Ghuluw Gaya Baru: Fenomena Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali Dengan Gelarnya yang Berlimpah.

Nama syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali akhir-akhir semakin hari semakin melambung tinggi saja seiring dengan berkobarnya api yang bernama jarh, hajr, tahdzir, tabdi’ yang “dinyalakan” oleh firqah Lukmaniyah di Indonesia ini.

Tentu saja akibat api yang dibiarkan terus menyala-nyala dan berkobar-kobar dan membumbung tinggi maka tak pelak saat angin kencang (hasad) datang ia pun merembet ke berbagai tempat dan wilayah di sekitarnya sehingga banyak korban tak bersalah (awam salafi) pun yang “terbakar hidup-hidup” oleh api tersebut di dalam tempat kediaman yang bernama dakwah salafiah.

Di antara mereka ada yang meninggal (kesantunan dan kelembutannya), ada pula yang terluka dan harus dirawat jalan (karena terbakar api syubhat mereka). Hanya kepada Allahlah kita menaruh harapan dan memohon pertolongan.

Ini semua tentu saja tidak boleh didiamkan, karena kalau terus dibiarkan terjadi maka mereka akan semakin merajalela dan tentu saja lama-kelamaan ulama-ulama yang tidak bersalah akan menjadi korban dari kejahatan lidah-lidah api mereka yang panas beracun seperti yang kita lihat dan kita tonton sehari-hari. Allahul Musta’an.

Pada tulisan kali ini saya mungkin belum akan secara frontal menyingkap kejahatan firqah Lukmaniyah ini dan yang semisalnya dalam dakwah salafiyah. Tapi anggap saja ini pengantar dari tulisan-tulisan berikutnya.

“Syaikh Rabi?”

Siapa yang tidak kenal dengan beliau. Terlebih bagi mereka yang bermazhab tahdzir dan tabdi.

Beliau adalah panutan bagi mereka yang “tergila-gila” dengan tahdzir dan tabdi. Setidaknya bila diukur dari tahdzir-tahdzir mereka yang suka membawa-bawa nama besar Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali.

Entah apa yang ada di dalam tahdzir dan tab’di tersebut? Ridha Allah dan pahala-Nya kah?

Bila itu benar, maka harapan kami hanya satu: Wahai Allah semoga saja yang mereka lakukan itu menjadi sebab kami mendapatkan hidayah. Namun bila apa yang mereka lakukan tidak benar… tentu kita sudah mengetahui konsekuensi itu semua di akhirat kelak… karena di dunia ini apa yang mereka lakukan bukanlah perkara ringan.

Pembaca sekalian, di sini saya tidak akan membahas biografi beliau, karena hal ini saya kira sudah ada yang membahasnya. Anda bisa merujuk ke sini, bila perlu. Namun yang menjadi pusat perhatian saya di sini adalah sikap para pengikut syaikh Rabi, sebut saja Rabi’iyyun (salah satunya adalah Lukmaniyyah) yang sungguh, menurut saya sudah keluar batas dari jalan yang benar. Apa sebab?

Tentu saja karena ghuluw…

Ghuluw adalah penyakit laten, tak dapat diketahui kapan ia akan muncul dalam diri seseorang yang mengidapnya? Ia bahkan tergolong penyakit keras yang sulit diobati, salah satu alasannya adalah karena ia bersifat tidak kasat mata sehingga tidak bisa dilihat oleh “akal sehat” pengidapnya sendiri. Inilah yang membuatnya sulit diobati.

Bisa Anda bayangkan bilamana ada seseorang mengidap penyakit kanker ganas, lalu ia ingin diobati oleh keluarganya namun ia malah menolak karena ia merasa tak memiliki penyakit apa-apa, sebab lahiriahnya ia sehat-sehat saja. Bukti scan lab pun ia anggap hanya “akal-akalan” dokter saja untuk meraih keuntungan darinya.

Lalu siapakah yang bisa mengobati orang ini kalau dokter saja sudah ia tak percayai, apalagi herbalis, dll. Atau mungkin bisa jadi Anda yang biasa membuka servis bekam?

Meski ia menolak maka itu tetap takkan mengubah kenyataan sebenarnya bahwa ia memiliki penyakit. Dan seperti yang saya katakan tadi untuk melihatnya haruslah diperlukan seorang ahli, bila dalam medis kita sebut dengan dokter, namun dalam agama ini siapakah dia? Nabi bersabda dalam salah satu hadits yang terkenal:

“Agama ini adalah nasihat”. Kami bertanya:  “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

Jadi jelas yang ahli untuk mengobati ghuluw adalah Allah, Rasul, pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin itu sendiri. Artinya orang kafir, dll, munafik tidak diberi jalan/hak untuk ini.

Lantas, apa hubungannya nasihat dengan ghuluw?

Allah berfirman:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ

“Katakanlah: “Hai Ahlul Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu.” (Al-Maidah: 77)

Harus kita ketahui terlebih dahulu bahwa kata nasihat itu berasal dari kata nashaha, yang artinya ikhlash atau murni  dalam bahasa Indonesianya. Makna ini banyak disebutkan oleh kamus-kamus berbahasa Arab semisal, al-mu’jamul wasith hingga al-mu’jam al-lughatul arabiyah al-muashir (Kamus Bahasa Arab Modern)

Lalu?

Perhatikan, agama ini oleh Nabi melalui haditsnya di atas digambarkan sebagai nasihat. Artinya, ia harus senatiasa murni setiap saat, setiap waktu, tidak boleh dikotori oleh apapun jua.

Sementara itu bila dalam agama terdapat noda yang sering mengotorinya, yaitu ghuluw sebagaimana yang diterangkan Allah dalam ayat di atas maka oleh siapa-siapa yang disebutkan oleh hadits Nabi di atas yang berhak memberi nasihat (pemurnian) maka ia hendaklah ia melakukannya.

Oleh karena itu, sebagai salah satu orang yang diberi hak oleh Nabi memberi nasihat, saya dalam kapasitas saya sebagai kaum muslimin pada umumnya (yang disebutkan Nabi dalam sabdanya) tentu melalui tulisan ini ingin menyampaikan nasihat kami agar agama ini menjadi murni kembali setelah diselimuti kekotoran di dalamnya.

Akhir-akhir ini saya melihat agama ini sudah sering dikotori oleh sikap ghuluw yang muncul dari mereka yang mengklaim diri mereka sebagai ustadz, yaitu ustadz dalam perkara tahdzir.

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya ghuluw adalah sebuah penyakit yang tidak mampu “disadari” dan dilihat dengan “mata batin” pengidapnya sebagai penyakit yang menggerogoti dirinya. Meskipun telah diyakinkan oleh para ahli dengan bukti-bukti yang nyata. Allah berfirman,

مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

“Barang siapa yang disesatkan Allah maka tiada yang dapat memberinya hidayah” (Al-A’raf: 186)

Oleh karena itulah di sini tiada yang mampu kita harapkan pertolongan untuk menyembuhkannya selain dari Allah semata. Hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan.

Salah satu ghuluw dalam agama yang dialamatkan kepada syaikh Rabi adalah gelar Al-Walid. Lebih lengkapnya, mereka memanggil atau menyebut syaikh Rabi dengan gelar,

Asy-Syaikh, Al-Allamah, Al-Muhaddits, Hamil Liwa Jarh wa Ta’dil, Al-Walid, DR. Rabi bin Hadi Al-Madkhali.

Setelah saya hitung-hitung gelar beliau lumayan banyak juga, 6 gelar; satu diantaranya merupakan gelar akademik. Namun di sini saya tidak membahas semua gelar tersebut, hanya satu yang ingin saya sorot di sini, yaitu pemberian gelar Al-Walid oleh para pengikutnya, termasuk oleh firqah Lukmaniyah di dalamnya. Mungkin bila ada waktu saya akan membahas gelar beliau yang lainnya, termasuk Hamil Liwa Jarh wa Ta’dil.

Pertanyaan kita sekarang adalah apa itu Al-Walid?

Sejauh ini, bagi yang paham Bahasa Arab, tentu mengetahui bahwa gelar ini (Al-walid) bila dipanggil oleh anak-anak beliau tentu tidak menjadi soal bagi kita semua. Namun hal ini malah menjadi soal saat para pengikut beliau memangil beliau dengan sebutan Al-Walid. Inilah yang akan kita perbincangkan di sini.

Dalam bahasa Arab, kata walid berasal dari kata: walada, yalidu artinya melahirkan.

Seorang bapak disebut walid (yang melahirkan) karena ialah yang pertama kali melahirkan anaknya (keluar) dari tulang sulbinya menuju rahim ibunya.

Seorang ibu disebut walidah (yang melahirkan) karena ia juga turut melahirkan anak tersebut, keluar dari rahimnya menuju dunia ini.

Setelah kita mengetahui hakikat ini? Maka pertanyaan kita adalah:

Apakah para pengikut Syaikh Rabi yang memanggil syaikh Rabi dengan gelar Al-Walid adalah anak kandung syaikh Rabi, ataukah Syaikh Rabi adalah ayah kandung mereka?

Tentu saja bukan!  saya, Anda dan mereka tentu saja tahu hal ini, lalu kenapa mereka melakukannya?

Mungkin oleh mereka, kata walid mereka anggap sebagai pengganti makna Bapak (sebutan penghormatan kepada seseorang yang dimuliakan sebagaimana dalam Bahasa Indonesia), namun dalam bahasa Arab penggunaan kata walid dalam makna bapak tersebut jelas sangat tidak tepat, bahkan cenderung membawa kepada pembahasan mengenai kenasaban. Perhatikan sabda Nabi ini:

مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

“Barang siapa menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya padahal ia mengetahui bahwa itu bukanlah ayahnya, maka diharamkan baginya surga”  (HR. Bukhari)

Penggunaan kata abun (ayah) saja oleh Nabi diharamkan masuk surga maka bagaimana dengan penggunaan kata walid yang tentu saja lebih vulgar menunjukkan hubungan kekandungan dan darah?

Abun adalah kata yang selalu dimaknai untuk menunjukkan kedekatanyang sangat, seperti abu hurairah (karena suka bermain dengan kucing), abu turab (dekat dengan debu), abu lahab (suka dengan percikan api/fitnah), dll.

Sementara kata walid tidak memilik “perluasan makna seperti itu”, walid hanya digunakan kepada orang tua kandung, tidak keluar dari itu.

Selain itu bila kata abun dalam hadits di atas kita korelasikan dengan ayat Al-Quran maka abun dalam hadits di atas jelas bermakna walid, karena kalau tidak begitu maka akan terbenturlah Al-Quran surat Al-Baqarah: 133 dan Hadits shahih di atas,

Mari kita lihat perluasan makna dari kata abun. Perhatikan ayat berikut ini:

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (AL-Baqarah: 133)

Perhatikan, di ayat ini diceritakan bahwa mereka anak keturunan Ya’kub malah menyebut Ismail sebagai bapak (abun) dari Nabi Ya’qub. Padahal sama-sama kita ketahui bahwa Nabi Ismail adalah pamannya Nabi Ya’qub sebab ibunya Nabi Ismail adalah Hajar yang berasal dari Mesir.

Sementara kata walid (ayah kandung) hingga hari ini baik di Al-Quran dan Sunnah Nabi belum ada yang menggunakannya untuk orang/ulama yang tidak bernasab dengannya.

Dan baru firqah Lukmaniyah dan yang semisalnya lah yang melakukannya pada hari ini di zaman ini.

Firqah Lukmaniyah dan yang semisalnya sebagaimana dalam kenyataan yang kita temukan di lapangan kerap kali “menasabkan” diri mereka kepada Syaikh Rabi dengan memanggil beliau dengan sebutan walid, walid, walid… (ayah kandung)

Padahal telah Allah jelaskan bahwa kata walid memiliki makna yang sangat sempit dan hanya berhubungan dengan keturunan semata. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (33)

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang ayah kandung tidak dapat menolong anak kandungnya dan seorang anak kandungnya tidak dapat (pula) menolong bapak kandungnya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah. (Lukman: 33)

Lihatlah, orang tua kandung saja tidak mampu menolong anak kandungnya di akhirat maka bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki hubungan darah dengan beliau yang memanggil-manggil syaikh Rabi dengan Al-Walid… Al-Walid…. (ayah kandung)?

Pertanyaan yang tak kalah penting juga untuk diajukan di sini adalah: Apakah penyebutan Al-Walid ini telah ada salafnya? Adakah Rasul, sahabat, tabiin, dst yang melakukan hal demikian untuk menghormati ulama mereka, terlebih oleh Zaid bin Haritsah yang telah diasuh dan dianggap anak oleh Nabi adakah ia memanggil-manggil Nabi dengan Al-Walid?

Bahkan oleh Arab Nasharani sendiri, dulu dan sekarang, mereka tidak menyebut Allah dengan Ilahul Walid melainkan ilahul Ab (Tuhan Bapak) dan itu menunjukkan bahwa Allah memang tidak melahirkan.  Meskipun akidah mereka sesat, namun mereka tahu cara meletakkan kata yang tepat, namun bagaimana dengan mereka yang katanya berakidah lurus namun malah memanggil “Bapak/Ayahanda” kepada Syaikh Rabi dengan gelar “Al-Walid”?

