Siapa yang Benar…? Lukman Ba’abduh Vs Firanda Andirja

Sebenarnya saya paling malas ikut campur dalam sebuah perdebatan sengit, hal itu disebabkan karena tujuan orang berdebat kebanyakannya adalah “cari menang”.

“Mencari kebenaran” hanyalah retorika yang penuh dengan kamuflase dari setiap pendebat. Dan ini sudah mengakar lama dari sejarah pemikiran manusia.

Sejauh ini, setidaknya hingga hari ini dalam membaca kitab-kitab bantahan atu surat-menyurat antara para intelektual muslim, saya belum menemukan ada ungkapan dari para pendebat: ya saya keliru dalam hal ini dan Anda benar dalam hal ini!

Artinya, tidak ada dari dua belah pihak yang saling mendebat tersebut akan Anda temukan kesalahan-kesalahan mereka, karena dalam pandangan mereka, mereka semua adalah benar. Padahal di awal-awal mereka bermanis-manis dengan sebuah hadits:

“Setiap manusia bisa saja salah, dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat” (sadar sehingga mau merujuk pada kebenaran).

Lalu kalau sudah sama-sama benar, untuk apakah berdebat? Bukankah itu hanya buang-buang waktu? Entah apa yang dihasilkan dari itu semua?

Pemuasan hawa napsukah?

Yah ini sama seperti ketika Anda menyaksikan langsung perdebatan antara dua ahli matematika, yang mana untuk masuk ke kesimpulan angka 4: si pendebat pertama mengatakan: 1+3=4, sementara oleh lawannya, si pendebat kedua: 2+2=4.

Kedua pendebat ini menghabiskan umur mereka hanya untuk saling meyakinkan satu sama lain bahwa sayalah yang benar dan Andalah yang salah!!!

Yang satu berkata: “2+2=4 adalah salah! Yang benar adalah 1+3=4”,

dan yang satunya lagi berkata: “Tidak, Anda yang salah justru yang benar adalah 2+2=4.”

Pertanyaan saya ke Anda adalah: Siapakah yang salah di antara keduanya dan siapakah yang benar di antara keduanya?

Lain halnya bila salah satunya mengatakan 1+1=4, saya kira kalau ia berani berpendapat seperti ini, ia takan berani berdebat, karena itu hanya semakin menunjukkan kebodohannya di tengah-tengah manusia dan saya kita ia tidak siap untuk menanggung malu sepanjang hayat.

Mungkin ilustrasi yang saya berikan ini sangat Anda gampang bagi Anda memahami dan mencernanya karena matematika masih dikategorikan ilmu eksakta yang sulit dibantah kebenarannya karena kecenderungannya yang bersifat logika, namun bagaimana bila perdebatan tersebut berkaitan dengan ilmu-ilmu yang sifatnya non eksakta yang notabene kebanyakan adalah tidak bersifat logika, seperti perdebatan dalam agama? Bagaimana cara melihat kebenarannya?

Ilmu non eksakta adalah ilmu yang tak memiliki tapal batas, semua orang bebas berbicara mengenainya. Kita bisa melihatnya sendiri dari para orientalis, yang mana mereka banyak sekali berbicara, membahas dan meneliti tentang Islam, padahal mereka bukanlah ahli islam. Bahkan tidak cuma mereka saja, orang-orang yang baru mengenal manhaj salaf pun bisa bebas berbicara mengenai tahzir di internet layaknya ulama.

Lain halnya dengan ilmu eksakta, ia adalah ilmu yang memiliki tapal batas artinya tidak semua orang bisa berbicara seenaknya dan tentu saja bila ada orang yang sembarang berbicara mengenainya maka ia akan ditertawakan.

Namun di sini kita akan mencoba menerjemahkan pembahasan ilmu non eksakta dalam bentuk debat ke dalam ilmu eksakta.

Di sini saya ingin memberikan contoh yang sedang hangat-hangatnya terjadi sekarang ini, yaitu perdebatan dua orang yang ternama dalam dakwah salafiyah di negeri ini, yang pertama adalah Lukman Ba’abduh dan yang kedua adalah Firanda Andirja.

