Apakah Penulis Dammaj Habibah Cerdas?

Dalam situs dammaj habibah terdapat kritikan yang luar biasa… ngawurnya kepada salah seorang ulama asal Yaman, yaitu syaikh yahya al-hajuri yang berjudul: Mencermati Risalah Al-Mabadi’ Al-Mufidah Karya Syaikh  Yahya Al-Hajuri dari seorang Penulis yang “katanya” berasal dari situs wahyain, namun setelah kami cek kesana tenyata nihil.

Kami sendiri tidak merasa penting mengetahui siapa Penulisnya, sebagaimana kami juga merasa tidak penting; untuk memberi tahu siapa kami di sini, karena yang terpenting adalah apa yang kami tulis. 

Di dalam laman kritikannya ini si Penulis dengan PDnya membantah dan mengkritik isi kitab mabadiul mufidah yang ditulis oleh syaikh yahya, namun apakah bantahan tersebut berbobot sehingga menjadi nilai tersendiri bagi kita untuk menerima kebenarannya, ataukah sebaliknya? mari kita ikuti bersama.

Si Penulis mulai mengkritik Isi Kitab mabadiul mufidah :

cat: Yang diblok merah adalah kalam syaikh yahya sementara yang diblok biru adalah kalam si Penulis/Pengkritik.

Kritik Pertama : Al-Hajuri berkata (hal. 8) : Jika engkau ditanya, “Apa itu syirik?” maka jawablah, “Syirik adalah peribadahan kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla .”

Definisi syirik ini kurang. Karena itu adalah definisi syirik dalam bab Tauhid Uluhiyyah saja. Di mana syirik dalam bab Tauhid Rububiyyah – seperti keyakinan bahwa di sana ada yang turut andil berkuasa mengatur alam – atau syirik dalam bab Tauhid Al-Asma wa Ash-Shifat – seperti keyakinan bahwa di sana ada selain Allah yang mengetahui ilmu ghaib dan semisalnya – ?!

Semestinya definisi syirik adalah, menyamakan antara makhluk dengan Al-Khaliq dalam sedikit saja dari haq Rububiyyah, Uluhiyyah, atau pun Al-Asma wa Ash-Shifat. Atau kalimat semakna, sehingga dengan demikian tercakuplah seluruh jenis kesyirikan.

Supaya Al-Hajuri tidak berhujjah dengan apa yang dituliskan oleh Asy-Syaikh Muhammmad bin ‘Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi rahimahullah dalam risalah Al-Ushul Ats-Tsalatsah ketika beliau memberikan definisi Tauhid dan Syirik beliau mengatakan, “Perintah terbesar adalah Tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam peribadahan, dan larangan terbesar adalah Syirik yaitu berdoa kepada selain-Nya di samping kepada-Nya.”

Maka pernjelasannya adalah sebagai berikut, Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab rahimahullahdalam hal ini memiliki alasan. Syaikhul Islam menulis risalahnya tersebut mengkhususkan dalam bidang Tauhid Uluhiyyah karena beliau melihat kondisi masyarakat yang ada pada waktu itu. Syaikhul Islamrahimahullah menyatakan dalam “Al-Kaba’ir” mengatakan, “Syirik adalah menjadikan sekutu bagi AllahSubhanahu wa Ta’ala dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah-Nya. Kebanyakan yang terjadi adalah kesyirikan dalam Uluhiyyah, yaitu beribadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada-Nya, atau memalingkan sedikitnya saja jenis-jenis ibadah kepada selain-Nya, seperti menyembelih untuk selain Allah, atau Nadzar, atau Takut, atau do’a.”

Adapun risalahmu wahai Yahya, dimaksudkan untuk pengajaran dan penjelasan. Dan engkau dalam posisi meletakkan kaidah dan memberikan perincian. Maka berbeda antara dua risalah.

Ini adalah sebuah musibah dalam dakwah kalau terus dibiarkan tanpa dijelaskan hakikat yang sesungguhnya. Agar permasalahan ini mudah dipahami maka tulisan Penulis/Pengkritik ini kami buatkan entri pointnya:

  1. Penjelasan syaikh yahya tentang tauhid kurang
  2. Sebelumnya, definisi yang sama juga dikeluarkan oleh Asy-Syaikh Muhammmad bin ‘Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi rahimahullah dalam risalah Al-Ushul Ats-Tsalatsah
  3. Meskipun kedua tokoh ini sama dalam pemikiran tentang definisi syirik ini maka syaikh yahya tetap salah, karena Asy-Syaikh Muhammmad bin ‘Abdil Wahhab mengkhususkan dalam bidang Tauhid Uluhiyyah sementara syaikh yahya tidak demikian.

Kepada penulis yang “buta” ini kami hanya menyampaikan: Apakah Anda tidak tahu bahwa bahwa judul kitab ini adalah “Mabadi”.

Anda tahu itu artinya apa dalam bahasa Indonesia? Dari kritikan Anda ini saya melihat Anda tidak tahu. Oleh karena itu saya akan memberi tahu Anda secara gratis.

Mabadi (Dasar-Dasar) itu artinya adalah bahwa kitab ini untuk Pemula! Sekali lagi: Untuk Pemula, untuk mereka yang belum memiliki dasar-dasar dalam agama. Materinya dibuat seringan mungkin agar mereka mudah mencernanya. Bukan untuk mereka yang sudah tinggi tingkatannya… dan bukan pula untuk seorang thalib yang sudah berkembang pemahamannya.

Kondisi Anda ini hampir mirip dengan orang yang baru saja jadi sarjana pendidikan S. Pd kemudian membaca kembali buku anak SD, lalu buku tersebut ia kritik habis-habisan karena terdapat kekurangan dan kesalahan yang ia lihat di dalamnya. Ia sama sekali tidak bisa membedakan mana buku SD mana buku Perguruan TInggi, hanya karena temanya sama!

Ia lalu memaksa penulisnya untuk mengikuti pemahamannya yang super tinggi.

Merasa tidak enak (karena tiada guna membantah orang bodoh) maka si Penulisnya menuruti keinginan orang yang baru lulus sarjana tadi, maka jadilah buku bacaan “Perguruan Tinggi” dibaca oleh anak SD.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Menjadi bodohlah mereka karena harus memahami sesuatu yang tidak/belum mampu mereka pahami.

Sederhananya, orang ini memaksa anak SD yang baru belajar pertambahan untuk belajar mengenai ilmu geometri, hanya karena sama-sama dianggap pelajaran berhitung.

Jadi sebenarnya, siapa di sini yang bodoh?

Saya kira pembaca sudah bisa menebak.

Kritik Kedua : Al-Hajuri berkata (hal. 10) “Apa definisi ibadah?” maka jawablah, “Ibadah adalah nama yang mencakup untuk segala yang Allah cintai dan Allah ridhai.”

Ini adalah definisi dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam risalahnya “Al-‘Ubudiyyah”. Namun Al-Hajuri menyebutkannya dengan tidak lengkap, sehingga maknanya pun berubah! Karena definisi Syaikhul Islam di atas masih ada lanjutannya, yaitu “… berupa ucapan dan perbuatan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.”

Dengan demikian tidak termasuk dzat/benda-benda, karena dzat/benda-benda tersebut tidak masuk dalam definisi.

Karena sesuatu yang Allah cintai dan Allah ridhai itu bisa berupa ucapan, perbuatan, atau pun yang lainnya.Ucapan yang Allah cintai seperti dzikir, qira`atul Qur’an, dan lainnya. Perbuatan yang Allah cintaiseperti shalat, shaum, dan lainnya. Dan di sana ada pula dzat/benda-benda yang  Allah cintai seperti para nabi, orang-orang shalih, tempat suci, dan semisalnya. Apakah tempat-tempat suci dan diagungkan, seperti masjid-masjid, masuk dalam definisi ibadah? Sementara Allah mencintai dan meridhai tempat tersebut?

Dengan definisi yang disebutkan secara lengkap oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Nama yang mencakup segala yang Allah cintai dan Allah ridhai, berupa ucapan dan perbuatan, baik yang tampak maupun tidak tampak.” Dengan batasan tersebut keluarlah dzat/benda-benda yang Allah cintai dan Allah ridhai. Namun sayang, Al-Hajuri tidak paham makna perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Di sini tidak ada bantahan berarti dari si Penulis kepada syaikh Yahya, kecuali hanya mengulangi kesalahan yang sama seperti di atas.

