Perbedaan Syaikh Shalih Fauzan dan Syaikh Rabi dalam Meladeni “Penanya Gelap”

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Syaikh Rabi merupakan salah satu jajaran ulama yang “gampang terpancing” mengeluarkan fatwa oleh para “penanya gelap” yang suka mengadu domba dan merusak hubungan sesama manusia sehingga tidaklah mengherankan bila beliau kerap kali berurusan dengan banyak pihak salah satunya adalah Imam Dammaj hari ini, syaikh Yahya Al-Hajuri. Inilah yang boleh jadi menjadi “kelebihan” beliau di mata sebagian yang lain (firqah Lukmaniyah, dkk) dan juga yang menjadi kekurangan beliau di mata sebagian yang lainnya juga.

“Penanya gelap” yang kami maksudkan di sini adalah mereka yang gemar membawa informasi palsu baik dengan cara mengurangi atau melebih-lebihkan kenyataan yang tidak sebenarnya atau bahkan menciptakan kenyataan sendiri sesuai persangkaannya pribadi (waham) sehingga jawaban syaikh tentu saja berdasarkan cerita dusta yang mereka sampaikan.

Sesungguhnya antara beliau dengan syaikh yahya dulunya adalah bersikap harmonis dan ramah namun semua menjadi berubah tatkala Syaikh Al-Adeni dkk yang berasal dari Yaman mengadukan permasalahannya dengan syaikh Yahya kepada Syaikh Rabi. Maka sejak itu menjadi berubahlah sikap beliau kepada syaikh Yahya ditambah lagi dengan sikap para murid-murid syaikh Yahya yang masih awam yang tidak tahu batas dalam membela gurunya sehingga mereka gampang terjatuh pada beberapa penyimpangan yang bersifat ghuluw kepada syaikh Yahya.

Inilah yang semakin membuat Syaikh Rabi geram dan membuat hubungan keduanya menjadi sangat renggang sekali hingga hari ini.

Syaikh Yahyapun dibuat tak berdaya dengan hal ini karena yang mengerumuni Syaikh Rabi adalah para pembencinya sehingga apapun yang dikatakan Syaikh Yahya takan didengar oleh syaikh Rabi.

Begitulah api fitnah, bila ia sudah menyala maka air hujan yang deraspun takan sanggup untuk memadamkannya, karena ia terus menjalari apa-apa yang ada di sekelilingnya, sebab hujan hanya turun di area terbatas berdasarkan lokasi dimana awan berada.

Kembali ke Syaikh Rabi, dalam mengeluarkan fatwanya, ada kalanya yang beliau jawab benar adanya, adakalanya juga sebagai manusia biasa terkadang keliru menghukumi sesuatu, dan itu semua kembali lagi pada sumber berita yang dibawa oleh para penanya, salah satu contohnya adalah: dulu beliau mentahzir Bapak Lukman Ba’abduh sebagai penyusup ikhwani berbaju salafi namun tahzir ini dicabut kembali. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak selalu benar dalam perkataannya.

Kenapa bisa berubah?

Tentu saja karena informasi yang datang ke Syaikh Rabi berbeda. Sebelum Pak Lukman mendatangi Syaikh Rabi, pada saat itu syaikh Rabi dikelilingi oleh para pembenci bapak Lukman, salah satunya adalah Dzulqarnain asal Makasar sehingga dari informasi merekalah Syaikh Rabi menghukumi Bapak Lukman sebagai penyusup ikhwani. Namun sekarang semuanya berubah, sejak kedatangan Lukman Ba’abduh kepada Syaikh Rabi dengan menunjukkan sikapnya yang sama kepada Syaikh Yahya Al-Hajuri maka menjadi simpatiklah beliau kepada pak Lukman. Dan sekarang para lukmaniyah lah yang justru bergantian bergentayangan di sisi Syaikh Rabi dan menjilat-jilat beliau. Maka menjadilah nama besar Lukman Ba’abduh berkibar kembali, setidaknya untuk para fansnya.

Point penting yang bisa kita lihat dari kejadian ini adalah bahwa Syaikh Rabi adalah orang yang bermudah-mudahan (mutasahil) dalam berfatwa seakan beliau tidak menghargai ilmunya dan merendahkannya.

Lihat saja begitu gampangnya beliau mentahzir dan begitu gampangnya pula beliau mencabut tahzirnya. Seakan tahzir tidak memiliki nilai apa-apa? Allahu Akbar!

Terlepas dari itu, sebenarnya bukan ini yang ingin kami bahas di sini. Yang menjadi pusat perhatian saya di sini justru terletak pada Syaikh Shalih Fauzan dan keteladanan sikap beliau dalam meladeni para penanya gelap yang gemar mengadu domba.

