Bantahan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i Terhadap Lukman Ba’abduh Dalam Perkara Kategorisasi Akidah dan Manhaj: Benarkah Lukman Ba’abduh Murid Syaikh Muqbil?

Telah berlalu tulisan/bantahan kami mengenai kerancuan seseorang yang diustadzkan, dan disalafikan bahkan dianggap sebagai murid syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, yaitu Lukman bin Muhammad Ba’abduh dengan judul: Kerancuan Bapak Lukman bin Muhammad Ba’abduh dalam Memahami Kategorisasi Akidah

Di tulisan tersebut memang saya tidak membantah secara “vulgar”, karena memang esensi dari kekeliruan Bapak Lukman ini sudah gampang dilihat jadi tidak perlu heboh-heboh amat untuk dibahas.

Sekarang tulisan tadi berlanjut lagi dengan judul: Bantahan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i Terhadap Lukman Ba’abduh Dalam Perkara Kategorisasi Akidah dan Manhaj. Benarkah Lukman Ba’abduh Murid Syaikh Muqbil?

Mungkin Anda merasa heran dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin Syaikh Muqbil bisa membantah Bapak Lukman, padahal beliau telah tiada?

Maka saya jawab: Jasadnya boleh saja hilang dari penglihatan kita dan terkubur oleh tanah, namun pemikiran beliau terus hidup hingga hari ini karena beliau mewariskan ilmunya melalui buku-bukunya hingga ceramah-ceramah beliau yang terdokumentasikan dengan baik.

Dan di sini sekaligus kita akan melihat benarkah Bapak Lukman ini adalah murid Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i atau hanya orang yang mengaku-ngaku saja?

Untuk menjawabnya tentu kita bisa melihat dari kesesuaian pemahaman keduanya. Bila Bapak Lukman ini mendakwahkan apa yang didakwahkan syaikh maka tentu beliau adalah muridnya, namun bila tidak?

Gampangnya saya beri Anda contoh: Katankanlah si A berguru pada si B tentang penjumlahan, si B berkata/mengajari si A bahwa 1+1=2.

Lalu si tanya oleh si C, D, E, dst, berapa kah hasil 1+1?

Lalu dijawab oleh si A 1+1=X, berkali-kali ia ditanya si A selalu menjawab dengan jawaban yang sama. C,D, E, F, dll pun menjadi ragu dengan A ini.

Pertanyaan mereka di sini adalah: Apa yang si A lakukan selama ini? Benarkah ia belajar kepada si B kah atau tidak? Atau sekalipun ia benar-benar belajar pada si B tapi tetap tidak paham 1+1=2 maka kemungkinan lain cuma ada satu, yaitu si A ….

Silahkan Anda jawab sendiri.😀

Dan inilah tema besar yang akan saya bahas dalam tulisan ini.

Dalam tulisan sebelumnya, pak Lukman ditanya oleh muridnya: Tolong jelaskan akidahnya syaikh yahya Al-Hajuri? 

Lalu dijawab oleh beliau: Haddadi… minimalnya. Yahyal Hajuri, Asy-Syaikh Rabi dengan tegas mengatakan, Haddaadi… na’am yang ekstrim di dalam memvonis hizbi, ini yang pertama. Kepada banyak pihak tanpa hujjah, tanpa dalil, ini yang pertama. dst…

Kami sendiri sudah memberikan bantahan ringan atas penjelasan pak Lukman ini, untuk mengajak pembaca mulai bertanya-tanya kembali akan status keilmuan beliau ini? Apakah yang dijelaskan oleh beliau ini shahih atau batil?

Nah setelah kita bertanya-tanya… maka tibalah waktunya bagi kita untuk menyingkap hakikat sesungguhnya mengenai penyebutan hadadi, sahabat rasul, dll (sebagaimana yang disebutkan oleh beliau) apakah semua itu bagian dari Akidah sebagaimana yang diperkenalkan oleh Bapak Lukman yang jenius ini?

Mari kita biarkan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i menjelaskan hal ini.

Cat: Syaikh Muqbil adalah orang yang diakui Lukman dan murid-muridnya sebagai gurunya dan kerap kali membawa-bawa nama besar beliau untuk melariskan dakwahnya yang penuh dengan tipu daya dan fitnah, namun benarkah hal tersebut?