Beginilah hakikat ghuluw, siapa yang melakukannya tidak akan pernah sadar dengan apa yang ia ucapkan dan apa yang ia perbuat.

Mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, termasuk saya sendiri. Amin

46 thoughts on “Ghuluw Gaya Baru: Fenomena Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali Dengan Gelarnya yang Berlimpah.”

  1. afwan, apakah antum sendiri sdh mendapat penjelasan lgsg dari Ust.Abu Abdillah Luqman Ba’abduh perihal penggunaan “ALWALID” tsb?

    1. sebelum saya menulis ini saya sudah baca tanya jawab tsb.
      kebetulan karena anda bertanya jadi saya komentari saya jawaban tersebut.

      فلا مانع من إطلاق هذا اللفظ على الكبير -عالماً كان أو غيره- فهو من قبيل المجاز الصحيح في اللغة، وهو سائغ أيضاً من حيث المعنى، وجائز من حيث الشرع، يقول الله تعالى: (قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ) [البقرة:133].
      وإسماعيل من أعمامه لا من آبائه.
      وقد سئل ابن الصلاح عن مسألة في الأبوة: هل يجوز أن يطلق في الكتاب العزيز والحديث الصحيح الأب من غير صلب…؟ ونرى مشايخ الطرقية يسمونهم أبا المريدين فيجب بيان هذا من الكتاب العزيز والحديث الصحيح.
      فأجاب رحمه الله قال الله تعالى: (قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ) وإسماعيل من أعمامه لا من آبائه، وقال سبحانه: (وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ) وأمه قد كان تقدم وفاتها قالوا: والمراد خالته، ففي هذا استعمال الأبوين من غير ولادة حقيقة وهو مجاز صحيح في اللسان العربي، وإجراء ذلك من النبي صلى الله عليه وسلم والعالم والشيخ… سائغ من حيث اللغة والمعنى، وأما من حيث الشرع، فقد قال الله سبحانه وتعالى: (مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ).

      Apa yang dikatakan di sini saya kira sangat keliru, karena hujjah yang digunakan adalah penggunaan lafaz: “Al-Abb” (AL-Baqarah: 133) yang mana saya sendiri sudah membahasnya, sementara yang ditanyakan adalah penggunaan lafaz: “Al-Walid”. sangat tidak nyambung sekali bukan?

      Dari jawaban ini nampaknya si penjawab tidak bisa membedakan makna hakiki dari “Abb” maupun “Walid.”

      Pada tulisan di atas saya sendiri sudah mendudukkan letak perbedaannya. Coba dibaca lagi.

      وفي الحديث: “إنما أنا لكم بمنزلة الوالد أعلِّمكم” فذهب بعض علمائنا إلى أنه لا يقال فيه صلى الله عليه وسلم إنه (أبو المؤمنين) وإن كان يقال في أزواجه (أمهات المؤمنين) وحجته ما ذكرت، فعلى هذا يقال هو مثل الأب، أو كالأب، أو بمنزلة أبينا، ولا يقال هو: أبونا، أو والدنا.
      ومن علمائنا من جوزه وأطلق هذا أيضاً، وفي هذا للمحقق مجال بحث يطول، والأحوط التورع والتحرز عن ذلك. انتهى.
      وقال النووي رحمه الله: هل يقال للنبي صلى الله عليه وسلم أبو المؤمنين؟ فيه وجهان لأصحابنا: أصحهما عندهم الجواز وهو نص الشافعي أنه يقال أبو المؤمنين أي في الحرمة، ومعنى الآية: (مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ) [الأحزاب:40]. لصلبه. . ا.هـ من معجم المناهي اللفظية لبكر أبو زيد .
      وهذا الخلاف في حق النبي صلى الله عليه وسلم هل يقال له أبو المؤمنين أم لا؟
      وأما كبير السن، سواء أكان عالماً أم لا، فلم نر من خالف في جواز إطلاق الوالد عليه تعظيماً وتبجيلاً.

      Hujjah kedua mengenai hadits Abu Dawud tersebut, yaitu: “Saya (Nabi) bagi kalian adalah seperti kedudukan seorang ayah (Al-Walid)”

      حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ النُّفَيْلِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ، عَنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ، أُعَلِّمُكُمْ فَإِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الْغَائِطَ فَلَا يَسْتَقْبِلِ الْقِبْلَ

      maka saya katakan hadits ini terdapat ilat di dalamnya, yaitu Antara Dzakwan Abu Shalih yang mengaku meriwayatkan dari (‘an) Abu Hurairah, padahal dalam tarjamah rawi, tidak terdapat berita Dzakwan (meskipun perawi tsiqah) meriwayatkan langsung (talaqqi) dari Abu Hurairah.
      Jadi tegas an’anah dzakwan tertolak, meski di satu sisi Syaikh Albani menghasankan hadits ini. Boleh jadi karena adanya ketsiqahan semua perawi, namun tetap timbangan kita adalah Al-Quran. Denganb begitu hadits hasan tersebut tidak dapat dipakai, karena standar utama yang shahih adalah Al-Quran.
      Allah sendiri telah menegaskan:

      مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ

      MUhammad itu bukanlah bapak dari laki-laki di antara kalian semua

      Artinya untuk penggunaan lafal Abb saja sudah Allah tolak diitlakan kepada Nabi maka bagaimana bisa lafal Al-Walid lebih-lebih diitlakkan kepada baginda Nabi.
      Bahkan orang-orang yang coba-coba memanggil Nabi dengan “Abul Mu`minim” ditolak mentah2 oleh Allah melalui ayat di atas.

      Adapun pengitlakan “walid” dengan tujuan sebagai penghormatan kepada orang tua muslim yang telah berusia lanjut
      sebagaimana yang dikatakan:

      وهذا الخلاف في حق النبي صلى الله عليه وسلم هل يقال له أبو المؤمنين أم لا؟
      وأما كبير السن، سواء أكان عالماً أم لا، فلم نر من خالف في جواز إطلاق الوالد عليه تعظيماً وتبجيلاً.
      هذا؛ ولما كان إطلاق هذا اللقب على كبار السن من أهل العلم والفضل من باب التشريف والتوقير كان ممدوحاً مرغباً فيه شرعاً، ففي الحديث: “إن من إجلال الله إكرام ذي الشيبة المسلم” رواه أبو داود.
      ولا يعد المنادي لهم بهذا كاذبا، لأنه إما أن يقوله تشريفاً، وقد سبق حكمه، أو تعريفاً، فيكون قصده حينئذ مجرد التعريف لا حقيقة مدلوله.

      maka saya katakan ini tetap keliru, sebab ia tidak memiliki pendalilan yang rinci dan tegas atas hal ini. Bagaimana bisa hadits umum:

      إن من إجلال الله إكرام ذي الشيبة المسلم

      salah satu bentuk penghrmatan kepada Allah adalah menghormati orang tua yang muslim (Abu Dawud)

      Dipakai untuk pembenanaran bolehnya mengitlakkan lafaz Walid kepada seorang ulama yang telah berumur?

      Bahkan pemahaman ini jelas mengajak kepada kekafiran saya kira (meski ia/si penjawab tidak memaksudkannya demikian), sebab jika memang benar hadisnya ini dipakai untuk memanggil orang tua berilmu dengan “Walid” maka itu artinya bentuk penghormatannya kepada Allah sama juga dengan memanggilnya juga dengan sebutan Walid…

      karena siapa yang menghormati Allah maka ia menghormati orang tua muslim, artinya kalau ia menghormati orang tua muslim dengan panggilan walid maka itu artinya ia juga menghormati Allah dengan panggilan walid..

      Masya Allah, sesatnya! Padahal Allah tegas tegaskan dalam surat Al-Ikhlash:

      لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

      Tidak menjadi ayah (walid) tidak pula menjadi anak.

      ولا يعد المنادي لهم بهذا كاذبا، لأنه إما أن يقوله تشريفاً، وقد سبق حكمه، أو تعريفاً، فيكون قصده حينئذ مجرد التعريف لا حقيقة مدلوله.
      وأما ما أورده السائل من إيرادات على استعمال هذا اللقب، فغير مسلَّم له، فقوله: إن النصارى يطلقون لفظ (البابا) على علمائهم، فليس في هذا إشكال، فنحن لا نقول بابا، وإنما نقول في مقام التعريف الوالد فلان، أو الأب فلان.
      ثم إن البابا عندهم لقب ثابت لمن يتولى رئاسة الكنيسة، ونحن إنما نقول ذلك -كما مر- في مقام التعريف والتشريف، ثم لو فرضت المشابهة، فهي من باب الاشتراك في الألفاظ، ولا يلزمنا أن نترك كل لفظ أو لقب شاركنا فيه غيرنا.

      Mengenai ucapannya ini, saya sendiri sudah menjawab di atas:

      Bahkan oleh Arab Nasharani sendiri, dulu dan sekarang, mereka tidak menyebut Allah dengan Ilahul Walid melainkan ilahul Abb (Tuhan Bapak) (baba) dan itu menunjukkan bahwa Allah memang tidak melahirkan.

      Meskipun akidah mereka sesat, namun mereka tahu cara meletakkan kata yang tepat, namun bagaimana dengan mereka yang katanya berakidah lurus namun malah memanggil “Bapak/Ayahanda” kepada Syaikh Rabi dengan gelar “Al-Walid”?

      Dan yang terakhir,

      وأما أن السلف لم يستعملوا هذا في حق العالم الكبير، فدعوى غير صحيحة، بل ما زال المسلمون سلفاً وخلفاً ينادون كبير السن بالوالد والأب، وينادون الصغير بالولد والابن، ولو لم تكن هناك بنوة حقيقية أو أبوة حقيقية، وفي الحديث الصحيح عن أنس قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: “يا بُنيِّ إذا دخلت على أهلك فسلم” رواه مسلم.
      وأما قوله: لو كان لأحد… فقد سبق جوابه في كلام ابن الصلاح رحمه الله والنووي.
      والله أعلم.

      Ini adalah pemaksaan yang ngawur, masa gara-gara Nabi memanggil “ya bunayya” kepada sahabat anas yang masih kecil lalu dengan serta merta dijadikan pembenaran bolehnya memanggil Walid kepada orang yang dituakan?

      Kalau memang benar begitu, harusnya semua anak laki-laki memanggil Nabi dengan Al-Walid, namun adakah fakta sejarah yang mengataka demikian?

      Saya jawab tidak ada.

      Bahkan tidak ada sejarah sahabat Anas memanggil kembali Nabi dengan Al-Walid hanya karena nabi memanggilnya dengan ya bunayya (hai anakku).

      Ini saya kira hanyalah pendapat yang dikarang-karang belaka. Tidak ada kebenaran di dalamnya.

      Bahkan kalau mau bicara sisi derajat hadits, maka hadits Anas di atas adalah hadits yang dihukumi dhaif oleh Syaikh Albani. Silahkan lihat Sunan Tirmidzi: yang dita’liq dan ditahqiq oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dan MUhammad Fuad Abdul Baqi, bab: Ma Ja’a fit Taslim idza Dakhala.

      Kesimpulan:

      1. Jawaban dari pertanyaan di atas bila ditimbang dengan AL-Quran dan Hadits maka jawaban tersebut adalah keliru dan sangat lemah serta tidak bisa dijadikan hujjah, karena di sana ada banyak pembenaran-pembenaran yang dipaksa-paksakan yang mana itu semua tidak sesuai dengan fakta historis umat Islam di zaman Nabi.

      2. Bahkan yang anehnya lagi hadits-hadits lemah dipakai untuk meruntuhkan hujjah yang nyata dari Al-Quran dan Hadits yang shahih yang melarang penggunaan kata Al-Walid diitlaqkan kepada selain orang tua kandung dengan alasan apapun.

      Wallahu a’lam.

      Saran: Anda punya mata bukan, jadi sesekali waktu bukalah mata Anda dan rasakanlah bahwa mimpi indah Anda itu selama ini tidak nyata.

  2. Sebenarnya inilah musibah,…. saya bukan fanatikus Syaikh Rabii’. Akan tetapi bagi yang belajar bahasa Arab dan fiqh, tentu tahu bahwa lisan orang Arab dari semenjak jaman dahulu hingga sekarang sudah terbiasa menyebut orang yang tua atau ulama sebagai al-waalid. Dan ini tidak dimaksudkan sebagai penasaban. Ini dipakai sesuai dengan lisan mereka. Oleh karena itu, para ulama fiqh dan hadits pun telah membahasnya semisal Ibnu Shalah dan yang lainnya.

    Anyway, ini bukan masalah Syaikh Rabii’ atau Syaikh Fulaan.