Untuk melihat dalamnya keilmuan seseorang tentu tidak cukup hanya dengan melihat keilmuan mereka berdasarkan apa yang mereka ucapkan dan tuliskan, karena sudah pasti mereka menguasai berbagai disiplin ilmu tersebut. Tapi yang menjadi tolak ukur sesungguhnya adalah bagaimana mereka bersikap atas ilmu. Inilah yang paling sulit dilihat oleh sebagian orang, sehingga bila mereka tidak mampu memuliakan ilmunya maka ia akan direndahkan oleh ilmunya.

Inilah yang harus dijadikan pelajaran berharga bagi para salafiyin pada khususnya dan dalam kaum muslimin pada umumnya.

Sekarang mari kita lihat jawaban Syaikh Fauzan dalam meladeni para penanya gelap.

Tanya: Apakah Syaikh Rabi termasuk Murjiah

Jawab: Berhentilah mengaitkan kami dengan orang-orang itu. Dan jangan pernah lagi menyebutkan person tertentu. Na’am.

Lihatlah jawaban beliau dan lihat pulalah sikap beliau. Ini lah sikap atas ilmu, tidak menjualnya dengan harga yang murah. Imam Syafi’I dalam Al-Manaqib berkata:

من إذلال العلم أن تناظر كلّ من ناظرك ، و تقاول كل من قاولك 

Salah satu bentuk perendahan atas ilmu adalah Anda mau saja meladeni siapa saja yang mengajak Anda berdebat.

Cat: Satu kata dalam bahasa Indonesia (debat) namun dua kata dalam bahasa Arab, yang pertama munazaharah dan yang kedua muqawalah. Munazharah lebih ke debat teoritis sementara muqawalah lebih ke debat mulut (omong kosong). Dua-duanya tidak diperbolehkan oleh Imam Syafi’i.

Bahkan lebih tegas lagi, Imam Malik, beliau berkata:

 إنّ من إذالة العالم أن يجيب كلّ من كلَّمه ، أو يجيبَ كلّ من سأله

Sesungguhnya di antara kehinaan/kerendahan seorang alim adalah ia mau saja merespon/meladeni orang yang mengajaknya bicara (berdebat), dan menjawab semua orang yang bertanya kepadanya

Inilah tolak ukur alim sesungguhnya, ia selalu setia dengan ilmunya tanpa pernah menghianatinya.

Pertanyaan selanjutnya diajukan kepada Syaikh Salih Fauzan.

Ini juga adalah hadiah bagi mereka yang senantiasa mengatas namakan beliau untuk mengadu domba manusia, sebagaimana yang dilakukan oleh si hantu pemakan bangkai http://www.tukpencarialhaq.com

Saudara ini banyak bertanya mengenai salah satu situs di internet yang bernama Al-Atsari, ia menyebutkan bahwasanya mereka ini (para member) sering mengutip beberapa fatwa Anda yang mendukung manhaj mereka.

Dia berkata: Mereka (baca: pembenci syaikh Rabi) adalah orang-orang yang ghuluw, memiliki banyak julukan, merusak hubungan di antara para ahlul ilmi, khususnya Syaikh Rabi al-Madkhali, apa komentar  Anda? Jazakakumullah katsiran.

Jawab: Dewasa ini kebohongan sangatlah banyak sekali, kebohongan mengatas namakanku ataupun selainku juga banyak. Oleh karena itu, orang yang suka membawa-bawa ucapan atau fatwa seseorang maka ia harus menunjukkan tulisan orang yang berfatwa tersebut ataupun suaranya… (sekali lagi) baik dengan tulisan maupun suaranya.

Adapun penisbatan yang mutlak (waham: sudah menghukumi duluan) seperti si fulan berkata, atau si fulan bersalah maka ini tidak diterima karena kebohongan dewasa ini banyak tersebar dan juga mengatas namakan ahlul ilmi atau wulatul umur (orang yang kredibel di bidangnya/pemangku jabatan/pemerintah), bahkan menimpa juga manusia pada umumnya, mereka mengatas namakan manusia, berbohong atas nama mereka, merusak hubungan satu sama lain, dan ini semua adalah bentuk dari keburukan. Na’am

Si Penanya nampaknya berasal dari kalangan Syaikh Rabi. Ia menanyakan kepada Syaikh Fauzan mengenai sebuah situs yang pro kepada Syaikh Fauzi Al-Atsari dan Syaikh Falih Harbi, yang mana dua orang ini adalah musuh bebuyutan Syaikh Rabi, dan di situs ini para membernya kerap kali menghina dan merendahkan Syaikh Rabi.