Apakah perdebatan kedua orang ini masuk dalam kategori: 1+3=4 dengan 2+2=4 ataukah, 1+1=4? ataukah di luar keduanya, itulah yang akan kita cari tahu.

Seperti yang saya sebutkan di atas bahwa untuk mencapai kesimpulan angka 4, masing-masing pihak menggunakan pola pemikiran yang berbeda, yang satu berkata: 1+3=4 dan yang satunya lagi berkata: 2+2=4.

Dan keduanya sama sekali tidak sadar kalau mereka sama-sama benar! dan sama-sama salah kalau mereka sama-sama tidak mengakui kebenaran lawan debatnya.

Sekarang dua orang yang bernama Lukman Ba’abduh dan Firanda dalam perdebatannya untuk sampai pada kesimpulan: Syaikh Rabi…..?

Menurut Firanda: Syaikh Rabi Mutasyaddid, dll.

Menurut Lukman: Syaikh Rabi Alim, dll.

Mungkin untuk mempermudah saya gunakan bahasa yang lebih sederhana berdasakan maksud keduanya.

Firanda: Syaikh Rabi Negatif.

Lukman: Syaikh Rabi Positif.

Lalu untuk sampai pada kesimpulan mereka, bila dilihat dari argumentasi yang diajukan nampaknya perdebatan ini memiliki corak yang berbeda dari apa yang saya utarakan sebelumnya,

Kalau di atas 1+3=4 dan 2+2=4 maka yang ini tidak demikian! Karena kedua-duanya bukanlah murid dekat Syaikh Rabi yang telah lama bersama beliau.

Firanda: 1+5=6

Lukman: 1+6=7

Persamaannya adalah pada angka 1 yang pertama. Dan itulah Syaikh Rabi. Adapun angka kedua, yaitu 5 dan 6 adalah sumber berita dan dalil yang digunakan untuk mengetahui Syaikh Rabi seperti apa?. Lalu angka ketiga (penjumlahan), 6 dan 7 adalah hasil penjumlahan/penilaian keduanya.

Yang saya lihat dari dua orang ini, ternyata mereka bicara sendiri-sendiri, tidak ada yang mereka debatkan, karena kesimpulan mereka berbeda. Ini jelas bertentangan dengan nilai debat itu sendiri, yaitu menjernihkan yang abu-abu, sehingga bisa diketahui apakah ia itu putih atau hitam!

Atau dalam matematikanya: 1+….=10 (Ini versi debat yang benar-benar serius mencari kebenaran)

Adapun ….+….=4 seperti yang diterangkan di atas maka ini adalah debat mencari siapa yang menang dan tidak mencari kebenaran sama sekali, entah ia menjawabnya 1+3=4 atau 2+2=4

Adapun contoh Lukman dan Firanda ini (Firanda: 1+5=6 dan Lukman: 1+6=7) hampir sama dengan dua orang (sebut saja A & B) sama-sama tergiur melihat gambar ikan mas bakar namun belum mencobanya, maka untuk mengetahui rasanya  masing-masing keduanya malah bertanya ke banyak pihak yang pernah mencobanya dengan sumber yang berbeda, lalu kesimpulan keduanya:

A: rasanya seperti ikan lele

B: rasanya seperti ikan salmon

Lalu merekapun saling berdebat untuk menunjukkan siapa yang benar sementara orang-orang yang pernah makan ikan mas bakar tertawa terpingkal-pingkal melihat debat keduanya. Adapun ikan mas Bakar di sini adalah angka 1 dalam (Firanda: 1+5=6 dan Lukman: 1+6=7).

Mungkin akan beda cerita kalau mereka langsung mencicipi ikan mas bakar tadi. Padahal mereka mampu melakukannya. Bahkan saya kira sangat-sangat mampu melakukannya.

Untuk tulisan ini saya cukupkan sampai di sini dulu, sebenarnya masih banyak yang ingin saya bahas.  Tapi setidaknya apa yang saya tulis ini semoga bisa mencerahkan bagi mereka yang kebingungan.