Langsung saja kita simak.

ما الفرق بين المنهج والعقيدة وهل الخروج عن منهج السلف يعتبر خروجاً بدعياً ؟

  •  الإجابة: 

    الاعتقاد مثل الاعتقاد في الأمور الغيبية في التوحيد وكذلك الأسماء والصفات وصفة الجنة والنار ، وأما المنهج فالذي يتخذه الشخص أو الجماعة لها فإن كان على كتاب الله وعلى سنة رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم ، وإن كان على غير ذلك ففيه من الضلال بحسب بعده من كتاب الله وسنة رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم ، وبقدر خروجه عن السلف وعن طريق السلف رضوان الله عليهم تكون البدعة ، لأن البدعة تتفاوت فمنها بدع صغرى ، ومنها ما ينتهي بصاحبه إلى الكفر كما حصل من بعض الخوارج عند أن قال : سورة يوسف ليست من القرآن ، وأباح الجمع بين الأختين أو بين المرأة وعمتها .

    فبعض الخوارج وبعض الرافضة ربما تؤذي به بدعته إلى الكفر مثل الخطابية ، وبعض الذين اتخذوا لهم منهجاً على الجهل والهوى يدخلون ويقحمون أنفسهم في التصويتات والانتخابات واللفلفة ، فلا يفرق بين الصوفي والسني والشيعي ، بل يكون معهم حتى لو كانت الكلاب والحمير تدلي بأصواتها لدعوها تدلي بأصواتها معهم . والله المستعان 

Sumberhttp://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=1286

Terjemahan

Syaikh Muqbil ditanya:

Apa perbedaan antara manhaj dan akidah, lalu apakah keluar dari manhaj salaf dianggap keluar dengan kebid’ahan?

Jawab beliau:

I’tiqad (Akidah/keyakinan) adalah seperti i’tiqad dalam permasalahan yang ghaib, yakni dalam tauhid, asma wa sifat Allah, ciri-ciri surga dan neraka.

Adapun manhaj maka itu adalah sesuatu yang dibuat/ditetapkan oleh seseorang atau jamaah tertentu pada mereka sendiri, bisa berasal dari kitab Allah dan juga Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bisa juga berasal dari selain keduanya. Di dalamnya (bisa saja) terdapat kesesatan bilamana hal tersebut tidak ada dalam kitabullah dan sunnah Nabi  shallallahu alaihi wa sallam.

Mengenai keluarnya seseorang dari salaf atau dari jalan salaf maka itu adalah bidah, karena bidah itu memiliki berbagai variannya, diantaranya bidah-bidah kecil, diantaranya juga adalah apa-apa yang membawa orang sampai pada kekafiran, seperti yang dijumpai dari sebagian kalangan sekte khawarij ketika mereka berkata: “Surat Yusuf bukan dari Al-Quran”, atau juga adanya pembolehan pernikahan seorang laki-laki dengan dua orang wanita bersaudara kandung, atau menikahi wanita bersamaan dengan menikahi bibinya.

Sebagian khawarij, sebagian rafidhah boleh jadi bid’ahnya membahyakan manhajnya sehingga mereka terbawa pada kekafiran seperti kelompok ‘khitabiyah’, dan juga sebagian orang yang menjadikan kebodohan dan hawa napsu sebagai manhaj mereka. Mereka masuk dan libatkan diri mereka pada voting, pemilu, polling, tidak mau membedakan mana sufi, mana sunni dan mana syiah?, bahkan hingga anjing-anjing dan keledai-keledaipun yang mereka rasa bisa memberikan “hak suara/vote” maka akan mereka panggil hewan-hewan tersebut untuk memberikan “hak suara” nya kepada mereka ini.

Hanya Allah lah Zat yang dimintai pertolongan.

Dari jawaban syaikh yang mulia di atas nampak jelas bagi kita bahwa akidah hanya menyangkut masalah-masalah yang ghaib, sementara manhaj adalah apa yang berhubungan dengan manusia yang mereka tetapkan sendiri, bisa dari al-Quran dan sunnah bisa juga dari selainnya.

Gelar hadadi jelas bukan masalah keghaiban sebagaimana tauhid, asma wa sifat serta surga neraka.