    Saya sebenarnya ragu Anda telah membaca penjelasan ulama mengenai hal ini sebelumnya. Dan saya pun ragu bahwa Anda benar-benar paham bahasa Arab.

    http://www.saaid.net/Warathah/ALBarak/33.htm

    Seandainya pun ada ulama yang berpendapat lain, maka sangat bodoh jika pembahasan Anda fokus pada penyebutan firqah Luqmaniyyah kepada Asy-Syaikh Rabii’ hafidhahullah. Ini bukan perkara sentimen, tapi inshaaf. Jadi pembahasan Anda itu terlalu memaksakan. Dan bahkan, jawaban Anda di dalam komentar di atas sungguh sangat lucu bagi orang yang memahami duduk permasalahan persoalan.

    1. sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas komentar anda ini, semoga bisa jadi masukan yang berarti bagi saya. Amin

      Sebenarnya inilah musibah,…. saya bukan fanatikus Syaikh Rabii’. Akan tetapi bagi yang belajar bahasa Arab dan fiqh, tentu tahu bahwa lisan orang Arab dari semenjak jaman dahulu hingga sekarang sudah terbiasa menyebut orang yang tua atau ulama sebagai al-waalid. Dan ini tidak dimaksudkan sebagai penasaban. Ini dipakai sesuai dengan lisan mereka. Oleh karena itu, para ulama fiqh dan hadits pun telah membahasnya semisal Ibnu Shalah dan yang lainnya.

      Pagi-pagi mohon jangan berdusta dulu. Tenang… tarik napas dalam-dalam kemudian hembuskan. Lakukanlah itu berkali2 agar anda tenang dan darah anda kembali mengalir dengan tenang. lalu minumlah air putih, mohon untuk menjampinya dengan muawidzatain dulu agar anda mendapatkan faidah.

      Akhi, Lisan orang Arab (versi mana, arab itu luas, tidak sependek pengetahuan anda) yang mana yang Anda maksud? Mengada-ngada itu ngga baik apalagi bila sedang membahas ilmu!

      Di link web tersebut, jawabannya di sana mengatakan bahwa penggunaan kata Alwalid itu boleh dengan menyandarkan kondisi di masa Nabi Muhammad berdasarkan bacaan Ubay bin Ka’ab atas ayat 6 surat al-Ahzab.

      Menurut saya itu lelucon semata kalau ngga mau diaggap berdusta! karena ngga ada bukti historis hingga saat ini. Bahkan para penanya yang menyanggah penggunaan AL-Walid ini selalu bertitik tolak dari fakta ini yang sayangnya dalam menjawab pertanyaan seperti ini jawaban yang saya lihat sering ngelantur ke sana ke mari.

      Lucunya, anda membawa2 nama ibnu shalah untuk dijadikan hujjah untuk membantah dalil syar’i. lelucon apa lagi ini? dan tanpa malu anda mengucapkan itu tanpa membawa referensinya! Sungguh sebuah kehinaan atas ilmu.

      dan lebih aneh bin ngenesnya anda tiba-tiba menuduh saya tidak paham bahasa Arab, dan tidak membaca penjelasan ulama tanpa bukti yang kuat… sungguh tragis, itu seandainya anda adalah seorang ustadz, bila anda hanyalah thalibul ilmi biasa, mohon perhatikan sabda nabi berikut:

      عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَـا ؛ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ لَادَّعَى رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ ، وَلَكِنِ الْبَيِّنَةُ عَلَـى الْـمُدَّعِيْ ، وَالْيَمِيْنُ عَلَـى مَنْ أَنْكَرَ

      Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya (setiap) orang dipenuhi klaim (tuduhan) mereka, maka tentu akan ada orang-orang yang akan mengklaim (menuduh/menuntut) harta dan darah suatu kaum,namun barang bukti wajib bagi pendakwa (penuduh) dan sumpah wajib bagi orang yang tidak mengaku/terdakwa.” (bukhari)

      lalu anda menyodorkan link tersebut kepada saya…dan setelah saya baca, saya kira ada pengetahuan baru ternyata, hanya pengulangan yang lebih ringkas dari web islamweb, sungguh tragis sekali bagi yang seorang yang menuduh orang lain tidak paham bahasa arab, namun ketika berhujjah ia tidak paham arah pembahasan dengan menggunakan bahasa arab!

      dan diluar itu ada yang lebih sangat mengerikan dari itu semua yaitu sebuah bacaan ayat yang dikutip dari bacaan ubay bin Ka’ab yang dijadikan sebagai hujjah:

      النبي أولى بالمؤمنين من أنفسهم وأزواجه أمهاتهم وهو أبٌ لهم” [الأحزاب: 6]

      maka saya katakan, ini sangat menggelikan! Bacaan ini bagaimana bisa mengalahkan ayat yang sudah tegas berikut ini.

      مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

      Muhammad bukanlah bapak dari laki-laki di antara kalian tapi ia adalah Rasulullah…

      Kalau si Syeikh tsb atau anda sebagai pengekornya menjadikan bacaan Ubaid sebagai hujjah maka itu artinya Al-Quran kita adalah kitab yang kontradiktif.

      Bagaimana bisa satu sisi ia menyebut nabi adalah bapak orang-orang beriman (versi bacaan Ubai) dan satu sisi ia menolak bila nabi dianggap sebagai bapak laki-laki beriman (versi Al-Quran sekarang), mohon jangan melempar kebodohan baru di sini! Karena tidak ada orang bodoh di sini yang bisa anda tipu.

      Ini yang pertama dan yang kedua adalah:bacaan Ubai bin Ka’ab yang dijadikan hujjah ini.

      لنبي أولى بالمؤمنين من أنفسهم وأزواجه أمهاتهم وهو أبٌ لهم” [الأحزاب: 6]

      sebenarnya sama sekali ngga ada korelasinya dengan al-walid yang kita bahas ini, bahkan kalau mau kita dudukkan kembali pada persoalan yang sebenarnya. bacaan ini hanya dibahas para mufassir ketika mendukung/menjelaskan ucapan nabi luth yang mengatakan:

      هؤلاء بناتي

      wanita-wanita ini semua adalah anak-anakku… (hud: 78)

      Di sini menjadi sebuah keheranan kala nabi luth menyebut para wanita kampung yang bukan anaknya menjadi anaknya. Lalu dibenarkanlah penyebutan ini oleh para mufassir dengan menyandarkan bacaan Ubai bin Ka’ab di atas. Bahkan Said bin Jubair sampai-sampai mengatakan sebagaimana yang disebutkan oleh banyak tafsir:

      إِنَّمَا دَعَاهُمْ إِلَى نِسَائِهِمْ قَالَ: وَكُلُّ نَبِيٍّ هُوَ أَبُو أُمَّتِهِ

      mereka disebut demikian karena setiap nabi maka ia adalah bapak umatnya.

      Mujahid juga berkata:

      : «لَمْ يَكُنَّ بَنَاتَهُ، وَلَكِنْ كُنَّ مِنْ أُمَّتِهِ وَكُلُّ نَبِيٍّ أَبُو أُمَّتِهِ»

      Mereka itu bukan anaknya , akan tetapi warganya, dan setiap nabi adalah bapak umatnya. Lihat tafsir ibnu abi hatim.

      Intinya penjelasan mereka rata2 bersumber dari versi bacaan Ubay.

      Dengan begitu dari informasi2 ini dapat kita katakan bahwa karena para nabi adalah bapak umatnya maka tidaklah salah kalau luth memanggil warganya yang perempuan dengan “anak-anakku.”

      Nah sekrang kita sampai pada pangkal permasalahannya: Apakah benar hanya karena Luth memanggil warganya dengan anak-anakku maka dengan serta merta mereka boleh memanggilnya dengan “walid?” kalau iya mana buktinya? tolong jangan kabur dan mengalihkan pembicaraan baru di sini!

      Sebenarnya hal ini juga sudah saya bahas di atas dalam menanggapi jawaban dari islamweb, mengenai hujjahnya dengan hadits Anas:

      saya sudah katakan di atas:

      Dan yang terakhir,

      وأما أن السلف لم يستعملوا هذا في حق العالم الكبير، فدعوى غير صحيحة، بل ما زال المسلمون سلفاً وخلفاً ينادون كبير السن بالوالد والأب، وينادون الصغير بالولد والابن، ولو لم تكن هناك بنوة حقيقية أو أبوة حقيقية، وفي الحديث الصحيح عن أنس قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: “يا بُنيِّ إذا دخلت على أهلك فسلم” رواه مسلم.
      وأما قوله: لو كان لأحد… فقد سبق جوابه في كلام ابن الصلاح رحمه الله والنووي.
      والله أعلم.

      Ini adalah pemaksaan yang ngawur, masa gara-gara Nabi memanggil “ya bunayya” kepada sahabat anas yang masih kecil lalu dengan serta merta dijadikan pembenaran bolehnya memanggil Walid kepada orang yang dituakan?

      Kalau memang benar begitu, harusnya semua anak laki-laki memanggil Nabi dengan Al-Walid, namun adakah fakta sejarah yang mengataka demikian?

      Nah pertanyaan saya kepada Anda di sini adalah: Tolong bawakan satu saja, ngga usah banyak-banyak, riwayat shahih yang menyebutkan adanya satu saja sahabat yang memanggil nabi dengan AL-Walid hanya karena nabi memanggilnya dengan “ya bunayya/hai anakku” dan tolong jangan kabur dan mengalihkan pembicaraan!

      Kalau anda orang jujur anda harus mempertanggung jawabkan klaim keyakinan anda ini, bila tidak atau tidak mampu maka anda hanyalah pembual hujjah saja.

      Bila ini tidak mampu anda tanggapi dengan baik dan benar maka… belajarlah lagi, karena saya juga masih sedang belajar. Itu yang kedua. dan yang ketiga adalah perkataan anda.

      Seandainya pun ada ulama yang berpendapat lain, maka sangat bodoh jika pembahasan Anda fokus pada penyebutan firqah Luqmaniyyah kepada Asy-Syaikh Rabii’ hafidhahullah. Ini bukan perkara sentimen, tapi inshaaf. Jadi pembahasan Anda itu terlalu memaksakan. Dan bahkan, jawaban Anda di dalam komentar di atas sungguh sangat lucu bagi orang yang memahami duduk permasalahan persoalan.

      mmm begini, ya ini cuma setahu saya, tapi boleh jadi saja anda lebih tahu. dalam Islam itu ada adab, bahwa ketika krtikan ditujukan pada satu orang tertentu maka itu mengandung tujuan kepada banyak orang tanpa harus menyebutkan yang semuanya. Misalnya dalam bab niat (innamal a’amalu binniyat), siapa yang dikritik di sana? cuma satu orang. Lalu apakah pelajaran/kritikan ini hanya buat dia seorang? sementara yang lain lepas dari kritikan tersebut?

      Saya di sini memang sengaja menyebut firqah lukmaniyah karena merekalah yang paling sering mengobral penggunaan kata Al-Walid di negeri ini, meski di sana terdapat juga kalangan penuntut ilmu di luar firqah Lukmaniyah yang memanggil ulama mereka dengan Al-Walid. Seperti anak-anak Dammaj yang memanggil Syaikh Yahya dengan Al-walid atau Syaikh Yahya sendiri yang memanggil Syaikh Rabi dengan Al-Walid. dll

      Intinya kritikan saya memang tertuju pada satu orang/kelompok tapi ditujukan kepada banyak orang. Semoga bisa diambil faidah.

      Koment anda yang lain kalau ada waktu baru akan saya tanggapi.

      terakhir ada yang sempat saya lupa, ada kengawuran yang hampir sama dari si Syeikh teresebut, kalau di Islam web saya katakan:

      Ini adalah pemaksaan yang ngawur, masa gara-gara Nabi memanggil “ya bunayya” kepada sahabat anas yang masih kecil lalu dengan serta merta dijadikan pembenaran bolehnya memanggil Walid kepada orang yang dituakan?

      Kalau memang benar begitu, harusnya semua anak laki-laki memanggil Nabi dengan Al-Walid, namun adakah fakta sejarah yang mengataka demikian?

      maka si Syeikh tersebut berkata:

      ولقد قال –صلى الله عليه وسلم-:”إنما أنا لكم بمنزلة الوالد” أبو داود (8) وهو فوق ذلك –صلى الله عليه وسلم- فحقه على أمته أعظم من حق الوالدين وجميع الناس كما قال –صلى الله عليه وسلم-:”لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين” البخاري (14)، ومسلم (44) والله أعلم.

      Apakah ada hubungannya antara mencintai Nabi dengan memanggil beliau dengan walid hanya karena mencintai beliau harus didahulukan dibandingkan orang tua?

      Apakah orang yang mencitai orang lain harus memanggilnya dengan walid? Demikiankah ajaran Islam?

      “Hanya orang berakallah yang bisa mengambil pelajaran”

      N/B: Kalau anda tidak bisa menanggapi yang ini dulu saya kira bantahan Anda selanjutnya tersebut hanyalah bantahan oplosan semata.

      Wallahu a’lam.