Mengenai kesimpulannya, saya serahkan kepada Pembaca. Silahkan Anda simpulkan sendiri tulisan ini. Bila ada yang tidak jelas, bisa ditanyakan di sini.

Wallahu a’lam bishshawwab

 

26 thoughts on “Siapa yang Benar…? Lukman Ba’abduh Vs Firanda Andirja”

      1. Saya pikir website ini harusnya sesuai dengan namanya, yaitu Predator Tukpencarialhaq, bukan predator Firanda. Kalau sesuai dengan namanya maka yang salah ya pak Luqman.

  1. O gitu yah…

    saya tidak menyalahkan firanda, hanya saja dalam mendebat pak Lukman Firanda tidak tepat penyimpulannya mengenai pembelaan Pak Lukman kepada Syaikh Rabi, begitupun Pak Lukman sangat tidak paham paham kritikan Firanda pada Syaikh Rabi.

    Makanya jangan heran kalau mereka saling berkata:

    FIranda kepada Lukman:

    Tadinya saya berharap al-Ustadz Luqman membantah kritikan saya terhadap Syaikh Robi’ dengan bantahan yang ilmiyah, dan itu yang sangat saya harapkan.

    Lukman kepada Firanda:

    Kalau saja dia mau sedikit bersabar mencermati tulisan bantahan tersebut pada bagian 1 hingga 4, niscaya tidak akan memberi kesimpulan yang sangat prematur seperti di atas.

    Sikap terburu-buru seperti ini akan menyulitkan dirinya untuk bersikap ilmiah dan sportif. Tentunya sangat disayangkan jika sikap seperti ini ada pada seorang yang katanya dalam proses mendapatkan gelar “doktor”.

    OLeh karena itulah, jangan heran bila saya menyebutkan secara terang benderang pada tulisan di atas.

    Firanda: 1+5=6

    Lukman: 1+6=7

    Syaikh Rabi adalah angka 1, adapun angka kedua, 5&6 dan ketiga 6&7 adalah bikinan mereka sendiri.

    Apa yang mereka ributkan? Ngga ada! sama-sama ngga sambung!
    Dilanjutkan berapa kali juga tidak akan ada hasil yang didapat.
    Karena yang satu ingin ke Jogja dan yang satunya lagi ingin ke Jember.

    Lain halnya kalau mereka punya tujuan yang sama, mungkin mereka akan ketemu di jalan atau di tujuan mereka.

    Wallahu a’lam

    Mengenai visi dan misi, jelas kami tidak akan berhianat, kami akan terus memburu pemikiran “gila” dari http://www.tukpencarialhaq.com

    Tunggu saja, lagipula ini semua belum seberapa.

  2. asek….. lanjutkan
    saya klo ngenet habis baca-baca situsnya pro xl terus liat-liat ke hajuriyuun bis ini ke sururi mas .. hehehe. yang di facebook juga belon
    btw demen liat yang komen seru abis🙂
    (Abu Futur Jiddan)

  3. Posting yang satu ini jelek,, sudah tahu tdk baik masuk perdebatan orang lain, masih saja mengomentarinya, komennya jelek lagi. Kalo’ bisa postingan yang satu ini di hapus aja dehh..!!!. Kalo’ saja ust. Firanda masih melanjutkan tulisannya, kita ber khusnudzon aja atas ijtihad beliau. Saya hanya berharap admin bisa menahan diri untuk komen-komen yang tidak konstruktif

    1. Tulisan di atas jeleknya dimana sih? Apa karena menghina ust Firanda, saya lihat Penulis di atas ngga melakukan demikian. Antum ini pengagum ust Firanda yah?