Penulis ini benar-benar tidak paham bahwa kitab mabadi ini adalah untuk pemula.

Saran kami, mungkin si Penulis harus sekolah dari SD sampai perguruan tinggi lagi, karena di sana ia akan menjumpai definisi-definisi yang terus dikembangkan dari buku ke buku seiring berkembangnya akal pemikirannya sebagai seorang siswa hingga mahasiswa.

Kritik Ketiga, perkataan Al-Hajuri (hal. 25) “Apa yang kita yakini terhadap Al-Qur`an Al-Karim yang terdapat dalam mushaf?” maka jawablah, “Aku meyakini bahwa itu adalah Kalamullah bukan makhluk.”

Ini adalah kesalahan yang sangat fatal, bahkan ini merupakan kesalahan yang paling jelek di sini, apalagi kesalahan ini dilakukan oleh “orang terkenal” seperti Yahya Al-Hajuri!! Sebenarnya Al-Hajuri sudah dinasehati oleh sebagian ikhwan bersamaan keluarnya risalah ini. Namun sayang balasannya sebagaimana Jaza`u Sinimmar” [1], karena Yahya Al-Hajuri hanya siap untuk menjadi An-Nashih (sang pemberi nasehat) bukan sebagai Al-Manshuh (yang mendapat nasehat).

Wajib atasmu untuk rujuk dari kesalahan di atas. Terlebih lagi kitabmu ini dihafal dan dipelajari oleh anak-anak kecil di markiz-markiz ilmu. Maka mana itu nashihah untuk anak-anak muslimin dan untuk aqidah salafiyyah wahai “An-Nashih Al-Amin”?!

Al-Qur’an adalah Kalamullah secara keseluruhan, baik yang dibaca, didengar, tertulis, dihafal, dan lainnya. Dan kita tidak mengkhususkan hanya Al-Qur’an yang ada di mushaf saja sebagaimana ucapan Al-Hajuri.

Ash-Shabuni rahimahullah berkata dalam “Aqidah As-Salaf ash-habil hadits” : “Yaitu yang dihafal dalam dada, dibaca oleh lisan, ditulis di mushaf, bagaimana pun dibaca oleh sang qari’ (pembaca), dilafazhkan oleh sang pengucap, dihafal oleh sang penghafal, ketika dibaca, dan di tempat manapun dibaca, atau tertulis di mushaf-mushaf ahlul Islam, atau lembaran-lembaran anak-anak mereka, dan lainnya, semuanya adalah kalamullah bukan makhluk. Barangsiapa yang meyakini itu adalah makhluk maka dia telah  kafir kepada Allah yang Maha Agung.”

Ungkapan-ungkapan para ‘ulama dalam masalah ini sangat banyak dan diketahui. Namun entahlah di mana para masyaikh aqidah di Dammaj?

Masih sama dengan di atas, tetap mengulangi kesalahan yang sama. Tapi ada sedikit yang lucu di sini, ternyata si Penulis ini tahu bahwa kitab ini untuk anak kecil, tapi dia tetap memaksa agar anak kecil mencerna jalan pemikiran orang dewasa. Sungguh sebuah musibah kebodohan yang nyata…

Ia tahu bahwa api itu panas dan membakar namun ia tetap meletakkan tangannya di atas api. Jadilah ia binasa karenanya. Sungguh kebodohan yang tak mampu lagi diselamatkan.

Tapi ada beberapa hal yang ingin saya singgung di sini.

  • Syaikh yahya mengatakan Al-Quran (membenarkan pertanyaannya sendiri bahwa Al-Quran yang ada di mushaf) adalah Kalamullah bukan makhluk
  • Si Penulis membantahnya dan mengatakan bahwa yang namanya Al-Quran bukan hanya di Mushaf saja tapi Al-Qur’an adalah Kalamullah secara keseluruhan, baik yang dibaca, didengar, tertulis, dihafal, dan lainnya.

Maka kami meminta kepada si Penulis ini untuk menjelaskan kepada anak kecil tentang Al-Quran di luar Mushaf, kira-kira apakah mereka akan paham?

Kalau si Penulis ini tetap tidak paham juga mengenai pembagian porsi pemahaman berdasarkan usia thalibul ilmi maka siapakah yang dapat memahamkannya?

Apakah Anda bisa wahai pembaca!

Kritik Keempat, pernyataan Al-Hajuri (hal. 28). “Ada berapa jenis Tawassul? Jawablah : “Ada tiga”

Sebagai sikap adil saya katakan ini bukan termasuk kesalahan yang menjadi poin kritik atas kitab ini. Namun ungkapan Al-Hajuri dalam hal ini kurang tepat. Karena jenis-jenis tawasul itu lebih dari tiga. Para pembaca bisa merujuk pada “Majmu’ Fatawa” Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin. Beliau menyebutkan. Seingat saya beliau menyebutkan sekitar enam jenis.

Kalau saja Al-Hajuri mengatakan “yang paling terkenal ada tiga” maka ungkapannya akan lebih  tepat. Namun alasan Al-Hajuri di sini adalah dia menyebutkan jenis tawasul yang terkenal saja.

Hampir sama dengan kesalahan yang sebelum-sebelumnya. Tidak ada bantahan esensi di sini darinya kepada syaikh yahya.

Kami hanya ingin bertanya kepada si Penulis ini, kira-kira para Pemula ketika bertanya kepada Penulis ini ada berapa jenis tawasul?

Lalu si Pengkritik ini akan menjawab, “yang paling terkenal ada tiga”, apa dengan menjawab demikian mereka akan diam saja.

sewaktu-waktu mereka pasti akan bertanya lagi hingga masuklah mereka ke pintu/kelas yang belum layak mereka masuki. Dan jadilah mereka semakin kacau dalam pemahaman.

Bagaimana bisa sebuah gelas diisi oleh air sebak hanya karena sama-sama bisa menampung air?

Apakah penulis ini sengaja bercita-cita ingin jadi orang bodoh? Wallahu a’lam

Kritik Ke-5 : Pernyatan Al-Hajuri (hal. 31) “Apa hakekat Al-Intikhabat (Pemilu)?” Maka jawablah, “Itu adalah termasuk sistem demokrasi yang bertentangan dengan syari’at Allah.”

Dalam masalah Al-Intikhabat, Pertama kali kita tuntut Al-Hajuri dan kita katakan padanya, “Siapakah yang mendahuluimu dari kalangan para ‘ulama yang memasukkan Al-Intikhabat dalam permasalahan aqidah?!”

Hingga sekarang pun engkau belum memberikan definisi Al-Intikhabat. Dalam jawaban di atas engkau hanya menjelaskan bahwa Al-Intikhabat itu sama dengan demokrasi dalam hukumnya. Padahal tidak diragukan bahwa definisi merupakan hal pertama dan utama untuk menjelaskan hakekat sesuatu. Sementara di sana di antara manusia ada yang sama sekali tidak tahu apa itu al-intikhabat, atau tahu tapi dengan pengetahuan yang minim/sedikit, sehingga perlu definisi yang jelas.

Al-Intikhabat (Pemilu) adalah : “Memilih orang yang paling banyak pendukungnya untuk suatu jabatan/kedudukan tertentu.” Masuk dalam definisi banyak gambaran bentuk-bentuk al-intikhabat. Di antaranya pemilihan pemimpin (presiden), pemilihan parlemen. Demikian juga  masuk di dalamnya al-intikhabat yang dilakukan di jum’iyyah-jum’iyyah, dan yang dilakukan di perserikatan dagang, dan lainya.

Mafsadah-mafsadah yang disebutkan oleh Al-Hajuri tidak mencakup seluruh bentuk al-intikhabat yang tersebut di sini, namun hanya sebagian bentuknya saja, seperti pemilihan presiden dan anggota parlemen. Jadi ungkapan Al-Hajuri kurang tepat.

Nah ini yang paling menarik untuk saya tanggapi, di luar kebodohan yang sudah-sudah dari si Penulis ini.

