images (17)

Kerancuan Bapak Lukman bin Muhammad Ba’abduh dalam Memahami Kategorisasi Akidah

Berikut ini kami tampilkan tanya jawab “atraktif” non “interaktif” antara Bapak Lukman Ba’abduh dengan para penanya yang sedang menimba ilmu dari beliau.

Semoga dari dialog cerdas ini kita mendapatkan hikmah keilmuan dari beliau. Amin

Langsung saja kami tampilkan trasnkrip audionya.

Menit: 00.05.05: Tolong jelaskan akidahnya syaikh yahya Al-Hajuri?

Bapak Lukman menjawab:

Haddadi… minimalnya. Yahyal Hajuri, Asy-Syaikh Rabi dengan tegas mengatakan, Haddaadi… na’am yang ekstrim di dalam memvonis hizbi, ini yang pertama. Kepada banyak pihak tanpa hujjah, tanpa dalil, ini yang pertama.

Yang kedua, padanya ada beberapa akidah yang berbahaya terkait sahabat rasul. Akidah yang berbahaya tentang sikapnya terhadap sahabat rasul shallallahu alaihi wa sallam. Barakallahu fikum.. na’am.

Padanya juga ada juga akidah asy’ari. Padanya juga ada juga akidah asy’ari di dalam menyikapi sesuatu yang terkait dengan masyia Allah subhanahu wa ta’ala.

Padanya juga sikap ekstrim di dalam menjatuhkan kehormatan para ulama, bukan hanya para ulama di masa ini. Bahkan ulama-ulama terdahulu. Sehingga singkat jawaban ini adalah fatwa syaikh Rabi bin Hadi Al Madkhali, bahwa orang ini termasuk orang yang paling berbahaya terhadap dakwah salafiyah. Dan syaikh Rabi sudah berupaya menahan diri… kurang lebih 7 tahun mencoba menasehati dan seterusnya.

Ini singkat sehingga kalau ada pertanyaan di salah satu kertas saya baca, apakah boleh belajar ke sana? Jawabannya: tidak boleh! Selama masih ada Yahyal Hajuri. Kita berdoa semoga Dammaj dikembalikan oleh Allah sebagaimana di zaman pendirinya, yaitu Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I rahimahullah ta’ala… Na’am.

Tanggapan:

Bapak Lukman berkata: Haddadi… minimalnya. Yahyal Hajuri, Asy-Syaikh Rabi dengan tegas mengatakan, Haddaadi… na’am yang ekstrim di dalam memvonis hizbi, ini yang pertama. Kepada banyak pihak tanpa hujjah, tanpa dalil, ini yang pertama.

Akidah syaikh yahya haddadi?

Jawaban yang menurut kami sangat lucu dari seorang bergelar ustadz dan menyandang nama besar murid syaikh Muqbil.

Perlu kami luruskan bahwa Haddadi adalah gelar buruk bagi mereka yang ekstrim dalam bermanhaj. Sejarah ini berawal dari murid syaikh Rabi sendiri yang bernama Abu Abdillah Mahmud bin Muhammad al-Haddad.

Sikap kerasnya kepada para ulama terdahulu dalam kalam dan tulisannya ini tidak disukai oleh syaikh Rabi, oleh karena itulah beliau menjuluki siapa saja yang keras kritikannya kepada ulama dengan istilah haddadiyah. Sekali lagi pencetus istilah ini adalah Syaikh Rabi sendiri.

Yang menjadi aneh di sini adalah mengapa, oleh Bapak Lukman istilah haddadi bisa masuk dalam kategori permasalahan akidah? Bukankah ini adalah bidah yang swungguh wuaneh tapi nyata?

Apakah Pak Lukman ingin menjadikan kitab-kitab jarh yang berisi berbagai macam celaan terhadap ulama yang dinilai tidak profesional sebagai kitab akidah?

Sungguh jenius sekali kalau apa yang Bapak Lukman katakan ini benar adanya.

Untuk Anda yang ingin melihat seperti apa akidah syaikh yahya maka Anda bisa melihat dari tulisan atau karyanya yang berjudul Mabadi’ul Mufidah.

Yang kedua, padanya ada beberapa akidah yang berbahaya terkait sahabat rasul. Akidah yang berbahaya tentang sikapnya terhadap sahabat rasul shallallahu alaihi wa sallam. Barakallahu fikum.. na’am.

Akidah mengenai sahabat Rasul?

Apakah maksud Pak Lukman mengenai ucapan syaikh Yahya (yang difitnah) bahwa pembunuh Utsman berasal dari kalangan sahabat?

Lagi-lagi kita dibuat bertanya-tanya, apakah ini adalah masalah akidah? Sungguh bid’ah yang sangat aneh. Paham tentang kesejarahan disebut akidah, sejak kapan?

Apakah Bapak Lukman ingin mengatakan bahwa kitab-kitab tarikh dan sirah yang ada adalah kitab akidah?