  4. Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan dan Jarh Asy-Syaikh Rabii’ Al-Madkhaliy hafidhahumallah

    Diposkan oleh Abu Al-Jauzaa’ : di 00.34
    Label: Fatawa
    Seseorang yang bernama Faaris pernah bertanya kepada Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah : “Apakah Asy-Syaikh Rabii’ merupakan pembawa panji/bendera al-jarh wat-ta’diil ?”
    Beliau menjawab : “Al-jarh wat-ta’diil hanya dalam (ilmu) hadits, yaitu dalam riwayat dan dirayah saja”.
    Penanya berkata : “Wahai Syaikh, mereka menggunakan perkataan Al-Albaaniy bahwa ia (Asy-Syaikh Al-Albaaniy) mengatakan tentang diri Asy-Syaikh Rabii’ adalah pembawa panji/bendera al-jarh wat-ta’diil”.
    Asy-Syaikh Al-Fauzaan berkata : “Apa yang dikatakan Al-Albaaniy atau selain Al-Albaaniy bukan menjadi urusan kami”.
    Penanya berkata : “Wahai syaikh, di sisi kami terdapat orang-orang yang menggunakan perkataan Asy-Syaikh Rabii’ (sebagai timbangan) : ‘Jika engkau tidak men-tabdi’ orang yang di-tabdi’ Asy-Syaikh Rabii’, maka engkau akan di-tabdi’ atau di-hajr”.
    Beliau berkata : “Tidak ada urusannya kalian atas mereka. Anggaplah mereka seperti tidak ada. Sibukkanlah diri kalian dengan dakwah kepada Allah, dan ajarkanlah manusia kebaikan”
    [selesai penterjemahan – abul-jauzaa’, ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor – 23121434/28102013 – 00:35 – sumber : sini].
    Komentar : Mari kita sibukkan diri kita untuk berdakwah mengajak manusia kebaikan !
    Teks asli :
    سألت الشيخ العلامة الفوزان – حفظه الله هل الشيخ ربيع حامل لواء الجرح والتعديل
    فقال الجرح والتعديل في الحديث يعني في الراوية والرواة فقط
    فقال السائل يا شيخ هم يحتجون بكلام الألباني أنه قال في الشيخ ربيع حامل لواء الجرح والتعديل
    قال الشيخ الفوزان : ما علينا من الألباني ولا غير الألباني
    فقال السائل يا شيخ عندنا أناس يحتجون بأقوال الشيخ ربيع ، وإن لم تبدع من بدعه الشيخ ربيع قد تبدع أو تهجر
    قال ما عليك منهم اعتبرهم غير موجودين ، واشتغلوا بالدعوة إلى الله ، وعلموا الناس الخير

  5. sebagai amanah ilmiah kenapa nama penulis tidak ada di artikel ini TAKUT?? takut apa bukankah kita hanya boleh takut kepada ALLAH Subhanahuwata’ala….PENTING INI

  6. Afwan, bagaimana kalau dialognya begini:
    Firanda: 1+5=6, Bukankah demikian?
    Lukman: 1+6=7

    Pertanyaan dengan model kalimat “bukankah demikian”, jawabannya adalah “Ya” atau “Tidak”.
    Jawaban “Ya” berarti membenarkan pernyataan si penanya, jawaban “Tidak” berarti menyalahkan pernyataan si penanya.
    Nah… Kalau dijawab dengan selain salah satu dari dua jawaban di atas, berarti si penjawab ….

  7. Ini tulisan untuk menambah panas suasana. mending penulis bersabar dan menahan diri… tapi gimana… namanya juga predator –

  8. Klo menurut sy, apa yang dijabarkan si Predator ini bisa dijadikan bahan pertanyaan kepada setiap ustadz dimana antum semua belajar.. (Ambil positipnya aja) .. Dan menurut sy, bener itu apa yg dikatakan sang predator mengenai ” tinggalkan blog ini klo ndak sreg (kurang lebih bgitu) ” .. Tapi jangan lupa utk sang predator ” dalilnya juga harus ada setiap pernyataan antum ” .. Itu lebih baik.

  9. saya baca bolak balik, ust. firanda tidak mengatakan syaikh rabi negatif. Dia cuma mengutip perkataan syaikh lain tentang syaikh rabi’

Comments are closed.