Pertama “tema besar” yang ingin dibahas syaikh bukan pada intikhabatnya, tapi pada penyelisihan terhadap syariat Allah dengan mengambil contoh Pemilu. Dan contoh terbaik untuk diberikan kepada thalib adalah contoh kekinian yang dekat dengan mereka.

Inilah yang sama sekali tidak dapat dilihat/dipahami oleh si Penulis, maka tidaklah mengherankan bila ia dengan kebodohannya bertanya:

  • Dalam masalah Al-Intikhabat, Pertama kali kita tuntut Al-Hajuri dan kita katakan padanya, “Siapakah yang mendahuluimu dari kalangan para ‘ulama yang memasukkan Al-Intikhabat dalam permasalahan aqidah?!”
  • Hingga sekarang pun engkau belum memberikan definisi Al-Intikhabat. Dalam jawaban di atas engkau hanya menjelaskan bahwa Al-Intikhabat itu sama dengan demokrasi dalam hukumnya. Padahal tidak diragukan bahwa definisi merupakan hal pertama dan utama untuk menjelaskan hakekat sesuatu. Sementara di sana di antara manusia ada yang sama sekali tidak tahu apa itu al-intikhabat, atau tahu tapi dengan pengetahuan yang minim/sedikit, sehingga perlu definisi yang jelas.

Karena memang syaikh Yahya bukan dalam konteks membahas Pemilu ansich. Logika ini sama dengan orang yang berbicara dengan meletakan objek di depan: Yang harusnya “Budi memakan Nasi” menjadi “Nasi dimakan Budi” Atau seperti seseorang yang menggunakan metoda deduktif dan induktif dalam proses penalarannya.

Apakah perubahan ini memberi dampak makna yang berbeda? sehingga menghasilkan kekeliruan atau kesesatan berpikir!

Kalau iya, sebagaimana yang disangkakan Penulis di atas tentang demokrasi yang masuk dalam wilayah akidah maka kami sarankan orang ini untuk belajar yang tekun tentang ilmu bahasa.

Kritik ke-6 : Pernyataan Al-Hajuri (hal 31) : “Apa hukum hizbiyyah?”

Sungguh engkau tidak ada pendahulunya dalam metodemu yang aneh ini, yang kita tidak pernah tahu seorang pun dari ‘ulama yang menempuh cara ini dalam mentalqin anak-anak kecil baik di masjid-masjid maupun di markiz-markiz. Cukup memperingatkan anak-anak dari bahaya hizbiyyah di pelajaran-pelajaran umum.

Dan aku tidak tahu di mana masuknya hizbiyyah, apakah dalam tauhid, fiqh, atau aqidah. Karena risalahmu ini mencakup tiga bidang tersebut, judulnya  adalah Al-Mabadi` Al-Mufidah fil Fiqh wa at-tauhid wa al-‘aqidah.!!

(Diterjemahkan dari  http://wahyain.com/forums/showthread.php?t=1515&highlight dengan sedikit perubahan dan tambahan)

Yang ini lebih menarik lagi untuk ditanggapi. Ada sedikit kemajuan yang berarti dari si Penulis dalam berpikir, meskipun cuma sedikit.

Pertama pertanyaan ini, dalam kitab tersebut berada di luar kajian Fiqih no 49 sementara fiqih dimulai dari no: 41, itu artinya ia terletak pada tema Akidah dan Tauhid.

Pertanyaan kita, apakah hizbiah bukan bagian dari Akidah?

Apakah firman Allah dan sabda Nabi ini (Yang terdapat dalam kitab Mabadiul Mufidah saat Syaikh Yahya menjelaskan hakikat Hizbiyah)

﴿وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ * مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ﴾ [الروم: 31-32].

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa kelompok, tiap-tiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada kelompok mereka”. (Ar-Rum: 31-32). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا﴾ [آل عمران: 103].

“Dan berpegang teguhlah kalian kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian bercerai berai”. (Ali Imran: 103). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ﴾ [الأنبياء: 92].

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian; dia adalah agama yang satu dan aku adalah Robbmu, maka sembahlah Aku”. (Al-Anbiya’: 92). Dan perkataan-Nya (تَعَالَى):

﴿أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾ [المجادلة: 22].

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Hizbulloh itu adalah golongan yang beruntung”.(Al-Mujadilah: 22). Dan dari Abdulloh bin ‘Amr Ibnul ‘Ash semoga Alloh meridhoi keduanya baliau bekata: Berkata Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ):

((…..وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً (أي فرقة) واحدة)). قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى».

“Dan akan berpecah belah umatku menjadi 73 (tuju puluh tiga) millah semuanya masuk nereka kecuali 1 (satu) millah (yaitu kelompok). Para shohabat berkata: Siapa satu kelompok itu wahai Rosululloh? Rosululloh (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) berkata:Yaitu golongan yang menempuh di atas (metode)ku dan para shohabatku berada di atasnya“. (HR. At-Tirmidzi (5/26) dan hadits ini memiliki penguat dari hadits Mu’awiyyah semoga Alloh meridhoinya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4597) dan Ahmad (4/102). Dan pada hadits ini pula terdapat penguat dari hadits lain. Maka hadits ini adalah hasan.

            Dan perkataannya:

«كُلُّهُا فِى النَّارِ».

“Semuanya dalam neraka” padanya terdapat penjelasan tentang perihal ahli ahwa(para pengekor hawa nafsu) dan celaannya mereka.

Bukan bagian dari Akidah?

Bila si Penulis ini menolak tentu kita bisa bisa memahaminya, karena ia memang menolak firman Allah dan hadits Nabi di atas sebagai bagian dari akidahnya.

Wallahu a’lam bishawwab

83 thoughts on “Apakah Penulis Dammaj Habibah Cerdas?”

  1. terus berikan bantahan kepada mereka, mereka harus diberi pelajaran. Tahzirlah mereka wahai admin,

  2. Bismillah. Definisi ibadah:
    Syaikh Yahya: “nama yang mencakup untuk segala yang Allah cintai dan Allah ridhai”
    Ibnu Taimiyyah: “nama yang mencakup untuk segala yang Allah cintai dan Allah ridhai berupa ucapan dan perbuatan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.”

    Yang ingin ana tanyakan pada ustadz admin: Apakah dibolehkan meringkas (memotong) sebuah definisi yg SUDAH BENAR dg alasan untuk pengajaran kepada anak kecil?
    Tolong ustadz admin jangan bermain logika dengan pelajaran matematika, SD-S1 dll dr urusan dunia. Ini kita sedang bicara masalah syariat. Gak bakal nyambung, meski dicoba disambung-sambungkan.
    Karena peringkasan yang dilakukan syaikh Yahya tsb memberikan konsekuensi yg tdk ringan. Ka’bah, masjid, dsb dr benda2 akan dikategorikan ibadah dg definisi syaikh Yahya tsb.
    Adapun pengajaran thd anak, apakah tdk sebaiknya justru anak diberi sesuatu yg benar untuk mereka hafal? Bukankah materi kitab syaikh Yahya ini memang ditujukan dan utk dihafal anak-anak? Tidak disodori dg pemahaman yg njlimet atau fikih yg mendalam? Lhah kalo anak menghafal sesuatu yg salah gimana ustadz? Apa kalo SD boleh salah, dan nunggu nanti kalo sdh S-1 baru memperoleh revisian dr kesalahan tsb?
    Smg Allah merahmati syaikh Muhammadz bin Jamil Zainu yg menukil dg lengkap ucapan Ibnu Taimiyyah ttg definisi ibadah dlm kutaib beliau “Khudz Aqidatak…”. Dan setahu ana kitab2 beliau jg sering dijadikan rujukan pengajaran untuk anak2 & masyarakat awam.
    Mohon pencerahannya ustadz krn saya sama sekali tdk meragukan kecerdasan antum. Meski antum jg memilih menjadi ‘hantu’ dlm hal identitas sbgmn yg antum coba untuk buru (tukpencarialhaq.wp).