Sungguh jenius sekali kalau apa yang Bapak Lukman katakan ini benar adanya.

Padanya juga ada juga akidah asy’ari. Padanya juga ada juga akidah asy’ari di dalam menyikapi sesuatu yang terkait dengan masyia Allah subhanahu wa ta’ala.

Syaikh Yahya berpaham akidah asy’ari?

Untuk yang ini kami tak dapat menanggapi apa-apa, karena info ini belum pernah kami dengar dari Dammaj, maupun di luar Dammaj, baru dari lisan Bapak Lukman. Sehingga akan menjadi jujur adanya seandainya beliau mau menyingkap keasy’arian syaikh yahya.

Padanya juga sikap ekstrim di dalam menjatuhkan kehormatan para ulama, bukan hanya para ulama di masa ini. Bahkan ulama-ulama terdahulu. Sehingga singkat jawaban ini adalah fatwa syaikh Rabi bin Hadi Al Madkhali, bahwa orang ini termasuk orang yang paling berbahaya terhadap dakwah salafiyah. Dan syaikh Rabi sudah berupaya menahan diri… kurang lebih 7 tahun mencoba menasehati dan seterusnya.

Kalau ini benar adanya, niscaya seluruh tullab di Dammaj akan keluar dari Ma’had syaikh Muqbil. Apakah tullab Dammaj berisi orang bodoh semua, padahal disana masih ada sisa-sisa murid dari syaikh Muqbil?

Setahu kami, syaikh Yahya tidak pernah memulai menabur fitnah. Fitnah ini dimulai dari Syaikh Abdurrahman Al-Adeni yang “membawa diam-diam” murid-murid Dammaj keluar dari Ma’had syaikh Muqbil untuk belajar di Ma’had beliau yang baru dibangun di Aden.

Hal ini tidak disukai oleh syaikh Yahya. Lalu beliau memperingatkan syaikh Al-Adeni baik-baik, namun beliau bersikap keukeh untuk tetap membawa murid-murid Dammaj, karena menurut beliau apa yang beliau lakukan itu tidak salah.

Syaikh Yahya yang tersinggungpun mulai kehilangan kesabaran akhirnya membawa persoalan ini ke ranah agama. Dimulailah penghizbian Al-Adeni dan kroni-kroninya.

Tidak terima dengan hal ini Syaikh Al-Adeni bergerilia melaporkan masalah ini kepada para masyaikh yang ada di Yaman dan Saudi, dan jadilah syaikh Yahya dimusuhi oleh banyak pihak disebabkan mereka terlarut dalam curhat melankolis syaikh Al-Adeni.

Para ulama tersebut baik yang dari Yaman maupun Saudi lalu bangkit mengeroyok syaikh yahya dengan tuduhan-tuduhan yang tidak sesuai pada tempatnya, lalu syaikh yahya pun membalas mereka dengan balasan yang setimpal, tidak dikurangi-tidak pula dilebih-lebihkan. Tentu saja ini dilakukan untuk menjaga martabat beliau.

Pembalasan inikah yang disebut menjatuhkan kehormatan para ulama.

Membela diri disebut menjatuhkan “kehormatan para ulama?” Apakah ini yang diajarkan oleh syaikh Muqbil?

Dalam pembelaan dirinya, seperti saat syaikh Yahya membantah tudingan syaikh Rabi, beliau sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata atau istilah buruk kepada syaikh Rabi seperti yang syaikh Rabi lakukan, yaitu memberi gelar buruk kepada syaikh Yahya.

Apakah membela diri dari tudingan dilarang/diharamkan oleh Islam?

Bahkan dalam tahzir syaikh Yahya kepada Pak Lukman ini, kami tidak menemukan istilah-istilah buruk yang beliau alamatkan kepada Pak Lukman ini. Berbeda halnya dengan Pak Lukman ini yang kerapa kali ketahuan memberi gelar-gelar buruk kepada syaikh Yahya.

Mungkin di sini kita bisa melihat siapa yang ulama dan siapa yang juhala?

 Ini singkat sehingga kalau ada pertanyaan di salah satu kertas saya baca, apakah boleh belajar ke sana? Jawabannya: tidak boleh! Selama masih ada Yahyal Hajuri. Kita berdoa semoga Dammaj dikembalikan oleh Allah sebagaimana di zaman pendirinya, yaitu Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I rahimahullah ta’ala… Na’am.

Mungkin menurut Bapak Lukman Dammaj hanya diisi oleh Syaikh Yahya seorang. Dan semua murid-murid Dammaj hanya belajar kepada syaikh Yahya?

Mungkin juga Bapak Lukman ini mengira disetiap bulan, pekan, hari, jam, menit, detik murid-murid Dammaj hanya belajar mencela ulama dari syaikh Yahya.

Ada apa gerangan? Apakah Bapak lukman dihantui sesuatu sehingga melarang orang yang ingin belajar di Dammaj?

wallahu a’lam bis shawab. 