  3. Dam maaf, Anda itu sebenarnya ngerti ilmu hadits nggak si ?. Maaf sekali lagi, ulasan Anda tentang hadits menyedihkan. Sejak kapan ‘an’anah Abu Shaalih Dzakwaan dari Abu Hurairah itu ditolak mas ?. Sebutkan satu ulama saja !!. Abu Shaalih seorang tsiqah dan bukan seorang mudallis, sehingga ‘an’anahnya hukumnya diterima. Dan silakan bukan kitab Tahdziibul-Kamaal,… riwayat Dzakwaan dari Abu Hurairah itu dipakai oleh Al-Bukhaariy dan Muslim.

    Dan lain-lain…… Banyak sekali komentar Anda yang terlalu memaksakan diri.

    Takutlah kepada Allah. Seandainya Anda ingin mengkritik Syaikh Rabii’ atau siapapun manusia yang masih hidup di dunia ini, silakan. Tapi tolong, memakai ilmu.

  4. بسم الله الرحمن الرحيم …
    عندي إشكالات:
    1- كيف جزمت أن أبا صالح السمان لم يسمع من أبي هريرة وأبو هريرة معدود من مشايخه في ترجمته في كتب التراجم كالأسامي والكنى؟
    2- ما وجه تعارض ذاك الحديث بالآية التي من سورة الأحزاب؟ وما وجه كونه ضعيفا عندك؟
    3- حديث أنس رضي الله عنه ضعفه الشيخ الألباني في ضعيف الجامع (رقم الحديث 6389) ثم حسنه في صحيح الترغيب والترهيب (رقم الحديث 1608) والآخر متأخر.
    أفدني جزاك الله خيرا.

    1.  عزيزي الأخ عبد الله بن عبد المنان، إني أراك اندونسيا لومبوكيا إرشاديا فلماذا لا تحرك لسانك هنا، ألم يأتك هذان أثران:

      َقَالَ عَلِيٌّ في صحيح البخاري حَدِّثُوا النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ

      و قال عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ هِشَامٍ فى شرح مشكل الآثار: … الْقُرْآن نزل بلسان الْعَرَبِ، فَخُوطِبُوا بِمَا يَعْرِفُونَ …

      فأقول : هذه المدونة قد نزلت بلسان الإندونسيا فماذا يمنعك أن تخطبوا الناس به ؟(?napi pelungguh jogang) ننتظر الحواب

      طيب نرجع إلى إشكالات

      بسم الله الرحمن الرحيم …
      عندي إشكالات:
      1- كيف جزمت أن أبا صالح السمان لم يسمع من أبي هريرة وأبو هريرة معدود من مشايخه في ترجمته في كتب التراجم كالأسامي والكنى؟

      الجواب

      بما أنني لم أجد لفظا سماعيا من روايات أبي صالح عن أبي هريرة ك((أخبرني/حدثنى)). إذا وجدت واحدة من فضلك أحضرها لي ، لأني قد أكون مخطئا و أنت على صواب  بالطبع. ننتظرها من فضلكم

      2- ما وجه تعارض ذاك الحديث بالآية التي من سورة الأحزاب؟ وما وجه كونه ضعيفا عندك؟

      لأن هذه الآية تنفي اعتراف الجمبع بأن النبي كان والد/أبو زيد أو والد/أبو الرجال، لاحظ التوضيح التالية

      فال الطبري في تفسيره: قول تعالى ذكره: ما كان أيها الناس محمد أبا زيد بن حارثة، ولا أبا أحد من رجالكم الذين لم يلده محمد؛ فيحرم عليه نكاح زوجته بعد فراقه إياها، ولكنه رسول الله وخاتم النبيين، الذي ختم النبوة فطبع عليها، فلا تفتح لأحد بعده إلى قيام الساعة، وكان الله بكل شيء من أعمالكم ومقالكم وغير ذلك ذا علم لا يخفى عليه شيء.

       بمعنى أن إطلاق لفط أب على نبيا محمد بسبب تتبنيه لزيد أ واحتراما وإكراما له غير يجوز. هذا من جهة

      و أما من ناحية أخرى دعوة النبي إلى أنس ب ((يا بني)) ليس معناه جائز له أن يلبيه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ب ((والدي)) لأننا لا نرى أحد الصحابة يلبيه و يناديه ويلقبه ب ((الأب)) أو ((الوالد)) أو التابيعين ألى الصحابة يلبونهم  ب ((الأب)) أو ((الوالد)) في صحف الأحاديث،. إذا وجدت واحدة من فضلك أحضرها لي ، لأني قد أكون مخطئا و أنت على صواب  بالطبع. ننتظرها من فضلكم

      أما الحديث المكتوب ضعيفا لشيخ الألباني قد ذكرته وإن سألتنى سبب ضعيفه فأقول أن أحد الرواة

      المسمىب((عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ)) قال عنه العلماء:

      ابن جدعان ، الإمام العالم الكبير أبو الحسن القرشي ، التيمي البصري الأعمى . ولد أظن في دولة يزيد ، وحدثعن أنس بن مالك ، وسعيد بن المسيب ، وأبي عثمان النهدي ، وعروة بن الزبير ، وأبي قلابة ، والحسن ، والقاسم بن محمد وعدة . حدث عنه شعبة ، وسفيان ، وحماد بن سلمة ، وعبد الوارث ، وحماد بن زيد ، وسفيان بن عيينة ، وإسماعيل ابن علية ، وشريك وعدة .

      ولد أعمى كقتادة ، وكان من أوعية العلم على تشيع قليل فيه ، وسوء حفظ يغضه من درجة الإتقان .

      قال أبو زرعه وأبو حاتم : ليس بقوي ، وقال البخاري وغيره : لا يحتج به ، وقال ابن خزيمة : لا أحتج به لسوء حفظه ، وقال الترمذي : صدوق ، وكان ابن عيينة يلينه ، وقال شعبة : حدثنا علي بن زيد -وكان رفاعا- وقال مرة : حدثنا قبل أن يختلط .

      وقال حماد بن زيد : أنبأنا علي بن زيد : وكان يقلب الأحاديث ، وقال الفلاس : كان يحيى بن سعيد يتقيه ، وقال أحمد بن حنبل : ضعيف ، وروى عباس عن يحيى : ليس بشيء ، ومرة قال : هو أحب إلي من ابن عقيل ، وعاصم بن عبيد الله .

      وروى عثمان الدارمي عن يحيى : ليس بذاك القوي ، وقال العجلي : كان يتشيع ، ليس بالقوي .

      وقال الفسوي : اختلط في كبره ، وقال الدارقطني : لا يزال عندي فيه لين .

      قلت : قد استوفيت أخباره في “الميزان” وغيره ، وله عجائب ومناكير ، لكنه واسع العلم ، قال منصور بن زاذان : لما مات الحسن ، قلنا لعلي بن زيد : اجلس مكانه ، وقال الجريري : أصبح فقهاء البصرة عميانا : قتادة وابن جدعان ، وأشعث الحداني . مات علي سنة إحدي وثلاثين ومائة .

       المرجع هنا

      وأنبحك هنا بأننى لست من علماء الحديث ومحلا مكانتهم وما ضعفت هذا الحديث و راوه عَلِيِّا بْنِ زَيْدٍ  و لكن قد ضعفه العلماء  وإنما أنا مقطرح فقط

      3- حديث أنس رضي الله عنه ضعفه الشيخ الألباني في ضعيف الجامع (رقم الحديث 6389) ثم حسنه في صحيح الترغيب والترهيب (رقم الحديث 1608) والآخر متأخر.
      أفدني جزاك الله خيرا.

      فكرة جميلة و لكن السؤال الخطير هنا لماذا حسن شيخ الباني الحديث ب ” “حسن لغيره ” في صحيح الترغيب والترهيب بلا الشواهد ؟

      حتى لو نقبل هذا الحديث بحسنه فهل كان مبطلا لقول تعالى:  مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ

      بسبب رأيكم أن حديث أنسا يكون دليلا لإطلاق لفظ ((أب)) على نبينا محمد؟ والسؤال التالى هل غلب حديث حسن لغيره على أية القرآن؟ ننتظر الحواب

      لعل هذا يفيدكم وأنا أتأسف جدا إن لم أقنعك لأنى لست عالما أو العرب الذي أفصح نطق بالضاض إن وجدت اللغو و الخطأ في كلامى

      والله أعلم

  5. ya ya setiap permasalahan mari kita kaji dg ilmiah,jngn ada kepentingan2 lain,apalg hnya kr qt tidak suka dg golongan fulan, kmd kita hilangkan sifat inshoof dan ilmiah

  6. Blog ini tak jauh beda dengan tukpemakansayuran. Ngawur VS Ngawur . Masa penggunaan al-waliid dikatakan ghuluw dalam agama…

      1. Bapak Ustadz Admin, saya akui saya bodoh Pak…Hanya saja, saya mau tanya sama anda yg memang lebih pinter dari saya.. Pertanyaannya sbg berikut :
        1. Pinter mana anda dengan Syaikh Sholih Fauzan Hafizhahullah ? Klo Syaikh Sholih Fauzan ketika disebut atau dipanggil dengan tambahan al-walid oleh muridnya dalam suratnya, beliau sama sekali tidak ada pengingkaran. Kalau seandainya memanggil al-walid adalah ghuluw dalam beragama sebagaimana klaim anda diartikel diatas.. Maka Syaikh Sholih Fauzaan adalah orang yang pertama tidak ridlo dengan panggilan al-walid tersebut dan akan menegur dengan keras murid yang memanggil beliau dengan al-walid.. Namun kenyataannya ? Sama sekali beliau menganggap itu bukanlah ghuluw dalam beragama. Sependek pengetahuan saya, adat orang arab adalah biasa memanggil al-walid kepada seorang yang menjadi gurunya.

        Sedikit masukan dari ane yang bodoh ini,
        Jangan segan-segan mengakui kesalahan kalo memang ternyata salah, dan rujuklah kepada kebenaran klo memang antum mencintai kebenaran. Jangan gengsi.. Baarakallahu fiikum..

      2. yang bilang saya lebih pintar dari anda/syaikh shalih fauzan adalah anda sendiri, kalau ungkapan itu ditujukan untuk merendahkan maka anda hanya merendahkan diri anda sendiri😛 kalau memang ditujukan untuk menyanjung maka saya katakan segala puji hanya untuk Allah dan saya bukan yang pantas dipuji.🙄

        Ada ayat dalam Al-Quran yang bunyinya:

        إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

        “Sesungguhnya Allah itu Maha mengetahui segala sesuatu” (Nisa: 32)

        Artinya manusia itu tidak tahu segala hal, maka dibuatlah perselisihan oleh Allah

        وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلَّا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا
        Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. (Yunus: 10)

        agar mereka semua mau merujuk kepada Allah sebab,

        الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

        “Sesungguhnya kebenaran itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak percaya.” (Hud: 17)

        dan anda bisa melihat dengan mata kepada Anda sendiri, dimana saat mereka semua berlomba-lomba memanggil Alim mereka dengan Al-Walid (Bapak/Ayah) dengan merujuk kepada Rasulullah maka apa kata Allah:

        مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ

        Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak/ayah dari seorang laki-laki di antara kamu (Ahzab: 40)

        Dan memang seperti itulah kenyataannya sebagaimana yang digambarkan oleh Allah.

        الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

        “Sesungguhnya kebenaran itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak percaya.” (Hud: 17)

        wallahu a’lam.

    1. oh ya?
      pertama saya hanya mau diskusi dengan orang yang cakap dalam berdiskusi. Saya kira bukan saya saja, semua orang tentu menghendakinya. anda mau ngga diskusi dengan orang yang tidak bisa mempertanggung jawabkan klaim2nya atas setiap pendapat yang ia lontarkan? Saya kira anda akan capek, karena ia akan selalu mengajak anda berlarian kesana kemari. Oleh karena itu kita perlu melihat kemampuan orang dulu agar ngga buang2 energi.

      1. pertama saya hanya mau diskusi dengan orang yang cakap dalam berdiskusi. Saya kira bukan saya saja, semua orang tentu menghendakinya.
        ============================

        Kalau anda merasa cakap dalam berdiskusi, kenapa anda tidak mengindahkan pertanyaan Ust Doni ini
        ” Sejak kapan ‘an’anah Abu Shaalih Dzakwaan dari Abu Hurairah itu ditolak mas ?. Sebutkan satu ulama saja !!. Abu Shaalih seorang tsiqah dan bukan seorang mudallis, sehingga ‘an’anahnya hukumnya diterima. Dan silakan bukan kitab Tahdziibul-Kamaal,… riwayat Dzakwaan dari Abu Hurairah itu dipakai oleh Al-Bukhaariy dan Muslim.’
        =============================

        Merupakan suatu aib bagi thulabul ilmi ketika sudah melempar suatu pernyataan lantas ditanya sembunya di balik topeng….

        Takutlah kepada Allah. Seandainya Anda ingin mengkritik Syaikh Rabii’ atau siapapun manusia yang masih hidup di dunia ini, silakan. Tapi tolong, memakai ilmu.