    1. saya kira hal tersebut tidak dibenarkan!
      hanya saja masalahnya di sini adalah: Apakah definisi syaikh yahya merupakan salinan ulang dari kitab Ubudiyah Ibnu Taimiyah?
      saya kira tidak! Karena mereka memiliki pendalilan masing-masing. Silahkan ente bandingkan sendiri 2 kitab tersebut.
      Jadi, syaikh yahya tidak seperti yang dibayangkan, bahwa beliau sengaja memotong definisi ibadah syaikh Islam Ibnu Taimiyah, karena ia memiliki pendalilan tersendiri, yaitu zumar ayat 7

      Logika, syariat, terpisah?
      Ya akhi ente ini belajar dari siapa? dari manusia atau dari Allah?
      Padahal guru manusia adalah Allah!

      عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
      Allah Mengajarkan manusia apa-apa yang tidak mereka ketahui (Al-Alaq: 5)

      Apa ente tidak baca ayat ini:

      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

      “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), itupun jika kamu bisa berpikir logis.” (QS. Ali Imran[3]: 118)

      dalam ayat ini Allah menasihatkan kita semua untuk tidak mengambil orang2 di luar kalangan kita sebagai orang kepercayaan?
      Apakah ini bagian dari syariat atau tidak? Jawab kalau bisa…

      Dan ini yang menjadi elan vital di sini, Allah menutup firmannya dengan ucapan: jika kamu bisa berpikir logis.”

      Jadi kalau kita tidak berpikir logis maka kita takan bisa memahami ayat ini. dengan kata lain Allah ingin mengatakan bahwa yang bisa memahami ucapan Allah hanyalah mereka yang berpikir logis!

      Kalau ente melarang saya berpikir logis maka itu sama saja ente mengkerdilkan nilai-nilai quraniyah bahkan mengajak saya untuk menolak pesan-pesan dalam al-quran. Tentu saja pemahaman sesat seperti ini tidak akan saya ikuti.

      Nah mengenai ka’bah, dll sebagaimana yang ente sebutkan, maka saya rasa itu hanya bualan dan hayalan ente saja. Tidak ada syaikh yahya memaksudkan demikian dalam definisinya mengenai ibadah.
      Definisi ibadah dari syaikh yahya dilatari oleh ayat 7 surat azzumar.

      dalam mabadiul mufidah disebutkan:

      Jika dikatakan kepadamu: Apa pengertian Ibadah? Maka kamu katakan: Ibadah adalah suatu nama yang mencakup seluruh apa-apa yang Alloh mencintainya dan meridhainya[21], dan dalilnya adalah perkataan Alloh (تعالى):
      ﴿إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ﴾ [الزمر: 7].
      “Jika kalian kafir maka sesungguhnya Alloh tidak membutuhkan kalian dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya; dan jika kalian bersyukur, niscaya Dia meridhai bagi kalian kesyukuran kalian itu”. (Az-Zumar: 7).

      Penjelasan:
      Di sini saya ingin bersikap seadil-adilnya tanpa berniat mengkerdilkan senioritas syaikh Islam. Kalau kita membandingkan definsi ibadah syaikh Islam Ibnu Taimiyah dengan syaikh Yahya berikut pendalilannya maka akan kita temukan bahwa pendalilan syaikh yahya sangat kuat dan mendukung ayat Az-Zumar ke 7.

      Sementara pendalilan IBnu Taimiyah dalam kitab ubudiyah sangat nihil mengenai gambaran ibadah. Dalil-dalil yang digunakan Ibnu taimiyah hanya menyebut ulang tentang kata ibadah. Seperti:

      وَمَا خلقت الْجِنّ وَالْإِنْس إِلَّا ليعبدون

      tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku, (Adz-Dzariyat: 56) dan segudang ayat lainnya, yang mana itu semua tidak menjelaskan gambaran ibadah seperti apa?

      tapi lihatlah syaikh yahya. Beliau berargumen dengan ayat ini.

      ﴿إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ﴾ [الزمر: 7].
      “Jika kalian kafir maka sesungguhnya Alloh tidak membutuhkan kalian dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya; dan jika kalian bersyukur, niscaya Dia meridhai bagi kalian kesyukuran kalian itu”. (Az-Zumar: 7).

      Definsi syaikh yahya sangat selaras dengan ayat ini. (syaikh berkata: Ibadah adalah suatu nama yang mencakup seluruh apa-apa yang Alloh mencintainya dan meridhainya). Dan di ayat ini orientasi ibadah tentu saja dibatasi dan dikaitkan dengan perbuatan, seperti bersyukur, dll, bukan malah lari ke benda-benda seperti ka’bah, dll seperti yang ente hayalkan.

      dengan demikian cibiran ente yang mengatakan anak kecil harus diajari pemahaman/hafalan yang benar maka itu kembali ke ente sendiri yang tidak benar dalam memahami hujjah syaikh yahya.

      wallahu a’lam bis-shawwab.
      Semoga Anda dapat berpikir logis. Amin
      Kalau Anda tidak puas, maka itu karena saya bukan ulama.

      1. ana juga kepengen ketemu dengan akhi dimana kira 2 alamatnya atau sms ke no Hp.085272265164 jazakallahukhairan

  3. dulu ada web inilahfakta , satusalafy , sekarang predatortukpencarialhaq ,..kita liat aja -Allahul musta’an- dilihat dari artikel2 nya hanya hujjah tanpa bukti,..akankah situs ini akan bertahan lama -Allahu a’lam- kita liat aja kedepannya,..

    1. Terima kasih atas dukungannya mudah-mudahan rasa kecewa dan luka lama Anda terobati.
      Tapi akan lebih baik lagi, bila komentar Anda tidak menyerang Anda sendiri.
      Mohon tampilkan “hujjah tanpa bukti” yang Anda maksyud?
      karena bila tidak… itu sama saja Anda menjelmakan diri Anda sebagai tukang fitnah.😀

    2. Akhi Abu Fatkitah Assalamu Alaikum
      Afwan nih bila ane ikut nyerobos. Ada baiknya ente itu menyanggah disertai bukti. Bukan menyerang secara buta begitu tanpa jelas apa yang dilihat. Kasian ane liat orang kayak ente. Ngga denger apa ente kata Admin Ust: Agma ini nasihat, gitu katanya. Sampaiakn donk nasihat ente di sini biar yang lain jg pada tau.

  4. Admin stad teruslah menulis jangan terpengaruh orang2 macem abu pakhitah di ats.

  5. Ustadz afwan itu kok ada gambar wajah tersenyumnya?
    Antumkah ustadz Sofyan Basweidan?

  6. Bismillah,
    ust admin…
    kok ya ada ust kyk antm.

    alhamdulillah,
    ane senang banget ktm blog ini.

    perkenalkan,
    ane dl riwayatnya sering ngaji live di ust yg sering mentahdzir, tp untuk kajian rekaman malah bnyk dr ust yg tertahdzir.. sehingga ana tau banget bahwa keduanya menyampaikan hal yg sama sebenarnya insya Alloh dlm masalah manhaj, aqidah, ibadah dll. Hanya saja mereka terfitnah oleh syaiton shgg mereka saling menyalahkan.
    wajib kita untuk menyatukan mereka.. berbuat seadil2nya dlm menyikapi perbedaan.
    kebanyakan ihwan2 kl udah mendukung salah satu kelompok, maka lngsng antipati dg klmpok lain. bgm mau tau kebenaran kl blm2 sudah taasub pd kelompoknya.

    salam salafy warna warni
    disini senang, disana senang, dimana2 hatiku senang.

  7. waduh,
    jgn pake istilah bunglonlah kl sesama salafy,
    mending pakai istilah non-blok.
    non-blok bukan berarti mengikuti kesalahan kl ada, tp menjaga diri dr TAHDZIR serampangan yg menyebabkan perpecahan.
    sbgmn istilah antum 1+5= 6 dan 1+6=7 … sbnrnya kan semua sama2 bnr. hny saja kl ada salah satu yg mengklaim paling benar … itulah yg perlu diluruskan.
    bukan gitu ta ustadz?
    Barakallohufik

  8. ADMIN terlihat tendensius banget, pasti pihak turrobiyyun. Gak sopan, n keminter. Padahal pengkritik benar adanya,…dan admin membodoh2kan…Allahul mustaan,..ini bukan ahlaq Salafy

    1. emang ahlaq salafy seperti apa,,,atum menuduh orang sembarang itu ahlaq salafy ya???salafy mana wah salafy salah asuhan kali,,,tong kosong nyaring bunyinya,,

    1. emangnya kenapa isnad.net tsb toling dong beritahu ana kesalahanya dimana ana tunggu ya syukron

  9. orang kyk gini g usah dilayani akhi, ditnggpi makin nyengir sj, … ngsih nama blog sj murahan, …. sdh jlas orngny dngkal cr perpikirnya,…. bukn alhaq yg dia buru, tp… manhaj KRANJANG SAMPAH!!!! yg masuk dalam otaknya… afwan. (ini contoh virus ditengah salafyin.)…. CERMATI ITU.!!!