Ini jelas masalah manhaj karena ditetapkan/dibuat oleh person atau jamaah tertentu sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Muqbil di atas, dan juga seperti yang kami sudah sebutkan dalam tulisan terdahulu bahwa gelar ini dibuat/tetapkan oleh syaikh Rabi lalu diterima oleh jamaahnya, salah satunya Bapak Lukman ini.

Jadi, dari sini kita sudah bisa melihat bahwa dibalik jawaban Bapak Lukman yang mengatakan bahwa akidah yahyal hajuri adalah hadadi di atas tersimpan pertanyaan Besar yang harus kita tanyakan kepada beliau ini.

  • Benarkah Anda ini murid syaikh Muqbil dan belajar kepada beliau?
  • Kalau Anda jawab iya, mengapa Anda malah menyelisihi ilmu beliau, seakan menunjukkan bahwa Anda tidak belajar Akidah dan Manhaj dari beliau!

Dan dari tulisan ini dapatlah kita menyimpulkan point-point penting di dalamnya.

  • Bapak Lukman tidak paham apa itu akidah dan apa itu manhaj sehingga kesulitan untuk mengkategorisasikannya.
  • Bapak Lukman sepertinya sangat tidak mewarisi ilmu syaikh muqbil
  • Gelar agung “Murid Syaikh Muqbil” sangat diragukan bila disandangkan kepada Bapak Lukman

Pertanyaan saya:

Mengapa orang-orang (yang mengaku salafy ahlussunnah) bangga dan senang belajar kepada orang seperti ini?

Apakah sudah tidak ada alim lagi di negeri ini?

Allahu a’lam bis Shawwab

17 thoughts on “Bantahan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i Terhadap Lukman Ba’abduh Dalam Perkara Kategorisasi Akidah dan Manhaj: Benarkah Lukman Ba’abduh Murid Syaikh Muqbil?”

  1. Alhamdulillah al akh… hari ini sempat baca artikel yg ini, mudah2an waktu yg ana pergunakn untk membacanya memberi faidah kelak di yaumil akhir. Ya al akh.. apakah hadits ttng perpecahan umat, thoifah manshuroh,masa kekholifahan dan kerajaan dan berita ghoib lainnya yg akan terjadi setelah nabi sholallohu alaihi wasallam wafat masuk perkara aqidah atau manhaj? Jakallohu khoiron untuk perhàtiannya.

  2. tidak bertanggung jawab…ini siapa?? kemungkinan ini jin yang tidak tampak
    wallahu alam bissowab

    1. Bismillah…

      Ana bisa memahami semua isi yang ada di dalam blog ini insyaalloh karena sudah merasakan dakwah ini sejak 2004. Walhamdulillah… bagi yang baru-baru mungkin kurang bisa menerima hal semacam yang disampaikan oleh al akh admin di sini. Maklum… Untuk bisa memahami, mau tidak mau memang harus menengok kembali perjalanan dakwah salafiyah di negeri tercinta ini, juga para dainya, serta perlu juga sedikit menengok perjalanan mereka selama belajar hingga berdakwah dengan penuh ilmiah tanpa tendensi suka pada sosoknya semata-mata karena kepandaian retorika berbicara.

      Wallahu’alambisshowab…

      Jika ada salah ketik mohon dibernahi.

      Demi Alloh sebenarnya ana menghindari berkomentar di setiap blog yang ana baca, karena ana tau semua akan dipertanggungjawabkan dihadapan Robbiy. Semoga apa yang ana tulis benar adanya di sisi Robbiy, jika salah.. aqulu ma sami’tum wa astaghfirullohal ‘adhim.