  7. terlepas dari pertanyaan akhi doni mau yang tidak mau ust jawab maka anggap saja saya yang nanya:

    Dam maaf, Anda itu sebenarnya ngerti ilmu hadits nggak si ?. Maaf sekali lagi, ulasan Anda tentang hadits menyedihkan. Sejak kapan ‘an’anah Abu Shaalih Dzakwaan dari Abu Hurairah itu ditolak mas ?. Sebutkan satu ulama saja !!. Abu Shaalih seorang tsiqah dan bukan seorang mudallis, sehingga ‘an’anahnya hukumnya diterima. Dan silakan bukan kitab Tahdziibul-Kamaal,… riwayat Dzakwaan dari Abu Hurairah itu dipakai oleh Al-Bukhaariy dan Muslim.

    Dan lain-lain…… Banyak sekali komentar Anda yang terlalu memaksakan diri.

    Takutlah kepada Allah. Seandainya Anda ingin mengkritik Syaikh Rabii’ atau siapapun manusia yang masih hidup di dunia ini, silakan. Tapi tolong, memakai ilmu.

    tolong dijawab, saya orang awam loh, butuh banyak bimbingan.

    1. Ini tanggapan saya

      ucapannya:

      Dam maaf, Anda itu sebenarnya ngerti ilmu hadits nggak si ?. Maaf sekali lagi, ulasan Anda tentang hadits menyedihkan. Sejak kapan ‘an’anah Abu Shaalih Dzakwaan dari Abu Hurairah itu ditolak mas ?. Sebutkan satu ulama saja !!. Abu Shaalih seorang tsiqah dan bukan seorang mudallis, sehingga ‘an’anahnya hukumnya diterima.

      Dan silakan bukan kitab Tahdziibul-Kamaal,… riwayat Dzakwaan dari Abu Hurairah itu dipakai oleh Al-Bukhaariy dan Muslim.

      Jawaban saya atas “jarkhggghhh wa tahdzirrrkkhhggg” orang ini adalah: orang ini belajar ilmu hadis tidak secara linear historikal tapi secara random. Itu saja. :lol:

      ucapannya:

      Dan lain-lain…… Banyak sekali komentar Anda yang terlalu memaksakan diri.

      Ini dari sudut pandangnya pribadi. sebuah syair Mutanabi berikut semoga mengeyangkannya:

      وكم من عائبٍ قولاً صحيحاً وآفتهُ من الفهم السقيمِ
      “Betapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar
      Tetapi kerusakan (yang sebenarnya) ada pada pemahaman yang sakit.”

      ucapannya:

      Takutlah kepada Allah. Seandainya Anda ingin mengkritik Syaikh Rabii’ atau siapapun manusia yang masih hidup di dunia ini, silakan. Tapi tolong, memakai ilmu.

      Inilah contoh betapa sakitnya pemahamannya. Trit ini sama sekali tidak dalam konteks membantah Syaikh Rabi, tapi membantah firqah Lukmaniyah dan firqah yang semisalnya yang memuja-muja Syaikh Rabi kenapa jadi nama Syaikh Rabi dibawa-dibawa seakan2 saya sedang aka membantah Syaikh Rabi? Cukuplah ini sebagai bukti bahwa orang ini belum “yablugh asyuddahu” sehingga tidak bisa bersikap “mumayyiz” Sekian dari saya. Was

  8. @Dony
    Dimana dirimu berada, silahkan ditanggapi sanggahan dan pertanyaan dari ust admin? Jangan lari agar kami ngga bingung.

      1. menurut ane yang awam, atu-atu dulu deh, doni bagusnya menjawab dulu pertanyaan syaikh admin, nah nanti kita lihat syaikh ini apakah janjinya akan ditepati ato tidak? sebab kalo maen bablas-bablasan kayak lempar pasir, belum selesai satu udah muncul yang lain seperti yg terjadi antara ust firanda dan Zulqarnaen ane rasa itu bakal menurunkan kualitas diskusi menjadi hambar. jadi ente tolong ajak kembali ust ente itu untuk menjawab pertanyaan admin blog ini, biar kita-kita enak ngikutinnya.

  9. ابتداءا جزاك الله خيرا على الفوائد,
    ثانيا أقول: أما بالنسبة إلى اعتراضك على استعمالي اللغة العربية فأقول: ما المانع من ذلك ونحن طلبة العلم؟ ألا يحسن أن نتكلم بيننا باللغة التي أنزل بها القرآن؟ أما أثر علي بن أبي طالب رضي الله عنه ففهمت منه أن معناه: لا تحدثوا الناس بحديث فوق مستواهم …
    ثم أخي الكريم, إني اقترحت عليك إشكالاتي للاستفادة لا للمجادلة … لأني أريد أن أدرس هذه القضية أيضا … فأريد أن أنظر في حججك, بارك الله فيك …
    – بالنسبة إلى رواية ذكوان السمان عن أبي هريرة رضي الله عنه, إنك نفيت سماعه عنه لعنعنته, أظن لا يخفى لطالب العلم مثلك أن الجمهور رأوا صحة عنعة رواة مسمين معروفين إذا أمن تدليسهم, وذكوان منهم. كما ذكر ذلك العراقي في ألفيته وقرره السخاوي في فتح المغيث في مسألة العنعنة.
    هذا أولا, مما يؤيد سماع أبي صالح عن أبي هريرة ما في الصحيح, قال البخاري: حدثنا عمر بن حفص حدثني أبي حدثنا الأعمش حدثنا أبو صالح قال حدثني أبو هريرة رضي الله عنه … الحديث, وهو أول حديث في باب وجوب النفقة على الأهل والعيال.
    – بالنسبة إلى الحديث المعل بسبب علي بن زيد, أتساءل: أي الحديث تعني؟ وسؤالي يتعلق بحديث أبي هريرة رضي الله عنه الذي أعللته بأمرين: عنعنة أبي صالح وتعارضه القرآن.
    أخيرا, أريد أن أنبه هنا مرة ثانية: موضوعي معك يا أخي الكريم في هذه النقط التي أشكلت علي … على كل حال جزاك الله خيرا على إفاداتك …

    1. في البداية السابقة لقد جرت المُكَالَمة الفكرية العربية عبر ألسنتنا وحاورتك بها لتكريمك ضيفا من المملكة العربية السعودية من خلال هذا المسار الظاهري معتقدا أنك رجل سعودي المتكلم الإندونسية ولكنني كنت مُخْطِئا لأنك اهل القرية المسقر هناك.

      حيث أن هذه المدونة غير مبنية لغير الناطقين بالإندونسية فأرى أن المحاورة العقلية العربية هنا  ليست بسديد لذا يلزمك تطبيق لسانك الأصل ناجيا من لا ينطق بها لأن قُرَّاء المدونه الإندونسيين أكثرهم لا يفهمون كلامك وأرجوك مرضيا باتحاهي هذاـ نواصل حوارنا:

      Mengenai atsar ali tsb saya kira kita berbeda pandang, apa yang anda pahami saya kira merujuk pada hadis : خاطب الناس على قدر عقولهم , yang artinya (menurut saya), jangan terlalu banyak membuat perumpamaan kata/kosakata yang jarang digunakan/tidak pada tempatnya yang membuat orang awam bingung. Sementara yang saya pahami atsar tersebut adalah pembaca di sini kebanyakan hanya tahu bahasa indonesia, oleh karena itu berbicaralah dengan bahasa yang banyak dimengerti oleh orang yang berbahasa Indonesia.

      Saya tidak menganggap ini debat, ini adalah diskusi sehat insya Allah. Bahkan tegas saya katakan kepada anda:

       لأني قد أكون مخطئا و أنت على صواب  بالطبع.

      Artinya mari kita jadikan ini sebagai ajang pengalaman surat Al-Ashr. Baik sekarang kita akan mulai melanjutkan pembicaraan ini.

      Pertama: saya memang meragukan an’anah Abu Shalih dari Abu Hurairah versi riwayat Abu Dawud :

      حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ النُّفَيْلِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ، عَنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ، أُعَلِّمُكُمْ فَإِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الْغَائِطَ فَلَا يَسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ، وَلَا يَسْتَدْبِرْهَا وَلَا يَسْتَطِبْ بِيَمِينِهِ، وَكَانَ يَأْمُرُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ، وَيَنْهَى عَنِ الرَّوْثِ وَالرِّمَّةِ»

      karena tidak ada lafal sima’ darinya, lalu hal ini anda bantah dengan menyodorkan bukti adanya lafal sima’nya yang ada pada hadits bukhari berikut ini.

      حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ مَا تَرَكَ غِنًى، وَاليَدُ العُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ» تَقُولُ المَرْأَةُ: إِمَّا أَنْ تُطْعِمَنِي، وَإِمَّا أَنْ تُطَلِّقَنِي، وَيَقُولُ العَبْدُ: أَطْعِمْنِي وَاسْتَعْمِلْنِي، وَيَقُولُ الِابْنُ: أَطْعِمْنِي، إِلَى مَنْ تَدَعُنِي “، فَقَالُوا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، سَمِعْتَ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: «لاَ، هَذَا مِنْ كِيسِ أَبِي هُرَيْرَةَ»

      Sebenarnya, saya kira bukan hanya hadits anda bawa ini saja yang terdapat lafal sima’ Abu Shalih dari Abu Hurairah dalam shahih bukhari, sebab masih ada beberapa lagi dalam shahih bukhari. Seperti hadits berikut ini:

      حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَاحِدِ، قَالَ: حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا صَالِحٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي الجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ، وَفِي سُوقِهِ، خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا، وَذَلِكَ أَنَّهُ: إِذَا تَوَضَّأَ، فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى المَسْجِدِ، لاَ يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلاَةُ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً، إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، فَإِذَا صَلَّى، لَمْ تَزَلِ المَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ، مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، وَلاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ “

      Intinya adalah telah jelas di hadapan kita bahwa terdapat riwayat shahih yang menunjukkan bahwa Abu Shalih memang bertalaqqi kepada Abu Hurairah, namun permasalahannya di sini adalah saya sudah terlanjur menafikan bahwa Abu Shalih tidak bertalaqqi kepada Abu Hurairah dalam riwayat Abu Dawud di atas? Inilah yang saya kira menjadi pokok permasalahan serius yang diributkan di sini?

      Apa yang saya sampaikan ini memang bisa dibilang tidak lazim, aneh bin ganjil, bahkan akan membuat orang yang tidak sabar dalam kajian ini akan mengerutkan dahi dan meledak-ledak akal sehatnya sehingga yang keluar darinya hanyalah emosi negatif, mudah menuduh dan mentakhzierr, katanya:

      Pertama:

      Sebenarnya inilah musibah,…. saya bukan fanatikus Syaikh Rabii’. Akan tetapi bagi yang belajar bahasa Arab dan fiqh, tentu tahu bahwa lisan orang Arab dari semenjak jaman dahulu hingga sekarang sudah terbiasa menyebut orang yang tua atau ulama sebagai al-waalid. Dan ini tidak dimaksudkan sebagai penasaban. Ini dipakai sesuai dengan lisan mereka. Oleh karena itu, para ulama fiqh dan hadits pun telah membahasnya semisal Ibnu Shalah dan yang lainnya.

      Anyway, ini bukan masalah Syaikh Rabii’ atau Syaikh Fulaan.

      Saya sebenarnya ragu Anda telah membaca penjelasan ulama mengenai hal ini sebelumnya. Dan saya pun ragu bahwa Anda benar-benar paham bahasa Arab.

      http://www.saaid.net/Warathah/ALBarak/33.htm

      Seandainya pun ada ulama yang berpendapat lain, maka sangat bodoh jika pembahasan Anda fokus pada penyebutan firqah Luqmaniyyah kepada Asy-Syaikh Rabii’ hafidhahullah. Ini bukan perkara sentimen, tapi inshaaf. Jadi pembahasan Anda itu terlalu memaksakan. Dan bahkan, jawaban Anda di dalam komentar di atas sungguh sangat lucu bagi orang yang memahami duduk permasalahan persoalan.

      Kedua:

      Anda itu sebenarnya ngerti ilmu hadits nggak si ?. Maaf sekali lagi, ulasan Anda tentang hadits menyedihkan. Sejak kapan ‘an’anah Abu Shaalih Dzakwaan dari Abu Hurairah itu ditolak mas ?. Sebutkan satu ulama saja !!. Abu Shaalih seorang tsiqah dan bukan seorang mudallis, sehingga ‘an’anahnya hukumnya diterima. Dan silakan bukan kitab Tahdziibul-Kamaal,… riwayat Dzakwaan dari Abu Hurairah itu dipakai oleh Al-Bukhaariy dan Muslim.

      Yang datang dari Al-Muhaddigjkh Al-Allaomacckh Asy-Syeiieekhkhkhhh Abuljauza bin blogspot.com. Masukannya memang begitu sangat berharga bagi saya dan saya ucapkan terima kasih atas takhcdzierannnya dan jarhkhhhnya, hanya saja saya lihat ia bukanlah orang mau bertanggung jawab dengan diskusi/hiwar yang sudah ia lempar kepada lawannya.