    1. kalau cuma sekedar menghina maka siapapun bisa melakukan hal itu termasuk orang dungu sekalipun.:mrgreen: Seorang thalib itu karakternya adalah ilmu (artinya kalau ente punya ilmu yang benar sampaikan di sini), bukan hinaan karena hinaan adalah karakter orang jahil.:mrgreen:
      Dan maaf2 saja kami sangat jauh dari itu. Kalau anda bisa mengkritik dengan tujuan mengharap ridho Allah maka silahkan kritik tulisan ini, dada ana akan selalu terbuka terhadap kebenaran. Tapi… apa ente sanggup melakukan hal yang semisal ana ini?!:mrgreen:
      kata orang Arab sana: “Yang tak memiliki takan bisa memberi”:mrgreen: kata orang sini: “Tong kosong nyaring bunyinya!”:mrgreen:

    1. Ana laki-laki loh. Kalo ente ngeyel nuduh ana akhwat maka ana cuma bisa katakan, ente lebih pandai dari dukun. Dukun aja yg suka tipu menipu ga sepandai ente, maka bagaimana kiranya orang yang lebih pandai dari dukun?:mrgreen:

  10. Makanya ….semua pada mau kenalan langsung ditolak, lha wong admin ini akhwat …, baru nyadar saya.

  11. @anonim
    apakah ente ini kelaian? Mana bisa mendeteksi kelamin manusia lewat blog. hehe. jangan2 ente ini… hiiiii serem

  12. aneh aneh…
    ko kang admin seneng banget sih pake gambar muka bukannya itu kagak boleh?
    aku ga yakin ni orang ingin membela alhaq…
    allohuma salim salim

    1. coba ente lihat ktp ente. foto siapa tuh yang ada di sana?:mrgreen:
      coba ente lihat ktp ente. foto siapa tuh yang ada di sana?:mrgreen:
      Mungkin maksud ente, kalau yang melanggar adalah ente sendiri maka itu dianggap tahu agama, namun kalo yang melanggar ana, maka ana dianggap melanggar agama. Enak juga ya jadi orang seperti ente, bisa kebal hukum agama gituh:mrgreen:

  13. hati hati dengan orang ini!!!!!!…
    seperti namanya dia adalah predator untuk pencari al haq siapa saja yang akan mencari al haq akan di terkam liat saja tingkah dia di satu sisi bicara agama di sisi lain bermudah mudahan melanggar agama,betul betul bermudah mudahan dengan gambar bernyawa…..
    liat artikel artikelnya…
    sangat ga yakin klo ni admin tau agama
    alloh yahdik..

    1. coba ente lihat ktp ente. foto siapa tuh yang ada di sana?:mrgreen:
      Mungkin maksud ente, kalau yang melanggar adalah ente sendiri maka itu dianggap tahu agama, namun kalo yang melanggar ana, maka ana dianggap melanggar agama. Enak juga ya jadi orang seperti ente, bisa kebal hukum agama gituh:mrgreen:

  14. makin yakin klo kang admin ga tau ilmu…
    masa foto ktp di samakan dengan muka nyengir di hiasan tulisannya dan gambar gambar lain yang ia pampang…
    alloh yahdik..alloh yahdik…
    AKAN DATANG SUATU ZAMAN ORANG BODOH BICARA AGAMA

    1. denger ente ngomong gitu ane jadi keingat lagu anak kecil:
      “semut2 kecil saya mau tanya, apakah kamu di dalam tanah tidak takut setan?”:mrgreen:
      Menurut prasangka anak kecil semut itu bisa takut sama setan!:mrgreen:

      @Aku
      Ente ini serupa dengan si unzu (komentator di sini) yang besar mulut daripada ilmu. Sebelum mencap orang itu bodoh bawakan dulu bayyinah yang terperinci di sini atas dakwaaan ente itu. Lha ente di sini diskusi aja belum sudah mencap ana bodoh!:mrgreen:
      Kalau ente mau diskusi untuk mencari kebenaran ana layani tapi kalau mau membuang hinaan yang ada di kepala ente maka lakukan sesuka ente di blog ini, ngga akan ana larang.:mrgreen:
      Biar semua orang mengenal ente dari kata2 ente:mrgreen:

      Jadi, mau diskusi atau mau memfitnah manusia?:mrgreen:

      Kalau mau diskusi ana tanya, foto KTP sama gambar yang ente tuduhkan itu bedanya dimana?

  15. berpalinglah dari orang orang bodoh….
    begitulah kira kira perintah alloh…
    baik lah aku akan berpaling dan semoga alloah memberi taufik ke padaku dan kang admin serta semuanya,,,
    amin amin

    1. denger ente ngomong gitu ane jadi keingat lagu anak kecil:
      “semut2 kecil saya mau tanya, apakah kamu di dalam tanah tidak takut setan?”:mrgreen:
      Menurut prasangka anak kecil semut itu bisa takut sama setan!:mrgreen:

      @Aku
      Ente ini serupa dengan si unzu (komentar di sini) yang besar mulut daripada ilmu. Sebelum mencap orang itu bodoh bawakan dulu bayyinah yang terperinci di sini atas dakwaaan ente itu. Lha ente di sini diskusi aja belum sudah mencap ana bodoh!:mrgreen:
      Kalau ente mau diskusi untuk mencari kebenaran ana layani tapi kalau mau membuang hinaan yang ada di kepala ente maka lakukan sesuka ente di blog ini, ngga akan ana larang.:mrgreen:
      Biar semua orang mengenal ente dari kata2 ente:mrgreen:

      Jad, mau diskusi atau mau memfitnah manusia?:mrgreen:

      Kalau mau diskusi ana tanya, foto KTP sama gambar yang ente tuduhkan itu bedanya dimana?

  16. semoga pemilik blog (akhwat) ini bukan orang “setengah gila”….aamiin. wes gek nikaho wae lah …

  17. Bismillah.
    Alhamdulillah dan jazaakumullah khoir atas faidah2 dari admin. Ana baru beberapa hari menemukan blog ini, dan ana dapati di dalam beberapa artikel yg telah ana baca, ana menemukan banyak faidah yg tidak ana temukan di tempat lain. Adapun komentar2 miring tentang artikel di blog ini maka ana katakan
    “Orang yg sudah pandai tentu sudah pernah merasakan kebodohan, tapi sebaliknya, org bodoh belum pernah merasakan kepandaian. Atas dasar itulah si bodoh tidak merasa kalau dia itu bodoh dan menganggap semua org sama atau bahkan lebih bodoh dari dia, dan dengan landasan itu pula dia berani mengomentari org2 yg lebih pandai dari dia dg komentar yg bersumber dari kebodohan mereka. Akibatnya keluarlah komentar bodoh. Seperti halnya pemain sepak bola, sehebat apapun dia, tapi jika sekali saja melakukan kesalahan misalkan menendang pinalti tapi tidak masuk alias bolanya melambung. Pasti penonton yg notabene bodoh atau bahkan jauh lebih bodoh tentang permainan akan mengatakan pemain tsb BODOH”
    Sekian dulu komentar dari ana, mudah2an dapat jadi masukan bagi kita semua, dan sekali lagi ana ucapkan jazaakumullah khoiron bagi admin, lanjutkan terus blog ini selama di niatkan untuk ikhlas lillah.