13 thoughts on “Kerancuan Bapak Lukman bin Muhammad Ba’abduh dalam Memahami Kategorisasi Akidah”

  1. Wuaduh… Pertanyaannya yang kurang jelas dipahami atau Penjawabnya yang nggak jelas pemahamannya, yach?!
    Atau… Ini akidah baru, kali?!
    Jadi… Wajarlah kalo akhi-akhi yang sudah “lawas” memahami akidah & manhaj salaf, terheran-heran mendengarnya?!
    (tapi ngomong-ngomong siapa salafnya)

  2. “Ya ikhwan…..Berilmulah sebelum berucap dan beramal”
    Menyadari akan keterbatasan diri dan bersikap tawadhu’, jauh lebih baik ketimbang memposisikan diri sebagai orang ‘alim tapi ternyata jahil. tertutupi oleh perkara ta’ashub Ashobiyyah.
    Nas’alullohu salamah wal afiat….

  3. ““Ya ikhwan…..Berilmulah sebelum berucap dan beramal”
    Menyadari akan keterbatasan diri dan bersikap tawadhu’, jauh lebih baik ketimbang memposisikan diri sebagai orang ‘alim tapi ternyata jahil. tertutupi oleh perkara ta’ashub Ashobiyyah.
    Nas’alullohu salamah wal afiat….””

    Masyaalloh, komen yang bagus, tp tolong sampaikan ini juga kepada admin di tukepencari***** atau damma******* atau sekalian kepada sang ust kibarnya.

  4. Assalaamu’alaikum. Ustadz, siapapun antum, salam kenal dari ana Abu Zur’ah (satria erlangga-angga) di jakarta. Mudah-mudahan kita bisa bersua di lain kesempatan. Untuk memperdalam pengenalan, ana yg pegang Buletin Jumat “Ahlussunnah-Jakarta” selama ta’lim di Itisham sudirman, dulu.. Pernah juga jadi admin website “ahlussunnah-jakarta.com” dan sekarang tinggal di Depok, dekat masjid Fatahillah dan Amwa. Ana murid Al Ustadz Dzulqarnain. Namun ana tidak memusuhi antum atas apa yg antum tulis. Tulisan antum juga menginspirasi ana ustadz, jazaakallahu khaira

    1. oh ya, biasa ajalah, cacian dan makian itu menurut ana adalah bagian dari dakwah, sejauh ini tidak ada dakwah yang aman dari cacian dan itu sudah terjadi dari zaman nabi2 terdahulu.

      dakwah itu perlu kritik untuk mengokohkannya, nabi Muhammad pun senantiasa di kritik oleh sahabat yang lainya dan itu biasa, hanya saja tolong dibedakan antara kritikan dari dzul huwaisirah dengan kritikan umar dan sahabat lain yang telah mendapatkan keridhaan dari Allah.

      Intinya kritikan tetap ana terima di sini asalkan berbobot, ilmiah da bertanggung jawab. jangan macam metoda kritikan dzul huwaisirah, saat ia mengkiritik nabi untuk bersikap adil lalu ditanya balik oleh nabi, kalau nabi saja dianggap tidak ada maka siapakah manusia di dunia ini yang bisa lebih adil?

      Dzul huwaisirah terdiam ga bisa jawab! dan rata2 kritikan oplosan macam dzul huwaisirah ini banyak dijumpai di blog ini oleh para komentator yang berlagak spiderman ((meminjam bahasa komentator yang bernama Hindun:mrgreen: )), pas ditanya balik ga ada argumentasi apapun dari mereka yang bisa dipertanggung jawabkan, bisanya hanya mencaci maki macam dzul huwaisirah, apakah mereka ini keturunannyakah?.:mrgreen:

      Intinya ana ngga trus benar, namanya manusia bisa saja salah, kalau mau kritik kritik ajalah dan jadikah itu adat sebagai thalibul ilmi cuman jangan berlagak seperti dzul huwaisirah.😛

  5. Engkau wahai para muqollid hajurriiyun dimana mauqifmu??!
    dengan lisanmu yang kotor sekarang ketika yahya al hajury menjadi mubtadi’ ….karena
    Mencela,menghina dan menuduh Shahabat Nabi
    Mencela dan menghina Ulama Ahlu Sunnah
    Mengumbar aib instansi pemerintah
    Ridho dirinya dikatakan IMAM TSAQALAIN

    Dan begitu banyak ucapan dan pujian-pujian yang sangat amat Ghuluw sehingga yahya al hajuri pun tersungkur telak karena tidak melihat kadar akan dirinya

    1. ente itu cuma ngoceh bukan mengkritik…
      Apa ente akan menanggapi ocehan anak kecil?:mrgreen:

      Semua syubhat ente itu sudah dibantah semua oleh Al-Hajuri ente saja yang ketinggalan kereta, kasihan.😛

Comments are closed.