      Yang pertama saya sudah tanggapi, namun yang kedua sengaja tidak saya tanggapi karena saya ingin melihat orang ini bisa diskusi atau tidak agar saya tidak buang-buang energi sebab diskusi tentang hal ini akan panjang. Jadi perlu kesiapan terlebih dahulu. Sambil menunggu bantahannya atas sanggahan saya yang pertama kita lupakan Al-Muhaddigjkh tadi, dan tentu saya yang tak boleh dilupakan yaitu mengukur kedalaman bantahananya, bila dangkal maka saya ngga mau nyelam, percuma.

      Dalam kajian saya (ini hanya pendapat saya pribadi), sejauh yang saya temukan, jalan Abu Shalih dari Abu Hurairah sebenarnya tidaklah pernah terjadi dengan lafal sima antara mereka’… “lho kok?”, padahal di Shahih Bukhari telah jelas dan terang benderang akan khabar tersebut?

      Saya jawab: Di masa-masa awal periwayatan hadis Abu Shalih dari Abu Hurairah yang tercatat pada tahun seratusan hijriah sebelum kemunculan Bukhari dengan shahihnya dan berbagai hadits yang ia himpun hingga para perawi setelahnya yang membukukan hadits, tidak pernah dijumpai adanya lafal sima’ Abu Shalih dari Abu Hurairah.

      Silahkan Anda melihat dan meneliti kembali jalur-jalur sanad (thariq) hadits, mulai dari Era Musnad Abu Hanifah yang berdekatan masanya dengan Abu Shalih hingga Era Ahmad bin Hanbal yang berdekatan dengan masa Al-Bukhari. Bahkan mereka-mereka yang meriwayatkan dari A’masy dan yang sezaman dengannya tidak pernah menjumpai riwayatnya yang menyatakan bahwa Abu Shalih mendengar dari Abu Hurairah.

      Baru setelah berlalu zaman Imam Ahmadlah tiba-tiba bermuculanlah para perawi tsiqat yang menyatakan bahwa Abu Shalih mendengar dari Abu Hurairah (dengan penggunaan lafal sima’) dengan berpedoman pada jalan A’masy dan/atau rawi-rawi yang sezaman dengannya.

      Tentu saja ini adalah perkara yang sangat ajaib dan mengherankan bagi yang mau memperhatikannya serta bagi mereka yang mau berpikir dan mengkaji masalah ini secara serius!

      Kedua: Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah an’anah Abu Shalih dari Abu Hurairah itu diterima?

      Menarik untuk kita dengarkan penjelasan seorang DR asal Mesir yang bernama Muhammad Hasan Abdul Ghafar (Murid Abu Ishaq Al-Huwaini dalam bidang Hadits):

       إن المدلس إذا أتى بصيغة توهم السماع كأن يأتي بالعنعنة فلا نقبل حديثه، وإذا أتى بصيغة التصريح فيقبل حديثه؛ لأنه غير مجروح العدالة، وهذا القول من القوة بمكان، فإذا كان معنا إسناد فيه مدلس أتى بصيغة العنعنة مثل: الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة، فنقول: إن هذا الإسناد ضعيف، والعلة في ذلك أن فيه إيهاماً يوجب لنا الانقطاع، أي: أن ضعف الحديث علته ليست العدالة والضبط، فإن العدالة والضبط متوافرتان، وإنما العلة هي إيهام بانقطاع، فإذا زال هذا الإيهام بأن صرح الراوي بالتحديث، فتكون الشروط قد توافرت، ويكون الإسناد صحيحاً، .

      Sesungguhnya seorang mudallis jika ia membawa ucapan yang bernada seakan-akan ia mendengar seperti dengan cara an’anah (dari si Fulan-pent) maka tidalah diterima hadisnya.

      Namun jika ia membawa ucapan dalam bentuk yang jelas (seperti saya mendengar, berbicara kepada kami-pent) maka hadisnya diterima, karena keadilannya yang tak tercela. Pendapat ini termasuk yang kuat pada satu tempat.

      Maka makna isnad yang di dalamnya terdapat seorang mudallis yang membawa ucapan an’anah seperti: A’masy dari  Abu Shalih dari Abu Hurairah maka kita katakan: Sesungguhnya sanad hadis ini lemah/dhaif.

      Ilatnya adalah adanya waham yang harus kita putuskan (mata rantai sanadnya-pent). Maksudnya adalah: Dhaifnya hadis ini, yakni ilatnya tidaklah terletak pada keadilan dan sifat dabt/ketelitian perawinya, karena keadilan dan dabt dua hal yang berlimpah.

      Dan ilatnya sesungguhnya terjadi hanya karena adanya waham (ucapan seakan2 ia mendengarnya-pent) yang ternyata terputus, jika memang waham ini benar-benar sesuatu yang dinyatakan fakta oleh perawi (seperti mengabarkan padaku-pent) dan syarat-syaratnya terpenuhi maka barulah sanadnya menjadi shahih.

      sumber: bahasan:   أقوال العلماء في تدليس الإسناد

      Tentu saja apa yang saya dibahas di sini mengarah kembali kepada pendapat awal saya mengenai an’anah Abu Shalih dari Abu Hurairah dalam hadis Abu Dawud tsb dan kepada para salaf sebelum kemunculan Bukhari dan yang sezaman dengannya dan yang setelahnya, jika anda punya pendapat yang lebih terang dan jelas dan benar mohon sampaikan di sini, bisa saja khan saya yang keliru dan salah.

      Tapi di luar itu semua, sebenarnya ini bukanlah point inti dari bahasan saya terhadap hadits Abu Dawud tsb yang dihasankan oleh Albani dan Tirmidzi dan dinyatakan shahih oleh sebagian salaf, sebab yang selalu saya.. dan yang selalu saya tanyakan tanyakan adalah:

      Ketika hadis Abu Dawud tersebut dianggap sebagai hujjah dan burhan maka mau dikemanakan ayat Al-Quran yang mengatakan bahwa “Muhammad itu bukanlah Bapak laki-laki di antara kalian!” sementara dalam hadis tersebut terdapat adanya keyakinan bahwa Nabi Muhammad adalah “seperti seorang ayah kepada para sahabatnya!” sehingga dengan serta merta menjadi legitimasi sebagian pihak yang merasa benar dengan pemanggilan Ayah/Al-Walid kepada orang yang berilmu sebagai penghormatana baginya. Kenapa pertanyaan ini tidak dijawab?

      Yang membuat saya terheran-heran dengan para dai-dai nyeleneh ini adalah: Masa demi membela pendapat golongannya ayat Al-Quran sampai dijual murah kemudian ditukar dengan hadits hasan? Manhaj macam mana ini?

      Seingat saya yang gemar melakukan perbuatan semacam ini hanyalah golongan ahlul kitab.

      Nah mengenai perawi Ali bin Zaid maka saat itu saya sedang membahas hadis riwayat Abu Dawud (maaf maksud saya Tirmidzi, saya keliru menulis) yang dijadikan hujjah Islamweb yang sedang Anda tanyakan,

      وأما أن السلف لم يستعملوا هذا في حق العالم الكبير، فدعوى غير صحيحة، بل ما زال المسلمون سلفاً وخلفاً ينادون كبير السن بالوالد والأب، وينادون الصغير بالولد والابن، ولو لم تكن هناك بنوة حقيقية أو أبوة حقيقية، وفي الحديث الصحيح عن أنس قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: “يا بُنيِّ إذا دخلت على أهلك فسلم” رواه مسلم.
      وأما قوله: لو كان لأحد… فقد سبق جوابه في كلام ابن الصلاح رحمه الله والنووي.
      والله أعلم.

      Yang mana hadits tersebut ternyata dhaif, karena adanya Ali bin Zaid. Dan sepertinya saya salah paham, saya pikir anda sedang menanyakan hal ini juga? Sebab anda sendiri telah mengatakan:

      3- حديث أنس رضي الله عنه ضعفه الشيخ الألباني في ضعيف الجامع (رقم الحديث 6389) ثم حسنه في صحيح الترغيب والترهيب (رقم الحديث 1608) والآخر متأخر.

      Maka bagaimana bisa anda mengatakan/menanyakannya lagi,

      بالنسبة إلى الحديث المعل بسبب علي بن زيد, أتساءل: أي الحديث تعني؟

      Padahal anda baru saja menanyakan kedhaifannya?

      Dan terakhir: omongan anda yang terkahir saya ngga ngerti kemana arahnya, kalau mau diutarakan utarakan saja satu persatu.

      1. Bismillah …
        Pertama, saya tetap mengucapkan terima kasih atas faidah-faidahnya. Sebelumnya saya ingin menjelaskan maksud saya mengangkat tiga poin yang saya pertanyakan kepada Anda. Maksud saya adalah ingin mempelajari argumen yang Anda sampaikan, agar saya bisa mengetahui kekuatan artikel ini, bukan sedang membela “Bolehnya mengatakan Al-Walid kepada seorang alim”, karena saya sendiri belum mengetahui masalah ini. Mudahan dimengerti, sehingga Anda tidak langsung menuding saya membela.
        Selanjutnya, masih masalah ‘an-‘anah Abu Shalih Dzakwan As-Samman dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Saya kira argumen yang sudah saya singgung cukup kuat, tinggal Anda menukil dari para ulama Jarh Wa Ta’dil yang menghukumi Abu Shalih sebagai mudallis sehingga ‘an-‘anahnya harus diwaspadai. Atau nukilan dari mereka yang menolak ‘an-‘anah Abu Shalih.
        Adapun saya memilih hadits Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Shahih Bukhari Bab Wujub Shadaqah … karena ia mudah dicari sebab merupakan hadits pertama pada bab tersebut, bukan sebagai satu-satunya dalil sama’ Abu Shalih dari Abu Hurairah.
        Adapun masalah apa yang Anda katakan bahwa sanad Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal sampai kepada Abu Shalih tidak ada yang menggunakan shigah ada’ yang menunjukkan sama’ hingga tiba masa Imam Bukhari dan lainnya, saya katakan: apakah itu sebuah masalah? Sedangkan Imam Bukhari memiliki kriteria paling tinggi dalam memilah hadits shahih dibanding kitab-kitab hadits lainnya yang mengumpulkan hadits shahih. Sehingga apa argumen yang bisa menjelaskan bahwa hal tersebut adalah sebuah keanehan yang mengganjal?
        Adapun contoh yang diberikan oleh Syaikh DR. Hasan Abdul Ghaffar, bukankah beliau mengatakan Al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah? Menurut Anda siapakah yang dijadikan contoh oleh beliau disini? Al-A’masy atau Abu Shalih? Silahkan buka kembali penjelasan para ulama hadits tentang para mudallis yang harus diwaspadai ‘an-‘anahnya.
        Kemudian, masalah pertanyaan saya tentang hadits mana yang Anda katakan lemah kari Ali bin Ja’d? Karena pertanyaan saya pada komentar pertama saya masih berkaitan dengan hadits Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
        Jadi maksud saya begini, kenapa hadits Abu Shalih lemah? Ini sudah saya dapat jawabannya dari Anda dan masih sedang kita diskusikan. Kemudian jika dia benar-benar shahih, kenapa bisa dihukumi bertentangan dengan Al-Qur’an? Apakah bisa hadits shahih bertentangan dengan Al-Qur’an? Ini yang ingin saya tahu.
        Demikian jawaban dari saya mudah-mudahan ada faidah lagi bagi saya sebagai tambahan pembelajaran.
        Terakhir, saya ingin menyinggung masalah kata-kata Bahasa Sasak yang Anda nukil di jawaban pertama, itu adalah kata-kata kasar, tolong jangan diulangi lagi, bukankah Anda mengangkat syi’ar diskusi dengan ilmiah dan beradab?
        Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas faidahnya. Wallahul muwaffiq.

      2. Bismillah …
        Pertama, saya tetap mengucapkan terima kasih atas faidah-faidahnya.

        sm2. saya juga selalu belajar dari siapa saja.😕

        Sebelumnya saya ingin menjelaskan maksud saya mengangkat tiga poin yang saya pertanyakan kepada Anda. Maksud saya adalah ingin mempelajari argumen yang Anda sampaikan, agar saya bisa mengetahui kekuatan artikel ini, bukan sedang membela “Bolehnya mengatakan Al-Walid kepada seorang alim”, karena saya sendiri belum mengetahui masalah ini. Mudahan dimengerti, sehingga Anda tidak langsung menuding saya membela.
        Selanjutnya, masih masalah ‘an-’anah Abu Shalih Dzakwan As-Samman dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Saya kira argumen yang sudah saya singgung cukup kuat, tinggal Anda menukil dari para ulama Jarh Wa Ta’dil yang menghukumi Abu Shalih sebagai mudallis sehingga ‘an-’anahnya harus diwaspadai. Atau nukilan dari mereka yang menolak ‘an-’anah Abu Shalih.