  18. Jk hajuri itu ulama (hei muta’ashib!!!), tentu pendefinisian ibadah itu benar. yang benar adalh pndefinisian ibnu taimiyah. shgga jk definisi hajuri bloon ini dipakai tentu nabi musa, nabi isa, ali bin abi thalib termsuk ibadah, malaikat jibril juga trmasuk ibadah, karna mrka semua itu dicintai dan diridloi allah!!!
    shgga ibadah itu brupa ‘amalan dan ucapan baik itu yang lahir maupun yang batin’, bkan brupa orang dan malaikat. sangat tolol hajuri ini!!

    1. Bismillaah..
      To Roni
      Sepertinya anak-anak aja ga ada yg pemikirannya kaya roni, contohnya aja anak ana (umurnya baru 5 tahun) alhamdulillaah paham definisi ibadah yg di maukan di kitab mabadiul mufidah (alhamdulillaah anak ana paham bahwa mengucapkan kalimat thoyyibah adalah ibadah,.. sholat, dan berbuat baik pada ayah ibunya adalah ibadah) tidak sampai terbetik di benaknya bahwa nabi Musa nabi Isa adalah ibadah, roni umurnya berapa toh…?

    2. roni,

      yang tolol itu bukan hajuri ya, tapi orang yang tidak paham. ciri orang tolol adalah ia tidak paham lalu mentololkan orang lain dengan ketololannya.

      setiap bidang disiplin ilmu yang sudah dipahami bersama biasanya ia tidak disebutkan lagi, karena sudah sama-sama dipahami arah yang dimaukan.

      Seperti: Bidah, definisinya adalah segala yang baru. kata Nabi bidah (segala yang baru) itu sesat dan tempatnya di neraka.

      makanya bertanyalah orang-orang tolol, berarti naik pesawat itu bidah ya, soalnya itu sesuatu yang baru dan tidak ada di zaman nabi? berarti naik motor juga itu bidah dan masuk neraka ya?😛

      kurang lebih seperti inilah penggambaran otak ente yang payah itu dalam memahami ucapan al-hajuri, bila dikaitakan dalam konteks ibadah yang kita bincangkan ini, sebab sebagaimana sama2 sudah kita ketahui bahwa bidah yang dimaksud nabi adalah dalam masalah agama, meskipun nabi tidak menyebut agama di dalamnya!

      jadi definisi al-hajuri di atas sudah masuk dalam amalan maupun ucapan meski ia sendiri tidak menyebutkannya, kalo cara pandang al-hajuri ini ente anggap bloon maka nabi pun demikian karena tidak merinci bidah apa yang beliau maksud, sebab nabi tidak menyebut bidah dalam agama, tapi bidah dalam artian umum.

      Apa sudah bisa dimengerti roni penjelasan admin yang ente katakan ” sbangsa setan atau iblis” hiiii serem:mrgreen:

  19. jika hajuri hanya meyakini bahwa al-Quran yang kalamullah itu hanyalah yang di mushaf, tentu ia menjadi orang yang terbodoh di dunia.
    kalamullah selain di mushaf itu juga ada di hati para ulama. Allah brfirman:
    بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلاَّ الظَّالِمُونَ
    “Bahkan al-Quran itu adalah ayat yang terang yang ada di dada para ulama. tiada yang menyangkal ayat-ayat Kami ini kecuali orang-orang yang zalim (spt hajuri dan pemilik blog gila ini, pen).” (QS. Al-Ankabut: 49).
    kalamullah selain di mushaf juga berupa suara yang dibaca oleh imam masjidil haram, kemudian kita mendengarnya. allah berfirman:
    وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللَّهِ
    “Jika salah seorang musyrik meminta perlindungan kpdmu, maka lindungilah ia sampai ia mendengar kalamullah.” (QS. at-Taubah: 6).
    kalamullah selain di mushaf juga berupa huruf yang ditulis oleh para ulama dan penuntut ilmu. Allah brfirman:
    وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لاَّرْتَابَ الْمُبْطِلُونَ
    “Dan kamu (hai Muhammad) belum pernah membaca sebuah kitab pun sebelum al-Quran ini dan juga kamu juga tidak menyalinnya dengan tangan kananmu. karena jika demikian, tentu orang-orang sesat akan menjadi ragu.” (QS. al-Ankabut: 48).
    dan ayat yang lainnya masih banyak jika hajuri dan pemilik blog ini mau belajar dan tidak gila!!

    1. roni
      udah deh, anak kecil tahunya al-quran itu cuma sebatas di mushaf, mereka ga mungkin bisa nalar kalo di dada ente itu ada Al-Quran. akal anak kecil dengan ente itu beda Roni!:mrgreen:

      Ente ini memang bloon ((seperti bahasa yang ente katakan)) atau memang bercita2 ingin jadi orang bloon?!:mrgreen:

  20. pembahasan ke-hizby-an bukanlah termasuk aqidah, tetapi termasuk bagian dari manhaj. wahai hajuri tolol!!
    aqidah salaf atau aqidah mukmin atau aqidah ahlussunnah wal jamaah adalah rukun iman yang 6 sebgaimana hadits jibril.
    sedangkan ‘manhaj’ artinya jalan dan metode. manhaj salaf artinya jalan salaf atau jalan yang lurus, manhaj salaf meliputi aqidah, ibadah, mua’amalah, akhlaq dan lain-lain. wahai hajuri tolol!!

    1. sudahlah roni, belajar lagi ente, semakin ente paham semakin ente diem.:mrgreen:
      semakin ente ga paham semakin ente koar2 kayak si Hindun yang pernah maen ke sini!
      Katanya dia orang Hindunisiy, bingung ana negara/bangsa mana itu?
      Apakah negara/bangsa di negeri dongeng?!:mrgreen:

  21. satu lagi ketidakberesan hajuri! surat az-Zumar ayat 7 itu justru menguatkan definisi ibadah menurut ibnu taimiyah dan menunjukkan ketololan hajuri. karena jika ayat ini digunakan dalam definisi ala hajuri, maka gak nyambung. karena ayat ini membatasi pada perbuatan yaitu syukur dan kufur, perbuatan hati dan tubuh atau perkataan hati dan tubuh bisa dikategorikan kufur atau syukur. sedangkan dalam definisi ala hajuri tdk dibatasi dengan perkataan dan perbuatan, shingga ibadah mnurut hajuri bisa berupa perbuatan, perkataan, nabi, wali, dan malaikat. pokoknya yang penting diridloi oleh Allah!!!

    1. Bismillaah..
      To Roni
      Sepertinya anak-anak aja ga ada yg pemikirannya kaya roni, contohnya aja anak ana (umurnya baru 5 tahun) alhamdulillaah paham definisi ibadah yg di maukan di kitab mabadiul mufidah (alhamdulillaah anak ana paham bahwa mengucapkan kalimat thoyyibah adalah ibadah,.. sholat, dan berbuat baik pada ayah ibunya adalah ibadah) tidak sampai terbetik di benaknya bahwa nabi Musa nabi Isa adalah ibadah, roni umurnya berapa toh…?