Si penanya sangat mengharapkan Syaikh Fauzan mentahzir mereka. Terutama Syaikh Fauzi dan Syaikh Falih yang merupakan musuh besar Syaikh Rabi namun kenyataannya justru Syaikh Fauzan malah tidak memberikan respon apa-apa terhadap keinginan si Penanya. Bahkan Syaikh Fauzan malah menghantamnya balik, dengan mengatakan bahwa kebohongan terjadi dimana-mana, bisa jadi Anda adalah salah satu pelakunya, karena anda tidak membawa bukti. TIba-tiba Anda datang ke saya lalu mengatakan situs itu bersalah.

Untuk Anda ketahui wahai para pembaca sekalian, Syaikh Falih Harbi sejauh ini di mata Syaikh Fauzan adalah orang baik.

Muhadharah ini disampaikan oleh Syaikh Fauzan Al-Fauzan, Di Al-Kabir Center (Masjid Al-Kabir) di Thaif, Hari Rabu, 7/5/1432 H.

Pertanyaan: Telah banyak sekali pembicaraan (negatif) mengenai seorang laki-laki di Madinah Al-Munawwarah yang bernama Falih Harbi, apa yang Anda ketahui tentangnya?

Jawab: Yang kutahu darinya adalah kebaikan, Alhamdulillah.

Lalu apa yang membuatnya menjadi heboh?

Mereka yang berbicara dan menikamnya maka apa landasan mereka?

Mereka memberikan kami sepotong ucapannya lalu menyalah-nyalahkannya dan menyesatkannya.

Adapun omong kosong (tanpa ilmu/bukti) atau tikaman yang ditujukan kepada manusia tanpa ada verifikasi dan kepastian yang jelas maka Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat: 6)

Maka wajib bagi manusia untuk senantiasa melakukan verifikasi dalam segala permasalahan ini. Na’am.

Begitupulalah yang mereka lakukan terhadap Syaikh Yahya Al-Hajuri, dan hingga kini korban dari kejahatan lisan mereka sungguh banyak sekali. Allahul Musta’an.

Dengan demikian dari sini kita dapat melihat bahwa syaikh Shalih Fauzan adalah orang yang paham realita yang sesungguhnya terjadi sehingga tidak mudah terpancing dengan segala macam bentuk hasutan dan beliau termasuk orang yang mampu menghukumi sesuatu dengan sebenar-benarnya. Bahkan di sini dengan tegas beliau menolak semua klaim dusta yang mengatasnamakan dirinya untuk merusak hubungan di antara manusia.

Jadi, kepada mereka yang suka membawa-bawa nama syaikh Shalih Fauzan untuk kepentingan pribadi ataupun kelompoknya kami katakan, “enyahah kalian! Karena beliau tidak menganggap kalian sama sekali!”😛

Wallahu a’lam bishshawwab

8 thoughts on “Perbedaan Syaikh Shalih Fauzan dan Syaikh Rabi dalam Meladeni “Penanya Gelap””

  1. Subhanalloh, jika sikap para gurunya seperti ini.. Bagaimana dengan sikap para muridnya.. Belum lama ini sy mendengarkan Radio Rodja, ketika itu ada penanya ibu2 yang menanyakan tentang kebingungannya, dan ibu itu mengatakan: ” ada ustadz ditempat sy melarang utk membaca buku karya ustd.Yazid, dan mengatakan klo ustd Radio Rodja itu sururi ” saat itu pengisi Radio Rodja ustd.Abu Qotadah. Beliau pun menjawab: ” bla…bla..bla… (Panjang pembahasnnya, hingga sampai pada perkataan beliau: ” mereka itu bukan ahlusunnah ” dan ucapan beliau ini berulang dan sgt jelas.) Yang ingin sy tanyakan: apakah perkataan beliau (ustd.Abu Qotadah) “mereka bukan ahlusunnah” itu bermakna kafir?” Mohon pencerahannya utk semua. Jazzakalloh..

  2. Bismillah. Ya sy tangkap dari artikel di atas_Allahu A’lam_adalah isinya tentang pencelaan terhadap ulama kibar (syaikh robi’ hafidzahullah), merendahkan ulama, dan tulisan yang dikhawatirkan membuat umat lari dan berpaling dari ulama. Bertakwalah antum kepada Allah Ta’ala.

  3. Tutup mulutmu tukang fitnah. Tulisan gak mendidik. Keluar dari hawa nafsu. Dasar penulis gelap.

Comments are closed.