4.Dimana Firanda memberi sub judul Tulisannya.
      Manhaj Syaikh Rabî’ Al-Madkhalî Yang Mutasyaddid (keras)
      dengan berpegang pada kisah/dialog yang terjadi antara Syaikh Albani dan penanya.
      Bahkan dengan terang benderang ia katakan di bawah subjudul tersebut:

      Berikut ini adalah dialog antara Syaikh Al-Albânî dengan seseorang yang bersikeras membela Syaikh Rabî’ dan menolak anggapan bahwa syaikh Rabî’ adalah mutasyaddid. Akan tetapi, Syaikh Al-Albânî ternyata bersikeras menyatakan bahwa Syaikh Rabî’ mutasyaddid. Silahkan baca dialog tersebut secara lengkap agar lebih jelas.

      Apakah ini kesimpulan saya sebagaimana anggapan Anda? Tidak ada Syaikh ALbani mengatakan Syaikh Rabi mutasyaddid murni, ini hanya pengembangan dari Firanda semata. Dalam beberapa kasus (seperti penafsiran masyarakat jahiliyah menjadi kafir) Syaikh Rabi mutasyaddid, ya memang benar. Sebagaimana penegasan Syaikh Albani sendiri dalam dialog tersebut yang sayangnya tidak dikutip lengkap oleh FIranda.

      الشيخ: يا أخي! بارك الله فيك! يعني نحن نقول كل كلمة وكل عبارة هو متشدد فيها؟!

      Syaikh ALbani: Wahai saudaraku, Barakallah fik. Maksud kami adalah, setiap kata atau ungkapan yang mana ia (Syaikh Rabi) mutasyaadid di dalamnya.

      Tapi ini hanya terikat oleh penafsiran Syaikh Rabi yang seperti ini saja terhadap Sayyid Quthb, artinya di luar konteks penafsiran ini Syaikh Rabi tidak terikat dengan kemutayaddidannya ini.

      Kalau memang Syaikh Rabi terikat dengan ini dan menjadi mutasyaddid dalam artian yang sebenarnya, yaitu mutsyaddid dalam segala hal maka mana mungkin Syaikh Albani mau memuji dan merekomendasikannya, terlebih ia adalah dai mutasyaddid?

      Sayangnya Firanda memakai hal ini untuk memutasyaddidkan Syaikh Rabi secara keseluruhan. Inilah kekeliruan Firanda menurut kami. Yang mana konsekuensi dari ini adalah orang-orang akan menjauhi Syaikh Rabi. Dan inilah yang menurut kami tidak benar, sebab sikap Firanda ini hampir sama dengan sikap Lukman Ba’abduh dkk yang membuat orang-orang lari dari Syaikh Ali, Syaikh Salim, Syaikh Yahya, Syaikh Falih, dll.

      Baik Firanda maupun LUkman kami lihat sikap mereka sama hanya objeknya saja yang berbeda. Inilah yang menurut kami sangat-sangat tidak benar dan harus diluruskan.

      Tulisan saya di atas bukan bertujuan untuk menghina Firanda tapi untuk meluruskan sikapnya yang keliru dimana saat ia meletakkan makna yang diinginkannya pada kata yang tidak tepat (mutasyaddid) tanpa terikat pada konteksnya.

      Coba lihat dialog Nabi dengan Abu Dzar saat Nabi berkata padanya:

      «إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ»

      “Sesungguhnya pada dirimu itu terdapat kejahiliyaan.”

      Apakah dengan serta merta kita katakan Abu Dzar adalah masyarakat Jahiliyah?

      Syaikh Albani mengatakan dalam tulisan Syaikh Rabi ada kekerasan dan keras dalam pemberian istilah, tapi itu tidak serta merta kita katakan Syaikh Rabi adalah mutasyaddid (orang yang keras) dalam segala hal.

      Semoga bisa diambil Faidah. Untuk lebih memahami hal ini tunggu saja bag 2.

  2. Mau tanya, nama antum(admin) siapa? alamat dimana?
    Gak perlu dikhawatirkan, kalau khawatir emailkan ke ana. Jazakumullah.

  3. Lagi-lagi.. Menarik juga pembahasan antum. Pada bagian ini sy setuju mengenai Firanda. Ada sesuatu dibalik pernyataan Firanda atas syaikh Ra’bi Rahimahulloh.. Untuk pengikut setia Radio Rodja utk tidak Taqlid ya.. Khawatir imej Radio Rodja di masyarakat yang sudah kadung nyunnah, ditunggangi oleh orang2 aneh dengan pemahaman yg aneh.. Huuff..huff.. (Sambil dikerokin istri)

Comments are closed.