  22. ini menunjukkan bahwa pemilik blog ini sbangsa setan atau iblis. nama ‘predator tuk pencari al-haq’ meskipun sekedar nama tetapi bisa membawa konotasi jelek, yaitu pemangsa orang-orang yang mencari kebenaran.
    ini sesuai dgn sumpah iblis. Allah berfirman:
    قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ () ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
    “Iblis berkata: “Karena Kamu (hai Allah) telah menyesatkanku, maka aku akan duduk di jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka (anak Adam) dari depan mereka, dari belakang mereka, dari sisi kanan mereka dan dari sisi kiri mereka. kemudian Engkau akan mendapati kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 16-17).
    oleh karena itu namailah blogmu ini dengan nama yang baik.
    Ibnu Abbas radliyallahu anhuma berkata:
    كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَفَاءَلُ وَلَا يَتَطَيَّرُ وَيُعْجِبُهُ الِاسْمُ الْحَسَنُ
    “Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu bertafa’ul, tidak ber-tathayyur dan beliau itu menyukai nama yang baik.” (HR. Ahmad: 2213, dan di-shahih-kan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’: 4904).
    saya ndak tahu, ternyata pemilik blog ini menjadi fanatikus buta hajuri. jika hajuri pemahamannya berantakan, maka pemilik blog ini lebih berantakan lagi pemahamannya.
    jangankan membaca tahdzir asy-Syaikh Rabi’ kepada Hajuri Khabits ini. orang-orang yang awam yang belum pernah mendengar nama beliau, pasti jika disodori fatwa-fatwa Hajuri, maka pasti akan menolak model pendalilan Hajuri yang aneh. Dan Hajuri ini tidak pantas diambil ilmunya. Allah ta’ala berfirman:
    اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ
    “Ikutilah orang yang tidak meminta upah atas dakwahnya dan ia (mereka) di atas petunjuk.” (QS. Yasin: 21).
    Dan Hajuri tidak termasuk kategori di atas, karena:
    1. ternyata Hajuri menjual isu perang Dammaj untuk kepentingan pribadi. lihatlah ia dapat uang banyak dari LSM-LSM asing dan LSM bid’ah. dengan isu ini ia berhasil menjadi kaya dan membeli banyak villa. ini sudah menjadi rahasia umum bagi ikhwah di Dammaj. ia lupa bahwa ia meng-hizbi-kan kaum salafiyyin karena mereka menggalang dana. dgn alasan menggalang dana= mengemis. padahal menggalang dana dalam bahasa fikih disebut ‘ta’ridh’ dan ‘syafaah’, keduanya dianjurkan. sekarang ia lebih parah lebih dari sekedar mengemis dan menjilat…
    2. pemahaman Hajuri sangat berantakan. dimulai dari definisi ibadah= berantakan, organisasi-hizbi= berantakan, pembahasan kalamullah=berantakan, sekolah-hizbi=berantakan…. dan kalau kita tatabbu’ tentang parahnya orang ini, maka tidak cukup membahasnya dalam satu buku.
    jika pemilik blog ini tetap membela mati-matian terhadapnya, maka berarti pemilik blog ini adalah orang tidak waras. Allah ta’ala berfirman:
    أَفَمَن يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمَّن يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
    “Apakah orang yang berjalan dengan terjungkir di wajahnya itu lebih mendapatkan petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegak di atas jalan yang lurus?” (QS. al-Mulk: 22).

    1. To Roni
      Untuk men-jarh “Roni” ini, sepertinya cukup menanyakan ke anak-anak saja…
      Jika ana bertanya ke anak ana yg umurnya 5 tahun: ” kenal ga sama roni…?”, kemungkinan besar anak ana akan menjawab: ” oooo, iya kenal…”
      Ana: ” siapa dia nak…?”
      Anak ana: ” dia itu anak yang bangunnya kesiangan, terus datang ke sekolah sudah terlambat dan sudah di tinggal teman2/rombongan dari sekolah yang mau wisata ke kebun binatang, terus roni duduk di teras kelas sambil topang dagu (menyesal),… kalau tanya ke tukang sapu sekolah juga kenal siapa roni… soalnya tukang sapu sekolah yg ngasih tau roni, kalau ada acara jalan2 pada hari itu…

  23. Gimana mbak “bro” udah ente buat tulisan ttg “menasehati pemerintah secara terang2an” beloon ? Udaaah fokus itu dulu…sebelum ente mengusik penamaan “hindunisy” , saya gak ada hajat u mbahas atau mau nulisin orang indonesia atau india, atau bangsa mana …, kalau ente sering baca nama – nama ulama ahlus sunnah, yang tersebar di belahan persekitaran UEA atau Asia ente akan temukan penamaan yang semisal.

    To Roni
    Syaikh alhajury adalah seorang ulama, dan “bedakan” dengan pengikut yang menisbahkan kepada beliau.
    Syaikh Robi’ pun seorang ulama, dan “bedakan” dengan pengikut …atau yang sekadar klaim “pengikut”

    1. akhirnya kembali juga, sudah ana duga,:mrgreen: mana mungkin orang bermulut besar seperti ente bisa disadarkan?:mrgreen:

      pengalaman hidup ana sejauh ini belum ana jumpai ada manusia bermulut besar bisa disadarkan hingga kematian datang menjemput pun ia bukannya sadar tapi semakin bermulut besar!:mrgreen:

      sudahlah ndun, mau ente ngeyel gimana juga ente sudah jelas ketangkap basah bermulut besar.:mrgreen:

      Ndun, itu Hindunisy sejenis apa ya?:mrgreen:

  24. To Roni
    Syaikh alhajury beliau menuliskan dengan bahasa untuk para pemula. Dah pahami itu !
    Kalau demikian, maka tidak ada faedahnya ente berhujjah dengan dalil kepada mbak “bro”.
    Karena orang ini (mbak bro) mainnya dengan akal – akal2an.
    So…Pahami tulisan mbak bro ini yang mirip/serupa dengan Si “Aly Faizal” ….yang suka njelek2in “wahabi”….,dengan “gaya jakarte”, “cengar-cengir” , dll….

    1. lha ndun, sekarang ente samakan ane dengan Ali Faizal, siapa tuh ndun? Ane ga kenal tuh orang:mrgreen:
      ente mau promosi siapa di sini?:mrgreen:

      ndun, ana cuman pengen nanya, ente punya akal apa ga? ragu ane ndun.:mrgreen:

  25. serupa tak harus sama. Pahami itu !
    Sebangun tak harus kongruen. Pahami itu !
    Blog Aliy faizal si pengagum Ust. Idrus Ramli

    1. serupa tak harus sama. Pahami itu !

      berarti logika nabi salah ya ndun, man tasyabbaha biqoumin fahuwa minhum.

      barangsiapa yang menyerupai suatu qaum maka ia termasuk darinya a.k.a sama dengan mereka!!!!:mrgreen:

  26. maka nya ente “serupa” dengan blognya aly faizal….terserah ente mau konklusikan , apakah sama atao setipe, semodel, semanhaj, sealiran, itu hak ente …
    ngelak juga hak ente …
    yang penting lebih baik jadi bunglon dari pada Banci.

    1. Maaf nih hindun, setahu ana hindun itu nama perempuan, klu emang anti itu “Abu Amr al hindunisy” ahsan namanya di ganti aja (saran aja loh…. ga maksa koq…), daripada anti di bilang Banci kan mending jadi bunglon…

      1. Waakakakaakak
        Seneng ana sama blog ini, banyak teman dan banyak hiburan…
        Curhat dikit ya…:
        InsyaAllah besok ana pindah tempat tinggal, semoga lukmaniyyun tidak lagi mengganggu ana dan keluarga ana baik dgn ucapan dan perbuatan… aamiin

      2. @ana lagi ditahdzir: baca doa ini Akhi, Robbi angzilniy mungzalam mubaarokaw wa Anta khoirul mungziliin… (al mu’minuun:29)

        Coba antum lihat qoshoshul anbiya’ ibnu katsir, kisah nabi nuh alaihis salaam.

        @all: tak apa lah kalau pakcik hindun mau balik, begitu juga dengan the biggest nut roni.

        Buat latihan sabar, toh baru sekedar gangguan lisan.

        Waja’alna ba’dhokum liba’dhin fitnah, atashbiruun…

  27. Sejak tahun 90an, …di kolong langit Indonesia, yang “paling” begitu membenci (meremehkan, menjelekkan, menggunjing, namimah, mengghibah ) ulama ahlussunnah dan para asatidnya dalam tulisan2 dan ceramah2nya adalah :
    1. orang syiah atau setipe (karena beda pegangan)
    2. pengaku aswaja (asal wani Njawab) atau setipe (karena kebodohan)
    3. situs tukpencarialhaq.com atau setipe (karena hasad )
    4. takfiri (karena kemiskinan) …ini takfiri indonesia loh !
    Yang kelima belum di survey
    5. ……………………………….wordpress.com (karena kedunguan)
    Nasalullah wal ‘aafiyah

  28. Om Luqman jalan2 ke malaysia..
    Tepatnya di pengajiannya abdul bari abdullah..
    Ternyata, bukan jalan2 biasa..
    Bahkan ngisi daurah..