        Menurut saya argumen semacam ini tidak tepat dalam menjawab hujjah yang saya lontarkan alias salah sasaran➡. Dari awal saya memang tidak berangkat menuju persoalan ini dari kitab tarajum yang mendukung an’anah Abu Shalih. Kenapa? karena kitab tarajum itu datang belakangan, sementara saya memulai pembahasan ini jauh sebelum datangnya itu semua.

        Kalau anda paham dengan hujjah saya sebelumnya mengenai permasalahan apakah antara abu shalih dan abu hurairah telah terjadi sima’/sama’ atau niscaya anda akan punya gagasan yang lain untuk dilontarkan di sini. Itu dari saya. Mohon dipahami dengan baik. Karena kalau tidak pembicaraan ini akan terus berulang.😛

        Adapun saya memilih hadits Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Shahih Bukhari Bab Wujub Shadaqah … karena ia mudah dicari sebab merupakan hadits pertama pada bab tersebut, bukan sebagai satu-satunya dalil sama’ Abu Shalih dari Abu Hurairah.
        Adapun masalah apa yang Anda katakan bahwa sanad Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal sampai kepada Abu Shalih tidak ada yang menggunakan shigah ada’ yang menunjukkan sama’ hingga tiba masa Imam Bukhari dan lainnya, saya katakan: apakah itu sebuah masalah? Sedangkan Imam Bukhari memiliki kriteria paling tinggi dalam memilah hadits shahih dibanding kitab-kitab hadits lainnya yang mengumpulkan hadits shahih. Sehingga apa argumen yang bisa menjelaskan bahwa hal tersebut adalah sebuah keanehan yang mengganjal?

        Ini adalah bukti bahwa anda memang tidak paham dengan hujjah yang saya lontarkan sebelumnya. Ini tidak ada hubungannya dengan seleksi hadits yang dilakukan oleh Bukhari sebab di dalam shahihnya terdapat banyak juga hadis mu’an’an bahkan bisa dibilang mayaoritasnya malah! Tolong digaris bawahi dan dicetak tebal.
        Karena memang sebelum kedatangan bukhari, hadits-hadits nabi itu diriwayatkan apa adanya, dari mulut ke mulut dari kitab ke kitab, tidak ada kriteria shahih, hasan, dhaif di sana. Tapi bukan ini yang kita bahas. sebab pembicaraan ini sangat terkait erat dengan sebuah fakta apakah abu shalih benar-benar mendengar dari abu hurairah atau tidak?
        Dan point of view di sini adalah di zaman setelah kematian abu shalih para perawi yang berdekatan masa dengannya dan meriwayatkan darinya semuanya datang dengan shighah an’anah tidak ada yang datang dengan shighah sama’. Namun setelah era Imam Ahmad tiba-tiba bermunculanlah hadits-hadits dengan menggunakan jalan Abu Shalih menuju Abu Hurairah dengan shighah sama’. Apakah ini bukan sebuah keanehan dan keganjilan? Apakah orang yang berpikir tidak bisa tersentak kesadaranya dari hal semcam ini?
        Itu dari saya. Mohon dipahami dengan baik. Karena kalau tidak pembicaraan ini akan terus berulang.😛

        Adapun contoh yang diberikan oleh Syaikh DR. Hasan Abdul Ghaffar, bukankah beliau mengatakan Al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah? Menurut Anda siapakah yang dijadikan contoh oleh beliau disini? Al-A’masy atau Abu Shalih?

        saya kira pemahaman Anda sangat bertolak belakang dengan sasaran teks tersebut. Anda malah membuat jalan pemahaman sendiri padahal teks tersebut sudah punya jalannya sendiri. Begini ya… DR tsb tidak sedang membicarakan orang/person, baik itu a’masy ataupun abu shalih tapi membicarakan shighat a’an’ah. kenapa harus a’masy duluan, karena sejauh ini belum ada kitab riwayat yang langung menghubungkan perawinya dengan abu shalih.😕

        Silahkan buka kembali penjelasan para ulama hadits tentang para mudallis yang harus diwaspadai ‘an-’anahnya.

        Saya sudah bilang di awal bahwa kitab tarajum itu datang belakangan, kebanyakan mereka merujuk pada hadits-hadits yang mana di dalamnya para perawi menyatakan bahwa abu shalih mendengar dari abu hurairah, oleh karena itulah mereka semua menilai abu shalih mendengar dari abu hurairah, dan an’anahnya diterima, sedangkan fokus pembicaraan saya di sini adalah masa sebelum kitab tarajum tesebut diturunkan. Itu dari saya. Mohon dipahami dengan baik. Karena kalau tidak pembicaraan ini akan terus berulang.😐

        Kemudian, masalah pertanyaan saya tentang hadits mana yang Anda katakan lemah kari Ali bin Ja’d? Karena pertanyaan saya pada komentar pertama saya masih berkaitan dengan hadits Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
        Jadi maksud saya begini, kenapa hadits Abu Shalih lemah? Ini sudah saya dapat jawabannya dari Anda dan masih sedang kita diskusikan. Kemudian jika dia benar-benar shahih, kenapa bisa dihukumi bertentangan dengan Al-Qur’an? Apakah bisa hadits shahih bertentangan dengan Al-Qur’an? Ini yang ingin saya tahu.
        Demikian jawaban dari saya mudah-mudahan ada faidah lagi bagi saya sebagai tambahan pembelajaran.

        Ini akan saya tanggap pada pertanyaan/komentar anda berikutnya.

        Terakhir, saya ingin menyinggung masalah kata-kata Bahasa Sasak yang Anda nukil di jawaban pertama, itu adalah kata-kata kasar, tolong jangan diulangi lagi, bukankah Anda mengangkat syi’ar diskusi dengan ilmiah dan beradab?
        Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas faidahnya. Wallahul muwaffiq.

        Maaf ya saya ngga tahu kalau itu kasar cos tidak pandai bahasa sasak, insya Allah tidak akan diulangi lagi.😐

  10. Bismillah, baik jika saya salah menggunakan bahasa arab …
    Pertama, saya kembali mengucapkan terima kasih atas semua faidah di atas …
    Selanjutnya, masih masalah ‘an-‘anah Abu Shalih As-Samman, adakah ulama Jarh Wa Ta’dil yg menghukumi Abu Shalih sebagai mudallis? Kemudian adakah di antara mereka yg menolak ‘an-‘anahnya?
    Satu lathifah di sini, saya menyebutkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pada Bab Wujub Nafaqah sebagai salah satu dalil atas sama’ Abu Shalih dari Abu Hurairah, bukan sebagai satu-satunya dalil … tapi saya memilihnya karena mudah dicari sebab hadits pertama pada bab tersebut.
    Kemudian, masalah pertanyaan saya hadits mana yg Anda maksud? Sebab saya menanyakan kenapa hadits Abu Hurairah lemah? Kemudian jika hadits itu shahih kenapa dibenturkan dengan Al-Qur’an?
    Maksud saya begini dengan pertanyaan itu, jika haditsnya lemah, selesai perkara.
    Tapi jika shahih, di sini masalahnya … adakah hadits shahih yg bertentangan dengan Al-Qur’an? Itu sebenarnya yg saya ingin tanyakan, sehingga saya menanyakan sisi pertentangannya dengan Al-Qur’an.
    Kemudian, masalah catatan saya yang terakhir, maksud saya adalah karena Anda mengatakan saya membela “Bolehnya menggunakan istilah Al-Walid bagi seorang alim”. Saya ingin menjelaskan kepada Anda bahwa saya tidak membela, saya hanya ingin mempelajari kekuatan argumen Anda, karena saya sendiri tidak tahu masalah ini.
    Makanya saya berharap Anda fokus menjawab 3 poin yang ingin saya tahu kejelasannya, tanpa menuding saya membela apa yang Anda bantah pada artikel Anda.
    Terakhir saya mengucapkan terima kasih banyak atas segala faidahnya, sehingga saya bisa mendapatkan banyak bahan belajar.
    Ohya, apakah menurut Anda penting untuk mengetahui siapa saya, dari mana saya, tamatan mana dan menulisnya disini? Sementara saya sendiri tidak tahu siapa Anda dan tidak pernah mencari tahu. Kemudian kata-kata dalam bahasa Sasak yang Anda kutip itu adalah kata-kata kasar, mohon jangan diulangi.
    Bukankah Anda mengajak untuk baik dalam berdiskusi?
    Wallahul muwaffiq.

    1. Bismillah, baik jika saya salah menggunakan bahasa arab …

      😕

      Pertama, saya kembali mengucapkan terima kasih atas semua faidah di atas …
      Selanjutnya, masih masalah ‘an-’anah Abu Shalih As-Samman, adakah ulama Jarh Wa Ta’dil yg menghukumi Abu Shalih sebagai mudallis? Kemudian adakah di antara mereka yg menolak ‘an-’anahnya?

      saya ulangi lagi: Saya sudah bilang di awal bahwa kitab tarajum itu datang belakangan, kebanyakan mereka merujuk pada hadits-hadits yang mana di dalamnya para perawi menyatakan bahwa abu shalih mendengar dari abu hurairah, oleh karena itulah mereka semua menilai abu shalih mendengar dari abu hurairah, dan an’anahnya diterima, sedangkan fokus pembicaraan saya di sini adalah masa sebelum kitab tarajum tesebut diturunkan. Itu dari saya. Mohon dipahami dengan baik. Karena kalau tidak pembicaraan ini akan terus berulang.😯

      Satu lathifah di sini, saya menyebutkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pada Bab Wujub Nafaqah sebagai salah satu dalil atas sama’ Abu Shalih dari Abu Hurairah, bukan sebagai satu-satunya dalil … tapi saya memilihnya karena mudah dicari sebab hadits pertama pada bab tersebut.

      …😕

      Kemudian, masalah pertanyaan saya hadits mana yg Anda maksud? Sebab saya menanyakan kenapa hadits Abu Hurairah lemah? Kemudian jika hadits itu shahih kenapa dibenturkan dengan Al-Qur’an?

      Tidak ada benturan yang disengaja mau tidak mau keduanya pasti akan bertemu karena memiliki arah yang sama. Hadis Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah adalah bapak bagi para sahabatnya. Sementara Ayat Ahzab mengatakan Rasulullah bukanlah bapak siapa-siapa laki-laki di antara para sahabatnya. Kalau ini tidak dianggap berbenturan tolong sampaikan hujjah Anda jangan hanya mempertanyakannya semata. Boleh jadi saya sangat naif dalam berpikir.😕

      Maksud saya begini dengan pertanyaan itu, jika haditsnya lemah, selesai perkara.
      Tapi jika shahih, di sini masalahnya … adakah hadits shahih yg bertentangan dengan Al-Qur’an? Itu sebenarnya yg saya ingin tanyakan, sehingga saya menanyakan sisi pertentangannya dengan Al-Qur’an.

      Ini khan yang sedang kita bahas di atas, sebenarnya ini permasalahan klasik, sudah dari dulu permasalahan ini dibahas para ulama bukan hanya hadis di atas saja. Kalau mau dicari akan ketemu dan nanti akan dipadukan sesuai arah yang dimaksud apakah memang bertentangan atau tidak?

      Kemudian, masalah catatan saya yang terakhir, maksud saya adalah karena Anda mengatakan saya membela “Bolehnya menggunakan istilah Al-Walid bagi seorang alim”. Saya ingin menjelaskan kepada Anda bahwa saya tidak membela, saya hanya ingin mempelajari kekuatan argumen Anda, karena saya sendiri tidak tahu masalah ini.

      oh ya?:mrgreen:

      Makanya saya berharap Anda fokus menjawab 3 poin yang ingin saya tahu kejelasannya, tanpa menuding saya membela apa yang Anda bantah pada artikel Anda.

      sudah dijawab sebisa saya.🙄

      Terakhir saya mengucapkan terima kasih banyak atas segala faidahnya, sehingga saya bisa mendapatkan banyak bahan belajar.

      sama2.🙂

      Ohya, apakah menurut Anda penting untuk mengetahui siapa saya, dari mana saya, tamatan mana dan menulisnya disini? Sementara saya sendiri tidak tahu siapa Anda dan tidak pernah mencari tahu. Kemudian kata-kata dalam bahasa Sasak yang Anda kutip itu adalah kata-kata kasar, mohon jangan diulangi.
      Bukankah Anda mengajak untuk baik dalam berdiskusi?
      Wallahul muwaffiq.

      No coment. Never mind brother.😉

  11. @AhmaD
    setuju dengan kesimpulan saudara. Ust Doni selaku admin blog abuljauza memang hanya bisa lempar batu sembunyi tangan, ia katakan orang Arab dari jaman dulu sampai sekarang memanggil orang alim dengan walid namun saat diminta contohnya oleh Ust Admin sebagaimana yang terjadi zaman Nabi, sahabat dan tabiin ngga bisa, berarti orang ini layak disebut pendusta! Masya Alloh.