      Pesan untuk yang baru-baru kenal dakwah salafiyah kemudian mau tidak mau tersuguhkan dihadapannya berbagai fitnah yang dia tidak memahaminya, ana sarankan… fokus belajar apa yang antum belum ketahui tentang din ini sambil terus berdoa memohon kebaikan kepada Robbul Alamin untuk diri sendiri dan lainnya. Namun jika kemudian karena fitnah seperti ini mau tidak mau antum harus bersikap, maka berhati-hatilah dalam memulai langkah… apa yang menjadi prioritas utama untuk diketahui dari suatu permasalahan, antum harus tahu… dan dalam proses pencarian tersebut antum harus benar-benar ilmiah dan pertengahan. Hilangkan secuil apapun tendensi pada salah satu pihak. Kerahkan kemampuan maksimal antum dalam menilai permasalahan yang ada jika memang antum mampu. pastikan sumber-sumber yang antum peroleh dari kedua pihak untuk bahan pertimbangan adalah sumber-sumber yang otentik… baarokallohufiik. Memahami pokok permasalahan itu lebih penting dari apapun, karena dari sana nantinya akan dibangun MAUQIF. Jangan sampai salah dalam memahami pokok permasalahan, karena masalah tidak berhenti di situ saja, akan muncul atau bermunculan di sekitarnya pecahan-pecahan permasalahan yang kalau seandainya kita tidak menguasai pokok permsalahan yang ada, kita hanya akan jadi permainan syetan, dan akan selalu menjadi pribadi yang goyah dan terombang ambing. Baaarokallohufiikum, semoga tidak seperti itu….
      Dan seterusnya bisa antum semua baca di kitab-kitab para ulama tentang AL MAKHROJ MINAL FITAN.

      Jangan khawatir, AL HAQ itu akan senantiasa ALLOH tampakkan… dan akan senantiasa ada dalam agama ini pembawa AL HAQ YANG MURNI…

      Apapun dan siapapun sekarang yang jadi panutan kita, landasilah semuanya di atas keilmiahan, sehingga jika nanti ternyata yang kita ikuti salah, kita tidak akan terlalu kecewa atau sakit hati… atau ternyata yang kita ikuti benar adanya, tidak ada yang kita puji kecuali ROBBUL ALAMIN…

      Sebesar apapun cinta kita kepada yang kita ikuti selain Nabi Muhammad, mereka tidak bisa menolong kita nanti dihadapan ROBBUL ALAMIN.
      Masing-masing akan berkata nanti di hadapan ROBBUL ALAMIN “nafsiy nafsiy”…

      Sehingga mulai sekarang, bangunlah kecintaan atau pembelaan kita terhadap “mereka” benar-benar ilmiyah… atau koreksilah… benarkah pembelaanku terhadap ustadz fulan ini atau syaikh fulan ini benar-benar ilmiyah?

      Masing-masing kita bertanggungjawab atas sikap kita masing-masing.

      Saatnya belajar untuk bertanggungjawab terhadap diri sendiri sebagai persiapan pertanggungjawaban ilmiyah dihadapan ROBBUL ALAMIN.

      Walhamdulillahirobbil Alamin.

      Abudzar Abdullah ad-Dasriy
      abudzar.addasriy@gmail.com

      1. Jujur, ana ngga paham maksud antum ini.:mrgreen: Maaf ana cuma orang bodoh:mrgreen:
        Kalau Antum merasa bisa untuk jadi teladan dalam dakwah maka lakukan saja:mrgreen:
        Yang jelas bantahan dalam tulisan di atas, tidak berasal dari sumber yang ecek2 tapi dari Syaikh Muqbil langsung sehingga ucapan Anda ini saya kira tidak ada relevansinya dengan permasalahan yang ada dalam tulisan ini. wallahu a’lam.

  3. Salafy tidaklah bermanhaj salaf tp takfiri, mudah mengkafirkan orang lain, batinnya kasar, mata merah krn selalu dendam dan dengki terhadap org lain, selama sy di salafy sy merasa kegersangan jiwa krn disalafy ini pelajaran akhlaq tdklah mendapat perhatian, hati2 dengan klaim salafy krn nabi dan para sahabat tdk pernah menyebut dirinya salafy, jd mengaku diri seorang salafy adalah bid’ah yg tdk ada tuntunannya baik dari nabi, sahabat ataupun para ulama dulu

  4. Muqbil bermanhaj takfiri, mudah mengkafirkan ulama lain sprti syekh yusuf qardhawi, sayid qutb, hasan albanna, abdullah azzam, maududi dll

  5. antum brani gak bcra kya gini d hAdapan ust luqman ??!!
    low antum pnya kitab tobaqot coba antum lihat da tdk nma.y ust luqman..
    hti” antum low bicra akhy.

Comments are closed.