    Antum tau siapa abdul bari?..
    Dialah pentolan hizby ikhwany..
    Tapi anehnya ni..
    Gak ada satupun luqmany..
    Yang berani publikasi..
    Apalagi mengkritisi..
    Tentang peristiwa ini..
    Itulah sikap mereka -luqmany-..
    Tunduk patuh pada SANG USTADZ SALAFI (???! Luqman ustadz salafi ? Atau khoriji ? Apa mungkin ikhwani ? Allohu a’alam bishshowab. Tapi dari sepak terjangnya di LJ, maka jelas siapa si luqman ini)..

    Lain halnya sikap mereka thd syaikh al hajury..
    Ada celah sbesar kulit ari..
    Langsung dicela dan dicaci..
    Bahkan secara membuta babi..
    Tanpa ada klarifikasi..
    Pada pihak yang mereka DZALIMI..

    Inikah salafi ??..
    Inikah umat nabi..

    “Jangan sampai kebencianmu terhadap suatu kaum menyebabkanmu tidak berlaku adil..”

  29. PENAWARAN PERUMAHAN EKSKLUSIVE: “FIRDAUS REGENCY”

    Hunian Nyaman yang Tak Terbayangkan ! Type :
    – Jannatun Na’i’m
    – Jannatul Ma’wa
    – Jannatul Firdaus (Semua Type Ready Stock)

    Fasilitas:
    – Sungai susu Salsabila
    – Ada danau indah Kautsar
    – Pasif income Bagi semua Penghuni – View Tak Terbatas
    – Akses Masuk 7 Pintu
    – Taman Main Anak Anak Sholeh
    -Sholehah termegah
    – Taman Jutaan Hektar dgn buah Segar, Ranum, Nikmat & Siap Santap DLL..
    -Bonus Bidadari2.
    – Hak milik selama – lamanya ( Abadi )

    Syarat Pemesanan :
    1. BerTaubat & Kembali kepada Jalan-Nya.
    2. Memegang Teguh Agama-Nya, sesuai pemahaman Rasulullah dan Para Sahabat.
    3. Melaksanakan Seluruh Syari’at-Nya

    DP :
    – 2,5% Sisihkan Harta untuk BerZakat dan,
    – 100% rajin berShodaqoh & Infaq.
    – 100% Gunakan Waktu untuk Menuntut Ilmu, BerAmal sholeh, Silaturahim, mendoakan kedua Orang Tua dan Berdakwah, jauuuh dari maksiat.

    Waktu sangat Terbatas…
    Stock Hunian Tak Terbatas Dijamin Bebas Roaming !!!!
    Alamat informasi Pusat ; Maqom Tahajjud setiap hari jam kerja 00.15 sd 03.30

    Alamat Cabang Pembantu : Masjid2, Pondok pesantren sesuai ajaran Nabi sholallohu ‘alaihi wassalam dan sahabat, Majlis ‘ilmu.
    Inilah sebaik-baik Tempat Tinggal. Ayo segera DP Sekarang juga… !!

    1. Lalu bagaimanakah sifat-sifat surga itu, dan bagaimana sifat kenikmatan yang tersedia di dalamnya, dan bagaimana pula sifat-sifat penghuninya….. ? Untuk mengetahuinya, silahkan anda mendengarkan sendiri kajian yang bermanfaat ini……, barokallohu fiikum.

       Rekaman Tabligh Akbar Ngawi “INILAH HAKEKAT DAKWAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH”, bersama As-Syaikh Abdulloh Al-Iryani hafidzhohulloh ta’ala | .:: Darul Ilmi [ دار العلم ] ::. – http://www.darul-ilmi.com/2013/06/rekaman-tabligh-akbar-ngawi-inilah-hakekat-dakwah-ahlus-sunnah-wal-jamaah-bersama-as-syaikh-abdulloh-al-iryani-hafidzhohulloh-taala/#more-6788

  30. Khadir Ambon kasi fatwa lagi, sampaikan ke ustadz Abu Shaleh Muslih, Ustadz Mujahid Makasar, Ustadz Abu Ja’far Malasia dan ustadz Abu Zakaria Irham untuk bantah dan tahzir Khadir Ambon alias Abu Ahmad, Jazakumullah wahai asatizdah salafiyyin atas jarh antum ke khadir Ambon, ana senang dengan jarh antum ke Khadir yang dia sudah sesat, pantas doa antum seperti yang ana baca “Khadir Hadahulullah”, betul dia sesat, butuh didoakan begitu. Jazakumullah.

    Dari cuplikan jawaban Abu Ahmad Muhammad Al-Limboriy di markiz Daril Hadits Sana’a pada tanggal 15 Dzulhijjah 1435.

    Tanya:
    Apa benar dakwah salafiyyah dakwah tertutup, tidak terima dari selain salafy?, apa betul Imam Wadi’y dulu hanya menerima orang-orang dari salafy dari murid-muridnya, orang-orang Indonesia ke Dammaj harus dari murid ustadz Ja’far Umar Thalib?.

    Jawab:

    Da’wah salafiyyah bukan da’wah sirriyyah, da’wah salafiyyah adalah terbuka, da’wah salafiyyah adalah da’wah menyeru umat manusia kepada kebenaran, da’wah salafiyyah adalah da’wah Rosulillah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam dan para shohabatnya:

    كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر

    “Kalian adalah paling terbaiknya umat, kalian menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran”.

    Da’wah salafiyyah bukan da’wah Madakhilah, bukan pula da’wah Luqmaniyyah, dahulu ketika da’wah Luqmaniyyah berkuasa atas orang-orang Indonesia di Dammaj, setiap orang yang akan ke Dammaj harus dari pihak mereka, ketika Al-Ustadz Abul Fida’ Ar-Riyawiy dan Al-Ustadz Muslim As-Sugihaniy mau ke Dammaj, maka Luqmaniyyun yang ada di Dammaj meributkan keduanya, sebabnya karena mereka tidak bersama barisan mereka ketika da’wah di Indonesia, dan prinsip ini terus mereka bawa-bawa, ketika ada para thullab dari Malaysia datang ke Dammaj, maka mereka juga dijadikan sorotan, karena pernah belajar di Indonesia, namun tidak belajar ke pondok Luqmaniyyin akan tetapi belajarnya ke pihak selain dari Dammaj, orang-orang yang disoroti itupun sedih dan tertekan, begitu pula ketika ada dari anak-anak mahasiswa dari universitas Sana’a datang ke Dammaj dalam rangka untuk menuntut ilmu dan mencari al-haq maka mereka diributkan sehingga mereka terasa tertekan, ketika mereka semua sudah mengenal al-haq dan bersabar di tengah tekanan itu hingga bisa istiqomah, tiba-tiba mereka diperebutkan dan diupayakan untuk bisa bersikap seperti Luqmaniyyun dalam bersikap.

    Sikap-sikap salah kaprah dan tanpa hikmah ini kemudian ditampakan seakan-akan manhaj Al-Anbiya’, cari dukungan ke sana kemari, ke syaikh fulan, ke pihak fulan, dalam rangka supaya mendapat dukungan dan pendukung.

    Yang datang ke markiz Al-Imam Al-Wadi’iy Rohimahulloh ketika itu dari berbagai latar belakang, Ja’far sendiri ketika itu datang belum jelas keadaannya, begitu pula para thullab dari Mesir, orang-orang Indonesia yang datang ke Dammaj dari berbagai latar belakang, memang mayoritasnya ketika itu dari murid-murid Ja’far karena memang Ja’far orang pertama yang mengetahui jalan dari Indonesia ke Dammaj, masih di zaman Al-Wadi’iy mulai berdatangan orang-orang Indonesia, baik dari murid Ja’far atau selain mereka, dan mereka yang pernah datang itu lebih tahu keadaan mereka masing-masing ketika itu.

    Bukanlah yang jadi ukuran dan patokan adalah pihak dari Ja’far atau yang mendapat rekomendasi darinya, namun yang jadi ukuran dan patokan adalah siapa yang istiqomah dari mereka?!.

    Ketika jihad membela markiz Al-Imam Al-Wadi’iy, orang-orang yang dapat rekomendasi semisal Luqmaniyyin itu justru kabur dari Dammaj, orang-orang mereka soroti justru ikut berjihad dengan jiwa raganya membela agama dan markiz Al-Wadi’iy di Dammaj.
    Allohul musta’an.

Comments are closed.