  12. Di sini bukanya Ana mau membela Admin Web ini terhadap perselisihan saudara Doni terhadapnya, hanya saja apa yang dibawakan saudara Doni (Bulljauza) adalah sebuah kenistaan (meminjam bahasa ust Zulqanaen) kepada Admin Web ini saat saudara Doni berkata:

    “Akan tetapi bagi yang belajar bahasa Arab dan fiqh, tentu tahu bahwa lisan orang Arab dari semenjak jaman dahulu hingga sekarang sudah terbiasa menyebut orang yang tua atau ulama sebagai al-waalid. Dan ini tidak dimaksudkan sebagai penasaban. Ini dipakai sesuai dengan lisan mereka.”

    Kalau memang benar demikian apa maksud si Penanya tersebut kepada para Syaikh yang ada pada dua situs tersebut, bukankah si Penanya adalah orang Arab, maka mengapa menjadi sebuah keheranan baginya yang orang Arab bila ungkapan “Alwalid” tersebut benar-benar merupakan kebiasaan orang Arab. Maka benarlah Admin Web ini kala ia bertanya balik: “Arab yang versi mana?” sayangnya saudara Doni malah melarikan diri dari diskusi ini. dan kalau mau konsisten maka Ana katakan kepada Saudara Doni ini dengan bahasanya sendiri: “Takutlah kepada Allah. Seandainya Anda ingin mengkritik Admin Web ini atau siapapun manusia yang masih hidup di dunia ini, silakan. Tapi tolong, memakai ilmu.”

  13. ana setuju abul jauza harus didudukkan secara ilmiah kalau ngga maka ia akan terjatuh pada manhaj pra ghulatul tahzhir.

  14. Saya kira Doni a.k.a abul-jauzaa.blogspot.com memang bikin kesalahan, dan semua manusia tidak lepas dari kesalahan, terlepas dari itu semua saya tetap mengakui banyak beristifadah dg artikel2 beliau di blognya, dan saya yakin yang pada coment disini belum tentu lebih baik dari dia dari sisi keilmuannya, coba tolong saya dikasih 1 saja blog semisal dg blognya Abul Jauzaa dari pada komenter disini. Terkecuali buat admin web ini, saya acungi jempol dah..

  15. Coba kita perhatikan baik-baik, wahai saudara-saudara ku seiman, lihat dengan hati lapang, pikiran jernih bagaimana ustadz admin menanggapi segala komentar di web ini dengan tegas, lugas, jelas, terinci dan berilmu. Semua ditampilkan dan dijawab, ditanggapi yang harusnya kita sudah bisa mengetahui kadar (keilmuan) masing-masing.
    Salut buat antum ya..ustadz, ana senang dengan gaya bahasa antum yang menuntaskan segalanya sampai keakar-akarnya (sampai lari terbirit-birit or sembunyi). Semoga antum terus diberi Allah ta’ala istiqomah dan tambahan ilmu senantiasa.

  16. SubhanAlloh, ini nasehat yang sangat bermanfaat sekali untuk sy pribadi.. Tanpa disadari, masalah yang sepele ini bisa masuk ke perkara Aqidah.. Semoga Taufik dan hidayah tercurahkan untuk kita semua.

  17. Sasaran Blog ini adalah kebenaran bukan kultus individu/golongan, jadi silahkan bagi siapa saja yang memiliki pendapat terkuat untuk memberikan hujjahnya secara terperinci karena blog ini sangat tidak aman dari kesalahan. Kami berdakwah kepada Allah dan manfaatnya adalah untuk manusia, tidak ada rasa sakit hati atau gengsi untuk rujuk kepada kebenaran (Al-Haqq). Dan bagi yang suka mendungu-dungukan silahkan lanjutkan usaha Anda sebab kami paham dan maklum mengenai kadar otak Anda, jadi kami tidak heran bila cuma itu yang Anda bisa ucapkan.” yang jelas, blog ini selalu dihinggapi oleh banyak burung beo, (hanya pintar bicara dan mengesankan dirinya laiknya kitab berisikan banyak dalil, namun sayangnya tak pernah bisa diajak bicara/diskusi) dan kami sangat menantikan datangnya hud-hud (bisa diajak berpikir/diskusi) yang membawa berita kebenaran. By: Admint

  18. “Jangan Bersikap Ghuluw kepadaku”
    [Pesan Syekh Rabi’]
    (Posted on 28 Shofar 1435 H)
    Syekh Rabi’ pernah menyampaikan dan mengingatkan sebagian org yg guluw dlm menyikapi beliau, sampai digelari “imam al-Jarh wat ta’dil di zaman ini”. Setelah itu beliau brkata:
    “Saya tegaskan kepada kalian semua, saya bukanlah seorang ulama al-Jarh wat Ta’dil. Saya menasihati segenap ikhwan untuk meninggalkan sikap ghuluw (ekstrem). Barakallahu fiikum (Semoga Allah memberikan barakah kepada kalian). Saya hanyalah seorang  naqid (kritikus). Naqid, saya mengkritisi sejumlah orang tertentu terkait dengan kesalahan mereka, kemudian manusia menyebarkannya. Barakallahu fiikum (Semoga Allah memberikan barakah kepada kalian). Saya berlepas diri di hadapan Allah dari sikap ekstrem.
    Jangan sekali-kali kalian mengatakan, “Asy-Syaikh Rabi’ adalah imam al-Jarh wat Ta’dil.” Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku membenci kalimat ini. Tinggalkan sikap berlebih-lebihan ini, wahai saudara sekalian.

    Demi Allah, sejak zaman dahulu diriku secara fitrahnya membenci gelar-gelar ini. Saya membaca sebuah kalimat tentang Ibnu Khuzaimah yang menyebutkan bahwa beliau adalah imamnya para imam. Benar bahwa beliau adalah seorang imam yang besar, demi Allah. Akan tetapi, gelar “imamnya para imam” ini aku pandang sangatlah berat, demi Allah”.

    Sumber : http://www.darussalaf.or.id/manhaj/bagaimanakah-kita-beribadah-kepada-allah-dengan-ilmu-al-jarh-wat-tadil/

    1. Ana baru baca artikel2 di blog yg membela usdz.Dzul, PELITA SUNNAH – http://pelita-sunnah.blogspot.com/?m=1
      alhamdulillaah telah banyak bantahan thdp pihak luqman cs….
      Semoga Allah senantiasa memberi hidayah dan taufiq kepada kita agar senantiasa istiqomah diatas al-haq

      Dzulqornain di Sisi An-Nashih Al-Amin
      بسم الله الرحمن الرحيم
      Dzulqornain di Sisi An-Nashih Al-Amin
      Pertanyaan terakhir: Apa nasihatmu kepada Salafiyyin di Indonesia yang berkaitan dengan sebagian saudara kami keluaran Darul Hadits Dammaj, kemudian ta’ashshub (fanatik) terhadap ‘Abdur Rahman dan saudaranya ‘Abdullah Al-Mar’iyyain, dan termasuk dari para ikhwah tersebut orang yang di panggil “Dzulqornain” dan akh ini punya Yayasan dan telah berkunjung kepada kami beberapa Masyaikh dari Dammaj ke negri ini beberapa kali tapi dia tidak hadir, Dzulqornain tidak menghadiri majlisnya sementara dia hadir di majlis syaikh ‘abdullah al mar’i (al-hizbi -pent) dan majlis syaikh ‘Ubaid al-Jabiri (al-hizbi –pent), dan tersebar berita di kalangan pengikutnya bahwasanya Dzulqornain telah berkunjung ke fiyush (sarang hizbiyyin –pent) tahun ini setelah kepulangannya dari mekkah dari umrah, kemudian ngisi muhadarah di fuyush dan diberi kata sambutan oleh ‘Abdurrahman Al-‘Adeni dan memberinya tazkiyyah dan berkata bahwa dzulqornain adalah salah seorang ulama dari ulama ahlus sunnah di Indonesia, dan pengikutnya membanggakan hal tersebut, bagaimana sikap kita terhadapnya dan apakah engkau menasihati ahlus sunnah salafiyyin untuk menghadiri daurah-daurah dan majlis-majlisnya dan bisakah kita mengatakan bahwa dzulqornain dan yang bersamanya termasuk dari hizbiyyah baru? Baarokallahu fiikum
      Jawaban: Allahu baarik fiikum (…suara tidak jelas…) sebagian dari yang dulu di sini apabila keluar (bersama Al-‘Adeni) yang sebagian mereka saya tidak yakin sudah belajar “mutammimah al ajurumiyyah” (…suara tidak jelas…) Syaikh fulan… Syaikh fulan… (maksudnya adeni memuji mereka dengan berlebihan –pent) dia itu ghuluw Al-‘Adeni ghuluw (berlebih-lebihan dalam memuji orang yang bersamanya dalam kemungkarannya) dia tidak termasuk dari pakar bab ini, dia tidak menempatkannya pada tempatnya, dia sendiri butuh di ta’dil bagaimana dia mau ta’dil (mentazkiyah) orang lain (…suara tidak jelas…) dia itu munharif (menyimpang) al-adeni menyimpang dia termasuk hizbiyyin dan telah bikin ulah dalam dakwah dengan fitnah yang besar (hanya) karena dunia, ini kesimpulannya maka tidak teranggap ucapannya, tidak berarti (…suara tidak jelas…) sebab mereka telah menjadi hizbiyyin termasuk hizbiy al adeni (…suara tidak jelas…)
      Dan dzulqornain kami wasiatkan dia supaya bertakwa kepada Allah kami wasiatkan dia supaya menjaga nikmat yang Allah subhanahu wa ta’ala karuniakan kepadanya dan kepada selainnya dari penuntut ilmu, kenikmatan menuntut ilmu yang bermanfaat di tempat ini (…suara tidak jelas…) dan hendaknya dia tinggalkan ta’ashshub terhadap hizbiyyin baik itu hizbiyyah al –adeni ataupun selainnya, dan kalaupun dia ta’ashshub itu tidaklah memudharatkan dakwah (…suara tidak jelas…) orang-orang menerima dakwah walhamdulillah, dan sunnah itu memilah jalannya, dan mereka yang di Yaman telah pergi (hilang dari peredaran tanpa bekas tanpa faidah –pent), dan mereka yang di sana (Indonesia) akhirnya akan demikian dan barangsiapa yang melakukan kebaikan (pahala dan kebaikannya) untuk dirinya dan barangsiapa yang yang berbuat kejelekan maka mudharatnya akan kembali kepada dirinya;
      وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا [الأنعام/164]
      “Dan tidaklah seseorang berbuat sesuatu kecuali akan kembali kepadanya.” [Al-An’am: 164].
      Dan kebaikan akan mendatangkan kebaikan, kejelekan akan mendatangkan kejelekan (pula), dan ini yang kami saling mewasiatkan dengannya (…suara tidak jelas…) dzulqornain punya kecondongan kepada Yayasan (…suara tidak jelas…) kecondongan kepada mereka (hizbiyyin)
      “والطيور على أشكالها تقع”
      “Dan burung itu akan hinggap di tempat yang sesuai dengan jenisnya”

      Apabila dia terjerembab dalam Yayasan dan dalam apa yang mereka (para hizbiyyin) terjerembab padanya dan selainnya maka tentu dia (dzulqor) bersama mereka dan akan menjauh dari orang-orang yang menperingatkan manusia dari yayasan kecuali dia berjalan di atas jalan yang benar yang ia dulu di atasnya pada zaman Syaikh kita (Muqbil Al-Wadi’i) rahimahullah dan setelahnya sesuai yang kita ketahui, karena sungguh telah sampai kepada kami bahwa dia (dzulqor) condong dan berjalan di belakang (kemungkaran -pent) itu maka dia dijauhi, hendaknya dia dijauhi hingga Allah memberinya taubat yang benar, karena keadaannya yang demikian tiada pada majlis-majlisnya kecuali ta’ashshub dan keterlantaran…
      Sumber: Tauhid&Manhaj – http://aloloom.net/vb/forumdisplay.php?f=74

  19. Koq comment ana sebelum ini belum muncul ya… mungkin kepanjangan, coba lagi ah..
    Ana baru baca artikel2 di blog yg membela usdz.Dzul, PELITA SUNNAH – http://pelita-sunnah.blogspot.com/?m=1
    alhamdulillaah telah banyak bantahan thdp pihak luqman cs….
    Semoga Allah senantiasa memberi hidayah dan taufiq kepada kita agar senantiasa istiqomah diatas al-haq

    Dzulqornain di Sisi An-Nashih Al-Amin
    Silahkan baca di..
    Tauhid&Manhaj – http://aloloom.net/vb/forumdisplay.php?f=74

  20. Apaan itu….
    bantahannya tidak di atas ilmu.
    ga bisa diambil faedah dri sini.
    dasar orang2 lembek,bunglon suka bikin makar sesat.

    1. anak kecil pun bisa membantah, membantah itu bukan perkara sulit, asal punya lidah untuk bicara, tangan untuk menulis, siapapun bisa!:mrgreen:

      ngomong2 ente ini ingin jadi lewer ke sekian ya?😛

Comments are closed.